Saijo no Osewa Volume 6 Bab 4 Bahasa Indonesia – Litenovel

Saijo no Osewa Volume 6 Bab 4 Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi

Bab 4: Permainan Manajemen

Keesokan paginya.

Di dalam mobil yang menuju ke akademi, aku menatap ke luar jendela dengan linglung.

“Izuki-san, apa kamu baik-baik saja?”

“…Ya.”

Shizune-san mengkhawatirkanku, tapi saat ini, aku bahkan tidak memiliki tenaga untuk berpura-pura ceria.

Fakta bahwa Suminoe-san telah membeli saham perusahaanku adalah sesuatu yang diketahui oleh Hinako dan Shizune. Hal itu telah tersebar luas di berita dalam game, jadi Narika, Taishou, Asahi-san, dan yang lainnya juga mengetahuinya. Setelah itu terjadi, mereka semua menghubungi lewat telepon atau pesan, penuh dengan kekhawatiran.

“…Izuki?”

Hinako, yang duduk di sebelahku, menatapku dengan mata penuh kekhawatiran.

Aku teringat bagaimana aku membuat semua orang khawatir ketika aku terlalu tenggelam dalam game sebelumnya. …Aku menepuk kedua pipiku, mencoba mengusir suram di hati.

“Aku baik-baik saja. Aku sudah tidur dan menjadi tenang.”

“…Mm.”

Merajuk tidak akan mengubah apa pun.

Dengan mengumpulkan sisa-sisa kepositifan entah bagaimana, aku keluar dari mobil sebelum Hinako, seperti biasa.

“Sampai jumpa di akademi, Hinako.”

“Mm. Tunggu aku, ya?”

Saat aku berjalan menuju akademi, aku mulai memikirkan langkahku selanjutnya.

Namun, saat aku melewati gerbang sekolah dan mendekati gedung—.

“Wah, selamat pagi, Tomonari-san.”

Aku berpapasan langsung dengan satu gadis yang paling tidak ingin kulihat saat ini.

“…Suminoe-san.”

“Kelihatannya kau ingin mengatakan sesuatu.”

Yah, tentu saja, tidak usah ditanya.

Melirik ke sekitar, aku menyadari teman sekelas diam-diam memperhatikan kami. Berkat berita di dalam game, pasti banyak orang yang bisa menebak apa yang sedang terjadi antara aku dan Suminoe-san.

Jika aku berbicara secara impulsif, aku mungkin akan mengatakan sesuatu yang menyedihkan, jadi aku menenangkan diri dan berbicara dengan tenang.

“…Itu adalah langkah yang cukup agresif yang kau lakukan.”

“Sudah kubingatkan, kan? Jangan menyesalinya.”

Suminoe-san mengatakannya tanpa sedikit pun rasa bersalah.

Secara umum, akuisisi perusahaan berarti mendapatkan kendali dengan mengamankan sahamnya. Ada berbagai cara untuk melakukan ini—bernegosiasi dengan para pemegang saham untuk mengalihkan saham mereka atau meluncurkan penawaran tender, alias TOB (tender offer bid), untuk memborong saham dari banyak pemegang saham sekaligus.

Tapi metode yang digunakan Suminoe-san? Hampir bisa dibilang tidak biasa.

Perusahaan yang dia akuisisi, Tech Capital Inc., adalah sebuah perusahaan modal ventura—dana yang berspesialisasi dalam berinvestasi pada perusahaan rintisan. Mereka menyediakan pendanaan untuk usaha yang sedang kesulitan sebagai imbalan atas saham, dan meraup untung ketika usaha tersebut tumbuh sesuai harapan.

Tomonari Gifts menerima pendanaan dari Tech Capital, dan sebagai gantinya, Tech Capital memegang sebagian saham Tomonari Gifts.

Jadi, ketika Suminoe-san mengakuisisi Tech Capital, dia secara efektif mendapatkan kendali atas saham Tomonari Gifts yang dimiliki oleh Tech Capital… yang berarti perusahaannya kini memegang posisi untuk pada dasarnya mendominasi Tomonari Gifts.

Ini—adalah akuisisi tidak langsung.

Ini adalah jenis strategi di mana, jika seseorang tidak mau mendengarkanmu, kau melangkahi mereka dan mengendalikan atasan mereka sebagai gantinya.

Ini tidak ilegal. Tapi pendekatan yang memaksa dan mengandalkan kekuatan uang ini? Sejujurnya, sama sekali tidak menyenangkan berada di pihak yang menerimanya.

“Kukira aku sudah memperjelas bahwa aku tidak akan menyetujui akuisisi…”

“Dunia bisnis tidak begitu manis hingga orang-orang akan mundur hanya karena kau bilang tidak.”

Itu sukses membuatku bungkam.

Saham Tomonari Gifts yang dipegang oleh Tech Capital jumlahnya hampir mencapai empat puluh persen dari total saham.

Seandainya mereka mengambil lebih dari separuhnya, aku pasti akan dipaksa menjadi anak perusahaan tanpa bisa membantah, jadi aku bertahan hidup hanya sehelai benang. …Tidak, mungkin aku bahkan sudah tidak bisa bertahan lagi. Bahkan tanpa status anak perusahaan penuh, mereka memiliki hak suara yang signifikan, sehingga kebebasan operasional Tomonari Gifts telah berkurang drastis.

“Tolong jangan salah paham—aku tidak secara khusus mengincar perusahaanmu saja.”

Ucap Suminoe-san dengan senyuman tenang.

“Bagaimanapun juga, aku ingin membawa beberapa perusahaan di bawah portofolio investasi Tech Capital ke dalam kendaliku. Ini semua demi menjadikan perusahaanku sebagai pemain nomor satu di industri IT.”

Tech Capital adalah perusahaan dengan aset yang jauh lebih banyak daripada Tomonari Gifts. Mengakuisisi sebuah dana investasi hanya untuk mengendalikan Tomonari Gifts secara tidak langsung sama sekali tidak masuk akal, jadi aku menduga ada tujuan yang lebih besar.

Tetapi aku tidak menduga detail dari tujuan tersebut.

“Hehe… terkejut? Bahwa aku punya ambisi?”

“Ya… apakah ini semua demi Tennouji-san juga?”

“Tentu saja.”

Suminoe-san mulai menjelaskan ambisinya.

“Di masa depan, aku ingin menjadi tangan kanan Tennouji-sama. Aku ingin melayani seseorang yang suatu hari nanti akan membuat nama mereka dikenal di seluruh negeri—tidak, dunia—mendukung mereka dalam urusan publik maupun pribadi. Dalam Game Manajemen ini, aku menganggap ini sebagai latihan.”

Perasaan Suminoe-san terhadap Tennouji-san memang sedikit gila, tetapi jika hanya mendengarkan kata-katanya, dia terdengar seperti orang yang sangat rajin dan ambisius.

Pengetahuan tentang cara mengembangkan sebuah perusahaan kemungkinan besar akan sangat berguna baginya di bawah kepemimpinan Tennouji-san di masa depan. Itulah mungkin alasan mengapa Suminoe-san begitu fokus memperluas SIS.

“Yah, aku juga hanya sekadar ingin menjatuhkanmu.”

—Tunggu, apa?

Aku merasa seperti orang bodoh karena mendengarkannya dengan begitu serius.

“Menyingkirkan rintangan adalah bagian dari latihan. Aku tidak akan memaafkanmu karena telah merayu Tennouji-sama.”

“…Merayu?”

Dia sebelumnya pernah bilang kalau dia tidak menyukaiku, tapi merayu? Itu berita baru bagiku.

Kira-kira Suminoe-san menganggap aku orang seperti apa?

“Sampai sekarang, Tennouji-sama jauh lebih stoik. Di balik pembawaannya yang elegan terdapat tekad yang tak diragukan lagi, selalu mendorong dirinya untuk melampaui saingannya, Konohana-san.”

Suminoe-san berbicara tentang sosok Tennouji-san yang ia kenal.

“Tapi Tennouji-sama telah berubah. Gara-gara kamu.”

Suminoe-san menatap tajam ke arahku.

“Semenjak bertemu denganmu, Tennouji-sama jadi melunak. …Tepatnya, sekitar waktu tes bakat bulan Juni! Saat itulah tanda-tanda perubahan mulai terlihat…!”

Suminoe-san mengepalkan kedua tangannya, gemetar karena marah.

Itu sangat spesifik sampai-sampai mengerikan.

Itu adalah persis saat masalah pertunangan Tennouji-san yang kubantu selesaikan. Tentu saja, Tennouji-san memang berubah sekitar waktu itu, tapi apa benar begitu mencolok?

“Dan semenjak saat itu, kamu dan Tennouji-sama menjadi semakin dekat…! Jumlah frekuensi kalian saling menatap mata saat pesta teh sepulang sekolah telah meningkat sebanyak 2,7 kali lipat, dan saat kalian berjalan berdampingan, jarak di antara kalian telah menyusut empat sentimeter! Mataku sama sekali tidak pernah melewatkan satupun hal!!”

Menakutkan, menakutkan, menakutkan, menakutkan—!

Suasana serius itu langsung hancur berkeping-keping. Maksudku, dia mungkin sangat serius mengatakannya, tapi…

“Jadi, kamu mengawasi pesta teh itu, ya…”

“Aku mengawasinya!! Sambil menangis darah!!”

“…Kamu kan bisa ikut bergabung dengan kami seperti biasa?”

“Aku tidak bisa! Kalau membicarakan soal sekolah atau permainan sih masih tidak apa-apa, tapi masalah pribadi? Aku bisa mati karena gugup!!”

Bukankah seharusnya kamu mendukungnya baik di depan umum maupun secara pribadi?

“Tennouji-sama yang dulu tidak akan pernah membentuk aliansi dengan Konohana-san. Dia tidak akan pernah menurunkan derajatnya untuk melakukan pertemanan semacam itu.”

Hal itu… mungkin memang benar, seperti yang dikatakan oleh Suminoe-san.

Hinako pernah bilang kalau dia merasa Suminoe-san mungkin tidak menyukainya. …Alasannya mungkin karena ini. Suminoe-san sangat mengidolakan Tennouji-san, jadi di lubuk hatinya yang paling dalam, dia mungkin menganggap saingan Tennouji-san, yaitu Hinako, sebagai musuh.

“Itulah kenapa aku menjatuhkanmu—untuk menyadarkan Tennouji-sama. Begitu jelas bahwa kamu bukan apa-apa yang istimewa, Tennouji-sama pasti akan sadar kembali. Ini juga, adalah tugas ku sebagai tangan kanan masa depannya.”

Mendengar tujuan Suminoe-san, aku teringat akan sesuatu yang pernah dikatakan oleh Tennouji-san.

—Hanya saja… dia mengagumi diriku yang dulu, jadi dia mungkin memiliki perasaan yang rumit tentang diriku yang sekarang.

Baik aku maupun Tennouji-san sendiri menganggap perubahannya adalah hal yang baik.

Tapi sepertinya ada satu orang di sini yang membenci perubahan itu.

“Kamu tidak layak untuk berdiri di sisi Tennouji-sama. Kamu akan segera tersingkir dari permainan ini dalam waktu dekat.”

Begitu mengatakannya, Suminoe-san memutar tumitnya dan pergi.

◆

Pada akhirnya, aku tidak dapat memikirkan tindakan balasan apa pun terhadap Suminoe-san, dan hari sekolah pun berakhir.

Bahkan setelah kembali ke mansion, aku mengurung diri di kamarku, berpikir sendirian.

Aku tidak boleh membiarkan ini terus berlanjut—aku butuh rencana, dan cepat. Didorong oleh desakan itu, aku meneliti cara-cara untuk lolos dari kendali tak langsung Suminoe-san, mencatat apa pun yang secara realistis bisa kulakukan.

Tok tok terdengar ketukan di pintuku.

Saat aku berkata, “Masuk,” Hinako melangkah masuk.

“Kerja bagus hari ini… Aku membawakan teh.”

“Terima kasih.”

Kukuhyung cangkir itu dan menyeruputnya pelan.

Rasa manis yang segar itu seolah meredakan ketegangan yang meringkuk di lubuk pikiranku.

“…Ini bahkan lebih enak dari sebelumnya.”

“B-Benarkah…!?”

Ketika aku memberikan pendapat jujurku, Hinako tampak sangat terkejut.

“Semua usaha itu terbayar sudah…”

Senyuman polosnya itu menggerakkan sesuatu di lubuk dadaku.

…Dia benar-benar berbakat, ya?

Ketika Hinako serius, dia bisa menangani hampir apa pun dengan sempurna. Masalahnya adalah dia jarang serius, tetapi akhir-akhir ini, dia penuh energi bahkan setelah kembali ke mansion.

Hinako semakin berkembang. …Aku tidak boleh biarkan diriku tertinggal.

“Dengan teh lezat seperti ini, sepertinya aku akan bekerja lebih keras lagi.”

Aku menegakkan postur tubuhku yang membungkuk, memanggil kembali motivasi baru.

Saat aku berbalik menghadap komputernya kembali, Hinako mendekat, mengintip layar bersamaku.

“Masih kesulitan dengan masalah Suminoe-san?”

“Ya. Sejujurnya, ini membuatku pusing.”

Atau lebih tepatnya, aku tadi sedang memegangi kepalaku sampai Hinako masuk.

“Mm… kalau begitu serahkan padaku.”

Tiba-tiba, Hinako mengatakan itu.

Aku mengalihkan pandanganku dari layar ke arahnya.

“Soal masalah Suminoe-san itu… aku punya solusi bagus.”

“Solusi?”

“Mm. Aku akan melindungimu, Izuki.”

Hinako mengatakannya dengan senyuman lembut.

“Lakukan alokasi pihak ketiga dan berikan beberapa saham kepada perusahaanku. …Jika kamu melakukannya, aku akan menjadikan perusahaanmu anak perusahaan dan melindunginya dari Suminoe-san.”

Berkat saran Takuma-san untuk mempelajari tentang saham, aku mengerti apa yang disarankan oleh Hinako.

Alokasi pihak ketiga adalah metode penggalangan dana di mana saham baru diterbitkan kepada pihak ketiga tertentu sebagai imbalan atas dana.

Metode ini memiliki keuntungan yaitu membiarkanmu menyerahkan saham kepada pihak yang tepercaya, tetapi menerbitkan saham baru dalam jumlah besar akan mendilusi persentase kepemilikan pemegang saham yang ada. Pemegang saham yang tadinya memiliki suara dalam manajemen bisa kehilangan pengaruh karena porsi kepemilikan mereka berkurang, jadi kamu harus mempertimbangkan hak-hak mereka dengan cermat.

Namun di sisi lain, ini juga berarti kamu bisa lepas dari kendali para pemegang saham yang ada tersebut.

Saat ini, pemegang saham terbesar Tomonari Gifts adalah SIS Inc.—dengan kata lain, Suminoe-san.

Jika aku menerbitkan banyak saham baru kepada Hinako melalui alokasi pihak ketiga, pemegang saham terbesar akan beralih dari Suminoe-san ke Hinako, dan Tomonari Gifts akan berada di bawah perlindungan Konohana Group. Hal itu akan membebaskanku dari kendali Suminoe-san. Sebagai gantinya, aku akan menjadi bagian dari Konohana Group, tetapi karena Hinako tahu apa yang ingin kulakukan, dia tidak akan mengekangku.

Strategi anti-pengambilalihan semacam ini memiliki nama khusus.

“…Ksatria putih, ya?”

“Yap.”

Hinako mengangguk, terlihat sedikit senang.

Saat sebuah perusahaan menderita di bawah pengambilalihan secara tidak bersahabat, pihak yang mengakuisisi secara ramah datang menyelamatkan hari. Bagi perusahaan yang butuh penyelamatan, itu bukanlah istilah yang terlalu berlebihan—melainkan sangat pas.

“Aku akan jadi ksatria putihmu.”

Hinako membusungkan dadanya dengan bangga.

Tapi entah kenapa… aku tidak bisa langsung mengangguk setuju.

Mendengar usulan Hinako, aku terkejut di dalam hati, berpikir, Itu sebuah pilihan!

Tapi di saat yang sama…

(…Apakah itu boleh?)

Ada sesuatu yang terasa ganjil.

Aku punya firasat bahwa aku seharusnya tidak menerima uluran tangan ini.

Demi kebaikan perusahaan, membiarkan Hinako membantu di sini adalah langkah yang cerdas. Seperti yang dikatakan Suminoe-san, adalah sebuah kehormatan bagi sebuah perusahaan rintisan untuk didekati demi M&A. Aku menolak tawaran Suminoe-san karena visi kami tidak sejalan, tapi Hinako mengenal Tomonari Gifts dan aku, sang pendiri, luar dalam. Dia adalah pihak yang mengakuisisi secara ramah.

Perusahaan yang telah kucurahkan segenap hatiku sedang dilirik oleh Konohana Group yang bergengsi. Tidak ada kehormatan yang lebih besar. …Seharusnya tidak ada.

Namun tetap saja, ada sesuatu yang terus mengusik benakku…

(…Ah.)

Itu dia.

Benar sekali.

Bukankah aku baru saja membicarakan hal ini dengan Tennouji-san belakangan ini?

Aku ingin berdiri di sisi Hinako.

Hinako, Tennouji-san, Narika, Asahi-san, Taishou, Kita, dan… bahkan Suminoe-san. Aku bekerja keras sekarang untuk benar-benar berdiri sebagai sosok yang setara dengan mereka.

Itulah mengapa aku mengincar posisi eksekutif di Konohana Group, mengapa aku berjuang untuk masuk OSIS, mengapa aku mengerahkan seluruh kemampuanku dalam Management Game—setiap bagian darinya adalah demi tujuan itu.

…Kalau begitu, tidak mungkin.

Aku tidak boleh menerima uluran tangan Hinako di sini.

Aku berniat menjadi orang yang setara dengannya—bagaimana bisa aku membiarkan diriku dilindungi secara sepihak seperti ini?

“…Maaf, Hinako.”

Aku menundukkan kepala dan mengatakannya.

“Aku tidak mau menerima tawaran itu.”

“…Eh?”

Mungkin itu adalah tanggapan yang sama sekali tidak terduga, karena Hinako mengeluarkan suara lirih.

“K-Kenapa…?”

“Aku tidak boleh membiarkan diriku diselamatkan atas dasar rasa kasihan.”

Sejak awal, tidak ada alasan bagi perusahaan Hinako untuk mengakuisisi perusahaanku. Lagipula, dia tidak melihat perusahaanku sebagai peluang investasi. Hinako mengulurkan tangan hanya karena dia melihatku sedang dalam masalah, begitu saja.

Dengan kata lain, ini bukanlah bisnis atau semacamnya—ini murni rasa kasihan.

Justru itulah kenapa aku tidak bisa menerimanya.

“…Aku ingin menjadi orang yang setara denganmu, Hinako.”

Jika aku berada di bawah perlindungan Hinako, aku tidak akan pernah menjadi orang yang setara dengannya.

Di Akademi Kiou, banyak sekali murid yang mengagumi Hinako. Mereka selalu melihatnya dari kejauhan, menatap penuh impian atau memuji-mujinya.

Tapi, dan mungkin ini terdengar kasar, aku tidak ingin menjadi seperti mereka.

Aku tidak hanya ingin mengaguminya dari jauh. Aku tidak ingin menjadi pengikutnya.

Aku ingin menjadi seseorang yang pantas berdiri di sisi Hinako.

“Jadi, bisakah kamu memercayaiku? Aku akan mengatasi ini sendiri bagaimanapun caranya. …Jika aku mengandalkanmu di sini, aku merasa aku tidak akan pernah bisa berdiri di sisimu.”

Aku mencurahkan isi perasaanku.

Hinako terdiam sejenak, lalu…

“…Baiklah.”

Dengan kepala tertunduk, Hinako meninggalkan ruangan.

Melalui celah-celah rambutnya, aku melihat telinganya memerah.

…Apakah aku membuatnya marah?

Aku tahu Hinako tidak memandang rendah diriku.

Dia mengulurkan tangan kepadaku karena kebaikan hatinya yang murni. Menolak itu secara mentah-mentah tentu saja akan membuatnya kesal.

Tapi—ini adalah sesuatu yang tidak bisa aku kompromikan.

Mulai sekarang, aku akan membuktikannya lewat tindakan.

“…Baiklah!”

Meyakinkan diri sendiri, aku kembali menghadap komputerku.

◇

Meninggalkan kamar Izuki, Hinako berjalan menyusuri lorong dengan pandangan tertuju ke lantai.

Menatap kosong ke arah karpet merah, Hinako membenturkan kepalanya ke dinding dengan bunyi gedebuk.

“Aduh!”

“Ojou-sama…?”

Shizune, yang kebetulan sedang membersihkan area sekitar, memerhatikan Hinako.

Namun, Hinako buru-buru berbalik dan mulai berjalan lagi, dengan mata yang masih menatap ke lantai…

“Aduh!”

“O-Ojou-sama? Um, Anda tidak apa-apa? Kamar Anda ada di sebelah sini…”

“Ugh…”

Shizune tampak bingung melihat perilaku aneh Hinako.

Sambil mengusap keningnya, Hinako membiarkan Shizune membimbingnya ke kamarnya.

Begitu berada di dalam, Hinako langsung menuju ke tempat tidurnya.

Membenamkan diri di dalam selimut dan terdiam, Hinako memicu tatapan khawatir dari Shizune.

“Jika Anda merasa tidak enak badan, saya bisa memanggil dokter…”

“Tidak… biarkan aku sendiri dulu…”

Ini bukan soal merasa sakit atau semacamnya.

Mungkin memutuskan bahwa yang terbaik adalah mengikuti perintah untuk saat ini, langkah kaki Shizune perlahan menjauh, diikuti oleh suara pintu yang tertutup.

Ditinggal sendirian, Hinako membenamkan wajahnya di bantal, kakinya menendang-nendang ke atas dan ke bawah dengan gelisah.

(Ughhh…!)

Wajahnya terasa panas. Seperti bisa meledak kapan saja.

Dia mungkin sedang memasang ekspresi yang sangat aneh sekarang. Mustahil dia membiarkan siapa pun melihatnya dalam keadaan seperti ini, jadi dia terus menundukkan pandangannya.

Dia sepenuhnya berada di bawah belas kasihan emosi yang meluap-luap dari lubuk hatinya yang paling dalam.

Pikirannya memutar ulang percakapan yang baru saja dia lakukan dengan Izuki.

—Aku ingin berdiri sebagai orang yang setara denganmu, Hinako.

Kata-kata Izuki, suaranya, ekspresinya—semuanya datang berhamburan kembali, begitu jelas di benaknya.

“Keren… keren banget…!”

Seolah ingin melampiaskan gelora perasaan luar biasa yang tak mampu dia bendung, dia menendang-nendangkan kakinya semakin cepat.

Dia menggesekkan wajahnya ke bantal berulang kali, tetapi jantungnya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan segera tenang.

(Benar juga… Izuki ingin menjadi lebih dekat denganku…)

Itu bukan sekadar imajinasinya. Izuki sendiri yang mengatakannya, sangat jelas tanpa keraguan.

Perasaan tulusnya telah sampai kepadanya, begitu jelas dan terang.

“~~~ !”

Suara tanpa kata meluncur dari bibirnya.

Sambil memeluk bantal erat-erat, Hinako berguling ke sana kemari di atas tempat tidur.

(Aku sangat bahagia… bahagia sekali, bahagia, bahagia…!)

Dia merasakan dorongan yang tak bisa dijelaskan untuk berteriak sekuat tenaga.

Kehangatan meluap dari dadanya, berputar-putar di dalam tubuhnya, mencari jalan keluar.

(Tapi… ughhh! Aku juga ingin bekerja keras demi Izuki…!)

Perasaan rumit, yang berbeda dari kebahagiaannya, mulai muncul ke permukaan.

Sejujurnya, dia tidak menyangka usulannya akan ditolak.

Dia tidak bermaksud meremehkan Izuki, tetapi dalam situasi ini, pria itu jelas-jelas berada dalam kerugian besar. SIS adalah perusahaan yang ukurannya puluhan kali lipat lebih besar daripada Tomonari Gifts. Menghadapi mereka secara langsung, menemukan cara untuk keluar tanpa cedera bukanlah sesuatu yang bisa dicapai begitu saja secara kebetulan.

Itulah sebabnya dia mengusulkan apa yang dia anggap sebagai langkah terbaik.

Dia telah menyusun sebuah rencana, dengan keyakinan bahwa itu akan membuat Izuki bahagia.

(Bahkan kusediakan satu posisi dewan direksi untuknya, berjaga-jaga kalau dia mau bergabung…!)

Dalam hati, dia diam-diam berharap mereka bisa menikmati permainan bersama.

Di akademi atau di mansion, berdampingan, menyelami permainan manajemen dengan penuh semangat—dia telah membayangkan pemandangan itu, jantungnya berdebar kencang karena antusias saat dia menyampaikan usulannya.

Namun… perkataan Izuki tentang keinginannya untuk menjadi setara dengannya telah membuatnya sangat terpesona, dan cara pria itu mengatakannya sungguh keren tanpa bantahan.

(…Keren sekali.)

Hatinya sudah meluap-luap.

Mungkin ini tidak masalah kalau begitu.

Segalanya memang tidak berjalan sesuai rencana, tetapi dia mungkin merasa jauh lebih bahagia dari yang pernah dia bayangkan.

Jika ada satu penyesalan yang tersisa, itu adalah bahwa dia masih belum tahu apa yang akan dilakukan Izuki selanjutnya. Pria itu bilang dia akan mengurusnya sendiri, tetapi itu tidak akan semudah itu.

(Mungkin aku bisa menggunakan orang dalam di belakang layar…)

Dia mempertimbangkan untuk mendukung Izuki secara diam-diam tanpa sepengetahuan pria itu.

Namun… setelah Izuki memintanya untuk mempercayainya, merencanakan sesuatu di belakang punggung pria itu terasa tidak benar baginya.

“Ughhh…”

Dia sangat senang karena Izuki telah mengatakan hal tersebut.

Namun… apakah boleh membiarkan semuanya seperti ini? Pertanyaan itu berputar-putar di benaknya.

Tepat pada saat itu, terdengar ketukan di pintu.

“Ojou-sama, apa Anda benar-benar baik-baik saja?”

“…Aku baik-baik saja. Kamu boleh masuk.”

Mengenali suara Shizune, dia memberikan izin untuk masuk.

Shizune mendekat dan dengan lembut meletakkan tangannya di dahi Hinako.

“…Sepertinya tidak ada masalah.”

Memastikan tidak ada demam, Shizune menghela napas lega.

“Tuh kan? Sudah kubilang aku baik-baik saja.”

“Tetap saja, wajahmu sangat merah.”

“I-itu… bukan apa-apa.”

Karena malu, Hinako memalingkan wajahnya.

“Apakah Izuki-san menikmati tehnya?”

“Ya, dia bilang tehnya bahkan lebih enak dari sebelumnya… hehe.”

Itu adalah hal lain yang membuatnya bahagia.

Mendengar perkataan Hinako, Shizune tersenyum seolah itu adalah pencapaiannya sendiri.

“Usaha-usahamu membuahkan hasil.”

“Ini berkat kamu yang mengajariku dengan begitu sabar, Shizune. …Terima kasih.”

Meskipun jadwalnya sibuk, Shizune telah membimbingnya dengan sabar dalam seni menyeduh teh sampai akhir.

Menatap lurus ke arah Shizune, Hinako mengungkapkan rasa terima kasihnya.

Shizune, meletakkan sebelah tangan di dahi, menengadah dengan dramatis…

“…Aku senang bisa hidup.”

Dia benar-benar tersentuh secara mendalam.

Hinako tidak bermaksud mengucapkan terima kasih seheboh itu, tetapi dia memutuskan untuk membiasakan diri mengungkapkan rasa terima kasihnya lebih sering.

“Tapi aku yakin Izuki juga menantikan teh seduhanmu, Shizune. Jadi lain kali, kamu harus membuatkannya untuk dia, bukan untukku.”

“Bagiku sih tidak masalah, tapi… apa kamu yakin?”

“Ya. Rasanya agak tidak adil kalau hanya aku saja yang merasa bahagia.”

Dia tidak ingin melakukan apa pun yang bisa merenggut kebahagiaan Izuki.

Menjelang akhir liburan musim panas, kekhawatiran itu telah tumbuh sedemikian rupa hingga dia sempat terbaring di tempat tidur untuk beberapa waktu. Apakah dia telah merebut sesuatu yang berharga dari keseharian Izuki? Dia tidak pernah ingin merasakan kecemasan itu lagi. Sekalipun Izuki bilang itu tidak apa-apa, dia tahu dia harus tetap berhati-hati.

“…Dimengerti.”

Shizune mengangguk.

“Apakah Izuki-san tampak kesulitan dengan masalah akuisisi itu?”

“Dia memang tampak kesulitan. Tapi dia bilang ingin menanganinya sendiri.”

“Begitu ya. …Yah, demi menghargai tekadnya, aku akan menahan diri untuk tidak mempersulitnya kali ini. Sejujurnya, masalah ini lebih disebabkan oleh pihak sebelah yang bertindak agresif di luar dugaan, bukannya karena kekurangan Izuki-san.”

“Iya… Izuki sudah belajar dengan giat. Dia bahkan tahu tentang hal-hal seperti ksatria putih (*white knight*).”

Hinako setuju bahwa Izuki tidak bersalah.

Mengetahui tentang penjatahan pihak ketiga dan ksatria putih berarti Izuki telah rajin mempelajari M&A dan saham atas kemauannya sendiri. Cakupan pengetahuannya terlalu luas untuk bisa dipelajari hanya sejak pengambilalihan secara tidak bersahabat oleh Suminoe Chika dimulai.

“Ngomong-ngomong, aku dengar dari pelayan lain bahwa saat permainan manajemen itu pertama kali dimulai, Izuki-san sedang melakukan sesuatu bersama Takuma-sama di kantor.”

“Izuki… dengan pria itu?”

Bayangan senyum licik dan usil kakaknya melintas di benak Hinako.

“Takuma-sama bilang dia ‘membantu pekerjaan,’ tapi dia mungkin telah memberikan saran kepada Izuki-san tentang permainan itu. …Mengingat sifatnya, kuharap tidak ada motif tersembunyi.”

Pernah dipermainkan oleh Takuma sebelumnya, Shizune tidak bisa begitu saja mempercayainya.

Hinako juga merasakan secercah kecurigaan.

“…Shizune.”

“Ya?”

Dia ingin sesedikit mungkin berhubungan dengan kakaknya.

Namun, jika Izuki berisiko jatuh ke dalam cengkeraman Takuma, dia akan mengesampingkan perasaan pribadinya tanpa ragu.

“Telepon dia.”

Shizune mengangguk, lalu mengeluarkan ponselnya dari saku.

Hinako mengambil ponsel itu, nada dering sambung berdering di telinganya.

Pada saat yang sama, dia menekan tombol enter di komputernya.

“Aku baru saja mengirimkan beberapa data ke tablet. Tunjukkan itu pada Izuki. …Kupikir membantu sebanyak ini seharusnya tidak masalah.”

“Dimengerti. …Apakah tidak apa-apa jika aku tidak ada di sini?”

“Ya. …Ini cuma percakapan antar saudara.”

Bukannya hubungan mereka mirip seperti sepasang saudara pada umumnya.

Shizune tampak khawatir, tetapi pada akhirnya memilih untuk mempercayai Hinako, membungkuk dengan hormat sebelum meninggalkan ruangan.

“Shizune?”

Suara kakaknya terdengar dari ponsel.

“…Ini aku.”

“Hinako, ya? Jarang sekali kamu menelepon. Ada apa?”

Nadanya santai seperti biasa.

Dia tidak pernah bisa menebak apa yang sedang dipikirkan kakaknya itu, namun pria itu selalu seolah bisa membaca isi hatinya. Hal itu sangat menyebalkan dan tidak adil serta sulit untuk dihadapi.

“Apa yang kamu rencanakan dengan Izuki?”

Hinako langsung pada intinya.

“Aku tahu kamu sudah menjejalkan berbagai pemikiran ke kepalanya. …Sebenarnya apa yang ingin kamu lakukan padanya?”

“Hmm, entahlah? Itu terserah pada Izuki-kun.”

Jawaban samar itu membuat Hinako mengerucutkan bibirnya rapat-rapat.

…Menjengkelkan sekali.

Seolah merasakan kejengkelannya, Takuma terkekeh geli.

“Tidak perlu khawatir. Aku hanya ingin sedikit mendorong bakatnya.”

“Bakat…?”

Hinako menirukan, dan kakaknya melanjutkan.

“Dia—mirip sepertiku.”

◆

Beberapa waktu setelah Hinako meninggalkan kamar tidurku.

Saat aku sedang memikirkan tindakan balasan untuk pengambilalihan Suminoe-san, ada ketukan lagi di pintuku.

“Kerja bagus hari ini.”

“Shizune-san? Ada apa?”

“Tadi, Ojou-sama bertingkah agak aneh, jadi aku datang untuk menyelidiki penyebabnya.”

“Hah?”

Bertingkah aneh…?

Apakah itu berarti aku benar-benar membuat Hinako kesal?

“Candaan. Yah, dia memang bertingkah aneh, tapi sepertinya bukan hal yang buruk, jadi tidak usah khawatir.”

“B-Begitu ya…”

Jika Shizune-san bilang tidak apa-apa, kurasa tidak perlu ada yang dikhawatirkan.

“Ojou-sama ingin aku memberikan ini kepadamu, Izuki-san.”

Setelah berkata begitu, Shizune-san menyerahkan sebuah tablet kepadaku.

“Ini adalah…”

“Ini adalah informasi yang telah dikumpulkan Ojou-sama tentang berbagai perusahaan. Ini jauh lebih detail daripada yang tersedia untuk umum. …Katanya, membantu sampai sejauh ini seharusnya tidak masalah.”

“…Terima kasih.”

“Simpan ucapan terima kasihmu untuk Ojou-sama nanti.”

Tentu saja, aku memang berencana melakukan itu.

Bantuan tingkat ini sama sekali tidak terasa seperti amal. Sekalipun itu bukan Hinako, siapa pun dari Aliansi Pesta Teh akan menawarkan dukungan sebanyak ini tanpa ragu-ragu. Aku pun akan melakukan hal yang sama.

Merasa bersyukur atas kepedulian Hinako, aku melihat data pada tablet tersebut.

“Apa yang sedang kamu kerjakan sekarang?”

“Aku sedang mencari perusahaan yang bisa membantu dengan penanggulangan akuisisi. Jadi informasi ini benar-benar yang aku butuhkan.”

Jawabku sambil membaca sekilas dokumen-dokumen di dalam tablet itu.

Ada profil perusahaan yang tak terhitung jumlahnya—jauh lebih banyak dari sepuluh atau seratus. Jelas bahwa kesuksesan Hinako dalam permainan itu bukanlah karena keberuntungan atau status keluarganya. Usaha yang tekun seperti inilah alasan sebenarnya.

“…Perusahaan itu agak menarik, ya?”

kataku sambil membaca berkas-berkas tersebut dan mencatat dengan satu tangan.

“Filosofi perusahaan, laporan investor… saat kamu mengggalinya dari berbagai sudut pandang, kamu mulai bisa melihat sifat asli perusahaan tersebut. …Kamu hampir bisa mengintip seperti apa pemimpin yang mengendalikan semuanya di balik layar.”

Tidak perlu merasa terintimidasi oleh kata “perusahaan.”

Pada akhirnya, perusahaan dan layanan diciptakan oleh manusia. Di balik data yang dingin, selalu ada manusia dengan segala emosinya.

“Melihat data-data ini, aku bisa membayangkan samar-samar wajah orang lain atau pemikiran mereka… lalu yang tersisa tinggal memeriksa apakah kita bisa akur atau tidak.”

Dan dengan begitu—negosiasi biasanya akan berjalan lancar.

Aku merasakan hal yang sama saat membaca surel Takuma-san atau saat aku menemukan rekan bisnis Tennouji-san. Niat tersembunyi di balik data perlahan-lahan menjadi semakin jelas.

“Izuki-san, itu…”

Entah kenapa, Shizune-san, yang berdiri di sampingku, memasang ekspresi serius.

“Ada apa?”

“Bukan masalah besar, tapi…”

Shizune-san ragu-ragu, seolah kesulitan mencari kata-kata yang tepat.

“Hanya saja… nada bicaramu mirip sekali dengan Takuma-sama.”

◇

Di ujung sambungan telepon yang lain, Takuma mulai berbicara dengan nada yang jelas-jelas menikmati situasinya.

“Kamu tahu tentang bakatku, kan? Kecerdasan emosional—EQ-ku—sangat tinggi di atas rata-rata. Aku bisa langsung merasakan apa yang sedang dipikirkan seseorang.”

Hal itu sudah dia ketahui.

Bagaimanapun juga, mereka adalah keluarga. Dia sudah sering mendengar tentang kemampuan kakaknya itu.

“Dengan kata lain… kau ini orang aneh yang bisa membaca pikiran.”

“Duh, pedas sekali. Padahal kupikir orang-orang akan memanggilku jenius.”

Meskipun berkata begitu, dia sama sekali tidak tampak terganggu.

“Suatu hari, aku meminta Izuki-kun membantu merapikan beberapa dokumen. Dan dalam sedetik, dia langsung mendapati kebohongan di dalamnya. Dia berkata, ‘Ini rasanya tidak asli, ya?’”

Itulah pasti hal yang disinggung Shizune sebelumnya. Saat permainan manajemen itu dimulai, keduanya sempat bekerja bersama di kantor. Sepertinya saat itulah Takuma telah merasakan sesuatu pada diri Izuki.

“Dia secara naluriah bisa tahu apakah data itu benar atau salah.”

Takuma menyatakan dengan lugas.

“Lebih tepatnya, dia bisa merasakan niat tersembunyi. Jika dia melihat informasi yang dimanipulasi, dia tidak butuh logika—dia hanya tahu kalau itu tidak beres. Dan bahkan jika datanya sendiri cacat, dia bisa tahu apakah orang di baliknya bisa dipercaya.”

Takuma menjelaskan dengan tenang, tapi itu bukanlah sesuatu yang bisa diterima Hinako dengan mudah.

Jadi… Izuki memiliki bakat yang sama dengan pria ini?

“…Satu orang aneh beraliran gaib sepertimu sudah lebih dari cukup.”

“Bagi kami, itu bukan hal gaib.”

Hinako mengerutkan keningnya.

Kami. Dia benci kata itu. Rasanya pria itu sudah mengklaim Izuki sebagai bagian dari kelompok mereka.

“Sebagai contoh, saat seorang teman sekelas mengundangmu ke pesta teh, bagaimana caramu membedakan apakah itu sekadar basa-basi sopan atau memang tulus?”

“Aku hanya… semacam tahu.”

“Tepat sekali. Kamu tahu. Terdengar samar, tapi anehnya, insting seperti itu sering kali sangat akurat.”

Takuma melanjutkan.

“Bagi kami, jangkauan insting itu jauh lebih luas. Sama seperti kamu bisa membedakan apakah sebuah undangan itu tulus, kami bisa menilai apakah informasi di hadapan kami itu benar atau salah.”

Hinako tahu tentang bakat Takuma, tapi ini pertama kalinya pria itu menjelaskannya sedetail ini.

Hal itu terdengar logis… atau setidaknya, memang tampak begitu. Tapi itu mungkin hanya hasil dari kelihaian lidah Takuma. Dia takut untuk mempercayainya begitu saja.

Hinako tahu lebih baik. Bakat Konohana Takuma bukanlah sesuatu yang bisa dirangkum sebagai “intuisi tajam.”

Dia bisa memberikan persis apa yang diinginkan seseorang, memainkan kepribadian yang mereka sukai, dan bahkan mengangkat topik yang sebenarnya ingin mereka hindari demi mengarahkan negosiasi agar menguntungkan dirinya. Begitulah cara Takuma memenangkan kepercayaan para eksekutif Konohana Group dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, mengamankan posisinya. …Jika dia tidak begitu santai dan suka bermain-main, dia pasti sudah disambut sebagai kepala keluarga berikutnya tanpa perlu diragukan lagi.

“…Tapi Izuki tidak pernah menunjukkan tanda-tanda seperti itu sebelumnya.”

“Benar. Itu mungkin karena akulah pemicunya.”

Takuma menanggapi keraguannya.

“Belajar tentang seseorang sepertiku… berbicara denganku—itu pasti menjadi percikan yang bagus baginya.”

Hinako tidak bisa menyangkal kemungkinan itu.

Takuma, baik atau buruk, adalah orang yang luar biasa—jauh dari kata biasa. Banyak orang telah mengubah cara hidup mereka setelah dipengaruhi olehnya. …Bahkan Shizune adalah salah satunya.

Mungkin Izuki juga telah terinspirasi oleh Takuma, membangkitkan bakatnya sendiri.

“…Jadi, kaulah akar dari semua ini?”

“Hei, sudahlah. Ini bukan hal yang buruk. Jika ada, kau seharusnya memanggilku mentornya.”

Dia bisa mendengar senyum masam Takuma melalui telepon.

“Kau mengerti, kan, Hinako? Ini jelas merupakan bakat untuk memimpin. Mampu membaca niat sebenarnya seseorang berarti kau bisa menghindari risiko dan menemukan peluang tersembunyi.”

Datang dari Takuma, yang telah meraih kekuasaan dengan bakat yang sama persis, ucapan itu terasa berbobot.

“Satu-satunya kekurangan adalah dia kurang kejam. Dengan bakat ini, dia bahkan bisa memanfaatkan kelemahan orang lain jika dia mau. Jika saja dia bisa menguasai hal itu… dia bisa menjadi sepertiku.”

Satu kalimat itu mengingatkan Hinako secara persis seperti apa tipe orang kakaknya itu.

Kakakku hanya percaya bahwa cara hidupnya adalah satu-satunya yang benar, jadi dia sekadar membentangkan jalan untuk mencapainya. Baginya, itu mungkin dimaksudkan sebagai kebaikan. Namun, seperti yang kuduga, dia sama sekali tidak mempertimbangkan perasaan Izuki.

“…Aku tidak membutuhkannya.”

Hinako memikirkan Izuki… tentang seseorang yang sangat berharga baginya.

Izuki selalu menjaganya. Meskipun dia pemalas, terbebani oleh hal-hal yang merepotkan, dan akhir-akhir ini terombang-ambing oleh berbagai macam emosi, Izuki selalu memandangnya dengan senyuman yang lembut.

Tidak mungkin wajah sebaik itu boleh menghilang begitu saja.

“Izuki tidak perlu menjadi kejam.”

Hinako mengatakannya dengan nada yang lebih tegas dari biasanya.

“Di dunia bisnis, kekejaman itu sangat penting. Jika Izuki-kun bisa membuang emosinya, dia bisa menjadi eksekutif papan atas. Dia bisa dengan mudah naik menjadi anggota dewan direksi Konohana Group—”

“Itu tidak penting.”

Memotong perkataan kakaknya, Hinako berbicara.

“Izuki tidak akan menjadi sepertimu. Dia sama sekali tidak sepertimu, yang memperlakukan orang lain sebagai bidak catur.”

Takuma sering menggunakan orang lain untuk bermanuver dengan lihai demi keuntungan pribadinya sendiri.

Hinako sangat tahu betul apa yang terjadi pada mereka yang menjadi korban pria itu.

Beberapa kehilangan keluarga mereka, yang lain kehilangan impian mereka. Awalnya, mereka semua mengikuti Takuma dengan mata yang bersinar, tetapi pada akhirnya, satu-satunya orang yang tertawa adalah Takuma.

Bukannya Takuma tidak memahami perasaan orang lain—justru sebaliknya. Dia lebih tajam daripada siapapun dalam hal membaca orang lain. Yang berarti pria ini membuang perasaan mereka dengan sengaja.

…Mungkin itu karena dia bisa melihatnya sehingga perasaan itu terasa begitu sepele baginya.

Konohana Takuma selalu memperlakukan perasaan orang lain dengan sebelah mata.

“Berbeda dariku, ya? …Apakah kamu begitu yakin mengenal Izuki-kun dengan baik, Hinako?”

“Aku tidak perlu tahu segalanya untuk bisa mengerti.”

Hinako berkata dengan tenang.

“Kamu tidak memiliki seorang Tennouji Mirei di sisimu.”

Dia mengingat gadis yang mulia, sangat kompetitif, dan menjunjung tinggi keadilan itu.

“Kamu tidak memiliki seorang Miyakojima Narika di sisimu.”

Dia mengingat gadis yang canggung dan sungguh-sungguh yang menghadapi dirinya secara langsung.

“Kamu tidak memiliki seorang Hirano Yuri di sisimu.”

Dia mengingat gadis yang hangat, suka ikut campur, dan apa adanya itu.

“Kamu tidak memiliki seorang Taishou Katsuya atau seorang Asahi Karen di sisimu.”

“…Semuanya adalah teman-temannya, bukan?”

“Ya, teman.”

Dia mengenang kedua pembuat suasana yang diam-diam mendukung berbagai macam orang itu.

…Entah kenapa, rasio anak perempuannya terasa mencurigakan tingginya, dan itu sedikit mengganggunya, tapi dia kesampingkan dulu untuk saat ini.

Yang penting adalah Izuki memiliki teman-teman seperti ini.

“Kamu hanya bisa membangun hubungan yang didasarkan pada keuntungan bersama. Itulah kenapa kamu dikelilingi oleh rekan bisnis saja. …Tapi Izuki berbeda. Dia selalu bekerja keras demi kepentingan orang lain. Itulah kenapa dia dikelilingi oleh begitu banyak teman.”

Oleh karena itu—

“Izuki sudah menjalani kehidupan yang berbeda darimu. …Bagaimanapun caranya kamu mencoba mempengaruhinya, itu percuma. Karena Izuki punya banyak orang di sekitarnya yang akan menghentikannya.”

Hinako sama sekali tidak merasa takut akan masa depan Izuki.

Dia yakin pemuda itu akan baik-baik saja. Dia percaya bahwa Izuki tidak akan pernah menjadi seperti pria ini.

“Hmm, sungguh disia-siakan. Dia memiliki bakat yang begitu besar dalam bisnis. …Secara pribadi, aku tentu ingin dia menjadi orang kepercayaan nomor satuku suatu hari nanti.”

“Itu tidak akan terjadi. Cari orang lain saja.”

Lihat? Pada akhirnya, pria ini hanya memikirkan dirinya sendiri.

“…Yah, apa yang kamu pikirkan adalah hakmu, Hinako.”

Takuma bergumam pelan.

“Oh, sudah waktunya bekerja. Apakah kita sudah selesai di sini?”

“Mm.”

Dia sudah memahami niat kakaknya, jadi tidak ada lagi yang perlu dikatakan.

Pria ini sedang mencari Konohana Takuma kedua. Dia ingin membentuk seseorang menjadi orang kepercayaan yang penurut.

Jika Izuki menginginkan hal itu, dia tidak akan menghentikannya.

Namun jika tidak… maka menghentikannya adalah misi wanita itu.

(…Ha?)

Saat pikirannya sampai pada titik itu, Hinako tiba-tiba menyadari sesuatu.

Jika Izuki benar-benar memiliki bakat yang sama seperti kakaknya…

Jika Izuki sama tajamnya dalam membaca perasaan orang lain…

Kalau begitu, apakah Izuki sudah menyadari perasaan aku…?

“…Hei.”

“Hm?”

Takuma merespons dengan nada penasaran atas suara Hinako yang tiba-tiba melemah.

“Izuki tidak… semacam membaca isi hati seperti caramu… kan?”

“Nggak, dia tidak setajam itu. Sepertinya dia bahkan belum menyadari perasaanmu.”

“Apa—!”

Wajahnya membeku saat isi hatinya tiba-tiba dibongkar begitu saja.

“A-Apa yang kamu bicarakan…?”

“Maksudku, itu sudah jelas. Apa kamu benar-benar berusaha menyembunyikannya?”

“D-D-Diamlah…!!”

Meski tahu hal itu tidak ada gunanya di hadapan pria ini, dia tetap mencoba mengelaknya.

Kakaknya tertawa geli.

“Bahkan kita pun punya titik buta. Izuki-kun sepertinya tipe orang yang tidak peka terhadap hal semacam itu… Mungkin, dia memang bodoh dalam urusan dirinya sendiri.”

Yuri, teman masa kecil Izuki, pernah mengatakan sesuatu tentang dirinya. Bahwa Izuki adalah orang baik, tetapi cenderung mengabaikan kebutuhannya sendiri dalam prosesnya.

Saat Hinako mendengar itu, hatinya terasa nyeri… tetapi sekarang, saat belum siap, dia merasa sedikit lega sambil berpikir, Untunglah.

Daftar Isi

Komentar

guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted