Shinja Zero no Megami-sama to Hajimeru Isekai Kouryaku Volume 1 Bonus Short Stories Bahasa Indonesia – Litenovel

Shinja Zero no Megami-sama to Hajimeru Isekai Kouryaku Volume 1 Bonus Short Stories Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi

Kisah Pendek Bonus

Kompetisi Gebetan Lucy dan Emily

◇ Sudut Pandang Lucy ◇

Aku sudah berjanji untuk bertemu dengan seseorang.

“Yah? Untuk apa kau memanggilku ke sini?” tanyaku.

Aku tiba di sebuah kafe mewah di dalam guild dekat gereja Macallan dan sekarang sedang menatap mantan rekan sekelompokku.

“Oh, ayolah! Hentikan permusuhannya, Lucy. Aku berusaha untuk berteman denganmu.”

Nada bicara Emily terdengar seolah aku sudah membuatnya kesal, jadi sepertinya dia tidak berusaha terlalu keras. Bagaimanapun juga, aku duduk di seberangnya, menopang daguku dengan tangan, dan memesan teh hitam.

“Tidak bersama Jean hari ini?”

“Dia… sedang berlatih,” jawab Emily.

“Hah, mirip seperti Makoto.”

Begitu Emily mendengar jawabannya, dia langsung kehilangan kesabaran dan mendelik ke arahku. “Ya, benar!” seru Emily sambil memukul meja. “Jean benar-benar meniru Makoto, jadi sekarang yang dia lakukan hanyalah berlatih!”

“B-Baiklah…” kataku gugup. “Jadi, apa kau mengundangku ke sini karena merasa kesepian?”

“Ada masalah dengan itu?” balas Emily sengit. Dia sedang dalam suasana hati yang buruk.

“Kalau begitu, apa yang ingin kaubicarakan?” tanyaku.

Emily mengambil jeda yang cukup lama sebelum menjawab.

“Lucy… Kau berkencan dengan Makoto, kan?”

“Hah?!” seruku keras. “Apa-apaan… Apa yang kaubicarakan?!”

“Ah, benar. Kau penakut, jadi kurasa tidak.”

“Oh, ini sudah keterlaluan!” umumku. “Aku akan menyatakan cinta pada Makoto sekarang juga! Terserah kalau kau mau terus ragu-ragu!”

“Permisi? Jean dan aku tumbuh di panti asuhan yang sama! Kau boleh percaya diri aku akan mendapatkan jawaban ‘ya’ darinya sebelum kau melakukannya!”

Emily dan aku saling mendelik dan mendesis dari jarak dekat.

“Hei kalian berdua, jangan berkelahi di dalam guild!” cerca Mary sambil mengusir kami keluar.

“Baiklah kalau begitu, siapa pun yang menyatakan perasaan pada gebetan mereka lebih dulu dalam tiga hari ke depan adalah pemenangnya,” tantang Emily.

“Tantangan diterima! Yang kalah harus mentraktir yang menang!”

Dan begitulah, kami sekarang bersaing untuk melihat siapa yang bisa menyatakan perasaan pada gebetan mereka lebih dulu.

Tunggu… Bagaimana cerita bisa berujung seperti ini?

◇

“Tidak merasa lapar, Lucy?”

Aku tidak menjawab. Di hadapanku ada Makoto, yang baru saja melati— Bukan, dia bahkan masih berlatih saat sedang makan. Ada pecahan-pecahan es yang melayang di sekitarnya.

“Hei… Apa kau senggang nanti?” tanyaku.

“Selain bagian di mana aku berlatih sampai tertidur, ya, benar-benar senggang,” jawab Makoto. Apakah pria ini punya semacam penyakit yang akan membunuhnya jika dia tidak berlatih?

“Mau jalan-jalan?” tanyaku.

“Boleh.”

Aku mengajak Makoto keluar.

“Ke mana?” tanyanya.

“Ehm, ayo ke taman!” usulku. Aku berpikir kalau taman akan memiliki suasana yang tepat yang aku butuhkan di jam malam seperti ini. Tempat itu juga akan cukup tenang bagi kami untuk mengobrol.

