Seirei Gensouki Volume 3 Prologue: Petunjuk Warisan Bahasa Indonesia




Prolog: Petunjuk Warisan
Kurang dari seminggu setelah dia meninggalkan desa ras roh, Rio tiba di wilayah Yagumo.
Perjalanan itu seharusnya menjadi perjalanan yang berat selama dua hingga tiga bulan dengan berjalan kaki — bahkan jika dia telah memperkuat tubuhnya dengan seni roh — tetapi berkat seni roh angin yang telah dia pelajari dari desa tersebut, dia dapat terbang sepanjang perjalanan. Oleh karena itu, dia dapat melakukan perjalanannya dari desa ke Yagumo dengan relatif mudah. Namun, sejak saat itulah masalah Rio yang sebenarnya dimulai.
Mengunjungi wilayah Yagumo untuk meratapi kedua orang tuanya di tanah air mereka sendiri memang bisa dimaklumi, tetapi Rio hampir tidak memiliki informasi yang dia butuhkan untuk menentukan lokasi tempat kelahiran mereka. Satu-satunya informasi yang dia miliki hanyalah nama mereka.
Ada lebih dari 30 negara dengan berbagai ukuran di dalam wilayah Yagumo, membuat usahanya untuk menemukan kampung halaman mereka dengan cara ini tampak hampir sia-sia.
Meskipun demikian, hal itu tidak menyurutkan tekad Rio untuk terus maju demi mencapai tujuannya. Dia mengunjungi setiap kota dan desa di sisi barat Yagumo, dengan harapan dia akan menemukan seseorang yang mengenali nama kedua orang tuanya.
Namun, memiliki tekad bukan berarti selalu ada jalan…
Beberapa bulan berlalu tanpa satupun petunjuk.
Saat ini, Rio sedang mengunjungi Kerajaan Karasuki, sebuah negara besar yang terletak di area barat wilayah Yagumo. Dia telah melewati beberapa kota dan desa, dan hendak menuju ke desa berikutnya, jadi dia menggunakan seni roh anginnya untuk terbang ke udara. Tujuannya adalah sebuah titik kecil di cakrawala.
…Desa itu, ya?
Dari pandangan mata burung, dia dapat melihat jalan-jalan yang membentang dari sisi timur dan barat desa, sebuah bukit kecil di sebelah utara, dan sebuah gunung yang dipenuhi pepohonan rimbun di sebelah selatan.
Itu adalah desa yang khas dan tenteram; tidak ada istimewanya sama sekali.
Area pemukiman menempati bagian tengah desa, di mana rumah-rumah yang terbuat dari kayu, kapur, dan tanah liat berdiri berderet. Dilihat dari jumlahnya, populasinya mungkin sekitar tiga ratus orang atau lebih. Di sekeliling bagian tengah terdapat ladang dan padang rumput, di mana para penduduk desa terlihat sedang bekerja.
Mereka bilang Yuba, kepala desa ini, memiliki banyak koneksi. Rio mengingat kembali informasi yang telah dia kumpulkan dari kepala desa tetangga yang sebelumnya sempat dia kunjungi.
Jujur saja, dia tidak terlalu berharap banyak untuk menemukan sesuatu di sini. Pada titik ini, dia bahkan tidak bisa mengingat berapa kali dia menaruh harapan, hanya untuk merasa kecewa lagi… Tapi dia tidak berniat menyerah pada keputusannya.
Untuk menghindari keributan yang tidak perlu dengan mendarat tepat di tengah desa, Rio mendarat di jarak yang cukup jauh. Setelah menapakkan kaki di jalan yang mengarah dari sisi barat desa, dia berlari kecil menuju pintu masuk.
Desa itu dikelilingi oleh pagar kayu sederhana, tanpa ada penjaga yang ditempatkan di pintu masuk, yang memungkinkan Rio untuk masuk dengan bebas.
Meski begitu, ada para penduduk desa yang sedang bekerja di ladang mereka ke segala arah, sehingga mereka menyadari fakta bahwa seseorang telah berjalan masuk dari luar. Benar saja, saat Rio tiba di pintu masuk desa, beberapa penduduk desa mendongak menatapnya.
Namun, tidak ada seorang pun yang mendekat — mereka hanya mengawasinya dari kejauhan.
Suasana itu hampir membuat ragu untuk melangkah lebih jauh, tetapi desa mana pun pasti akan mewaspadai orang luar yang tidak dikenal. Ini adalah hal yang lumrah, dan itu adalah reaksi yang sudah sangat akrab bagi Rio.
Rio membungkuk singkat kepada para petani, sebelum melangkah melewati pintu masuk. Dia berjalan dengan tenang lurus menuju pusat desa — tempat di mana rumah kepala desa kemungkinan besar berada — agar dia bisa segera menyelesaikan urusannya di sini.
Dua gadis berpakain sederhana muncul dari ladang di sampingnya, dan mendekat dengan ragu-ragu. Mereka tampak seusia remaja; salah satu dari mereka terlihat sekitar dua hingga tiga tahun lebih tua dari yang lainnya.
“Umm, apakah kamu perlu sesuatu dari desa kami?” Gadi yang terlihat lebih tua itu bertanya kepada Rio dengan malu-malu.
“Halo. Nama saya Rio,” jawab Rio dengan nada formal sambil memberikan senyuman ramah kepada mereka. “Saya sedang dalam perjalanan untuk mencari seseorang. Saya ingin menemui kepala desa ini… Apakah beliau kebetulan ada di tempat saat ini?” tambahnya dengan sebuah pertanyaan.
Pengucapannya sedikit kaku, tetapi dia sudah cukup fasih sehingga tidak mengalami kesulitan dalam bercakap-cakap, berkat pengetahuan luas dari Ursula dan yang lainnya di desa ras roh. Mereka telah mengajarinya bahasa yang digunakan di wilayah Yagumo selama kebersamaan mereka. Berbulan-bulan yang diabiskannya dengan berkelana di Yagumo juga sangat membantu.
Rio memperkenalkan dirinya dengan sopan dan menjelaskan situasinya, membuat kedua gadis itu membelalakkan mata mereka.
“A-Ah, umm, h-halo. S-Salam kenal, umm? Apakah kamu seorang musafir? Kepala desa ada di… a… ada di tempat? Apakah aku harus menunjukkan jalannya?” tawar gadis yang lebih tua itu dengan gugup. Dia tampaknya tidak begitu terbiasa berbicara secara formal.
“Terima kasih banyak. Banyak orang cenderung mewaspadai orang luar yang tiba-tiba muncul di depan pintu mereka… Jika tidak merepotkan, dengan senang hati saya menerima tawaranmu,” ucap Rio berterima kasih dengan suara tenang, sambil menundukkan kepala dan tersenyum tipis.
“B-Baiklah! Kalau begitu… Umm… Ikuti aku, kumohon!” Gadis yang lebih tua itu mengangguk dengan suara melengking dan mulai berjalan menuju pusat desa. Sementara itu, gadis yang lebih muda, yang sedari tadi berdiri di belakangnya, menatap wajah Rio dengan linglung.
“…Apakah ada masalah?” Rio berhenti dengan bingung tepat saat dia hendak mengikuti gadis yang lebih tua yang sudah berjalan pergi.
“…Eh? Ah, t-tidak! B-Bukan, umm… bukan apa-apa!” Gadis yang lebih muda itu tersipu malu dan menggelengkan kepalanya dengan kuat.
“Apa yang sedang kamu lakukan, Sayo? Ayo segera jalan.”
“B-Baiklah, Ruri!”
Didorong oleh gadis yang lebih tua bernama Ruri, Sayo — gadis yang lebih muda — buru-buru mulai berlari. Rio memiringkan kepalanya sedikit sebelum dia berjalan menyusul mereka.
Kedua gadis itu masih tampak gugup saat mereka berjalan dengan canggung, sambil sesekali melirik ke belakang ke arah Rio. Sayo, khususnya, melirik ke arahnya dengan cukup sering.
Apakah orang luar benar-benar sangat langka? pikir Rio, menatap punggung Sayo saat mereka berjalan.
Mereka bertiga mempertahankan keheningan dan jarak yang canggung itu sampai tiba di rumah kepala desa.
“Nenek, ada tamu! Dia bilang dia sedang mencari seseorang!” teriak Ruri dengan suara kencang saat dia memasuki rumah. Pintu depannya terbuka menuju lantai tanah liat yang mengarah ke ruang tamu yang ditinggikan, di mana sebuah perapian benam disiapkan untuk menghangatkan area tersebut.
“Kamu tidak perlu berteriak sekeras itu, Ruri. Nenek bisa mendengarmu dengan sangat baik… Oh?”
Sesaat kemudian, seorang wanita tua muncul. Dia melihat Rio berdiri di belakang Ruri dan Sayo di dekat pintu masuk dan menyipitkan matanya.
“Halo — senang berkenalan dengan Anda. Nama saya Rio. Saya datang hari ini untuk menanyakan beberapa hal kepada Anda, Kepala Desa,” perkenal Rio dengan ramah sambil melangkah maju. Wanita tua itu membelalakkan matanya.
“Oho, anak muda yang sopan sekali. Pakaianmu tidak familiar dan kamu memiliki sedikit aksen… Seorang pelancong dari negeri asing, ya?” Pandangan wanita tua itu mengamati Rio, seolah-olah dia sedang mencoba mengidentifikasi asal-usulnya.
“Ya, saya bukan berasal dari sini. Saya telah bepergian melalui berbagai negara yang berbeda.”
“Begitu ya. …Ah, maafkan aku. Nama saya Yuba. Saya yakin Anda sudah mengetahuinya, tetapi saya adalah kepala desa ini.”
“Senang berkenalan dengan Anda.” Rio membungkuk.
“Ya, ya, cukup dengan formalitasnya. Silakan, masuklah ke dalam. Ruri, Sayo, tolong tuangkan teh.”
“Baik! Ayo, Sayo,” jawab Ruri dengan penuh semangat atas perintah Yuba. Sayo mengangguk dengan canggung sebelum pergi ke dapur bersamanya.
“Kamu. Naiklah ke ruang tamu. …Uff.” Yuba mengarahkan Rio ke salah satu bantalan duduk di depan perapian tertanam dan duduk.
“Permisi.” Rio membungkuk singkat sebelum melepas sepatunya dan melangkah naik ke ruang tamu. Kemudian, dia melepas mantel bertudung yang selama ini dia kenakan di atas pedang dan baju zirah yang dia terima dari kaum roh, lalu meletakkannya di lantai bersama dengan pedangnya yang bersarung.
“…Pakaian yang kamu kenakan di balik mantelmu itu jarang terlihat di daerah ini. Pedang itu luar biasa, tetapi bentuknya agak aneh. Kamu benar-benar tidak terlihat seperti seseorang dari negeri ini.” Yuba menatap penampilannya dengan rasa penasaran, persis seperti yang Rio duga.
“Baik senjata maupun pakaian saya tidak dibuat di negeri ini. Saya biasanya mengenakan mantel agar tidak menarik perhatian terhadap benda-benda tersebut.”
“Benar, penampilanmu memang menarik perhatian. Belum lagi betapa tingginya kualitas peralatanmu, terutama untuk ukuran seorang pelancong biasa.”
“Ya, barang-barang ini sangat luar biasa. Seorang perajin yang sangat saya hormati membuatkannya untuk saya sebagai hadiah spesial.”
“…Begitu ya. Baiklah, aku tidak akan mengoreknya lebih jauh dari itu. Tehnya sudah siap sekarang, jadi biarkan aku mendengar cerita darimu.”
Ruri dan Sayo sedang membawakan teh tepat pada saat itu, jadi Yuba menghentikan percakapan di situ. Kedua gadis itu berpisah untuk menyajikan teh kepada Yuba dan Rio.
“Terima kasih banyak.” Rio mengucapkan terima kasih kepada Sayo, karena gadis itulah yang meletakkan teh di depannya.
Sambil menggelengkan kepala karena malu, Sayo mundur ke sudut ruangan. Tingkah laku itu membuat Ruri tersenyum geli. Rio sudah lama memikirkan tentang perilaku aneh Sayo, tetapi berusaha mengabaikannya saat ia mulai berbicara.
“Saya sedang mencari seseorang yang mengenal orang tua saya semasa hidup mereka. Alasan saya mengunjungi desa ini adalah karena saya mendengar bahwa Lady Yuba memiliki koneksi yang paling luas di antara mereka yang tinggal di wilayah ini.”
“Hm, begitu ya…” Yuba mengangguk kecil tanda mengerti, sebelum menyuruhnya untuk terus berbicara.
“Saya yakin ibu dan ayah saya tinggal di wilayah Yagumo sekitar lima belas tahun yang lalu, tetapi saya tidak tahu pasti detailnya… Apakah Anda pernah mendengar nama Zen dan Ayame sebelumnya, Lady Yuba?” kata Rio, menyebutkan nama orang tuanya.
…Apakah barusan kau bilang… Zen… dan Ayame…? Mata Yuba membelalak, lengan yang terulur untuk meraih cangkir tehnya terdiam kaku sepenuhnya. Kepalanya mendongak saat ia mengarahkan pandangannya dengan cermat ke wajah Rio.
Ia tampak jelas mengetahui sesuatu; reaksinya menunjukkan hal itu dengan sangat jelas. Bahkan sikap Rio yang biasanya tenang pun runtuh saat matanya ikut membelalak.
“Ah, tidak. Aku harus mendengar lebih banyak tentang mereka terlebih dahulu,” Yuba ragu-ragu, sebelum memberikan jawaban samar dan menoleh ke arah kedua gadis itu. “Ruri, Sayo — pembahasan kita mungkin akan berlangsung lebih lama dari perkiraan. Kalian berdua bisa kembali bekerja,” perintahnya.
“Eeeh… Tapi kenapa?” Ruri mengerucutkan bibirnya dengan tidak senang.
“Sudahlah, pergi sana. Jangan mencampuri urusan pribadi orang lain. Pastikan kalian juga menjaga mulut kalian agar tetap rapat di hadapan penduduk desa lainnya.”
“Baiilaak. Cih. Padahal kelihatannya cukup menarik juga… Ayo pergi, Sayo.” Mendengar perkataan Yuba yang tegas dan tidak kenal kompromi, Ruri dengan enggan mengurungkan niatnya.
“B-Baiklah.”
Setelah Ruri dan Sayo meninggalkan rumah, Yuba menatap Rio dan perlahan-lahan mulai berbicara. “Sekarang, bisakah kamu memberiku lebih banyak detail tentang ciri-ciri dan karakteristik orang tuamu? Bisa jadi mereka adalah seseorang yang kukenal.”
“Tentu, tentu saja…” Rio menyembunyikan emosinya yang bergejolak dengan sebuah anggukan, lalu dengan tenang mulai menceritakan kisah mereka.
Kedua orang tuanya lahir di wilayah Yagumo. Ketika masih muda, mereka menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam perjalanan panjang untuk bermigrasi ke wilayah Strahl. Setelah itu, mereka mengembara untuk beberapa waktu hingga Rio lahir, dan mereka menetap di Kerajaan Beltrum. Namun, ayah Rio, Zen, meninggal sebelum Rio cukup umur untuk mengenalnya. Setelah itu, ia tinggal seorang diri bersama ibunya, Ayame.
Rio juga menjelaskan kepribadian Ayame dan seperti apa ibunya itu, sementara Yuba mendengarkan dengan penuh perhatian setiap kata yang diucapkan Rio.
…Setelah itu, saat aku masih kecil, ibuku juga meninggal…” Ekspresi Rio sedikit menggelap saat ia menceritakan tentang kematian ibunya. Ia tidak memberikan detail khusus mengenai bagaimana ibunya meninggal; ia tidak ingin mengingatnya, dan ia tidak ingin membicarakannya.
Sejujurnya, ia masih belum bisa merapikan pikirannya tentang apa yang telah terjadi.
“Terima kasih telah memberitahuku. Aku pasti telah membuatmu teringat akan kenangan-kenangan yang sulit… Tapi tidak diragukan lagi. Kedua orang itu pastilah orang yang sama dengan yang kukenal. Bahkan, jika kulihat baik-baik, aku bisa melihat beberapa ciri fisik mereka di wajahmu. Ya ampun, usia tua benar-benar tidak membantu sama sekali. Hmm, tidak… Mungkin bisa dibilang justru karena usia tuaku inilah kita bisa dipertemukan,” ujar Yuba dengan ekspresi yang sedikit tak berdaya dan penuh penyesalan.
“…Jika Anda tidak keberatan, bagaimana orang tuaku bisa mengenal Anda…?” tanya Rio dengan perasaan takut, mati-matian menjaga agar suaranya tidak bergetar.
“Aku adalah ibu Zen, dan nenekmu. Senang akhirnya bisa bertemu denganmu,” jawab Yuba sambil tersenyum agak canggung.
“Anda adalah… Ah, umm, ayahku. Senang bisa bertemu dengan Anda juga.” Rio menatap wajah Yuba dengan tatapan kosong sejenak, sebelum menundukkan kepalanya dengan perasaan tidak nyaman. Yuba sepertinya menyadari bahwa pertanyaan berikutnya akan menjadi pertanyaan yang sulit, tetapi ia tetap tidak bisa menahan diri untuk tidak menanyakannya.
“…Aku minta maaf, tapi bisakah kamu menceritakan lebih banyak kepadaku? Aku ingin mendengar tentang alasanmu datang ke negeri ini dari tempat yang begitu jauh, hanya untuk mencari informasi tentang mereka berdua. Usaha yang telah kamu kerahkan, dan kesulitan yang telah kamu lalui untuk sampai ke sini, pasti jauh di luar imajinasiku.”
Rio ragu-ragu selama beberapa saat sebelum menjawab. “…Aku ingin membuatkan sebuah makam. Aku tidak memiliki sisa jasad atau kenang-kenangan apa pun, tapi aku ingin mengenang mereka di tanah air mereka sendiri. Dan ibu… ibuku pernah berjanji untuk membawaku ke kampung halamannya suatu hari nanti. Dia meninggal sebelum kami sempat mewujudkannya, tapi aku ingin mencoba pergi ke negeri ini sendiri,” jawabnya dengan hati-hati.
“Begitu ya. Kamu telah melakukan pekerjaan dengan baik karena berhasil sampai di sini. Namun, sebenarnya… Bagaimana aku harus mengatakannya? Makam mereka sudah ada,” kata Yuba dengan sedikit keengganan.
“Makam mereka… sudah ada? Tapi bukankah mereka meninggalkan negeri ini dalam keadaan hidup?” tanya Rio tanpa sengaja dengan suara keras karena terkejut.
“Ya, itu benar. Tapi makam mereka memang ada. Dilihat dari reaksimu, sepertinya kamu tidak tahu alasan mereka meninggalkan tanah air mereka. Benar begitu?” tanya Yuba sambil mengamati wajah Rio.
“Ya, itu benar. Apakah itu berarti Anda tahu alasannya, Nyonya Yuba?” tanya Rio balik.
“Tentu saja, aku tahu alasannya. Namun, kamu harus memaafkanku, karena aku tidak bisa menceritakan detailnya sendiri kepadamu.” Yuba menggelengkan kepalanya dengan ekspresi meminta maaf.
“Bolehkah aku tahu alasannya…?”
“Keadaan tertentu memaksa mereka berdua untuk meninggalkan negeri ini secara diam-diam. Karena kecil kemungkinan mereka akan kembali, orang-orang yang mengetahui kebenaran tersebut membuatkan makam bagi mereka di atas bukit. Hanya itu yang bisa kuberitahukan kepadamu sekarang,” jawab Yuba sambil memilih kata-katanya dengan hati-hati.
“Mereka meninggalkan negeri ini… secara diam-diam…”
“Untuk saat ini, aku akan mengantarmu ke makam mereka. Apakah kamu ingin mengadakan upacara peringatan untuk mereka?” tawar Yuba kepada Rio yang sedang merenung.
“…Ya, tentu saja. Izinkan aku melakukannya.”
Sejujurnya, masih banyak hal yang belum jelas, tetapi tidak ada gunanya bagi Rio memikirkannya lebih dari ini. Jika Yuba tidak berniat menjawabnya, maka dia tidak akan memaksanya. Rio memutuskan untuk fokus pada masalah makam orang tuanya terlebih dahulu.
◇◇◇
Setelah itu, Yuba memandu Rio ke bukit kecil di sebelah utara desa. Puncak bukit tersebut menawarkan pemandangan luas ke arah desa di bawahnya dan pegunungan di sekitarnya, membuat pemandangannya sangat indah.
Dua pilar batu berdiri di hadapan latar belakang tersebut. Pilar-pilar itu dirawat dengan sangat baik, terlihat rapi dan bersih, tanpa tanda-tanda erosi angin.
“Ini adalah makam mereka. Nama mereka tidak diukir di atasnya, tapi makam ini dipenuhi dengan barang-barang kenangan mereka,” kata Yuba sambil berdiri di hadapan pilar-pilar batu tersebut.
“…Begitu ya.” Rio mengangguk samar, matanya terpaku pada pilar-pilar batu itu.
“…Mungkin aku bisa menceritakan kepadamu apa yang terjadi pada orang tuamu ketika waktunya tiba,” kata Yuba pelan sambil menatap Rio. Mata Rio membelalak, dan dia balas menatapnya.
“Maukah kamu mempertimbangkan untuk tinggal di desa ini sampai waktu itu tiba?” tanya Yuba, ekspresinya penuh dengan kasih sayang.
“…Apakah itu tidak apa-apa?” tanya Rio dengan cemas.
“Kamu adalah cucuku. Tidak perlu bagi seorang cucu untuk bersikap sungkan di hadapan neneknya,” jawab Yuba dengan senyum cerah di wajahnya.
“Cucu… Nenek…” Rio menggumamkan kata-kata itu, seolah-olah dia sedang memikirkannya dalam-dalam.
