Ryoushin no Shakkin wo Katagawari Shite Morau Jouken wa Nihon’ichi Kawaii Joshikousei to Issho ni Kurasu Koto Deshita Volume 1 Bab 23 Bahasa Indonesia – Litenovel

Ryoushin no Shakkin wo Katagawari Shite Morau Jouken wa Nihon’ichi Kawaii Joshikousei to Issho ni Kurasu Koto Deshita Volume 1 Bab 23 Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi
Bab 23: Yuya dengan godaannya

“Wenyu pullujap myumbensh, nyuwe sukool!”

Mulut Kaede bergerak-gerak saat dia mengucapkan beberapa patah kata yang tidak dapat dipahami. Kamu ingin aku menerjemahkannya? Jangan konyol. Aku juga tidak mengerti.

“Boleh saja bicara, tapi setidaknya telan dulu apa yang ada di dalam mulutmu sebelum melakukannya. Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan.”

Kami meninggalkan sekolah, berpegangan tangan menuju supermarket untuk membeli bahan-bahan hot pot. Kami selesai memasak dengan cepat dan sekarang sedang menikmati makan malam yang sedikit terlambat.

Kaede bersikeras ingin hot pot kimchi. Jadi, aku menumis bawang putih cincang dan jahe dalam minyak wijen lalu memasukkan bahan-bahan nabe yang sudah kubeli. Langkah ini selalu menambahkan rasa pada hidangan, menjadikannya lebih lezat.

Karena sudah malam, kubis Cina yang merupakan salah satu bahan utama sudah habis, tetapi aku sudah membeli kimchi sebagai gantinya dan memasukkannya. Hasilnya sangat luar biasa karena harganya murah, dan kimchi tersebut memberikan rasa yang kaya. Setelah itu, aku menambahkan tauge, jamur, tahu, daging babi, dan menyelesaikan masakannya. Hidangan ini sangat mudah dibuat dan mengenyangkan. Selain itu, hidangan ini juga cukup sehat karena nutrisi dari sayur-sayuran, yang sering kali berkurang saat direbus. Itulah keunggulan dari hot pot.

“Haaaaa. Mmmh… hot pot memang paling enak. Ini menghangatkan tubuhku. Tapi maaf ya, Yuya-kun. Kamu pasti lelah, tapi masih mau menyiapkannya untukku. Aku akan membereskan semuanya, jadi istirahatlah yang nyenyak.”

“Jangan dipikirkan, tidak sedari sulit yang kamu bayangkan kok. Ngomong-ngomong, apa yang kamu katakan tadi saat sedang makan? Aku sama sekali tidak mengerti.”

“Betul sekali! Waktu Yuya-kun menaikkan poninya, itu keren banget dan luar biasa! Sampai-sampai aku terpesona!”

Kaede mendongak ke langit sambil meletakkan kedua tangannya di dada. Aku hanya menatapnya dengan tatapan kosong. Apa sebenarnya arti dari caraku menyibak poni ke atas sehingga membuatnya terpesona? Aku sama sekali tidak mengerti maksud Kaede.

“Tidak! Ini bukan cuma kelemahanku saja. Ini mungkin kelemahan umum bagi semua wanita. Saat seorang anak laki-laki yang sedang bekerja keras berkata ‘Yah, kurasa aku akan mulai serius sekarang’ lalu menyibak rambutnya, itu benar-benar yang terbaik! Dan jika dia kemudian mengambil peran utama dalam permainan tersebut, kamu pasti akan langsung jatuh cinta kepadanya! Kamu pasti gila kalau tidak begitu!”

“Ah… ya. Begitu ya…”

Apakah dia benar-benar tahu apa yang dilakukannya? Dia menatapku dengan tajam, tapi sejujurnya, aku benar-benar tidak paham pada titik ini. Memang benar alasan mengapa aku menyibak poniku ke atas adalah untuk menyalakan sakelar di dalam pikiranku, tapi kurasa itulah yang membuatku bersikap sinis. Maksudku, Kaede, sungguh luar biasa kau bisa mengamati gerakan detailku dengan begitu baik dan bahkan memahami keadaan pikiranku.

“Huh. Itu wajar, kan? Aku sudah lama memerhatikan Yuya-kun bermain sepak bola, tahu. Aku tahu saat di mana kamu mulai serius.”

“…Begitukah keadaannya?”

“Memang begitu. Dan bukankah kamu ingin memahami orang yang kamu cintai? Aku ingin tahu lebih banyak tentangmu, Yuya-kun. Aku akan senang jika kamu merasakan hal yang sama.”

Aku mengerti. Aku tahu bahwa perasaanku sudah telanjur terarah kepada Kaede tanpa bisa dijelaskan. Hanya dalam waktu tiga hari saja. Tapi tetap saja baru tiga hari. Waktu yang kuhabiskan bersama Kaede telah memungkinkanku untuk melihat semakin banyak sisi dirinya yang tidak kuketahui sebelumnya. Semakin aku mengenalnya, aku semakin terpikat oleh pesonanya.

“Ya… aku juga ingin tahu lebih banyak tentang Kaede. Aku rasa begitu.”

“Kalau begitu! Hari ini adalah hari kita mandi bersama! Cara terbaik untuk saling mengenal adalah dengan telanjang bersama! Aku akan membasuh punggungmu, Yuya-kun!”

Kenapa gadis ini ingin mandi bareng denganku di setiap kesempatan yang ada? Mungkinkah dia punya kebiasaan mengekspos diri atau semacamnya? Sebagai seorang pria, aku pasti akan merasa senang melihatnya, tapi itu tetap terlalu merangsang. Aku harus menolaknya dengan tegas. Tidak, tunggu. Aku ikuti saja alurnya dan lihat bagaimana reaksinya.

“…Oh, aku setuju. Cara tercepat untuk saling mengenal adalah dengan telanjang. Baiklah, ayo kita mandi bersama setelah ini. Kamu yang akan membasuh punggungku, kan?”

Bagaimana rasanya, Kaede!

“Ehh!? Kamu serius, Yuya-kun!? Kamu benar-benar mau mandi bersamaku!?”

Terima kasih atas reaksi panikmu beserta wajah yang semerah buah apel. Kalau kamu malu, jangan memaksakan diri untuk mengatakannya. Tapi kepanikan kecil Kaede saat dia mengepak-ngepakkan kedua tangannya di depan wajahnya itu sangat imut, jadi aku memutuskan untuk mengawasinya tanpa langsung memberitahunya bahwa aku sedang berCanda.

—Belakangan, ketika aku memberitahunya bahwa aku hanya bercanda, dia cemberut sambil memajukan bibirnya dan berkata dengan nada kesal, “Jangan mempermainkanku!” Tapi dengan senang hati aku melaporkan bahwa itu juga merupakan pengalaman yang indah.

Daftar Isi

Komentar

guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted