Seirei Gensouki Volume 19 Cerita Pendek Bonus Bahasa Indonesia – Litenovel

Seirei Gensouki Volume 19 Cerita Pendek Bonus Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi

Cerita Pendek Bonus

Elemental ☆ Tudung Merah!

Di Jepang pada hari Jumat, tidak lama setelah awal masa semester sekolah…

Endou Suzune adalah seorang anak perempuan di kelas enam sekolah dasar. Ini adalah musim semi.

Kring, kring.

Saat bel akhir jam sekolah berbunyi di latar belakang, rok lipit Suzune berkibar saat dia berlari melewati gedung sekolah, terengah-engah karena bersemangat.

“Dadah!” Tujuannya: halte bus di samping gerbang sekolah.

“Baiklah, aku tepat waktu… Semoga saja!”

Ada waktu lebih dari lima menit sampai bus berikutnya tiba. Jadwal bus selalu tidak dapat diprediksi, tetapi seharusnya dia aman.

Suzune biasanya tinggal di kelas untuk mengobrol dengan teman-temannya sepulang sekolah, tetapi ada alasan mengapa dia terburu-buru hari ini. Dia telah berjanji dengan teman-teman yang lebih tua untuk bertemu di bus hari ini.

“Aku sudah di halte bus… dan kirim,” gumamnya sambil mengetik pesan ke obrolan grup di ponselnya. Pesan itu langsung dibaca, dan sebuah balasan tiba: “Kami hampir sampai di sekolahmu.”

Kurang dari semenit kemudian, bus itu pun tiba.

“Hai, Haruto, Miharu! Dan kamu pasti Sara. Halo, senang berkenalan denganmu. Aku Endou Suzune!”

Ada tiga penumpang yang duduk bersama di dalam bus. Amakawa Haruto dan Ayase Miharu adalah teman-teman Suzune, tetapi dia baru pertama kalinya bertemu Sara hari ini. Ketiga orang inilah yang telah dia janjikan untuk ditemui.

“Halo, Suzune. Apa kabar?” Sara membungkuk dengan sopan, menundukkan kepalanya.

“Wah… Rambut perakmu begitu indah…” gumam Suzune tanpa berpikir, terpesona oleh penampilan Sara.

Sara tersenyum malu-malu, tidak yakin bagaimana harus menanggapinya. “Umm… Terima kasih banyak.”

“Miharu sudah memberitahuku sebelumnya, tapi bahasa Jepangmu sangat bagus,” komentar Suzune.

Seperti yang diisyaratkan oleh kata-katanya, Sara bukan orang Jepang. Dia telah pindah ke SMA tempat Haruto and Miharu bersekolah beberapa hari yang lalu.

“Untunglah. Itu berarti aku bisa berpartisipasi dalam pementasan tanpa masalah.”

“Oh! Kamu juga akan ikut pementasan, Sara?” tanya Suzune dengan gembira.

Ada sebuah taman kanak-kanak yang berafiliasi dengan SMA tempat Haruto and Miharu bersekolah, di mana klub drama pernah mementaskan pertunjukan untuk mereka. Anak-anak sangat menyukainya, sehingga mereka meminta agar diadakan pertunjukan lain. Haruto dan Miharu berpartisipasi sebagai anggota dewan siswa, dan kali ini, Suzune juga mendapatkan peran.

“Ya. Aku dengar kamu akan memerankan si Kerudung Merah. Aku akan berperan sebagai serigala, jadi ayo kita sama-sama melakukan yang terbaik.”

Selain itu, Sara juga diberi sebuah peran. Drama yang dipilih adalah si Kerudung Merah. Satsuki, ketua dewan siswa, telah memutuskan bahwa seorang anak sekolah dasar akan lebih cocok untuk peran tersebut daripada seorang siswa SMA, sehingga Suzune diminta untuk mengambil peran itu.

“Yups! Tapi kalau kamu akan jadi serigala, aku lebih suka kita berteman daripada musuh.”