“Ada lebih dari cukup kamar kosong. Kerabatku semuanya sudah meninggal karena perang dan penyakit, jadi sekarang tinggal aku dan Ruri. Dia adalah gadis yang lebih tua yang membawamu ke rumahku,” jelas Yuba sementara Rio berdiri di sana dalam keheningan.
“Lalu Ruri, apakah dia…?”
“Dia adalah putri dari kakak laki-laki Zen, yang berarti dia adalah sepupumu. Usianya lima belas tahun sekarang.”
“Begitu ya. Kalau begitu dia satu tahun lebih tua dariku.”
“…Aku terkejut mendengar bahwa usiamu masih sangat muda. Meskipun wajahmu masih terlihat seperti anak-anak, kepribadianmu begitu dewasa hingga aku mengiramu lebih tua.”
“Itu tidak benar.” Rio akhirnya sedikit tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Hal itu membuat Yuba mendengkus tertawa.
“Begitukah? Baiklah, sudahlah. Bisakah aku menganggap itu sebagai jawaban ya untuk tawaranku?”
“Ya. Aku akan merepotkanmu,” kata Rio dengan ragu-ragu, sambil menundukkan kepalanya kepada Yuba.
“Dengan senang hati aku menerimamu bersamaku. Aku tahu mungkin sulit untuk langsung beradaptasi, tapi tidak perlu terlalu kaku. Santai saja, dan buat dirimu nyaman,” kata Yuba sambil sedikit mengangkat bahunya.
“Baiklah… Yuba.”
Rio memutuskan untuk memanggilnya dengan namanya saja, alih-alih “Nyonya Yuba.” Ketika memikirkan fakta bahwa wanita itu adalah nenek kandungnya, ia merasa lebih mudah memanggilnya dengan cara itu.
“Fufu. Oh, ngomong-ngomong… Apakah tidak apa-apa jika kita menyembunyikan kebenaran tentang garis keturunanmu dari para penduduk desa lainnya?” tanya Yuba dengan senyuman ceria.
“Tentu saja, itu tidak masalah,” setuju Rio, menangkap tersirat di balik kata-kata Yuba. Mereka tidak dapat mengungkap asal-usul Rio kepada desa karena keadaan yang telah menyebabkan Zen dan Ayame meninggalkan negeri itu. Sangat mungkin—tidak, hampir bisa dipastikan—bahwa akan ada orang di desa ini yang mengenal mereka.
“Aku minta maaf atas ketidaknyamanan ini. Kita bisa membahas sisa detailnya di rumah. Aku akan kembali sekarang… Apakah kamu ingin tinggal di sini lebih lama lagi?” tanya Yuba sebagai bentuk perhatian kepada Rio.
“Ya, tolong.”
“Apakah kamu tahu jalan pulangnya?”
“Aku akan baik-baik saja.”
“Oh? Kalau begitu, pastikan kamu kembali sebelum matahari terbenam. Kami akan mengadakan pesta penyambutan untukmu, meskipun itu pesta yang kecil.” Dengan begitu, Yuba berbalik dan pergi.
“Terima kasih atas keramahannya,” kata Rio, membungkuk dalam-dalam ke arah punggung Yuba yang mulai menjauh. Begitu sosok Yuba menghilang dari pandangan, ia mengangkat kepalanya menatap pilar-pilar batu itu.
“…Kurasa itu berarti aku akan tinggal di tempat kalian untuk sementara waktu, Ayah. Meskipun rasanya masih belum sepenuhnya nyata kalau aku memiliki kerabat selain kalian berdua…” gumam Rio ke arah pilar-pilar tersebut, ada jejak kebingungan di dalam senyuman yang terukir di bibirnya. Tentu saja, tidak ada jawaban.
Beberapa saat kemudian, ia berbalik untuk melihat ke arah desa. Ia menghabiskan waktu sekitar satu jam lagi di bukit itu dalam keheningan yang suram, sebelum berjalan kembali ke rumah kepala desa tepat sebelum matahari terbenam.
“Permisi,” ucap Rio sambil melangkah ragu-ragu melewati pintu depan yang terbuka. Di sana, Yuba sedang menunggu bersama Ruri, yang telah selesai dengan pekerjaannya.
“Selamat datang kembali,” ucap mereka.
“…Terima kasih.” Rio merasa terkejut, namun ia berhasil membalas sapaan mereka dengan malu-malu.
Kemudian, persis seperti yang dikatakan Yuba, mereka mengadakan sebuah pesta penyambutan kecil bersama-sama.
Komentar