Seirei Gensouki Volume 3 Epilog: Di Dunia Seperti Ini Bahasa Indonesia
Epilog: Di Dunia Seperti Ini
Tahun itu adalah tahun 1000 Era Suci.
Suatu hari, beberapa bulan setelah Rio meninggalkan wilayah Yagumo… Di suatu tempat di dunia ini, seseorang telah menantikan saat itu, seolah-olah hal tersebut telah diramalkan.
Sepertinya ini sudah waktunya.
Wilayah Strahl terpantul di mata mereka. Pada saat berikutnya, enam pilar cahaya melesat dari berbagai titik di wilayah tersebut, membubung tinggi langsung ke langit. Pilar-pilar cahaya itu seketika merobek cakrawala, membuat para pengamat terpesona oleh cahaya menyilaukan mereka untuk beberapa saat.
Namun, orang tersebut hanya mengamati cahaya itu dengan ekspresi kosong.
Tidak ada yang berubah dari seribu tahun yang lalu. Meski begitu, sejarah dunia akan segera bergerak. Tidak… Peluang untuk itu bergerak telah lahir. Entah itu berubah, berulang, atau mandek seperti ini…
Segala hal yang lebih jauh dari itu tidak diketahui oleh orang tersebut — oleh karena itu, ia hanya mengamati masa kini, dan masa depan setelahnya.
Oh? Sepertinya ada banyak anak yang tersesat kali ini. Hm? Ini adalah…
Tiba-tiba, dia menyipitkan matanya. Begitu dia melakukannya, matanya terbuka dengan fokus. Seorang manusia tunggal terpantul di dalam matanya.
◇◇◇
Sementara itu, setelah keenam pilar cahaya itu kehilangan sinarnya, di area tenggara wilayah Strahl, dua anak perempuan dan seorang anak laki-laki berdiri terisolasi di sebuah padang rumput.
Salah satu dari mereka adalah siswi SMA berseragam, satu lagi siswi SMP berseragam, dan seorang lagi siswa SD dengan pakaian kasual — tidak ada satupun yang mengenakan pakaian yang pantas untuk bepergian di area berumput.
Ketiga anak itu melihat sekeliling mereka dengan linglung. Ekspresi mereka yang membeku sangat bisa dimaklumi; lanskap kota modern yang mengelilingi mereka beberapa saat lalu telah lenyap sepenuhnya, lagipula.
Padang rumput terbentang di sekeliling mereka, dengan satu-satunya hal lain yang terlihat adalah bebatuan, bukit, dan pegunungan, tanpa ada tanda-tanda buatan manusia.
“…Di mana, ini?”
“…Jangan tanya aku.”
“Maaf. Aku tidak bertanya kepadamu — aku bertanya pada Miharu.”
Gadis SMP dan anak laki-laki SD itu saling sahut, belum bisa menerima kenyataan mereka. Sesaat kemudian, keduanya secara bersamaan mendongak menatap gadis SMA bernama Miharu.
“A-Anu, untuk sekarang… M-Mari kita cek keberadaan kita di ponsel.”
Miharu memaksakan senyum untuk menenangkan keduanya dan buru-buru mengeluarkan ponsel dari tas sekolahnya. Lalu, dengan tangan yang gemetar, dia menekan tombol dan menyalakan layar. Tulisan “Di luar jangkauan” dengan sia-sia tertera di sudut layar.
◇◇◇
Sementara itu, di tempat lain di wilayah Strahl pada saat yang persis sama…
Haruto.
…haru… …-er…
…-ve …them.
Suara seorang gadis yang terasa familier terngiang di dalam kepala Rio.

Komentar