Futago matomete “kanojo” ni shinai? Volume 1 Bab 6.3 – Apa yang Terungkap…? Bahasa Indonesia
Bab 6.3 – Apa yang Terungkap…?
Apa yang Terungkap…? 3
“Aku minta maaf karena tidak menyadari perasaanmu, Usami-san…”
“Tidak apa-apa… Ini salahku karena aku tidak manis…”
“Tidak, itu tidak benar——”
“…Aku benci diriku sendiri.”
“Apa!? Usami-san…!?”
Usami berlari pergi ke arah stasiun.
Sakuto, yang tadinya menatap kosong ke arah punggungnya yang menjauh, sadar kembali ke kenyataan.
Frasa ‘sudah terlambat’ melintas di benaknya.
Haruskah dia membiarkannya pergi begitu saja?
Dia merasa jika dia membiarkannya pergi, dia mungkin tidak akan pernah bisa benar-benar menemuinya lagi.
Segala sesuatu hingga saat ini, dan apa yang akan terjadi——pada saat ini, dia takut seluruh hubungannya dengan gadis itu akan hilang.
Sakuto menatap ke bawah ke arah kakinya.
Pita Usami, yang biasanya dia kenakan di rambutnya, tergeletak di sana.
Saat dia memungut pita itu dan menatapnya——
『——Sakuto… Aku minta maaf…』
Dia merasakan suara di dalam dirinya mendesaknya untuk menyusul gadis itu.
Tangannya meremas pita itu erat-erat, dan tatapan penuh tekad muncul di mata Sakuto.
(Aku tidak boleh membiarkannya pergi begitu saja…!)
Sakuto memasukkan pita itu ke dalam saku dan mengejar punggung Usami yang menjauh.
***
Mengikuti punggung Usami, Sakuto berlari kencang memasuki Stasiun Yuki Sakura.
Stasiun itu dipenuhi oleh orang-orang yang pulang ke rumah pada jam sibuk.
Dia tidak bisa melihat Usami di mana pun.
Dia melihat sekeliling, bertanya-tanya apakah gadis itu mungkin masih berada di dekat sini, tetapi seiring berjalannya waktu, Usami mungkin saja sudah naik kereta.
(Pintu masuk yang mana?)
Stasiun Yuki Sakura memiliki tiga jalur: jalur Timur-Barat dan jalur Utara-Selatan yang membelah kota menjadi bentuk salib, serta kereta bawah tanah yang menuju ke barat laut dan tenggara.
Sakuto tidak pernah melihat Usami di jalur Utara-Selatan, yang biasanya dia gunakan.
Jadi, tujuannya akan terbatas pada jalur Timur-Barat atau kereta bawah tanah.
Sakuto memejamkan matanya sejenak.
Dia menarik sebuah kenangan dari tahun ketiga sekolah menengah pertama dari kotak memorinya.
Meskipun itu adalah kotak yang penuh dengan kenangan yang tidak ingin dia ingat kembali, hal itu diperlukan——
Pemandangan ruang kelas tempat bimbingan belajar——bukan gambar yang terpotong-potong melainkan gambar yang bergerak.
Dia memutar ulang gambar itu seperti kaset video.
Musim dingin, mendekati ujian masuk.
Di antara para siswa dengan seragam sekolah yang berbeda-beda, Usami ada di sana.
Duduk di kursi yang agak tidak mencolok di tengah dekat dinding kelas, dia menulis dengan tenang menggunakan penanya.
Sama seperti sekarang, seragamnya dikenakan dengan rapi, tetapi dia dulu mengenakan kacamata.
Memfokuskan pandangannya pada seragamnya——lencana sekolah dengan tulisan ‘Barat’ di atasnya tampak terlihat.
——Sakuto membuka matanya.
(SMP Barat… kalau begitu, jalur Timur-Barat…!)
Sakuto dengan cepat bergegas menuju gerbang jalur Timur-Barat.
Kemudian, tepat sebelum gerbang jalur Timur-Barat, dia melihat seragam dari Akademi Arisuyama.
(Dia di sana!)
Dengan tatapan tajam, seolah-olah dia sedang menyudutkan seseorang, Sakuto menerobos kerumunan orang yang menghalangi jalannya.
Dia bergeser, meminta maaf, bergeser lagi, dan terus bergerak mendekatinya.
Dia dicengkeram oleh rasa urgensi yang mendalam.
Dia tidak boleh membiarkannya pergi begitu saja.
Masa lalu tidak bisa diubah, tapi masih ada waktu untuk mengubah masa kini sekarang.
Masih ada waktu, pikirnya.
Akhirnya, dia berhasil menyusulnya. Jantung Sakuto berdegup semakin kencang.
“Usami-san!”
“Ah! Takayashiki-kun, ada ap─!?”
Sebelum dia sempat menyelesaikan kata-katanya, Sakuto memeluknya dari depan.
Orang-orang yang lewat menatap mereka dengan rasa penasaran saat mereka berjalan melewati gerbang tiket.
Namun, dia tidak lagi peduli dengan keadaan sekitar. Dia sudah membulatkan tekadnya.
Dia mempererat dekapannya di sekeliling tubuhnya, bertekad untuk tidak membiarkannya pergi, sama seperti yang dilakukannya tadi.

“Ap-ap-apa!? Ada apa sih? Sebenarnya apa yang terjadi!?”
“Maaf, ada banyak hal yang tidak aku mengerti… tapi ada satu hal yang harus aku pastikan.”
“Eh…? Ap-, apa itu…?”
“Apakah benar kalau kamu menyukaiku?”
“——!?”
Dia terkejut di dalam dekapannya, namun pada akhirnya mengendur seolah-olah pasrah.
“Memalukan sekali, tapi, um, itu… ya, aku menyukaimu…”
“Terima kasih. Kalau begitu, aku juga akan membulatkan tekadku.”
“M-membulatkan tekad? …apa maksudmu?”
Sakuto dengan lembut melepaskan pelukannya.
“T-Takayashiki-kun…?”
Dia menatap langsung ke dalam mata Usami, dan gadis itu menatapnya balik dengan mata berkaca-kaca, merona merah sambil mendongak.
Namun, kali ini dia tidak memalingkan pandangannya.
Pada akhirnya, Usami memahami niat Sakuto.
Dia menutup matanya perlahan dan menawarkan bibirnya.
Sakuto, yang menanggapi undangannya, mendekatkan wajahnya.
Perlahan, bibir mereka bersentuhan.
Rasanya manis dan lembut, serta kehangatan kecil dari tubuhnya menjalar melalui ciuman tersebut.
Setelah satu sentuhan, mereka berciuman lagi, dua kali, tiga kali, terus berlanjut tanpa melepaskan diri.
Dia sudah tidak peduli lagi dengan keadaan sekitar.
Karena telah bertemu seseorang yang benar-benar menyukainya seperti ini——
“Ah, itu dia, Hii-cha… eh, Takayashiki-kun!?”
Sakuto menoleh dengan ekspresi ‘Eh?’ ke arah sumber suara.
Di sana berdiri Usami——eh?
Padahal dia baru saja memeluk dan mencium Usami. Dan sekarang gadis itu berdiri di sana dengan ekspresi terkejut.
“…eh?”
Dalam kebingungan, Sakuto menatap orang yang ada di dalam pelukannya.
“Mmnh… gawat… kakiku lemas…”

Sosok dengan ekspresi bahagia dan kaki yang lemas itu juga adalah Usami——tunggu, apa-apaan ini?
“Ta-ta-ta-takayashiki-kun, apa yang, barusan, dengan Hii-chan, kamu!?”
“Apa? Eh, Hii-chan…”
“Apakah itu Chii-chan——? Chii-chan~ aku baru saja mencium Takayashiki-kun…”
Usami terkikik gembira.
“Orang yang aku sukai adalah Takayashiki-kun… tunggu, Chii-chan? Kenapa wajahmu terlihat seperti kiamat?”
Hii-chan dan Chii-chan——begitu ya, nama mereka berbeda.
Aku mengerti sekarang.
Akhirnya memahami situasinya, wajah Sakuto perlahan menjadi pucat. Bukan, lebih mirip abu-abu. Dia merasa hidupnya sudah di ujung tanduk.
“Eh, kalian berdua, jangan-jangan——”
“Kami anak kembar!” “Kembar, tahu!”
Chii-chan, alias Chikage Usami, memerah padam karena marah.
Adiknya Hikari, yang juga dikenal sebagai Hii-chan, memerah sama-sama tetapi dengan senyuman cerah.
Keduanya memang sama-sama berwajah merah, tapi Sakuto, yang tampak pucat pasi, mengeluarkan tawa hambar,
“ahaha…”
——Begitu ya… hmm, jadi begitulah rupanya!——
Dia akhirnya mengerti sumber dari sedikit rasa janggal yang dirasakannya selama ini, tapi mungkin semuanya sudah terlambat.
Ini adalah situasi yang sangat, sangat, sangat buruk.
***
TN: Ringkasan; jika seandainya terjemahanku membingungkan.
Chikage (Chii-chan) disangka sebagai Hikari (Hii-chan) di depan pusat gim >>> Chikage mendengar bahwa Sakuto sudah punya pacar >>> Chikage menyatakan perasaan dan lari ke stasiun.
Sakuto mengejar Chikage >>> Dia bertemu Hikari di stasiun dan menyangkanya sebagai Chikage >>> Dia akhirnya membalas/menyatakan perasaan kepada Hikari, bukan kepada Chikage.
Komentar