Hell Mode: Yarikomi Suki No Gamer Wa Haisettei No Isekai De Musou Suru Volume 5 Bab 11: Bergabung dengan Party Pahlawan Bahasa Indonesia
Bab 11: Bergabung dengan Party Pahlawan
Keel bergerak tidak nyaman di bawah tatapan Allen. “A-Ayo lah, jangan pelototi aku, kawan. Ini bagus, kan? Sekarang kita sudah punya semua lempengannya.”
“Siapa yang memelototi? Aku tidak memelototi,” jawab Allen.
“Bagus untukmu, Meruru,” kata Cecil. “Sekarang kau bisa memanggil golemmu.”
“B-Benar.” Meruru mengangguk canggung saat kubus tersembunyi di dekat party itu memudar.
No-life Gamers saat ini berada di salah satu gua pegunungan berbatu di Lantai 3. Selama sekitar dua puluh hari yang telah berlalu sejak pertarungan mereka melawan Scarlet, mereka bekerja keras menyisir gua-gua untuk mencari monster, peti harta karun, dan kubus tersembunyi demi mencari lempengan golem. Meskipun mereka berhasil menemukan lempengan untuk kepala, tubuh, lengan kiri, and kaki sebelumnya, lempengan lengan kanan terus menghindari mereka hingga sekarang. Tidak peduli berapa banyak peti harta karun yang mereka buka, tidak peduli seberapa sering mereka berdagang dengan kubus tersembunyi, mereka selalu hanya mendapatkan bagian yang sudah mereka miliki.
Allen, yang selama ini membuka semua peti dan berbicara dengan semua kubus, mulai merasa cemas karena tidak pernah mendapatkan lempengan lengan kanan. Melihat hal ini, Keel maju dan berkata dia ingin mencobanya. Dan hasil dari dia berbicara dengan kubus tersembunyi yang baru saja mereka temukan adalah situasi saat ini.
Sialan banget!!! Hal seperti ini selalu terjadi! Selalu butuh waktu yang sangat lama setiap kali aku yang mencoba mengumpulkan satu set lengkap sesuatu.
Bahkan di kehidupan sebelumnya, setiap kali Allen melakukan sesuatu yang membutuhkan keberuntungan, seperti mengumpulkan satu set armor lengkap atau meningkatkan senjata ke tingkat maksimal, selalu butuh waktu lama hingga kondisinya akhirnya berpihak padanya. Rupanya kutukan miliknya itu masih hidup dan sehat di dunia ini.
Dalam upaya untuk mengangkat suasana hati Allen yang suram, Sophie mengalihkan pembicaraan. “Apa yang harus kita lakukan sekarang? Kita akhirnya memiliki semua lempengan, tapi kita tidak bisa begitu saja membuat Lord Helmios menunggu…”
Hampir tiba waktunya bagi party tersebut untuk menemui Helmios. Perayaan di Giamut untuk merayakan kemenangan atas Pasukan Raja Iblis telah selesai, jadi dia akhirnya akan datang ke Yanpany.
Wah, sudah dua bulan sejak terakhir kali kita bertemu secara langsung.
“Kurasa kau benar,” kata Allen dengan nada kesal. “Ini memang hampir waktunya makan siang. Mari kita akhiri saja untuk hari ini, dan kita bisa memeriksa golem Meruru lain kali saat kita memasuki dungeon. Apakah kamu tidak keberatan, Meruru?”
“Tentu, tidak apa-apa! Terima kasih banyak semuanya!” Meruru hampir tidak bisa mengendalikan kebahagiaannya karena berhasil mengumpulkan semua lempengan yang dibutuhkannya hanya dalam waktu dua puluh hari. Setelah menerima lempengan terakhir dari Keel dan memasangkannya ke piringan sihir miliknya, dia memeluknya erat-erat dan menangis tersedu-sedu.
“A-Apa— Bukan, bukan, jangan menangis!” kata Keel dengan panik, mencoba menenangkannya.
Bentuk-bentuk geometris melayang naik dari piringan sihir di dalam pelukan Meruru, seolah merespons emosinya yang meluap-luap.
Oh! Jadi benda itu menyala ketika semua lempengannya dimasukkan.
“Duh, Meruru, kamu baik-baik saja? Kamu lapar? Aku juga— Myuuuh!”
Krena hampir merusak momen menyentuh Meruru dengan menjadikannya tentang selera makannya, jadi Allen menghukumnya dengan meremas pipinya sebelum dia memimpin party keluar dari gua menuju ke alun-alun terbuka. Dari sana mereka kembali ke Lantai 1.

Sudah cukup lama sejak terakhir kalinya No-life Gamers melihat Lantai 1. Tentu saja, bukan berarti mereka terus-menerus tinggal di Lantai 3 sejak bertarung melawan Scarlet dua puluh hari yang lalu. Karena kapasitas halaman Penyimpanan di dalam grimoire Allen terbatas, party tersebut akhirnya membawa sedikit lebih banyak perlengkapan setiap kali mereka membuka peti harta karun. Oleh karena itu, mereka harus secara berkala menjual peralatan hihiirokane dan mithril yang mereka bawa. Selain itu, Allen harus mendaftarkan permintaan baru di Guild Petualang setiap lima hari sekali untuk membeli seratus ribu batu sihir Pangkat D seharga seribu koin emas. Setelah itu, dia juga membutuhkan waktu untuk mengubah semua batu sihir itu menjadi Benih Sihir.
