Ryoushin no Shakkin wo Katagawari Shite Morau Jouken wa Nihon’ichi Kawaii Joshikousei to Issho ni Kurasu Koto Deshita Volume 1 Bab 15 Bahasa Indonesia – Litenovel

Ryoushin no Shakkin wo Katagawari Shite Morau Jouken wa Nihon’ichi Kawaii Joshikousei to Issho ni Kurasu Koto Deshita Volume 1 Bab 15 Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi
Bab 15: Masakan Pria

“Saatnya… sesi pertama spesial masakan Yuya-kun! Ayo, ayo!”

Hari sudah hampir pukul 9 malam saat kami tiba di rumah setelah berbelanja dari supermarket. Meskipun sedikit terlalu larut untuk makan malam, mau bagaimana lagi. Aku lebih khawatir melihat Hitotsuba-san yang tampak jauh lebih bersemangat daripada saat kami berbelanja, tapi mari kita mulai memasak sekarang juga.

“Koki Yuya-kun. Apa menu hari ini?”

“Hari ini, aku berencana membuat peperoncino. Biasanya aku lebih suka saus tomat atau saus daging, tapi karena aku butuh waktu untuk merebusnya perlahan, aku akan menyimpannya untuk lain waktu.”

Pertama, didihkan panci besar berisi air yang telah diberi sedikit garam. Sambil menunggu, siapkan bahan-bahan lainnya. Cincang dua siung bawang putih, buang biji cabai, dan cincang daun peterseli.

Saat air mendidih, masukkan pasta. Rebus pasta sekitar satu menit lebih cepat dari waktu yang biasanya diperlukan untuk spaghetti. Ini akan membuat pasta memiliki tekstur yang kenyal saat nanti dipanaskan kembali dengan cara dicampur bersama sausnya, sehingga mendapatkan kekenyalan yang pas setelah matang.

Ketika pasta hampir selesai direbus, campurkan bawang putih dan cabai yang baru saja dipotong ke dalam wajan berisi minyak zaitun dan tumis perlahan dengan api kecil. Kuncinya adalah menggoyang-goyangkan wajan secara konsisten untuk mencegah gosong. Jika bawang putihnya sudah mulai harum, masukkan peterseli untuk menambah aroma.

Mulai dari sini, semuanya bergantung pada ketepatan waktu. Matikan api kompor pada saus. Tambahkan satu sendok sayur air rebusan pasta ke dalam wajan dengan api besar. Campurkan air tersebut secara merata dengan minyak zaitun, lalu masukkan pasta dan aduk rata agar seluruhnya terbalut saus.

“Ya. Pas banget.”

Tingkat keasinannya nyaris sempurna. Aku menyajikan hidangan itu ke atas piring yang kami beli, menambahkan sedikit lada beserta cabai tambahan yang kukeluarkan, dan semuanya selesai.

“Wah. Kamu luar biasa, Yuya-kun. Kamu sangat terampil dengan tanganmu, dan kamu jago menyiapkan makanan. Aku tidak bisa melakukannya seperti ini, jadi aku cukup iri padamu. Lagian, bukannya masakanmu lebih enak dariku?”

“…Yah, ibuku adalah seorang juru masak yang baik, dan aku tidak keberatan memasak, jadi aku melakukannya dari waktu ke waktu. Tetap saja, aku menantikan masakan rumahan buatanmu, Hitotsuba-san.”

Kami duduk di meja saling berhadapan untuk makan malam yang agak larut. Aroma minyak zaitun dan bawang putih merangsang nafsuku makan. Bumbunya tergolong sederhana, tapi hasilnya adalah hidangan yang cukup asin dan tidak terlalu kering, yang mana itu sangat melegakan. Lada yang kutaburkan di akhir juga memberikan sentuhan tambahan yang bagus.

“Mmm! Ini enak! Aroma kuat dari bawang putih yang berpadu dengan kesegaran peterseli membuatnya sangat mudah disantap. Rasa ladanya juga bekerja dengan sangat luar biasa! Apa kamu ini seorang jenius, Yuya!?”

“…Jika hal seperti ini bisa disebut jenius, maka semua koki di dunia akan menjadi dewa dan para pemegang bintang Michelin akan menjadi sang pencipta atau semacamnya.”

“Tidak apa-apa. Satu-satunya koki bagiku adalah Yuya-kun. Biarpun apa kata orang lain, makanan buatan Yuya-kun itu enak.”

Aku menggaruk pipiku. Ini adalah pertama kalinya aku menyajikan makanan kepada orang selain kedua orang tuaku, jadi aku sejujurnya sangat senang mendengar Hitotsuba-san bilang itu enak dengan senyuman lebar di wajahnya. Aku bahkan merasa jauh lebih malu dari sebelumnya.

“Tapi aku juga tidak boleh kalah dari masakan ini. Besok giliranku yang memasak, jadi mohon nantikan ya, oke? Aku akan membuatkan sesuatu yang kamu sukai, Yuya-kun!”

“Apa kamu tahu apa yang mungkin aku sukai?”

“Tentu saja. Makanan yang paling disukai Yuya-kun adalah hamburger! Kamu biasanya makan roti pastri, tapi di hari-hari ketika kantin menyajikan hamburger, kamu selalu mengambilnya. Bagaimana menurutmu? Apakah salah?”

“…Tidak, itu benar. Tapi bagaimana kamu tahu kalau aku tidak pernah melewatkan hamburger di kantin sekolah?”

Maaf untuk mengatakannya, tapi itu terdengar sedikit menakutkan, Hitotsuba-san. Dari mana entah asalmu mendapatkan informasi seperti itu? Jika orang terkenal sepertimu mengumpulkan informasi tentangku atau bahkan membuntutiku, aku yakin berita itu akan langsung menyebar dalam sekejap.

“Uh-uh-uh. Kamu naif sekali, Yuya-kun. Sumbernya tidak terbatas pada para siswa saja. Orang-orang yang memberiku informasi ini adalah mereka yang bekerja di kantin sekolah!”

Kenapa Bibi kantin malah membicarakan tentang diriku kepadanya! Tapi begitu ya? Dia tahu aku kelaparan karena kegiatan klub, dan dia bahkan terkadang menyelundupkan sisa makanan untukku.

“Tentu saja. Bahkan dari preferensi Yuya-kun hingga makanan yang tidak disukainya. Dia juga memberitahuku apa yang suka kamu bicarakan dengan teman-temanmu. Aku juga sekarang tahu kalau obsesi Yuya-kun saat ini adalah game fantasi yang baru saja dirilis, kan? Dan apa yang mungkin atau tidak mungkin aku ketahui juga adalah kamu dulu sempat membahas bagaimana heroine teman masa kecil ber-d*** besar itu adalah yang paling menarik…”

Bagaimana bisa kalian mendengar percakapan kami dengan begitu akurat, Bi! Apakah ada kamera tersembunyi atau alat penyadap di suatu tempat? Aku sekarang jadi terlalu takut untuk pergi ke kantin!

“Aku yakin bibi di kantin itu punya rahasianya sendiri. Lagi pula… Akulah yang memintanya untuk memberikan sisa makanan dari kantin sekolah kepadamu, Yuya-kun. Ah, jangan tanya bagaimana aku bisa melakukannya, ya? Dilarang untuk bertanya!”

Hatiku berdebar ‘kyuun’ saat dia menempelkan jari telunjuknya ke bibirku. Selain itu, apa yang baru saja dia katakan beserta kelucuan yang dia tunjukkan benar-benar mirip seperti karakter tertentu dalam novel ringan. Karakter berpayudara besar dan ceroboh itu sungguh luar biasa.

“Sepertinya kamu tahu cerita itu dengan baik, Hitotsuba-san.”

“Ya. Cerita itu sangat terkenal. Aku juga sudah membacanya. Tapi aku lebih suka gadis pendiam di klub sastra daripada karakter berpayudara besar dan ceroboh itu.”

Aku terkejut mengetahui bahwa Hitotsuba-san ternyata juga membaca novel ringan itu. Dan anehnya, aku juga paling menyukai karakter yang bisu di antara para karakter utama. Mengapa begitu? Karena menurutku sangat hebat ketika seorang gadis yang biasanya tidak beremosi perlahan berubah menjadi manis.”

Kami menikmati makan malam larut itu sambil membicarakan hal-hal sepele seperti itu.

Daftar Isi

Komentar

guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted