Seirei Gensouki Volume 12 Prologue: Kenangan Christina Bahasa Indonesia






Prologue: Kenangan Christina
Di masa mudanya, Christina Beltrum menganggap dirinya sebagai seseorang yang istimewa.
Dia lahir sebagai putri pertama Beltrum, pewaris pertama takhta kerajaan paling berpengaruh di wilayah Strahl, diberkati dengan bakat akademik dan sihir, serta diagung-agungkan sebagai seorang jenius oleh semua instruktur dalam segala hal yang dipelajarinya.
Kerja keras bukanlah hal yang sulit baginya. Dia menganggap kerja keras sebagai kewajiban alami yang dibebankan kepadanya karena siapa dirinya—seseorang yang berdiri di atas orang lain. Lagi pula, jika dia bekerja keras untuk mendapatkan hasil yang lebih baik, orang tuanya akan memuji dirinya, dan adik perempuannya yang tercinta akan mengaguminya dengan penuh rasa hormat.
Itulah sebabnya dia secara alami mampu bekerja lebih keras daripada orang kebanyakan sejak usianya menginjak tiga atau empat tahun. Dia ingin memenuhi harapan orang tuanya. Dia ingin menjadi kakak perempuan yang layak dihormati.
Kerja kerasnya membuahkan hasil. Dia tidak pernah mengalami kegagalan dan dijuluki sebagai seorang jenius dalam hal apa pun yang dilakukannya. Masa mudanya benar-benar berjalan mulus tanpa hambatan.
Namun, latar belakang itu membuat keyakinannya bahwa dirinya adalah orang yang lebih unggul dan istimewa yang berdiri di atas orang lain perlahan-lahan semakin kuat. Karena dia istimewa, tidak ada hal yang tidak bisa dia lakukan. Tidak ada seorang pun di atasnya. Kebanggaannya tumbuh hingga hanya itulah yang bisa dia percayai.
Kendati demikian, dia tidak pernah menganggap adik perempuannya yang kurang berbakat sebagai orang bodoh. Dia sangat menyayangi Flora. Dia juga senang dipuji oleh orang tuanya. Sebagai anggota keluarga kerajaan, hanya ada sedikit orang yang bisa memperlakukannya setara, jadi dia selalu sangat menyayangi keluarganya.
Itulah sebabnya ketika usianya tujuh tahun, dunianya runtuh saat dia mengetahui bahwa Flora telah diculik dalam acara tamasya seremonialnya di luar kastil. Dia mengikuti Vanessa dan Celia yang pergi menyelidiki atas perintah rahasia dari ayahnya; dia secara paksa menyelinap keluar kastil dalam tindakan yang sangat bodoh.
Dia tiba di daerah kumuh ibu kota. Itu adalah pertama kalinya dia menginjakkan kaki di tempat seperti itu—tempat yang biasanya tidak akan pernah dia kunjungi seumur hidupnya.
Di sana, dia bertemu dengan seorang anak yatim piatu.
Namanya adalah Rio.
Rambutnya yang berantakan cukup panjang untuk menutupi wajahnya, kulitnya kasar dan dipenuhi kotoran serta debu, dan pakaiannya yang compang-camping mengeluarkan bau asam. Selain itu, anak laki-laki itu sendiri tampak kurus kering.
Dia seusia dengan Christina, dan menjalani kehidupan yang sangat bertolak belakang dengan kehidupan yang dihabiskannya di kastil sebagai seorang bangsawan.
Jadi ada anak-anak seperti ini di dunia ini—itulah yang dia pikirkan setelah melihat anak yatim piatu untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Namun, dia tidak tahu bagaimana cara mendekati anak laki-laki seperti itu, dan—dengan kepanikannya yang meningkat atas penculikan Flora—berakhir dengan melontarkan kata-kata yang tidak dapat dimaafkan kepadanya.
Respons Rio ternyata sangat sopan. Mereka tidak dapat memperoleh informasi yang berguna dari percakapan pertama mereka dengannya, tetapi kemudian, mereka melihat Rio menggendong Flora yang tidak sadarkan diri melewati daerah kumuh. Christina langsung diliputi amarah—anak yatim piatu ini telah berbohong tepat di depan wajahnya, mengatakan bahwa dia tidak tahu apa-apa tentang adiknya.
Christina menampar Rio dan berteriak kepadanya, tetapi Rio balas menatapnya dengan tatapan yang membuat darahnya membeku hingga ke tulang. Tatapan itu begitu menakutkannya hingga secara refleks dia mencoba menamparnya lagi, namun Rio menangkap tangannya. Ketika dia mencoba menamparnya dengan tangan yang bebas, Rio menangkap tangan yang satunya lagi juga.
Dan saat itu…
Itu adalah pertama kalinya kebebasannya direnggut secara paksa.
Itu adalah pertama kalinya dia dijatuhi tatapan tajam yang dingin.
Itu adalah pertama kalinya dia menganggap manusia lain begitu menakutkan.
Karena dia adalah putri pertama, tidak seorang pun pernah memperlakukannya dengan kasar atau tidak sopan. Semua orang selalu menghormatinya.
Dia merasa sangat malu. Harga dirinya terluka. Dia menyadari bahwa dirinya sebenarnya sama sekali bukan orang yang istimewa, melainkan seorang gadis yang sangat tidak dapat diandalkan.
Christina sangat marah pada saat itu, tetapi jika dipikirkan kembali sekarang, kejadian hari itulah yang mungkin membuat dirinya menyadari bahwa dia bukanlah orang yang istimewa. Dia adalah orang biasa yang tidak berbeda dari orang lain.
Dia hanya lahir di posisi putri pertama. Yang istimewa adalah posisinya, bukan dirinya sendiri. Hal itu menjadi semakin jelas begitu dia mulai menghadiri Akademi Kerajaan.
Sungguh, dia mampu menghasilkan hasil yang lebih baik daripada rata-rata orang di setiap bidang. Namun bakatnya berhenti sampai di situ saja. Dia mampu mempertahankan nilai tertingginya di akademi, tetapi itu semata-mata karena dia berkelakuan baik dan belajar dengan giat.
Dia tidak memiliki bakat seperti anak ajaib, dan tidak dapat bersaing dengan para jenius sejati di setiap bidang. Sebagai contoh, Celia Claire dianggap sebagai penyihir jenius—dan Christina sama sekali bukan tandingannya. Dia pernah membaca tesis yang dikirimkan Celia untuk melompati tingkat kelasnya dan meskipun dia bisa memahami isinya, dia tidak dapat membayangkan menulis sesuatu yang serupa pada usia Celia saat itu.
Selain itu…
Ada satu orang lagi yang bisa jadi merupakan seorang jenius. Awalnya dia tidak mau menerimanya, tetapi orang itu adalah Rio.
Dia tidak mungkin mendapatkan pendidikan yang layak di daerah kumuh, namun dia bisa membaca dan menulis tidak lama setelah masuk akademi, yang pada akhirnya melampaui sisa siswa lainnya untuk mencapai nilai tertinggi yang sama seperti Christina. Dia memiliki kemampuan belajar yang luar biasa.
Christina telah membanggakan kemampuan belajarnya, jadi dia diam-diam merasa terkejut pada saat itu. Jika dia berada di posisi Rio, apakah dia mampu mencapai nilai yang sama sepertinya?
Selain itu, dia melihatnya berlatih dengan pedangnya setelah jam kelas berkali-kali. Bentuk gerakannya sangat indah—gerakannya jelas berbeda dari para siswa lainnya.
Dia begitu anggun, namun tajam, dengan gerakan yang diasah hingga dia berada jauh di atas orang lain dalam hal tingkat keahlian. Mungkin itulah sebabnya Christina mendapati dirinya terpesona oleh pemandangan saat dia mengayunkan pedangnya sebelum dia menyadarinya.
Ya, dia pasti seorang jenius, pikirnya.
Namun kesadaran itu tidak mengubah hubungan di antara mereka, dan dia terus melakukan yang terbaik untuk menghindari pria itu di lingkungan akademi. Sebagian alasannya adalah karena rasa bersalah dan kecanggungan yang dia rasakan mengenai pertemuan pertama mereka. Bahkan jika dia ingin mendekatinya, dia tidak tahu harus berkata apa. Karena apa yang telah terjadi, dia juga merasa bahwa Rio tidak ingin berbicara dengannya.
Lebih penting lagi, dia adalah putri pertama. Dia tidak bisa begitu saja meminta maaf secara gegabah kepada orang lain, karena hal itu pada akhirnya bisa memicu masalah yang lebih besar.
Dia memang istimewa, tetapi itu adalah jenis keistimewaan yang membatasi.
Mempertimbangkan ketidaknyamanan yang bisa dia timbulkan bagi ayahnya, yang sudah dibuat pusing oleh perebutan kekuasaan di dalam negeri, dia memutuskan untuk menahan diri dari segala tindakan yang dapat memicu perselisihan.
Terlahir dalam posisi khusus berarti dia harus bertindak seperti seseorang yang luar biasa. Meskipun kenyataannya tidak demikian…
Itulah tugas dari seseorang seperti dirinya—dari seorang bangsawan yang dipercaya untuk memimpin sebuah kerajaan, begitu pikirnya.
Namun, ketika dia melihat Rio diisolasi di akademi, dia merasakan ketidaknyamanan yang tidak bisa dia identifikasi.
Para putra bangsawan secara keliru menganggap diri mereka istimewa dan bertindak tanpa mempedulikan orang lain. Menyaksikan mereka mengingatkan Christina pada dirinya di masa lalu, memunculkan perasaan malu beriringan dengan ketidaknyamanan di dalam dirinya.
Ketika dia melihat wajah sedih Flora ditambah semua itu, dia merasa sangat payah. Tak berdaya untuk melakukan apa pun melawan kenyataan ini…
Namun, terlepas dari itu, dia tetap mempertahankan jalannya sebagai seorang penonton.
Dan akibat dari hal itu adalah lahirnya seorang kambing hitam. Rio pasti telah merasakan bahaya yang mengancamnya, karena dia menghilang tanpa jejak dan tidak pernah muncul di hadapan Christina lagi.
Kenangan-kenangan itu, betapapun pahitnya, terkadang muncul kembali begitu saja.
Mereka tidak akan pernah bertemu lagi. Rio akan jauh lebih baik dengan cara itu.
Dengan pemikiran itu di benaknya, dia menutup rapat-rapat peti mati kenangan pahitnya.
Yaitu, sampai hari ini…
Komentar