Seirei Gensouki Volume 26 Bab 1: Rio dan Miharu Bahasa Indonesia
Bab 1: Rio dan Miharu
Hari di mana Rio mengalahkan golem, tepat pada malam harinya, Miharu sedang mengunjungi dunia mimpinya. Dia berada di sana untuk mempertanyakan kepada Lina tentang alasan dia mencium Rio saat dia merasuki tubuh Miharu.
Dunia mimpi itu adalah ruang putih bersih. Lina tidak bisa dilihat secara fisik, tetapi tetap bisa berbicara tanpa masalah. Karena itulah, Miharu meneriaki Lina.
“Jadi pada akhirnya, siapa yang sebenarnya kamu cintai? Amakawa Haruto atau Rio?” tanya Lina, justru membalikkan keadaan padanya.
“Eh…?” Miharu begitu terkejut hingga dia tampak seperti baru saja ditampar.
“Ada apa? Tidak bisa menjawab?” suara Lina berkata dengan tenang, tidak peduli dengan keterkejutan Miharu.
“A-Apa maksudmu dengan ‘yang mana’? Kenapa kamu malah ngomong begitu?” seru Miharu terbata-bata dengan suara melengking.

Dia jelas-jelas kebingungan karena pertanyaan itu. Meskipun begitu, dia pernah menanyakan hal yang sama pada dirinya sendiri, dulu sekali saat Kerajaan Galarc mengadakan perjamuan—tepat setelah dia mengetahui bahwa kehidupan masa lalu Rio adalah Amakawa Haruto.
Dia sudah menemukan jawabannya.
“Setelah perjamuan yang diadakan oleh Kerajaan Galarc, kamu berkata kepada Sendo Takahisa bahwa itu adalah keduanya. Bahwa kamu mencintai Amakawa Haruto sekaligus Rio dari dunia ini.”
Ini keduanya. Kurasa aku mencintai mereka berdua. Haruto dari sebelum dia berinkarnasi dan Haruto yang sekarang. Aku jatuh cinta pada orang yang sama sebanyak dua kali.
Miharu sendirilah yang mengucapkan kata-kata itu kepada Takahisa ketika pemuda itu mencoba menculiknya dari Galarc. Dengan kekuatannya untuk melihat masa depan, tidak heran jika Lina tahu apa yang dia katakan.
“Kamu juga tahu soal itu?” tanya Miharu dengan meringis.
“Tentu saja aku tahu; kamu adalah reinkarnasiku,” kata Lina terus terang. Dia kemudian menambahkan dengan kejam, “Jadi, kenapa kamu tidak bisa menjawabku tadi?”
“Aku tadi hanya terkejut dengan pertanyaanmu yang tiba-tiba…!”
“Jadi perasaanmu tidak berubah, begitu?”
Miharu terdiam sejenak sebelum mengangguk. “Itu benar,” katanya.
“Benarkah?” balas Lina langsung, terdengar meragukan.
“Itu kenyataannya. Aku benar-benar memikirkannya,” ujar Miharu sambil meletakkan tangan di dadanya. Dia mencintai Rio dan Amakawa Haruto. Perasaan itu sama sekali tidak berubah. Jadi, kenapa dia merasa begitu terguncang saat memberikan jawabannya?
“Sepertinya kamu masih belum bisa mengambil keputusan,” tunjuk Lina.
“Bukan itu masalahnya,” kata Miharu tegas sambil menggelengkan kepala.
“Kalau begitu, biarkan aku mengubah pertanyaannya. Jika Amakawa Haruto muncul di dunia ini, siapa yang akan kau pilih di antara Rio dan dirinya?”
“Situasi berandai-andai seperti itu tidak masuk akal. Haruto sudah meninggal dan menjadi orang yang kau kenal sekarang.”
“Kalau begitu, mari kita ubah lagi. Bagaimana jika kau memiliki kesempatan untuk kembali ke Bumi sebelum Amakawa Haruto meninggal? Apakah kau akan meninggalkan Rio dan pergi?”
“I-Itu… masih berupa pengandaian…”
Pada akhirnya, pertanyaan tentang apakah dia akan memilih Haruto atau Rio tidak berubah. Namun, berkat kepribadian Miharu yang serius, dia tetap memikirkan pertanyaan itu dengan hati-hati, meskipun dengan enggan.
“Secara teknis, itu bukan hal yang tidak mungkin.”
Miharu mengerjap. “Apakah mungkin untuk kembali ke Jepang?”
“Jika kami bisa memanggilmu ke dunia ini, seharusnya tidak begitu aneh bagi kami untuk mengirimmu kembali, bukan? Yah, itu sama realistisnya dengan mencari satu permata di gurun pasir yang luas.”
“Tapi untuk kembali sebelum Haruto meninggal…”
“Apa kamu lupa? Kamu tersesat ke dunia ini empat tahun sebelum Amakawa Haruto meninggal. Kenapa kamu tidak berasumsi kalau kamu akan kembali sebelum dia meninggal? Jika kamu kembali saat ini juga, itu akan kurang dari setahun sejak kamu tiba di sini.”
“Itu benar. Tapi kalau begitu, bagaimana bisa Haruto terlahir kembali di dunia ini sebelum dia meninggal di sana?”
Miharu tampak tidak yakin. Empat tahun setelah Ayase Miharu dibawa ke dunia ini, Amakawa Haruto telah meninggal di Bumi. Namun Rio telah menyimpan ingatan Amakawa Haruto selama sembilan tahun sebelum Miharu tiba di sini.
“Kita akan menyimpang dari topik jika kita terus membahas garis waktu. Jawab saja pertanyaanku untuk saat ini. Jika kamu bisa kembali ke Bumi sebelum Amakawa Haruto meninggal, apakah kamu akan memilih untuk melakukannya?”
Singkatnya, apakah dia akan tinggal di dunia ini bersama Rio, atau kembali ke Bumi untuk menemui Amakawa Haruto lagi?
Miharu hendak mengatakan sesuatu, tetapi kembali menutup mulutnya.
“Nah, kan? Ternyata kamu tidak bisa menjawab. Kamu tidak bisa memilih antara Amakawa Haruto dan Rio.”
“I-Itu karena masa lalu Rio adalah Haruto… Aku tidak bisa menganggap mereka sebagai orang yang berbeda.”
“Tapi jauh di lubuk hati, kamu tahu kan?” tanya Lina, suaranya bergema di ruang putih itu.
“Tahu apa?”
“Bahwa Rio tidak bisa menjadi Amakawa Haruto. Bahwa keduanya adalah orang yang berbeda.”
Miharu tidak mampu mendebat perkataan Lina. Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam.
“Kamu jatuh cinta pada Amakawa Haruto dan juga Rio. Tidak ada pertentangan di situ. Perasaanmu tulus. Tapi kamu belum bisa move on sejak perjamuan itu. Itulah sebabnya kamu tidak bisa memilih di antara keduanya.”
Menusuk, menusuk. Kata-kata Lina bagaikan belati tajam yang menghujam hati Miharu.
“Makanya hubunganmu dengan dia tidak ada kemajuan,” pungkasnya.
Seluruh tubuh Miharu gemetar.
“Apa kamu mengerti? Mengatakan kalau kamu mencintai Rio sekaligus Amakawa Haruto itu sama saja dengan menyatakan kalau kamu mendua,” kata Lina, kata-katanya menghujam hati Miharu.
“T-Tidak! Bukan itu—!” Miharu berusaha menyangkalnya dengan panik, tetapi Lina memotong ucapannya.
“Aku tidak salah. Lagipula, kamu bahkan tidak bisa memilih di antara keduanya sampai sekarang,” ujarnya.
“Tapi Haruto memiliki ingatan itu. Itu tidak mengubah fakta bahwa dia adalah reinkarnasi Haru-kun.” Suara Miharu melemah dan memudar.
“Tidak, Rio lahir sebagai Rio. Rio tidak bisa menjadi siapa pun selain Rio—bahkan jika dia dipengaruhi oleh ingatannya tentang Amakawa Haruto. Dia sendiri yang mengatakannya, kan?”
Miharu benar-benar terdiam seribu bahasa.
“Kamu menaruh perasaan pada Amakawa Haruto sekaligus menaruh perasaan pada Rio. Bagi Rio, itu sangat merepotkan—terus-menerus dibandingkan dengan pria lain, maksudku.”
“Ah…” Ekspresi rasa bersalah yang kuat terbersit di wajah Miharu.
“Jika situasinya dibalik… jika kamu jatuh cinta pada Rio terlepas dari Amakawa Haruto, kamu akan dapat memilih Rio dengan penuh keyakinan. Masa depan yang berbeda mungkin bisa terjadi.”
“Masa depan yang berbeda?”
“Masa depan di mana kamu tertarik pada Rio tanpa mengetahui apa pun tentang kehidupan masa lalunya. Itu sangat mungkin terjadi. Di masa depan itu, Rio juga mencintaimu. Dia bahkan mengutarakan perasaannya kepadamu.”
“Eh?” Miharu tertegun, tidak mampu memahami perkataan Lina.
“Rio memilihmu di antara semuanya. Dia menyatakan cintanya pada perjamuan itu.”
“Tidak mungkin…” Napas Miharu tertahan di tenggorokannya. Dia tidak bisa membayangkan masa depan seperti itu.
“Itu kenyataan. Namun, itu adalah masa depan yang sama di mana Takahisa secara paksa membawamu ke Centostella. Tapi bahkan jika kamu berpisah dari Rio, kamu akan lebih bahagia daripada keadaanmu sekarang, bukan? Karena kamu bisa memonopoli seluruh perasaan Rio untuk dirimu sendiri,” kata Lina dengan senyum penuh keusilan dalam suaranya.
Miharu tidak mampu mengatakan hal lain.
“Tapi kamu bahkan tidak bisa memutuskan satu hal ini pun.” Sedikit nada remeh terdengar dari suara Lina yang bergema.
“Ah…” Miharu tersentak.
“Sayangnya, wanita yang setengah-setengah seperti itu tidak bisa diandalkan. Bukan berarti Rio akan mengandalkanmu sejak awal. Tapi apakah kamu berencana untuk tetap berada dalam keadaan ragu-ragu itu selamanya? Apakah kamu akan terus menunggu Rio mengambil tindakan?”
“Itu…”
“Yah, bahkan jika dia tidak bisa mengandalkanmu, dia punya banyak gadis berbakat lain untuk diandalkan. Seperti Aishia, Sora, atau Celia. Selama kamu meminjamkan tubuhmu kepadaku saat kamu tidur, kamu bisa terus disingkirkan dari berbagai hal. Hanya saja, jangan berharap akan ada masa depan di mana kamu bisa bersatu dengan Rio,” kata Lina dengan dingin. “Apakah kita sudah selesai sekarang? Aku tidak punya hal lain untuk dikatakan kepadamu, jadi aku ingin mengakhiri percakapan ini.”
“T-Tunggu sebentar!” teriak Miharu buru-buru.
“Apa?”
“Aku belum selesai. Aku… Aku juga serius. Aku benar-benar mencintai Haruto yang sekarang,” kata Miharu, menyatakan pendiriannya dengan tegas kepada Lina.
“Lalu kenapa?” Perkataan Lina kepada Miharu masih terdengar dingin dan acuh tak acuh, tetapi Miharu tidak ciut.
“Aku tidak setengah-setengah. Aku tidak tahu apa yang ingin kamu lakukan, tapi aku ingin Rio mengandalkanku juga. Aku ingin bisa diandalkan. Dan aku siap melakukan apa pun. Aku tidak ingin menjadi satu-satunya yang disingkirkan.”
Jarang sekali mendengar penegasan diri yang begitu jelas darinya.
“Hmm. Baik kalau begitu. Aku akan memberimu kesempatan. Kamu memegang kendali atas tubuh fisikmu, dan aku hanya bisa merasukimu saat kamu tidur. Kita tidak bisa berkomunikasi seperti ini saat kamu bangun, jadi akan sangat membantuku juga jika kamu bisa lebih bisa diandalkan.”
“Apa yang ingin kamu suruh aku lakukan?”
“Tidak ada, aku hanya akan menonton. Aku tidak bisa mempercayai kata-katamu saja—buktikan padaku melalui tindakanmu. Tunjukkan padaku kalau kamu bisa diandalkan,” kata Lina, dengan nada yang terdengar seperti sedang bersorak gembira.
“Baiklah.” Balasan Miharu terdengar pelan saat dia menyembunyikan tekad kuatnya.
“Asalkan kamu tidak berputar-putar di tempat dan malah menimbulkan lebih banyak masalah untuknya.”
“A-Aku tahu itu.”
Peringatan bernada menggoda dari Lina membuat Miharu mengerutkan kening dengan cemberut.
◇ ◇ ◇
Sementara Miharu sedang berbicara dengan Lina di dunia mimpi, Miharu di dunia nyata berada di dalam sebuah kamar tidur di kediaman Rio di Kastil Galarc. Lina saat ini sedang mengendalikan tubuhnya dan menggunakannya untuk berbicara kepada Rio. Rio sama sekali tidak tahu bahwa Lina sedang berbicara kepadanya dan kepada Miharu yang sedang tidur di alam mentalnya pada saat yang bersamaan.
Lina telah mengeluarkan artefak sihir berbentuk anting dari suatu tempat dan menggunakannya untuk berubah ke wujud aslinya. Menggunakan tubuh Miharu, dia telah mendorong Rio jatuh ke atas tempat tidur dan mengangkanginya, lalu memberikan tiga buah saran.
“Pertama, mencari petunjuk tentang apa yang terjadi seribu tahun lalu di dalam labirin adalah hal yang sia-sia. Jika kamu ingin mencarinya, sebaiknya kamu mencarinya di tempat lain. Kedua, kamu harus mendapatkan lebih banyak murid selain Sora. Jika kamu tidak membuat murid-murid baru, pada akhirnya kamu mungkin akan menyesalinya. Dan yang ketiga: Menurut pendapatku… murid baru pertama yang harus kamu dapatkan adalah Christina Beltrum.”
Saran itu sama sekali tidak dapat diterima oleh Rio, itulah sebabnya keheningan yang panjang meliputi mereka berdua.
“Bagaimana? Apa kamu akan memilih Christina Beltrum sebagai muridmu?” tanya Lina, menyeringai menggoda saat dia mengangkangi Rio.
“Itu tidak mungkin,” tolak Rio.
“Kenapa?”
“Dia adalah putri pertama Kerajaan Beltrum. Dia bertanggung jawab atas Restorasi dan masa depan kerajaan asalnya.”
Murid adalah pelayan dari makhluk-makhluk transenden. Begitu mereka menjadi murid, mereka akan dikeluarkan dari logika dunia dan tidak lagi tertinggal dalam ingatan orang-orang. Itulah sebabnya Rio secara mentah-mentah menolak menjadikan Christina sebagai murid dari seorang makhluk transenden.
“Benar,” setuju Lina dengan santai.
Dia setuju? Kalau begitu, kenapa dia mengusulkannya sejak awal?
Rio tampak bingung. Dia tidak bisa membayangkan wanita itu akan menjawabnya meskipun dia bertanya, tetapi dia memutuskan tetap mencobanya.
“Apa kamu mau menjelaskan alasanmu?”
“Sayangnya, tidak. Aku tidak ingin mengatakan sesuatu yang nantinya bisa memengaruhi masa depan tanpa alasan yang jelas.”
“Begitu ya…”
“Seperti yang harusnya kamu tahu, itu tadi hanyalah saran. Pilihan akhirnya ada di tanganmu. Kamu boleh saja tidak sepenuhnya mempercayai apa kataku—selama kamu memikirkannya dengan serius.”
“…”
“Yah, simpan saja dulu itu di dalam benakmu. Tentu saja, semakin cepat kamu membuat keputusan, maka akan semakin baik.” Lina tersenyum cerah melihat raut wajah Rio yang cemberut dan terdiam; sangat jelas bahwa dia merasa sangat enggan dengan gagasan itu.
Setidaknya dia memberiku waktu untuk berpikir. Tapi meskipun begitu…
Bahkan tidak ada hal yang perlu dipertimbangkan—menerima Christina sebagai murid adalah hal yang tidak mungkin. Dia tidak punya niat untuk menjadikan siapa pun murid.
“Omong-omong, kamu bisa memiliki maksimal enam murid. Jika kita mengecualikan Sora dan Christina, kamu bisa menerima empat murid lagi.”
“Kukira setiap makhluk transenden hanya boleh memiliki tiga murid?” tanya Rio, matanya melebar saat dia mengingat apa yang dikatakan Sora kepadanya.
“Kamu memiliki keilahian Raja Naga dan keilahian yang kupercayakan kepada Aishia. Saat ini kamu memegang keilahian dari dua orang, jadi kamu bisa memiliki jumlah murid dari dua orang.”
“Begitu ya,” jawab Rio, namun dia langsung merasa semakin waspada.
Jangan bilang dia ingin membuat jumlahnya sampai maksimal…
Dia sudah merasa sangat jijik pada pemikiran untuk mengangkat satu murid saja—membuat lima murid lagi selain Sora adalah hal yang sama sekali mustahil.
“Kita bisa membahas keempat murid lainnya di lain waktu. Fokuslah pada Christina dulu,” kata Lina, seolah-olah dia tahu apa yang sedang dipikirkan Rio.
Rio tidak bisa mengatakan ya atau tidak.
“Selain itu, kamu mengambil inti golemnya, kan? Bisakah aku memilikinya?” Lina sepertinya sudah selesai dengan topik tentang murid, karena dia dengan cepat mengalihkan pembicaraan.
Rio menguasai dirinya kembali sambil menghela napas dan menggunakan Time-Space Cache. “Dissolvo.” Ruang di dekat tangannya terdistorsi, dan dua bola transparan yang lebarnya sekitar sepuluh sentimeter muncul di masing-masing tangannya.
“Terima kasih. Aku akan mengurus ini. Repono.” Lina mengucapkan sebuah mantra, dan ruang pun terdistorsi sekali lagi. Kedua bola di tangan Rio lenyap.
“Kamu tidak punya Time-Space Cache, kan?” tanya Rio terkejut.
“Benar. Aku baru saja menciptakan sesuatu yang serupa menggunakan sihir,” jelas Lina dengan santai.
“Begitu ya…”
Rio tercengang. Sihir yang disegel di dalam Time-Space Cache sangatlah kompleks. Sepengetahuan Rio, mantra itu belum dikonversi menjadi sihir yang bisa dipelajari, namun dia melakukannya dengan begitu mudahnya. Sepertinya dia memang bukan Dewa Bijak di masa lalunya secara cuma-cuma.
Rio menelan rasa terkejutnya dan baru kemudian mengajukan pertanyaan yang ada di benaknya. “Tapi bukankah Miharu seorang pengguna seni roh?”
Pengguna seni roh tidak dapat merapal seni roh jika mereka memasukkan rumus mantra sihir apa pun ke dalam tubuh mereka. Miharu telah berlatih menggunakan seni roh, jadi dia seharusnya tidak bisa menggunakan sihir. Karena mereka berbagi tubuh yang sama, hal ini seharusnya berlaku pada Lina juga.
“Itulah kenapa aku telah mengubahnya menjadi seorang penyihir,” kata Lina, membalikkan asumsi Rio.
“Kamu membuat kontrak mantra untuknya? Kapan…”
“Beberapa hari yang lalu. Saat dia sedang tidur.”
“Apakah Miharu mengetahuinya?”
“Dia mungkin belum menyadarinya. Aku malas memberitahunya, jadi kamu saja yang jelaskan padanya,” kata Lina dengan acuh tak acuh.
“Apa kamu bisa berkomunikasi dengan Miharu?”
“Hanya saat dia sedang tidur, melalui dunia mentalnya. Aku hanyalah bayangan dari Ayase Miharu, jadi aku hanya bisa keluar seperti ini saat dia tertidur.”
“B-Begitu ya…”
“Jadi, jangan pikir aku bisa keluar kapan pun aku mau. Kenyataannya, aku tidak berniat berinteraksi dengan kalian semua lebih dari yang diperlukan, jadi ingatlah itu. Akulah yang akan menghubungi jika diperlukan. Sama seperti yang kulakukan sekarang,” ujarnya sambil tersenyum.
“Kenapa?”
“Pertama-tama, kondisi ini sangat tidak efisien dalam hal energi. Miharu memiliki banyak esensi sihir, tetapi jika aku terus merasuki tubuhnya dalam waktu lama, energinya akan habis. Waktu yang kuhabiskan untuk aktif adalah waktu di mana tubuh Miharu tidak beristirahat dengan benar, dan berada dalam wujud ini saja sudah menjadi beban baginya.”
“Masuk akal.” Rio juga tidak ingin melihat Miharu menanggung beban penggunaan sihir Lina.
“Alasan lainnya adalah karena aku tidak ingin ditarik ke garis depan untuk menyelesaikan masalah. Aku tidak bisa menjawab sebagian besar pertanyaan kalian, dan aku tidak ingin mengubah masa depan menjadi lebih buruk. Makhluk transenden tidak seharusnya begitu aktif terlibat dengan orang-orang di dunia ini. Kau harus menjelaskan hal itu kepada yang lainnya.”
“‘Tidak seharusnya aktif terlibat dengan dunia ini…’ Begitu ya. Aku mengerti.”
Perkataan Lina tampak membebani pikiran Rio, saat ia mengangguk dengan ekspresi patuh.
“Kau benar-benar memiliki kepribadian yang serius, ya? Kau mirip sekali dengan Raja Naga seribu tahun yang lalu, meskipun kau seharusnya adalah orang yang berbeda.” Lina menatap Rio dari atas dengan pandangan yang tampak menerawang, tersenyum penuh kasih mengenang masa lalu.
“B-Benarkah?” Bingung, Rio memiringkan kepalanya dengan rasa penasaran.
“Ya. Tapi dalam kasusmu, kau seharusnya menikmati saat ini sepuasnya. Selama kau berada di dalam penghalang ini, kau adalah Rio, bukan Raja Naga. Kau punya hak untuk itu. Lagipula, bahkan Ayase Miharu bertindak terlepas dariku,” kata Lina dengan nada jenaka.
“Baiklah,” ujar Rio, mengangguk sambil tersenyum masam.
“Jadi, adakah sesuatu yang ingin kau tanyakan kepadaku? Kau tidak akan sering mendapat kesempatan seperti ini, dan selama itu tidak mempengaruhi masa depan, aku tidak keberatan menjawabmu.”
“Apakah inti golem yang kau ambil bisa digunakan lagi?”
Itu adalah pertanyaan yang menyangkut masa depan sejak awal, tetapi Rio tetap menanyakannya, karena dia tidak tahu seberapa toleran Lina nantinya. Lina tersenyum puas, melihat melalui niat Rio.
“Butuh waktu, karena benda-benda itu dilindungi, tapi pada akhirnya bisa,” jawabnya.
“Siapa yang mengaktifkan golem-golem itu?”
“Masa depan bisa menyimpang jauh jika aku memberitahumu hal itu sekarang, jadi itu harus dirahasiakan.”
Pertanyaan itu sendiri mengenai peristiwa masa lalu, namun tampaknya jawabannya akan mempengaruhi masa depan. Lina menolak untuk bicara, berharap untuk tetap berpegang pada masa depan yang diinginkannya.
“Mengerti.”
Rio sebenarnya ingin tahu jawabannya, tetapi dia memahami syarat-syarat yang diberikan Lina. Itu adalah informasi yang tidak bisa didapatkan melalui cara lain, jadi dia dengan enggan menerima jawabannya.
“Apakah ada cara untuk melepaskan spirit tingkat tinggi teratas dari seorang pahlawan?” tanyanya kemudian.
“Sayangnya, tidak ada. Kontrak spirit menyatukan spirit dan manusia pada tingkat jiwa. Begitu kontrak spirit terikat, kontrak itu tidak dapat diputus sampai pihak yang dikontrak mati.”
“Begitu ya… Pertanyaan lanjutanku adalah ini—apakah topeng-topeng itu bisa direplikasi?”
Ini adalah kesempatan langka, jadi Rio menanyakan setiap pertanyaan yang bisa dia pikirkan. Tentu saja, topeng yang dia maksud adalah topeng yang dapat menanggung beban aturan transenden. Dia telah menghabiskan satu topeng dalam pertarungan melawan golem, jadi dia hanya memiliki dua topeng bagus yang tersisa.
“Bahan-bahannya sulit diproses, jadi benda itu tidak bisa langsung direplikasi. Kamu harus puas dengan ini untuk sekarang. Ini adalah cadanganku dari seribu tahun lalu. Dissolvo.”
Lina mengucapkan mantranya dan mengeluarkan lima topeng baru. Topeng-topeng itu jatuh ke atas tempat tidur yang empuk.
“Terima kasih.”
“Tidak perlu berterima kasih padaku. Kamulah yang membantuku.”
“Kalau begitu ini bagus… Kalau dipikir-pikir, Celia menyebutkan tentang sanggar kerja di bawah Kastil Galarc. Kapan kamu membuat itu?”
“Aku menyiapkannya setelah Perang Ilahi berakhir. Aku tahu bahwa Kerajaan Galarc akan dibangun di atas tanah ini. Dan bahwa para golem akan menyerang.”
“Aku dengar kamu terluka parah dalam Perang Ilahi… Tapi kamu selamat?” tanya Rio.
“Aku terluka sampai pada titik di mana kematian tidak dapat dihindari, tetapi aku merawat luka-lukaku dan memperpanjang hidupku sekadar untuk bersiap menghadapi masa depan. Meskipun begitu, waktunya benar-benar tidak cukup, jadi aku tidak bisa melakukan hal yang berarti.”
“Seperti apa fasilitas bawah tanah itu?”
“Ada ruang untuk mengendalikan penghalang, ruang tinggal, laboratorium penelitian, dan gudang. Aku bahkan bisa mengajakmu ke sana suatu saat nanti. Aku toh berencana membawa Celia ke sana lagi, jadi aku akan membuat tempat itu agar kamu dan teman-temanmu bisa keluar masuk dengan bebas.”
“Terima kasih banyak. Bolehkah aku memberitahu hal ini kepada Raja Francois? Aku yakin dia juga ingin tahu apa yang terjadi di bawah kastil.”
“Ya, tidak apa-apa. Letaknya sangat dalam, jadi itu tidak akan berdampak apa pun pada fondasi kastil, katakan padanya untuk tidak mengkhawatirkan hal itu. Tempat itu juga tidak bisa diakses tanpa izinku, jadi itu bukan risiko keamanan.”
“Dimengerti.”
“Jadi, ada pertanyaan lain? Aku sedang memberimu bonus pertama kali sekarang, tapi aku mungkin akan membatasi jumlah pertanyaannya segera.”
“Bukankah kamu sudah tahu apa yang akan aku tanyakan?”
Lina pernah memiliki kekuatan untuk melihat masa depan, jadi tidak aneh jika dia sudah tahu apa yang akan terjadi dalam percakapan ini.
“Jawabannya adalah ya. Aku sudah tahu apa yang akan kamu tanyakan padaku dalam percakapan ini dari awal,” kata Lina, mengangguk dengan senyum lebar yang penuh percaya diri.
“Begitu ya…”
“Menurutmu percuma mengadakan percakapan yang sudah kulihat sebelumnya? Atau bahkan menyeramkan, mungkin?”
Dia tahu apa yang akan terjadi, namun memilih untuk menonton tanpa mengubah keadaan. Wajar saja jika orang lain menganggap hal itu menyeramkan. Kenyataannya, bahkan ada beberapa makhluk transenden yang menganggap Lina menyeramkan, tapi…
“Sama sekali tidak.” Rio menggelengkan kepala setelah tertegun sejenak, lalu tersenyum lembut.
“Kenapa?”
“Informasi yang kudapatkan dengan mengajukan pertanyaanku sendiri jauh berbeda dari informasi yang diberikan begitu saja tanpa diminta. Aku bisa memahami yang pertama dengan jauh lebih baik.”
“Jawaban yang luar biasa. Ada artinya mengadakan percakapan ini denganmu,” kata Lina dengan gembira, seolah-olah dia sedang memuji murid yang berkelakuan baik. “Selain itu, tidak butuh banyak hal untuk mengubah masa depan. Bahkan detail terkecil dari percakapan kita bisa mengubah keadaan. Parahnya lagi, itu bahkan bisa berubah tanpa aku sadari.”
Mata Rio membelalak. “Bahkan ketika kamu sudah melihat masa depan?” tanyanya.
“Ada jumlah informasi yang sangat besar dalam hal masa depan. Jumlah cabang kemungkinannya tak terbatas, jadi informasi tentang masa depan dengan probabilitas rendah akhirnya mendapat prioritas lebih rendah—dan terkadang lolos dari celah.”
“Begitu ya…”
“Jika sebuah perubahan yang seharusnya tidak ada malah terjadi, itu menghasilkan masa depan yang hampir mustahil. Hal itu sebenarnya cukup lumrah—kapan pun percakapannya menyimpang dari apa yang kuketahui, itulah yang sedang terjadi. Namun, meskipun percakapan yang tidak dapat diprediksi itu mengasyikkan, itu adalah masalah yang berbeda untuk peristiwa-peristiwa besar.” Lina menghela napas lelah.
“Dan itulah sebabnya kamu tidak ingin melakukan apa pun yang dapat memengaruhi masa depan?”
“Ya, karena aku juga tidak tahu bagaimana masa depan akhirnya bisa berubah. Aku tidak suka menciptakan perubahan, dan aku lebih suka menonton dalam diam bahkan jika sebuah masalah terjadi. Jika aku harus menangani sesuatu sendiri, umumnya aku akan melakukannya setelah peristiwa itu selesai. Tentu saja, ada pengecualian khusus.” Lina menyeringai kejam tanpa menjelaskan apa pengecualian khusus itu nantinya.
“Aku mengerti. Aku akan memastikan untuk tidak menyalahkanmu karena tidak mencegah hal-hal yang kamu tahu akan terjadi.”
Adalah hal yang wajar untuk ingin tahu tentang masalah sebelumnya, namun Rio tersenyum kepada Lina tanpa menuntutnya.
“Ada manusia yang tidak bisa menerima hal itu bahkan ketika mereka memahami alasannya. Itu tidak semudah itu, itulah sebabnya kamu sangat mirip dengan Dragon King.”
Hubungan seperti apa yang dimiliki Lina dan Dragon King di masa lalu? Sebuah ingatan tampak melintas di benak Lina, saat dia menatap Rio seolah-olah dia ingin mengatakan sesuatu. Tetapi dia mengerucutkan bibirnya dan menelan kata-katanya.
“Aku juga tahu di mana Sendo Takahisa berada, tapi aku tidak bisa memberitahumu lokasinya. Bukan, aku tidak akan memberitahumu,” ujarnya dengan nada agak ketus dan agak cemberut.
“Aku tadinya hendak menanyakan hal itu…”
“Aku tahu.”
Rio mengeluarkan tawa kecil yang kaku. “Tentu saja…”
“Kamu terlalu baik kepada pria sepertinya. Dia juga melecehkanmu karena cemburu. Dia tidak layak untuk kaupusingkan,” kata Lina sambil mendesah.
“Dia tetap saja kakak laki-laki Aki dan Masato, serta teman Miharu dan Satsuki.”
“Begitu ya. Kalau begitu, aku akan memberitahumu sekadar cukup agar tidak memengaruhi masa depan. Dia baik-baik saja. Dia kabur bersama seorang pelacur dan sedang bersenang-senang menikmati hidupnya bersama wanita itu.”
“Begitu… ya…”
“Kalian akan dipertemukan kembali pada waktunya. Kamu juga bisa memberi tahu yang lain agar mereka merasa tenang.”
“Mengerti.” Rio mengangguk dalam-dalam. Mengetahui Takahisa aman cukup memberinya ketenangan.
“Baiklah, kalau begitu sudah saatnya aku membatasi pertanyaannya. Ini adalah pertanyaan terakhir yang akan kujawab secara bebas. Pertanyaan berikutnya akan memunculkan banyak pertanyaan turunan, jadi itu akan ikut diperhitungkan.”
“Aku mengerti. Kalau begitu, aku ingin bertanya secara detail tentang bagaimana orang-orang yang dipanggil ke sini dari Bumi bisa kembali ke rumah.”
“Ada perbedaan besar dalam jumlah perhitungan yang diperlukan antara memanggil dan mengirim pulang. Koordinat, garis waktu, dan lain-lain sebagainya. Ada terlalu banyak faktor tidak pasti untuk bisa memastikannya, tetapi bahkan jika aku mulai menghitung untuk mengirim mereka kembali ke Bumi detik ini juga, mereka sudah sangat beruntung jika bisa kembali dalam masa hidup mereka.”
“Kalau begitu… bisakah kamu mulai melakukan perhitungan itu sekarang?”
“Aku sudah menduga kamu akan bilang begitu, jadi aku sudah melakukannya,” jawab Lina santai.
Rio tampak terkejut dengan gembira.
“Terima kasih banyak,” ucapnya mencoba, tetapi…
“Masih terlalu cepat untuk berterima kasih. Jika mereka kurang beruntung, mereka tidak akan bisa kembali di masa hidup ini. Jangan beri mereka harapan palsu tentang kepastian bisa pulang ke rumah,” ucapnya memperingatkan.
“Baiklah… Aku mengerti.” Rio mengangguk, ekspresinya mengeras. “Tapi aku juga punya informasi mengenai hal ini. Meskipun, ini tentang masa depan di Bumi.”
“Tentu saja. Lagipula, kamu hidup di Bumi sebagai Amakawa Haruto selama empat tahun setelah Miharu dan yang lainnya dipanggil ke sini.”
“Beberapa saat sebelum aku mati sebagai Amakawa Haruto, aku menemui ibuku. Saat aku bertanya padanya tentang Aki, dia bilang Aki baik-baik saja…”
“Oh, begitu ya? Lalu?”
Lina bereaksi seolah-olah dia belum pernah mendengar hal ini sebelumnya dan mendesak Rio untuk melanjutkan.
“Tentu saja, ada kemungkinan ibu Amakawa Haruto berbohong. Tapi aku berharap ini berarti perhitunganmu akan selesai dalam waktu dekat,” kata Rio sambil menatap Lina untuk menunggu tanggapannya.
“Aku tidak bisa memberitahumu kapan perhitunganku akan selesai,” tegas Lina sambil tersenyum.
“Aku tahu. Aku tidak sedang mencoba mengorek informasi lebih banyak darimu.”
Dia tidak bisa membayangkan dirinya bisa mengakalinya. Itulah kesan kuat yang dia dapatkan dari percakapan mereka sejauh ini.
“Benarkah? Aku dengan senang hati menerima tantangan apa pun.”
“Yang paling membuatku penasaran adalah garis waktu yang terbalik. Kenapa aku mendapatkan kembali ingatan Amakawa Haruto sebelum mereka datang ke sini padahal dia meninggal setelah mereka menghilang di sana? Hal itu selalu membuatku bingung…”
Itu adalah pertanyaan yang telah Rio pendam sejak pertama kali dia bertemu dengan Miharu dan yang lainnya di sini.
“Jika aku mencoba menjelaskannya dengan benar, aku harus menulis satu tesis penuh.”
“Maksudku, ya, tapi…”
Yang ingin Rio ketahui adalah apakah ada alasan atau tujuan di balik itu yang melampaui logika. Dia kesulitan untuk mengungkapkan bagian itu dengan kata-kata.
“Itu bukan kebetulan,” kata Lina dengan senyuman penuh arti.
“Eh?”
“Fakta bahwa Amakawa Haruto adalah reinkarnasi dari Raja Naga, fakta bahwa Ayase Miharu adalah reinkarnasiku, dan fakta bahwa kamu lahir di sini sebelum Ayase Miharu tersesat ke dunia ini—semua hal ini diatur oleh diriku, berdasarkan masa depan yang kulihat.”
“B-Begitu ya. Kuduga begitu…”
Dia telah membuat hipotesis berdasarkan apa yang Aishia ceritakan kepadanya setelah mendapatkan kekuatan Raja Naga, tetapi mendengarnya langsung dari Lina sangatlah meyakinkan.
“Ada sebuah kebutuhan untuk semua itu. Tapi jangan salah paham—bahkan jika Raja Naga dan aku tidak berinkarnasi, Amakawa Haruto dan Ayase Miharu tetap akan lahir. Dan di setiap masa depan yang ada, Ayase Miharu pasti akan tiba di dunia ini melalui pemanggilan pahlawan. Hal yang sama berlaku untuk Amakawa Haruto yang tewas dalam kecelakaan lalu lintas pada usia dua puluh tahun. Masa depan itu sudah ditentukan sejak awal… Kamu bahkan bisa menyebutnya takdir,” jelas Lina. Takdir mereka sudah ditentukan terlepas dari reinkarnasi tersebut.
“Kamu sudah menyadarinya, kan? Melalui reinkarnasi kita, masa depan Amakawa Haruto dan Ayase Miharu telah diubah. Jika Raja Naga tidak berinkarnasi, kehidupan Amakawa Haruto akan berakhir bersama kecelakaan bus itu. Jika Aishia tidak ditinggalkan sebagai pemandu, Rio akan mati di tangan preman-preman di daerah kumuh. Pengetahuan Amakawa Haruto tentang seni bela diri sangat berguna bagi Rio. Ayase Miharu akan mengakhiri hidupnya sebagai budak di dunia ini tanpa adanya campur tangan.”
“Ah…”
Lina berbicara lebih detail tentang takdir asli Amakawa Haruto, Rio, and Ayase Miharu. Hal itu sangat mengejutkan, membuat Rio terbelalak.
“Aku yakin kamu sudah tahu, tapi orang-orang dari Bumi memiliki esensi sihir yang jauh lebih banyak daripada mereka yang lahir di sini. Itulah mengapa Ayase Miharu sangat cocok untukku jadikan wadah reinkarnasi. Namun, dia masih sangat lemah dalam kondisi ini. Tanpa seseorang untuk melindunginya, dia akan ditangkap dan dijadikan budak, jadi dia butuh seseorang untuk melindunginya. Seseorang itu adalah kamu, Rio, dengan ingatan Amakawa Haruto. Jika kamu tidak memiliki ingatan-ingatan itu, masa depannya akan sangat berbeda.”
Jauh lebih menguntungkan bagi Rio untuk memiliki ingatan Amakawa Haruto saat melindungi Ayase Miharu.
Setiap detail kecil yang mengarah hingga saat ini persis seperti yang dibayangkan Lina seribu tahun lalu. Rio tertegun bisu.
“Selain itu, logika di balik garis waktu yang terbalik pada dasarnya adalah perbedaan antara kelahiran kembali dan teleportasi. Lebih mudah untuk menyesuaikan garis waktu dalam reinkarnasi, yang hanya memindahkan jiwa. Tapi yang ingin kamu tahu adalah kenapa aku memilih untuk membalikkan garis waktu, kan?”
“Ya,” jawab Rio dengan suara parau.
“Sederhana saja: Itu semua demi melindungi Ayase Miharu setelah dia dikirim ke sini. Jika kamu terlahir kembali setelah dia tiba, itu akan sudah terlambat untuk menyelamatkannya, bukan? Aku tidak punya pilihan selain memilih seseorang yang lahir sebelum dia tiba di sini. Kamu memenuhi persyaratan itu dengan sempurna, Rio.”
Rio terdiam.
“Yah? Apakah itu menjawab apa yang ingin kamu ketahui?”
“Ya. Tapi ada satu hal terakhir…”
“Apa?”
“Mengenai Latifa dan Liselotte… Mereka berreinkarnasi bersama Amakawa Haruto. Apakah ada alasan untuk itu?”
Endo Suzune dan Minamoto Rikka—apakah ada arti penting di balik fakta bahwa dua orang yang tewas bersama Amakawa Haruto dalam kecelakaan bus itu juga berreinkarnasi sebagai Latifa dan Liselotte?
“Entahlah?” Lina tersenyum penuh rahasia.
Jika dia menghindari pertanyaan ini, itu berarti hal tersebut pasti melibatkan masa depan yang tidak pasti, bukan? Rio menduga dalam hatinya. Tapi dia mungkin akan segera mengetahuinya pada waktunya.
“Aku mengerti. Cuma itu yang ingin kutanyakan.” Dia dengan patuh berhenti mempertanyakannya.
“Anak baik,” kata Lina, memujinya dengan ekspresi puas.
“Ini semua karena kau sudah menjawab banyak pertanyaanku yang lain. Aku selalu bertanya-tanya mengapa aku memiliki ingatan Amakawa Haruto…”
Keberadaan ingatan orang lain ada di dalam dirinya. Fakta bahwa wanita itu telah menjawab pertanyaan lamanya tentang identitasnya sudah lebih dari cukup.
“Kau berkata begitu, tapi kau masih terlihat belum sepenuhnya puas.”
Lina tidak melewatkan keraguan kecil di mata Rio.
“Itu… tidak sepenuhnya salah. Tapi kurasa pertanyaan tentang siapa diriku seharusnya menjadi sesuatu yang kujawab sendiri. Dan lagipula aku sudah sampai pada sebuah jawaban.”
Dengan kata lain, apakah Rio tetaplah Rio meskipun memiliki ingatan Amakawa Haruto, ataukah dia adalah Amakawa Haruto? Di jamuan Kerajaan Galarc, jawabannya adalah bahwa dia tetaplah Rio. Dia telah mengatakan kepada Miharu bahwa dia tidak bisa berinteraksi dengannya sebagai Amakawa Haruto.
Kenangan masa itu muncul kembali di benaknya, membuatnya tampak kebingungan.
“Apakah kamu merasa ragu atas jawaban yang sudah kamu temukan karena kamu pikir jawaban itu salah?”
Rio tertegun sejenak, lalu menggelengkan kepalanya. “Tidak, kurasa aku tidak salah. Aku adalah Rio, bukan Amakawa Haruto,” ucapnya tegas.
Bagaimanapun juga, dia telah hidup selama ini sebagai Rio. Dia secara konsisten hidup sebagai Rio sebelum dan sesudah mendapatkan kembali ingatan Amakawa Haruto, dan berhasil melaksanakan pembalasan dendamnya.
Dia telah membuat banyak keputusan hingga saat ini yang tidak akan pernah diambil oleh Amakawa Haruto. Dia telah mengotori tangannya bila diperlukan. Itulah sebabnya dia berusaha menjauhkan diri dari Miharu selama jamuan makan. Rio sendiri menolak untuk menjadi Amakawa Haruto.
Oleh karena itu, dia tidak salah. Setelah berhasil membalaskan dendamnya dan kembali dalam kedamaian, sisi Amakawa Haruto dalam dirinya memiliki lebih banyak kesempatan untuk muncul, tetapi…
Sudah terlambat untuk berubah pikiran sekarang. Aku adalah aku. Aku tidak bisa menjadi Amakawa Haruto. Rio memperingatkan hatinya yang goyah.
“Benar. Kamu adalah Rio, bukan Amakawa Haruto,” kata Lina dengan nada lembut.
“Benar.” Rio tampak lega mendengar dukungannya.
“Meskipun begitu…”
“Hah?”
“Tidak, bukan apa-apa,” kata Lina, menarik kembali ucapannya.
“Aneh sekali,” kata Rio dengan senyum masam, berharap dia mau melanjutkan.
“Seperti kubilang, Dewi Lina tidak suka menimbulkan perubahan. Dan aku ini usil,” elak Lina sambil menyeringai usil.
“Benar juga,” setuju Rio, menatapnya lekat-lekat.
Memang benar kamu mungkin tidak bisa menjadi Amakawa Haruto. Tapi tidak diragukan lagi bahwa ingatan Amakawa Haruto telah memengaruhi Rio. Itulah mengapa kamu diizinkan untuk menerima Amakawa Haruto sebagai bagian dari dirimu. Asalkan kamu mampu memaafkan dirimu sendiri dan menginginkannya.
Dengan kata lain, semuanya bergantung pada apakah Rio bisa bersikap lebih longgar pada dirinya sendiri atau tidak. Tatapan di mata Lina melunak dengan lembut.
Yah, jika itu semudah itu, dia tidak akan tumbuh menjadi orang yang keras kepala ini…
Dia adalah pria dengan kendali diri yang lebih keras daripada baja. Tidak akan mudah baginya untuk berubah, tetapi…
Manusia bisa berubah. Mereka memiliki potensi itu di dalam diri mereka. Mereka juga dapat membuat orang lain berubah. Mereka semua memiliki potensi itu. Tapi mengatakan hal itu padanya sudah terlalu baik. Aku tidak ingin melangkah sejauh itu untuk membantu gadis yang tidak bisa diandalkan itu, dan dia juga akan segera menyadari hal serupa dalam waktu dekat.
Dia adalah dewi usil yang tidak suka menimbulkan perubahan. Lina terkekeh geli.
“Ada apa?” tanya Rio, bingung dengan kesunyian selama beberapa detik itu.
“Bukan apa-apa. Aku akan melepaskanmu untuk hari ini.”
“Baiklah…” Rio mengangguk dengan ekspresi bingung.
“Aku akan meninggalkan gadis ini di sini, jadi selamat beristirahat.”
Lina mengucapkan salam perpisahan singkat kepada Rio. Saat melakukannya, Rio merasa seperti mendengar sesuatu yang tidak boleh diabaikan.
“Eh?” Sementara Rio sibuk merasa bingung, Lina menyentuh artefak sihir berbentuk anting di telinganya. Wajahnya menjadi kabur seperti layar televisi bersemut dan berubah menjadi wajah Miharu. Kemudian, Miharu yang tidak sadarkan diri jatuh ke depan dan menimpa Rio.
“Hei?!” Rio terkejut, buru-buru menangkap tubuh Miharu ke dalam pelukannya.
Ke-Kenapa dia tidak bisa membawanya kembali ke kamarnya?
Sungguh hadiah yang luar biasa. Gadis remaja yang ditinggalkan di kamar tidurnya membuat Rio kebingungan. Aroma harum sampo yang menguar dari rambut Miharu semakin memperparah kegelisahannya.
Dia tidak bisa begitu saja membiarkannya tidur di sini. Apakah lebih baik mengembalikannya ke kamarnya sebelum dia terbangun? Untuk saat ini, posisi mereka yang saling berpelukan di atas tempat tidurnya ini sangat tidak pantas, jadi mungkin yang terbaik adalah memindahkannya dari tubuhnya terlebih dahulu. Namun…
“Mm…” Miharu mulai terbangun.
Ya ampun!
Rio menyadari napas Miharu telah berubah. Tubuhnya menjadi kaku—dia tahu dia harus memindahkannya ke tempat tidur secepat mungkin, tetapi melakukannya dalam situasi ini akan menimbulkan kesalahpahaman bagaimanapun caranya.
Rio menyerah dan berbaring lemah, terus memeluk tubuh Miharu.
“Haruto…?” Miharu membuka matanya dan menatap wajah Rio dari dekat.
“Selamat pagi,” kata Rio, suaranya terdengar canggung saat dia menghindari tatapan mengantuknya.
“Hah? Um. Uh…” Miharu kebingungan, seolah-olah otaknya bergerak terlalu lambat untuk memahami situasi dengan benar. Tapi setelah melirik sekeliling ruangan, dia menyadari posisinya yang berada di atas tempat tidur Rio.
“Apa—?!” Wajahnya memerah begitu hebat, seperti dicat. Dia mencoba melompat karena kaget dan hampir jatuh dari tubuh Rio.
“Hati-hati,” kata Rio, menangkap tubuhnya dan memeluknya.
“Hah? Um… K-Kenapa? Kenapa aku… Apakah ini mimpi?”
“Kamu tidak sedang bermimpi.”
“A-Aku berat, kan?! Maaf!”
“Tidak, kamu ringan… Tapi tolong tenanglah dulu. Aku akan menjelaskan situasinya, tapi izinkan aku memindahkanmu ke samping dulu.”
“B-Baiklah…”
“Kalau begitu, permisi.”
Sambil dengan lembut menopang tubuh Miharu di dalam pelukannya, Rio berbalik ke samping. Dengan begitu, Miharu berpindah dari berbaring di dada Rio menjadi berbaring di atas tempat tidur yang empuk. Derit pelan dari tempat tidur kayu itu bergema di kamar yang sunyi. Miharu memejamkan matanya rapat-rapat dan gemetar seperti hewan kecil yang meringkuk.
“Um… Miharu? Tolong buka matamu,” kata Rio dengan suara bermasalah.
“Baiklah…”
Miharu membuka matanya dengan gugup. Dia tidak sanggup menatap Rio secara langsung dan wajahnya masih memerah karena malu.
“Aku tadi sedang berbicara dengan Lina. Dia tiba-tiba mengunjungi kamarku begitu saja.”
Tidak ingin membuat Miharu gugup, Rio berdiri dan menjauhkan diri dari tempat tidur.
Miharu mengulurkan tangannya seolah ingin menghentikannya, tetapi dengan malu-malu menurunkannya kembali dengan raut wajah kesepian. “Ah… begitu ya.”
“Kamu tidak terkejut,” kata Rio dengan membelakanginya.
“Aku sebenarnya baru saja berbicara dengannya di dalam mimpiku.”
“Benarkah?”
“Ya, ada sesuatu yang ingin kukatakan kepadanya.”
“Sesuatu untuk dikatakan?”
“Tentang ci— maksudku, tentang semuanya!”
Miharu nyaris menyebutkan tentang ciuman itu tetapi buru-buru meralat ucapannya. Belum bahkan setengah hari berlalu sejak Lina mengambil alih tubuhnya dan menggunakannya untuk mencium Rio. Ingatan dan rasa malu itu masih segar di benaknya, membuat wajahnya semakin memerah.
“Ya, banyak hal yang terjadi. Dia juga baru saja menggunakan tubuhmu sesuka hatinya.”
Rio bisa menebak apa yang dia rasakan. Punggungnya masih menghadap ke arah Miharu, dan tawanya terdengar agak canggung.
“Y-Ya… Bagaimana denganmu, Haruto? Tunggu, apa dia melakukan hal aneh lagi?! Dia pasti melakukannya, kan?! Kenapa aku bisa jadi seperti itu di atas tempat tidurmu?!”
“Dia tidak melakukan hal yang terlalu aneh. Mungkin.”
“Mungkin?!”
“Kami sedang bertukar informasi. Meskipun aku yang lebih banyak mendengarkan.”
Memang benar bahwa mereka telah berbicara dan berbagi informasi. Rio memutuskan untuk mengunci rapat-rapat bagian di mana Lina mendorongnya ke atas tempat tidur dan mencoba merayunya di dalam ingatannya.
“B-Begitu ya. Tapi kenapa kami berada di atas tempat tidur?”
“Aku belum sepenuhnya pulih dari pertempuran, jadi aku disuruh berbaring dan istirahat. Tapi saat Lina selesai berbicara, dia tiba-tiba mengembalikan tubuhmu kepadamu, dan kau terjatuh ke arahku… Jadi saat aku menangkapmu, kami berakhir dalam posisi itu…”
Rio menjelaskan situasinya dengan nada yang sangat canggung.
“Selain itu, Lina menyuruhku menyampaikan ini padamu—kau sekarang adalah seorang penyihir, bukan pengguna seni roh.”
“Hah?”
“Sepertinya dia membuat kontrak sihir atas kemauannya sendiri… itulah sebabnya kau bisa menggunakan semua sihir itu.”
“B-Begitu ya. Ya ampun…”
Miharu menggembungkan pipinya dengan ekspresi yang jarang sekali ia tunjukkan. Meskipun begitu, punggung Rio masih menghadap ke arahnya, jadi dia tidak bisa melihat hal itu. Ketika Miharu menyadari hal tersebut, dia merasa semakin kesal karena Rio tidak melihatnya.
“Um, Haruto,” kata Miharu, mengumpulkan keberanian untuk memanggilnya.
“Ya?”
“Bisakah kau melihat ke arah sini?”
“Tentu.”
“Aku benar-benar tidak melakukan hal aneh padamu, kan?”
Saat menatap mata Rio, Miharu sempat ragu sejenak, lalu tetap menatapnya lekat-lekat.
“Ya, tidak seperti pagi tadi…” ucapnya, merujuk pada saat Lina merasuki Miharu dan menciumnya.
“A-Aku minta maaf soal pagi tadi! Tolong lupakan apa yang terjadi!”
“Ya, aku sudah menghapusnya dari ingatanku. Memangnya apa yang sedang kita bicarakan tadi?” Rio pura-pura tidak tahu dengan senyum kaku.
“B-Benar… Kalau begitu baguslah…”
Berbanding terbalik dengan ucapannya, Miharu memasang ekspresi yang sangat dilematis.
Dihapus dari ingatannya… Apakah dia akan berpura-pura kalau itu tidak pernah terjadi?
Meskipun itu terjadi di luar kendalinya, hal itu tidak mengubah fakta bahwa dia telah mencium anak laki-laki yang dicintainya. Rasa nyeri yang tumpul menjalar di dadanya memikirkan bahwa pria itu pura-pura kejadian tersebut tidak pernah terjadi.
Apakah Haruto baik-baik saja dengan hal itu? Apakah cuma aku satu-satunya yang terbebani…?
Apakah dia begitu tidak peduli dengan ciuman itu? Atau sebenarnya dia membencinya? Apakah itu sebabnya dia bisa menghapusnya dari ingatan? Meskipun dialah yang meminta Rio untuk melupakannya, Miharu tidak bisa berhenti memikirkan apa pendapat Rio tentang ciuman mereka.
Aku tidak ingin dia melupakannya.
Meskipun itu terjadi di luar kendalinya, dia tidak ingin pria itu menganggap hal itu tidak penting. Hati seorang gadis remaja yang rumit sedang menyiksa Miharu.
Karena ciuman itu adalah…
Ciuman pertamanya.
“Apa yang kamu bicarakan? Itu bahkan bukan ciuman pertamamu.”
Kata-kata Lina di dalam mimpi melintas di kepala Miharu.
“Aku tahu ciuman pertamamu adalah dengan Amakawa Haruto, saat kamu berusia tujuh tahun dan Amakawa Haruto hendak pindah.”
Benar juga. Orang pertama yang dicium Miharu adalah Amakawa Haruto saat masih anak-anak. Bukan Rio dari dunia ini. Selain itu, Lina telah menunjukkan bahwa anggapannya bahwa Amakawa Haruto dan Rio adalah orang yang sama sebenarnya salah sejak awal.
Jantung Miharu berdegup kencang dengan tidak nyaman. Dia tidak bisa begitu saja melupakan ciuman pertamanya hanya karena dia masih anak-anak saat itu. Wajahnya mengernyit karena rasa bersalah.
“Miharu?” Rio mendekat dengan tenang, menyadari ekspresinya yang tidak sehat.
“Ah, um…” Miharu tersadar kembali dan menatap Rio seolah dia ingin mengatakan sesuatu.
Tolong jangan lupakan itu bagaimanapun juga.
Kata-kata itu sudah di ujung lidahnya, tetapi dia tidak bisa mengucapkannya dengan lantang.
“Um, kurasa aku mulai lelah…” ucapnya, mengalihkan pembicaraan.
“Sepertinya begitu. Kamu terlihat kurang sehat. Lina bilang kamu sama sekali tidak beristirahat saat dia merasukimu, jadi pergilah dan istirahat yang cukup,” kata Rio dengan lembut, mengkhawatirkan kesehatannya.
“Maafkan aku, Haruto… Kamu pasti lelah juga…” Minta maaf Miharu dengan penuh penyesalan. Saat dia memanggilnya ‘Haruto,’ dia merasakan rasa sungkan dan keengganan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Rio memiringkan kepalanya karena penasaran tetapi memberinya senyuman lembut. “Hari masih awal malam, jadi aku akan beristirahat juga.”
“Aku minta maaf atas semua keributan ini.”
Miharu masih tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi dia menyatakan niatnya untuk meninggalkan ruangan. Dia berjalan menuju pintu, namun berhenti sebelum melangkah keluar.
“Um…”
“Ada apa?”
“Aku hanya penasaran—haruskah aku memanggilmu Rio alih-alih Haruto?” tanya tiba-tiba.
Rio mengerjap kaget. “Kenapa kamu bertanya begitu?”
“Oh, tidak ada alasan khusus…”
“Apa Lina mengatakan sesuatu kepadamu?”
“Maafkan aku, aku seharusnya tidak mengatakan itu begitu saja. Bukan apa-apa—selamat malam.”
“Miharu?”
Kali ini, Rio lah yang memanggilnya, tetapi Miharu bergegas keluar dari ruangan.
Rio, ya…
Pasti ada alasan mengapa dia tiba-tiba ingin mengubah cara dia memanggilnya. Dan alasan itu mungkin ada hubungannya dengan Lina, mengingat percakapan yang mereka lakukan sebelumnya. Rio memikirkan berbagai kemungkinan.
“Apakah kamu meragukan jawaban yang telah kamu capai karena kamu pikir jawaban itu salah?”
Pertanyaan yang diajukan Lina kepadanya tadi terlintas di benaknya.
Aku adalah Rio. Bukan Amakawa Haruto.
Itulah jawaban Rio.
Aku tahu aku tidak salah, tapi…
Apakah itu karena dia telah mencium Miharu? Ingatan Amakawa Haruto terus bermunculan di benaknya, membuatnya mempertanyakan apakah jawabannya benar-benar tepat.
Rio sadar bahwa ingatan Amakawa Haruto telah sangat mempengaruhinya. Pada kenyataannya, dia telah bimbang antara Rio dan Amakawa Haruto beberapa kali sejak mendapatkan kembali ingatan tersebut pada usia tujuh tahun—terutama tepat setelah Miharu dan yang lainnya dipanggil.
Tetapi bahkan saat itu, dia telah mencapai kesimpulan bahwa dia tidak mampu menjadi Amakawa Haruto. Pendorong terbesar adalah ketika dia bertemu Lucius di Amande. Dia tidak ingin Amakawa Haruto menanggung karma dan dosa yang dibawa oleh Rio.
Selain itu, berbagai keputusan moral yang telah dibuat Rio di masa lalu membuatnya menolak Amakawa Haruto. Bahkan mungkin sisi Amakawa Haruto di dalam dirinya lah yang justru melakukan penolakan. Nilai-nilai Amakawa Haruto bertentangan dengan nilai-nilai Rio, yang mendorongnya pada krisis identitas.
Tentu saja, ingatan hanyalah sekadar ingatan. Hal itu sangatlah samar dan bersifat subjektif.
Jadi, mengapa sekumpulan ingatan tambahan harus menyebabkan penyiksaan separah ini?
Memiliki ingatan orang lain benar-benar menyusahkan…
Rio menempelkan tangan ke mulutnya sambil berpikir dan menyeringai.
Komentar