Eroge no Heroine wo Netoru Otoko ni Tensei Shitaga, Ore wa Zettai ni Netoranai V3Ch1: Bagian 1 Bahasa Indonesia
V3Ch1: Bagian 1
Penerjemah: Soafp
“Aku ke toilet sebentar ya.”
Kata Ayana di pagi hari, sambil berjalan menuju kamar mandi.
Hari ini adalah hari kerja, jadi ada sekolah seperti biasa, tetapi aku sudah mulai terbiasa melihat kehadiran Ayana di rumah, yang biasanya tidak akan ada di sini.
“Ayana-chan mengerjakan semua pekerjaan rumah… Aku jadi bertanya-tanya apakah aku masih punya peran di sini.”
“Ahaha….”
Ibu menghela napas, sepertinya telah kehilangan perannya. Tentu saja, dia hanya melebih-lebihkannya, dan dia melanjutkan sambil tertawa.
“Kamu benar-benar memilih gadis yang baik sebagai pacarmu, ya?”
“Ya.”
“Ara, kamu langsung mengangguk mendengarnya, Towa.”
Sambil berkata “Nah, ini dia!” Ibu dengan ringan menyenggolku.
Ayana adalah gadis yang baik dan pacar terbaik adalah hal yang wajar… kan? Jadi, tidak perlu bagiku mencoba membenarkannya dengan canggung. Aku hanya mengangguk dengan jujur.
“Apa rencana Ibu hari ini?”
“Hmm… Meskipun ini hari kerja, ini hari liburku, jadi aku akan bersantai saja.”
“Kalau punya waktu istirahat, pastikan untuk beristirahat dengan benar. Aku tidak mau terjadi apa-apa pada ibu tersayangku.”
“…Towaaaaaa!!”
“Kofuu!?”
Dengan kekuatan seperti misil, Ibu menubrukkan perutnya ke perutku.
Meskipun rasanya sarapan yang baru saja kuah makan hampir naik kembali karena terkejut, aku menahannya dengan sekuat tenaga, tidak ingin mengubah ini menjadi tempat kejadian kecelakaan yang tragis.
“Duh, Ibu… itu tadi benar-benar mendadak.”
“Tapi Ibu sangat bahagia!”
Ibu, yang tertawa ceria, terlihat imut… yah, tidak juga. Tapi aku tidak bisa menahan diri untuk berpikir bahwa tindakan beliau yang tiba-tiba melompat ke arahku dengan momentum sebesar itu sedikit berlebihan.
“Kalau begini bagaimana?”
“Eh?”
Begitu dia melepaskan diri dariku, Ibu dengan lembut memeluk kepalaku.
Karena aku ditarik ke dalam dekapannya, aku merasakan sensasi yang menyenangkan di pipiku, namun karena dia adalah darah dagingku sendiri, aku sama sekali tidak merasakan debaran di hatiku.
“Fufu, kamu benar-benar menggemaskan, Towa♪”
Saat aku mendongak, Ibu sedang tersenyum bahagia padaku.
Cantik bagaikan fajar—dia adalah ibuku, dan bagiku, yang hampir sepenuhnya menyatu dengan jiwa Towa, sama sekali tidak ada rasa canggung untuk memanggilnya begitu.
(…Ya ampun, kedalaman kasih sayang ini mulai membuatku ketagihan.)
Kasih sayang Ibu terasa sedikit berlebihan… Aku semakin merasakan hal itu akhir-akhir ini.
Mungkin salah satu alasan dia mencurahkan begitu banyak cinta kepadaku adalah karena aku adalah satu-satunya keluarga yang tersisa setelah kehilangan Ayah.
“Towa.”
“Ya?”
“Ini tentang Ayana-chan.”
Berubah serius dari sikapnya sebelumnya, Ibu melanjutkan.
“Ibu benar-benar bahagia karena Ayana-chan resmi mulai berpacaran denganmu. Ibu tahu Towa bersungguh-sungguh padanya, dan di atas segalanya, Ibu juga menyukainya.”
“Aku bisa tahu kalau Ibu sangat menyukai Ayana.”
Kataku, dan Ibu terkekeh.
Aku punya firasat kalau aku tahu apa yang akan dia katakan selanjutnya, tapi aku ingin mendengar pendapat Ibu, jadi aku mendengarkan tanpa memotong.
“Tentu saja, berada di sisi Towa adalah hal yang paling penting, tapi gadis itu juga bilang kalau dia ingin bersamaku… Dia benar-benar gadis berdosa dalam artian tertentu.”
“Gadis berdosa… Haha, ya, mungkin memang begitu.”
“Bukan begitu? Meskipun senang mendengarnya berkata seperti itu, aku juga merasa kalau keadaan yang sekarang saja belum cukup.”
“…Ya.”
Benar juga, keadaan tidak boleh terus seperti ini. Aku sudah secara perlahan menanyakan tentang Seina, ibu Ayana, tapi untungnya, sepertinya memperbaiki hubungan kami bukanlah hal yang mustahil.
Meskipun ada pertukaran kata yang cukup sengit saat kami bertemu di kota sebelumnya, keputusan Ayana untuk melihat ke depan dan berjalan berdampingan denganku telah secara signifikan mengurangi permusuhan yang dia pendam.
[Kecuali untuk ibuku…. Aku tidak yakin tentang Kotone-chan dan Hatsune-san. Aku pikir aku bisa berinteraksi dengan mereka dengan tenang, tapi jika mereka mengatakan sesuatu yang melewati batas, aku akan meledak!]
Omong-omong, kurasa itu bukanlah halusinasi ketika Ayana bilang dia akan meledak dan aku melihat sesosok iblis di belakangnya.
Seperti yang bisa kulihat dari pernyataan ini, ini mungkin hanyalah angan-anganku saja, tapi aku merasa kalau ada kesempatan, aku bisa membuat segalanya berjalan lancar dengan Seina-san.
“Hei, Ibu.”
“Ada apa?”
Ah, dia begitu baik… Bukan, bukan itu!
Menjauh dari Ibu sejenak, aku memutuskan untuk menanggapi apa yang telah dikatakan Ibu dengan membagikan pemikiranku sendiri.
“Aku ingin meyakinkan Ibu tentang Ayana. Tapi masalahnya sudah sangat berakar, jadi aku tidak bisa menjamin segalanya akan berubah… Tapi aku ingin Ibu mempercayai Ayana.”
Hanya itu yang bisa kukatakan untuk saat ini. Alangkah kerennya jika aku bisa bilang kepada Ibu agar tidak perlu khawatir karena aku bisa mengatasi semuanya, tapi…
Ibu membelalakkan matanya sejenak, lalu langsung mengangguk.
“Ibu mengerti. Tidak ada seorang pun yang dapat menandingi Ayana-chan dalam hal mendampingi Towa.”
Itu sudah pasti!
Aku mengangguk dengan penuh semangat, dan Ibu menatapku dengan senyuman lembut, mengelus kepalaku dengan lembut seolah-olah aku masih anak kecil.
Meskipun aku sudah SMA, Ibu mungkin tidak bisa menahan diri untuk menganggapku sangat menggemaskan… Setiap kali aku memikirkannya, aku menyadari betapa pentingnya keluarga, bagaimanapun keadaannya.
“Tadi aku bilang serahkan padaku, tapi aku ingin Ibu membantuku jika sesuatu terjadi.”
“Mengerti. Selaluandalkan Ibu, ya? Yah, Ibu juga berpikir kalau ada kesempatan, Ibu akan ngobrol dengan ibunya Ayana-chan sambil merangkul pundaknya!”
“…Ibu, hal itu sepertinya terlalu mudah buat Ibu.”
Mungkin ini hanya perasaanku saja, tapi aku bisa dengan mudah membayangkan Ibu menggoda Seina-san yang kebingungan, dengan tangan merangkul pundaknya. Kemungkinannya sekitar 120% bakal terjadi, dan justru malah agak menghibur kalau dibayangkan.
“Tentu saja Ibu tidak bisa memaafkan apa yang terjadi di masa lalu. Tapi karena kamu, anakku, menatap ke depan dengan wajah ceria, Ibu tidak boleh terus terjebak di masa lalu selamanya, kan?”
“…Ibu, Ibu kuat.”
“Tentu saja. Seorang ibu itu kuat.”
…Ya. Itu benar sekali.
“Aku pulang… Ah, sungguh momen yang berharga.”
“Ara, selamat datang kembali, Ayana-chan.”
“Selamat datang kembali, Ayana.”
Momen yang berharga… Yah, aku tidak akan menyangkalnya.
Setelah Ayana kembali dan aku meninggalkan Ibu, kami bersiap untuk berangkat ke sekolah.
“Aku berangkat.”
“Sampai jumpa lagi, Akemi-san.”
“Hati-hati di jalan, kalian berdua.”
Sedikit lebih jauh dari rumah, Ayana mengulurkan tangannya, dan aku meraihnya.
Awalnya, tangan kami hanya bergandengan biasa, tetapi tak lama kemudian jari-jari kami saling bertautan, seperti sepasang kekasih.
“…Fufu♪”
Senyum Ayana begitu menular, dan aku pun mau tak mau ikut melonggarkan pipiku.
“Ah, Towa-kun.”
“Ada apa?”
“Akhir-akhir ini… aku terlalu banyak mengandalkanmu. Sepertinya hari ini aku akan pulang ke rumah.”
“…Ah, begitu ya.”
Aku sedikit terkejut dengan perkataan Ayana yang tiba-tiba itu.
Namun, tidak aneh bagi Ayana untuk mengatakan hal itu, dan sejujurnya aku merasa sedikit lega karena aku sempat bertanya-tanya apakah keadaannya harus tetap sama… Tapi aku juga merasa sedikit kesepian.
“Dari ekspresimu, aku bisa tahu kalau kamu akan merindukanku, kan?”
“Ya… Yah, kurang lebih begitu. Bukan hal yang aneh kalau kamu pulang ke rumah, tapi… kurasa aku sudah terbiasa memilikimu di sekitarku sepanjang waktu.”
Bahkan jika bukan itu masalahnya, aku akan merasa kesepian setiap kali Ayana tidak ada.
Aku mungkin terlihat lemah, tapi itu hanya menunjukkan betapa pentingnya Ayana bagiku.
“Meskipun belum begitu banyak hari yang berlalu, apakah ada alasan kenapa kamu tiba-tiba memutuskan untuk pergi?”
“Ya. Sebenarnya, aku tidak sengaja mendengar percakapan kalian tadi…”
Ah… Begitu ya.
Ayana meminta maaf karena telah menguping, tapi aku justru merasa tidak enak karena telah membuatnya merasa seperti itu.
“Jangan memasang ekspresi seperti itu. Aku hanya ingin menghindari kecanggungan dengan lari ke tempatmu setiap kali keadaan menjadi tegang antara aku dan ibuku, Towa-kun.”
“…Ayana, aku…”
“Tentu saja, aku akan bicara dengan ibuku dulu sebagaimana mestinya, tapi jika aku butuh bantuan, aku pasti akan meminta tolong padamu.”
“Tentu saja. Jika kamu butuh apa pun, panggil saja aku, dan aku akan langsung berlari menghampirimu.”
“Ya!”
Itu bukan kebohongan. Apa pun yang terjadi, aku akan selalu ada untuknya.
Ayana mengangguk senang mendengar perkataanku dan menggenggam tanganku semakin erat.
“Hei, Ayana?”
“Ya?”
“Orang-orang mulai berkumpul di sekitar kita…”
“Oh, apa kamu khawatir tentang itu?”
Sambil berkata begitu, Ayana menatapku dengan pandangan menggoda.
Karena kita sedang berjalan ke sekolah, semakin dekat kita sampai, semakin banyak siswa yang ada… Artinya, meski tidak secara terang-terangan, orang-orang akan mulai memperhatikan kita saat kita berjalan bergandengan tangan.
(Rasanya seperti kamu sedang bilang, ‘Kalau aku melepaskannya karena malu, itu sama saja mengakui kekalahan, kan?’ Baiklah, hadapi saja, Ayana.)
Sejujurnya, aku takjub dengan jiwa kompetitifku sendiri dan terkekeh dalam hati.
Aku meremas tangannya semakin erat, menunjukkan tekadku untuk tidak melepaskannya, meskipun aku tidak pernah berniat melakukannya sejak awal. Aku menggenggam tangannya dengan kuat, cukup untuk menunjukkan bahwa aku tidak akan kalah dari Ayana… tapi tidak sampai membuatnya kesakitan.
“Kamu cukup kompetitif ya, Towa-kun.”
“Ngomong begitu ke aku?”
“Kurasa aku tidak bisa protes.”
“Baguslah kalau sadar.”
“Memangnya.”
Kami tertawa bersama dan melanjutkan perjalanan ke sekolah.
“Baru beberapa hari, kalian berdua sudah mesra saja, ya?”
Begitu aku masuk ke ruang kelas dan berpisah dengan Ayana, temanku Aisaka langsung menghampiriku dengan komentar menggoda.
“Selamat pagi, Aisaka. Yah, kami kan baru saja mulai berpacaran, jadi wajar saja, tahu?”
Kami masih berada di fase bulan madu, jadi bermesraan adalah hal yang wajar bagi pasangan baru seperti kami. Tapi… begitu aku mendengar istilah “fase bulan madu”, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak membayangkan hubungan kami menjadi dingin. Hal itu membuatku merasa agak murung… Konyol! Tidak mungkin hubungan kami mendingin!
Saat aku menggelengkan kepala dengan kuat untuk mengusir pikiran semacam itu, Aisaka merasa khawatir dan bertanya apa yang sedang terjadi.
“Ada apa dengan perubahan yang tiba-tiba ini?”
“Ah… Aku hanya sedang memikirkan apa yang akan terjadi jika aku dan Ayana mengalami masa-masa sulit.”
“Jika kamu dan Ayana mengalami masa-masa sulit?”
Aisaka meminjam kursi dari barisan depan dan duduk dengan bunyi gedebuk, lalu membuka mulutnya untuk berbicara.
“Aku benar-benar penasaran untuk melihat apakah kamu dan Ayana akan pernah mengalami masa-masa sulit. Ah, ini bukan karena aku pikir itu akan terjadi, ini murni rasa penasaranku. Jika hal itu benar-benar terjadi, dunia ini pasti akan kiamat, kan?”
“Kau serius?”
“Tentu saja. Berdasarkan apa yang kulihat dari kalian berdua biasanya, hal itu sama sekali tidak terbayangkan.”
Dari sudut pandang Aisaka, hal semacam itu tidak terpikirkan, dan ia mengangguk setuju.
Begitu ya… aku tidak pernah bertanya kepada orang lain bagaimana mereka memandang hubungan kami, tapi jika dilihat dengan cara ini, ini adalah sebuah kehormatan.
“… O”
“Ada apa?”
Di tengah percakapan, Aisaka tiba-tiba berbisik dan melihat ke arah tertentu.
Bertanya-tanya apa yang sedang terjadi, aku mengikuti pandangannya dan melihat Shu… dia baru saja tiba di sekolah dan langsung menuju ke mejanya.
Begitu duduk, dia langsung menelungkupkan kepalanya di atas meja dan tidak bergerak sama sekali, benar-benar menutup diri dari keadaan sekitarnya.
“Pria itu pasti sangat terpukul… bukankah ini sudah lama diprediksi?”
“…Ya”
Sudah menjadi rahasia umum kalau aku dan Ayana mulai berpacaran.
Kami tidak mengumumkannya sendiri, tetapi hubungan kami menjadi semakin jelas bagi teman-teman seperti Aisaka, yang menyadari keintiman yang semakin besar di antara kami. Hal ini mau tak mau membuat mereka menyadari bahwa Shu telah mengalami patah hati – makanya itu menjadi penyebab kondisinya saat ini.
Setelah mengamati Shu sejenak, Aisaka berbicara seolah ingin meyakinkanku.
“Yah, wajar saja merasa khawatir karena kita sudah cukup kenal, tapi ya mau bagaimana lagi. Patah hati kan bagian dari cinta.”
“Haha… rasanya aneh mendengarmu mengkhawatirkanku seperti ini.”
“Aku kan temanmu, jadi tentu saja aku khawatir. Kurasa itu tidak perlu, tapi jangan menahan diri gara-gara Otonashi-san, ya?”
“Seolah-olah aku akan membiarkannya memengaruhi hubungan kita separah itu. Kalaupun iya, Ayana justru akan memarahiku karena melakukannya.”
Meskipun banyak naik turunnya bersama Shu, aku tidak pernah membencinya.
Aku berharap seiring berkembangnya hubungan antara aku dan Ayana, kami bisa membawanya ke arah yang lebih baik entah bagaimana caranya… karena dia juga adalah teman masa kecil Ayana.
“Aku tahu kalau Shu menyukai Ayana… tapi aku menyatakan perasaanku kepada Ayana dengan menyadari hal itu. Aku tidak menyesalinya, dan aku tidak menganggap pilihan ini salah.”
“Begitu ya… Yah, aku tidak mengkhawatirkan apa pun!”
Sambil berkata begitu, Aisaka menepuk punggungku dengan kuat.
Merasa sedikit nyeri akibat tepukan itu, aku menghentikannya dan bertanya tentang situasinya.
“Kalau kamu sendiri bagaimana? Ingat kan waktu kamu muka merah, malu-malu saat membicarakan orang yang kamu sukai dan menyebut soal seorang junior?”
“…..M-Mana ada, bukan urusanmu!”
Aisaka berkata begitu dan langsung kabur.
Reaksinya begitu kentara sampai-sampai aku merasa seperti menemukan mainan baru untuk dijahili, tapi aku jadi penasaran siapa junior yang diincar Aisaka itu… Hmm, suatu hari nanti aku ingin mencari tahu.
“Haa…”
Saat Aisaka berlari pergi, aku mulai berpikir lagi.
Sekarang kekhawatiran Ayana sudah agak mereda, dia bukan hanya lebih sering tersenyum saat berdua saja, tetapi juga cukup sering menerima surat di sekolah, meskipun dia sudah punya pacar sepertiku.
“Repot sekali. Meskipun aku menerima surat, aku tidak akan membalasnya… dan bahkan kalau mereka datang menemuiku secara langsung, itu juga sama saja… haa, menyebalkan.”
Sisi gelap dalam diri Ayana sedikit muncul ketika dia sedang kesal seperti ini.
Bukannya hanya ada seseorang yang mengincar Ayana; ada juga para gadis yang merasa cemburu pada Ayana yang populer… Kendati demikian, Ayana, yang telah terbebas dari bebannya, tanpa sadar memancarkan pesona yang lebih besar dari sebelumnya.
(… Dan kemudian ada Shu.)
Orang berikutnya yang kulihat sekilas adalah Shu, yang masih berbaring menelungkup seperti biasa.
Seperti yang disebutkan Aisaka, Shu telah menghabiskan waktunya seperti itu belakangan ini, dan bahkan teman-teman dekat selain Ayana dan aku sepertinya tidak terlalu banyak bicara dengannya.
Meskipun demikian, aku pernah melihatnya berbicara dengan Iori, yang sering datang memanggilnya, dan Mari, yang aktif mendekatinya saat mereka bertemu, jadi itu agak melegakan.
“Hmm?”
Tepat saat aku mulai merasa bahwa guru akan segera tiba dan wali kelas pagi akan dimulai, aku merasakan tatapan tajam… dari Shu.
Dia mengangkat wajahnya sedikit dan menatapku sejenak, tetapi begitu mata kami saling bertemu, dia dengan cepat mengalihkan pandangannya dan membenamkan wajahnya lagi.
“Yare yare… (Sungguh merepotkan)”
Bagaimanapun juga, cukup merepotkan bagi hubungan yang tadinya begitu normal dan penuh canda ini menjadi renggang… Tentu saja, aku menghela napas.
Namun, terlepas dari perasaan ini, waktu berlalu seperti biasa.
Setelah makan siang bersama Ayana pada jam istirahat, aku mendapat kesempatan untuk bertemu dengan mereka.
“Ara, Yukishiro-kun.”
“Ah, Yukishiro-senpai!”
Iori Honjo dan Mari Uchida… mereka adalah para heroine yang bertemu dengan Shu melalui Ayana, namun berhasil lolos dari takdir kejam sekarang setelah kegelapan Ayana telah sirna.
(… Aku ingin tahu apakah semuanya akan baik-baik saja?)
Meskipun Ayana tidak berniat untuk merencanakan apa pun lagi, wajar saja merasa cemas jika mengingat seperti apa dia di dalam game.
“Halo, Honjo-senpai, dan juga Mari.”
Kenangan yang hanya aku ketahui tidak lagi relevan bagi mereka, jadi aku mendekati mereka tanpa menunjukkan kekhawatiran apa pun terhadap keduanya.
“Apa yang sedang kalian berdua lakukan?”
“Aku bertemu dengan Uchida-san dalam perjalanan pulang dari ruang guru dan kami sedikit mengobrol.”
“Ya! Aku tidak sengaja melihat Honjo-senpai!”
Sepertinya mereka berdua bertemu secara tidak sengaja.
Ayana, dengan ekspresi bermasalah, menyuruh mereka agar tidak berbicara terlalu keras, dan Mari, meminta maaf dengan senyuman cerah.
“Bagaimana denganmu, Yukishiro-kun?”
“Aku tadi hanya berjalan-jalan tanpa tujuan.”
“Dan kamu kebetulan turun ke lantai satu begitu saja?”
“Yah…”
Ditanya seperti itu membuatku sedikit malu… tapi itu memang benar.
Saat aku kesulitan menjawab, mereka berdua menatapku dengan rasa ingin tahu, tetapi Ayana memikirkan sesuatu yang menghibur dan tersenyum usil, lalu mendekatiku.
Pandanganku tertarik pada rambut hitamnya yang panjang dan indah, tetapi aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari tatapannya yang tajam namun lembut… Ayana memang sangat cantik.
“Akhir-akhir ini, kamu terlalu mesra ya dengan Otonashi-san?”
“Eh… apa begitu kelihatannya?”
Keadaantku digambarkan seperti itu… tapi mungkin itu tidak sepenuhnya salah?
Aku ingin percaya bahwa aku tidak jauh berbeda dari diriku yang dulu… tapi terkadang saat aku sendirian, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum lebar.
“Waktu aku melihat Yukishiro-senpai dan Ayana-senpai, kalian terlihat sangat mesra! Bahkan teman-temanku bilang mereka ingin berkencan dengan cowok seperti itu!”
Seolah memberikan pukulan telak, Mari mengatakan hal seperti itu.
Tidak seperti Ayana, yang melontarkan komentar menggoda tanpa niat jahat, rasanya memalukan digoda seperti ini oleh Mari, yang memiliki mata yang polos dan jujur.
“Ah, aku harus segera kembali! Kalau begitu, sampai jumpa lagi di lain waktu, kalian berdua!”
“O-Ou…”
“Terima kasih, Uchida-san.”
Sambil melambaikan tangannya dengan penuh semangat, Mari berlari pergi… dan dia dimarahi oleh guru karena berlari.
“Anak itu… terlepas dari penampilannya, dia cukup gugup dan kurang tenang.”
“Maksudmu dia ke kanak-kanakan?”
“Ya.”
“Kamu sangat yakin tentang itu.”
“Yah, bukankah itu sudah jelas?”
Sambil terkekeh, Iori berkata begitu.
Yah… meskipun aku datang ke sini karena situasinya, aku tidak menyangka akan berduaan saja dengan Iori seperti ini.
Bukannya aku membuat Ayana menunggu, dan kita masih punya banyak waktu… sebenarnya, Ayana sepertinya tidak menunjukkan tanda-tanda akan pulang lebih awal.
“Kamu mau kabur?”
“Apa–!?”
“Itu lelucon? Atau kamu keceplosan karena kaget?”
Uhm… yah, kurasa itu dua-duanya. Ya.
Aku tidak menyangka akan keceplosan begitu, tapi aku terkejut karena Iori bisa menebak apa yang sedang kupikirkan.
“Butuh keberanian untuk berniat kabur di depanku.”
“…Apa kamu ini ratu atau semacamnya?”
Jika dia punya cambuk, dia mungkin akan mencambuknya dengan percaya diri tanpa ragu-ragu… dan Iori sepertinya cocok memegangnya karena dia memiliki sisi sadis.
Meskipun Iori tetap pada pendiriannya untuk menggodaku, dia mengembuskan napas seolah ingin mengubah suasana.
“Yukishiro-kun. Bisa kita bicara sebentar?”
“Boleh banget.”
Seperti yang kubilang tadi, aku tidak punya rencana apa pun untuk sisa waktu istirahat siang ini, jadi aku mengangguk menyetujui.
Meskipun begitu, waktu istirahat siang tinggal sekitar lima belas menit lagi, jadi kami tidak perlu pindah ke tempat lain, tapi… entah bagaimana aku sudah tahu apa yang ingin dia bicarakan.
Komentar