Hell Mode: Yarikomi Suki No Gamer Wa Haisettei No Isekai De Musou Suru Volume 10 Cerita Pendek Bonus Bahasa Indonesia
Cerita Pendek Bonus
Bab 4.5: Para Penjahat dari Luar Kota
Kereta kuda itu melaju kembali menuju Sekolah Talent dengan Helmios di dalamnya. Anak laki-laki itu telah selesai makan siang bersama keluarga Howlden, dan sudah satu jam sejak mereka berangkat, tetapi mereka masih belum juga sampai di tempat tujuan. Mereka melewati Distrik Bangsawan dan menuju ke jalan utama. Kereta kuda tersebut, yang dilindungi oleh para kesatria di atas kuda, bergerak agak lambat.
Kurasa akan lebih cepat kalau aku berjalan kaki sepanjang perjalanan, pikir Helmios. Jalanan yang dipenuhi toko-toko kayu itu dipadati oleh orang-orang, tetapi semuanya tampak kelelahan dan tidak bersemangat. Semua orang menunduk seolah-olah hendak berpaling dari matahari terbenam, yang membuat Helmios merasa prihatin. Saat itulah Burton, sang kepala pelayan, yang duduk di seberang anak laki-laki itu, memecah keheningan.
“Saya sangat meminta maaf karena perjalanan ini memakan waktu begitu lama,” ujarnya meminta maaf.
“Oh, tidak apa-apa,” jawab Helmios sambil tersenyum kaku.
Setelah mendengar bahwa Helmios telah menemui Dewa Pencipta Elmea dalam mimpinya, sang viscount, viscountess, dan kepala pelayan mulai memperlakukan anak laki-laki itu secara berbeda. Sang kepala pelayan bukan hanya mengawalnya kembali ke sekolah, tetapi ia bahkan telah disediakan beberapa kesatria untuk melindungi kereta kuda tersebut. Namun, pengawalan mereka memperlambat laju kendaraan itu, dan Helmios menganggap lucu bahwa tindakan penuh perhatian dari keluarga Howlden justru berbalik merugikan mereka sendiri.
“Anda sangat baik, Lord Helmios,” kata Burton, salah mengartikan makna di balik senyuman Helmios. Ia kemudian menunjuk keranjang yang berisi roti dan buah yang berada di pangkuan anak laki-laki itu. “Anda bahkan menyiapkan oleh-oleh untuk teman-teman Anda.”
“Yah, aku punya teman yang porsinya makan banyak banget. Perutnya keroncongan di tengah pelajaran hari ini.”
Anak laki-laki itu mulai bercerita, tetapi dia langsung disela oleh auman yang keras dan marah dari luar kereta, dan dia seketika menutup rapat mulutnya.
“Kalian ini orang luar!” bentak seorang pria. “Aku yakin kalian menyelinap masuk lewat celah-celah di tembok luar! Ku-bilang benar, kan?! Ayo, jawab aku!”
“A-Aku minta maaf…” jawab seseorang.
Helmios condong ke luar jendela untuk melihat-lihat dan melihat dua pria, masing-masing mengenakan zirah kulit dan membawa tongkat berat, di luar sebuah toko peralatan makan. Kemarahan mereka ditujukan kepada sebuah keluarga yang terdiri dari empat orang—seorang ayah, seorang ibu, dan dua anak perempuan—yang terbaring di atas tikar kotor.
“Gara-gara para penjahat seperti kalian yang merusak tembok kami, makanya kami harus terus memperbaikinya!” bentak pria satunya lagi, menatap tajam ke arah keluarga tersebut. “Betapa bodohnya kalian ini?! Jika ada monster yang berhasil melewati tembok-tembok itu dan masuk ke dalam kota, apa kalian bisa bertanggung jawab?! Bisa?!”
Orang-orang di sekitar yang berada di atas tikar kotor serupa buru-buru kabur demi menyelamatkan nyawa mereka. Ketika melihat hal itu, pria kedua menyunggingkan senyum licik yang tersembunyi—sesuatu yang tidak luput dari perhatian Helmios.
“Siapa orang-orang itu?” tanya anak laki-laki tersebut.
“Mereka adalah kelompok vigilante,” jawab Burton. “Belakangan ini, orang-orang dari desa lain berdatangan ke sini, dan tingkat kejahatan sedang meningkat. Sebagai tanggapannya, warga kota membentuk kelompok vigilante sukarela untuk melindungi keselamatan para warga.”
“Tapi mereka tidak harus berteriak seperti itu, kan?”
“Tidak, memang tidak. Tapi mereka juga tidak sepenuhnya salah. Memang ada para migran yang membobol celah di tembok luar untuk masuk tanpa izin tinggal, dan beberapa dari mereka bahkan membuat lubang agar yang lain bisa ikut masuk. Tentu saja, Lord Helmios, Anda mengerti bahwa kita tidak bisa tinggal diam dan membiarkan hal itu terjadi.”
Saat Helmios terdiam, sebuah teriakan melengking memenuhi udara.
“Lepaskaaan!”
Kepala Helmios menoleh cepat ke arah sumber suara, dan dia melihat anak perempuan bungsu dari keluarga tadi menangis ketakutan demi menyelamatkan nyawanya. Salah satu pria berzirah kulit telah mencengkeram lengannya dan mencoba menyeretnya menjauh. Pemandangan itu adalah batas kesabaran bagi Helmios. Keraguan tidak lagi menguasai tubuhnya.
“Lord Helmios?!” seru Burton.
Namun, anak laki-laki itu tidak memedulikannya. Dia menerobos keluar dari kereta dan membelah kerumunan orang yang berusaha menjauh dari keributan tersebut. Dalam sekejap, dia sudah melompat ke hadapan pria yang mencoba menyeret gadis malang itu menjauh.
“Hentikan itu!” bentaknya.
Vigilante kedua itu sempat tertegun sejenak, dan putri sulung memanfaatkan kesempatan tersebut. Dia menerkam lengan pria itu, melepaskan adik perempuannya dari cengkeramannya.
“K-Kakak!” tangis anak perempuan kecil itu.
Vigilante yang lain sadar kembali dan mencoba menjadikan kedua putri itu sebagai sandera sambil mengayunkan tongkat besarnya ke sekeliling.
“Sudah kubilang hentikan!” geram Helmios.
Anak laki-laki itu melangkah maju dan menghentikan tongkat tersebut.
“Hngah?!” seru pria itu terkesiap.
Vigilante itu telah mengayunkan tongkatnya dan terkejut mendapati gerakannya terhenti seketika, tongkatnya menolak bergeming di tangan seorang anak kecil. Dia hanya bisa menatap takjub sementara vigilante satunya akhirnya menyadari bahwa ada seorang anak tak dikenal yang menghalangi jalan mereka.
“Bocah keparat!” geramnya. “Ini bukan lelucon! Raaah!”
Dia mengayunkan tongkatnya, dan Helmios menggunakan tangan satunya untuk merampas tongkat itu juga, menghentikan kedua pria tersebut. Para vigilante, yang tidak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka, mengerahkan seluruh kekuatan untuk mencoba membebaskan senjata mereka, tetapi anak laki-laki itu mempererat genggamannya, meremukkan senjata-senjata itu. Satu vigilante tadinya sedang mendorong dan terjatuh ke depan, sementara anggota yang satunya tadinya sedang menarik dan terjatuh ke belakang dengan menyedihkan, mendarat di atas pantatnya.
“Sialan kau, bocah sialan…” gerutu pria kedua saat dia bangkit berdiri dan mengayunkan sisa tongkatnya.
“Cukup!” teriak Burton dari belakang Helmios, dengan para ksatria bersenjata lengkap mengekor di belakangnya.
Terperanjat, kedua vigilante itu membeku. Mereka melihat lambang keluarga Howlden terjahit di kerah jas pelayan yang mendekat itu dan seketika wajah mereka memucat.
“Tunggu, kau… orangnya viscount…” gumam salah satu dari mereka.
“Benar. Aku mengabdi pada viscount,” jawab Burton. “Dan anak ini adalah tamunya. Dia telah diberi tahu mengenai kegiatan kalian sehari-hari dan hanya berniat memberi kalian uluran tangan. Tolong serahkan tempat ini kepada kami dan jalankan tugas kalian di tempat lain, Tuan-tuan yang terhormat.”
Kedua vigilante itu, yang mampu membaca situasi, dengan panik menundukkan kepala, lalu berputar balik dan ngibrit pergi.
“K-Kami minta maaf!” seru mereka serempak.
Begitu kedua pria itu pergi, Burton menoleh kembali kepada keluarga migran tersebut. “Mohon maaf. Apakah kalian membawa izin?”
Sang ibu menggelengkan kepalanya pelan. Burton sempat mengerutkan kening sejenak, tetapi ia dengan cepat kembali memasang ekspresi tanpa emosi.
“Kurasa tidak ada hal lain yang bisa kita lakukan,” ujarnya. “Tolong kawal mereka keluar kota.”
Para ksatria melangkah maju untuk mengepung keluarga tersebut.
“Tidak!” seru Helmios, tak mampu lagi menahan diri. “Kumohon, Tuan Burton! Jangan berhati dingin begitu!”
“Lord Helmios, hukum di kota ini ada untuk melindungi orang-orang yang tinggal di sini,” jawab pelayan itu dengan tenang. “Mengabaikannya sama saja dengan mengabaikan penduduk kota. Aku yakin semua imigran yang datang ke sini, bukan hanya keluarga ini, memiliki alasan untuk meninggalkan desa mereka. Namun, alasan-alasan itu saja tidak membenarkan kita untuk melanggar hukum dan membuat pengecualian.”
Helmios tidak dapat membantah argumen itu. Ia tidak bisa memilih antara perkataan sang pelayan dan keadaan para imigran—keduanya sama pentingnya baginya.
“Tapi anak-anak mereka masih begitu kecil…” gumam Helmios, mulai menitikkan air mata sambil memohon kepada Burton dengan tatapan matanya.
“Kurasa aku bisa mengurus izin untuk mereka…” pelayan itu mengalah sambil menghela napas. Ia berbalik menatap keluarga itu, yang semuanya menundukkan kepala. “Pergilah ke gereja di tengah jalan ini sebelum hari berakhir. Mereka adalah organisasi yang suka membantu dan akan menerima para imigran, tapi mereka tidak bisa membantu semua orang. Aku akan membuat kalian bekerja di sana sampai kalian mendapatkan izin kalian.”
Keluarga itu serentak mendongak.
“B-Benarkah?!”
“T-Terima kasih banyak!”
“Terima kasih sudah menyelamatkan kami, Kakak!” kata anak perempuan bungsu itu.
Akhirnya, Helmios memamerkan senyuman. Ketika ia melihat betapa lelahnya anak-anak bersaudara itu, ia meminta mereka untuk menunggu sebentar dan bergegas kembali ke kereta kuda. Ketika kembali, ia membawa sebuah keranjang yang penuh dengan tumpukan roti dan buah.
“U-Untuk kami?!” orang tua itu terkesiap kaget. “A-Apa kamu yakin?!”
“Tentu saja,” jawab Helmios. “Habiskan semuanya sampai remah terakhir.”
Sang ibu mengambil keranjang itu dan langsung menangis tersedu-sedu.
“Eh? Kenapa…” anak laki-laki itu mulai bertanya dengan bingung.
“Desa kami diserang oleh goblin,” jelas sang ayah sambil terhuyung-huyung berdiri. “Kami berhasil keluar hidup-hidup, tapi kami hampir tidak makan atau minum sampai sekarang.”
Kaki pria itu mengintip dari balik kain rompalnya. Salah satunya sedang ditopang menggunakan bidai. Barulah Helmios menyadari bahwa kedua orang tua itu dipenuhi dengan luka-luka.
“Pantas saja kalian babak belur,” ujarnya. “Baiklah! Sembuh!”
Anak laki-laki itu berlutut di depan sang pria dan merapal sihir penyembuhannya, memulihkan luka-luka tersebut dalam sekejap.
“Sungguh… Dia benar-benar anak keajaiban,” gumam Burton sambil terus menatap anak laki-laki itu. Sang pelayan dengan tenang menyeka air mata yang mengalir di pipinya.
Komentar