Seirei Gensouki Volume 7 Bab 7: Serangan Lainnya Bahasa Indonesia
Bab 7: Serangan Lainnya
Keesokan paginya, saat sebelum matahari terbit dan langit diwarnai biru lapis, ketika bumi baru saja mulai diterangi oleh fajar yang datang, Aishia mengunjungi kamar tidur Rio untuk mencoba membangunkannya.
“Haruto, bangunlah.”
“…Aishia? Selamat pagi.” Rio langsung membuka matanya, tetapi ekspresinya masih setengah mengantuk saat dia menjawab.
“Selamat pagi. Ini darurat,” kata Aishia dengan suara datar.
“Ada apa?” tanya Rio dengan ekspresi serius.
“Monster tiba-tiba muncul.”
“…Di dalam atau di luar kota?”
“Tidak tahu posisi persisnya. Tapi mereka ada di sebelah barat. Kehadiran mereka bercampur baur, jadi sepertinya jumlahnya sangat banyak. Aku seharusnya menyadari kehadiran sekuat ini jauh lebih awal, tapi aku tidak bisa mengetahuinya,” kata Aishia dalam ekspresi kekhawatiran yang jarang ditunjukkan.
“…Aku mengerti.” Rio bangkit dari tempat tidur dan menepuk pundak Aishia. “Untuk sekarang, mari kita pahami situasinya dengan lebih jelas. Di mana Profesor?” tanya Rio dengan suara tenang.
“Masih tidur.” Aishia menatap wajah Rio saat menjawab. Segera setelah itu, lonceng darurat kota mulai berdering, bergema dari gerbang kota.
Sedetik kemudian, suara auman monster yang familiar bergemuruh kencang di udara.
“MROOOOOOOH!”
◇ ◇ ◇
Lebih awal pada hari itu, di pos pengatiran gerbang barat Amande…
“Aaaah…” seorang prajurit menguap lebar.
“Masih terlalu dini bagi giliran jaga berikutnya untuk tiba. Kuasai dirimu — kita sedang dalam siaga tinggi sekarang,” tegur atasannya, yang berjaga bersamanya, dengan suara yang lebih kasar dari biasanya.
Saat ini, Amande telah memperketat penjagaannya karena keadaan darurat tertentu, membuat pergantian jaga menjadi lebih sering dan meningkatkan jumlah prajurit di gerbang timur dan barat. Sejumlah besar prajurit khususnya telah ditugaskan ke gerbang barat, yaitu tempat sejumlah besar monster muncul di hutan.
Omong-omong, bagian utara Amande adalah sebuah danau — sumber air utama mereka — jadi tidak ada pintu masuk di sana. Selain itu, kota Amande yang tadinya kecil telah berkembang pesat menjadi kota besar ini dalam beberapa tahun terakhir, dan mereka masih berada di tengah-tengah penebangan hutan untuk perluasan lebih lanjut. Seiring dengan perluasan kota, dialokasikanlah area metro, sehingga lahan pertanian yang tadinya tersebar di antara timur dan barat kini dialokasikan ke lahan yang sudah dibersihkan di sebelah selatan.
Tembok terluar kota itu tidak terbuat dari batu seperti dinding kastil, melainkan dari kayu log yang bisa dipindahkan setiap kali perluasan terjadi.
“Baik, Komandan.” Prajurit yang menguap itu menguasai dirinya kembali dan mengangguk. Dia pasti merasakan kebanggaan atas pekerjaannya dalam melindungi Amande, karena wajahnya terlihat sangat serius.
Tiba-tiba, prajurit lain yang sedang mengintai melihat sesosok bayangan di kejauhan. “Hei! Apakah ada seseorang di jalanan?!”
“Seseorang? Jam segini?” Sang atasan menggosok matanya karena ragu.
“Jumlahnya banyak. Sebenarnya ada berapa orang itu?” Prajurit lain di sebelah mereka langsung bersuara. Gerbang itu diterangi oleh obor api, namun sekitarnya masih buram dan pandangan mereka terhalang oleh kabut. Mustahil ada orang yang berjalan di sepanjang jalan hutan pada jam segini; meskipun ada jalur, hutan-hutan itu sangat gelap gulita di malam hari. Selain tidak dapat melihat jarak yang paling dekat sekalipun, ada pula bahaya dari binatang nokturnal yang berkeliaran. Bahkan gerbang kota ditutup rapat sampai pagi tiba.
“Kalau dipikir-pikir, kita menerima pesan bahwa para ksatria asing yang pergi untuk menyelidiki hutan mungkin akan kembali. Oh, tetapi pesan itu memperingatkan bahwa monster tak dikenal juga bisa muncul…” kenang atasannya dengan wajah ragu. Saat itu, sosok-sosok tersebut perlahan-lahan mendekat.
“Uuuh…” Lusinan mayat hidup muncul dengan rintihan yang menyeramkan. Ada yang berkulit abu-abu tersebar di antara yang berwarna abu-abu lebih gelap, tetapi sulit untuk membedakannya di dalam pencahayaan yang remang-remang.
Dari kepala mereka yang tidak berambut, ekspresi kegilaan yang menyeramkan, dan tubuh yang sepenuhnya telanjang, sudah jelas bahwa mereka bukan manusia.
“I-Itu monster tak dikenal! Bunyikan alarm!” Perintah atasan kepada prajurit di dekatnya dengan terkejut.
“B-Baik, Komandan!” Jawab prajurit yang diperintahkan itu dengan panik, lalu membunyikan lonceng pos pengintaian dengan irama yang tetap. Suara lonceng itu bergema dengan keras di seluruh kota yang tenang.
“Geehehehe!” Pasukan besar goblin dan orc melompat keluar dari hutan secara bersamaan.
“Kita hentikan mereka di sini, semuanya! Jangan biarkan mereka masuk ke dalam gerbang!” teriak sang atasan dengan penuh tekad kepada para prajurit, jelas-jelas menyadari skenario terburuk.
“Baik!” Para prajurit mengangguk mantap. Namun, raungan monster yang buas bergema dengan kencang dari bagian belakang jalan.
“MROOOOOOOOOH!”
Para prajurit gemetar mendengar suara itu. “?!”
“J-Jangan-jangan…” Firasat buruk melanda sang atasan, membuatnya meringis. Dia teringat pada pesan tersebut dan bagaimana pesan itu mengatakan bahwa ada satu jenis monster lagi selain mayat hidup yang tidak dikenal.
Mereka disebut minotaur — monster yang mengamuk dengan murka selama Perang Suci. Sedetik kemudian, suara gedebuk, gedebuk, gedebuk mengguncang tanah.
“I-Itu datang!” teriak sang atasan.
“MROOH!” Dari kedalaman jalan yang berkabut, muncullah sang minotaur. Monster-monster yang memenuhi jalan bergerak ke samping untuk memberinya jalan.
“B-Besar sekali!” Pos pengintaian tempat para prajurit berdiri berada sepuluh meter di atas tanah, tetapi minotaur itu tetap terlihat sangat besar saat mereka melihatnya dari atas. Tingginya dengan mudah mencapai empat meter.
Tiba-tiba, minotaur itu melompat sambil berlari.
“Ah…!” Para prajurit sempat berada sejajar dengan mata monster itu, dan rahang mereka ternganga karena kaget. Minotaur itu mengayunkan pedang besar batunya ke bawah dengan kuat.
“I-Itu akan menghancurkan gerbang! Mundur!” Tepat saat sang atasan berteriak kencang, gerbang kota dihancurkan oleh pedang batu tersebut. Fondasinya hancur berkeping-keping, membuat pos pengintaian di atasnya runtuh ke tanah.
“Cih. Bersiaplah untuk benturan! Pertempuran dimulai begitu kita mencapai tanah!” Sang atasan hampir tidak sempat berteriak.
“Gufufufu.” Minotaur itu menatap reruntuhan gerbang yang dihancurkannya dan membiarkan mulutnya melebar membentuk senyuman yang penuh dominasi.
Sepertinya kita berhasil mendapatkan jalur masuk tanpa masalah. Yang tersisa adalah menyebarkan pertempuran seluas mungkin dan memancing kekuatan mereka keluar. Gerbang timur adalah berikutnya. Reiss bersembunyi di antara para monster di dalam hutan, mengamati minotaur dan situasi di sekitarnya dengan tenang. Dia menghela napas pelan, sebelum perlahan-lahan melayang ke udara.
Namun masalahnya adalah roh humanoid itu beserta orang yang membuat kontrak dengannya. Kita harus menyesuaikan diri dengan pergerakan mereka, tetapi jika roh itu termaterialisasi, akan cukup mudah untuk menemukannya. Untuk saat ini, kita harus memanfaatkan kesempatan ini untuk membuka gerbang timur. Seharusnya tidak ada begitu banyak prajurit yang ditempatkan di sana, pikir Reiss saat dia bergerak cepat menuju gerbang timur.
◇ ◇ ◇
Di tempat lain, Rio membawa Aishia keluar dari kamarnya dan melewati ruang keluarga, terus berjalan dengan cepat menuju kamar tidur tempat Celia sedang tidur… sebelum akhirnya Celia keluar dari kamar dengan panik.
“Rio, Aishia, kalian di sana?!” Sepertinya keributan di luar telah membangunkannya.
“Profesor.”
“Rio, Aishia — syukurlah…!” Celia menghela napas lega, memeluk Rio erat-erat. Saat dia terbangun karena terkejut, ranjang tempat Aishia seharusnya tidur tampak kosong. Dia pasti merasa khawatir.
“Tidak apa-apa. Tidak perlu khawatir,” kata Rio sambil memeluk Celia dengan lembut.
“B-Begitu ya…” Celia membenamkan wajahnya ke dada Rio, mengangguk ragu-ragu.
Begitu Rio memastikan bahwa Celia sudah tenang, dia menjelaskan situasinya. “Sepertinya sejumlah besar monster telah muncul, entah di dalam atau di luar kota. Kemungkinan ada minotaur juga.”
Celia menatap wajah Rio. “…Apa yang akan kamu lakukan?” tanya dengan gugup.
“Biar kulihat…” gumam Rio sambil merenung dalam hati.
Dia hanyalah orang luar, dan adalah tugas Liselotte untuk melindungi kota Amande. Karena tanah ini adalah basis utama Liselotte, dia pasti memiliki kekuatan militer yang cukup di bawah komandonya, tidak seperti saat mereka diserang di jalan. Meskipun para minotaur itu tangguh, adalah mungkin untuk mengusir mereka dengan sejumlah besar orang yang kekuatannya setara dengan seorang kesatria.
Namun, dia tidak bisa bersikap optimis tanpa informasi lebih lanjut. Jika jumlah monster melampaui pertahanan kota, skenario terburuk pasti bisa terjadi.
Bukannya aku wajib melindungi Amande, tetapi aku tidak bisa membiarkan Liselotte gugur di sini… Dan aku juga tidak boleh membiarkan Profesor berada dalam bahaya, pikir Rio, merapikan motif dan situasi yang dihadapinya. Jika dia hanya memikirkan untuk melarikan diri, maka dia bisa saja terbang keluar kota dengan seni roh. Menggunakan seni roh di depan orang lain memang tidak diinginkan, tetapi dia bisa beralasan bahwa seni roh angin yang paling sering digunakannya adalah produk dari pedang bertuah elemen angin miliknya.
Namun, hal itu tidak akan terlihat bagus di mata Liselotte jika dia kemudian mengetahui bahwa hal pertama yang mereka lakukan adalah melarikan diri ke tempat aman sendirian. Belum lagi jika Amande hancur di sini, hubungan baik yang telah dia bangun dengan Liselotte akan berakhir. Jika memungkinkan, Rio ingin menghindari hal itu. Yang berarti —
Aku butuh lebih banyak informasi dulu. Keputusan finalku bisa dibuat setelah itu.
Bagaimanapun juga, bertindak terburu-buru adalah tindakan yang sembrono sekaligus tidak bertanggung jawab. Selama situasinya bukanlah dilema yang mengancam nyawa yang mana lebih baik kabur tanpa pikir panjang, ini adalah kesempatan sempurna untuk membuat Liselotte semakin berutang budi padanya.
“Hei, Rio. Kamu tidak perlu mengkhawatirkanku. Aku tahu aku adalah penghalang terbesar di antara kita, tapi aku juga bisa bertarung sedikit jika aku bisa menggunakan sihir. Makanya… umm. Kamu harus memilih tindakan yang terbaik untukmu.” Celia merasakan bahwa ekspresi Rio serius dan berbicara dengan ragu-ragu. Matanya menunjukkan secercah tekad kuatnya untuk mengikuti Rio — apa pun yang terjadi.
“…Baiklah.” Rio mengangguk dengan perasaan yang sulit dijelaskan. “Kalau begitu, mari kita ganti pakaian dulu agar kita bisa bergerak dengan leluasa,” sarannya dengan senyuman biasa untuk menenangkan Celia.
◇ ◇ ◇
Setelah Rio selesai mengganti pakaian tidurnya dengan pakaian tempur wyvern hitam miliknya, dia pergi ke taman belakang penginapan seorang diri. Para pegawai penginapan dan tamu telah menyadari keributan tersebut beberapa waktu lalu, namun perhatian mereka tertuju pada pintu masuk yang menghadap ke alun-alun, sehingga tidak ada seorang pun di taman belakang. Rio memanfaatkan situasi ini dan melayang ke udara, lalu melihat ke bawah ke sisi barat kota dari atas. Dari langit, tanah di bawah tampak agak suram.
Gerbangnya telah hancur… Pasti ada banyak sekali monster.
Rio mencatat situasi tersebut. Alun-alun di gerbang barat yang biasanya dipenuhi oleh kios-kios dan pelanggan kini sedang dibanjiri oleh gerombolan goblin dan orc. Minotaur dan revenant berada di barisan belakang, tetapi mereka masih mengamati dari kejauhan. Di sisi lain…
Reaksi kota juga sangat cepat.
Para prajurit dan petualang sudah berkumpul di pintu masuk jalan yang mengarah ke gerbang barat dan mengambil formasi bertempur. Mereka membentuk garis pertahanan darurat untuk mencegah para monster menerobos lebih jauh; kemungkinan besar personel telah ditempatkan di gerbang barat sebelumnya sebagai tindakan pencegahan.
Selain itu, alun-alun dekat gerbang tampaknya dirancang dengan maksud untuk memancing musuh dari luar masuk dan kemudian menghadang mereka. Selama jalan masuk ke kota dipertahankan, bangunan-bangunan yang tersisa akan bertindak sebagai barikade yang mencegah invasi. Bahkan jika sejumlah besar monster mendesak melewati mulut jalan tersebut, keterbatasan lebar berarti jumlah monster yang dapat dijangkau akan berkurang. Untungnya, tampaknya mereka akan mampu mempertahankan benteng tersebut. Selama waktu itu, para penduduk di sepanjang jalan akan dievakuasi menuju ke pusat kota.
Bantuan berdatangan silih berganti. Sepertinya ini akan… — pikir Rio, sembari menilai situasi di gerbang barat, ketika telepati Aishia bergema di dalam kepala Rio.
Haruto, banyak sekali monster yang baru saja muncul di gerbang timur.
Timur? Rio berputar di tempat dan melihat ke arah timur. Di sana, gerombolan monster sedang bermunculan dari hutan tepat di depan gerbang timur. Para pengawas di gerbang menyadari serangan mendadak itu dan membunyikan lonceng dengan tergesa-gesa, tetapi sesosok minotaur baru muncul, mengeluarkan raungan yang garang.
“MROOOOOH!”
Suara itu menenggelamkan suara lonceng peringatan, memperingatkan kota akan keberadaannya.
“MROGH!” Minotaur itu menggunakan kemampuan fisik yang luar biasa untuk melakukan lompatan lari, melayang di atas kepala para goblin dan orc untuk tiba di gerbang terlebih dahulu. Ia lalu mengayunkan pedang besar batunya ke bawah, menghancurkan gerbang tersebut berkeping-keping.
“Guheehee!”
“Buhee! Buhee!”
Tak lama setelah serangan dari minotaur itu, para goblin dan orc berhamburan melewati makhluk tersebut, menyerbu kota satu demi satu.
…Banyak sekali. Kira-kira ada berapa banyak totalnya? Sambil memperkirakan secara kasar, Rio menduga jumlah monster di sisi timur dan barat dengan mudah melampaui seribu ekor.
Dan mereka masih terus bermunculan dari dalam hutan. Situasinya perlahan-lahan semakin memburuk.
Haruto, apa yang harus kita lakukan? tanya Aishia.
Rio tidak langsung menjawab, melainkan mengamati seluruh penjuru kota. Dengan gerbang timur dan barat yang telah jebol, satu-satunya gerbang yang tidak tersentuh adalah gerbang selatan. Gerbang selatan menghadap ke lahan pertanian yang luas dan terbuka, di mana masih belum ada tanda-tanda kemunculan monster.
Sementara itu, area utara tempat kediaman Liselotte berada menghadap ke sebuah danau, sehingga sama sekali tidak ada gerbang di sana. Area tersebut juga dikelilingi oleh tembok pertahanan yang tinggi dan kokoh, yang dapat digunakan sebagai tempat evakuasi dalam keadaan darurat. Dilihat dari pergerakan para warga di sebelah selatan, mereka sedang bergerak menuju blok utara.
Untuk saat ini, bisakah kamu tetap di dalam kamar bersama Profesor dan menunggu? Sepertinya para monster tidak akan mencapai pusat kota dalam waktu dekat, dan semua warga dari barat sedang pindah ke pusat. Tampaknya mereka sedang dievakuasi ke utara. Bahkan jika kamu pergi keluar sekarang, kamu tidak akan bisa bergerak, perintah Rio dengan tenang sambil menatap ke bawah ke arah tanah. Alun-alun di depan penginapan tempat mereka menginap sudah dipadati oleh para warga yang datang dari barat. Jika warga dari timur mulai bergerak ke sini juga, maka akan jauh lebih aman untuk tetap berada di dalam penginapan.
…Apa yang akan kamu lakukan, Haruto? Aishia bertanya lagi kepada Rio.
Pasukan pertahanan di gerbang timur sangat sedikit. Aku akan pergi menghalau mereka. Saat ini, hanya ada segelintir prajurit bersenjata tombak yang menjaga jalan yang menghadap ke alun-alun gerbang timur. Berhadapan dengan mereka ada ratusan monster, membuat mereka kalah jumlah secara telak.
Mereka bahkan tidak akan bertahan selama satu menit, yang berarti para monster berpotensi mencapai penginapan tempat Aishia dan Celia berada. Namun, dia masih bisa tiba tepat waktu.
Hati-hatilah.
Terima kasih. Aku tidak akan membiarkan para monster mencapai kalian, tapi…
Aku tahu. Serahkan Celia kepadaku, suara Aishia yang penuh tekad bergema.
◇ ◇ ◇
Sementara itu, di muara jalan yang menghadap ke alun-alun gerbang timur Amande, para prajurit yang melindungi area tersebut benar-benar kehilangan keberanian mereka.
“Iiik! Jumlah mereka terlalu banyak!”
Beberapa meter jauhnya, pasukan goblin dan orc semakin mendekat.
“Bodoh! Masih banyak warga yang dievakuasi di belakang kita. Demi Lady Liselotte juga, lindungi tempat ini dengan nyawa kalian!” teriak pengawas yang bertanggung jawab di area itu untuk memberi semangat. Mereka tidak boleh meninggalkan pos mereka, karena masih ada kerumunan besar warga yang mengevakuasi diri di belakang mereka.
“Betul sekali! Ayo kita lindungi tempat ini dengan taruhan nyawa! Aku sendirian, tapi aku datang sebagai bala bantuan!” teriak suara muda seorang gadis. Itu adalah Chloe. Dia adalah orang pertama yang dikirim untuk memeriksa situasi di gerbang timur, tempat pertahanannya lebih tipis, ketika para monster tiba-tiba menyerang.
“K-Kecil Chloe!”
“Berhenti memanggilku begitu — aku sudah dewasa!” jawab Chloe sambil tersenyum pahit. Dia sedikit merasa dilema karena orang-orang masih memanggilnya “Li’l Chloe” dan memperlakukannya seperti anak kecil, padahal mereka melihatnya tumbuh besar di Amande sejak usia muda bersama penginapan keluarganya.
“Maaf, Li’l Chloe. Kehadiranmu di sini dari tim pelayan sangatlah meyakinkan. Kami mengandalkanmu.”
“Aduh, aku kan sudah bilang…! Tidak, tidak ada waktu lagi. Aku akan menggunakan sihir untuk mengintimidasi para monster yang mendekat, jadi bisakah kalian semua menyiapkan tombak dan menghadapi monster yang mendekat?”
“B-Biar kami yang urus!” para prajurit mengangguk, dan pertempuran pun segera dimulai.
“Photon Projectilis!” Chloe mengulurkan kedua tangannya dan merapal mantra. Sebuah lingkaran sihir langsung muncul, menembakkan peluru esensi sihir yang diubah menjadi peluru energi dari dalam lingkaran tersebut.
“Gweh?!” Peluru-peluru cahaya itu menerbangkan para goblin. Itu adalah sejenis sihir yang memiliki kekuatan cukup untuk melumpuhkan manusia dalam satu serangan, tergantung di mana ia mengenai sasaran — artinya goblin bertubuh kecil dapat dengan mudah terpental.
Jumlah mereka banyak sekali! Kuharap bala bantuan segera datang…
Kepanikan segera terlihat di wajah Chloe; melenyapkan segelintir goblin tidak akan menghentikan pasukan monster yang terus maju. Mereka memperkecil jarak darinya tanpa ragu, keyakinan terlihat jelas dari senyuman mengerikan mereka.
“Guheehee!” Orc raksasa bertindak sebagai dinding bagi para goblin, mendekat dalam jarak beberapa meter dari mereka. Tidak seperti goblin seukuran anak-anak, orc memiliki tinggi seperti manusia dewasa dan kulit tebal yang tidak akan mudah tembus hanya dengan satu tembakan peluru foton.
“…” Dengan panik, Chloe melirik ke belakang. Tidak ada tanda-tanda bala bantuan, yang terlihat hanyalah para warga yang mengevakuasi diri dengan pakaian yang melekat di badan.
Situasinya sudah putus asa. Mereka bahkan tidak akan mampu bertahan selama beberapa menit dengan kondisi seperti ini.
“Geeeehhk?!” Tiba-tiba, embusan angin kencang bertiup dari arah kiri serong, dan semua monster yang berada tepat di depan mata Chloe dengan mudahnya terhempas.
“Eh…?” Chloe mendapati dirinya menatap dengan takjub. Para prajurit lainnya juga terperangah.
Tepat saat itu, Rio mendarat dengan ringan tepat di hadapan Chloe. “Izinkan aku membantu kalian sampai bala bantuan kalian tiba.”
“H-Haruto?! Ah, bukan — maksudku, Tuan Haruto!” Chloe langsung terbata-bata.
“Chloe.” Seragam pelayan yang dikenakannya membantu Rio langsung mengenalinya.
“U-Umm, kenapa kamu ada di sini?” tanya Chloe dengan ragu-ragu.
“Aku memperkirakan pertahanan di gerbang timur akan lebih tipis karena diserang belakangan, jadi aku datang sebagai bala bantuan.”
“T-Terima kasih banyak!” Jawaban sederhana Rio membuat Chloe merasa lega, dan dia pun berterima kasih kepadanya dari lubuk hatinya yang paling dalam.
“Sekarang, mari kita kurangi jumlah monster sebanyak mungkin sebelum bala bantuan datang. Bolehkah aku mengambil garis depan?” tanya Rio sambil memasang kuda-kuda pedangnya dan menghadapi para monster, yang tampaknya mulai mewaspadai Rio dan membeku di tempat.
“B-Baik, silakan,” Chloe mengangguk dengan suara kecil.
“Kalau begitu, kuharap semuanya di sini bisa menangani monster yang berhasil mencapai jalan.” Dengan kata-kata itu, Rio dengan tenang memperpendek jaraknya dengan para monster. Mengalirkan energi ke pedang di tangannya, dia menciptakan embusan angin besar dan menembakannya ke arah para monster.
“Guhee?!” Puluhan monster di hadapannya terdorong mundur ke arah gerbang, terhempas dengan mudah. Begitu dia melakukannya, Rio langsung menerobos masuk ke kelompok monster tersebut, memulai pertarungan jarak dekat.
“S-Sebenarnya siapa pria itu?” Para prajurit bergumam linglung melihat pemandangan kehebatan bertarung Rio yang luar biasa, terpaku dalam kagum.
◇ ◇ ◇
Sementara itu, di kediaman gubernur Amande, Liselotte telah mendirikan pos komando sementara di kebunnya untuk menghadapi situasi saat itu.
“Para warga pasti ketakutan. Pastikan evakuasi mereka ke kota bagian dalam berjalan lancar. Dan apa arti alarm baru serta raungan seperti minotaur tadi? Aku ingin informasi lebih lanjut,” kata Liselotte kepada bawahannya. Sang pelayan, Natalie, bergegas memberikan laporan dengan ekspresi tegang.
“Ada pesan dari menara pengawas melalui perangkat transmisi sihir. Tampaknya sejumlah besar monster telah muncul di gerbang timur, disertai dengan seekor minotaur. Mereka sepertinya berhasil menerobos masuk.” Sebagai catatan, menara pengawas adalah menara yang dibangun di distrik utara yang mengawasi seluruh area kota.
“A-Apa yang kamu katakan?! Seberapa jauh mereka sudah masuk ke dalam?” Liselotte meminta konfirmasi dengan panik.
“Kami belum memiliki detail apa pun saat ini, tetapi mereka telah mencegat mereka di alun-alun yang menghadap ke gerbang timur. Namun, pasukan kita akan kalah jumlah, jadi aku yakin kita harus segera mengirim bala bantuan…”
“Bahkan jika kita mengerahkan prajurit dan petualang di barisan belakang, mereka akan berada dalam bahaya berbenturan dengan para warga yang mengevakuasi diri ke arah sebaliknya. Bagaimana dengan para pelayan yang ditugaskan di dekat gerbang timur?” Semua pelayan entah bisa menggunakan sihir atau memiliki artefak sihir dengan ilmu sihir untuk memperkuat kemampuan fisik mereka. Jika mereka dimobilisasi, mereka bisa berpindah dari satu titik ke titik lain dengan cepat dan mulus.
“Sebagian besar personel telah dikirim ke gerbang barat, jadi saat ini, hanya ada Chloe. Cosette dan yang lainnya seharusnya berada di tengah, membantu relokasi warga yang mengungsi…”
“Kalau begitu, aku ingin kamu langsung pergi ke sana. Kamu bisa mengajak Cosette saat kamu melewati posisinya.”
Natalie mengangguk setelah jeda sejenak. “…Dimengerti.” Alasan dia ragu adalah karena jumlah pengawal pribadi Liselotte akan berkurang tanpa dirinya.
Sebagian besar pelayan selain Natalie sedang keluar saat ini, jadi hampir tidak ada petarung mahir yang tersisa. Meskipun masih ada beberapa pelayan yang tertinggal, banyak dari mereka yang tidak cocok dalam hal bertempur, menjadikan Natalie pelayan yang paling berpengalaman dalam pertempuran yang tersisa. Namun, situasi saat ini menuntut semua petarung terampil untuk berada di medan perang, bahkan jika itu membuat mansion kurang terjaga. Jika tidak, ancaman garis depan yang jebol akan menjadi semakin besar.
Jika serangannya sebesar yang ada di gerbang barat, kita akan kekurangan kekuatan bahkan denganku di sana. Cosette mungkin bahkan tidak bisa menutupi celah itu… Hati Natalie terasa bimbang.
“Ksatria Duke Huguenot akan tetap tinggal di mansion ini, jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan keselamatanku. Tempat ini seharusnya menjadi tempat paling aman di kota ini, kan? Yang perlu kamu lakukan hanyalah fokus pada misimu sendiri. Sekarang pergilah. Segera berangkat dari sini.” Liselotte sepertinya dapat membaca kecemasan Natalie dan mendesaknya untuk segera berangkat.
“…Dimengerti. Kalau begitu… Augendae Corporis.” Natalie merapal mantra untuk memperkuat kemampuan fisiknya dan berlari dengan kecepatan penuh, meninggalkan kediaman tersebut. Tidak lama setelah itu, pelayan lain bernama Grace muncul.
“Lady Liselotte, ada laporan.” Grace juga bisa bertempur, tetapi tetap tinggal di mansion karena sihir penyembuhannya yang langka.
“Lanjutkan.”
“Seorang pendekar pedang yang terampil muncul di alun-alun gerbang timur. Dia memukul mundur para monster sendirian.”
“…Sir Haruto?”
“Kemungkinan besar.” Liselotte mengerutkan kening dengan rasa bersalah. “…Sepertinya aku berhutang budi lagi padanya… Tapi itu lega rasanya. Natalie juga sedang dalam perjalanan, jadi gerbang timur seharusnya sudah memiliki tenaga yang cukup sekarang,” ucapnya, merasa lega dengan kemunculan bala bantuan.
◇ ◇ ◇
Di dalam benteng area utara Amande di sebuah gang belakang yang terpencil…
“Hahaha, tidak disangka menyusup masuk akan semudah ini. Benar-benar sepele,” kata Lucius santai. Setelah menyusup ke distrik utara di tengah para penduduk yang dievakuasi, Lucius dan Reiss telah sampai di sini.
“Tolong jangan berbicara,” Reiss menghela napas lelah.
“Jangan membosankan begitu. Aku sudah harus pergi dari medan perang yang terlihat begitu menyenangkan. Setidaknya kamu bisa menemaniku ngobrol.”
“Kalau begitu, mari kita bicarakan bisnis. Begitu para minotaur memberikan sinyal berikutnya, kita akan mulai bergerak. Tolong bersiaplah untuk bergerak kapan saja.”
“Paham.” Sudut bibir Lucius tertarik membentuk senyuman.
Sekarang, aura roh humanoid itu tetap berada di pusat kota sepanjang waktu. Dan sudah saatnya bagi barisan belakang untuk bergabung dengan garis depan… Reiss menoleh ke arah blok pusat dan menyipitkan matanya.
◇ ◇ ◇
Sedikit lebih awal, kembali di alun-alun dekat gerbang timur…
“Luar biasa… itu benar-benar luar biasa!”
Chloe terpesona oleh pertarungan Rio saat dia berdiri di pintu masuk jalan menuju alun-alun. Rio melompat-lompat di sekitar alun-alun, menghadapi gerombolan monster seorang diri.
“Gyah?!”
“Buhee?!”
Goblin dan orc langsung ditebas begitu mereka mendekati Rio; kecepatan dia menghadapi mereka bahkan lebih cepat daripada Aria yang bertarung di jalan saat pertempuran terakhir.
“Hei hei, Chloe Kecil. Sebenarnya siapa pria yang sedang bertarung di sana itu?” Salah satu petualang yang datang berlari sebagai bala bantuan bertanya dengan takjub.
“Itu adalah Sir Haruto — orang yang menyelamatkan Lady Liselotte. Dia adalah pendekar pedang yang terampil,” jawab Chloe tanpa mengalihkan pandangannya dari alun-alun. Orang yang baru ditemuinya sekali, bertahun-tahun yang lalu, sedang mengayunkan pedangnya dengan bebas.
“Itu bukan sekadar terampil, itu…”
Sebagian besar monster di alun-alun menyerang Rio, menjadikannya pasukan satu orang. Dia membalikkan keadaan pada setiap monster yang menyerang, membuat makhluk-makhluk di alun-alun itu menemui ajalnya dengan cepat. Sesekali monster menyelinap melewatinya menuju jalan, tetapi monster-monster itu mudah ditangani oleh Chloe dan yang lainnya.
“…Kita tidak perlu membantunya?” tanya petualang itu dengan ragu-ragu. Mereka bisa saja menarik perhatian para monster jika mencoba membantu secara gegabah, dan tidak disangsikan lagi fakta bahwa mereka justru menjadi penghalang bagi Rio, namun petualang itu tetap tidak bisa menahan diri untuk bertanya.
“…Kita tidak bisa. Paling banyak kita hanya akan menjadi pengganggunya. Menutup jalan di sini adalah peran yang sangat terhormat, dan kita akan menghabisi monster yang lolos melewati Sir Haruto,” jawab Chloe dengan tenang, tetapi dengan wajah diliputi rasa bersalah.
Aku tidak cukup kuat. Jika saja aku setidaknya sekuat para pelayan senior… Rio berada pada tingkat yang terlalu berbeda untuk dia ukur secara akurat, tetapi kekuatannya setidaknya setara dengan Aria. Chloe tidak mampu untuk ikut campur dan mempermalukan dirinya sendiri.
Haruto…
Chloe tiba-tiba teringat saat pria itu menginap di penginapan keluarganya beberapa tahun lalu. Saat itu, Haruto telah dilecehkan oleh beberapa petualang dewasa, tetapi mampu membela diri dengan mudah. Dulu, Chloe tidak bisa berbuat apa-apa selain menyaksikan pertengkaran itu terjadi, merasa ketakutan oleh pertumpahan darah dan keributan sebelum akhirnya menjauhkan diri dari Haruto. Apa yang terjadi selalu meninggalkan kesan mendalam padanya entah kenapa, dan dia selalu menyesalinya.
“Baiklah…” Petualang itu pasti merasakan sesuatu dari ekspresi rasa malu Chloe dan mengangguk pelan.
“…Terima kasih. Aku yakin bahkan Sir Haruto akan butuh istirahat. Kita akan menjadi orang yang bertarung menggantikannya saat itu terjadi, jadi mohon persiapkan dirimu,” ucap Chloe dengan ekspresi serius. Tidak peduli seberapa besar pedang berpesona dapat memberikan kekuatan kepada seseorang untuk sementara waktu, begitu semua esensi sihir terkuras, kekuatan pedang itu tidak akan bisa digunakan lagi dan penggunanya akan kembali menjadi manusia biasa.
“Baiklah. Kalau begitu, serahkan penjagaan belakang kepada kami,” petualang itu mengangguk penuh tekad.
Sementara itu…
…Aneh sekali. Rio merasakan kejanggalan saat bertarung. Meskipun ia tidak dapat mengingat jumlah pasti monster yang telah ia tumbangkan, jumlahnya dengan mudah mencapai ratusan. Namun—
Kenapa monster minotaur dan berwujud manusia itu tidak maju ke depan?
Monster-monster kuat yang memimpin gerombolan itu tidak menunjukkan tanda-tanda melangkah maju. Faktanya, mereka sama sekali tidak terlihat akan bergerak. Kekuatan monster-monster itu sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk menerobos masuk ke dalam kota dalam sekali serbu, namun minotaur itu dengan sengaja memilih untuk menyerang melalui gerbang. Padahal ia bisa dengan mudah menghancurkan dinding atau melompatinya.
Meskipun sangat menguntungkan bagi pihak bertahan karena mereka diam siaga, sifat penurut monster itu justru terasa agak menyeramkan.
Apakah ia sedang menunggu sesuatu? pikir Rio.
Para monster itulah yang menyerang. Mereka adalah makhluk buas yang seharusnya hanya memiliki tujuan untuk membunuh manusia, jadi diasumsikan kecerdasan mereka tidak jauh melampaui hal itu. Namun, fakta bahwa mereka telah mengumpulkan pasukan sebesar ini untuk menyerang, dan tidak menyerang semuanya sekaligus, sangatlah mengherankan. Rasanya seolah-olah —
Menyerang kota bukanlah tujuan mereka?
Tapi untuk apa mereka melakukan hal seperti itu?
Aishia, apakah ada yang berubah di dalam kota? tanya Rio melalui telepati mereka. Karena Aishia dapat merasakan kehadiran para monster sampai batas tertentu, ada kemungkinan ia dapat menyadari adanya keabnormalan.
Tidak ada yang khusus. Kerumunan di alun-alun di sini mulai bubar. Evakuasi warga seharusnya akan segera selesai, jawab Aishia langsung.
Ada perubahan pada pergerakan para monster?
Tidak ada. Sisi timur maupun barat telah memblokade para monster.
…Begitu ya. Terima kasih. Aku akan segera kembali, beri tahu Rio kepada Aishia setelah ia mencatat bahwa bala bantuan yang cukup telah berkumpul di jalan di belakangnya. Masih ada monster yang tersisa, tetapi ia sedikit mengkhawatirkan Celia.
Mengerti. Aku akan segera menghubungimu jika terjadi sesuatu.
Ya. Keduanya mengakhiri telepati mereka di situ.
“Chloe!” Pada detik yang persis sama, Natalie dan Cosette berlari dari arah jalan yang menghadap ke alun-alun. Mereka berdua mengenakan seragam pelayan yang merangkap sebagai perlengkapan tempur, sama seperti Chloe.
“Natalie! Cosette!” Ekspresi Chloe langsung cerah saat melihat atasannya yang dapat diandalkan itu. Para prajurit dan petualang juga menyambut mereka dengan tenang.
“Um, laporan kerusakan?” tanya Natalie dengan bingung, menyadari pemandangan di sana jauh lebih damai dari yang ia duga.
“Umm, Sir Haruto sedang bertarung sendirian…” jawab Chloe, menatap ke arah alun-alun dengan gugup. Bahkan pada saat ini, Rio sedang membantai para monster yang mendekat. Gerakannya bagaikan akrobat yang lincah, tampak hampir indah.
“…Luar biasa, seperti yang diduga.” Pandangan Cosette sudah mengarah ke alun-alun, terpesona oleh pemandangan Rio yang sedang bertarung.

“Wah… Tapi bukankah sebaiknya dia segera mundur? Dia sudah bertarung cukup lama, kan? Esensi sihirnya tidak akan bertahan,” kata Natalie dengan cemas.
“Benar. Sekarang setelah kita di sini, dia bisa mundur dan beristirahat,” setuju Cosette seketika. “Sir Haruto!”
Rio mundur ke arah jalan dengan waktu yang sangat tepat.
“Um, kalau tidak salah kamu Cosette dan…”
“Ini Natalie. Aku merasa terhormat Anda mengingatku.” Cosette tersenyum gembira.
“Aku Natalie, salah satu pelayan Lady Liselotte. Senang berkenalan dengan Anda, Sir Haruto. Terima kasih atas bantuan Anda di masa-masa sulit ini.” Natalie membungkuk dengan hormat.
“Aku berterima kasih atas nama tuanku.” Cosette menundukkan kepalanya ke arah Rio dengan senyuman yang sangat menggemaskan.
Rio menggelengkan kepalanya pelan, melihat sekeliling ke arah para monster di alun-alun sebelum langsung pada pokok permasalahan. “Bukan masalah. Sebenarnya aku punya permintaan kecil.” Para monster itu tampaknya waspada terhadap Rio, mengamati dari kejauhan.
“Ada apa?” tanya Natalie.
“Aku sebenarnya membuat orang-orang yang kukenal menunggu di penginapan, jadi mereka belum dievakuasi. Aku ingin kembali dan menemui mereka,” kata Rio singkat.
“Begitu… ya…” Natalie ragu-ragu sejenak.
Akan menjadi sebuah masalah jika Rio pergi, karena minotaur dan monster tak dikenal itu masih mengintai di belakang para goblin dan orc. Jika mereka semua menyerang sekaligus, akan sangat sulit untuk mempertahankan area tersebut.
Namun, Rio bukanlah prajurit atau petualang dari Amande sejak awal — dia seharusnya adalah warga biasa tanpa kewajiban militer. Bantuan yang diberikannya saat ini sepenuhnya sukarela, jadi Natalie tidak bisa memaksa agar dia tetap tinggal untuk bertarung.
Kendati demikian, Rio sepertinya memahami kekhawatiran Natalie. “Sebagai kompensasi karena menyerahkan tempat ini kepada kalian, aku akan menghabisi minotaur itu. Bagaimana?” tanyanya sebagai jalan tengah. Tidak seperti gerbang barat, hanya ada satu minotaur yang muncul di gerbang timur. Selain itu, jumlah revenant di sana lebih sedikit daripada di gerbang barat. Ancaman akan berkurang drastis jika dia mengalahkan minotaur tersebut.
“…Kamu adalah warga biasa, jadi tentu saja. Kami tidak punya alasan untuk menahanmu. Tapi minotaur itu ada di barisan belakang.”
Natalie melihat lekat-lekat ke arah minotaur yang menunggu di luar gerbang. Secara urutan, monster itu seharusnya dikalahkan paling akhir. Meskipun monster itu bisa diserang menggunakan sihir jarak jauh, kemampuan fisik minotaur kemungkinan besar akan memungkinkannya menghindari kecepatan serangan rata-rata.
“Tidak, aku akan membereskannya dari sini,” ucap Rio dengan tegas.
“…A-Apa?” Natalie memiringkan kepalanya karena bingung bagaimana hal itu bisa dilakukan.
“Kalau begitu… aku mulai.”
Rio melangkah kembali ke medan pertempuran. Cahaya terang menyelimuti bilah pedangnya saat dia bersiap dengan ujung pedang diarahkan ke minotaur.
“Geehee?!” Monster-monster itu memelototi Rio dengan waspada. Kemudian, setelah saling bertukar pandang untuk berkomunikasi, mereka semua menerjang Rio secara bersamaan. “Geeheehee!”
“?!” Natalie dan yang lainnya ternganga. Bola meriam dari esensi sihir yang dilumuri seni roh angin baru saja melesat keluar dari ujung pedang Rio. Tembakan tunggal itu melesat melewati dinding dengan kecepatan suara.
“Geehee?!” Monster-monster yang menerjang Rio terempas oleh gelombang kejut, dan bola meriam esensi yang dibalut angin itu merobek jantung minotaur dengan presisi.
“M…rogh?! Mroh…?” Bahkan minotaur itu tidak mengerti apa yang telah terjadi. Monster itu tidak memiliki waktu untuk bereaksi, dan mendapati dirinya berlutut di tanah. Ia mati, begitu saja, hancur tak berdaya.
Aku akan melancarkan satu serangan lagi, berjaga-jaga. Dengan pemikiran itu, Rio kembali mengalirkan esensi ke dalam pedangnya. Badai angin mengamuk dari pedangnya. Rio mendekati monster-monster di barisan depan dan menghantamkan badai tersebut ke arah para monster.
“Buhee?!” Puluhan orc dan goblin terempas.
“…” Natalie dan para pengikutnya di belakang benar-benar tertegun.
“Sekarang, aku akan pamit dulu dari sini.” Rio berbalik dan membungkuk sekali, sementara Natalie sadar kembali dengan tersentak.
“B-Baik! Terima kasih banyak!”
“…Sir Haruto sangat hebat,” kata Cosette dengan tatapan kosong kepada Rio, yang hanya bisa merasa bingung.
“Hah?”
Natalie mendorong Cosette menjauh dengan panik. “Aduh, apa yang kau katakan?! Sir Haruto, mohon jangan pedulikan anak ini dan silakan lanjutkan perjalanan Anda. Hati-hati di jalan!”
“…Baiklah. Semoga kalian semua juga baik-baik saja.” Rio tersenyum geli samar sebelum bergegas pergi menuju pusat kota tempat penginapan berada.
◇ ◇ ◇
Sementara itu, di dalam kediaman Liselotte, Hiroaki, Flora, Roanna, dan Duke Huguenot telah dievakuasi ke sebuah ruang tamu khusus tamu. Di dalam ruangan itu berdiri empat ksatria sebagai pengawal, termasuk Stewart Huguenot dan komandan pasukan elit, Raymond Brandt.
Kaki Hiroaki bergetar gugup saat dia duduk di atas sofa. “Ah… Apakah normal bagi monster untuk menyerang kota sesering ini?”
“Meskipun itu bukan kejadian biasa, hal itu bukanlah sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ada kota-kota dan desa-desa yang telah dimusnahkan oleh monster di masa lalu,” jawab Duke Huguenot dengan tenang.
“Begitu ya…” Hiroaki menghela napas panjang dengan dramatis.
Dia tampaknya cukup tertekan. Ketakutan dari pertarungan sebelumnya pasti sedang berdampak padanya. Duke Huguenot menyipitkan matanya. Biasanya, Hiroaki akan membual untuk pura-pura percaya diri.
“Hmph.” Stewart mendengus meremehkan dari hidungnya sambil menatap Hiroaki. Dia pasti menyadarinya, saat dia balas menatap Stewart.
Menyadari kesalahannya, Stewart berdehem dengan berlebihan. “…Permisi. Tenggorokanku kering karena gugup.”
Duke Huguenot memelototi Stewart, dan pria itu mengalihkan pandangannya dari sang ayah dengan panik. Suasana tegang menyelimuti ruangan itu.
◇ ◇ ◇
Di tempat lain, di alun-alun tepat sebelum gerbang barat Amande, Aria dengan agresif memimpin para pelayan bawahannya, prajurit berpengalaman, dan para petualang melawan kerumunan monster di alun-alun.
“Jumlahnya terlalu banyak.”
Tidak peduli berapa banyak yang mereka kalahkan, monster-monster itu terus berdatangan dari luar gerbang. Jumlahnya benar-benar terlalu banyak. Aria menggerutu sambil dengan tenang memenggal orc di hadapannya.
Jumlahnya jelas lebih banyak daripada saat monster-monster itu menyerang di hutan. Aku ingin sekali membereskan semuanya sekaligus dengan sihir berskala besar, tapi aku harus berhati-hati agar esensi sihirku tidak habis. Bagaimanapun juga, makhluk-makhluk itu sedang menunggu di belakang. Dia menatap ketiga minotaur yang berdiri di luar gerbang.
“Guheehee.” Minotaur-minotaur itu menikmati pemandangan dari jauh dengan senyuman tidak menyenangkan.
Tapi membingungkan sekali mengapa mereka tidak menyerbu masuk ke dalam kota. Aria mengerutkan alisnya karena curiga. Sama seperti Rio, dia memiliki keraguan terhadap tindakan yang diambil oleh para minotaur. Namun, meskipun Aria memikirkan hal yang sama, dia tidak bisa bergerak bebas seperti Rio. Setidaknya, tidak sampai dia mengalahkan ketiga minotaur itu.
Ini sedikit berisiko, tapi aku harus maju sedikit lagi, putus Aria dengan berani.
“Kapten Mattias,” panggilnya kepada seorang pria tampan yang sedang bertarung di dekatnya. Usianya akhir dua puluhan dan mengenakan pakaian tempur yang kualitasnya lebih tinggi daripada prajurit lainnya, serta menggenggam pedang berdesain unik di tangannya. Itu adalah pedang bertuah yang dipinjamkan sementara oleh Liselotte kepadanya.
“Ada apa, Nona Aria?” Pria bernama Mattias itu menebas monster yang mendekat dengan mudah sebelum menjawab dengan nada merayu yang tidak cocok untuk medan perang.
“Sangat meresahkan karena para minotaur itu sama sekali tidak bergerak. Bagaimana kalau kita serahkan tempat ini kepada yang lain dan pergi ke luar gerbang untuk mengurus mereka?”
“…Hanya kau dan aku?” tanya Mattias, tampak terkejut.
“Ya,” angguk Aria dengan sungguh-sungguh.
“Kau serius?”
“Sekarang bukan waktunya untuk bercanda.”
“Kurasa begitu. Yah, jika itu adalah ajakan darimu, kurasa boleh saja. Ayo kita lakukan. Lagi pula, aku tidak ingin kelelahan di sini sebelum menghadapi makhluk-makhluk itu di akhir,” kata Mattias santai sambil mengangkat bahunya.
Aria hendak menjawab, ketika…
“Kshaaa!” Revenant berkulit gelap yang tadinya menunggu di luar gerbang tiba-tiba menjerit.
“Shaah!” Revenant lainnya mengikuti, semuanya menjerit bersahut-sahutan.
Aria bersiap dengan alis berkerut penuh kecurigaan. “…Ada apa ini?”
“MROOOOOH!” Minotaur itu mengaum dahsyat, cukup keras untuk bergema di seluruh area Amande.
“Apa? Ada apa?” tanya Mattias kebingungan.
“Kshaa!” Sekitar dua puluh revenant tiba-tiba mulai berlari menuju gerbang secara bersamaan.
“Apa?!” Bahkan Aria pun terkejut dibuatnya. Para revenant menggunakan kemampuan fisik bawaan mereka untuk menerobos masuk ke dalam gerbang.
“Jatuhkan mereka bagaimanapun caranya!” perintah Aria dengan penuh tekad. Namun…
“MROOH!”
Tiba-tiba, para minotaur juga bergerak. Dengan gerakan lincah yang tidak sesuai dengan ukuran tubuh raksasa mereka, mereka melompati gerbang dan langsung mendarat di tengah-tengah alun-alun.
Meskipun ada kepanikan di wajahnya, Aria menyuarakan perintahnya dengan tenang. “Para pelayan, habisi para revenant! Semuanya, terus konsentrasi pada para goblin dan orc! Kapten Mattias!”
“Dimengerti. Mari kita urusi orang-orang bertubuh besar itu!” balas Mattias dengan tegas.
◇ ◇ ◇
Pada saat yang sama, di benteng utara Amande, Lucius dan Reiss sedang bersembunyi di sebuah gang sempit.
“Itu sinyalnya. Aku tidak bisa mendengar suara apa pun dari timur, jadi kurasa mereka sudah menghabisi mereka,” gumam Reiss pelan.
“Akhirnya giliran kita. Tubuhku sudah kaku bukan main sekarang,” kata Lucius sambil meregangkan tubuh dengan malas.
“Ayo kita cepat. Tampaknya monster umpan itu akan disingkirkan lebih cepat dari perkiraan. Pertunjukan sesungguhnya dimulai denganmu. Aku mengandalkanmu, Alphonse.” Reiss mendesak keberangkatan mereka, sambil menatap revenant hitam yang berdiri di dekat mereka.
“Yah. Serahkan. Padaku,” kata Alphonse, mengangguk sambil menyunggingkan senyum gembira.
◇ ◇ ◇
Pada saat yang sama, Rio sedang bergerak menuju penginapan tempat dia menginap sebelumnya. Serangan para monster telah dimulai ketika keadaan sekitar masih gelap, namun sekarang, matahari sedang terbit dan semuanya jauh lebih terang. Para warga masih melakukan evakuasi melalui alun-alun di depan penginapan, tetapi jumlah orangnya jauh lebih sedikit daripada sebelumnya. Sejumlah besar tentara yang mengarahkan evakuasi juga telah pergi; tampaknya evakuasi telah berjalan dengan lancar. Kemudian, tepat saat Rio mendarat di depan penginapan sambil mengamati area sekitar, raungan minotaur di gerbang barat bergema ke seluruh penjuru kota.
“MROOOOOH!”
…Suara minotaur di gerbang barat, tebak Rio dengan tepat. Situasi berubah dari waktu ke waktu, dan sangat mungkin raungan barusan adalah pertanda dari sesuatu yang lebih buruk yang akan datang
Sebaiknya aku cepat. pikir Rio, bergegas memasuki penginapan menuju kamarnya. Namun, pintu terbuka dari sisi lain lebih dulu, Aishia keluar untuk menyambut Rio.
“Selamat datang kembali.”
“Aku pulang, Aishia,” balas Rio sambil tersenyum; Celia mengintip dari balik punggung Aishia.
“Selamat datang kembali!” ucapnya dengan senyuman lembut penuh kelegaan.
“Aku sudah kembali — maaf membuat kalian menunggu begitu lama.”
“Tidak, tidak apa-apa… Tapi bagaimana keadaan di luar? Aku melihat Aria menuju ke gerbang barat dari jendela, tapi suara raungan apa itu tadi…?”
“Jumlah monster di gerbang timur sudah sangat berkurang, jadi sekarang seharusnya sudah aman. Aku rasa raungan tadi adalah minotaur di gerbang barat, tapi jika Aria ada di sana, kurasa kekuatan mereka akan seimbang.”
Meskipun Aria mampu menghadapi beberapa minotaur dan revenant pada tingkat tempur yang setara atau lebih tinggi dari mereka, jumlah monster di gerbang barat terlalu banyak. Jadi, dia tidak bisa mengatakan sesuatu yang terlalu optimis.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Aishia.
“Aku berniat untuk membantu pertahanan kota dan meminta Professor serta Aishia mengungsi ke luar kota.” Tanpa ingin menimbulkan kekhawatiran yang tidak perlu, Rio menyembunyikan perasaan aneh yang dia miliki tentang para monster dan memberitahu mereka rencana selanjutnya.
“Mengerti,” Aishia langsung mengangguk tanpa ragu. Celia memperhatikan ekspresi Rio dan mengangguk dengan cemas.
“…Baiklah.”
“Dengan Professor di tempat yang aman, aku juga bisa bertarung sepuas hatiku. Bisakah aku meminta ini kepadamu?” Rio berbicara kepada Celia dengan raut wajah yang bermasalah. Mendengarnya dikatakan seperti itu membuat Celia kesulitan untuk menolak.
“…Baiklah.” Meskipun ada ekspresi khawatir di wajahnya, Celia tetap mengangguk dengan patuh.
“Terima kasih. Tolong mengungsilah keluar melalui gerbang selatan. Itu mengarah ke area pertanian terbuka, dan tidak ada monster di sana. Aku akan menemani kalian sebagian jalan — jika jalanan kosong, kita bisa terbang melewati udara untuk sebagian jalannya.”
“Ya, mengerti.”
“Ayo kita pergi dari sini.”
◇ ◇ ◇
Maka, Rio dan para gadis meninggalkan penginapan itu.
Ada lebih sedikit orang di alun-alun depan daripada sebelumnya, tetapi para warga yang mengungsi masih bisa terlihat di sana-sini. Mereka bergegas sambil meringkuk ketakutan karena auman minotaur itu.
“Kita juga harus pergi. Lewat sini.” Rio memeriksa keberadaan para pengungsi di depan penginapan dan mengambil langkah ke arah selatan untuk memimpin Celia dan Aishia.
“Haruto, monster!” seru Aishia dengan terkesiap.
“Kshaaa!” Pekikan revenant itu menggema di seluruh alun-alun.
…Maaf. Aku lambat menyadarinya,” Aishia meminta maaf dengan rasa bersalah.
“Tidak, tidak apa-apa. Kemampuan deteksimu murni berdasarkan intuisi. Bawa Professor dan mundur ke penginapan untuk sekarang,” kata Rio. Untungnya, para revenant yang membanjiri alun-alun masih belum menyadari keberadaan mereka. Namun, ada orang-orang yang telah mereka lihat. Tepat di depan mereka ada seorang ibu dan anak perempuan, yang sedang berlari menjauh dari revenant berwarna abu-abu yang mengincar mereka.
“Eek…!” Mereka berteriak, ibu dan anak itu meringkuk dalam ketakutan.
“Rrrgh…” Revenant itu menatap tajam keduanya dengan ekspresi garang.
Sang ibu, yang berusia sekitar tiga puluhan, terjatuh saat lututnya lemas. “Ah…”
“T-Tidak! Jangan mendekat! Pergi sana!” Anak perempuan itu berusia sekitar sepuluh tahun dan berdiri di depan ibunya dengan tegap.
“Mireille, lari!” Sang ibu memanggil putrinya dengan panik. Sebuah kemungkinan yang tidak menyenangkan terlintas di benak Rio; dia sama sekali tidak ingin Celia melihat pemandangan ini.
Gawat. Rio langsung berlari secara refleks.
Menggunakan seni sihir roh angin untuk mendorong dirinya maju dan berakselerasi, dia bergerak dengan kecepatan luar biasa untuk menutup jarak di antara mereka dalam sekejap.
Revenant itu terpental akibat pukulan Rio. “Gufuh?!” Ia jatuh menghantam tanah dengan suara keras dan berguling.
“Kshaaa?!” Revenant-revenant lain di alun-alun menyadari keributan itu. Ada orang lain selain ibu dan anak perempuan itu yang telah menjadi sasaran para revenant, tetapi kini perhatian semua revenant tertuju pada Rio. Total ada empat revenant, termasuk yang baru saja dipukul terbang oleh Rio.
“Kemari!” teriak Rio untuk menarik lebih banyak perhatian ke arah dirinya, sembari mencabut pedang dari sarung di pinggangnya.
“Shaah!” Sontak, para revenant itu langsung menyerang Rio secara bersamaan. Rio menerjang ke arah revenant yang paling dekat dan menusukkan pedangnya tepat ke jantung makhluk itu, mengakhirinya dalam satu tebasan.
“?!” Dua revenant lainnya membeku karena terkejut. Rio memanfaatkan kesempatan itu untuk mendekati salah satu dari mereka, kembali menusukkan pedangnya ke jantung makhluk itu dengan presisi. Kemudian, setelah mencabut pedangnya, dia berbalik dan melayangkan serangan lutut ke perut revenant yang mendekat dari belakang.
“Vuh…!” Revenant itu terangkat dengan mudah ke udara. Rio melompat dari tanah dan menyusul tubuhnya dalam sekejap, lalu menghabisinya dengan cara serupa dalam satu serangan tunggal dengan menusuk jantungnya. Yang tersisa sekarang hanyalah revenant yang pertama kali dipukul mundur oleh Rio.
“Vurrgh…” Rio langsung mendekatinya saat makhluk itu terhuyung-huyung bangkit berdiri, dan sekali lagi, menusuk jantungnya seperti yang lain untuk menghabisinya.
Dia menarik kembali pedangnya. “…Fiuh.” Begitu kelelahan mental mulai mendera, dia menghela napas pelan.
“…T-Terima kasih banyak!” Sang ibu yang tadinya menonton pertarungan Rio dengan tatapan kosong akhirnya sadar kembali setelah jeda sesaat dan mengucapkan terima kasih kepadanya.
“…Tidak, aku hanya lega melihat kalian tidak terluka. Apa Anda bisa berdiri?” tanya Rio, sambil mendekati sang ibu dan mengulurkan tangannya.
“Ya, aku akan bisa…” Sang ibu meraih tangan Rio dan dengan ragu-ragu berdiri.
“T-Terima kasih banyak, Paman! Ibu, apa Ibu tidak apa-apa?” tanya Mireille, berlari mendekat untuk memeluk dan menopang ibunya.
“Ibu baik-baik saja,” jawab sang ibu, memberikan senyuman canggung untuk menenangkan putrinya.
“Ibu? Mireille?!”
Chloe datang berlari mengenakan seragam pelayannya. Dia menghentikan langkahnya begitu melihat Rio, sebelum ekspresinya berubah saat melihat ibu dan anak itu. Mereka tampak seperti sebuah keluarga.
Ibu Chloe. Hm? Itu artinya… dia pemilik penginapan dari waktu itu, ya? Rio menyadari bahwa ibu itu adalah orang yang mengelola penginapan tempat dia menginap beberapa tahun lalu. Dia juga teringat bahwa ada seorang adik perempuan, meskipun dia sudah lupa namanya.
“U-Umm, kenapa ibu dan adikku…?” tanya Chloe kepada Rio dengan bingung.
“Kami diserang monster saat pria ini menyelamatkan kami! Dia benar-benar kuat!” jelas Mireille dengan bangga.
“B-Benarkah? Terima kasih telah menyelamatkan mereka!”
“Bukan apa-apa… Tapi kenapa kamu ada di sini, Chloe?” tanya Rio. “U-Umm, karena beberapa monster humanoid masuk ke dalam kota, jadi yang lain pergi membasmi mereka sementara aku dikirim untuk melapor kepada Lady Liselotte,” jawab Chloe dengan ekspresi bermasalah. Dia tampak sedang terburu-buru, dan penjelasannya pun singkat. Tepat pada saat itu, warga lain mulai berkumpul di dekat sana.
“Ooh, Chloe kecil!”
“Apa kamu terluka, Rebecca?”
“Terima kasih banyak, Nak. Kamu benar-benar telah menyelamatkan kami.”
Suasana menjadi semakin bising dalam sekejap.
“Ah, umm… M-Maaf. Aku sedang agak terburu-buru sekarang. Bisakah semua orang di sini segera mengungsi ke dalam tembok utara? Jika kalian memberi tahu para prajurit di benteng, aku yakin mereka akan membiarkan kalian masuk.” Dalam keterburu-buruannya, Chloe hanya memberikan instruksi-instruksi penting saja.
“Oh, benar juga. Baiklah, pergilah sana, Chloe kecil! Kami akan mengungsi bersama pemuda ini,” kata seorang paruh baya yang baik hati sambil menatap Rio.
“Tidak, umm…” Rio sama sekali tidak berniat menuju ke distrik utara, jadi dia merasa bingung harus menjawab apa.
“Antarkan mereka pergi, Haruto,” kata Celia yang muncul bersama Aishia di belakangnya. Keduanya mengenakan jubah di atas pakaian mereka dengan tudung yang menutupi wajah.
“Cecilia…” Rio menatap Celia dan mengerutkan kening karena khawatir.
“Tidak apa-apa — kamu tidak perlu mengkhawatirkanku,” kata Celia kepada Rio dengan nada meminta maaf. Benteng pertahanan itu sudah berada tepat di depan mereka; bahkan jika pemuda itu pergi ke sana, tidak akan butuh waktu lama untuk mencapai pintu masuk.
…Aku mengerti. Kalau begitu, aku pergi.
Rio memantapkan tekadnya untuk berjalan menuju gerbang benteng utara.
◇ ◇ ◇
Rio dan yang lainnya tiba di gerbang benteng dalam waktu beberapa menit. Ada para prajurit yang berjaga di depan gerbang, tetapi seperti yang dikatakan Chloe, mereka diizinkan masuk tanpa insiden apa pun.
“Fiuh, kita akhirnya bisa bernapas lega. Terima kasih sekali lagi, Paman.” Adik perempuan Chloe, Mireille, menghela napas lega dan kembali berterima kasih kepada Rio.
“Itu bukan masalah besar. Yang kulakukan hanya berjalan bersama kalian.”
Sejujurnya, yang dia lakukan hanyalah berjalan bersama mereka dalam jarak pendek antara alun-alun dan gerbang. Tidak ada revenant lain yang muncul di sepanjang jalan. Mulai dari sini, adalah tugas para prajurit untuk melindungi mereka, jadi tugas Rio di sini sudah selesai.
“Permisi. Pertama-tama, terima kasih telah mengawal warga sejauh ini. Kalau boleh saya bertanya, apakah Anda mungkin Tuan Haruto?” Salah satu prajurit yang berjaga di bagian dalam benteng bertanya kepada Rio.
“…Ya, benar.” Rio mengangguk dengan rasa penasaran, terkejut karena nama dan wajahnya dikenal oleh orang asing.
“Jadi Anda benar-benar orangnya. Kami telah diberitahu tentang kemunculan kelompok Anda, jadi sangat mudah mengenali Anda.”
“Kemunculan kelompokku?”
“Ya.” Prajurit itu membawa Rio agak menjauh dan menjelaskan situasinya dengan suara pelan sambil melirik malu-malu ke arah Celia dan Aishia. “Sebenarnya, Lady Liselotte telah memberikan perintah tegas kepada kami untuk mengawal Anda dan rekan-rekan Anda ke kediamannya untuk berlindung dengan prioritas tertinggi.” Celia dan Aishia saat ini sedang menurunkan kerudung mereka untuk berbicara dengan Mireille.
“Ah, begitu ya.” Rio punya gambaran tentang apa yang dimaksud oleh prajurit itu; lagipula, Celia dan Aishia memang memiliki penampilan yang menarik perhatian.
“Saya akan segera memimpin jalan, jadi silakan ikuti saya. Kediaman itu adalah tempat paling aman saat ini, dan baik Anda maupun rekan-rekan Anda akan diberikan perlindungan,” kata prajurit itu dengan penuh keyakinan.
Rio melirik ke arah Celia. Saat dia sedang berbicara dengan prajurit tersebut, Mireille dan yang lainnya sedang dibawa pergi oleh prajurit yang lain.
“Terima kasih karena sudah membantu juga, Nona!” Mireille berterima kasih kepada Celia dan Aishia dengan sopan sebelum pergi.
Rio ragu-ragu sejenak, tetapi tak lama kemudian menganggukkan kepalanya. “…Kalau begitu, kami akan menerima tawaranmu. Silakan pimpin jalannya.”
Mereka telah menyimpang jauh dari rencana awal Rio untuk menuju ke luar gerbang selatan, tetapi akan sangat tidak wajar jika berbalik sekarang. Belum lagi kemungkinan berpapasan dengan lebih banyak revenant jika mereka melakukannya. Mencari perlindungan di kediaman itu adalah rencana alternatif yang bisa diterima.
“Dimengerti. Silakan, ikuti saya.” Prajurit itu membungkuk dengan hormat sebelum mengambil memimpin jalan.
◇ ◇ ◇
Beberapa saat kemudian…
Sebagian besar personel Liselotte telah pindah ke pos komando sementara di taman, membuat kediaman itu praktis kosong. Satu-satunya yang tetap tinggal di dalam kediaman adalah mereka yang berada di bawah perlindungan ketat, seperti Hiroaki dan yang lainnya.
“Lewat sini.” Seorang revenant berkulit hitam legam berjalan dengan penuh percaya diri di dalam kediaman. Lucius mengikuti di belakangnya. Lebih jauh di belakangnya ada empat revenant berkulit sedikit lebih terang, berjalan dalam keheningan yang patuh.
“Tentu saja membuat segalanya lebih mudah dengan adanya pemandu wisata. Sesuatu yang mustahil dilakukan oleh revenant yang diperkuat.” Lucius bercanda dengan santai tanpa ada rasa tegang sama sekali.
“Hah. Ruang tamu. Berada di balik tikungan. Koridor itu,” gerutu Alphonse dengan agak tidak senang.
“Paham. Baiklah, jadi mulai sekarang giliranmu untuk beraksi. Jangan cederai sang putri. Kau boleh menghajar hero itu juga, asalkan jangan membunuhnya,” beri tahu Lucius kepada Alphonse tanpa ada rasa khawatir khusus dalam suaranya.
“Ya. Serahkan. Kepadaku. Aku lebih kuat. Daripada minotaur mana pun. Sekarang,” jawab Alphonse dengan kata-katanya yang terputus-putus.
“Ah… Apakah itu sisa kecerdasan yang masih kau miliki, atau kau memang sudah rusak? Yah, terserahlah. Pergilah.” Lucius menggaruk kepalanya sebelum mengusir Alphonse dengan acuh tak acuh.
“Apakah ada seseorang di sana?” Sebuah suara bergema dari ujung koridor, setelah mendengar percakapan mereka. Tampaknya itu adalah para ksatria yang berjaga di depan ruangan.
“Ya, ada,” jawab Lucius dengan santai, sama sekali tidak menunjukkan kepanikan.
“Siapa di sana?” tanya suara itu dengan penuh curiga dari ujung koridor.
“Oh tidak, bukan apa-apa. Aku hanya punya sedikit urusan yang harus diselesaikan sebelum kembali. Jangan khawatirkan itu.”
…Tunggu. Keluarlah dari sana.” Ksatria yang diduga itu memerintahkan dari ujung koridor dengan suara tegas.
“Ya ampun.” Lucius menghela napas kesal sebelum berjalan maju ke koridor. Ada dua ksatria yang berjaga di depan pintu ruangan tersebut.
Salah satu ksatria mendekati Lucius dan menginterogasinya. “Seorang petualang? Apa kau sendirian? Kau tadi berbicara dengan seseorang, kan?”
“Bukan, tidak ada siapa-siapa. Silakan periksa sendiri kalau tidak percaya.” Lucius bersikap kooperatif, berdiri ke samping untuk memberi jalan sambil mengangkat bahunya.
◇ ◇ ◇
Kurang dari satu menit kemudian, terdengar bunyi gedebuk sesuatu yang menghantam pintu ruangan tempat Hiroaki dan yang lainnya sedang menunggu.
“…Hei, apa kalian tadi mendengar suara benturan di pintu?” tanya Hiroaki, menatap ke arah pintu sambil bertanya kepada orang-orang di sekitarnya.
“Tentu saja aku mendengarnya,” balas Duke Huguenot sambil mengangguk, lalu memberikan isyarat perintah kepada para ksatria dengan tatapannya.
“Baik, Yang Mulia.” Ada empat ksatria termasuk Stewart yang berjaga di dalam ruangan tersebut. Salah satu dari mereka perlahan bergerak ke arah pintu dan membukanya dengan derit pelan.
“Hei, apa yang terjadi?!”
Sebuah tinju hitam pekat melayang menerobos ambang pintu. Ksatria itu telak dihantam di bagian wajah dan terpelanting ke bagian belakang ruangan. Menabrak beberapa perabotan di sepanjang jalurnya, dia akhirnya berhenti dengan suara benturan keras.
“Kyaa?!” Flora, yang duduk di dekat situ, tidak bisa menahan diri untuk tidak berteriak.
“A-Apa yang sebenarnya terjadi?!” Roanna menatap ke pintu dengan terkejut. “Ha. Ha. Ha.” Alphonse, revenant berkulit hitam legam, berdiri di sana sambil menyeringai menyeramkan. Di belakangnya ada empat revenant berkulit hitam yang sedikit lebih pucat.
“M-Monster?! Bagaimana bisa mereka ada di sini?!” Tiga ksatria lainnya — termasuk Stewart — secara refleks mencabut pedang mereka.
“Maju,” perintah Alphonse singkat.
“Vaah!” Para revenant bawahannya menjerit dan menyerbu ke dalam ruangan. “Augendae Corporis!” Para ksatria merapal mantra secara bersamaan, tetapi waktu satu hingga dua detik yang dibutuhkan agar sihir itu aktif berakibat fatal. Para revenant memperkecil jarak dan menyerang para ksatria sebelum mereka sempat menyelesaikan enchanmen kemampuan fisik mereka.
“Sial!” Para ksatria tidak punya pilihan selain membatalkan sihir mereka dan mengayunkan pedang… tapi sayangnya, tidak mungkin mereka bisa melukai para revenant tanpa memperkuat kemampuan fisik mereka.
“Kulit mereka sekeras batu?!” Kulit mirip baja memantulkan bilah pedang mereka.
“Graagh!” Para revenant abu-abu itu maju satu lawan satu melawan para ksatria, menyeringai girang. Ada tiga ksatria dan empat revenant abu-abu, yang membuat satu revenant abu-abu dan Alphonse bebas.
“Hei, apa yang dilakukan bagian keamanan?!” Hiroaki tiba-tiba berteriak ke arah koridor, tetapi tidak ada seorang pun yang datang berlari untuk menyelamatkan mereka.
“Hih. Pergi.” Alphonse mendengus meremehkan, memberikan perintah kepada revenant yang tersisa. Makhluk itu mulai berlari dengan riang, menyerbu ke bagian belakang ruangan untuk mengganggu kelompok Hiroaki.
“Sial! Menuju ke pintu! Lari!” Menyadari mereka akan menjadi tikus terpojok jika terus begini, Hiroaki memerintahkan Flora dan yang lainnya di sampingnya sebelum berlari menuju pintu dengan panik. Dia bukan sekadar pahlawan pajangan, karena gerakan pergerakannya jelas-jelas memiliki kecepatan yang tidak manusiawi.
“Eh, ah…” Tidak mampu bereaksi secara mendadak, Flora merasa bingung, tetapi Roanna tiba-tiba mencengkeram lengannya.
“Putri Flora, lewat sini!” ucap Roanna sambil berlari mengikuti pimpinan Hiroaki.
Untungnya, para ksatria entah bagaimana berhasil mendesak mundur para revenant satu persatu. Ruangan itu luas, menyisakan banyak ruang bagi mereka untuk berlari di antara celah-celah pertempuran yang sedang berlangsung.
Selain itu, revenant tersisa yang menyerbu ke bagian belakang ruangan hanya terkekeh geli pada dirinya sendiri, tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyerang mereka.
Oleh karena itu, selagi mereka berhasil melakukan sesuatu terhadap revenant hitam pekat yang berjaga di depan satu-satunya pintu keluar masuk, mereka akan bisa keluar. Duke Huguenot tampaknya memikirkan hal yang sama, mengikuti di belakang Hiroaki setelah Roanna dan yang lainnya.
Satu-satunya harapan mereka adalah Hiroaki dan kemampuan bertarung pahlawan rahasianya. Sebelumnya, dia secara teknis berada di tingkat yang setara atau di atas para ksatria dalam pertandingan tanding mereka. Meskipun dia cukup gelisah saat ini, tidak seperti pertempuran sebelumnya, dia sendiri yang mendatangi para monster kali ini. Sepertinya dia tidak akan menjadi tidak berguna karena ketakutan kali ini.
“Singkirkan itu! Datanglah, Yamata no Orochi!” Hiroaki memanggil senjata dewa kebanggaannya ke tangannya. Dengan bilah pedang yang indah di dalam genggamannya, dia mengayunkan pedang itu ke arah Alphonse, tetapi Alphonse membaca gerakan Hiroaki dengan mudah dan merangsek maju tepat ke dekatnya.
“Hih.” Alphonse mendengus, memukul wajah Hiroaki dengan sekuat tenaga.
“Gwoah?!” Hiroaki dengan mudah terpental ke bagian belakang ruangan.
“Aku selalu. Ingin. Menghajar. Wajah pria ini.” Alphonse terkekeh dengan tawa puas.
I-Ia bisa bicara?! A-Apa ini?! Makhluk apa sebenarnya itu?! Menyeramkan sekali! Roanna merasakan rasa jijik naluriah dari lubuk hatinya yang paling dalam karena monster hitam pekat di hadapannya telah berbicara. Merinding merayapi kulitnya. Bentuk tubuhnya yang setengah seperti manusia sudah membuatnya tampak menyeramkan, tetapi ketika ia mengucapkan kata-kata manusia, hal itu benar-benar sangat menjijikkan.
“P-Putri Flora, berlindunglah di belakangku…” ucap Roanna. Dia percaya bahwa sudah menjadi perannya sebagai seorang bangsawan untuk menjadi perisai bagi kaum bangsawan tertinggi. Sementara itu, Duke Huguenot tampak mundur ketakutan dalam kondisi yang mengenaskan.
“Kuh…” Para ksatria masih bertarung melawan tiga revenant dan tidak dapat menggunakan sihir untuk meningkatkan kemampuan mereka, jadi mereka sangat kewalahan. Rencana terobosan mereka bersama Hiroaki telah dibalikkan dengan begitu mudah, dan tidak ada lagi tempat untuk lari.
“Giliranmu. Aku tidak akan. Membiarkanmu lolos. Dengan mudah. Paham?” Alphonse menatap Duke Huguenot dengan lekat, mulutnya menyeringai sinis.
…Apa?” Duke Huguenot tampak meragukannya. Kemampuan untuk berkomunikasi berarti ada peluang untuk saling memahami. Dia tiba-tiba bertanya-tanya apakah mereka bisa mendapatkan semacam informasi.
“Ahaha!” Namun, tidak ada waktu untuk memikirkan hal itu. Dalam sekali lompatan, Alphonse menerjang ke arah Duke Huguenot dan menghantamkan tinjunya dengan takaran kekuatan yang tepat ke perut Duke Huguenot.
“Guh. Gah… kgh…” Duke Huguenot ambruk ke lantai, tidak sanggup menahan serangan itu.
“A-Ayah!” Ekspresi Stewart berubah ketika dia menyadari Duke Huguenot sedang diserang. Dia dengan panik mengayunkan pedangnya, mencoba menepis revenant yang sedang dihadapinya. Sementara itu, Alphonse mencengkeram kerah baju Duke Huguenot dan mengangkatnya dengan mudah dari tanah.
“Masih ada. Lagi. Di mana itu. Berasal!”
“Hah, kknhh…” Duke Huguenot kesulitan bernapas, menggeliat dalam kesakitan.
“Ayah! Menyingkir, kau monster!” Stewart mengayunkan pedangnya dengan putus asa, menyingkirkan revenant di hadapannya. Makhluk itu mengeluarkan tawa mengerikan dengan senyuman yang keji.
…Tidak, Ayah! Lepaskan aku!” Stewart menyerang Alphonse dengan putus asa. Alphonse dengan ringan menghindari serangan Stewart sebelum melemparkan Duke Huguenot ke samping dengan kasar.
“Hee! Heehee! Oh, aku tahu. Aku tahu.” Dengan senyuman manis, Alphonse berbalik menatap Stewart.
“Sial! Mati, mati!”
“Itu. Tidak akan mempan.” Stewart mengayunkan pedangnya dengan sungguh-sungguh, tetapi kulit Alphonse yang secara alami sangat keras membuat pedangnya memantul tanpa meninggalkan goresan sedikit pun.
“…Princess Flora, setidaknya Anda harus melarikan diri.” Roanna perlahan bergeser mendekati pintu, berbisik pelan kepada Flora.
“Eh, ah… tapi kamu… tapi bagaimana dengan semuanya?!” Ekspresi Flora berubah dengan tersentak, memperlihatkan ketidaksetujuan yang mendalam.
“Kemampuan fisik monster itu tidak normal. Saat ini ia sedang bersenang-senang entah kenapa, tapi kita semua akan dibantai habis jika terus begini. Bahkan jika kita mencoba lari, ada kemungkinan besar kita akan tertangkap sebelum sempat menggunakan sihir apa pun. Jadi setidaknya, biarkan kami menjadi umpan agar Anda bisa melarikan diri,” ucap Roanna, memberikan bujukan yang terburu-buru namun tetap terstruktur.
“T-Tidak, aku tidak bisa! Aku tidak bisa… itu terlalu…”
“Kumohon, aku mohon pada Anda. Jika Anda membiarkan kesempatan ini berlalu…” Roanna menatap Stewart dengan panik.
“Kau monster! Monster!” Stewart telah menjadi putus asa, terus menebas ke arah Alphonse, tetapi jelas terlihat bahwa Alphonse sedang mempermainkannya.
“Gahah. Gahahaha!” Alphonse tertawa terbahak-bahak, mengejek Stewart. Hal yang sama juga terjadi pada para revenant yang menghadapi para ksatria lainnya. Alphonse pasti telah menginspirasi mereka, karena mereka juga tertawa serupa saat menghadapi para ksatria.
“Sialan!” Para ksatria yang menghadapi mereka tampak pucat dan bernapas tersengal-sengal — mereka tidak akan bertahan lama dalam situasi ini.
Ini adalah satu-satunya saat bagi Flora untuk bisa melarikan diri.
“Putri Flora! Putri Flora!” Sebuah suara yang memanggil Flora terdengar di sepanjang koridor.
“Oh! Putri Flora selamat! Tolong bantu dia melarikan diri!” Roanna tiba-tiba mendorong Flora ke arah ambang pintu yang terbuka dengan sekuat tenaga. Kemudian dia berdiri di depan pintu untuk menghalanginya dari para revenant yang mengejar.
“Kshaah!” Revenant di bagian belakang ruangan mulai berlari ke arah Roanna.
“Roanna!” Flora memanggil nama Roanna dengan panik, masih dalam posisinya di lantai. Kemudian, seorang pria muncul dari luar ruangan, meraih tangan Flora dan dengan mudah menariknya hingga berdiri.
“Putri Flora, lewat sini.”
“L-Lepaskan aku!”
“Saya tidak bisa melakukan itu. Anda harus ikut lewat sini.”
Flora melancarkan protes keras, tetapi pria itu membawanya menjauh dari tempat kejadian tanpa mendengarkan protesnya.
◇ ◇ ◇
Sementara itu, Roanna menggunakan sihir serangan untuk memukul mundur para revenant di dalam ruangan.
“Photon Projectilis.”
Sebuah lingkaran sihir muncul di kedua tangannya, menembakkan peluru energi sihir berkecepatan tinggi dari pusatnya. Bidikan Roanna sangat akurat dan mendarat telak pada para revenant yang mendekatinya dari bagian dalam ruangan.
“Guh?!” Para revenant yang tubuhnya terkena peluru tersebut terhuyung-huyung.
“Masih banyak lagi persediaannya!” Roanna menembakkan pelurunya ke arah para revenant yang berhadapan dengan ksatria lainnya. Satu tembakan, dua tembakan, tiga — peluru-peluru itu menghujani mereka tanpa ampun.
“Ah. Apa aku. Terkena?” Meskipun Alphonse merasakan hantamannya, dia menepisnya begitu saja sambil memiringkan kepalanya.
“?!” Namun, Roanna tidak gentar; dia terus memukul para revenant dengan peluru fotonnya.
“Argh!” Suara kesal yang dibalut amarah meluap-luap menggema di seluruh ruangan. Roanna tersentak dan tanpa berpikir panjang membatalkan sihir yang telah dia aktifkan.
“Ah?” Perhatian para revenant tertarik ke arah suara penuh kemarahan itu. Duke Huguenot terkapar di lantai, dan para ksatria sudah kelelahan. Yang menyisakan —
“Ya, aku marah. Aku benar-benar marah sekarang. Dipukul oleh tangan kotor kalian itu… Menjijikkan.” Yang berdiri di sana adalah Sakata Hiroaki.
“…Kamu. Cukup tangguh. Aku memukulmu. Dengan kekuatan. Penuh.” Alphonse menyipitkan matanya, merasa kagum.
“Matilah, kau kecoa!” teriak Hiroaki, menyerang revenant yang tidak senggang di dekatnya. Revenant itu langsung mengambil sikap bertahan dengan kedua lengan terangkat, tapi —
“Guh?!” Tubuhnya terbelah rapi menjadi dua dengan suara *bam*.
“Ini benar-benar sialan. Cepat mati saja,” kata Hiroaki, bergerak untuk menebas revenant berikutnya di dekatnya secara beruntun. Kecepatannya melampaui revenant berkulit hitam pucat itu, memungkinkannya membasmi yang kedua dengan sama mudahnya.
“Ugh, sekarang aku kesal!” Kemarahan Hiroaki sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda mereda. Dia memelototi para revenant dengan mata yang penuh kebencian.
“T-Tuan Hiroaki?!” Mata Roanna membelalak melihat perubahan mendadak pada pemuda itu.
“Menyingkir, Roanna! Akan kubunuh mereka semua!” teriak Hiroaki, menyerbu ke arah Alphonse. Roanna tidak tahan dan menyingkir ke sisi ruangan.
“Grarh!” Revenant yang tersisa menyerang Hiroaki dari kedua sisi.
“Diam!” Hiroaki mengayunkan pedangnya dengan sikap yang konyol, menebas para revenant dalam satu ayunan. Bilah pedangnya sangat tajam.
“Apa?!” Mata Alphonse membelalak keheranan.
“Kau berikutnya, keparat! Mati!” Hiroaki menyerbu ke arah Alphonse — satu-satunya yang tersisa — dan mengayunkan pedangnya dengan kuat dari jarak jauh. Kemudian, air dalam jumlah yang tidak wajar menyembur keluar dari bilah pedang itu.

“Guh?!” Alphonse mundur secara refleks, memutar tubuhnya untuk menghindari serangan itu sambil melangkah mundur ke koridor. Seketika itu juga, terjangan air melesat menembus udara. Semburan air itu menembus lurus dinding mansion, melesat ke luar.
“K-Kau!” Terlepas dari amarah Alphonse yang meluap-luap, dia terus mundur ke dalam koridor.
“Berhenti!” Hiroaki langsung mengejarnya ke koridor, meninggalkan Roanna dan para pria terluka lainnya di dalam ruangan. Begitu Hiroaki melompat keluar ke koridor, matanya tertuju pada Alphonse di ruang yang lebih sempit itu. Dia bergerak untuk melancarkan serangan lurus lainnya, tetapi —
“Ya ampun,” kata sebuah suara datar.
“Ah?!” Hiroaki menoleh kembali ke arah suara itu dan seketika menerima pukulan telak di bagian leher. Kepalanya terbentur hebat, membuatnya pingsan dalam sekejap. Dia jatuh ke lantai dengan berat.
“K-Kau…” Mata Alphonse membelalak kaget. Berdiri di hadapannya adalah Reiss. Sepasang mata tajam menatap ke bawah ke arah Hiroaki dari balik jubahnya.
…Kau, keluarlah. Peranmu di sini sudah selesai. Pergilah bersama para revenant lainnya dan ulur waktu agar Lucius bisa kabur dari sini,” perintah Reiss dengan dingin kepada Alphonse.
“Apa? Tapi…” Alphonse hendak mendebat.
“Cepat pergi sana,” kata Reiss dengan suara hampa, memotong bantahan apa pun.
“B-Baiklah.”
“Bagus. Seharusnya ada mangsa yang menarik untukmu di luar juga. Sekarang, aku harus cepat,” ujar Reiss, segera meninggalkan tempat kejadian. Sementara itu, Alphonse menuju ke luar dinding melalui lubang yang telah dibuka oleh Hiroaki. Kemudian, selang satu ketukan, Roanna dengan gugup menjulurkan kepalanya keluar ruangan.
“…T-Tuan Hiroaki!” Begitu menyadari Hiroaki tergeletak pingsan di lantai koridor, dia buru-buru berlari menghampirinya. Namun, begitu melihat Hiroaki masih bernapas, dia sadar bahwa pria itu hanya pingsan dan menghela napas lega.
Sementara itu, Reiss sedang mengintai di tikungan koridor.
Mungkin memang sebuah kesalahan memanggil Lucius pada akhirnya. Meskipun kemampuannya luar biasa, hedonisme sesaatnya langsung terlihat di wajahnya begitu dia bersemangat. Dia lebih mirip binatang daripada manusia. Rencananya sepertinya akan berhasil, tetapi dengan harga harus menanggung beberapa sakit kepala yang tidak perlu, pikir Reiss sambil diam-diam mengamati wajah Roanna.
Alphonse itu juga… Cara dia langsung berlari untuk bermain dalam kegirangannya menunjukkan betapa jauh dia dari spesimen yang sempurna. Yah, manusia dasar memang makhluk yang tidak sempurna sejak awal, keluh Reiss.
“Yah, dia akan disingkirkan di sini. Setidaknya aku akan bisa mengukur kekuatan roh humanoid dan kontraktornya sebelum aku pergi,” gumamnya sebelum beranjak pergi.
◇ ◇ ◇
Sementara itu, beberapa saat sebelumnya, tangan Flora ditarik oleh seorang pria misterius.
“Umm, kumohon, kumohon lepaskan aku! Mau dibawa ke mana aku?! Kita — Kita harus memanggil bantuan!” protes Flora kepada pria yang menariknya dengan paksa sambil menoleh ke arah ruangan di belakangnya tempat Roanna dan yang lainnya berada. Pria itu mengenakan kerudung yang menyembunyikan bahkan profil wajahnya.
“Nggak, nona kecil itu sudah habis. Dia akan dicabik-cabik tanpa ampun sebentar lagi. Kalau mereka tidak sedang main-main, semuanya sudah akan berakhir dalam waktu sekitar sepuluh detik.” Pria yang berjalan di depannya itu terkekeh geli.
“K-Kau… Sebenarnya siapa kau?” tanya Flora dengan ketakutan. Sekilas, dia tampak seperti seorang petualang yang dikirim untuk melindungi mansion ini, tetapi jelas ada yang tidak beres. Dia bertanya-tanya apakah pria itu sedang memanfaatkan kekacauan yang terjadi.
Pria itu tiba-tiba berhenti. “Nggak, aku bukan seseorang yang layak menyebutkan nama. Tapi kurasa akan sangat tidak sopan jika tidak mengatakannya dalam situasi seperti ini, jadi… Yah, aku ini sampah masyarakat.” Dia menghadap ke arah Flora dan untuk sesaat membuka kerudungnya untuk menjawab sambil terseringai, dan Flora akhirnya melihat wajah pria itu dengan jelas.
Itu adalah Lucius.
“U-Umm…” Flora tergagap kehilangan kata-kata.
“Ah, tadi itu sangat lucu, aku sampai tidak bisa menahan diri untuk menontonnya sebentar. Hubungan pelayan-tuan zaman dulu yang khas antara bangsawan dan kaum ningrat sungguh indah untuk dilihat. Sungguh pemandangan yang luar biasa tadi. Aku hampir ingin merusaknya.” Lucius terus mengobrol dengan nada yang sedikit bersemangat.
Flora diliputi oleh rasa takut yang tak terlukiskan dan berteriak panik. “S-Seseorang! Adakah orang di sana?!”
“Hahaha, jadi kau ingin meminta bantuan? Baiklah, silakan saja.” Lucius tersenyum ramah, berbicara kepada Flora.
“K-Kau… Sebenarnya apa yang kau…?” tanya Flora, sama sekali tidak mengerti apa tujuan Lucius. Lucius menampilkan sikap yang benar-benar membangkang, membuatnya tampak sangat meresahkan.
“Yah, sebenarnya aku di sini untuk menculikmu. Meskipun kalau boleh jujur, tidak masalah bagaimana aku melakukannya, jadi kurasa aku akan bersenang-senang sedikit,” kata Lucius acuh tak acuh.
“…A-Aku adalah targetmu? Dan kau memanfaatkan situasi kacau ini untuk menculikku?” tanya Flora dengan suara bergetar.
“Yah, sederhananya… ya. Tapi membawamu kembali dengan begitu mudahnya terasa agak terlalu membosankan. Aku sudah repot-repot melakukan semua ini, jadi aku berencana meninggalkan jejakku padamu,” jawab Lucius dengan lancar, menyunggingkan senyuman di wajahnya. Flora terdiam penuh tanya.
“Misalnya, Nona kecil yang mempercayakanmu kepadaku. Menurutmu, ekspresi seperti apa yang akan dia tunjukkan ketika tahu kalau dia salah menilai? Membayangkannya saja sudah membuatku bersemangat,” kata Lucius dengan nada yang sangat lancang.
“…” Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Flora merasakan rasa jijik yang tak terlukiskan atas kebejatan yang berlebihan dalam kata-katanya.
“Hahaha. Untuk sekarang, melihat ekspresimu itu saja sudah cukup. Dan bukankah sudah kubilang tadi? Nona kecil itu sudah habis.” Mulut Lucius menyunggingkan senyuman sinis saat kenyataan merasuk ke dalam diri Flora bersamaan dengan keputusasaan.
“Ah — L-Lepaskan aku, kumohon lepaskan aku!” Flora terperanjat kaget, mencoba sekali lagi melepaskan diri dari cengkeraman Lucius.
“Sekali lagi, kau…” Reiss muncul, berbicara kepada Lucius dari belakang.
“Hei,” jawab Lucius santai.
“Berhentilah bermalas-malasan di sini dan cepat bergerak. Roh humanoid itu sudah datang ke mansion. Akan gawat jika harus menghadapinya secara langsung,” kata Reiss sambil menghela napas lelah.
“Oh…?” Mata Lucius membelalak penuh minat.
“Asal kau tahu…” Reiss mulai berkata.
“Aku tahu, aku tahu. Aku akan menuju ke titik pertemuan setelah ini, jadi jangan khawatir. Biarkan aku memilih rute ku sendiri, ya?” kata Lucius dengan samar.
“Pergilah kalau begitu,” Reiss menghela napas sekali lagi, mendesak Lucius untuk pergi.
“Kau dengar pria itu, putri. Ayo kita pergi. Jangan melawan kecuali kau ingin kaki indah itu terpotong.” Lucius mengenakan kembali tudungnya, lalu mengangkat Flora dan melemparkannya ke atas bahunya tanpa memberi kesempatan untuk memprotes.
“Eek — Kya?!” Flora berteriak, tetapi diabaikan begitu saja.
“Ayo kita berangkat.”
Lucius mulai berlari menyusuri koridor, menghilang ke suatu tempat. Beberapa saat kemudian, kemarahan Hiroaki menyebabkan meriam air meledakkan sebuah lubang di dinding.
Komentar