Seirei Gensouki Volume 7 Cerita Pendek Bonus Bahasa Indonesia
Cerita Pendek Bonus
Karena Aku Mengantuk
Suatu pagi yang cerah, sebelum Rio mengantar Celia untuk menyerahkan surat ke kediaman Count Claire…
Rio, Aishia, dan Celia sedang tidur berdampingan di ranjang raksasa rumah batu seperti biasa. Namun —
“Mm. Mrgh…”
Celia tiba-tiba terbangun. Dedikasinya pada penelitian di masa lalu membuat pola tidurnya sering terganggu, yang menjadikannya seorang yang tidurnya tidak nyenyak dan terbiasa bangun setelah tidur dalam waktu singkat. Celia duduk perlahan, melihat sekeliling ruangan dengan tatapan mengantuk. Rio sedang tidur di sampingnya, dan Aishia sedang tidur di samping Rio. Aishia sedang memeluk lengan Rio, bernapas dengan damai dalam tidur lelapnya.
“Mmm…”
Aishia tiba-tiba bergerak. Kemudian, sesuatu bergesekan dan menekan lengan Rio.
“…”
Celia menyaksikan pemandangan itu saat masih setengah sadar. Sesaat kemudian, dia perlahan menunduk menatap dadanya sendiri. Sedetik kemudian, dia kembali melihat ke arah dada Aishia.
Remas, remas. Tekan, tekan.
Itu masih kurang. Harus diakui bagian itu terasa lembut saat disentuh, tapi masih ada sesuatu yang empuk yang terasa kurang.
“Hmph…”
Celia masih setengah mengantuk, tapi dia merenggut karena kesal. Dia sudah terbiasa kurang tidur, namun baik pikiran maupun tubuhnya belum cukup beristirahat, jadi dia kembali merapatkan diri ke dalam selimut. Didorong oleh tindakan Aishia, dia dengan berani menempelkan tubuhnya dekat-dekat pada Rio… Hasilnya, Rio terjepit di antara Aishia dan Celia.
“…”
Ketika sesuatu yang lembut dari sisi Celia menekan lengannya, tubuh Rio sedikit menegang. Namun, Celia yang sedang mengantuk tidak memedulikan hal itu dan terus bergelung di sisi Rio dengan polosnya. Itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah dia lakukan pada hari-hari biasa.
“…”
Aishia merapat lebih dekat ke sisi Rio, seolah-olah sedang bersaing dengan Celia.
“……”
Rio terdiam kaku dengan mata terpejam. Dengan Celia yang setengah kesadaran karena mengantuk dan Aishia yang menempelinya secara tidak sadar, dia tidak punya tempat untuk pergi. Dia benar-benar terkunci. Pada akhirnya, Rio tetap membeku di antara kedua gadis yang bergelung itu selama hampir satu jam.
A-Apa kamu melihatnya?
Saat Rio sedang mengacaukan upacara pernikahan Celia di Strahl, tak lama setelah Miharu dan yang lainnya dibawa ke desa para roh…
Apakah sudah pagi? Miharu tiba-tiba terbangun. Dia bergadang untuk belajar, jadi dia merasa agak lelah. Kendati demikian, dia menepis rasa mengantuknya dan bangkit dari tempat tidur untuk menunaikan tugas menyiapkan sarapan.
Apa yang harus kubuat hari ini? Miharu merenung dengan setengah mengantuk sembari melepas baju tidurnya. Begitu hanya menyisakan pakaian dalam, dia memilih pakaian ganti dari laci dan meletakkannya di atas tempat tidurnya. Setelah melepas bra yang dia pakai saat tidur untuk diganti dengan bra sehari-hari, dia mengenakan pakaiannya dengan gerakan yang sudah hafal di luar kepala.
Baiklah, aku sudah siap! …Eh? Bau harum apa itu?
Miharu mengendus-endus, hidungnya berkedut mencium aroma samar masakan.
Apakah itu Haruto atau Orphia? Aku harus ikut membantu juga.
Miharu bergegas keluar kamar, tetapi seseorang mengetuk pintu terlebih dahulu. Karena terkejut, Miharu menjawab secara refleks. “Ah, ya?”
“Miharu, aku datang untuk memanggilmu sarapan.” Rio berada di sisi seberang pintu.
“…Eh? Ah, apa aku kesiangan? Maafkan aku!” Miharu membuka pintu dengan panik, menundukkan kepalanya kepada Rio.
“Tidak apa-apa. Aku juga kadang kesiangan. Jangan dipikirkan…” jawab Rio dengan senyuman tipis. Ketika dia melihat kutang yang tertinggal di atas tempat tidur di belakang Miharu, dia mengalihkan pandangannya dengan canggung.
“Haruto?” Miharu memiringkan kepalanya dengan rasa ingin tahu.
“Bukan apa-apa, jangan dipikirkan. Kalau begitu, aku akan menunggu.” Selesai berkata demikian, Rio bergegas pergi.
“Ya? Aku akan segera ke sana juga.” Miharu merasa penasaran mengapa Rio mengalihkan pandangannya lalu berbalik. Lalu —
“?!”
Dia melihat kutangnya sendiri yang tergeletak. Benda itu terlihat jelas dari pintu, dilipat dengan rapi di atas baju tidurnya. Bagaimanapun juga, dialah orang yang menaruhnya di sana.
A-Apa dia melihatnya? Wajah Miharu memerah dari detik ke detik. Setelah itu, selama mereka makan sarapan, Rio dan Miharu sama-sama mengalihkan pandangan satu sama lain karena malu sepanjang waktu.
Elemental☆Element, Guru?
Di tengah musim semi di Jepang, Amakawa Haruto dan Ayase Miharu adalah teman masa kecil yang baru saja memulai tahun kedua sekolah menengah atas mereka musim semi ini.
Hari sudah pagi, tepat sebelum jam homeroom. Hari ini adalah hari upacara pembukaan, dan semua orang merasa antusias dengan pengocokan kelas, membuat ruang kelas dipenuhi oleh percakapan yang hidup. Di antara mereka adalah Haruto dan Miharu.
“Sepertinya kita sekelas tahun ini, Haru-kun,” kata Miharu dengan gembira sambil duduk di kursi sebelah Haruto.
“Sepertinya begitu,” balas Haruto kepada Miharu dengan canggung.
Keduanya berada di kelas yang berbeda selama tahun pertama mereka, tetapi mereka akan berada di kelas yang sama mulai hari ini dan seterusnya. Terlebih lagi, mereka duduk berdampingan sebagai tetangga meja.
Amakawa Haruto dan Ayase Miharu. Di sekolah menengah atas mereka, nomor kursi ditetapkan berdasarkan jenis kelamin sesuai urutan nama keluarga, jadi sudah wajar jika mereka berdua mendapatkan nomor kursi yang sama. Akibatnya, tidak bisa dihindari bagi mereka berdua untuk duduk berdampingan. Bahkan jika nomor kursi ditentukan berdasarkan tanggal lahir, keduanya sama-sama lahir di musim semi dan akan tetap mendapatkan nomor kursi yang sama.
Mereka telah terpisah untuk waktu yang lama, tetapi setelah bersatu kembali setahun yang lalu, mereka tidak bisa menahan diri untuk tidak merasa takdir sedang berpihak pada mereka.
“Mari kita akur tahun ini, Haru-kun,” kata Miharu kepada Haruto dengan kebahagiaan sepenuh hati dalam nada suaranya.
“Setuju,” jawab Haruto, masih sedikit canggung.
Meskipun demikian, keduanya adalah pasangan yang sangat menarik dan menonjol di dalam kelas.
“Ah, aku ingin tahu apakah mereka berdua berkencan. Aku tidak percaya ini terjadi setelah aku akhirnya ditempatkan di kelas yang sama dengan Ayase…”
Para siswa laki-laki semuanya menghela napas bersamaan. Sementara itu —
“Duh, aku akhirnya sekelas dengan Amakawa, tapi aku bukan tandingan Ayase. Aku tidak percaya ini…”
Para siswi perempuan juga ikut menghela napas. Akan tetapi —
“Hei, hei, masih terlalu dini untuk kecewa, kawan-kawan. Bukankah kalian lihat siapa guru kita? Itu Profesor Celia,” kata salah seorang siswa laki-laki kepada yang lainnya.
“Serius?!” Para anak laki-laki itu langsung mendapatkan kembali semangat mereka.
Celia Claire adalah dosen yang pindah ke SMA mereka dari luar negeri tahun lalu. Penampilannya yang menggemaskan yang membuatnya tampak lebih muda dari siapa pun, membuatnya sangat populer di kalangan siswa laki-laki maupun perempuan. Saat mereka bergosip tentang Celia, pintu kelas pun terbuka.
“Ooh…!” para siswa laki-laki bersorak serempak.
Celia-lah yang masuk. Namun, karena hari masih pagi, dia tampak agak lesu. Meskipun begitu, para siswa laki-laki sama sekali tidak memedulikan kelelahan Celia karena terlanjur diliputi kegirangan.
“Kita masih punya Profesor Celia!”
“Apa yang kalian bicarakan?” jawab Celia dengan lelah kepada anak-anak laki-laki itu saat dia berdiri di meja guru. “Yah, sudahlah. Aku akan memperkenalkan kalian kepada seseorang, meskipun dia baru akan diperkenalkan secara resmi nanti pada upacara penerimaan. Masuklah, Aishia.”
Sambil menghela napas berat, dia memanggil ke arah koridor. Seorang gadis berambut merah muda peach muncul di ambang pintu yang terbuka.
“…” Para siswa semuanya terpikat oleh kecantikan gadis itu dan menelan ludah karena terkejut.
Celia menyeringai jijik melihat reaksi para siswa. “Aishia, perkenalkan dirimu,” desaknya.
“Aku Aishia,” ucap Aishia, hanya menyebutkan namanya saja.
“Itu bukan perkenalan…” Celia menempelkan sebelah tangan ke wajahnya karena kelelahan yang sangat. Namun, Aishia sama sekali tidak memedulikannya, melainkan mengedarkan pandangannya ke sekeliling kelas. Tatapannya berhenti pada Haruto.
“…Ketemu,” gumam Aishia, lalu dengan cepat mendekati Haruto.
“Hah?” Haruto tampak terkejut dalam kebingungan.
“Aishia Amakawa. Aku akan bersama Haruto mulai hari ini dan seterusnya. Tunggu aku selepas kelas; kita akan pulang bersama.” Aishia tiba-tiba berkata, mengejutkan semua orang di dalam ruangan.
“Apa?!” Duduk di samping Haruto, Miharu juga terkejut hingga tak bisa berkata-kata.
“Eeeh?!”
Teriakan para siswa bergema di seluruh sekolah.
Bersambung… mungkin?
Aku mencoba menari!
Di desa tempat kaum roh tinggal…
Tepat sebelum makan malam, Latifa telah mengurung diri sendirian di kamarnya, duduk di atas sebuah kursi. Dagunya bersandar di lengan kirinya sementara tangan kanannya memegang pena, mondar-mandir dan ragu-ragu menghadap ke arah mejanya.
Kira-kira seragam seperti apa ya yang imut?
Dia sedang merenungkan desain seragamnya sendiri. Dia telah memutuskan untuk membuat seragam setelah melihat seragam sekolah Jepang milik Miharu dan Aki tadi pagi. Meninggal saat masih duduk di bangku sekolah dasar, Latifa — bukan, Suzune — sangat mengagumi seragam yang dikenakan oleh para siswa sekolah menengah pertama dan menengah atas. Tak mampu menahan ketidaksabarannya, dia mengeluarkan alat-alat tulisnya dalam upaya untuk merancang desainnya sendiri, tetapi…
Seragam seperti apa yang akan disukai Onii-chan?
Dia kesulitan memikirkan sesuatu yang spesifik. Merancang bukanlah tugas yang mudah bagi seorang amatir sejak awal.
“Mmrgh…” Latifa mengerang.
Meskipun Miharu dan Orphia yang akan membuat seragam itu, dia tidak bisa begitu saja menyerahkan semuanya kepada mereka jika dia ingin memberikan kejutan kepada Rio. Setidaknya dia ingin memikirkan ide-idenya sendiri.
Apa yang akan Onii-chan katakan jika dia melihatku mengenakan seragam? Apakah dia akan memanggilku imut?
Latifa terkikik sambil tersenyum. “Imut.” Jika dia bisa mendengar satu kata itu dari Rio, dia akan sangat gembira. Membayangkannya saja sudah cukup membuatnya bahagia.
Hmm, tapi kalau hanya mengenakan seragam rasanya sedikit membosankan… bukan? Bagaimana kalau aku juga menari atau semacamnya? Latifa tiba-tiba memikirkan hal itu dalam hati sambil memiringkan kepalanya.
“…Kira-kira tarian seperti apa ya yang bagus?”
Dia berdiri dan membayangkan dirinya mengenakan seragam. Kamarnya memiliki banyak ruang kosong, jadi dia berdiri di tengah area yang terbuka.
“Begini, ya?” Latifa melangkah dengan malu-malu. Pada akhirnya, dia menyadari bahwa dia juga harus menggerakkan tangannya dan menambahkan gerakan ke dalam koreografinya. Dia menjadi semakin merasa senang seiring berjalannya waktu.
“Satu, dua. Satu, dua.” Latifa menari dengan cara yang cukup meyakinkan, mengambil langkah-langkah ringan dan menggerakkan anggota tubuhnya secara berirama.
“Hmm hm hmm…” Dia mulai bersenandung. Dia merasa sangat antusias, sehingga ide-ide koreografi pun datang silih berganti di benaknya.
Haruskah aku memikirkan beberapa lirik juga? tanya Latifa pada dirinya sendiri, tetapi lirik tidak begitu mudah muncul di kepalanya. Dia meluangkan waktu beberapa saat untuk memikirkan apa yang bagus. Mungkin yang terbaik adalah mengungkapkan perasaannya secara jujur. Yang artinya —
“‘Aku mencintaimu, Onii-chan’?”
Itulah dia. Sebelum dia menyadarinya, mulutnya bergerak secara alami. Kemudian, pada momen paling klimaks, dia berputar dan membuat pose akhirnya. Karena dia adalah manusia rubah, dia menekankan sisi rubahnya dengan lompatan-lompatan kecil berirama ala rubah. Pandangan Latifa tiba-tiba beralih ke pintu. Kalau dipikir-pikir, dia telah membiarkannya terbuka lebar. Di ambang pintu berdiri Miharu yang terpaku.
“Tunggu, Miharu?!” Tubuh Latifa bergetar karena terkejut.
“Ah, m-maaf. Aku mendengar kamu bersenandung dan pintumu terbuka, jadi aku mencoba memanggilmu beberapa kali, tetapi tidak ada jawaban…” Jawab Miharu dengan gugup.
“A-Apa kamu melihatnya?” tanya Latifa dengan wajah memerah padam.
“U-Umm. Hanya bagian akhirnya saja,” konfirmasi Miharu dengan ragu-ragu.
“Mwuuuh!”
Latifa menyembunyikan wajahnya di balik kedua tangannya dan berjongkok di tempat. Dia begitu malu hingga wajahnya terasa seperti terbakar.
“A-Aku minta maaf.” Miharu berlari menghampiri Latifa dengan panik dan merangkul tubuhnya.
…Ini bukan salahmu, Miharu. Akulah yang meninggalkan pintuku terbuka. Uugh, tapi aku tetap merasa sangat malu! Latifa mengerang kesakitan. Dia begitu tenggelam dalam pikirannya tentang Rio sehingga dia sama sekali tidak menyadari apa pun di sekitarnya. Dia harus merenung secara mendalam…
“T-Tapi itu tadi sangat imut, lho,” ucap Miharu jujur, mencoba menghibur Latifa.
“…M-Makasih. Omong-omong, ada perlu apa, Miharu?” Telinga rubah Latifa berkedut saat dia bertanya dengan malu-malu.
“Oh. Aku datang untuk memanggilmu, karena makanannya akan segera siap…”
“…Paham. Ini rahasia di antara kita berdua saja, ya, Miharu?”
“Yup, aku tahu.” Miharu mengangguk dengan senyum yang sedikit dipaksakan. Dia memang bukan tipe orang yang suka bergosip.
“…Kalau kamu bilang ke siapa pun, aku bakal suruh kamu berdansa denganku di depan Onii-chan. Paham?” Latifa mengerucutkan bibirnya dengan cemberut.
“E-Eeeh?! A-Aku juga?! Tidak mau!” Miharu menggelengkan kepalanya secara refleks.
“Kamu akan baik-baik saja asalkan tidak ngomong apa-apa.”
“B-Begitu ya. Benar juga. Masuk akal. Paham. Yup, baiklah.” Miharu mengangguk untuk meyakinkan dirinya sendiri.
“…Kalau begitu, kita janji ya. Ayo pergi.”
Latifa tersenyum lembut dan berjalan keluar ruangan. Miharu terkikik sebelum mengekor di belakang.

Komentar