“Hah?” respons Makoto dengan ekspresi berkerut dan kebingungan. Aku tidak mengerti alasannya saat itu, tapi aku langsung paham begitu kami tiba di taman sepuluh menit kemudian.

Apa-apaan ini?! pikirku. Kenapa ada begitu banyak pasangan bermesraan di taman pada malam hari?!

Hanya sekadar bersikap romantis saja mungkin masih wajar… Tapi para pasangan itu berbuat, eh, jauh melebihi batas itu di tempat terbuka.

“Jadi, um, Lucy?” tanya Makoto. Dia terlihat jelas gugup. Aku mungkin juga begitu.

Tapi, serius nih? Apakah aku benar-benar akan menyatakan perasaan padanya di tempat seperti ini? Bukankah itu mengisyaratkan kalau aku mengharapkan malam kami berjalan… ke arah tertentu?

“H-Hei, ehm, Makoto…” mulailah aku.

“Y-Ya?” gagap Makoto, wajahnya untuk sekali ini saja benar-benar menunjukkan suatu emosi. Tapi tepat pada saat itu…

“Aaah!” terdengar desahan seorang wanita dari balik semak-semak di dekat sana. Makoto dan aku saling berpandangan dengan panik. Wajahnya merah padam. Wajahku mungkin mirip tomat.

Tidak, tidak, tidak! Mana mungkin aku bisa menyatakan perasaan padanya di sini! Aku menarik tangan Makoto dan kami bergegas meninggalkan taman.

◇

Emily dan aku menghela napas panjang.

“Bagaimana urusanmu?” tanyaku.

“Apa aku harus menjelaskannya secara rinci?”

Ah, segalanya tidak berjalan dengan baik. Malam khusus para wanita yang kesepian itu berlanjut hingga larut malam.

Resepsionis Guild Suka Minum Keras

“Hei, keberatan kalau aku bergabung?”

Aku sedang berada di warung tusukan sate langgananku ketika tiba-tiba seorang wanita muncul di belakangku dan mengajukan pertanyaan.

“Oh, Mary, sudah selesai kerja? Silakan saja, duduklah,” jawabku.

Mary adalah seorang resepsionis untuk guild petualang, dan aku sering mengobrol dengannya sejak aku menerima quest pertamaku. Berbicara dengan orang yang tidak kukenal membuatku gugup, jadi aku selalu mengantre di konter Mary setiap kali dia bekerja. Sampai sekarang, dia adalah salah satu dari sedikit wanita yang bisajak ngobrol olehku.

“Jadi, apa hasil buruanmu hari ini?” tanya Mary.

“Cuma goblin, seperti biasa. Ditambah beberapa kelinci bertanduk.”

“Ngomong-ngomong, terima kasih lagi ya,” sela sang koki sambil tertawa. Dia juga meletakkan sebuah gelas tepat di depanku. Tunggu, apa aku bahkan memesan sesuatu?

“Ini gratis dari kedai!” imbuh sang koki sambil tersenyum.

“Wah, terima kasih,” kataku sambil mendekatkan gelas itu ke bibirku.

Sial, ini keras sekali! batinku. Eh, apa sang koki sengaja menyajikanku minuman yang sekeras ini? Sepertinya aku harus meminumnya dalam tegukan kecil saja!

“Huft!” seru Mary. “Koki, beri aku satu gelas lagi!”

Ya ampun, dia menghabiskan gelas itu dalam sekejap!

◇

“Guhhh… Aku mabuk berat…”

Mary saat ini bergelayut padaku dan tidak mau melepaskannya. Semua kedai di guild sudah tutup. Aku akhirnya harus mengantar Mary pulang ke rumahnya, tapi aku bahkan tidak tahu di mana tempat tinggalnya.

“Satu tempat lagi! Aku masih sanggup!” serunya riang.

“Benarkah?” tanyaku. “Menurutku sebaiknya kita sudahi saja malam ini. Bukankah besok kamu harus bekerja?”

“Aww, aku akaaan baiik-baiik saja!”

Tidak mampu menolak desakan Mary, aku mengikutinya ke sebuah pub besar yang buka hingga matahari terbit. Tempat itu dipenuhi oleh berbagai macam orang, mulai dari petualang dan pedagang hingga warga kota yang baru saja pulang kerja. Mary dan aku mengambil tempat duduk di sudut.

“Yeah, bersulang!” teriak Mary.

“Kamu benar-benar peminum berat ya,” komentarku.

“Awww, maaana biiisa,” ujarnya sambil bersandar santai padaku. Agh, dia beraroma harum. Aku mencoba fokus pada makanan untuk mengalihkan perhatian dari jantungku yang berdegup kencang, sampai…

“Hei Mary, itu kamu?”

“Bagaimana kalau bergabung dengan kami saja?”

“Wah, anak muda sekali yang bersamamu, ya?”

Segerombolan petualang memanggil Mary. Apakah mereka kenalannya? Orang-orang ini jelas bukan pemula. Reaksi pertamaku adalah aku tidak ingin minum dengan orang yang tidak kuenal, tetapi Mary…

“Maaaaaf, tapi malaaaaam ini, hanya ada aku dan Makoto,” ujarnya, menolak mereka sebelum aku sempat melakukannya.

“Aww, ya sudahlah.”

“Ayolah, ayo pergi.”

“Lain kali saja kalau begitu!”

Pria-pria itu tidak mendesak lagi dan pergi.

“Mary, kamu yakin soal itu?” tanyaku.

“Yakiin banget,” jawabnya. “Mereka itu bakal mendekati waaaanita mana pun yang mereka lihat di sini. Liihat, mereka sudah mengincar mangsa berikutnya di sana.”

Aku mengintip ke arah yang dia tunjuk dan, benar saja, kulihat kelompok itu sedang mengobrol dengan dua orang wanita. Ya ampun, apa aku akan bertingkah seperti itu suatu hari nanti?

“Makotooo, sebaiknya kamu jangan sampai berakhir seperti itu,” kata Mary.

“Hah?” kataku keceplosan. Apa dia bisa membaca pikiranku?

“Kamu itu poooosos, Makoto. Kamu lebih baik seperti itu.”

“Mungkin, tapi aku agak berharap punya pacar…”

“Mau aku yang jadi?”

“Ha ha… Ya tentu saja, bukankah itu bagus.” Meskipun itu hanya candaan orang mabuk, aku tetap menghargai maksudnya.

“Ayoooklah, aku bahkan tidak bercanda… Oh, aku tahu! Makoto, kalau kamu mencapai peringkat gold, aku akan jadi pacarmu!” umum Mary sambil menyeringai.

“Peringkat gold, ya…” Peringkat petualangku saat ini adalah stone, yang terendah di antara semuanya. Dengan kata lain, dia meminta hal yang mustahil.

Tapi, yah, aku akan menerimanya.

“Sepertinya sekarang aku mengincar peringkat gold,” kataku.

“Tee hee, semooga beruntuuung,” kata Mary sambil mengelus kepalaku.

…Meskipun peringkat gold terasa di luar jangkauan, setidaknya aku bisa mengincar peringkat iron—titik di mana para petualang akhirnya dianggap kelas menengah.

Pegawai di Perusahaan Dagang Fujiwara

“Oh? Halo juga, Tuan Takatsuki’h!”

Seorang gadis dengan telinga kelinci mendekatiku dengan melompat-lompat.

“Oh, halo juga, Nina,” sapanya. Dia sedang membawa beberapa kotak besar di kedua tangannya yang tampak cukup berat.

“Biar kubantu,” tawarku.

“Uhm… Ini cukup berat’h,” jawab Nina.

Mungkin saja, tapi aku tidak bisa membiarkan seorang gadis membawanya sendirian sementara aku berjalan dengan tangan kosong—

“Argh, ini berat sekali!” Aku meralat ucapanku… Aku tidak sanggup mengangkat ini.

“A ha ha, begitulah jadinya kalau kau mengemas lima puluh botol koktail api Macallan dalam satu kotak,” tawa Nina. “Kurasa itu bakal terlalu berat buat manusia.”

Ah, benar juga. Nina adalah seorang beastwoman, ras yang berkali-kali lebih kuat daripada manusia biasa.

“Tuan Takatsuki’h orang baik, ya. Kau benar-benar menawarkan bantuan kepada beastwoman sepertiku.”

“Itu membuatku jadi orang baik?” tanyaku.

“Tentu saja. Banyak manusia yang tidak akan peduli saat melihat beastman melakukan kerja berat.”

Kurasa itu adalah perbedaan budaya dunia lain. Aku tidak akan pernah bisa memperlakukan gadis manis seperti Nina atau para gadis bertelinga kucing sebagai sekadar buruh sewaan.

“Boss orangnya mirip sama Tuan. Kalian orang-orang dari dunia lain semuanya begitu baik,” kata Nina. Ekspresinya melembut. Fujiyan benar-benar punya rekan yang sangat berdedikasi.

“Sepertinya Fujiyan tidak ada hari ini,” catatku. Ekspresi Nina langsung berubah muram.

“Dia… bilang kalau dia ada janji temu dengan putri seorang bangsawan Macallan untuk urusan bisnis hari ini.”

“Wah…” Dia sudah menemui orang-orang setinggi itu? Fujiyan benar-benar punya banyak koneksi.

“Ngomong-ngomong, apakah dia bisa ditemui hari ini?” tanyaku. Pikirku, Nina pasti punya gambaran kasar tentang jadwalnya.

“Tidak… Sepertinya dia harus menghadiri perjamuan bersama wanita bangsawan itu!” Nina merengut. Dia tampak cemburu.

Playboy sialan itu…

“Yah, sayang sekali, kalau begitu lain kali saja,” kataku.

“Tuan Takatsuki! Hari ini Tuan sedang luang, kan’h?”

“Hah?”

“Kumohon, maukah Tuan menemani saya’h?”

Dan begitu saja, entah kenapa, pada akhirnya aku malah makan malam bersama pegawai toko Fujiyan.

◇ Di dalam guild petualang, dekat kedai-kedai di dekat pintu masuk ◇

“Para wanita bangsawan, para pelayan di Catgirl Cantina itu, bos selalu bersikap manis pada semua orang! Dia sama sekali tidak peduli dengan apa yang aku rasakan!”

Nina melanjutkan keluhannya dengan menghabiskan segelas bir berukuran besar dalam sekali teguk. Dia benar-benar jago minum.

“Hei, eh, Makoto?” bisik Lucy ke telingaku. “Bukankah Nina minum terlalu banyak?”

“Hmm…” aku merenung. “Maksudku, kurasa para beastman memang jago minum.”

Itu adalah sesuatu yang kudengar dari Fujiyan. Omong-omong, aku terlalu canggung untuk makan malam sendirian dengan Nina, jadi aku memanggil Lucy untuk membantuku.

“Tuan Takatsuki! Bagaimana cara aku menyampaikan perasaanku pada bos’h?” tanya Nina.

“Eh, yah, biarkan aku berpikir…”

Hanya akulah yang tahu bahwa skill Waifu Game Player milik Fujiyan memungkinkannya membaca pikiran. Artinya, ada kemungkinan seratus persen bahwa Fujiyan tahu tentang perasaan Nina.

“Tapi apa yang harus kukatakan padanya?” tanyaku dalam hati.

“Jangan khawatir, Nina,” hibur Lucy. “Kamu manis, jadi semuanya akan baik-baik saja.”

Jarang sekali melihat Lucy begitu penuh perhatian.

“Wahhh… Kamu benar-benar berpikir begitu, Nona Lucyyy?” tanya Nina sebelum tiba-tiba ambruk ke atas meja dengan bunyi gedebuk. Dia kini menarik napas dalam-dalam dan lambat layaknya orang yang tertidur pulas.

Setelah keheningan sejenak, Lucy dan aku saling berpandangan. Karena kami tidak bisa begitu saja meninggalkannya, kami memutuskan untuk menunggu sebentar. Tapi aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menyadari bahwa…

“Fujiyan memang populer, ya,” ucapku keceplosan dengan rasa cemburu yang kentara.

“A-Aku maksudnya, ada juga orang-orang yang menyukaimu…”

“Hm? Kamu bilang sesuatu, Lucy?” tanyaku.

“Enggak, tidak ada apa-apa!”

Entah kenapa, kepalaku malah dipukul. Apa yang kulakukan? Yah, sudahlah—aku minum saja dalam diam. Dan mungkin akan mengingat keluhan Nina lain kali jika aku ingin mengerjai Fujiyan.

“Ada yang ingin kamu makan, Lucy?”

“Hmm, biarkan aku lihat…”

Kedai-kedai di pintu masuk guild dipenuhi oleh para petualang yang mabuk. Malam masih panjang.

Pertama Kalinya Aku ke Catgirl Cantina

“W-Woah…”

Saat aku melangkah melewati pintu itu, rahangku hampir jatuh. Fujiyan baru saja membawaku ke tempat yang belum pernah kudatangi sebelumnya: Catgirl Cantina. Para pelayannya semuanya memiliki telinga kucing. Dan mereka sangat imut.

T-Tunggu, apa tempat ini semacam toko khusus dewasa?

“Tackie yang terhormat…” jelas Fujiyan dengan nada kecewa. “Ini bukan rumah bordil. Mereka tidak menawarkan layanan semacam itu…”

…Kamu barusan membaca pikiranku, kan?” tuduhku. Tolong jangan lakukan itu, ini memalukan!

“Anggap saja ini seperti kafe pelayan.”

“Oh, begitu.” Jadi tujuan tempat ini sebenarnya hanya untuk melihat gadis-gadis imut.

“Selamat datang di Kantin Gadis Kucing!” Seorang pelayan bermata lebar dan bertelinga kucing menyapa kami sebelum mengantar Fujiyan dan aku ke tempat duduk kami. Roknya pendek. Dan di bawah rok itu, ekor kucing bergoyang-goyang.

A-Aku sedang digoda… Tidak, kuasai dirimu. Skill Calm Mind, aktif!

“Oh, Tackie yang terhormat…”

“Ada masalah?”

Kami digiring ke sebuah meja mewah di bagian belakang.

“Terima kasih atas segalanya, Meowster Fujiwara! Apa ini kunjungan pertama rekanmu ke sini? Silakan nikmati waktu kalian!” Pelayan bertelinga kucing itu menyambut kami dengan senyuman, mencatat pesanan minuman kami, lalu menghilang ke dapur.

“Jadi mereka benar-benar menggunakan pelesetan kata kucing,” komentarku.

“Ya ampun, tidak! Dia satu-satunya pelayan di sini yang melakukan itu.”

“Hah?” Yang benar saja? Minuman kami diantar saat kami melanjutkan percakapan ini, dan kami mengucapkan bersulang. Hidangan utama segera disajikan satu per satu di atas piring.

“Makanan ini enak sekali!” seruku.

“Memang benar,” setuju Fujiyan. “Kualitas yang luar biasa tidak hanya berhenti pada staf pelayan—makannya pun sangat lezat!”

“Tapi ini pasti mahal.”

“Oh, kawan, kau akan cukup terkejut dengan harga yang mereka tetapkan…”

Fujiyan menyelipkan secarik kertas berisi angka kepadaku.

“Wah, itu mahal sekali!” Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak berkomentar.

“Apa?”

…Apa?”

Fujiyan dan aku saling bertukar pandang. Ah, kami baru saja menyadari perbedaan sudut pandang; tentu saja seorang petualang pemula dan seorang pengusaha sukses akan memandang nilai uang dengan cara yang sangat berbeda. Suasana menjadi sedikit canggung.

“Eh, bolehkah aku tahu apa yang biasanya kau santap, Tackie yang terhormat?”

“Kurasa aku hanya pergi ke warung makan di guild setiap hari,” jawabku. “Aku bisa membuat perutku kenyang hanya dengan beberapa ratus gald.”

“Itu memang murah… Tapi aku dengar hampir semua kedai di guild utamanya hanya menyajikan minuman.”

“Yups, semuanya makanan bar.” Tapi aku suka makanan junk food, jadi itu bukan masalah bagiku.

“Wah, apa kalian berdua sedang membicarakan pekerjaan? Tuan Fujiwara, temanmu ini seorang petualang?” Pelayan berelinga kucing yang imut itu ikut mengobrol sambil menuangkan minuman untuk kami. Ter-Terlalu dekat untuk kenyamananku…

◇

Waktu berlalu begitu cepat, dan sebelum aku sadari, aku minum terlalu banyak.

“Ayooolah, Tuan Fujiwara, kamu bisa tinggal sampai pagi, bu-bukan?”

“Ah ha ha! Tentu saja!” balas Fujiyan. “Ayo, Tackie-ku tersayang, kita masih harus banyak minum!”

Fujiyan masih berpesta dengan meriah.

“Uh… Tentu saja…” Aku merasa lelah. Sejujurnya, aku ingin kembali ke guild petualang dan tidur. Lagipula, aku tidak bisa menenggak alkohol sebaik Fujiyan.

“Tuan Fujiwara, aku ingin minum anggur mewah itu…”

“Bolehkah aku minta buah-buahan?”

“Aku ingin mencoba anggur itu juga…”

Fujiyan dikelilingi oleh para gadis kucing yang mengenakan pakaian minim. Tunggu, bukankah rok-rok itu terasa terlalu pendek? Tempat ini mulai terasa seperti jenis tempat yang hampir seperti rumah bordil… Benar, klub kabaret.

Tepat pada saat itu…

Aku membeku. Rasa dingin yang masih sulit kujelaskan menjalar naik di sepanjang tulang belakangku.

“Hei… Bos? Bukannya tadi bilang mau pulang malam ini’h?”

Aku berbalik dan melihat seorang gadis bertelinga kelinci berdiri dengan gagah di hadapan kami. Para gadis bertelinga kucing langsung berhamburan pergi bagaikan tikus.

“Er… Nah, begini, soal itu… Nina-ku tercinta, aku punya penjelasan yang sangat masuk akal…” geragap Fujiyan sambil mencoba mencari alasan.

“Mohon maaf, Tuan Takatsuki, tapi bos masih punya urusan yang belum selesai’h. Bisakah Anda mengakhiri malam Anda di sini’h?”

…Tidak, silakan saja.

Lagipula, aku sangat mengantuk sehingga aku mensyukuri bantuan itu. Tapi apakah Fujiyan benar-benar menghabiskan malam bersamaku padahal dia masih punya pekerjaan? Yah, dia juga yang mengajakku minum. Ah sudahlah, itu sudah cukup bagus bagiku.

Aku kembali ke guild petualang dan langsung tertidur pulas.

Kalau dipikir-pikir, siapa nama pelayan bertelinga kelinci tadi?

Obrolan Antara Seorang Dewi dan Pengikutnya

“Hei, Makoto?”

“Ya, ada apa, Dewi?”

Aku berbalik sambil melatih sihir airku.

“Kurasa kau bisa setidaknya mengistirahatkan latihan itu saat kau sedang bermimpi. Maksudku, aku ada di sini!” sang dewi merajuk sambil menggembungkan pipinya dengan cara yang menggemaskan.

“Aku hanya butuh satu level lagi untuk memaksimalkan penguasaan sihir airku di angka 99. Setelah itu aku bisa mendapatkan bonus kenaikan maksimum!”

“O-Oh… Baiklah, silakan nikmati kalau begitu.” Sang dewi menatapku dengan tidak tertarik. Tapi, kenapa begitu?

Sementara itu, dia sepertinya sedang memegang… es krim?

“Tunggu, apa itu Haa*en-Dazs?” tanyaku. Dari mana dia mendapatkannya?

“Hmm, dari toko online Jepang, kurasa?” jawabnya.

…Mereka mengantar pesanan sampai ke sini?” Apakah ini kekuatan sejati sang dewi? Sungguh sebuah misteri…

“Oh, aku bisa melakukan jauh lebih banyak dari ini!” pamer sang dewi sebelum menunjukkan kepadaku… majalah Weekly Shonen J*mp?! A-Aku ingin membacanya!

“Tidak bisa,” tolaknya sambil membuang majalah itu. Benda itu lenyap begitu saja di udara.

“Duh…” Setidaknya aku ingin melihat chapter terbaru dari One P*ece…

“Mau tahu bagaimana kelanjutan semua manga di duniamu yang dulu?” goda sang dewi sambil menyeringai. Kepribadiannya benar-benar menyebalkan.

“Yah, tentu saja. Memikirkan bahwa aku tidak akan pernah bisa membacanya lagi membuatku mulai merindukannya,” kataku. Tapi mau bagaimana lagi, ini adalah dunia yang berbeda. Lebih baik menyerah saja.

