Seirei Gensouki Volume 27 Cerita Pendek Bonus Bahasa Indonesia

Cerita Pendek Bonus
Elemental ☆ Anniversary
Hari itu tanggal 1 Oktober 2025, di suatu wilayah di Kota Bunkyo, Tokyo.
Amakawa Haruto, seorang siswa kelas dua SMA, telah dipanggil ke ruang guru oleh wali kelasnya, Celia Claire, setelah jam pelajaran usai.
“Aku mendapat permintaan dari Melonbooks untuk menulis cerita pendek demi merayakan ulang tahun kesepuluh!”
“Ya?”
Haruto terkejut mendengar pengumuman mendadak dari Celia.
“Ini ulang tahun kesepuluh! Satu dekade!” ucapnya ceria, penuh dengan antusiasme.
“Itu memang patut dirayakan… Tapi, satu dekade dari apa?”
“Apa lagi yang kamu pikirkan saat mendengar Melonbooks? Seirei Gensouki, tentu saja! Kamu berpartisipasi dalam berbagai acara untuk mereka sebagai pekerja paruh waktu, kan?”
“Sudah sepuluh tahun ya?”
“Sudah! Waktu benar-benar berlalu dalam sekejap.”
“Itu benar. Aku baru mulai bekerja paruh waktu di Melonbooks tahun lalu, tapi rasanya sudah bertahun-tahun lamanya.”
“Pertama kalinya kamu bekerja di Melonbooks adalah pada tahun 2018… untuk Comiket C95, kalau tidak salah ingat? Kamu menjual merchandise di stan perusahaan untuk Seirei Gensouki.”
“Hah? 2018?” Mata Haruto terbelalak kaget.
“Ada apa?”
“Aku mulai bekerja paruh waktu tahun lalu, kan?”
“Betul.”
“Tahun ini tahun 2025, kan?”
“Betul.”
“Apa aku bekerja paruh waktu pada tahun 2018? Saat itu aku tinggal di pedesaan bersama kakekku. Aku hampir tidak pernah keluar rumah… Padahal, aku seharusnya masih SD!”
Haruto memiringkan kepalanya, menggali ingatannya dengan bingung.
“Ada yang tidak beres?” tanya Celia, menatap wajah Haruto sambil memiringkan kepalanya juga.
“T-Tidak, tidak ada apa-apa… Sepertinya,” jawab Haruto dengan lemah, merasa ciut menghadapi tatapan tajam di mata gadis itu.
“Benar juga. Peraturan dewa pasti ikut campur.”
Celia menatap ke luar jendela dengan pandangan menerawang, senyuman tipis menghiasi wajahnya.
“Apaan itu?” tanya Haruto dengan nada lelah.
“Yang lebih penting! Tahun 2018 juga merupakan tahun di mana Seirei Gensouki Only Shop pertama kali dibuka, bukan?” kata Celia dengan ceria, mengalihkan topik.
“Kurasa tidak… Tapi Seirei Gensouki dan Only Shop memang tidak bisa dipisahkan.”
“Tepat sekali! Toko di Osaka dan Nagoya juga dibuka pada tahun 2019. Alangkah menyenangkannya jika bisa mengunjungi semua toko Melonbooks di berbagai tempat lagi.”
“Ngomong-ngomong soal acara regional, tur kuliner lokal yang kita kunjungi dulu juga sangat seru.”
“Beneran, kan?! Ayo kita makan bersama kalau ada acara berikutnya!”
Haruto mengangguk sambil terkekeh. “Dengan senang hati.”
“Asyik. Ini janji ya!” Celia berseri-seri gembira.
“Ngomong-ngomong, tadi kita sedang membahas apa, ya?”
“Oh, benar juga. Aku mendapat permintaan dari Melonbooks untuk menulis cerita pendek guna merayakan hari jadi kesepuluh Seirei Gensouki. Aku ingin bertanya kepadamu, sebaiknya aku membuat cerita tentang apa. Apa kamu punya ide?” tanya Celia kepada Haruto.
“Kalau begitu, kenapa kamu tidak membuat cerita tentang sejarah Seirei Gensouki di Melonbooks, seperti yang baru saja kita bahas?”
“Bagus sekali! Aku jadi mendapat inspirasi sekarang! Tunggu sebentar.”
Celia langsung meraih pena dan mencatat ide tersebut. Haruto mengawasi gurunya itu dengan lembut.
Sebuah Adegan di Suatu Pagi
Di Kastil Galarc, sehari setelah Christina dan Flora menginap di mansion, sesaat sebelum para penghuni mansion terbangun…
“Egh…”
Christina terbangun. Sambil berbaring telentang, dia menatap sinar matahari pagi yang menyusup melalui tirai.
“Heh heh…”
Saat menoleh ke samping, dia melihat Flora masih tidur dengan damai di sebelah. Christina memandangi wajah tidur adik perempuannya yang menggemaskan itu dan tersenyum lembut.
Ini pagi yang menyenangkan.
Itu adalah kebangkitan yang nyaman. Dia tidak merasakan kantuk atau kelelahan, dan pikirannya sudah jernih sejak pertama kali membuka mata. Pagi seperti ini sangat jarang baginya.
Christina menikmati wajah tidur adik perempuannya yang tampak tanpa pertahanan itu sejenak sebelum perlahan turun dari tempat tidur. Dia berjalan jinjing mendekati jendela.
“Apa…?”
Dia membuka sedikit tirai ruangan yang redup itu dan mengintip ke luar untuk melihat matahari pagi menyinari bumi dengan lembut. Christina menyipitkan mata melihat betapa mempesonanya pemandangan pagi yang ajaib itu.
Sir Amakawa…
Saat itulah dia melihat pemilik mansion sedang mengayunkan pedang kayu di taman. Itu adalah Rio di tengah latihan paginya. Meskipun memiliki kekuatan yang cukup untuk disebut sebagai orang terkuat di dunia, dia terus-menerus mengasah keterampilannya tanpa kesombongan atau rasa puas diri.
Dia benar-benar pekerja keras.
Bibir Christina tersenyum lembut tanpa dia sadari. Dia memperhatikan Rio mengayunkan pedang kayunya dalam diam, pemandangan itu jauh lebih menyilaukan daripada matahari pagi itu sendiri.
“Hm?”
Tepat pada saat itu, Rio menyadari tatapan Christina dan melihat langsung ke arahnya.
“Mm?!”
Christina tersentak.
Dia menyadariku?!
Karena refleks, dia berniat untuk bersembunyi karena malu, tetapi mereka sudah saling bertukar pandang. Sekarang sudah terlambat untuk menutup tirai.
Sementara Christina mematung, Rio melambaikan tangan ke arahnya dalam diam sambil tersenyum.
Tanpa suara, Christina membalas senyuman itu dengan canggung dan melambaikannya kembali. Rio meletakkan tangannya di dada sebagai gestur hormat sebelum melanjutkan latihannya.
Apakah dia tidak merasa terganggu karena ditonton olehnya? Jika begitu, apakah tidak apa-apa baginya untuk terus melakukannya? Dengan pemikiran itu, Christina terus memperhatikan Rio saat dia mengayunkan pedang kayunya.
“Christina?”
“Kya?!”
Flora telah terbangun. Dia memanggil dari belakang Christina, membuatnya tersentak kaget.
“Flora…”
Jangan mengagetkanku seperti itu, pikir Christina, tetapi itu bukanlah sesuatu hal untuk memarahi adiknya. Dia hanya tertangkap basah dalam momen yang tidak ingin dilihat oleh siapa pun.
“Apa yang sedang Kakak lihat?” tanya Flora dengan penasaran, sambil duduk di atas tempat tidur.
“Bukan apa-apa. Matahari pagi tadi terasa sangat menyenangkan,” jawab Christina dengan tenang.
“Kalau begitu, buka tirainya. Aku ingin merasakan sinar matahari juga.”
“Kamu tidak mau tidur lagi?”
“Tidak. Aku tidur dengan sangat nyenyak, sekarang aku sudah terbangun sepenuhnya. Ini pagi yang luar biasa,” kata Flora dengan senyuman tanpa beban.
“Kebetulan sekali. Aku juga baru saja memikirkan hal yang sama.”
Christina tersenyum lembut dan menyetujuinya. Dia membuka tirai lebar-lebar, menyambut cahaya matahari pagi ke dalam kamar.
“Cuacanya sangat indah,” kata Flora, menyipitkan mata menatap cahaya matahari di luar jendela.
“Sir Amakawa sudah bangun dan sedang berlatih di taman.”
Pemandangan itu bisa terlihat jelas dari luar jendela. Karena Flora cepat atau lambat akan mengetahuinya, Christina memutuskan untuk mengatakannya terlebih dahulu.
“Wah, begitu ya? Itulah Sir Rio,” kata Flora dengan mata membelalak kagum. “Begitu ya…”
Dia tampaknya menyadari sesuatu—atau mencapai suatu pemahaman—saat dia tersenyum ceria.
Komentar