Seirei Gensouki Volume 8 Cerita Pendek Tambahan Bahasa Indonesia
Cerita Pendek Tambahan
Saat Bermain Petak Umpet
Suatu hari di desa para spirit folk…
Sekitar sini sepertinya sudah cukup.
Rio sedang bermain petak umpet dengan anak-anak desa di alun-alun. Dia duduk di balik pohon acak dan mengecilkan tubuhnya semaksimal mungkin, lalu mengendalikan pernapasannya agar tidak mudah ditemukan. Kendati demikian, ada anak-anak werebeast yang memiliki indra penciuman yang tajam. Secara teknis, Rio bisa menggunakan seni spirit untuk mengaburkan penciuman para werebeast, tetapi mereka hanyalah anak-anak, dan tentu tidak dewasa jika dia harus mengerahkan kemampuan penuhnya untuk melawan mereka. Hanya tinggal menunggu waktu saja sampai dia ketahuan —
“Ketemu, Onii-chan.”
Latifa muncul begitu saja dan duduk di samping Rio, lalu memeluknya erat-erat agar dia tidak bisa kabur.
“Bukannya kamu yang jadi penjaga, Latifa.”
“Ehehe, aku mau bersembunyi bersama Onii-chan,” aku Latifa dengan sungguh-sungguh.
“Begitu ya. Kalau begitu, semoga saja mereka tidak menemukan kita.”
“Iya.”
Rio tertawa pelan dan merangkul pundak Latifa dengan lembut. Latifa mengangguk senang sebagai balasan dan semakin mempererat pelukannya pada Rio.
“Berada bersama di luar seperti ini mengingatkanku pada saat kita dulu bepergian bersama menuju desa,” kata Latifa tiba-tiba.
“Iya,” balas Rio sambil mengangguk dan terkekeh.
Dulu, setiap kali mereka beristirahat atau berhenti untuk makan, Latifa selalu menempel pada Rio persis seperti ini. Dia memanfaatkan setiap kesempatan yang ada untuk melakukannya — meskipun sekarang pun dia tidak jauh berbeda, tapi tetap saja.
“Fufu, wangi Onii-chan membuatku merasa aman. Aku suka!” Latifa membenamkan wajahnya ke dada Rio, menggesekkan pipinya ke tubuh pria itu.
Dia sudah bertambah besar, tapi sifat manjanya masih sama ya? Rio mengelus kepala Latifa dengan lembut sambil tersenyum geli.
Undangan Penyihir Kecil Rikka?!
SMA yang dihadiri oleh Amakawa Haruto adalah sekolah persiapan yang memiliki jenjang SMP dan SMA. Bagian SMA terdiri dari mereka yang naik dari tingkat SMP, serta mereka yang masuk melalui ujian dari luar.
Suatu hari di pertengahan musim gugur, bagian SMP mengadakan festival sekolah mereka lebih dulu sebelum bagian SMA. Berbagai macam acara dan stan diselenggarakan di halaman SMP, menarik banyak pengunjung dari kedua sekolah, serta warga sekitar; suasananya sangat ramai.
Namun, ada seorang siswi yang menyelinap ke sisi SMA, mencari ketenangan sejenak. Nama gadis itu adalah Minamoto Rikka, seorang siswi kelas tiga SMP.
“Fiuh, aku lelah.” Rikka duduk di bangku dan meregangkan kedua lengannya sambil sedikit mendesah. Dia telah bekerja sebagai pelayan untuk kafe bertema Halloween di kelasnya.
Sesuai dengan tema kafe tersebut, Rikka mengenakan wig biru muda dan pakaian penyihir. Roknya agak pendek dan kemejanya sedikit menonjolkan dadanya, menarik tatapan penasaran orang-orang saat dia berjalan ke tempatnya sekarang.
“Eh, kebetulan sekali. Apa yang sedang kamu lakukan di sini?”
Dua anak laki-laki yang lebih tua muncul begitu saja, dan salah satu dari mereka memanggil Rikka.
“…Siapa kalian? Kalian bukan murid dari sini, kan?” jawab Rikka dengan agak waspada kepada anak-anak laki-laki itu.
“Oh, tidak perlu begitu waspada. Kami tadi berada di toko kalian sebagai pelanggan, dan kami kebetulan melihatmu barusan,” kata salah satu anak laki-laki itu dengan lancar, seolah-olah dia telah menyiapkan kata-kata itu sebelumnya. Namun, jarak tempat itu cukup jauh dari halaman SMP; itu bukan tempat yang sangat mudah untuk dikunjungi secara kebetulan.
Apakah mereka mengikutiku? pikir Rikka.
“Begitu ya. Kalau begitu, aku pergi.” Rikka langsung bangkit dari bangku dan berjalan cepat menjauh. Tanpa membuang waktu, anak-anak laki-laki itu mulai berjalan mengikutinya, mengapitnya di antara mereka berdua.
“Tunggu dulu. Kami kan cuma ingin berteman denganmu. Berapa nomormu? Ah, sebaiknya kamu tunjukkan sekitar festival ini kalau kamu punya waktu. Omong-omong, namaku Sakata.”
“Maaf. Aku ada urusan.” Rikka mempercepat langkahnya untuk mencoba meninggalkan anak-anak laki-laki itu.
“Tapi kamu tadi duduk di bangku itu, kan?” kata anak laki-laki tersebut, yang telah mengamati gerak-gerik Rikka sebelumnya.
Ugh, menyebalkan sekali.
Tepat saat Rikka mulai merasa jengah —
“Ah, kamu di sini. Aku sedang mencarimu.”
Dari jarak yang tidak terlalu jauh, seorang siswa laki-laki dari tingkat SMA memanggil Rikka.
“Ha? Dan siapa kamu?” Dengan tidak senang, anak-anak laki-laki itu berbicara dengan nada mengancam kepada pendatang baru tersebut.
“Aku siswa dari tingkat SMA, dan aku sedang mencarinya. …Apakah kalian mengenal orang-orang ini? Guru akan segera datang, jadi kalau ada masalah, aku akan bersaksi,” jawab siswa laki-laki itu tanpa gentar, seraya mengisyaratkan keberadaan seorang guru.
“Hah? T-Tidak, kami tadi cuma tanya arah.” Anak laki-laki itu tampak ketakutan, karena suaranya sedikit bergetar saat menjawab.
“Gedung sekolah menengah pertama ada di sebelah sana.” Siswa laki-laki itu tersenyum dan menunjuk ke arah jalan yang mengarah kembali ke divisi sekolah menengah pertama.
“Ya. Ayo pergi.” Anak-anak laki-laki itu langsung mundur ke arah halaman sekolah menengah pertama, meninggalkan Rikka sendirian bersama siswa laki-laki yang baru muncul tersebut.
“T-Terima kasih banyak, Amakawa-senpai,” Rikka menghela napas lega dan berterima kasih kepada anak laki-laki itu — Amakawa Haruto.
“…Maaf, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” Haruto memiringkan kepalanya karena penasaran. Dia sama sekali tidak ingat pernah bertemu Rikka sebelumnya.
“Ah! T-Tidak, kamu kan terkenal di kalangan anak-anak SMP! Makanya aku tahu namamu, m-maaf!” Rikka meminta maaf dengan panik.
“Bukan sesuatu yang harus dimaafkan… Tapi, apakah aku benar-benar terkenal?” Mata Haruto membelalak.
“U-Umm, hanya saja salah satu temanku menyukaimu, jadi…” Rikka menjelaskan dengan agak canggung.
“…O-Oh. Begitu ya. Maaf sudah bertanya,” Haruto meminta maaf dengan ragu-ragu.
“T-Tidak! Akulah yang minta maaf!” kata Rikka.
Keheningan yang canggung meliputi di antara mereka berdua. Kemudian, beberapa saat kemudian…
“…Bagaimana kalau aku mengantarmu kembali ke SMP?” usul Haruto. “Kamu mungkin akan berpapasan dengan orang-orang itu lagi di perjalanan pulang.”
“Terima kasih banyak. J-Jika kamu tidak keberatan, kumohon. Ah, kelas kami membuat kafe, jadi silakan mampir ya! Aku ingin berterima kasih atas pertolonganmu tadi bagaimanapun juga!” Rikka menundukkan kepalanya dengan malu-malu.

Komentar