Akibatnya, party tersebut sepakat untuk tinggal di dalam dungeon selama tiga setengah hari dari setiap lima hari. Itu berarti berkemah di dalamnya selama tiga malam dan menyisihkan sisa waktu satu setengah hari untuk beristirahat di luar. Allen memilah-milah bagasi mereka selama waktu istirahat ini dan melakukan transaksi dengan Guild Petualang. Anggota party lainnya menghabiskan waktu mereka sesuka hati, termasuk membantu memanen Benih Sihir dari ladang indoor kecil yang dibuat Allen di kamarnya, pergi ke kota, sekadar bersantai di kamar mereka, dan lain-lain.
Setiap kali mereka kembali ke Lantai 1, Meruru selalu bersikeras untuk minum pada malam itu, jadi sudah menjadi kebiasaan bagi mereka untuk mampir ke restoran terdekat. Mungkin karena telah berjalan-jalan di padang pasir selama tiga hari penuh, Meruru menenggak alkohol seperti air setiap saat; sisa anggota Gamers kini yakin bahwa kurcaci akan mati jika mereka tidak minum alkohol.
Sebagai berjaga-jaga, Allen memang menyimpan botol-botol alkohol di dalam Penyimpanan miliknya. Namun, Meruru diharapkan untuk bertindak sebagai anggota Gamers selama berada di dalam dungeon, dan itu termasuk berpantang. Di dalam benak Allen, gamer sejati harus tahu untuk selalu tetap sadar agar mereka dapat segera bereaksi terhadap situasi apa pun, tidak peduli apa yang terjadi.
“Fiuh, akhirnya kita kembali.” Cecil meregangkan tubuhnya. Namun, ketika dia menyadari arah jalan yang dituju Allen, dia bertanya dengan suara bingung, “Tunggu sebentar, Allen, bukankah kita akan menemui Helmios di Guild Petualang?”
Allen mengangkat busur adamantite yang ukurannya terlalu besar untuk dimasukkan ke dalam Penyimpanan. “Kita mendapatkan banyak barang dari peti harta karun kali ini, jadi aku berencana untuk menurunkannya di rumah dulu.”
Setelah berjalan selama sepuluh menit, No-life Gamers mendekati rumah mereka dan disambut oleh pemandangan yang sangat tidak terduga.
“Hei! Apakah kalian baru saja kembali dari dungeon? Kalian sedikit terlambat.”
“Eh? Uh… apa yang sebenarnya terjadi di sini?”
Kita seharusnya menemui Helmios di Guild Petualang nanti siang hari ini. Kupikir akan lebih baik jika kita bertemu, karena kita berdua akan sering mengunjungi dungeon mulai sekarang… Tapi apa hubungannya hal itu dengan sang Pahlawan yang memindahkan banyak sekali bagasi ke markas kita?!
Berdiri di depan markas No-life Gamers dengan senyum ramah di wajahnya tidak lain adalah Hero Helmios. Di belakangnya, para pekerja angkut kurcaci sibuk keluar masuk markas. Bahkan ada beberapa petualang dengan wajah yang tidak asing di antara mereka yang ikut membantu dan memberikan instruksi. Allen mengenali mereka sebagai anggota party Helmios.
Seorang wanita yang tadinya mengarahkan semua pekerja angkut menyadari kelompok Allen dan menghampiri mereka. Melihat ekspresi tercengang di wajah mereka, dia bertanya, “Tunggu sebentar, Helmios, apa kamu tidak meminta izin untuk ini?”
“Aha ha, kurasa ini akan menjadi kejutan yang menyenangkan,” jawab sang Hero, sama sekali tidak terlihat menyesal.
Ketika otak Allen telah melakukan booting ulang setelah mengalami error, dia bertanya, “Um… apa kamu juga akan tinggal di sini, Tuan Helmios?”
“Yups! Yah, bukan lebih tepatnya aku melainkan party-ku, Sacred. Bagaimana menurut kalian?”
Para petualang di belakang mulai berkumpul di sekitar Helmios. Pandangan Allen tertuju pada wanita dengan bagian perut terbuka yang tampak seperti seorang Scout atau Thief. Tidak diragukan lagi dialah orang yang telah membukakan pintu markas.

Begitu ya. Padahal kupikir kita sudah menguncinya dengan benar. Tunggu, Tuan Dverg ada di sini juga.
Sang Hero memiliki sekitar sepuluh rekan. Selain Sword Lord Dverg dan Sword Lord Sylvia, sang pencuri wanita dan sisanya jelas semuanya kuat dengan kemampuan mereka sendiri. Mereka sekarang menyaksikan percakapan antara Helmios dan Allen dengan tatapan bersalah di mata mereka. Ekspresi mereka mengindikasikan bahwa ini bukan pertama kalinya mereka harus terseret dalam ide-ide buruk Helmios.
Sepertinya aku tidak punya pilihan… Tahu tidak? Aku akan menaikkan biaya sewanya saja kalau begitu.
Alih-alih meminta mereka pergi, Allen menjawab, “Begitu ya. Bagaimana kalau kita membicarakannya sambil para pekerja angkut melakukan tugas mereka?” Sama seperti Krena, dia juga merasa lapar.
Helmios tersenyum. “Tentu saja. Aku akan memperkenalkanmu pada suatu tempat—aku sangat merekomendasikannya. Ayo bawa semuanya!” Dia berbalik ke arah kelompoknya dan menyuruh mereka bersiap-siap untuk jalan-jalan malam.
Demikian pula, Allen menjelaskan situasinya kepada kelompoknya dan memimpin mereka ke ruang penyimpanan bawah tanah untuk meletakkan jarahan terbaru mereka.
Meninggalkan para pekerja angkut bersama para pelayan yang kemungkinan besar bekerja untuk Helmios, kedua kelompok tersebut mengikuti Helmios keluar menuju jalan utama.
“Kita sudah sampai. Inilah tempatnya.”
Melihat ke arah yang ditunjuk Helmios, Meruru mengepalkan kedua tangannya di depan dada dan bersorak, “WWOOOAH! HORE!” Dia hampir merasa lebih bersemangat daripada saat dia mendapatkan loh batu terakhir untuk golemnya.
Tempat usaha yang dituju Helmios ini terkenal dengan minuman beralkoholnya yang lezat, dan suara para dwarf yang bersenang-senang selalu terdengar keluar dari pintu-pintunya. Para No-life Gamer sering melewati tempat ini karena letaknya yang dekat dengan markas mereka, dan setiap kali lewat, Meruru akan membeku dan terseret masuk seolah ditarik oleh gaya magnet yang kuat.
“Ah, begitu ya.” Ternyata ini tempat yang sudah sering kita kunjungi.
Allen mengikuti Helmios masuk sambil bersikap dewasa dan memasang ekspresi yang bisa diartikan sebagai kunjungan pertamanya ke sini sekaligus dia yang memang sudah akrab dengan tempat tersebut.
“Selamat datang!” seru pemilik toko dengan suara yang bersemangat.
Seperti biasa, tempat ini penuh sesak dengan para dwarf. Dan fakta bahwa mereka minum di sini berarti mereka semua cukup kuat untuk mencari penghidupan dari dungeon Peringkat S.
Karena kedai ini dekat dengan Kuil Yanpany, sebagian besar pelanggannya adalah petualang yang bertani di dungeon Peringkat S. Mereka adalah para elit di antara para elit yang membawa pulang bukan hanya ratusan melainkan ribuan koin emas setiap kali mereka berhasil kembali dengan selamat. Sebaliknya, para petualang yang sering mengunjungi dungeon Peringkat C hingga A di sekitar Tower of Tribulation sebagian besar tinggal di pinggiran dan jarang datang sedekat ini ke pusat kota.
Kelompok Allen jauh lebih besar dari biasanya hari ini, jadi agak sulit mencari tempat duduk. Sambil seorang pegawai bergegas pergi untuk mengamankan meja, Allen melihat sekeliling kedai. Saat itulah dia melihat seorang dwarf mengenakan topi bajak laut berdiri di atas meja dan melakukan jurus cobra twist pada seseorang yang kemungkinan besar adalah bawahannya.
Ah, Laksamana Garara ada di sini lagi.
Rupanya sang laksamana dan kelompoknya yang berjumlah sekitar dua puluh orang sedang mengambil hari libur dan datang ke sini untuk minum juga.
“Tunggu, bukankah itu si rambut hitam?”
“Sepertinya begitu.”
Hm? Ada apa ini?
Hanya menggerakkan matanya, Allen melihat sepasang beastkin di meja dekat pintu masuk.
“Ayo kita beri tahu Pangeran Zeu.”
“Mm, ayo.”
Setelah berbisik-bisik di antara mereka sendiri, keduanya membayar makanan mereka dan meninggalkan kedai. Tak lama setelah itu, pegawai tadi kembali dan memandu kelompok Allen ke sebuah meja. Baru setelah mereka duduk, Helmios akhirnya menyadari rombongan Garara.
“Huh? Bukankah itu Laksamana Garara!” serunya.
“Siapa yang bilang begitu?” Mendengar namanya, Garara berbalik dan matanya berbinar. “Wah, bukan main! Ternyata sang juara terhormat dari Benua Tengah sendiri! Kawan-kawan, aku berniat untuk menyampaikan salam.” Dia melompat turun dari mejanya dan mendekat, dengan mug kayu di tangan dan beberapa bawahannya mengikuti di belakang.
“Kalian berdua saling kenal?” tanya Allen kepada Helmios.
“Yups.” Helmios mengangguk. “Dia juga sering datang ke dungeon ini, jadi terkadang kami saling bertukar informasi. Kami juga sering bertemu di KTT Aliansi Lima Benua.”
“Begitu ya.” Jadi mereka punya kesempatan untuk saling melihat di luar konteks sebagai petualang.
Allen melirik Meruru dan mendapatinya tengah sibuk menyebutkan daftar pesanan kepada seorang pelayan wanita bangsa dwarf. Dia sepertinya tidak menyadari pendekatan sang laksamana.
Aduh, padahal pertama kali kita melihatnya, dia bertingkah seperti, “Dia perwira senior ku! Dia merawatku dengan baik di angkatan laut!”
Duduk di atas meja adalah Rohzen, yang telah turun dari posnya di bahu Sophie dan sedang menatap tajam perkamen menu dengan tangan bersidekap, bergumam, “Mungkin yang ini?” dan “Tidak, mungkin ini?” pelan-pelan.
Pada akhirnya kau tetap akan memilih fukaman seperti biasanya, bukan? Kita sudah punya banyak roti yang baru dipanggang di Penyimpanan.
Fukaman adalah roti kukus yang lezat dan kenyal yang sangat populer di Baukis. Rohzen begitu ketagihan akhir-akhir ini sampai-sampai dia menyuruh Allen memasukkan sekelompok besar roti itu ke dalam Penyimpanan.
Ketika Garara tiba di meja Allen, dia menghabiskan isi cangkirnya dalam sekali teguk dan berkata kepada Helmios. “Sang juara Benua Tengah sudah kembali ke dungeon? Kamu benar-benar bekerja keras!”
Allen jadi teringat akan sebuah kejadian di kehidupan sebelumnya ketika dia sedang menikmati segelas teh oolong di sebuah pesta minum dan memikirkan game komputer yang menantinya di rumah, saat pria paruh baya yang duduk di sebelah Tiba-tiba mulai mengomelinya dan terus berbicara panjang lebar.
“Aku bisa mengatakan hal yang sama untukmu, Laksamana Garara. Apakah kamu sudah mulai memasuki dungeon?”
“Ya, tentu saja! Perang sudah berakhir dan semuanya. Aku diberi tahu bahwa sudah waktunya aku menyelesaikan dungeon sialan itu.”
“Begitu ya.” Senyum di wajah Helmios berubah menjadi ekspresi serius ketika dia mendengar Garara mengucapkan kata “menyelesaikan,” tetapi senyum itu kembali seperti biasa dalam sekejap. Dia melirik sekilas ke arah meja sang laksamana. “Itu menjelaskan kelompokmu. Jadi Baukis mulai serius untuk menyelesaikan dungeon.”
“Lumayan. Sepertinya para beastkin juga begitu, jadi aku sudah diperingatkan untuk tidak membiarkan mereka mendahului kita. Coba posisikan dirimu di tempatku, melayani kaisar kita yang tamak itu— Apa ya— Mmfgh!”
Beberapa kurcaci yang duduk di meja sang laksamana berlari dengan kecepatan luar biasa, membungkam mulutnya, mengunci kedua lengannya di belakang punggung, dan membawanya kembali.
“Tuan Helmios, bagaimana Anda bisa tahu kalau Baukis mulai serius?” tanya Allen.
“Hm? Oh. Semua orang di meja di sana itu adalah Talos General. Kecuali Laksamana Garara, tentu saja.”
Seriusan? Kalau begitu, Baukis telah mengerahkan semua aset terkuatnya dan habis-habisan. Kurang ajar, mereka benar-benar serius.
Selama dua puluh hari terakhir, Allen telah bertanya kepada Meruru tentang Talent milik Garara. Keempat puluh kurcaci di meja Garara semuanya adalah Talos General, sebuah Talent yang konon hanya ada satu dari sepuluh juta orang. Dan yang memimpin mereka semua adalah Garara, pilot golem terkuat di Baukis sekaligus satu-satunya Talos King di negara itu.
“Awww, kedengarannya seru. Jadi bernostalgia,” gumam Allen saat ingatan tentang kehidupan masa lalunya melintas.
“Oh? Selain Holy Knight, apa kamu dulunya juga seorang pilot golem?! Tunggu—kenapa?! Mmmfgh!“
Dalam upaya untuk menghentikan Cecil agar tidak mengatakan hal lain yang tidak perlu, Allen dengan sigap membekap mulutnya dengan sebelah tangan dan tersenyum ramah. “Maaf, tolong abaikan apa yang dia katakan. Oh, lihat, makanan kita sudah datang. Ayo makan!”
Dulu ketika Allen masih menjadi Kenichi, dia pada dasarnya hanya berfokus untuk menaikkan level karakternya secara efisien dan mengoptimalkan semua stat mereka (min-maxing). Namun, bukan berarti dia tidak pernah mencoba gaya permainan lain. Sebagai contoh, dia memiliki pengalaman bermain sebagai karakter mage dan bergabung dengan sekumpulan mage saja untuk menyerang dungeon; mereka semua pada dasarnya adalah kaca rapuh berzirah kertas yang berusaha sebaik mungkin untuk melenyapkan musuh sebelum musuh sempat menyerang mereka. Singkatnya, mereka sengaja membentuk kelompok yang sama sekali tidak seimbang. Istilah untuk hal ini adalah “memebuilding.”
Ketika Allen mendengar bahwa party Garara hanya terdiri dari para pilot golem, dia pikir itu terdengar sangat ekstrem seperti memebuilding. Tentu saja, golem bisa menjadi tank sekaligus memberikan damage, jadi ini mungkin sebenarnya adalah susunan party yang cukup efektif.
“Aku tadi hanya berpikir kalau party yang isinya cuma pilot golem terdengar menarik,” renung Allen sebelum mengganti topik. “Ngomong-ngomong, seperti apa komposisi party Anda, Tuan Helmios?”
“Hmm… Kali ini, prioritas kami bukan untuk menaklukkan dungeon melainkan untuk naik level dan mengumpulkan perlengkapan. Jadi, kami akan tetap berada di Lantai 4. Party kalian mengincar penaklukan dungeon, kan, Allen?”
“Itulah tujuan kami datang ke sini, ya. Kurang lebih itu berarti kita akan berbagi markas tapi tidak akan terlalu sering bertemu di dalam dungeon.”
“Ya, sepertinya begitu.”
Meskipun kelompok Helmios telah menempati tempat itu tanpa pemberitahuan sebelumnya, Allen tidak berniat mengusir mereka. Tempat itu toh cukup besar untuk menampung sekitar tiga puluh orang, jadi dia berpikir lebih baik membiarkan mereka tinggal dan menyuruh mereka membayar sebagian uang sewa berdasarkan jumlah orang yang mereka miliki. Tentu saja, dia juga akan menghitung para pelayan yang tinggal untuk membantu para tukang pindahan.
Sejak awal, pengelolaan markas perlahan-lahan menjadi masalah bagi Allen dan teman-temannya. Mereka ingin memusatkan perhatian pada dungeon, tetapi itu berarti tidak ada orang yang mengurus markas. Dan kapan pun mereka keluar setelah menghabiskan waktu berhari-hari secara berturut-turut di dalam dungeon, mereka ingin beristirahat, bukan mengerjakan pekerjaan rumah.
Yah, aku tidak melihat masalah apa pun dalam membiarkan mereka tinggal bersama kita, selagi kita tidak membahas kehidupan masa laluku atau kemampuannya kelasku. Hmm, jadi Helmios tidak akan mencoba menaklukkan dungeon meskipun komposisi party-nya saat ini sangat kuat. Haruskah aku mencoba mengorek keterangan sedikit lagi?
“Melihat betapa kuatnya semua anggota party Anda, aku berasumsi kalau Anda datang ke sini untuk menaklukkannya.”
“Tidak, tidak, tidak. Dungeon ini cukup sulit bahkan untuk party sepertiku. Oh, aku hampir lupa. Biarkan aku memperkenalkan semuanya.”
Menurut perkenalan Helmios, Sacred adalah party yang terdiri dari sepuluh orang, dengan semua orang selain Helmios memiliki kelas bintang tiga:
Hero HelmiosSword Lord SylviaSword Lord DvergHoly Knight x 1Saintess x 2Archwizardess x 2Bow Lord x 1Phantom Thief x 1
Mereka semua perempuan kecuali Tuan Dverg. Kurasa ada beberapa pria di antara para pelayan, tapi hanya itu saja. Dan mereka hanya punya satu Holy Knight. Apakah orang-orang di dunia ini juga tahu aturan “hanya satu tank per party”?
Allen mengenalkan semua anggota No-life Gamers sambil mengenang masa-masa saat dia menjadi seorang Holy Knight.
Di sebagian besar game online, ada batasan untuk setiap kelas saat membentuk party. Dalam kasus MMO yang biasa dimainkan Kenichi, sudah menjadi pemahaman umum bahwa sebuah party hanya memiliki paling banyak satu Holy Knight. Ini karena meskipun kelas tersebut sangat hebat sebagai tank yang dapat merapal buff, output damage-nya lebih rendah daripada kelas lain dan buff-nya tidak dapat ditumpuk. Oleh karena itu, tidak ada keuntungan memiliki dua atau lebih dari mereka di party yang sama.
Setelah Allen selesai mengenalkan teman-temannya, Dverg, yang tetap diam selama ini, membuka mulutnya. “Krena sekarang adalah seorang Sword King? Jadi, rumor tentang mengganti kelas itu benar-benar nyata?”
Allen mengangguk. “Ya, benar.”
“Dverg—” Helmios hendak memperingatkan temannya, tetapi Dverg mengabaikannya.
Sebaliknya, pria itu berdiri dan membungkuk dalam-dalam ke arah tupai yang pipinya sedang dipenuhi fukaman. “Lord Rohzen, Wahai Dewa Para Roh.”
“Hm? Ada apa?”
“Aku datang untuk memohon agar Anda memberiku promosi kelas juga.”
“Hm.” Rohzen mengangkat sebelah cakar ke dagunya dan menyilangkan kaki, memasang ekspresi berpikir.
Sudah kuduga. Siapa pun yang mendengar bahwa seseorang bisa menjadi lebih kuat melalui promosi kelas pasti akan menginginkannya untuk diri mereka sendiri. Masuk akal.
“Aku dengar itu mungkin dilakukan jika aku membayar harganya.”
“Lalu, apa yang sanggup kau bayarkan kepadaku, Dverg? Ha ha.”
“Aku hanya butuh satu tahun lagi di dunia ini. Anda boleh mengambil semua sisanya. Apakah itu sudah cukup?”
Nada bicara Dverg yang sungguh-sungguh membuat semua orang selain Allen dan Helmios menjadi kacau.
“Tunggu dulu!” seru Cecil. “Allen, apa kau tidak berniat menghentikannya?!”
Namun, Allen mengangkat satu tangannya, menyuruhnya menunggu. Dia ingin memberi Dverg waktu untuk melakukan percakapan ini dengan Dewa Roh.
“Sword Lord Dverg.”
“Ya, Yang Mulia.”
“Lord Elmea, Sang Dewa Penciptaan, menceritakan kepadaku bagaimana kau mengorbankan segalanya untuk melawan para iblis dan Dewa Iblis. Dia sangat terkesan dengan cara hidupmu.”
“Terima kasih, Yang Mulia. Apakah itu berarti…?”
“Aku belum selesai.”
“Saya minta maaf.”
“Saat aku berjanji untuk memberikan promosi kelas kepada kelompok Allen, aku melakukannya atas inisiatifku sendiri. Alhasil, segalanya menjadi agak…kacau di Alam Surgawi saat ini. Para dewa sangat menjunjung tinggi kesetaraan, tahu. Jadi, tunggulah sebentar.”
“Anda ingin saya menunggu, Yang Mulia?”
“Benar sekali. Katakan saja Alam Surgawi sedang mengurus sesuatu yang berkaitan dengan promosi kelas. Kuharap kamu puas dengan jawaban itu. Itulah kenapa aku ada di sini. Karena ini adalah sesuatu yang aku mulai. Ha ha.”
“Saya mengerti. Saya akan bersabar.”
“Ha ha.”
Dverg kembali duduk dan mengangkat kendi birnya ke mulut. Dia memejamkan mata sementara bahunya bergetar beberapa kali. Mungkin pengetahuan bahwa dia akhirnya bisa mendapatkan lebih banyak kekuatan telah menyentuh sesuatu yang mendalam di dalam dirinya. Di sisi lain, Rohzen kembali melahap fukaman.
Begitu ya, pantas saja ada alasan kenapa Rohzen menemani Sophie. Mengenal sifatnya, tentu saja dia mungkin tidak akan memberitahu kita apa alasannya.
Allen menatap Meruru dan mendapati gadis itu terus menuangkan alkohol ke tenggorokan. Khawatir hal itu sudah keterlaluan, dia hendak menegurnya ketika pintu kedai terbuka dengan bantingan keras.
“Apakah ini tempatnya?”
“B-Benar, Yang Mulia. Ini tempatnya.”
Seorang beastkin singa dengan tinggi hampir dua meter melangkah masuk, diikuti oleh beastkin lainnya. Surainya sedikit bergoyang saat dia dengan cepat berjalan menuju ke tengah bangunan.
Tunggu, aku mengenali pria serigala di belakang si singa. Bukankah dia orang yang kita selamatkan dari BB di Lantai 2? Namanya Uru, kalau aku tidak salah ingat.
“Jadi, siapa yang namanya Allen di sini?”
“Orang itu, Yang Mulia.”
Begitu ditanya, Uru langsung menunjuk ke arah Allen.
“Dia?”
Beastkin singa itu berbalik, menatap mata Allen, dan langsung mulai berjalan mendekat.
Allen mempertahankan kontak mata mereka. Apa? Mau cari ribut? Mau keluar?

Saat beastkin singa itu tiba di meja Allen, Helmios mendongak dan menyapanya. “Salam, Pangeran Beast Zeu dari Albahal, Negara Beastkin. Sudah lama kita tidak berjumpa.”
Beastkin singa itu menatap ke arah Helmios. “Hm? Sang juara dari Benua Tengah? Aku dengar mereka mengirimmu ke garis depan. Apakah perangnya sudah berakhir?”
Wah, jadi ini pangeran dari bangsa Beastkin?
“Aliansi meraih kemenangan dalam perang tersebut, ya. Apakah Yang Mulia Raja Beast berada dalam kesehatan yang baik?”
Meskipun sikap Pangeran Beast sangat angkuh, Helmios tetap mempertahankan senyuman di wajahnya.
“Hah! Dia tidak akan mati meskipun dibunuh. Dia tidak berubah sedikit pun sejak saat dia membuatmu berlutut di hadapan kaisar Giamut.”
Ha? Raja Beast membuat Helmios berlutut?
“Aku senang mendengarnya.”
Zeu menatap Helmios sekali lagi, mendengus, lalu beralih ke Allen. “Jadi, kaulah orang yang menyelamatkan kaumku? Begitu ya, jadi kamu adalah rekan dari sang juara Benua Tengah.”
Allen mengangguk. “Jika yang kau maksud adalah kejadian dua puluh hari yang lalu, maka ya, itu adalah aku.”
“Aku dengar BB malah menyerangmu. Bagus sekali kau bisa lolos darinya.”
Dengan sengaja memilih untuk tidak menunjukkan seberapa sulit atau mudahnya hal itu, Allen hanya berkata, “Terima kasih, Tuan. Jadi, ada yang bisa kubantu?”
“Aku datang untuk membalas budi karena kau telah menyelamatkan kaumku. Apa yang kau inginkan?”
Oh? Karena aku menyelamatkan beberapa petualang, seorang pangeran sekarang datang untuk memberiku imbalan?
Allen teringat melihat sepasang beastkin di restoran ini sedang berbisik-bisik di antara mereka sendiri saat dia masuk tadi. Meskipun angkuh dan kasar, mungkin para bangsawan dari Negara Beastkin memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi.
“Yah…” Allen memikirkannya dengan serius.
“Katakan.”
“Maaf, aku tidak bisa memikirkan apa pun saat ini. Bisakah aku menyimpannya sebagai bentuk jasa?”
Mata Uru membelalak karena marah. “Apa— Beraninya kau berbicara kepada Yang Mulia seperti itu?!”
“Menarik. Kau ingin sebuah bantuan dariku?”
“Sejujurnya, aku bahkan tidak tahu ada anggota keluarga kerajaan di kota ini. Karena Anda menawarkan hadiah, aku berharap bisa meminta bantuan Anda saat aku benar-benar membutuhkannya di masa depan. Kelompokku bertujuan untuk menaklukkan dungeon, jadi itu mungkin akan berguna.”
“Kalian menaklukkan dungeon? Jadi Giamut akhirnya bergerak untuk menaklukkan Menara Kesulitan?” Zeu menatap Helmios dengan mata yang jauh lebih tajam dari sebelumnya.
Sang Pahlawan menggelengkan kepala menyangkal. “Bukan, kelompoknya tidak ada hubungannya dengan kelompokku.”
“Hmph. Terserah. Allen, datanglah menemuiku jika kau memikirkan sesuatu. Cukup tanyakan pada beastkin mana pun yang lewat dan mereka akan membimbingmu kepadaku. Helmios, lain kali saja.”
“Tentu saja, Pangeran Beast,” jawab sang Pahlawan. “Sebaliknya, jika Anda membutuhkan sesuatu, silakan tanyakan kepada kami. Bagaimanapun juga, kita berada di perahu yang sama.”
Apa maksudnya mereka berada di perahu yang sama?
“Hmph.” Pangeran Beast Zeu mendengus sekali lagi sebelum keluar dari restoran. Beastkin lain di dalam ruangan itu juga bangkit dan mengikutinya keluar. Allen mengira mereka pergi bersamanya, tetapi ternyata mereka hanya mengantarnya pergi.
Mengabaikan keributan di luar, Cecil menatap Allen dengan mata menyipit. “Kau benar-benar tidak pernah gugup berbicara dengan kaum bangsawan, tidak peduli dari negara mana pun.”
“Maksudku, bukannya aku harus menyerahkan kesetiaanku kepada bangsawan dari negara lain, kan?”
“Kau memang tidak harus menyerahkan kesetiaan, tapi setidaknya tunjukkan rasa hormat,” balas Keel. Ingatan tentang pertemuan kelompok mereka dengan raja Ratash melintas di benaknya, yang mendorongnya untuk menambahkan, “Meskipun sepertinya kau juga tidak menunjukkan kesetiaan kepada raja dari negaramu sendiri.”
Begitu Zeu pergi, Krena dan Dogora kembali melahap makanan mereka. Teman-teman Helmios memandang dengan mata terbelalak, berbisik-bisik tentang bagaimana No-life Gamers benar-benar seperti yang pernah mereka dengar. Allen juga kembali melanjutkan makannya sambil bertanya-tanya dalam hati apa sebenarnya yang telah dikatakan Helmios tentang mereka.
“Jadi, ada apa dengan ucapan tentang membuatmu berlutut? Rasanya hampir seperti kau kalah dari Raja Beast.”
“Itu terjadi setahun sebelum aku bertanding denganmu. Selama KTT Aliansi Lima Benua, percakapan itu entah bagaimana mengarah pada keharusanku untuk bertarung melawannya.”
“Apa? Kau bertarung melawan seorang raja?”
“Ya. Dan dia hampir menghabiskan lantai denganku juga. Oh, kau tidak tahu betapa memalukannya itu.” Helmios tertawa terbahak-bahak sambil menceritakan kisah tentang bagaimana dia kalah.
Rupanya kaisar Giamutan telah mengklaim bahwa, karena kemenangan terus-menerus Helmios melawan Pasukan Raja Iblis, dia harus disebut “juara dunia.” Tentu saja, sebuah negara yang mengelu-elukan juaranya adalah sama dengan mengagungkan dirinya sendiri, jadi semua negara melakukannya. Namun, kali ini, dua kekuatan besar keberatan: Baukis dan Albahal. Keduanya bersikeras bahwa Helmios paling-paling hanya “juara Benua Tengah”.
“Karena kami memiliki Laksamana Garara di Baukis,” argumen kaisar Baukis.
“Karena kami memiliki diriku sendiri,” balas Beast King.
Tidak dapat mundur, kaisar Giamutan menjawab, “Jika kalian meragukan bahwa Helmios memiliki kekuatan untuk disebut ‘juara dunia,’ maka kalian dapat mengujinya sendiri.” Begitulah akhirnya Helmios terpaksa bertarung melawan Beast King di hadapan semua pemimpin negara Aliansi Lima Benua.
“Kau kalah separah itu?”
“Seperti yang tidak akan kau percaya!” Helmios tertawa. “Itu pada dasarnya adalah pemukulan sepihak. Dan setelah itu, aku bahkan dimarahi oleh kaisarku karena tidak cukup kuat. Sangat tidak masuk akal, kan?”
“Turut prihatin mendengarnya,” jawab Allen sambil memikirkan alasan mengapa Helmios kalah.
Ini sama sekali tidak masuk akal. Para bangsawan seharusnya hanya memiliki Talent bintang satu paling banyak. Bagaimana bisa sang Pahlawan kalah? Tunggu sebentar. Apakah aturan bahwa para bangsawan hanya mendapatkan Talent bintang satu hanya berlaku untuk manusia?
Allen merasa bahwa dia telah semakin dekat sekaligus semakin jauh dari prinsip dunia ini pada saat yang bersamaan. Itu adalah perasaan yang sangat aneh.
“Jadi singkatnya, kekuatan Raja Buas dikhususkan untuk bertarung melawan orang lain.”
“Bisa dibilang begitu. Maksudku, aku tidak mengatakan ini sebagai alasan, tapi dia begitu cepat sampai mataku benar-benar tidak bisa mengikutinya.”
Jadi, kekuatan terbesarnya adalah kecepatannya. Lebih cepat dari Pahlawan bukanlah hal yang bisa dianggap remeh.
“Apa arti dari semua ini, Allen?” tanya Cecil.
“Kemungkinan besar, Status Raja Buas sangat cocok untuk pertarungan jarak dekat, dengan penekanan pada kecepatan,” jawab Allen. “Sebaliknya, Status Tuan Helmios mungkin cukup merata di semua aspek. Dia kalah karena tidak bisa mendaratkan serangannya pada Raja Buas.”
Di dunia mana pun, sudah menjadi rahasia umum bahwa Pahlawan adalah petarung yang seimbang dan serba bisa. Hmm, fakta bahwa bahkan Baukis melayangkan protes berarti Laksamana Garara kemungkinan setidaknya sekuat Helmios. Itu mungkin sudah memperhitungkan golem miliknya, namun tetap saja, ada alasan pasti mengapa dia dikenal sebagai yang terkuat di Baukis.
“Ya, kurang lebih begitulah.” Helmios mengangguk.
Semua orang di meja itu fokus pada Allen saat dia mendengarkan penjelasan Helmios dengan penuh pemikiran. Mereka semua tahu apa yang telah Allen lakukan selama perang di Rohzenheim beberapa bulan lalu. Beberapa menatap Allen dengan mata waspada, merasa terancam oleh fakta bahwa dia telah mencapai banyak hal meskipun usianya jauh lebih muda satu generasi daripada sang Pahlawan.
“Apa arti dari hal terakhir yang kau katakan kepada Raja Buas Zeu? Kau menawarkan bantuan kepadanya, tetapi itu terdengar seperti kau sedang merujuk pada sesuatu yang lebih besar.”
“Oh, itu. Hmm…”
Melihat keraguan Helmios, Allen menambahkan, “Jika kau tidak bisa memberitahuku, tentu saja aku tidak akan memaksa.”
Apakah ini terkait dengan politik Giamutan?
“Bukan, bukan itu… Yah, kau telah sangat membantuku, dan melihat berapa banyak orang Ratash di partymu, kurasa aku sebaiknya memberitahumu ini. Masalahnya, aku tidak begitu pintar membedakan antara apa yang harus kukatakan dan apa yang harus dirahasiakan.”
Sword Lord Sylvia menyela. “Sebaiknya kau beri tahu Allen. Aku yakin dia akan membantu.”
Padahal aku belum berjanji apa pun. Bagaimana dia bisa begitu yakin?
“Baiklah kalau begitu.” Helmios menghela napas. “Jika Raja Buas yang sekarang diturunkan dari takhtanya, ada pembicaraan bahwa Negara Manusia Binatang akan menginvasi Benua Tengah.”
Allen tersedak makanannya. “Tunggu, apa?! Tuan Helmios, apa yang kau katakan?! Bagaimana dengan Aliansi Lima Benua?!”
“Keadaannya saat ini, kemungkinan besar Putra Mahkota Binatang Beku-lah yang akan mewarisi takhta. Jika itu terjadi, Albahal pasti akan keluar dari Aliansi. Dan mereka mungkin akan menyerang pada saat yang sama dengan Pasukan Raja Iblis.”
“K-Kenapa?! Kenapa mereka melakukan itu?!” Suara Cecil tertahan di tenggorokannya. Namun, ketika dia menatap Helmios dan rekan-rekannya, dia mendapati mereka memasang wajah serius tanpa ekspresi.
Otak Allen berputar kencang saat dia bertanya, “Mereka tidak pernah membahas ini di kelas kita di Akademi, tetapi apakah Albahal pernah menyerang Benua Tengah sebelumnya?”
“Tidak sejak Pasukan Raja Iblis muncul,” jawab Helmios, “tapi ya, beberapa kali sejak Albahal merdeka lebih dari seribu tahun yang lalu.”
Dulu sekali, para kaum *beastkin* telah mengalami penganiayaan berat di tangan Giamut. Dendam dari masa lalu itu tidak luntur sedikit pun, bahkan setelah seribu tahun. Para *beastkin* siap menyerang kapan saja jika raja mereka memanggilnya.
Pemahaman muncul di wajah Allen. “Makanya kamu tadi menyinggung soal status kita sebagai orang Ratash.”
“Hah?” Cecil, yang belum begitu paham, mengerutkan kening. “Apa hubungannya?”
Helmios mengangguk. “Betul. Jika Negara *Beastkin* menyerang secara besar-besaran, mereka mungkin akan melahap seluruh sepertiga bagian selatan Benua Tengah. Terutama jika mereka menyerang pada saat yang sama dengan Pasukan Raja Iblis.”
Ohhhh, pantas saja Giamut membiarkan negara-negara kecil seperti Ratash terus eksis tepat di sebelah mereka.
Allen akhirnya mendapatkan jawaban atas sesuatu yang telah dia pikirkan selama bertahun-tahun.
“Apa yang kaupahami, Allen?! Beritahu aku!”
“Kemungkinan besar, selama seribu tahun terakhir, Giamut telah memelihara Ratash sebagai tembok untuk melindungi warganya sendiri jika terjadi invasi oleh Albahal.”
Kekaisaran Giamut menduduki dua pertiga bagian utara Benua Tengah. Sepertiga sisanya di bagian selatan terdiri dari sekumpulan negara kecil yang harus dilewati oleh para *beastkin* terlebih dahulu untuk mencapai Giamut, salah satunya adalah Ratash. Selama para *beastkin* disibukkan dengan negara-negara ini, Giamut akan mengerahkan pasukannya sendiri untuk melindungi perbatasan mereka.
“Jadi, Tuan Helmios, apakah maksudmu hal ini bisa dihindari jika Pangeran Beast Zeu yang berikutnya naik takhta?”
“Yap. Itulah kenapa Giamut ingin dia yang naik takhta. Ada juga suara-suara yang mendukung Putri Perang, tetapi bagaimanapun juga, intinya adalah semuanya akan baik-baik saja selama itu bukan Putra Mahkota Beast Beku.”
Dia memang datang untuk berterima kasih kepadaku karena telah menyelamatkan kaumnya meskipun aku adalah manusia.
“Siapa Putri Perang itu?”
“Kabar yang beredar mengatakan bahwa anak bungsu dari Raja Beast saat ini, sang Putri Beast, memiliki kepribadian yang luar biasa dan berbakat dalam pertempuran. Meskipun begitu, aku belum pernah menemuinya secara langsung. Omong-omong, aku belum mendengar kabar apa pun tentangnya akhir-akhir ini.”
Rupanya bahkan sang Pahlawan pun tidak bisa begitu saja mencampuri urusan Albahal dengan mudah.
Singkatnya, dunia ini tidak terdiri dari negara-negara yang semuanya hidup damai, berpegangan tangan sebagai teman dan semacamnya. Meskipun kurasa itu tidak perlu diherankan, mengingat bagaimana sejarah antara para elf dan dark elf.
Allen mengenang kembali Dewa Iblis Rehzel, yang dulunya adalah seorang dark elf. Ternyata, dunia yang berada di bawah ancaman Raja Iblis ini jauh lebih kacau daripada yang dia ketahui.
Komentar