“Hei, kamulah yang hidup senang di sini!” kata sang dewi. “Kamu bisa pergi ke mana pun di dunia ini yang kamu mau. Sebaliknya, aku sudah terjebak di sini selama ratusan tahun, kalau kamu lupa.”

“Di sini? Tempat yang tidak ada apa-apanya ini?” tanyaku. Area kosong tempat aku bertemu sang dewi ini terbentang sejauh mata memandang.

“Maksudku Kuil Dasar Laut tempat aku ditahan! Kalau soal tempat yang bisa dicapai oleh manusia, lokasinya berada di ujung dungeon pada titik terdalam di dunia.”

“Sepertinya aku harus mulai berenang kalau begitu.” Sulit untuk tidak merasa kasihan pada seseorang yang sudah sendirian selama ini.

“Jangan khawatir, santai saja. Aku akan menunggu dengan sabar selama bertahun-tahun atau berabad-abad yang diperlukan.”

“Manusia kan tidak hidup selama itu…” kataku.

Kalau dipikir-pikir, berapa usia sang dewi? Dia terlihat seperti gadis remaja, tapi apakah sebenarnya dia wanita tua—

“Nah lho, apakah pengikutku ini sedang memikirkan sesuatu yang sangat tidak sopan?”

“Aduh, itu sakit,” ratapku saat sang dewi menarik-narik pipiku. Kurasa bertanya tentang usianya adalah tindakan yang menghujat.

Kami berdua terdiam sejenak.

“Hei, Makoto, ajak aku ngobrol tentang sesuatu,” pinta sang dewi.

“Tidak ada hal yang lebih kubenci selain disuruh melakukan itu.” Jika aku bisa memikirkan hal-hal seru untuk dibicarakan secara mendadak begitu saja, aku pasti punya jauh lebih banyak teman!

“Hmph. Itulah akibatnya karena menanyakan usia dananku.”

“Oh… Aku pasti telah membuatmu marah,” kataku sebelum meminta maaf kepada sang dewi.

“Baiklah kalau begitu, sudah saatnya kamu kembali,” ucapnya. Senyumannya telah kembali, jadi mungkin dia tidak terlalu marah karenanya.

“…Ngomong-ngomong, untuk apa sebenarnya kau memanggilku?” tanyaku. Aku sama sekali tidak mendapatkan petunjuk apa pun.

“Hah? Aku cuma sedang bosan dan ingin seseorang untuk diajak ngobrol.”

Aku tertegun. Cuma itu? Yah sudahlah, aku bisa membiarkannya. Lagipula, dewi yang kuuja memilih untuk menghabiskan waktu luangnya bersamaku.

“Yah, aku masih punya dunia fantasi yang harus kutamatkan.”

“Tentu saja. Tentu saja dalam batas kemampuanmu. Nyawamu adalah yang utama.” Sang dewi mengucapkan perpisahan kepadaku, melambaikan tangannya bolak-balik sambil menggunakan frasa yang rasanya pernah kudengar sebelumnya.

Bagaimanapun juga, besok akan menjadi hari kerja lainnya di sini, di Macallan.

Daftar Isi

  • Sampul
  • Prolok: Kisah Seorang Pecinta Game
  • Bab 1: Makoto Takatsuki Terperosok ke Dunia Lain
  • Bab 2: Makoto Takatsuki Bertemu dengan Seorang Dewi
  • Bab 3: Makoto Takatsuki Bertemu Kembali dengan Fujiyan
  • Bab 4: Makoto Takatsuki Membentuk Party Pertamanya
  • Bab 5: Makoto Takatsuki Berlatih Bersama Lucy
  • Bab 6: Makoto Takatsuki Membentuk Party Sementara
  • Bab 7: Makoto Takatsuki Mempelajari Sihir Elemen
  • Bab 8: Makoto Takatsuki Menghadapi Dewa Kuno
  • Epilog: Obrolan Santai Antara Dewi dan Raksasa
  • Afterword
  • Color Illustrations
  • Bonus Short Stories
  • Tentang J-Novel Club
  • Hak Cipta

Landmark

  • Daftar Isi
  • Ilustrasi Berwarna
Daftar Isi

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *