Seirei Gensouki Volume 21 Cerita Pendek Bonus Bahasa Indonesia
Cerita Pendek Bonus
Putri Bertemu Putri Duyung
Amakawa Haruto adalah seorang anak laki-laki Jepang yang baru saja menjadi siswa tahun kedua di sekolah menengah atasnya.
Suatu hari sepulang sekolah, tak lama setelah semester baru dimulai, dia berpapasan dengan seorang gadis bernama Flora Beltrum di koridor.
Begitu Flora melihat wajahnya, dia menyapanya dengan ceria.
“Selamat siang, Tuan Haruto!”
Flora adalah seorang siswi pertukaran pelajar asing yang baru saja tiba di sekolah mereka musim semi ini, dan kakak perempuannya Christina telah pindah ke kelas Haruto, jadi keduanya sudah saling kenal.
“Halo, Flora. Buku yang kau bawa banyak sekali.”
Meskipun Haruto sedikit bingung karena dipanggil “tuan,” dia memilih untuk menanyakan tentang selusin buku yang berada di dalam pelukan Flora.
“Aku baru saja mau mengembalikan buku-buku ini ke perpustakaan.”
“Kamu pinjam banyak sekali.”
“Aku suka membaca. Ini juga membantu bahasa Jepangku, dan ada begitu banyak cerita menarik untuk dibaca.”
“Begitu ya. Tapi itu pasti berat… Biar kubantu membawanya,” kata Haruto, bergerak sebelum Flora sempat menjawab. Dia mengambil lebih dari separuh buku dari pelukan Flora, meringankan beban gadis itu secara signifikan.
“Eh? T-Terima kasih. Apa tidak berat untuk membawanya?”
“Tidak, sebanyak ini bukan apa-apa. Ke perpustakaan, ya? Ayo kita berangkat.”
“B-Baik!”
Haruto mulai berjalan menuju perpustakaan, dan Flora bergegas berjalan di sampingnya.
“Buku seperti apa yang kamu suka, Flora?”
“Aku paling suka novel. Saat ini aku sedang mencari cerita dengan seorang putri sebagai protagonisnya. Apakah kamu punya judul yang bisa direkomendasikan, Tuan Haruto?”
“Biar kulihat. Bagaimana kalau dongeng tentang putri duyung? Oh, tapi itu cerita yang terkenal, jadi kamu mungkin sudah mengetahuinya.”
Dia menyebutkan judul pertama yang terlintas di benaknya, tetapi itu adalah karya terkenal yang sudah diketahui oleh anak mana pun di Jepang. Namun…
“Tidak, aku tidak tahu cerita itu. Tentang apa itu?”
Sepertinya Flora tidak familiar dengannya.
“Hmm. Ini adalah kisah tentang seorang putri duyung yang jatuh cinta kepada manusia.” Haruto memberikan ringkasan sederhana dari cerita tersebut, karena tidak ingin membocorkan alurnya.
“Oh, itu terdengar menarik! Aku akan pergi mencarinya!” Mata Flora berbinar-binar penuh rasa ingin tahu.
“Tapi kudengar kisah aslinya sedikit bernuansa kelam…”
“Eh? Benarkah?” tanya Flora dengan ragu-ragu. Dia sepertinya takut pada cerita seram.
“Buku bergambar dari cerita itu tidak akan begitu menyeramkan, tapi akan jauh lebih singkat… Aku tahu, ada film anak-anak yang diangkat dari cerita itu, jadi mungkin kamu bisa menontonnya saja.”
“Film… Baik lah! Kalau begitu, aku bisa mengajak saudari dan Profesor Celia untuk menontonnya bersama-sama. Aku akan pergi mencarinya!”
Haruto kemudian memberikan judul film tersebut kepada Flora, berjanji untuk membantunya mencari film itu setelah sepulang sekolah.
◇ ◇ ◇
Keesokan harinya, pada saat jam istirahat…
“Tuan Haruto!”
Flora datang berkunjung ke kelas Haruto. Alih-alih memanggil saudarinya, dia mencari wajah Haruto dan memanggil namanya begitu melihatnya.
Sebagai mahasiswa pertukaran pelajar luar negeri, baik Flora maupun Christina sangat terkenal di seluruh sekolah. Keanggunan dan pesona mereka membuat keduanya sangat populer di kalangan siswa tahun kedua. Dan sekarang, yang lebih muda dari keduanya telah muncul di ruang kelas tahun kedua, memanggil nama salah satu anak laki-laki.
“…”
Anak-anak laki-laki—dan juga anak-anak perempuan—semuanya terdiam dan menatap Haruto. Christina adalah satu-satunya yang tersenyum geli.
“Ada apa, Flora?” tanya Haruto canggung, dengan cepat berdiri untuk mendekati Flora. Dia tampak agak terganggu oleh tatapan-tatapan itu.
“Aku menonton film yang kamu ceritakan kemarin! Filmnya sangat bagus, aku ingin berterima kasih kepadamu karenanya.”
“Begitu ya… Aku senang mendengarnya.”
Melihat betapa polosnya cara Flora berbicara membuat Haruto terkekeh sambil tersenyum.
“Putri duyung dan pangeran manusia. Tidak ada kesenjangan dalam status sosial mereka, tetapi konflik yang lahir dari kesenjangan spesies mereka adalah…”
Flora kemudian mulai menceritakan pendapatnya tentang film tersebut dengan penuh antusias kepada Haruto, menarik perhatian seluruh kelas.
Waktu Bersama Saudara
Di dalam Istana Galarc, di kediaman yang dianugerahkan kepada Rio oleh Raja Francois, semua orang di kediaman itu sedang bersiap untuk berangkat ke wilayah Duke Gregory demi menghadapi Saint Erica. Berbeda dengan suasana kediaman yang biasanya harmonis, udaranya terasa tegang memikirkan pertandingan ulang Rio dan Erica yang sudah di ambang mata.
Jika monster itu muncul lagi… Aku harus melakukan segala cara untuk mengalahkannya, pikir Rio dalam hati dengan penuh tekad saat dia duduk di tempat tidur di kamarnya. Kemudian, seseorang mengetuk pintu.
“Masuklah.” Rio menghapus ekspresi tegas dari wajahnya saat dia memanggil siapa pun yang berada di luar pintu. Pintu perlahan terbuka, menampakkan Latifa.
“Onii-chan,” ucapnya dengan cemas.
“Ada apa, Latifa?”
Alasan kecemasannya sudah jelas. Karena itu, Rio memastikan untuk berbicara dengan nada seceria mungkin guna meyakinkan adik perempuannya.
“Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin berada di sisimu,” kata Latifa, menjelaskan permintaannya yang sepele sambil mengamati wajah Rio untuk melihat reaksinya.
“Begitu ya. Kalau begitu, kesarilah.”
“Baiklah.”
Rio menepuk tempat tidur di sebelah dirinya, mengundangnya untuk duduk bersama. Latifa mengangguk dengan ekspresi lega dan langsung menghampirinya.
“Ehehe.” Dia menempel di sisi Rio dan menggesekkan pipinya ke lengan sang kakak.
“Itu terlalu dekat,” kata Rio dengan senyum kaku. Namun, dia tidak menyuruh Latifa untuk menjaga jarak; jika hanya ini yang diperlukan untuk meredakan kekhawatiran adik perempuannya, maka dia dengan senang hati membiarkan dirinya ditempeli.
“Onii-chan.”
“Ya?”
“Tidak ada apa-apa. Hehe.” Latifa tersenyum bahagia.
“Begitu ya.” Melihat senyumnya membuat Rio ikut tersenyum. Setelah itu, Latifa terus bermanja-manja pada Rio, menikmati waktunya bersama kakak laki-lakinya.
Pertarungan dengan Saint Erica akan dilangsungkan keesokan harinya pada malam hari.
Rumah untuk Kembali
Kastil Galarc. Di mansion yang dianugerahkan kepada Rio oleh Raja Francois, tak lama setelah Charlotte dan Satsuki mulai tinggal di sana juga…
Keduanya memiliki kamar sendiri di kastil utama, tetapi setelah merasa repot harus bolak-balik ke mansion setiap hari, mereka menyiapkan kamar untuk diri mereka sendiri di dalam mansion tersebut.
Namun, Charlotte tetap harus pergi ke kastil untuk menjalankan tugas resminya. Hari ini adalah salah satu hari seperti itu.
“Sekarang aku akan kembali ke mansion,” ujarnya, mengumumkan kepergiannya setelah menyelesaikan laporan rutinnya.
“Baiklah,” setuju Francois sambil mengangguk, tetapi—
“Bagaimana rasanya tinggal di mansion?” tanyanya setelah Charlotte berbalik.
“Sangat menyenangkan. Semua orang memperlakukanku dengan baik,” jawab Charlotte seketika sambil tersenyum.
“Begitu ya. Kamu boleh pergi sekarang.” Merasakan bahwa kata-katanya tulus, Francois terkekeh.
“Baiklah. Kalau begitu, permisi.”
Charlotte meninggalkan ruang kerja ayahnya dan berjalan keluar dari kastil, menuju ke mansion tempat Rio dan yang lainnya tinggal.
Namun di tengah jalan…
Sungguh perasaan yang menyegarkan.
Mansion tempat semua orang tinggal terletak di kompleks yang sama dengan kastil. Dia baru saja berjalan melintasi kastil, namun pemandangan yang dilihatnya terasa begitu berbeda. Apakah karena dia sekarang tinggal di tempat lain? Entah kenapa, perasaan itu memenuhinya dengan kegembiraan. Charlotte tersenyum lembut.
Sebaiknya aku segera berangkat.
Dia begitu tenggelam dalam emosinya hingga berhenti berjalan untuk menikmati pemandangan. Charlotte melanjutkan perjalanannya ke mansion.
Begitu tiba di mansion dan melangkah masuk melalui pintu depan, dia mendengar suara-suara ramai yang datang dari arah dapur dan ruang makan. Sepertinya semua orang berkumpul di dapur. Charlotte berjalan menyusuri koridor ke arah tersebut.
“Selamat datang kembali, Char,” kata Satsuki, menyadari kehadirannya terlebih dahulu. Yang lainnya di sekitarnya menimpali salam itu dengan “Selamat datang kembali, Putri Charlotte.”
“…” Charlotte mengerjap,
“Ada apa, Char? Kenapa kamu malah berdiri di situ?”
“Oh… aku hanya tidak terbiasa mendengar ucapan ‘Selamat datang kembali’ seperti ini.”
“Oh, begitu. Malu, ya?” tanya Satsuki sambil menyeringai.
“Ya. Tapi aku juga senang. Rasanya menyenangkan mendengarnya dari orang lain.”
Charlotte memiliki mata yang tajam dan jeli dalam mengamati. Itulah sebabnya dia tahu bahwa ucapan “selamat datang kembali” yang diucapkan semua orang kepadanya adalah karena mereka benar-benar menganggap wajar baginya untuk kembali ke mansion ini—itulah yang membuatnya begitu senang.
“Begitu ya. Tapi akan lebih menyenangkan lagi kalau kami juga bisa mendengar sepatah kata darimu, Char. Kata-kata yang seharusnya diucapkan sebagai balasan bagi seseorang yang menyambutmu pulang…” lanjut Satsuki dengan nada penuh godaan.
“Aku senang bisa pulang.” Charlotte langsung menjawab.
“Yup, senang rasanya kau kembali.” Kali ini, Satsuki lah yang merespons dengan malu-malu. Yang lainnya juga tersenyum malu-malu saat mengulang sentimen mereka.
“Ngomong-ngomong, untuk apa kalian semua berkumpul di dapur?”
“Kami sedang membuat camilan. Semua orang menunggu kepulanganmu, Char. Baru saja matang, jadi ayo kita cuci tangan dan makan bersama.”
“Wah, terdengar menyenangkan. Aku sangat ingin.”
Itu hanyalah hari biasa di mansion.

Komentar