Seirei Gensouki Volume 13 Bab 1: Menyeberangi Perbatasan Bahasa Indonesia
Bab 1: Menyeberangi Perbatasan
Beberapa menit kemudian, Rio membangunkan Alfred dan membawanya ke tempat Rui dan Charles berada di samping Christina. Celia masih merawat luka Orphia untuk memastikan dia benar-benar sembuh, sementara Sara dan Alma berjaga di dekat Alfred seandainya terjadi sesuatu. Di sisi lain, Vanessa juga telah sadar kembali dan mengawasi para bawahan Charles, bersama dengan Kouta dan Rei.
Untungnya, tidak ada seorang pun yang bertarung melawan Rio kehilangan nyawa mereka. Namun, ada cukup banyak orang yang terpelanting oleh seni roh anginnya dan mendarat dengan keras, mengakibatkan cedera parah. Orang-orang itu telah diikat, dan mereka yang terluka parah diizinkan untuk dirawat oleh para penyihir.
“Kamu benar-benar sudah keterlaluan…” Christina menatap tajam ke arah Charles dengan penuh kebencian.
“Apa yang kamu bicarakan? Seharusnya itu kalimatku. Aku tahu kamu seharusnya tidak diizinkan untuk menghadiri jamuan makan itu. Kamu berhasil bergerak di belakangku dan bergabung dengan monster seperti itu,” cibir Charles dengan lemah. Semangat bertarungnya telah hancur total, tetapi dia tampaknya telah mendapatkan kembali sedikit ketenangannya dan dapat melakukan percakapan dengan benar lagi. Dia melirik Rio dengan penuh kebencian.
“Tarik kembali ucapanmu dan minta maaflah. Tuan Amakawa bukanlah monster,” perintah Christina dengan cemberut.
“Ha! Hahaha!” Charles tertawa terbahak-bahak, lalu merendahkan suaranya menjadi gumaman kesal. “Andai saja… Andai saja monster itu tidak ada di sini…”
Dia belum menyadari bahwa Celia-lah yang menghubungkan Putri Christina denganku?
Rio mengabaikan rasa benci Charles dengan ekspresi datar dan membuat tebakan berdasarkan kata-katanya. Kenapa Reiss tidak menjelaskan hal itu kepada Charles, dia sama sekali tidak tahu…
Christina tampaknya memikirkan hal yang sama, menunjukkan secercah keraguan sejenak.
“Kita sekarang masih berada di dalam perbatasan Kerajaan Beltrum. Meskipun kita telah menangkap target, bukanlah ide yang bagus untuk berlama-lama di sini sambil dikelilingi oleh pasukan musuh. Semakin cepat kita melintasi perbatasan, semakin baik, tapi apa yang ingin Anda lakukan?” tanya Rio kepada Christina.
Dia menatap bergantian ke arah Charles, para bawahannya di dekat situ, dan pasukan yang menunggu di atas bukit. Terserah pada Christina untuk memutuskan bagaimana menghadapi mereka, dan tindakan apa yang harus diambil selanjutnya.
Christina berpikir sejenak, tetapi dengan cepat mengambil keputusan. “Kita akan membawa Charles dan Alfred bersama kita sebagai tahanan. Kita akan menyelidiki detailnya nanti.”
“Oh? Lalu apa yang akan terjadi padaku?” tanya Rui sambil mengangkat bahunya dengan nada bercanda.
“Kami tidak bisa membawa hero sebagai tahanan. Jika Anda ingin mengikuti kami atas kehendak Anda sendiri, itu adalah masalah lain, namun…” Christina menggantungkan kata-katanya, menyerahkan hak untuk memilih kepada Rui. Menawan seorang hero dapat dianggap sebagai serangan politik, jadi dia harus mengambil sikap yang secara menyeluruh menunjukkan ketiadaan rasa permusuhannya.
“Begitu ya…” Rui menatap punggung Kouta dengan sedikit sedih saat dia menyatakan niatnya. “Kalau begitu, aku akan kembali ke ibu kota.”
Kouta menghindari tatapan Rui dengan menjaga wajahnya tetap menghadap ke depan, tidak pernah menoleh ke belakang sekali pun saat dia berjaga-jaga di sekitar mereka.
“Apakah Anda yakin…?” Christina memastikan, sambil turut menatap punggung Kouta.
“Ya. Aku punya seorang kekasih yang sedang menunggu kepulanganku,” angguk Rui, menjawab dengan jelas.
“Ngh…” Punggung Kouta sedikit bergetar. Rio dan yang lainnya tidak dapat melihat ekspresinya dari posisi mereka, tetapi Rei mendesah kesal di samping Kouta.
“Kouta,” panggil Rui. Dia tidak merespons.
Rui terus berbicara ke arah punggungnya. “Aku tahu kenapa kamu meninggalkan kastil. Aku tahu, namun aku mencoba membawamu kembali sambil menghindari pembicaraannya, tapi… Memang benar aku bertindak karena mengkhawatirkanmu dan Saiki. Itulah kenapa aku mengejarmu. Aku ingin melihat wajahmu dan memastikan apakah kamu akan baik-baik saja di luar kastil. Apakah kamu akan bisa hidup dengan baik di dunia ini mulai sekarang.”
“…”
“Jika kamu bilang kamu akan baik-baik saja, aku akan mempercayaimu. Aku tidak akan mencoba memaksamu kembali lagi. Aku akan percaya bahwa kita bisa bertemu lagi suatu hari nanti dan menunggu. Bagaimanapun juga, kamu adalah teman penting bagiku,” Rui terus berbicara meskipun Kouta terdiam, ketika—
“Aku…!” Kouta meninggikan suaranya, membiarkan punggungnya yang gemetar tetap membelakangi mereka. Kata-kata kasarnya bukan dalam bahasa dunia ini, melainkan dalam bahasa Jepang.
“Aku… Aku selalu merasa inferior darimu. Kamu pindah ke sekolah kami dari luar negeri, diberkahi dengan ketampanan dan otak yang cerdas, dan langsung menjadi kesayangan sekolah. Kamu bergabung dengan klub yang sama denganku dan Akane, dan sebelum aku menyadarinya, kamu menjadi lebih dekat dengan teman masa kecilku daripada aku… Aku cemburu padamu. Aku tidak bisa menang darimu dalam pelajaran, olahraga, atau penampilan. Akane terus memuji betapa hebatnya dirimu—setiap kali mendengarnya, itu memenuhi diriku dengan begitu banyak kecemburuan sampai-sampai aku hampir membencimu.”
“Kouta…”
“Tapi kamu adalah orang yang begitu baik, memperlakukanku seperti sahabat dekat—aku tidak bisa membencimu. Bahkan saat kita tersesat ke dunia ini tanpa bisa memahami bahasanya, kamu menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari untuk mempelajari tata bahasa dan kosakata demi membantu kami… Bertindak seolah-olah kamilah yang mengalami masa sulit, padahal kamu menghadapi cobaan paling berat di antara kami semua. Makanya…” Kouta menggigit bibirnya.
Semua orang memperhatikan punggungnya dalam keheningan. Meskipun mereka bisa memahami kata-kata Rui berkat efek terjemahan otomatis dari Senjata Ilahi miliknya, sebagian besar dari mereka sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan Kouta. Hanya Rui dan Rei, yang orang Jepang, serta Rio—yang memiliki ingatan Amakawa Haruto di dalam dirinya—yang dapat memahami ucapan Kouta.
Namun, bahkan bagi mereka yang tidak memahami kata-kata Kouta, sudah jelas bahwa dia sedang meluapkan emosinya yang selama ini dipendam.
“Makanya hal itu wajar saja kalau Akane jatuh cinta padamu. Lalu kamu juga jatuh cinta padanya. Tapi aku tidak mau menerima itu… Aku bisa gila karena iri jika terus tinggal bersamamu dan Akane lebih lama lagi. Aku membenci diriku sendiri karena merasakan hal itu—itu sangat menyedihkan. Itulah kenapa aku lari dari kalian berdua. Cuma itu…” Kouta menyinggung kebenaran tersebut dan mengepalkan tangan-tangan dengan erat.
“Aku minta maaf…” ucap Rui meminta maaf dengan ekspresi tertekan.
“Jangan… Pasti sulit juga bagimu. Lagipula, Akane itu lambat menangkap situasi. Dia tidak pernah menyadari perasaanku. Tapi kamu menyadarinya, dan itu membuatmu terjepit dalam situasi yang sulit. Akulah yang seharusnya minta maaf. Maaf, karena pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun—sudah sewajarnya kalau kamu khawatir.” Kouta membalas permintaan maaf itu, wajahnya berkerut saat dia menahan emosinya yang pahit. Pada saat itulah dia berbalik untuk pertama kalinya, menghadap Rui. “Aku akan baik-baik saja. Aku akan melakukan yang terbaik untuk hidup dengan baik di luar kastil. Jadi, tidak perlu mengkhawatirkanku. Jangan khawatirkan aku. Suatu hari nanti, saat aku tidak lagi merasa inferior darimu, aku akan pergi menemui kalian… Terima kasih telah menganggapku sebagai sahabat selama ini. Kamu juga adalah teman yang berharga bagiku, Rui.”
“Ya. Kita akan selalu menjadi teman.” Rui menunduk, menganggukkan kepalanya.
“Jaga Akane. Katakan padanya aku akan baik-baik saja.”
“…Baiklah.”

Dengan pertukaran kata terakhir itu, Kouta kembali memunggungi Rui sekali lagi.
“Saiki, jaga diri baik-baik juga,” kata Rui kepada Rei.
“Ya. Yah, aku akan mengalir begitu saja,” jawab Rei sambil mengangkat bahu.
“Benar… Ngomong-ngomong, aku ingin bertanya—apa kau mengecat rambutmu?” Rui melihat ke arah rambut mereka dan bertanya.
“Oh, ini…” Kouta bertukar pandang dengan Rei, lalu menggantungkan kata-katanya. Rio telah meminta mereka untuk merahasiakan detail mengenai artefak yang mengubah warna rambut mereka jika memungkinkan.
Rio menyela. “Ini bukan pengetahuan umum, tapi ada cara untuk mengubahnya,” jelasnya.
“Begitu ya. Pantas saja tim pencari sangat kesulitan kalau begitu.”
Rui tersenyum tanda mengerti. “Selain itu, Haruto. Terima kasih. Kau mungkin tidak tahu kenapa aku mengatakan ini, tapi aku bisa berhenti ragu berkat kekalahanku. Itulah sebabnya aku bisa menghadapi Kouta dengan benar. Kouta juga berbalik untuk melihatku,” kata Rui dengan ceria, sambil membungkukkan kepalanya dalam-dalam kepada Rio.
“Aku tidak melakukan apa pun.” Rio menggelengkan kepala sambil tersenyum lembut.
Rui menoleh untuk berbicara kepada Christina dan yang lainnya, yang sedari tadi menunggu. “Mohon maaf—perbincangannya jadi panjang karena aku. Kalian akan menyeberang perbatasan sebelum mampir ke Rodania, kan? Aku akan menemani kalian sampai ke bukit. Kemungkinan para prajurit mencari gara-gara akan lebih kecil jika aku ada di sana,” usapnya sambil menatap 5.000 prajurit yang menunggu di atas bukit.
“Itu sangat membantu.” Christina mengangguk kepada Rui. “Apa Orphia baik-baik saja?”
Orphia masih duduk di tanah saat Celia merapalkan sihir penyembuhannya pada dirinya. “Ya, aku sudah baik-baik saja sekarang. Terima kasih banyak, Cecilia,” Orphia berterima kasih kepada Celia, menggunakan nama samaran wanita itu, lalu berdiri dengan mantap di atas kedua kakinya.
Namun Celia masih tampak khawatir. “Apa kau benar-benar yakin tidak apa-apa?”
Normalnya, Orphia seharusnya butuh lebih banyak waktu istirahat. Tapi mereka tidak bisa berlama-lama di sini lagi.
“Aku akan menggendongnya sampai kita tiba di perbatasan,” tawar Rio sambil mendekati Orphia.
“Eh…?” Mata Orphia membelalak kaget.
“Ini hanya berjaga-jaga. Istirahatlah lagi.”
Orphia merasa salah tingkah, hal yang jarang terjadi padanya. “T-Tapi… Apa itu benar-benar tidak apa-apa?”
“Bisakah kau lakukan itu, Haruto?” pinta Celia.
“Tentu, serahkan padaku,” angguk Rio mantap. Dia berjalan menghampiri Vanessa dengan pedang Alfred di tangannya. “Vanessa, ini pedang Alfred. Biasanya paling tepat jika diserahkan langsung kepada Yang Mulia, tapi beratnya akan menjadi beban saat kita sedang berjalan. Bisa kuminta tolong kau yang membawanya?”
Vanessa menatap pedang Alfred dan menggenggamnya erat-erat. “Ya… Aku bisa melakukannya. Terima kasih.”
Sementara itu, Sara dan Alma telah mendekati Orphia dan saling berbisik.
“Karena dia sudah menawarkan diri, kau biarkan saja dia menggendongmu.”
“Benar. Atau kau akan menyesalinya nanti.”
Kedua gadis itu biasanya adalah pihak yang digoda oleh Orphia, jadi mereka sangat senang dengan kesempatan untuk membalas dendam ini.
“H-Hentikan kalian berdua,” protes Orphia dengan wajah memerah.
“Ada apa ini?” Rio kembali dan bertanya kepada para gadis.
“Tidak, bukan apa-apa. Orphia hanya ingin kau gendong.”
“Tolong jaga Orphia ya.”
Sara dan Alma menunjukkan kerja sama yang luar biasa untuk menjebak Orphia.
“Ugh… K-Kalau begitu… Jika kau tidak keberatan, Haruto…” Orphia merona malu, menundukkan kepalanya di hadapan Rio.
“Aku mengerti. Kalau begitu, permisi.”
Rio mengangkat Orphia dengan mudah, mendekapnya erat di dalam pelukannya. Kalau dipikir-pikir, ini akan menjadi pengalaman pertamanya digendong oleh pria itu. Dia tahu Rio mengaktifkan penguatan kekuatan untuk membuat pekerjaannya menggendongnya menjadi mudah, tapi benar-benar mendapati Rio mengangkatnya dengan begitu mudah terasa sedikit memalukan.
“…” Orphia membenamkan wajahnya untuk menyembunyikan rona merah di pipinya.
“Kalau begitu, ayo kita berangkat,” kata Rio kepada Christina. Mereka meninggalkan para kesatria dan penyihir dalam keadaan tidak bersenjata dan terikat di jarak yang tidak jauh dari sana, lalu berjalan menuju bukit yang mengarah ke perbatasan Galarc.
◇ ◇ ◇
Kelompok Rio telah mencapai puncak bukit. Ada 5.000 prajurit di hadapan mereka, tetapi mereka tampak jelas kebingungan tentang bagaimana menghadapi kedatangan kelompok Rio. Ada keresahan yang nyata di antara pasukan tersebut—dan karena mereka membiarkan Charles ditangkap tanpa melakukan satu hal pun, ada juga rasa bersalah yang menyelimuti mereka.
“Kalau dilihat-lihat sekarang, jumlah mereka benar-benar banyak…” kata Christina sambil memandangi lautan pasukan di sekelilingnya.
Saat ini mereka berada di perbatasan Kerajaan Galarc, yang aliansinya dengan mereka telah menjadi sangat dingin. Lokasi ini juga relatif dekat dengan wilayah Marquess Rodan, yang digunakan oleh faksi Duke Huguenot sebagai markas besar mereka.
Diperlukan pengerahan kekuatan militer yang memadai untuk pertahanan, jadi mudah untuk menebak bahwa memang ada cukup banyak prajurit yang ditempatkan di sekitar sini sejak awal.
“Mereka mengerahkan sebanyak mungkin anggota tim pencari menggunakan kapal sihir, lalu mereka memobilisasi sebagian besar pasukan di kota-kota berkubu. Jumlahnya sekitar 5.000 orang,” kata Rui.
Benar juga, jika mereka menggunakan kapal sihir, maka adalah hal yang mungkin untuk memindahkan beberapa ratus orang dari Cleia dalam sehari.
“Begitu ya. Tetap saja, aku terkejut ada begitu banyak kekuatan militer yang dialokasikan ke perbatasan. Mereka pasti sadar kalau tindakan ini tampak seperti provokasi bagi Galarc.” Christina mengalihkan tatapan dinginnya ke arah Charles.
Lain cerita jika mereka hanya menempatkan pasukan di dalam kota-kota berkubu, tetapi mengerahkan pasukan sebesar itu di perbatasan pasti akan dianggap sebagai provokasi. Siapa pun akan berasumsi bahwa mereka sedang bersiap untuk menginvasi kerajaan lain.
Mereka mungkin telah memberikan semacam penjelasan kepada Kerajaan Galarc saat memobilisasi seluruh pasukan tersebut, tetapi tidak ada seorang pun yang cukup bodoh untuk mempercayai apa pun dalam situasi seperti ini. Memindahkan para prajurit di sisi perbatasan ini akan membuat Galarc mengumpulkan pasukan di sisi mereka, jadi mereka harus segera memerintahkan para prajurit itu mundur sesegera mungkin untuk menjernihkan kesalahpahaman tersebut. Selain itu, mereka harus menemui perwakilan dari Galarc, menjelaskan semuanya, dan meminta maaf.
“Hah, kamu sudah sangat terlambat untuk melakukan itu. Hubungan antara Beltrum dan Galarc sudah lama tidak ada lagi. Dan justru karena strategi itulah kami berhasil membuat Yang Mulia lengah. Haha,” cibir Charles, tampak sedikit bangga pada dirinya sendiri.
Sungguh, akal sehat biasanya akan membuat mereka mengabaikan opsi tersebut, itulah sebabnya mengambil opsi tersebut telah memungkinkan Charles untuk mengecoh Christina. Dalam hal ini, itu adalah strategi yang berani—dan sangat efektif secara licik.
“…” Suhu dalam tatapan Christina semakin menurun. Memburuknya hubungan antara Beltrum and Galarc tidak disebabkan oleh siapa pun selain langkah-langkah yang diambil oleh faksi Arbor.
“Kamu sepertinya merasa cukup bangga, tetapi orang yang merancang strategi itu bukanlah dirimu, melainkan Reiss, bukan?” Rio tiba-tiba menunjukkan hal itu. Cara misterius Reiss bertindak sebelumnya telah membuatnya menyimpulkan sejauh itu.
“Apa…!” Mata Charles terbelalak kaget.
“Sepertinya tepat sasaran,” gumam Christina.
“B-Betapa tidak sopannya! Sir Reiss dan aku memikirkan rencana ini bersama-sama! Dan rencana itu pasti akan berhasil, jika bukan karena kalian…!” ratap Charles dengan wajah memerah, memelototi Rio.
“Begitu ya. Bagi duta besar Kekaisaran Proxia, memburuknya hubungan Beltrum dan Galarc hanya akan menguntungkan pihak mereka. Itulah sebabnya dia tidak peduli dengan hasilnya. Kamu hanya dimanfaatkan selama ini, ya?” kata Rio dengan tenang, secara khusus memilih kata-katanya untuk memprovokasi Charles.
Charles tertegun sampai tidak bisa berkata-kata, tetapi tak lama kemudian dia menjadi sangat marah. “A-Apa… Apa yang baru saja kamu katakan, kau…!”
Namun, sesaat kemudian, ada ekspresi ragu di dalam matanya.
Aku tadinya berharap bisa mengetahui tujuan Reiss, tetapi menilai dari reaksinya, Charles juga tidak akan tahu hal berguna apa pun, pikir Rio.
Dia tadi meninggalkan Reiss karena tidak punya waktu sedetik pun untuk disia-siakan, tetapi sama sekali tidak mungkin dia bisa berbalik sekarang—bukan berarti Reiss masih akan berada di sana jika dia melakukannya. Satu-satunya sumber informasinya adalah Charles, tetapi tampaknya dia tidak akan banyak membantu.
Itu berarti Reiss menawarkan dirinya sebagai pengalih perhatian sambil merencanakan kekalahannya sendiri sejak awal. Menyebalkan sekali bagaimana dia mengetahui pergerakan kita sementara kita tidak tahu pergerakannya. Dia jelas selangkah lebih maju dari kita dalam hal pengintaian dan penyusupan.
Jika ada satu hal yang tidak berjalan sesuai rencana Reiss, itu adalah kegagalan Charles untuk menangkap Christina saat dia bertindak sebagai umpan. Ataukah mungkin Reiss telah memprediksi kekalahan Charles juga…?
“Aku minta maaf karena telah menyela,” kata Rio kepada Christina, mengabaikan masalah itu karena tampaknya sudah tidak ada harapan.
“Tidak apa-apa, aku tadi juga sedikit terbawa emosi. Aku sudah tenang berkatmu. Kita harus segera bergegas dan menyuruh para prajurit kembali ke kota masing-masing.”
“Kalau begitu, aku akan pergi dan berbicara dengan para prajurit,” tawar Rui.
“Bagus sekali kalau begitu… Aku sangat berterima kasih,” ucap Christina sebagai bentuk terima kasih.
Meskipun mereka mungkin bisa mengatasi para prajurit dengan mengancam perwira komandan Charles, tidak ada yang bisa memastikan apakah mereka semua akan kooperatif. Ada kekhawatiran keadaan akan menjadi rumit jika mereka mengatakan atau menuntut sesuatu yang tidak pantas.
Dalam hal itu, Rui bukanlah seorang komandan, melainkan seorang pahlawan. Selama Enam Dewa Bijak digunakan secara politis sebagai agama resmi negara, tidak mungkin para prajurit menganggap remeh perkataan seorang murid dewa. Dia memiliki pengaruh yang jauh lebih besar daripada perintah mereka untuk mengejar Christina.
“Kalau begitu, aku pergi dulu.”
Rui berjalan beberapa puluh meter terakhir menuju pasukan yang sedang menunggu di depan. Begitu dia berada dalam jarak sepuluh meter, seorang perwira tinggi bergegas keluar dari tengah-tengah pasukan untuk berbicara dengan Rui. Rui menoleh ke belakang untuk menunjuk ke arah Rio dan yang lainnya saat dia menjelaskan situasinya kepada perwira tersebut.
Yaitu, bahwa mereka telah dikalahkan sepenuhnya dan Charles serta Alfred telah ditawan. Mereka tidak punya pilihan selain membiarkan Christina dan rombongannya pergi, jadi pasukan tersebut harus mundur juga dari sini.
Seorang pendekar pedang tunggal telah memusnahkan para kesatria dan penyihir elit, mengalahkan pendekar pedang dan pahlawan terkuat kerajaan, serta membuat 5.000 prajurit tertegun dan tidak berdaya saat melihat panglima tertinggi mereka dibawa pergi.
“Guh…”
Akhirnya menerima kekalahan yang belum pernah terjadi sebelumnya itu sebagai kenyataan, perwira tersebut mulai menggigit bibirnya. Kepalanya pasti akan melayang jika terus begini. Namun, beberapa menit kemudian, Rui memutar balik tubuhnya dan kembali ke tempat Rio.
Perwira itu juga sedang mengumpulkan para prajurit di sekitarnya. Kemudian, pasukan yang menghalangi jalan itu tiba-tiba mulai berkerumun ke sisi-sisi jalan, membuat jalur di tengahnya.
“Silakan lewat.”
Rui memberi isyarat ke arah bukit begitu dia kembali, mendorong mereka untuk segera berangkat.
“Terima kasih banyak,” kata Christina penuh hormat.
“Jangan dipikirkan,” Rui menggelengkan kepalanya, lalu memanggil nama kedua tahanan tersebut. “Charles, Alfred.”
“…”
Tidak mampu berkata apa-apa karena kepedihan hatinya, Charles hanya menatap Rui.
“Ya?” jawab Alfred dengan tenang.
“Aku tidak tahu seberapa banyak yang bisa kulakukan, tapi kalian bisa menyerahkan sisanya padaku. Aku akan memastikan untuk melaporkan kepada orang-orang di ibu kota tentang apa yang terjadi di sini. Aku bersumpah tidak akan membiarkan siapa pun harus bertanggung jawab dengan nyawa mereka,” kata Rui kepada mereka berdua.
“Guh…” Charles meringis.
“Tolong lakukanlah,” Alfred menundukkan kepalanya dalam-dalam.
“Akan kulakukan. Aku akan berdoa agar kita bisa bertemu lagi suatu hari nanti. Selamat tinggal,” kata Rui kepada Alfred.
“Sekarang pergilah,” desak Vanessa kepada Alfred dan Charles.
“Baiklah,” Alfred mengangguk, dan mulai berjalan. Charles tampak tidak senang karena diperintah, namun dengan terpaksa mulai berjalan setelah Vanessa menyodok punggungnya dengan sarung pedangnya.
Esensi sihir kedua orang itu disegel dan tangan mereka diborgol, sehingga mereka tidak bisa melawan. Para prajurit yang tadinya menyingkir untuk mereka kini sedang mengawasi mereka, membuat rasa malu mereka semakin terlihat jelas. Tidak ada yang lebih menghinakan bagi Charles, yang memiliki harga diri yang tinggi.
“Sialan… Sialan semuanya…” gumam Charles, melihat sekeliling pada para prajurit yang tidak menyelamatkannya tadi sebelum menundukkan kepalanya. Dia mempercepat langkahnya, dengan takut-takut menghindari tatapan mereka. Sara, Christina, Celia, Kouta, dan Rei mengikuti di belakangnya.
“Sampai jumpa, Kouta. Kau juga jaga diri, Saiki. Mari kita bertemu lagi,” seru Rui kepada Kouta dan Rei.
“Ya,” Kouta mengangguk, memberikan jawaban singkat.
“Duluan,” kata Rei, melambaikan tangannya dengan ringan sebelum mengikuti Christina dan yang lainnya.
Rui kemudian memanggil Rio, yang berada di belakang Kouta dan Rei. “Haruto.”
“Ya?”
“Apakah kau ingat apa yang kukatakan kepadamu saat kita berpisah di Galarc?”
“Ya. Di taman, kan?” Rio mengenang perpisahannya dengan Rui di kastil Galarc.
Rui menatap Rio secara langsung. “Jika kita punya kesempatan untuk bertemu lagi, aku ingin berbicara denganmu sebagai teman. Kita tidak dapat menepati janji itu kali ini, tapi aku berharap kita bisa melakukannya di lain waktu.”
“Ya,” aku Rio menyetujui.
“Semoga kita bisa menghindari pertemuan di medan perang lagi. Aku tidak punya cukup nyawa untuk menghadapi kalian saat kalian bertarung secara serius—jika kita harus bertarung, aku jauh lebih suka berada di pihak yang sama,” canda Rui sedikit, namun mengakhiri kata-katanya dengan serius.
“Aku juga tidak ingin bertarung melawanmu lagi. Terutama dalam pertarungan jarak jauh… Kemampuan membidikmu sangat brilian,” puji Rio.
“Meskipun pada akhirnya aku tidak bisa mendaratkan satu tembakan pun padamu.”
“Jika kau bisa bertarung dari jarak jauh tanpa ada gangguan apa pun, hasilnya mungkin akan berbeda.”
“Aku meragukan itu…” Rui memejamkan mata, tampak tidak yakin. Lalu dia mengangkat kepalanya dan melihat ke arah punggung Kouta dan Rei. “Haruto, jika Kouta dan Saiki berada dalam masalah… Jika tidak merepotkan, bisakah kau membantu mereka sebisa mungkin? Mereka adalah teman-teman pentingku. Itulah sebabnya aku ingin mempercayakan mereka kepadamu, seseorang yang kuanggap sebagai teman penting yang kudapatkan di dunia ini. Jika kau bisa ada untuk mereka saat mereka dalam kesulitan, itu saja sudah cukup.”
“Aku mengerti. Jika mereka benar-benar dalam kesulitan, aku akan membantu sebaik kemampuanku.”
“Terima kasih… Meskipun aku meragukan hal ini akan terjadi, aku bersumpah aku akan ada untukmu jika kau juga berada dalam kesulitan—sebagai temanmu.”
“Kalau begitu, aku juga.”
Mereka berdua saling bertukar senyuman lembut. Rui tidak berkata apa-apa lagi dan mulai berjalan ke arah yang berlawanan dengan Rio.
“Mari kita pergi?” Rio tersenyum lembut saat dia berbicara kepada Orphia di dalam gendongannya dan Alma yang bertindak sebagai penjaga barisan belakang. Dengan demikian, mereka berangkat menyusul Celia dan yang lainnya.
◇ ◇ ◇
Rio dan yang lainnya telah tiba di sebuah benteng yang berfungsi sebagai pos pemeriksaan di sisi Galarc dari jalan yang menghubungkan Kerajaan Beltrum dan Galarc. Omong-omong, kota berdinding yang terakhir kali mereka kunjungi di sisi Beltrum bertindak sebagai pos pemeriksaan terakhir untuk Kerajaan Beltrum.
Gerbang benteng yang biasanya terbuka kini ditutup rapat, dan beberapa prajurit sedang menunggu di depan gerbang.
“Berhenti!” teriak mereka, tampak jelas waspada terhadap kedatangan mereka.
“Mari kita berhenti. Aku yang akan mengurus ini.” Semua orang berhenti atas perintah Rio.
Ngomong-ngomong, semua orang kecuali Celia telah melepas artefak pengubah rambut mereka dan menurunkan tudung mereka di dalam perjalanan ke sini. Sekarang setelah mereka berhasil melepaskan diri dari kelompok pencari, tidak ada lagi kebutuhan untuk menyamar. Hanya penyamaran Celia yang tidak dapat dilepas karena mantan tunangannya, Charles, berada tepat di dekat sana. Bahkan jika dia bern suatu hari nanti mengungkapkan identitasnya kepadanya, melakukannya sekarang bisa berubah menjadi masalah, jadi dia tetap mempertahankan penyamaran.
Salah satu penjaga gerbang mendelik ke arah mereka, bertanya dengan tatapan tajam ke arah Charles dan Alfred, “Siapa kalian? Dua orang di sebelah sana itu… Apakah mereka ksatria Beltrum?”
“Orphia, bolehkah aku menurunkanmu di sini?”
“Ya.”
Rio menurunkan Orphia dari gendongan pengantin yang sedang ia lakukan. Diam-diam ia telah merapalkan seni roh penyembuhan selama mereka bergerak, jadi dia sudah sembuh total sejak lama, tetapi dia tidak dapat menemukan kesempatan yang tepat untuk berbicara saat mereka berada di perjalanan. Ketika kakinya menyentuh tanah untuk pertama kalinya dalam puluhan menit, dia tampak sedikit sedih.
Bagaimanapun juga, Rio berjalan ke arah para prajurit yang mendekati mereka dan mengungkapkan identitasnya. “Namaku Haruto Amakawa, ksatria kehormatan Kerajaan Galarc. Aku ingin meminta izin akses ke kerajaan melalui pos pemeriksaan, tetapi aku juga ingin memperjelas situasi yang terjadi di perbatasan dengan pasukan Beltrum. Bolehkah aku berbicara dengan orang yang bertanggung jawab di sini?”
Ekspresi prajurit itu langsung berubah. “K-Ksatria kehormatan?! M-Maafkan ketidaksopananku! Bolehkah aku melihat beberapa bukti identitas?” tanyanya dengan hormat.
“Aku memiliki lencana ini yang dianugerahkan kepadaku oleh Yang Mulia. Apakah itu cukup?” Rio membuka mantelnya dan melangkah lebih dekat ke arah para penjaga gerbang, menunjukkan kepada mereka lencana yang telah ia pasangkan di kerahnya.
“M-Memang, ini adalah lambang keluarga kerajaan… Tidak ada masalah sama sekali! Seseorang yang bertanggung jawab akan segera keluar, jadi mohon tunggu di sini sebentar,” kata prajurit penjaga itu sambil menelan ludah dengan gugup. Dia kemudian menoleh ke bawahannya untuk memberikan perintah. “Kau masuk ke dalam dan segera jelaskan situasinya.”
“B-Baik, Komandan!” Prajurit yang menerima perintah itu berlari dengan panik, memasuki benteng melalui sebuah pintu kecil.
“Kalau begitu, aku akan kembali ke tempat rekan-rekanku.” Rio membalikkan tubuhnya dan kembali ke tempat Celia dan yang lainnya berada, sekitar sepuluh meter dari penjaga gerbang. Mereka menunggu di sana sebentar.
“Hei, apakah seorang ksatria kehormatan itu begitu penting? Kapten tadi terlihat sangat gugup tentang hal itu, tetapi apa bedanya dia dengan ksatria biasa?”
“Bodoh! Seorang ksatria kehormatan setara dengan seorang earl dalam hal pangkat. Kepala kita bisa melayang jika kau menunjukkan ketidaksopanan. Anggap saja mereka sangat penting.”
“B-Benar juga…”
Dan seterusnya, para prajurit itu berbisik-bisik satu sama lain. Terlebih lagi, karena Celia, Sara, Orphia, Alma, dan Christina—yang semuanya adalah gadis-gadis muda dan cantik—berdiri berderet…
“Hei, apa kau pernah melihat gadis selucu itu sebelumnya?”
“Tidak, tidak pernah.”
“Mereka pasti para wanita bangsawan. Lahir dan dibesarkan di dunia yang berbeda dari kita.”
“Haah! Menjadi bangsawan pasti luar biasa.”
Para prajurit itu saling bercengkerama, melirik ke arah mereka dengan tatapan penasaran yang hampir tak tertahankan. Beberapa menit kemudian, gerbang benteng perlahan-lahan mulai terbuka dengan suara berderit.
“Sepertinya pembicaraannya berjalan lancar,” kata Rio sambil menatap ke arah gerbang.
Fakta bahwa gerbanglah yang terbuka dan bukannya pintu kecil merupakan pertanda baik.
Pada akhirnya, memiliki gelar bangsawan memang cukup praktis, ya…
Gerbang itu terbuka cukup lebar hingga bagian dalam benteng terlihat. Beberapa orang berdiri di sisi sebaliknya—dia adalah putri dari keluarga Count Cretia sekaligus kepala Guild Ricca, Liselotte Cretia.
“Liselotte…?” Rio berkedip. Lokasi ini pastinya berada di dalam wilayah Duke Cretia, dan cukup dekat dengan Amande, jadi tidak aneh jika dia berada di sini, pikirnya.
Selain itu, tepat di samping Liselotte terdapat Flora, Duke Huguenot, Roanna, dan Sakata Hiroaki. Christina juga melihat Flora; matanya sedikit melebar, menunjukkan keterkejutannya. Hal yang sama juga berlaku untuk Flora, dan keduanya saling memandang dengan mata menyala bagai batu ametis.
“Flora…”
“K… Kakak…?”
Keduanya berbicara pelan, memanggil satu sama lain seolah untuk memastikan keberadaan mereka. Dengan demikian, reuni antara putri pertama dan kedua Kerajaan Beltrum pun terjadi di tempat yang tak terduga.
Komentar