Class no Quarter Bishoujo ga Gimai ni Natta. Shiranai Uchi ni Kudoiteta. Quarter Beauty Volume 1 Interlude 6 Bahasa Indonesia
Interlude 6: Monolog Jumonjigaoka Kasumi 2
Meminum sekitar setengah air di dalam gelas dalam sekali teguk, air itu meresap ke dalam tubuhku setelah mandi.
Meletakkan gelas di atas meja di sebelah tempat tidur, aku duduk di tepi ranjang.
Sejujurnya, aku ingin berendam lebih lama untuk memulihkan kelelahan dari turnamen bola, tetapi karena kakiku yang cedera, aku menyudahinya lebih awal agar tubuhku tidak terlalu panas.
Baik perawat di sekolah maupun dokter di rumah sakit yang kudatangi setelahnya mengatakan bahwa sepertinya tidak ada masalah khusus. Karena masih terasa sedikit nyeri, aku menempelkan kompres dan mengamati perkembangannya, aku yakin kakiku akan kembali normal dalam beberapa hari hingga seminggu.
Dengan kata lain, aku mengalami cedera yang sangat ringan dan baik-baik saja bahkan tanpa Masaki menggendongku ala pengantin seperti itu.
Aku sangat bersyukur tidak bertemu dengan siswa lain sebelum sampai di ruang kesehatan, hanya dengan membayangkan apa yang akan terjadi jika teman sekelas melihatku seperti itu membuat wajahku terasa panas.
Selain itu, aku berkeringat sangat banyak hingga baju olahragaku menjadi lembap, jadi aku mengkhawatirkan hal itu juga, dan dia malah mengatakan sesuatu seperti, “Lagi pula kita selalu berlatih kendo bersama.”
Sungguh, apa dia sama sekali tidak punya kepekaan?
Tetapi pada saat itu, lebih dari rasa malu, perasaan yang mirip dengan kelegaan bahwa Masaki benar-benar menyadari cedera ku menyelimuti diriku.
Aku mengoleskan kompres yang diresepkan dan memijat dengan ringan bagian yang cedera, aku yakin tidak ada seorang pun selain Masaki yang menyadari bahwa aku telah melukai kakiku.
Rasanya tidak terlalu sakit. Aku pikir aku bisa atasinya dengan tekad bulat lalu merapikan rambutku dan menjadi bersemangat saat jeda babak, tetapi sebaliknya, gestur itu membuatnya menyadarinya.
Dia benar-benar sangat memerhatikan.
Masaki, bukan hanya hari ini, tetapi selalu memerhatikan orang-orang di sekitarnya, termasuk aku. Mungkin lebih tepat dikatakan kalau dia mengamati, daripada sekadar memerhatikan.
Dia memanfaatkan bakat itu dalam tiruannya terhadap Pak Momota, menangkap cara bicara beraksen unik itu dengan sangat baik. Namun, Masaki yang mengamati sekelilingnya seperti itu bukanlah sesuatu yang telah dilakukannya sepanjang hidupnya.
Mungkin sejak sekitar waktu orang tua Masaki bercerai. Dia telah memerhatikan apa yang terjadi di sekitarnya sejak saat itu.
Kadang-kadang, untuk memproses informasi yang terlalu banyak ia serap karena memerhatikan sekelilingnya seperti itu, dia berjalan pergi ke suatu tempat selama jam istirahat.
Bzzz Bzzz
Suara getaran itu menandakan pesan LINE baru dari Masaki.
“Sepertinya Nanase-san sudah membaik sekarang, maaf karena telah membuatmu khawatir.”
Dia tampak baik-baik saja di sekolah, tetapi wajahnya tiba-tiba terlihat pucat pada saat itu, jadi aku khawatir, tapi yang terpenting adalah dia baik-baik saja.
Aku tidak tahu sudah berapa lama Chloe-chan merasa tidak enak badan, tetapi jika Masaki menyadarinya pada saat itu, seharusnya hal itu tidak terjadi sejak di sekolah.
Masaki tidak akan melewatkan perubahan pada diri Chloe-chan, yang selalu berada tepat di sisinya… Eh? Perasaan apa ini? Rasanya sedikit berbeda dari saat perutku terasa berat atau saat aku makan terlalu banyak. Namun, rasanya seperti ada sesuatu yang mengganjal di dadaku.
-PR/N: rrrrrrr, tolong jangan bertele-tele dalam hal ini
Hmm, mungkin aku makan malam terlalu banyak, terbawa suasana karena merasa lapar meskipun tubuhku lelah.
Aku meneguk air dari gelas. Jika aku mengalami gangguan pencernaan di usia separuh baya ini, aku bisa dalam masalah.
Melihat waktu yang tertera di ponsel cerdasku, tanggal akan berganti dalam beberapa jam lagi. Sudah waktunya aku mulai memikirkan pesan selamat ulang tahun untuk dikirimkan kepada Masaki tepat pada tengah malam.
Sungguh, di antara hadiah itu dan pesan ini, ada banyak hal yang harus kupikirkan yang berkaitan dengan Masaki.
Komentar