Futago matomete “kanojo” ni shinai? Volume 6 Twin Talk! 5 Bahasa Indonesia – Litenovel

Futago matomete “kanojo” ni shinai? Volume 6 Twin Talk! 5 Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi

Twin Talk! 5: Kunjungan Rumah…?

“—Ya, aku mengerti. Sakuto-kun, kita akan bicara lagi besok… —Haaah…”

Setelah menutup telepon, Chikage menghela napas panjang.

Hikari juga berada di kamar Chikage.

Hikari tadinya sedang memainkan ponselnya di atas tempat tidur, namun berbalik menghadapnya begitu Chikage mengakhiri panggilan.

“…Apa kata Sakuto?”

“…Yah. Katanya dia ingin mendengar detailnya besok, jadi kita akan ngobrol saat jam istirahat siang.”

“Begitu ya…”

Hikari meletakkan ponselnya di dekat bantal lalu membalikkan badan, menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong.

“Aku tidak pernah menyangka kita akan mendapat tawaran seperti ini…” gumam Hikari, matanya terus menatap lekat-lekat ke langit-langit.

—Kira-kira satu jam yang lalu.

Tachibana dan pria berjas yang dia kenalkan sebagai sang “Wakil Ketua” telah tiba di rumah mereka.

Hikari dan Chikage diminta untuk mendengarkan percakapan tersebut bersama orang tua mereka.

Dengan keempat anggota keluarga Usami duduk di hadapan mereka, penjelasan terperinci mengenai program studi ke luar negeri yang baru pun diberikan.

Tachibana menyebut nama Hikari sebagai salah satu kandidat untuk program itu. Dia sedang menjajaki kemungkinan tersebut.

Pria yang mengaku sebagai Wakil Ketua itu menambahkan sebuah penilaian dengan mengatakan, “Bakat Hikari-san membuatnya sangat cocok untuk program ini,” menyampaikannya dengan cara yang rasanya hampir seperti sebuah penunjukan resmi.

Dia juga memuji rekam jejak Chikage setinggi langit.

Namun, ada perbedaan nada yang jelas jika dibandingkan dengan Hikari.

Bagi Chikage, tawaran tersebut mengusung nuansa, “Jika kamu tertarik, bagaimana?”—itululah sebabnya ada sesuatu dari hal itu yang mengganjal di hatinya.

Sebuah tawaran aktif yang ditujukan kepada Hikari—adik perempuannya, Chikage, sangat mengerti apa arti hal tersebut.

Saat ini, di ruang tamu, Kaoruko sedang melanjutkan pembahasan masalah tersebut dengan Tachibana dan sang Wakil Ketua.

Selain mengonfirmasi detail dari program itu sendiri, sepertinya dia sedang memberondong mereka dengan pertanyaan dari sudut pandang seorang manajer bisnis, menanyakan tentang keterlibatan mereka dengan yayasan eksternal dan struktur persetujuan Dewan Direksi—

Duduk di tepi tempat tidur sambil menatap kedua kakinya, Chikage akhirnya bersuara dengan gumaman pelan.

“…Aku selalu berpikir kaulah yang akan mereka datangi, Hii-chan. Bagaimanapun juga, kau adalah seorang jenius.”

“Kau jauh lebih serius dan pekerja keras daripada aku, Chi-chan… Kau benar-benar layak untuk menjadi seorang kandidat.”

Chikage tersenyum kecut lalu menggelengkan kepalanya.

“Hal-hal seperti itu… sepertinya tidak terlalu penting, kurasa.”

Tetap menundukkan pandangannya, dia bergumam pelan, sedikit demi sedikit.

“Aku rasa seorang jenius dan seorang pekerja keras sedang bertanding di cabang olahraga yang sama sekali berbeda sejak awal. Garis start dan garis finis mereka benar-benar berbeda, bukan?”

“Chi-chan…”

Tepat setelah mengatakannya, Chikage tersadar dan terkesiap. Dia benar-benar lupa betapa dalam kata-kata itu akan menusuk dada Hikari.

“Ah, maaf… Barusan itu cuma lelucon.”

Dia tertawa dengan panik, mencoba menutup-nutupinya, tetapi dia tidak dapat menyembunyikan sepenuhnya bayangan yang tertinggal di dalam senyuman itu.

“Jadi, jujur saja, apa pendapatmu tentang itu, Hii-chan? Usulannya.”

Setelah jeda singkat, Hikari berbicara pelan.

“Ya… sejujurnya, itu menarik. Program di sekolah di sana, kurikulumnya. Rasanya itu memiliki semua hal yang selama ini kupikir ingin kucoba.”

Tanpa berkata apa-apa lagi, Hikari perlahan menurunkan pandangannya.

—Saat itu juga.

Ketukan terdengar di pintu.

“—Apakah kalian berdua punya waktu sebentar?”

Suara Kaoruko terdengar dari balik pintu kamar tidur.

Saat Kaoruko membuka pintu dengan pelan dan melangkah masuk, Chikage bertanya.

“Mama, bagaimana dengan para guru?”

“Mereka sudah pulang. Yang lebih penting, ada sesuatu yang harus kusampaikan kepada kalian berdua. Ibu ingin kalian mengundang Takayashiki-kun ke rumah kita besok malam…”

“Kenapa?”

Hikari bertanya, dan Kaoruko sedikit menyipitkan matanya.

…Ibu memaksa.”

Mendengar perkataan Kaoruko, kedua saudari itu saling berpandangan dengan bingung.

Daftar Isi

Komentar

guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted