Ryoushin no Shakkin wo Katagawari Shite Morau Jouken wa Nihon’ichi Kawaii Joshikousei to Issho ni Kurasu Koto Deshita Volume 1 Bab 24 Bahasa Indonesia – Litenovel

Ryoushin no Shakkin wo Katagawari Shite Morau Jouken wa Nihon’ichi Kawaii Joshikousei to Issho ni Kurasu Koto Deshita Volume 1 Bab 24 Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi
Bab 24: Bicara Soal Peristiwa Bulan Februari!?

Jika kamu bertanya kepadaku apa yang aku anggap sebagai peristiwa terbesar di bulan Februari, aku hanya akan menyebutkan satu hal. Ya, Hari Valentine. Ini adalah acara besar dengan segala macam konspirasi yang dibuat oleh para pembuat cokelat dan permen, serta hari pertumpahan darah bagi para pria yang tidak menerima apa pun.

Saat itu adalah waktu makan siang di tengah minggu, hari ketiga sejak aku mulai berangkat ke sekolah bersama Kaede. Kami berempat sedang makan siang di dalam kelas bersama Shinji dan Otsuki-san, yang sudah menjadi rutinitas sehari-hari.

Seperti biasa, karena gosip biasanya bertahan sekitar 75 hari, aku bisa merasakan keriuhan serta tatapan penuh rasa penasaran dan kecemburuan yang tertuju padaku. Namun kali ini, sepertinya bukan cuma aku yang menyadari hal tersebut.

“Sepertinya ada penggemar Yuya-kun juga ternyata. Ada beberapa siswi yang sedang melihat ke arahmu…”

“Kamu tidak hanya membayangkannya saja, kan? Aku ini orang yang cukup biasa-biasa saja, tahu?”

Aku hanyalah seorang pemain sepak bola yang dipenuhi keringat dan lumpur. Karena aku selalu menghabiskan waktu bersama Shinji di kelas, aku jauh dari kelompok siswi yang suka berisik itu. Satu-satunya gadis yang kukenal adalah Otsuki-san dan itu pun melalui Shinji. Bagaimana mungkin aku bisa populer? Kamu bercanda, kan?

“Sungguh… inilah kenapa Yuya-kun… kamu harus lebih menyadari daya tarikmu sendiri. Dengar. Dirimu yang apa adanya, Yuya-kun, sangat luar biasa. Caramu begitu berdedikasi pada satu hal, caramu bekerja begitu keras, caramu yang tidak pernah menyerah. Kebaikan santai yang kadang-kadang kamu tununjukkan. Daripada wajah yang tampan atau semacamnya, Yuya-kun, sisi batinmu sangat memesona. Tolong sadari bahwa ada banyak wanita yang tertarik pada hal itu.”

“Ya, ya… aku mengerti.”

Dia menceramahiku dengan bersemangat sambil mengacungkan jarinya ke arahku. Aku penasaran apakah keadaannya benar-benar seperti itu. Namun, karena Kaede yang mengatakannya, aku yakin dia benar. Tetap saja, aku merasa cukup malu mendengarnya. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak membuang muka.

“Muuu. Kenapa kamu malah membuang muka? Aku sedang berusaha memberitahumu sesuatu yang penting. Tolong tatap mataku.”

Jangan pegang kepalaku lalu memutarnya, dan jangan coba-coba memaksaku menatap matamu! Aku berusaha melawan, berjuang dengan leherku, tetapi Kaede malah semakin keras kepala, pipinya menggembung saat dia mencoba menggerakkan kepalaku. Tolong aku, Shinjimon!

“Hei, Shin-kun. Kenapa kamu tidak menghentikannya? Yoshi cukup kerepotan, kan?”

“Ya, tapi adegan ini cukup lucu, jadi aku biarkan saja. Bukankah kamu ingin melihat bagaimana reaksi Hitotsuba-san saat dia sadar nanti, Akiho?”

“Ya… aku mungkin ingin melihatnya. Kaede-chan, aku tidak tahu apakah kamu ini berani atau polos. Luar biasa sekali betapa alaminya sikap dia.”

Hei, kalian pasangan bodoh! Jangan hanya berdiri dan menonton dari pinggir lapangan! Tentu saja, aku ingin melihat wajah Kaede memerah saat dia tersadar nanti, tapi sekarang bukanlah saatnya untuk menantikan hal seperti itu!

“Jangan… melawan, kumohon…! Atau apa kamu tidak bisa menatap mataku dan berbicara denganku, Yuya? Apa kamu tidak ingin… berbicara denganku?”

“Bukan begitu! Hanya saja, begitulah, Kaede. Bisakah kamu berhenti meremas wajahku? Apa lagi yang harus kukatakan? Ini… memalukan.”

Saat Kaede mengeluarkan suara seolah dia hendak menangis, secara refleks aku menatap matanya dan membantahnya. Tindakan ini mengejutkannya, dan meskipun dia mungkin terlalu hanyut untuk menyadarinya, hampir tidak ada jarak lagi antara kami dan wajahnya.

“Oh… yah, ini… yah… yah…”

“Bukannya aku tidak suka menatap matamu atau semacamnya, hanya saja aku merasa malu karena kamu tiba-tiba memuji kalau aku orang baik dan sebagainya. Tolong jangan salah paham padaku.”

“Ya… ya… aku mengerti…”

Hei, Shinji. Kamu sedang bergumam tentang lahirnya pasangan kedua, tapi aku bisa mendengarmu dengan jelas, tahu? Kami masih belum berpacaran, ya!

“Iya, iya, iya. Yoshi, cukupkan sampai di situ saja. Hei, hei, Kaede-chan! Kaede-chan, apa kamu sudah memikirkan apa yang akan kamu lakukan untuk Hari Valentine minggu depan?”

“Tentu saja. Aku berencana untuk membuat kue cokelat untuk Yuya-kun makan di akhir pekan.”

Sebenarnya baru semalam kami membicarakan hal ini. Hari itu akan tiba pada minggu berikutnya, dan Kaede bertanya kepadaku apa yang kuinginkan. Aku tanpa sadar bergumam tentang kue, dan begitulah awalnya. Tapi, apa kue adalah sesuatu yang mudah dibuat?

“Wah…. Aku tidak bisa membuat kue,” kata Otsuki-san. “Itu luar biasa, Kaede-chan!”

“Tidak, tidak. Aku hanya ingin mewujudkan keinginannya karena dia bilang ingin memakannya. Ini juga pertama kalinya bagiku, jadi aku khawatir kalau aku akan gagal…”

Aku memberi tahu Kaede bahwa dia tidak perlu memaksakan diri untuk membuat kue itu, tetapi Kaede bersikeras dan menolak untuk mengalah, mengatakan bahwa semuanya adalah sebuah tantangan. Karena memang begitu situasinya, yang bisa kulakukan hanyalah memakan kue buatannya. Itu akan menjadi caraku untuk menghargai kerja keras Kaede.

“Yuya, kamu sangat dicintai.”

Diamlah. Aku jadi agak kesal saat kamu bilang begitu. Apa kamu ini yang disebut sebagai senior yang sudah punya pacar? Atau kamu cuma menyindir riwayatku yang terus-menerus jomblo?

“Ya! Bagaimana kalau kita membuat cokelat bersama di rumah Kaede akhir pekan ini? Lagian kita tidak akan membuat cokelat wajib ataupun cokelat persahabatan, jadi bukankah akan lebih baik kalau mereka langsung memakannya di hari yang sama saat kita membuatnya!”

Hei, menurutku tidak begitu! Otsuki-san, jangan bilang begitu! Kalau kamu pergi ke rumah Kaede untuk membuat cokelat, itu artinya kamu akan tahu kalau aku tinggal bersamanya! Aku sangat berharap Kaede menyadari hal ini, tapi aku tidak begitu yakin.

Jadi, aku melakukan kontak mata dengan Kaede.

『Kamu tahu apa yang harus dilakukan, kan, Kaede? Kamu akan bilang ‘tidak’, kan?』

『Aku mengerti, Yuya-kun. Serahkan saja padaku.』

『Fyuu. Syukurlah.』

“Aku suka ide itu. Ayo kita buat bersama!”

“Wah! Memang Kaede-chan orangnya! Dia sangat mengertaiku!”

Oh, hei! Kenapa kamu melakukan itu!? Ini kan bagian di mana kamu seharusnya bilang tidak!? Kenapa malah mengacungkan jempol dengan wajah seolah-olah kamu sudah melakukan pekerjaan dengan baik! Bukan, kamu benar-benar salah, Kaede!

“Kalau begitu, bolehkah aku pergi ke rumah Hitotsuba-san juga? Bagaimana kalau kita semua… makan malam bersama malam itu?”

“Benar juga. Aku akan membuat cokelat saat Yuya-kun dan yang lainnya pergi untuk kegiatan klub, menyiapkan makan malam, dan menunggu mereka. Tolong beri tahu aku jika kalian punya permintaan.”

“Ya! Ya! Aku mau steakハンバーグ (Hamburg) lagi! Aku ingin makan steak buatan Kaede-chan!”

“Baiklah. Aku mengerti.”

Percakapan itu terus berlanjut tanpa memberiku celah untuk menyela. Semuanya sudah berakhir sekarang. Mereka akan segera tahu bahwa kami tinggal bersama.

“Aku menantikannya, Yuya.”

“…Ya, kurasa begitu.”

Senyuman penuh percaya diri dari sahabatku itu sungguh sangat menyebalkan.

Daftar Isi

Komentar

guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted