Seirei Gensouki Volume 3 Bab 4: Perpisahan Bahasa Indonesia
Bab 4: Perpisahan
Keesokan paginya, para wanita desa menyaksikan pemandangan aneh di pasar perdagangan makanan harian.
Gon dan para pengikutnya diikat di pasungan sebagai penjahat di alun-alun desa. Bawahan Hayate berdiri di sebelah mereka sebagai penjaga, mengawasi mereka sambil menjelaskan alasan mengapa kelompok Gon dikekang.
Dalam waktu kurang dari satu jam, peristiwa yang terjadi pada malam sebelumnya telah menyebar ke seluruh desa.
Cerita yang beredar kurang lebih seperti ini: Kelompok Gon telah mencoba melakukan penyusupan malam dan menyerang Ruri serta Sayo. Namun, Rio segera menyadari penyusupan mereka dan membalasnya dengan perkelahian. Alhasil, Rio telah menghajar habis-habisan sang pemimpin, Gon. Rio membiarkannya di luar dalam udara musim gugur yang sangat dingin sepanjang malam hanya dengan mengenakan pakaian dalam sebagai bentuk hukuman.
Para penduduk desa diliputi amarah ketika mendengar tentang penyusupan malam itu, tetapi begitu mereka melihat wajah Gon yang bengkak mengerikan dan tubuhnya yang menggigil, kemarahan mereka mereda oleh perlakuan yang sangat setimpal tersebut.
Maka dari itu, insiden semalam menjadi bahan pembicaraan di desa sejak pagi-pagi buta. Ketika Rio keluar pagi itu untuk berdagang bahan makanan, para penduduk desa memuji pencapaiannya dengan senyuman ramah.
Rio sudah merenungkan tindakannya semalam dan merasa agak tidak nyaman dengan pujian mereka, tetapi dia melakukan yang terbaik untuk tidak memperlihatkannya di luar, dan menjalani hari seperti biasa. Hal yang sama berlaku ketika dia berada di dekat Yuba, Ruri, Sayo, dan Hayate.
Para pembantu terdekat dan bawahan Hayate semuanya pergi keluar untuk urusan mengawasi dan menginterogasi kelompok Gon, hanya menyisakan Yuba, Ruri, Rio, Sayo, dan Hayate di rumah kepala desa.
Yuba dan Hayate sudah bangun, tetapi Ruri dan Sayo baru tertidur sangat larut, jadi Rio menawarkan diri untuk menyiapkan sarapan, itulah sebabnya dia pergi berdagang bahan makanan di pagi hari. Begitu sarapan siap dan para gadis sudah bangun, semuanya berkumpul di ruang tamu.
“Semuanya… Aku minta maaf atas masalah yang kuimbulkan kemarin. Tolong terimalah permintaan maafku yang sebesar-besarnya,” kata Rio kepada semua orang sekali lagi.
Semalam, Rio telah menunjukkan perilaku yang benar-benar penuh kekerasan di depan Ruri dan Sayo, yang hanyalah gadis desa biasa — tidak aneh jika kelalaiannya melukai mereka hingga menyebabkan semacam trauma. Bagaimanapun, memaparkan kemarahannya kepada orang lain juga merupakan bentuk kekerasan. Itulah sebabnya Rio ingin meminta maaf dengan benar dan bertanggung jawab atas kesalahannya; dia akan menerima semua kesalahan tanpa membuat alasan apa pun.
“Tidak ada hal yang perlu kau sesali. Terima kasih sudah melindungi Ruri dan Sayo.” Yuba menggelengkan kepalanya mewakili semua orang, tersenyum lembut kepada Rio untuk meredakan kekhawatirannya.
Rio sempat tertegun sejenak, sebelum dia mengerutkan kening. “Tapi, Ruri dan Sayo ketakutan karena aku…”
“Kamu tidak perlu mengkhawatirkan Ruri dan Sayo. Bukankah begitu, kalian berdua?” kata Yuba sambil menatap para gadis.
“Iya. Sejujurnya, aku merasa sedikit takut… Tapi kemudian Sayo bilang Rio begitu marah karena dia sangat ingin menyelamatkan kita. Kita tidak boleh merasa takut karena hal itu. Kalau tidak, itu akan melukai Rio,” kata Ruri dengan ekspresi meminta maaf sambil mengangguk.
“Ini bukan salah Tuan Rio! Jadi kumohon, jangan meminta maaf.” Sayo memohon kepada Rio dengan sungguh-sungguh, menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat.
“Lord Rio, situasinya memang persis seperti yang mereka katakan. Aku mungkin melampaui batasku sebagai orang luar, tetapi Anda tidak perlu memikirkan hal ini. Jika Anda tidak memukulnya, sayalah yang akan melakukannya,” setuju Hayate sambil mengangkat bahu.
“…Terima kasih banyak, semuanya. Tapi, memang benar kemarahan saya telah membutakan saya sehingga gagal mempertimbangkan tindakan saya dengan baik… Ada cara yang lebih baik yang bisa saya gunakan untuk menyelamatkan kalian. Jadi tolong, izinkan saya meminta maaf.”
Tidak sanggup menahan emosinya, wajah Rio hampir berkedut membentuk raut masam. Dia mengatupkan giginya dan malah menundukkan kepalanya. Kata-kata hangat setiap orang meresap ke dalam tubuhnya, tetapi tidaklah mudah baginya untuk langsung mengubah sikapnya hanya karena orang-orang yang terlibat memberikan kata-kata maaf dengan begitu mudah.
“Anak yang jujur sekali. Mirip seperti seseorang,” kata Yuba sambil mendengus pelan menahan tawa.
“Seseorang?” tanya Ruri kepada Yuba dengan tatapan penasaran.
“Hmm… Lebih penting lagi, Rio bangun pagi-pagi sekali untuk membuat sarapan ini untuk kita. Kita harus segera memakannya sebelum dingin. Masih banyak masalah yang harus diselesaikan juga — aku harus memanggil kepala desa mereka ke sini untuk membahas apa yang harus dilakukan terhadap anak-anak nakal itu, jadi ayo kita selesaikan semuanya dengan cepat,” ujar Yuba dengan ceria, mengalihkan topik.
Para pengikut Hayate saat itu sedang membantu mereka dengan pergi ke desa Gon, ditugaskan untuk membawa kepala desa serta kerabat para pelaku kembali bersama mereka. Mereka akan tiba dalam sehari atau dua hari untuk membahas insiden yang telah terjadi.
Semua orang tersenyum kaku dan mulai menyantap makanan mereka sebagai tanda setuju.
“Sayo! Apakah Sayo baik-baik saja?! Bagaimana dengan Ruri?!” Pintu depan terbanting hingga terbuka, menampakkan Shin dan para pemuda lainnya.
“K-Kakak?!” Kemunculan mereka yang tiba-tiba membuat Sayo membelalakkan matanya karena terkejut.
“Ya ampun, semuanya datang sekaligus?” Ruri tertawa pahit.
“O-Ooh! Sayo, Ruri! Apa kalian berdua baik-baik saja?!” tanya Shin dengan panik begitu dia melihat Sayo dan Ruri.
“Kami baik-baik saja, dan kamu berisik sekali. Bukankah kamu agak terlambat untuk berlari ke mari sekarang?” kata Yuba dengan suara lelah.
“K-Kami minum-minum di rumah bos sampai larut malam kemarin, jadi k-kami agak… kesiangan. Lalu Ume mendobrak masuk dan menceritakan semuanya kepada kami. A-Aku… Aku minta maaf,” Shin dan yang lainnya terengah-engah saat mereka meminta maaf, ekspresi mereka tampak bersalah.
“Aku sudah menduga begitu. Nah, tenang saja: insiden itu adalah upaya yang gagal. Rio menghajar Gon hingga babak belur, dan rekan-rekan konspiratornya ditangkap oleh Lord Hayate. Apakah kalian tidak melihat mereka menunduk lesu di alun-alun?” kata Yuba dengan senyum jengkel.
“T-Tidak, kami berlari ke sini secepat yang kami bisa…”
“Yah, begitulah kejadiannya. Aku bisa menceritakan detailnya nanti kepada kalian, jadi mengapa kalian tidak pergi dan melampiaskan kekesalan kalian pada Gon sebelum kalian pulang? Kedua gadis ini baik-baik saja, seperti yang kalian lihat.”
“B-Baiklah…” Para pemuda itu mengangguk, mundur dengan sedih. Namun, Shin tetap tinggal.
“Tuan Hayate, dan… Rio juga. T… Terima kasih telah menyelamatkan mereka berdua!” ucapnya penuh rasa terima kasih, melemparkan pandangan yang agak canggung kepada Rio saat mengatakannya. Para pemuda itu saling bertukar pandang sebelum mereka semua berbalik untuk menggumamkan ucapan terima kasih.
“Aku tidak melakukan sesuatu yang istimewa — semua kehormatan seharusnya diberikan kepada Lord Rio.” Hayate menggelengkan kepala sambil tertawa pelan. Rio tersenyum agak canggung sementara Ruri dan Sayo terkikik.
“Kalau begitu, sampai jumpa lagi,” kata Shin malu-malu, memutar tubuhnya; para pemuda lainnya mengikuti ke luar. Yuba mendengus geli saat melihat punggung mereka yang menjauh.
Belakangan, ketika anak-anak lelaki itu melihat keadaan menyedihkan dari Gon dan orang-orang lainnya di alun-alun, mereka bersumpah pada diri mereka sendiri untuk tidak pernah mencari masalah dengan Rio lagi.
◇◇◇
Dua hari kemudian, kepala desa dari kelompok Gon tiba, dipimpin oleh para ajudan Hayate. Rombongan tersebut dipanggil ke balai desa untuk menemui Yuba; Rio juga ikut duduk dalam pertemuan tersebut di samping Hayate, yang bertindak sebagai saksi.
“Bagaimana zamrud desa kalian berniat untuk memberikan kompensasi atas insiden ini?” tanya Yuba kepada kepala desa — ayah Gon — yang duduk tepat di hadapannya.
“Kami juga sudah merasa kehabisan akal dengan para pemuda di desa kami ini. Meskipun insiden khusus ini sangat tidak bisa dimaafkan, aku ingin menganggapnya sebagai kecelakaan sial,” jawab ayah Gon secara samar-samar, menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan secara berlebihan.
“Apakah itu berarti kamu akan menanggung tanggung jawab atas kekacauan yang telah ditimbulkan oleh Gon? Anak-anak lelaki itu adalah tanggung jawab utamamu, kan?”
“Itu adalah masalah yang berbeda. Desa kami tidak akan keberatan dengan bentuk hukuman apa pun yang Anda pilih, tetapi tindakan mereka adalah tanggung jawab mereka sendiri. Lagipula, mereka sudah dewasa.” Upaya Yuba untuk menetapkannya sebagai pihak yang bertanggung jawab membuat ayah Gon beralih pada pembuatan alasan.
Tidak ada keberatan dari orang-orang di belakangnya juga. Mereka tampaknya telah pasrah untuk melepaskan para pelaku kejahatan selama perjalanan mereka ke sini.
“Aku tahu desa kalian sedang kesulitan untuk mempertahankan mata pencaharian kalian seperti sekarang ini. Aku dapat mengerti mengapa kalian tidak ingin menanggung beban yang tidak perlu lagi… Namun, kami tidak punya niat untuk mundur begitu saja tanpa perlawanan. Untuk saat ini, izinkan aku memberi tahu kalian apa yang ingin kami lakukan,” kata Yuba, sebelum memaparkan usulannya tentang cara menangani insiden tersebut.
“Pertama — dan ini adalah satu-satunya poin di mana kami tidak akan mengalah — Gon akan diserahkan kepada kerajaan untuk dihukum. Dari apa yang telah diceritakan oleh Lord Hayate kepada kami, dia kemungkinan besar akan berakhir sebagai budak pekerja.”
“Tentu saja, itu sudah wajar.” Ayah Gon mengangguk kesal. Meskipun tanggapannya tampak kejam, keberadaan Gon telah menjadi beban yang begitu berat baginya.
“Berikutnya, berkenaan dengan para pria lain yang turut serta membantu Gon… Bahkan jika kami menyerahkan mereka kepada kerajaan, mereka mungkin tidak akan dijatuhi hukuman budak pekerja. Mereka paling-paling hanya akan dicambuk beberapa kali, atau dijatuhi hukuman penjara singkat, sebelum dibebaskan. Sejujurnya, itu tidak cukup untuk meredam kebencian kami; kami ingin menerima kompensasi yang setimpal. Oleh karena itu: kami akan mengambil beberapa orang yang paling bejat dari kelompok itu dan menjual mereka di ibu kota sebagai budak kontrak, lalu menerima uang dari penjualan tersebut sebagai kompensasi,” jelas Yuba dengan tenang.
“…Meskipun benar bahwa budak kontrak dapat menghasilkan uang yang cukup banyak, aku ragu para pria itu akan setuju. Apa syarat dari kontrak budak yang kalian rencanakan itu?” tanya ayah Gon dengan penuh keraguan.
Ada satu syarat krusial dalam membentuk kontrak budak dengan seseorang: persetujuan dari orang yang akan dijadikan budak tersebut. Untuk memaksa pembuatan kontrak budak tanpa persetujuan dari pihak yang bersangkutan, diperlukan kebangkrutan atau surat utang, beserta para saksi.
Dalam situasi ini, komplotan Gon tidak dibebani utang apa pun, dan mereka juga tidak memiliki jaminan untuk membayar uang kompensasi. Betapa pun besarnya rasa bersalah mereka karena turut serta dalam kejahatan tersebut, sulit dibayangkan mereka akan bersedia mengikuti prosedur untuk menjadi budak.
“Di situlah kami ingin meminta kerja sama kalian. Jika kalian bekerja sama dengan kami, maka kami dapat berjanji untuk tidak menuntut pertanggungjawaban lebih lanjut dari desa kalian. Bagaimana menurutmu?” Yuba menyeringai, matanya tertuju pada ayah Gon.
“…Dalam hal apa aku harus bekerja sama?” tanya ayah Gon dengan hati-hati sebagai balasan.
“Kami ingin kau memberi tahu para pemuda itu bahwa kau berhasil bernegosiasi agar semuanya, selain Gon, diampuni dari penyerahan kepada kerajaan… dengan syarat membayar biaya kompensasi.”
“…Mereka tidak memiliki tabungan untuk membayar biaya semacam itu. Bahkan jika mereka kembali ke desa kami, mereka hanya akan dikucilkan,” sela ayah Gon dengan nada sarkastis.
“Ya, tetapi dengarkan dulu sampai selesai. Aku tahu bahwa mereka tidak punya tabungan. Itulah sebabnya kau akan memberi tahu mereka bahwa kaulah yang menanggung biaya tersebut untuk mereka, lalu gunakan itu sebagai alasan untuk menerbitkan surat utang. Begitu ada surat utang, kita bisa menggunakannya sebagai alasan untuk melampirkan kontrak perbudakan pada kelompok mereka. Kalian mengerti sisanya, kan?”
“Apa—?!” Ayah Gon membelalakkan matanya karena terkejut, ekspresinya mengeras. “B-Bukankah cara itu sangat licik? Memang benar mereka mungkin akan menyetujui perbudakan dengan cara seperti itu, tetapi sepertinya kita sedang menipu mereka… Melangkah sejauh itu rasanya…” ujarnya dengan sedikit rasa bersalah.
Para orang tua dari para rekan konspirator di belakangnya bergerak ribut.
“Hm. Aku tahu bahwa menyelinap ke kamar gadis di malam hari adalah kebiasaan di masyarakat desa, tetapi itu hanya diizinkan dengan persetujuan kedua belah pihak. Percobaan pemerkosaan terhadap pihak lain adalah kejahatan yang setara dengan perampokan dan pembunuhan, dan para kaki tangan yang membantu Gon harus membayar akibatnya. Kebodohan anak-anak kalian telah memberikan trauma emosional yang harus ditanggung oleh cucu tersayangku seumur hidupnya. Aku sama sekali tidak berniat untuk mengalah dengan mudah.”
“H-Hmm…” Pernyataan penuh amarah dari Yuba membuat ayah Gon kehilangan kata-kata.
“Jika kau menolak bekerja sama, maka aku tidak punya pilihan lain. Kita akan kembali ke awal pembahasan kita, dan membuat desa kalian menanggung tanggung jawab utama sebagai gantinya. Oh, dan untuk saat ini, kami telah menyita barang-barang dagangan yang dimuat di kereta barang kalian,” beri tahu Yuba kepada ayah Gon dengan acuh tak acuh setelah melihat tanggapannya yang setengah hati.
“…H-Hah? A-Apa yang baru saja kau katakan?”
“Kubilang, kami menahan barang-barang dagangan yang dimuat di kereta barang kalian sebagai jaminan untuk biaya kompensasi kami.”
“K-Kau pasti bercanda! Barang-barang itu adalah milik desa kami… Ini adalah tirani — sebuah perampokan! …Lord Hayate, tindakan seperti ini pastinya tidak bisa ditoleransi, bukan?!” teriak ayah Gon dengan panik dan memohon kepada Hayate, yang sedari tadi berdiri di samping dan mendengarkan.
“…Maafkan aku, tetapi desa kalianlah yang membiarkan orang-orang liar bertindak sebagai perwakilan kalian dalam rombongan dagang. Sebagian besar tanggung jawab jatuh ke tangan kalian. Kalian mungkin berniat untuk mengusir mereka secara halus jika mereka menimbulkan masalah, tetapi pihak kerajaan tidak akan bertindak hanya karena Lady Yuba telah menyita barang dagangan desa kalian,” ucap Hayate sambil menggelengkan kepala dengan dingin.
“I-Itu tidak mungkin…” Ayah Gon merosot putus asa. Keuntungan yang didapat dari penjualan barang dagangan mereka sangat vital untuk menopang penghidupan para penduduk desa; tanpa barang-barang itu, desa akan menderita kelaparan yang hebat.
“Itulah sebabnya aku memberimu pilihan. Kalian adalah pihak yang membesarkan anak-anak kalian dengan cara seperti itu, bukan? Entah kalian membuat para pemuda itu bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri, atau kalian sendiri yang membersihkan kekacauan mereka. Terserah pada kalian.” Yuba mendesak mereka untuk membuat keputusan tanpa belas kasihan.
“…Baiklah. Kami akan membuat mereka bertanggung jawab.” Ayah Gon menunduk dan menyetujuinya setelah ragu sejenak.
◇◇◇
Setelah diskusi mengenai kelompok Gon selesai, Rio mengunjungi bukit utara tempat makam orang tuanya berada, seorang diri. Matahari mulai terbenam, dan pemandangan musim gugur di hadapannya ternoda oleh warna merah tua. Rio berdiri di depan makam orang tuanya dan dengan lembut menyentuhkan tangan kanannya ke pilar batu tersebut.
Dia merenungkan saat-saat ketika dia hampir memukuli Gon hingga tewas. Selama tiga hari sejak insiden itu, Rio terus-menerus merenungkan lubuk hatinya sendiri.
Pada saat itu, aku benar-benar memiliki niat membunuh di dalam diriku. Niat itu berubah menjadi kekerasan… Aku berniat untuk membunuh Gon; aku tidak peduli tentang membunuh manusia lain…
Rio menarik tangannya dari pilar batu dan menatap kedua telapak tangannya. Itu adalah emosi yang sangat dikenal oleh Rio… Tidak, dia tidak hanya sekadar mengenalnya; dia pernah merasakan emosi itu terhadap seseorang secara khusus.
Kebencian yang begitu kuat hingga membuatnya merasa mual.
Kebencian meluap-luap yang cukup kuat untuk membuatnya menjadi gila.
Niat membunuh yang murni dan pekat… Semuanya ditujukan kepada pria yang telah merampas ibunya darinya.
Ya, Rio pernah mencoba untuk membalas dendam terhadap pria itu. Hanya itulah yang dia pikirkan, satu-satunya hal yang dia harapkan saat dia hidup di lingkungan kumuh yang seperti neraka.
Tapi… Kapan semua itu berubah?
Kapan dia mulai menganggap pembunuhan sebagai kejahatan paling primitif yang bisa dilakukan manusia?
Kapan dia menyadari bahwa balas dendam bukanlah motif yang bisa dimaafkan untuk sebuah pembunuhan?
Kapan dia mampu menyingkirkan emosi kelam yang tertidur di dalam dirinya?
Jawabannya sudah jelas. Itu sejak saat Rio mulai menyimpan ingatan Amakawa Haruto di dalam dirinya.
Manusia bernama Amakawa Haruto telah mengalihkan pandangannya.
Rio sendiri membenci pria yang telah membunuh ibunya, tetapi Amakawa Haruto di dalam dirinya ragu-ragu mengenai balas dendam.
Tidak ada yang akan dihasilkan dari balas dendam, dan ibunya tidak akan ingin dia melakukannya. Sekalipun dia membalas dendam, tidak akan ada yang tersisa untuknya.
Lagipula, karena dia sudah membenci cara hidup seperti itu, dia mengerti bahwa tindakan seperti membalas dendam, membunuh orang, dan mengotori tangannya akan membuatnya menjadi sama dengan pria itu, tidak peduli seberapa besar dia membenarkannya pada dirinya sendiri.
Dia tidak ingin tahu atau menyadari perasaan itu.
Dia adalah seorang egois — manusia kotor persis seperti pria itu. Manusia yang arogan dan buruk rupa, hidup hanya demi memuaskan hasratnya. Jauh lebih mudah untuk hidup dengan cara seperti itu, menjilat luka-lukanya sendiri dan menutupi kebenaran dengan kata-kata kosong.
Itulah sebabnya Rio ragu-ragu untuk membunuh siapa pun, karena dia percaya bahwa perbuatan itu salah. Dengan menahan diri, dia sempat berpikir bahwa dia bisa menjadi orang jujur yang tidak merepotkan orang lain.
Itu akan menjadi hal yang luar biasa, tetapi semuanya hanyalah kata-kata hampa. Tidak lebih dari sekadar angan-angan… Angan-angan yang tidak sesuai dengan kenyataan kejam di dunia ini.
Manusia itu tidak sama. Ada berbagai macam orang di dunia ini — ada yang rasional, ada yang egois, dan masing-masing memiliki moral mereka sendiri. Itulah sebabnya manusia saling bentrok satu sama lain; ketika mereka melakukannya, sifat aslinya pun terungkap.
Sebagai contoh, alangkah idealnya jika kompromi bisa dicapai selama bentrokan tersebut, tetapi kenyataannya tidak selalu demikian. Sebagian manusia memanfaatkan orang lain atas nama kompromi demi mengejar keuntungan mereka sendiri. Bahkan ada yang dengan sengaja membentrokkan diri dengan orang lain karena niat jahat.
Rio juga telah menemui dan berbenturan dengan berbagai macam orang sepanjang hidupnya; meskipun begitu, tidak ada seorang pun yang bisa dijadikan tempat bagi Rio untuk menunjukkan sifat aslinya, sampai akhirnya Gon secara paksa menelanjangi sifat sejati Rio.
Dia tidak bisa berubah menjadi manusia seperti pria yang telah membunuh ibunya.
Dengan pemikiran itu, Rio telah berjuang untuk menjadi orang yang rasional dan jujur… Sampai akhirnya dia mengikuti nalurinya dan mencoba membunuh Gon, mengotori tangannya sendiri. Insiden itu sudah cukup untuk menyadarkannya akan kemunafikan dan kenivitasannya.
Itulah sebabnya Rio mengerti bahwa dia ingin terus menjadi orang yang rasional dengan pengendalian diri yang kuat, orang jujur yang tidak merepotkan orang lain. Namun, terlepas dari niatnya dan terlepas dari moral, ada beberapa orang yang sama sekali tidak bisa dia maafkan dengan cara apa pun.
Ini adalah kedua kalinya aku ingin membunuh seseorang. Tidak… Aku sebenarnya mencoba untuk membunuhnya. Dengan tangan ini, dan atas kemauanku sendiri, aku mencoba membunuh Gon. Oleh karena itu…
Sekarang setelah dia mengerti, dia tidak bisa lagi mempertahankan kepolosannya. Di dunia ini, mereka yang berada di puncak bisa berpuas diri, mempermainkan yang lemah, dan bersenang-senang dalam kepuasan diri. Orang-orang semacam itu dapat bertindak terhadap Rio dan orang-orang yang berharga bagi Rio kapan saja.
Terkadang, mereka akan memaksakan keputusan yang kejam untuk dibuat, itulah sebabnya seseorang harus mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk.
Aku tidak bisa lari. Dan aku tidak bisa kembali… Jadi aku harus sudah mulai melangkah maju. Ini adalah awal dari perpisahan dengan bagian diriku yang paling lemah.
Dia tidak akan lari lagi. Dia tidak ingin lari lagi. Dia harus menerima sisi negatif dari dirinya… Demi bisa bertahan hidup. Demi melindungi orang lain. Dia tidak akan menyesali dirinya sendiri karena telah mengotori tangannya.
Rio menggigit bibirnya dan bersumpah dalam hatinya, lalu mencemooh dirinya sendiri dengan senyuman pahit namun penuh semangat.
Kurasa aku akan kembali ke Strahl sebentar lagi, pikirnya dalam hati.
Pada hari ini, Rio mengubah rasa tak berdaya dan kepahitannya yang dulu menjadi sebuah tekad.
Komentar