“Aku juga ingin berteman, tapi itu tidak akan bagus untuk pementasannya. Aku cukup percaya diri dalam memerankan serigala, jadi pastikan kamu berakting seolah-olah kamu ketakutan,” kata Sara sambil membusungkan dadanya dengan bangga.

Apa maksudnya dengan “percaya diri dalam memerankan serigala”? pikir Haruto dalam hati.

“Ya! Aku akan melakukan yang terbaik!” Suzune mengangguk penuh semangat, tidak terusik oleh ucapan Sara.

“Kamu bisa mencoba kostum Kerudung Merah begitu selesai,” kata Miharu kepada Suzune sambil tersenyum.

“Hore! Aku sudah tidak sabar!”

Pada akhirnya, pementasan Gadis Kerudung Merah disambut dengan baik oleh pihak taman kanak-kanak. Suzune sangat diminati oleh anak-anak karena begitu menggemaskan, dan Sara merasa sedikit kecewa karena tidak ada yang menganggapnya menyeramkan dalam peran serigala, tapi itu adalah cerita untuk lain hari.

Mandi Pagi Celia

Suatu hari, di rumah batu…

Celia Claire menjalani pagi hari yang lebih awal.

“Mmm…” dia menguap, lalu duduk di tempat tidur dan meregangkan tubuh.

Tidur yang sangat nyenyak…

Celia sebenarnya bukan tipe orang yang suka bangun pagi, tetapi hari ini dia merasa cukup segar. Tidur lebih awal tadi malam memberikan keajaiban. Dia turun dari tempat tidur dan berjalan menuju jendela, lalu membukanya untuk melihat ke luar.

Angin sepoi-sepoi yang sejuk berhembus masuk dari jendela. Biasanya dia terbangun oleh suara Rio dan yang lainnya yang sedang berlatih tanding dengan penuh semangat di luar, tetapi hari ini semuanya masih senyap.

Matahari belum sepenuhnya terbit. Masih sedikit terlalu pagi untuk latihan pagi… Aku ingin tahu apakah ada orang lain yang sudah bangun.

Celia memutuskan untuk meninggalkan kamarnya.

Sepertinya belum ada orang yang bangun…

Dapur dan ruang tamu masih gelap.

Hmm… Apa yang harus kulakukan?

Dia bisa tinggal di kamarnya dan membaca, tetapi itu rasanya menyia-nyiakan kesempatan langka bangun pagi. Dia berpikir sejenak.

“Oh, benar juga.”

Sebuah ide tiba-tiba terlintas di benaknya, dan dia mulai berjalan menuju kamar mandi dengan penuh semangat. Dia melepas semua pakaiannya di ruang ganti dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Di sana, dia mencuci rambutnya, lalu dilanjutkan dengan tubuhnya.

Rambut dan kulitku jadi sangat bagus sejak aku mulai menggunakan sabun buatan Rio. Aromanya juga sangat harum.

Celia menghirup aroma sabun itu dengan senang hati. Begitu selesai membersihkan tubuhnya, dia membenamkan diri ke dalam bathtub.

“Ah… Ini benar-benar surga dunia…” desahnya, melebur ke dalam air.

Biasanya aku mandi bersama yang lain setelah latihan, tapi…

Apakah karena dia bangun lebih pagi dari biasanya? Atau karena dia begitu menikmati mandi paginya seorang diri? Rasanya sangat mewah bisa menghabiskan waktu seperti ini.

Mungkin aku harus bangun pagi-pagi lagi besok.

Itulah pikiran yang memenuhi kepalanya pagi ini.

Pagi Hari Satsuki

Suatu pagi buta di Kastil Galarc, tak lama setelah Rio dianugerahi rumah besar oleh Raja Francois…

“Mm…”

Kisaragi Satsuki sedang tidur pulas di sebuah kamar tidur di lantai dua rumah besar itu. Ketika dia tiba-tiba membuka matanya, dia disambut oleh pemandangan langit-langit yang tidak dikenalnya.

Di mana…

Dia mempertanyakan keberadaannya sejenak.

Oh, benar juga. Aku menginap di rumah besar Haruto kemarin.

Dia mengingat kembali alasan mengapa dia berada di sini dengan rasa mengantuk.

“Ah… Mmm!”

Dia mengeluarkan menguap yang manis dan tanpa penjagaan, lalu duduk dan meregangkan tubuh untuk melemaskan otot-ototnya.

Sekarang…

Satsuki adalah seorang yang terbiasa bangun pagi. Dia tidak merasa perlu untuk tidur lagi, jadi dia bangkit dari tempat tidur dan menuju ke lemari pakaian. Begitu selesai berganti pakaian, dia meninggalkan kamarnya dan berjalan menuju tangga ke lantai pertama, tetapi…

Hmm… Apa aku bangun terlalu pagi?

Rumah besar itu sangat sepi. Lampu-lampu di koridor menyala, tetapi ruang keluarga dan dapur masih gelap.

Aku bilang akan berlatih di pagi hari, dan aku juga sudah berganti pakaian… Terserahlah, aku keluar saja dulu untuk melakukan pemanasan.

Menunggu dengan sabar di kamar tidur atau ruang keluarga sampai seseorang bangun bukanlah sifatnya. Satsuki berjalan menuju jendela ruang keluarga yang menghadap ke halaman.

Eh…?

Jendelanya tidak terkunci. Seseorang pasti lupa menguncinya.

Itu Haruto.

Rio terlihat sedang mengayunkan pedangnya di halaman.

Sepertinya belum ada orang lain yang bangun.

Yang berarti Satsuki adalah orang kedua yang bangun. Dia bisa pergi ke luar untuk berbicara dengannya, tapi—

Gerakannya selalu terlihat begitu rapi…

Satsuki berhenti untuk memperhatikan Rio. Rio saat ini menggunakan angin untuk bergerak, tanpa mengerahkan kekuatan ototnya sendiri. Itulah mengapa gerakannya tidak beraturan tetapi efisien. Hampir tidak ada gerakan yang sia-sia, membuat orang tidak bisa menebak bagaimana dia akan bergerak selanjutnya. Gerakan semacam itu begitu indah, hingga dia tidak bisa berhenti untuk terus menyaksikannya.

Beberapa saat kemudian, Satsuki sadar kembali dan mulai bertanya-tanya apakah ada sesuatu yang bisa dia pelajari dari mengamatinya. Dia mulai mengamatinya dengan cermat.

Rasanya seperti aku sedang mengamati seseorang yang sedang latihan pagi di klub olahraga.

Dia tiba-tiba berpikir dalam hati. Itu adalah pemikiran yang baru sekaligus penuh nostalgia, yang membuatnya terkikik.

“Satsuki?” Rio telah mendatangi jendela saat dia tenggelam dalam pikirannya, lalu memanggilnya.

“H-Haruto?!”

“Aku bisa melihatmu di jendela… Selamat pagi.”

Satsuki tersentak. “Pagi. Kamu selalu muncul entah dari mana…”

“Maaf kalau aku membuatmu terkejut,” kata Rio dengan nada meminta maaf.

“Tidak apa-apa kok. Sepertinya aku akan bergabung denganmu. Oh, tapi aku harus pemanasan dulu. Haruto, maukah kamu membantuku melakukan peregangan?”

“Tentu.”

“Asyik. Kalau begitu, mari kita mulai dengan beberapa peregangan.” Satsuki duduk dengan ceria dan membungkuk ke depan.

Dengan demikian, Rio dan Satsuki menghabiskan pagi mereka berdua saja sampai yang lain bangun. Orang pertama yang menemui mereka adalah Latifa, yang langsung membuat keributan besar karenanya, tetapi itu adalah cerita lain untuk lain hari.

Daftar Isi

Komentar

guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted