Hell Mode: Yarikomi Suki No Gamer Wa Haisettei No Isekai De Musou Suru Volume 1 Cerita Pendek Bonus Bahasa Indonesia – Litenovel

Hell Mode: Yarikomi Suki No Gamer Wa Haisettei No Isekai De Musou Suru Volume 1 Cerita Pendek Bonus Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi

Cerita Pendek Bonus

Hari Hujan

Seperti dunia asal Kenichi, dunia ini memiliki empat musim. Tunas-tunas baru tumbuh di musim semi, suhu melonjak di musim panas, tanaman panen matang di musim gugur, dan salju menutupi daratan di musim dingin. Namun, ada satu hal yang dirasa Allen berbeda dari dunianya terdahulu: tidak ada musim hujan di sini. Tidak seperti di Jepang, di mana hujan akan turun dengan derasnya selama sekitar satu bulan setiap tahun, hujan bisa turun kapan saja sepanjang tahun di dunia ini.

Haduh, hari ini hujan deras banget.

Allen melihat ke luar dari bawah atap menjorok di pondok rumahnya yang reot. Hujan benar-benar turun sangat lebat. Air mengalir deras dengan bergemuruh melalui saluran irigasi di depan rumah, nyaris meluap. Karena atap rumahnya tidak sepenuhnya kedap air, air hujan merembes masuk dari berbagai tempat. Keluarga itu telah menyiapkan semua piring dan kendi tanah liat mereka untuk melindungi barang-barang paling berharga mereka, tetapi kebocorannya sangat parah hingga area berlantai tanah itu basah kuyup.

Meskipun begitu, Allen sudah terbiasa dengan hujan dan kebocoran itu setelah hidup selama lima tahun di dunia ini. Pemandangan ini sama sekali tidak menimbulkan perasaan melankolis di dalam dirinya.

Pada hari-hari hujan, Rodin dan Theresia juga bersantai. Jika saat itu musim gugur atau musim dingin, Rodin akan menghabiskan waktu menggunakan pemukul untuk merontokkan tangkai yang dipanen bersama biji-bijian guna membuat jerami untuk sandal tenun. Namun, saat ini adalah awal musim panas, jadi dia sama sekali tidak punya pekerjaan.

Setelah mereka selesai makan siang, Allen menghabiskan waktu dengan bermain-main bersama Mash yang penuh energi. Tak lama kemudian, jam bermain kesatria pun tiba.

“Alleeen, ayo main!”

Dia tetap datang, ya.

Krena masuk dengan ceria dari derasnya hujan di luar, lalu meletakkan sebuah papan kayu dengan tangkai yang tertancap di tengahnya. Ini adalah payung darurat yang diciptakan oleh Allen. Tentu saja, payung itu tidak bisa dilipat dan desainnya secara keseluruhan sangat sederhana.

Allen datang ke dunia ini untuk menikmati tantangan yang ada di dalamnya, dan sama sekali tidak tertarik untuk “menciptakan” barang-barang praktis dari dunia asalnya lalu merintis usaha bisnis. Pertama-tama, sangatlah sulit bagi para budak untuk berbisnis, karena mereka tidak memiliki kebebasan untuk memilih pekerjaan mereka sendiri. Jadi Allen hanya mengadopsi beberapa hal sederhana yang bisa membuat hidupnya sedikit lebih mudah, seperti payung pseudo ini.

“Tentu saja, Krena. Hmm, tapi kamu mau main apa? Hujannya turun begitu lebat.”

“Hmm…”

Hujan masih turun dengan sangat lebat di luar. Bahkan Krena cukup mengerti untuk tidak menyarankan bermain kesatria di dalam rumah dengan semua orang berdesakan di dalam bersama mereka.

“Kalau begitu, Krena, mau main Reversi?”

Ini masih terlalu dini untuk Mash, tapi Krena seharusnya bisa memahaminya.

“Rever-si?” ulang Krena sambil memiringkan kepalanya dengan bingung.

Allen memberi gestur agar dia menunggu di ruangan besar, lalu masuk ke kamar anak-anak dan muncul kembali dengan membawa sebuah papan di tangannya.

“Oh! Kamu mau mengeluarkan itu, ya?” Rodin mendongak dari kegiatannya bermain dengan Mash, yang telah mengalihkan perhatiannya kepada ayahnya ketika Allen bangkit.

“Iya, Ayah.”

Keluarga ini suka mengeluarkan papan Reversi kapan pun mereka ingin menghabiskan waktu. Allen telah membuatnya berdasarkan kenangan dari kehidupan sebelumnya. Benda itu benar-benar hanya sebuah papan dengan alur yang menandai kotak berukuran 8×8. Untuk bidaknya, dia telah mengiris dahan pohon dengan ketebalan yang sesuai dan membuat tanda sederhana di setiap sisinya untuk membedakan antara sisi depan dan belakang.

Ketertarikan Krena terusik. “Bagaimana cara memainkannya?”

“Kamu taruh salah satu bidakmu di sini.”

“Begini?”

Allen lantas menjelaskan aturan mainnya sambil bermain. Rodin dan Mash juga ikut mengintip dengan rasa penasaran. Theresia sedang mengukus kentang untuk disajikan kepada Krena sebagai camilan.

Agak menyebalkan karena Reversi hanya bisa dimainkan oleh dua orang. Aku membuatnya duluan karena pembuatannya mudah, tapi sepertinya aku harus membuat sesuatu yang bisa dimainkan lebih banyak orang sekaligus. Kartu remidi… sepertinya akan merepotkan. Mungkin backgammon akan bagus.

“Kalau kamu tidak meletakkan bidak di sini, aku akan membalikkan semua bidak di baris ini.”

“Ugh…”

Jumlah bidak Krena perlahan-lahan berkurang seiring Allen mulai menguasai sudut-sudut papan. Namun, dia tidak berniat meraih kemenangan telak, jadi dia terus memberikan petunjuk kepada Krena selama permainan berlangsung. Meskipun begitu, Krena tetap saja kesulitan.

Seperti yang kuduga, dia mengalami masa-masa sulit. Bagaimanapun, dia memang tipe orang yang bertindak berdasarkan intuisi dan perasaan.

Allen memang menyadari bahwa saat memainkan Knight, Krena tampak menyerang dan mengubah posisinya tanpa terlalu memikirkannya. Dia harus memutar otak untuk merancang strategi dan mencoba berbagai hal, tetapi Krena sepertinya secara naluriah tahu cara menghadapi segala hal yang Allen lemparkan padanya.

Sebaliknya, bakat ini tidak berguna di atas papan permainan. Keduanya sudah bermain selama lebih dari tiga puluh menit sekarang, tetapi tidak peduli apa yang dia lakukan, Krena tetap tidak bisa mengalahkan Allen.

Kentang yang disiapkan Theresia untuk Krena tergeletak begitu saja tanpa disentuh di sebelah gadis itu. Biasanya, dia akan langsung mengucapkan terima kasih dan langsung memakannya dengan lahap, tapi satu-satunya hal yang ada di pikirannya sekarang adalah mencari cara untuk menang. Dia mendekatkan wajahnya ke papan permainan, alisnya berkerut karena berpikir keras.

Rodin, yang sedari tadi menonton, berkomentar dengan nada masam, “Yah, dia tidak akan menang.”

Apa?! Kenapa kamu malah mengatakannya?! Lagian kamu juga tidak bisa mengalahkanku!

Allen sebelumnya juga pernah bermain melawan Rodin dan Theresia, tetapi dia hampir selalu menang dengan mudah setiap saat. Meskipun begitu, sebenarnya tidak perlu mengucapkan hal seperti itu. Air mata mulai menggenang di sudut mata Krena. Dia begitu frustrasi sampai-sampai mulai sedikit terisak.

Baiklah kalau begitu. Lain kali aku akan membuat permainan yang lebih mengandalkan keberuntungan. Untuk hari ini, aku akan mengalah dulu padamu, Krena.

“I-Ini!” Krena akhirnya berhasil merebut sebuah sudut dan dengan gembira membalikkan seluruh baris bidak.

“Wah, aku kalah,” aku Allen mengalah.

“YEA!” Krena meraih kentangnya dan menggigitnya besar-besar, menikmati sisa-sisa kebahagiaan dari kemenangannya.

“Mau main satu ronde lagi?”

“Boleh!”

Waktu bermain berlanjut cukup lama di rumah Allen sementara hujan terus mengguyur di luar.

Ambisi Pedagang Pelomas

“Aku pulang,” umum Pelomas saat dia berjalan terhuyung-huyung dengan langkah yang tidak stabil.

Deboji, yang kebetulan berada di dekat sana saat Pelomas menuju ke dapur untuk mengambil air, menjawab, “Oh? Selamat datang kembali.”

“Terima kasih, Ayah.”

“Jadi, bagaimana kelanjutannya? Apakah kamu akur dengan sang Penguasa Pedang?”

“Biasa saja.”

“Apa? Cuma ‘biasa saja’? Kamu tahu kan kalau kamu bisa mengundangnya ke rumah kita kapan saja? Sama seperti saat Tahun Baru.”

“Aku tahu, Ayah.”

Setiap hari sejak Upacara Penilaian yang mengungkap kelahiran seorang Penguasa Pedang di desa mereka, Deboji selalu menyuruh putranya agar akur dengannya. Masa depan Krena kemungkinan besar akan sangat cerah dan terpandang, jika kisah kesuksesan Penguasa Pedang Dverg dari budak menjadi bangsawan bisa dijadikan patokan. Menjalin hubungan dengan Krena sekarang bisa membuka peluang di masa depan. Dengan motif tersembunyi seperti itulah Pelomas dengan enggan menerima undangan dari temannya, Dogora, untuk bergabung dalam sesi bermain kesatria di rumah Krena.

Sejujurnya, Pelomas merasa gerakan Krena selama sesi permainan itu benar-benar melampaui batas manusia. Dia bisa mengetahuinya meskipun tidak tahu apa pun tentang pedang. Allen, yang telah bermain bersamanya selama beberapa tahun sebelum Dogora bergabung, juga sama monsternya.

Anggota kelompok itu, dari yang terkuat hingga yang terlemah, adalah Krena, Allen, Dogora, Pelomas, lalu Mash, dengan jurang pemisah yang sangat besar antara Allen dan Dogora. Pelomas tidak begitu tertarik untuk memperkecil jurang pemisah itu, karena sejak awal dia memang tidak terlalu mahir dalam bidang olahraga. Dia terutama menghabiskan sesi-sesi ini dengan berlatih tanding bersama Mash.

“Selain itu—”

“Aku tahu, aku tahu, Ayah. Ayah tidak perlu mengatakannya lagi. Tapi kalau dipikir-pikir, aku akan pergi ke ibu kota kerajaan, bukan ke Akademi. Kita bahkan mungkin tidak akan pernah bertemu lagi di masa depan.”

“Itu ada benarnya juga. Tapi justru karena itulah kita harus semakin dekat dengannya sekarang.”

Karena Pelomas memilikiBakat Pedagang, dia akan belajar di sekolah komersial yang dikelola oleh Guild Pedagang yang terletak di ibu kota kerajaan, alih-alih pergi ke Kota Akademi bersama Krena. Sama seperti Akademi, sekolah komersial ini adalah program tiga tahun untuk anak-anak berusia dua belas hingga lima belas tahun. Setelah lulus, para alumni diharapkan untuk magang di toko-toko, dan pada akhirnya menjadi karyawan tetap atau mandiri. Pelomas telah mendengar tentang jalur karier ini dari ayahnya setelah mengetahui Bakatnya pada Upacara Penilaian, dan inilah arah hidup yang sedang dia tuju. Namun, ini berarti hidupnya akan mengambil jaluan yang sangat berbeda dari Krena beberapa tahun ke depan.

“Entahlah? Kau mungkin akan membuka toko di ibu kota suatu hari nanti, dan kau tidak boleh punya terlalu banyak kenalan bangsawan saat melakukannya. Aku tidak akan memintamu untuk menikahi Krena, tapi kau harus menghargai hubungan yang kau miliki.”

“B-Baiklah…”

Pelomas tidak bisa membayangkan Krena menikah dengan siapa pun. Jika dia benar-benar harus melakukannya, mungkin Allen akan menjadi pasangan yang cocok.

* * *

Setelah selesai makan malam, Pelomas kembali ke kamarnya. Dia menarik karpet lantainya, mengangkat sebilah papan lantai yang longgar, dan mengeluarkan beberapa lembar perkamen, lalu membentangnya di atas meja.

“Aku benar-benar beruntung. Aku masih tidak percaya dengan semua yang ada di sini. Heh heh heh…”

Dia sedang melihat sketsa desain dan instruksi untuk permainan Reversi dan dadu yang telah diciptakan oleh Allen.

“Allen benar-benar penuh misteri. Dari mana sebenarnya dia mendapatkan ide-ide ini?” gumam Pelomas pada dirinya sendiri, sudut bibirnya terangkat secara alami membentuk senyuman.

Saat sesi bermain ksatria baru-baru ini, hujan turun dengan deras tanpa peringatan. Karena tidak mungkin bagi mereka untuk melanjutkan, semua anak bergegas masuk ke dalam rumah Krena, di mana ternyata dia menyimpan berbagai permainan aneh di sana. Ketika ditanya, dia mengungkapkan bahwa semuanya dibuat oleh Allen.

Pelomas belum pernah mendengar satupun dari permainan itu di Kota Granvelle maupun di ibu kota kerajaan, tetapi dia memutuskan untuk tetap mencoba memainkannya. Yang membuatnya terkejut, dia mendapati permainan itu cukup menyenangkan dan desainnya sangat matang. Aturan yang tidak rumit membuatnya mudah bagi siapa saja untuk ikut bergabung, dan bidak permainannya sendiri sangat sederhana untuk dibuat.

“Ini adalah permainan yang hanya ada di vila ini— tidak, hanya di rumah Krena. Allen benar-benar luar biasa karena bisa memikirkan hal-hal seperti ini.”

Pelomas dapat langsung menyadari seberapa menguntungkannya ide-ide ini. Di atas perkamen di hadapannya terdapat catatan-catatan tentang produk yang ingin dia buat dan jual begitu dia cukup umur untuk memulai bisnisnya sendiri.

Sebelumnya pada hari itu, dia telah mendengar tentang sebuah permainan yang melibatkan kartu yang terbuat dari plakat kayu. Dia sekarang sedang menuliskan semua detailnya sebelum dia melupakannya, mengandalkan cahaya temaram dari sebatang lilin.

Ambisi besar Pelomas si Pedagang baru saja dimulai.

Krena dan Pekerjaan Rumah

Saat ini hampir akhir musim gugur, tepat ketika suhu mulai terasa dingin. Setelah Rodin terluka, Allen mulai membantu mengerjakan pekerjaan rumah.

Aku sudah selesai memanen semua kentang, tetapi masih banyak hal yang harus dikerjakan.

Selain pekerjaan rumah biasa, seperti menimba air dari sumur di pagi hari, mencuci pakaian, dan membantu Theresia memasak makanan, Allen juga harus memilah kentang yang baru dipanen. Di atas semua itu—meskipun secara teknis ini bukan pekerjaan rumah—albaheron yang ditangkapnya juga harus dikeluarkan darahnya dan disembelih. Dia menyerahkan ibunya, Theresia, untuk merawat Rodin yang sebagian besar masih harus berbaring di tempat tidur, serta menjaga si kecil Mash.

Pagi ini, Allen seperti biasa telah menimba air dan berburu beberapa albaheron. Dia sekarang sedang mencuci pakaian keluarganya. Jumlahnya cukup banyak, mengingat ada empat orang.

Baiklah, ini sudah cukup. Selanjutnya aku harus menyembelih albaheron-albaheron itu.

Allen menarik semua pakaian dari ember besar tempat dia mencucinya dan menjemurnya di tali jemuran di halaman, bergerak dengan gerakan yang terlatih dan mengalir seperti seorang gamer yang menyelesaikan misi harian. Saat itu, bangkai di rak penirisan darah sudah selesai meniriskan darahnya dan siap untuk diproses.

* * *

Sore harinya, Krena datang ke rumah Allen seperti yang selalu dia lakukan.

“Alleeen! Ayo bermain! Eh? Di mana Allen?”

“Oh hai, Krena sayang. Allen ada di luar di halaman.”

Krena berterima kasih kepada Theresia dan kembali keluar rumah. Dia melihat sekeliling dan menemukan Allen di antara tumpukan kentang.

“Oh, hai juga. Tolong beri aku waktu beberapa menit lagi.”

“Apa yang sedang kamu lakukan, Allen?”

“Aku sedang memisahkan kentang bibit dan kentang yang akan kita berikan kepada kepala desa.”

Enam puluh persen dari hasil panen harus diserahkan kepada kepala desa sebagai pajak. Allen saat ini sedang memilah-milah kentang yang ukurannya kurang lebih sebesar ubi jalar Jepang dan memasukkannya ke dalam berbagai keranjang yang diletakkan di depannya.

Krena, yang sudah tahu bahwa Allen sedang membantu keluarganya, duduk di sebelah Allen dan meletakkan pedang kayunya di tanah. “Allen, apa yang harus kulakukan?”

“Wah, kamu mau membantu? Terima kasih. Kalau begitu, bisakah kamu membantuku memilah kentang bibit? Cari yang ukurannya sekitar segini dan penuhi keranjang ini dengan kentang-kentang itu.”

Rupanya Krena bersedia mengurungkan niatnya bermain ksatria hari ini. Dia dengan patuh melakukan apa yang diminta Allen.

“Allen selalu suka membantu. Papa dan Mama bilang begitu.”

“Hm? Yah, aku melakukan apa yang kulakukan karena ini adalah keluargaku.”

Beberapa saat setelah menceritakan apa yang dikatakan oleh Gerda dan Mathilda, Krena selesai mengisi keranjangnya.

“Allen, ini sudah penuh.”

“Terima kasih. Bisakah kamu membawa keranjangmu ke sebelah sana?”

“Tentu!”

Krena bangkit berdiri dan mengangkat keranjang itu.

“Tunggu, itu berat, kan? Kamu tidak apa-apa?” tanya Allen dengan cemas saat melihatnya berjalan pergi dengan langkah goyah.

“A-Aku tidak apa-apa,” balas Krena. Namun, meskipun dia memiliki bakat dalam ilmu pedang, kekuatannya hanya setara dengan anak-anak seusianya. Terlebih lagi, keranjang itu menghalangi pandangannya.

“Tunggu, kamu berjalan ke arah jem—”

“WAHHH!”

Krena menabrak tiang penyangga jemuran dengan keras, menjatuhkan semuanya. Cucian yang masih basah itu menjadi kotor oleh tanah sementara kentang-kentang berserakan di mana-mana. Pemandangan kekacauan yang terhampar di depan matanya membuat Krena sangat putus asa.

Allen bergegas menghampiri, memeriksa apakah dia terluka. “Kamu tidak apa-apa?! Ada yang terluka?!”

“Maafkan aku, Allen. Aku ingin membantu, tapi aku malah membuat kekacauan besar.” Krena yang biasanya ceria dan riang tampak hampir menangis.

“Ah, jangan dipikirkan,” kata Allen sambil menepuk-nepuk kepalanya.

“A-Allen…?”

“Bisakah kamu mengumpulkan kentang-kentang itu dan memasukkannya kembali ke dalam keranjang? Aku akan mengambil ember cucian.”

“B-Baiklah…”

Allen mulai mengumpulkan pakaian kotor seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Krena mengumpulkan kentang-kentang itu sambil sedikit terisak.

Ketika persiapan untuk mencuci pakaian selesai, Allen memberi isyarat kepada Krena untuk bergabung dengannya di dalam ember. “Krena, lepaskan sepatumu dan masuklah. Tapi hati-hati, airnya sedikit dingin.”

Krena melepaskan sandalnya dan meraih uluran tangan Allen. “Wah!” serunya takjub dengan pengalaman menginjakkan kaki ke dalam ember cucian yang terisi air.

“Kita lakukan begini. Lihat? Kita menginjak-injak pakaiannya.”

“Seperti ini?”

“Benar sekali! Kamu hebat, Krena.”

Kedua anak itu mulai menginjak-injak pakaian untuk menghilangkan kotorannya, dan segera melupakan dinginnya air.

“Allen benar-benar hebat.”

“Maksudmu?”

“Karena kamu bisa melakukan apa saja!”

“Oh, tidak juga. Terima kasih sudah membantuku hari ini. Besok kita main ksatria lagi, ya!”

“Tentu!”

Krena memamerkan senyum paling lebar yang ia miliki hari itu kepada Allen sambil dengan penuh semangat menginjak-injak pakaian di dalam ember bersamanya.

Mengejar Kelinci Bertanduk

Pada suatu hari menjelang akhir musim panas, setelah menyelesaikan pekerjaan rumah paginya, Allen kini sedang bermain ksatria bersama Krena. Pedang kayu mereka beradu berkali-kali dengan suara berkerincing keras sementara Mash memperhatikan dari dalam rumah.

Hari ini, seperti biasa, Allen berada di pihak yang kalah. Dengan Penguasaan Pedang Krena yang meningkat seratus kali lebih cepat daripada miliknya, dia selalu kesulitan merebut inisiatif dalam pertandingan-pertandingan ini. Dia terus memikirkan strategi-strategi baru, tetapi Krena tidak pernah butuh waktu lama untuk menemukan cara mengatasinya.

“Ada celah!”

“Wah!”

Pedang Allen terlepas dari genggamannya. Benda itu terbang ke sudut halaman, berputar beberapa kali di udara.

“Sir Allen! Apakah Anda akan melanjutkan?!” tanya Krena, berseri-seri dengan senyum lebar seolah-olah sedang merayakan kemenangan pertamanya—padahal dia praktis selalu menang setiap saat.

“Aku menyerah, Sir Krena,” jawab Allen sambil tersenyum masam, mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah. “Aku mau mengambil pedangku dulu.”

“Baiklah!”

Namun, saat Allen mendekati rerumputan liar di sudut halamannya, dia mendengar suara gemerisik.

“Hm?”

Ada sesuatu di dalam rumput.

Sniffle. Sniffle.

“Allen? Ada apa?”

“Ada sesuatu di sini, Krena!”

Ternyata itu adalah seekor kelinci sebesar anjing berukuran sedang dengan sebuah tanduk di dahinya. Begitu menyadari kedatangan Allen, makhluk itu langsung menerjangnya. Untungnya, karena dia sudah menyiapkan kartunya sebagai persiapan bermain ksatria dengan Krena, dia berhasil menghindari serangan tersebut.

“Kamu tidak apa-apa, Allen?”

“A-Aku tid— Krena, awas! Kelinci bertanduk itu mengincar ke arahmu!”

Peringatan dari Allen membuat Krena secara naluriah mengangkat pedang kayunya untuk bersiap menghadapi pertarungan.

“Datanglah! Aku adalah Sir Krena!”

Namun, kelinci yang berlari kencang ke arah Krena itu tampak goyah menghadapi tekanan yang dipancarkan oleh Krena, lalu berbelok tajam ke kanan dan melompat keluar pekarangan.

“Ia kabur. Krena, ayo kita tangkap!”

Kelinci bertanduk terkenal karena dagingnya yang lezat. Baik Allen maupun Krena belum pernah menangkapnya sebelumnya, dan karena makhluk itu muncul di hadapan mereka, mereka memutuskan untuk mengejarnya. Allen meraih pedang kayunya dan bergegas keluar bersama Krena. Namun, binatang itu sangat cepat, dan ia segera menerobos masuk ke ladang bera milik keluarga Allen yang rumputnya tumbuh lebih tinggi daripada tinggi Allen dan Krena sendiri.

“Krena, ayo kita berpencar. Kalau kamu melihatnya, berteriaklah padaku!”

“Oke!”

Kedua anak itu mengikuti kelinci tersebut ke dalam rumput tinggi dengan pedang kayu di tangan. Tapi kemudian tiga puluh menit berlalu tanpa hasil apa pun. Bisa jadi monster itu sudah meninggalkan ladang bera tersebut begitu mereka berdua masuk ke dalamnya.

TANG! TANG! TANG!

Tanpa disadari, sekarang sudah waktunya bagi Krena untuk pulang ke rumah.

“Sayang sekali, sepertinya ia berhasil kabur. Kalau kita melihatnya lagi, mari kita tangkap saat itu!”

“Oke!”

Hasil terbaik tentu saja jika mereka berhasil menangkap kelinci bertanduk itu, tetapi kedua anak tersebut tidak terlalu bersedih atas kegagalan mereka. Krena mengucapkan selamat tinggal kepada Allen lalu berlari pulang dengan penuh semangat.

“Selamat datang kembali, Krena.”

“Daa!”

“Mama, Lily, aku pulang.”

Setibanya di rumah, Krena disambut oleh ibunya, Mathilda, dan Lily, adik bayi perempuannya. Masih butuh waktu agak lama sebelum Lily bisa berbicara, tetapi sekarang setelah ia bisa berjalan sempoyongan sendiri, ia selalu menempel pada Krena.

Krena sedang bermain dengan Lily sejenak sebelum seorang pria berbadan besar mirip beruang melangkah masuk ke dalam rumah dengan gontai dan berkata dengan suara lantang, “Aku pulang!”

“Selamat datang kembali, Sayang,” balas Mathilda. “Kamu tampak senang. Ada apa?”

Pria itu tidak lain adalah Gerda, ayah Krena. Karena Lily masih kecil dan membutuhkan perhatian Mathilda terus-menerus, ia mengurus ladang keluarga seorang diri.

“Lihat…ini! Sudah lama sejak terakhir kali aku berhasil menangkapnya!” puji Gerda dengan bangga, tiba-tiba mengulurkan apa yang sedari tadi ia sembunyikan di punggungnya. Ternyata itu adalah bangkai kelinci bertanduk.

“WAW! Papa hebat sekali!”

“Waaaahhhh!”

“Duh, Sayang, kamu malah membuat Lily menangis!”

“ADUH!!!”

Krena tampak sangat kagum melihat ayahnya membawa kelinci bertanduk, makhluk yang persis sama dengan yang gagal ia tangkap sebelumnya. Namun, karena ayahnya menyembunyikannya di punggung dan menunjukkannya secara tiba-tiba, Lily menjadi begitu terkejut hingga menangis histeris. Tindakan tanpa pikir panjang itu membuat Gerda mendapat pukulan di wajah yang membuatnya terpental keluar pintu depan.

“Tapi jujur saja, ini sangat membantu, terutama karena perburuan babi hutan besar masih cukup lama lagi,” aku Mathilda.

“Nah, kan begitu.”

Tidak seperti musim gugur, di mana daging akan jauh lebih mudah didapat berkat adanya perburuan, kelinci bertanduk ini adalah sumber protein yang langka dan sangat dibutuhkan oleh kedua anak yang sedang dalam masa pertumbuhan.

Krena menimpali. “Allen juga bakal senang!” Rupanya, membagikan rezeki nomplok ini kepada temannya adalah hal yang wajar di dalam pikirannya.

“Mm, benar juga, mereka kan berbagi dengan kita waktu itu.”

Biasanya, kelinci bertanduk hanya bisa ditemukan di alam liar di luar desa. Hanya sesekali saja ada yang berhasil menyusup melewati tembok pembelat dan masuk ke dalam, jadi daging kelinci bertanduk dianggap sebagai hidangan istimewa yang langka. Terakhir kali, Rodin telah menangkap satu ekor dan membagikannya kepada Gerda beserta keluarganya.

“Anak baik,” kata Gerda sambil mengelus kepala Krena dengan lembut. Dia memuji putrinya karena bersedia membagikan makanan berharganya kepada seorang teman.

“Mm-hm, aku memang anak baik!”

“Nah, sepertinya besok malam kita bakal nginap-nginapan. Karena Lily masih kecil, bagaimana kalau kita undang keluarga Allen ke sini.”

“HOREEEE!!!”

Mathilda tersenyum hangat melihat interaksi antara ayah dan anak itu.

Tekad Seorang Tukang Daging

“Aku pulang.”

“Selamat pula— Ada apa dengan ekspresi wajahmu itu? Apakah terjadi sesuatu?”

Ketika pria yang pergi mengambil air untuk keluarganya itu sampai di rumah, istrinya langsung menyadari sikapnya yang aneh. Termasuk bayi yang masih dikandung oleh sang istri, ini adalah keluarga hamba sahaya yang terdiri dari empat orang.

“Anak Rodin meminta sesuatu dariku. Aku akan pergi ke tempatnya setelah sarapan.”

“Ha? Bukankah anaknya masih sangat kecil? Kenapa kamu pergi jauh-jauh ke sana demi seorang anak?”

“Entahlah, tapi sepertinya tidak akan lama. Aku akan segera kembali untuk membeli kayu bakar kita.”

“Tolong lakukan. Musim dingin semakin mendekat dari hari ke hari.”

Pria itu menikmati sarapan dengan menu biasa yang sedikit berupa kentang kukus bersama istri dan anaknya, lalu berjalan menuju rumah Rodin. Hal pertama yang ia sadari saat mendekat adalah bau darah. Ketika tiba di gerbang depan, ia terkesiap saat mendapati dirinya berhadapan langsung dengan seekor albaheron besar yang sedang disembelih.

“Itu albaheron,” gumam pria itu dengan terkejut. “Kenapa ada bangkai monster di sini?”

Namun, sebelum pria itu sempat mengumpulkan pikirannya, Allen mendekatinya. Bocah itu berterima kasih karena ia datang sesuai janji. Untuk suatu alasan, pria itu mendapati dirinya secara alami menggunakan nada bicara yang hormat, meskipun ia sedang berbicara dengan anak berumur tujuh tahun saja. Mungkin karena keanehan dari situasi tersebut. Mungkin juga karena ia yakin bahwa bocah itu memiliki sesuatu yang berbeda, sesuatu yang misterius pada dirinya. Setelah Rodan terluka parah dalam perburuan babi hutan besar tahun lalu, pria itu telah melihat Allen dengan santainya membawa ember air yang berat dalam beberapa kesempatan. Terlebih lagi, ada banyak kesaksian mata yang melihat Allen dengan mudah memikul tumpuan kayu bakar yang bahkan akan kesulitan diangkat oleh orang dewasa normal sekalipun.

Ternyata, Allen ingin pria itu membantunya memotong-motong albaheron miliknya. Imbalan untuk tugas ini adalah dua balok daging per ekor burung, setara dengan kayu bakar untuk delapan hari. Pria itu bertanya mengapa ada albaheron sejak awal, tetapi Allen hanya menjawab bahwa ia telah mengalahkan mereka saat makhluk itu turun. Itu jelas bukan cerita yang sebenarnya, tetapi pria itu memutuskan untuk tidak mendesak masalah tersebut demi menghindari risiko hilangnya kesempatan ini demi keluarganya sendiri.

Pria ini adalah salah satu orang yang ikut serta dalam proses penyembelihan setiap kali babi hutan besar dibawa kembali ke desa. Ia tidak terlibat langsung dalam perburuan seperti Rodin dan Gerda. Akibatnya, jumlah daging babi hutan besar yang ia terima setelahnya hanya sebagian kecil dari jatah para pemburu. Selama ini hal itu tidak masalah, tetapi anaknya semakin besar dan membutuhkan lebih nutrisi. Ia juga akan segera memiliki anak kedua. Keluarganya membutuhkan lebih banyak daging sekarang daripada sebelumnya.

“Pernahkah kamu memotong burung sebelumnya?”

“Belum, tapi kurasa aku akan bisa mengatasinya jika hanya membersihkan dagingnya.”

“Sungguh?! Bisakah kamu mengajariku? Ayahku pernah memperlihatkannya kepadaku sebelumnya, tetapi dia terlalu sibuk untuk melakukannya dengan benar.”

“Tentu saja. Kamu mulai dengan cara—”

Maka dimulailah pemotongan albaheron pertama, dengan pria itu menjelaskan apa yang sedang ia lakukan dan Allen mendengarkan dengan penuh perhatian.

“Jadi, kamu melakukan ini di sini?”

“Betul. Dan untuk bagian sayap, di sinilah kamu ingin memisahkannya.”

“Penjelasanmu bahkan lebih jelas daripada ayahku!”

Pria itu menganggap Allen sebagai anak yang sangat cepat belajar. Selain itu, ia sampai pada suatu kesadaran saat melihat anak itu bekerja.

“Jadi, kamu sudah melewati Ujian Para Dewa. Itu luar biasa untuk anak seusiamu, Allen. Dan kurasa inilah alasan di balik bagaimana kamu bisa membawa begitu banyak air?”

Saat sedang memotong-motong, Allen menunjukkan kekuatan yang jauh melampaui anak seusianya. Pria itu menyadari bahwa proses membunuh semua albaheron yang sedang menunggu untuk diproses telah membantu Allen melewati Ujian Para Dewa.

“Hm? Kurang lebih begitu, ya. Tapi Paman, Anda pasti sudah melewati satu atau dua ujian juga, bukan? Meskipun aku tidak ingat pernah melihat Paman saat berburu.”

Sebaliknya, Allen juga menyadari bahwa pria itu lebih kuat daripada kebanyakan orang lainnya. Perbedaannya begitu mencolok sehingga hanya dapat dijelaskan oleh fakta bahwa ia telah naik level beberapa kali.

“Mm, aku sudah tidak ikut berburu lagi.”

“‘Sudah tidak’? Jadi artinya Paman pernah pergi sebelumnya? Kenapa Paman berhenti?”

Percakapan itu terus berlanjut dengan hangat saat keduanya melanjutkan pekerjaan memotong-motong hewan buruan mereka.

“Yah… seorang temanku terluka saat perburuan pertamaku. Jadi istriku melarangku untuk pergi lagi.”

“Begitu ya. Yah, sekarang jauh lebih aman daripada sebelumnya. Jika Paman sudah pernah melewati suatu Ujian sebelumnya, akan sangat disayangkan jika tidak mencoba pergi lagi.”

“Begitu ya?”

Karena pria itu tampak tertarik, Allen menceritakan pengalaman berburu saat ini kepadanya. Saat ini, ada sistem yang berlaku di mana mereka yang tidak berpengalaman bisa berdiri di barisan belakang dan cukup menusuk babi hutan menggunakan tombak panjang. Untuk bisa berdiri di garis depan, seseorang harus mendapatkan persetujuan dari Rodin atau Gerda. Dan tentu saja, jika seseorang cekatan, mereka bisa bergabung dengan Pekej dan membantu menarik target ke arah anggota kelompok lainnya.

“Tukang jagal mendapat tiga bagian daging, kan? Mereka yang memegang tombak panjang mendapat lima, sedangkan mereka yang menggunakan tombak pendek atau berada di kelompok penarik masing-masing mendapat sepuluh.”

“Wah, itu benar-benar berbeda dari masa-masa mudaku dulu…”

Hati pria itu mulai goyah. Sebenarnya, apa yang dia katakan tentang seorang teman yang terluka adalah kebohongan. Kenyataannya ada beberapa budak yang dia kenal telah tewas, dengan setiap perburuan lanjutan merenggut lebih banyak nyawa. Hampir semuanya adalah pendatang baru tanpa pengalaman sama sekali. Bahkan para budak pun memahami konsep bahwa mereka yang belum melewati Ujian Para Dewa lebih mudah mati. Tapi Allen sekarang mengatakan bahwa ada cara yang aman dan pasti untuk membantu pendatang baru seperti itu melewati beberapa Ujian pertama mereka.

Setelah itu, setengah hari berlalu. Karena ukuran albaheron yang sangat besar, pria itu hanya sempat memotong tiga ekor saja. Namun, dengan enam bagian daging dan separuh hati, imbalan yang dia terima dari Allen sudah lebih banyak daripada yang biasanya dia dapatkan dari membantu memotong satu ekor babi hutan besar. Dia segera pulang ke rumah.

“Kenapa lama seka— Tunggu, ada apa dengan semua itu?” Istrinya tadinya hendak melampiaskan ketidakpuasannya atas kepulangannya yang terlambat ketika dia melihat bungkusan daging yang diikat di tangan suaminya.

“Aku mendapatkan ini dari anak Rodin.”

Sambil makan siang, pria itu menceritakan semua yang telah terjadi pagi ini. Karena bagian hati akan cepat membusuk, mereka langsung memakannya. Bagian organ ini tampak hampir sebesar satu balok daging itu sendiri. Pria itu memandang bergantian antara putranya, yang sedang berusaha sebaik mungkin memakan hati rebus meskipun masih panas, dan perut istrinya yang membuncit.

“Anak yang aneh sekali dia,” puji istri pria itu heran. “Bagaimana mungkin dia bisa menangkap albaheron sebanyak itu?”

“Yah, aku yakin—” Pria itu menahan ucapannya. Dia yakin bahwa para dewa terlibat dalam kehidupan Allen dalam kapasitas tertentu, tetapi hal semacam itu sering kali lebih baik tidak diucapkan.

“Ada apa?”

“Sayang… Aku berpikir untuk mengangkat tombakku lagi.”

“Apa?! Hah?! Tapi bagaimana dengan bayi yang akan segera lahir?!”

“Aku ingin melakukannya. Demi kamu dan si bayi.”

Pria itu menatap lurus ke mata istrinya sambil mengacak-acak rambut putranya dengan kasar.

Desa Krena Setelah Kepergian Allen

Itu adalah hari tidak lama setelah Allen meninggalkan Desa Krena bersama Baron Granvelle. Tahunnya belum berganti, dan hari masih berada di tengah musim dingin, dengan suhu yang begitu menusuk tulang sehingga semua penduduk desa berjuang untuk bangkit dari tempat tidur di pagi hari tanpa kehangatan dari perapian yang menyala. Saat ini, Deboji sedang berada di tengah-tengah memeriksa barang-barang dagangan yang akan dijualnya kepada pedagang keliling yang akan tiba hari ini.

“Sepertinya bisnis tahun ini berjalan sangat lancar lagi, ya?” komentar pedagang yang dimaksud sambil melangkah masuk ke dalam ruangan, dipandu ke sini oleh salah satu pekerja sewaan Deboji.

“Ah, kau sudah datang. Yah, seperti yang kau lihat. Aku berhutang budi kepada para penduduk desa atas semua ini.”

Pedagang ini telah melakukan perjalanan antara Kota Granvelle yang jauh ke desa terpencil ini selama beberapa tahun sekarang. Untuk sebuah desa perbatasan di tengah-tengah antah berantah, kehadiran pedagang keliling sepertinya memiliki kepentingan yang sangat vital. Pedagang khusus ini berkunjung sekali setiap beberapa bulan, dan hari ini adalah salah satu hari tersebut.

Sejak Deboji mengetahui bahwa putranya, Pelomas, memiliki Talent seorang Pedagang, dia selalu menyuruh anak itu untuk duduk mendampingi setiap kali dia melakukan bisnis, berharap pengalaman ini suatu hari nanti akan berguna baginya ketika dia dewasa.

“Wah! Sayap Albaheron lagi tahun ini! Dan kotak-kotak ini berisi bulu-bulunya?”

“Ya, benar.”

Albaheron, yang terbang tinggi di langit bukan hanya di atas Desa Krena tetapi juga seluruh wilayah feodal Granvelle, hanya bisa ditangkap pada saat-saat langka ketika mereka turun. Oleh karena itu, mata sang pedagang langsung tertuju pada tumpukan sayap tersebut. Dia langsung menghampiri untuk memeriksa kualitasnya, bersorak gembira karena melihatnya untuk tahun ketiga berturut-turut.

“Desamu menghasilkan semakin banyak dari mereka setiap tahun!” serunya sambil memikirkan di mana harus menjual sayap-sayap tersebut. “Sebenarnya bagaimana cara kalian menangkap sebanyak ini? Betul, bagaimana dengan dagingnya? Maukah kau menjual dagingnya juga kepadaku?”

“Sudah kubilang tahun lalu bahwa dagingnya tidak tersedia. Dan mumpung kita sedang membahas topik ini…”

Dagingnya tidak tersedia karena belum dikumpulkan sebagai pajak. Setiap kali Deboji mengenang kembali saat albaheron pertama ditangkap, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak membatin, “Dia benar-benar mengerjaiku dengan telak.”

Anak yang dikenal sebagai Allen itu sudah menyadari betapa banyaknya albaheron yang bisa dia tangkap. Deboji baru mengetahuinya pada akhir tahun itu. Yang membuatnya terkejut, jumlah material yang diserahkan sebagai pajak menunjukkan bahwa Allen telah merubuhkan lebih dari sepuluh albaheron. Desas-desus di kalangan para hamba sahaya tentang seorang anak laki-laki yang memburu sejumlah besar albaheron tidak pernah sampai ke telinga Deboji sampai semuanya usai.

“‘Mumpung kita sedang membahas topik ini’…apa maksudnya?”

“Ini adalah gelombang terakhir albaheron. Tahun depan tidak akan ada lagi. Jadi, aku akan mengenakan harga premium untuk semua yang ada di sini hari ini.”

“Ha?! Apa maksudnya itu? Tapi kamu berhasil memproduksinya tiga tahun berturut-turut. Ayolah, jangan membual.”

Namun, kepala desa menegaskan bahwa tidak akan ada lagi sayap albaheron tahun depan. Akibatnya, dia mematok harga batch tahun ini dua puluh persen lebih tinggi daripada tahun lalu. Sambil mengatakan ini, dia melirik Pelomas, memberi isyarat agar putranya memperhatikan.

Sudah menjadi kewajiban Deboji sebagai kepala desa untuk mengeruk keuntungan sebanyak mungkin. Bagaimanapun juga, dia pada dasarnya berdagang atas nama seluruh desa. Tentu saja, enam puluh persen dari apa pun yang dia negosiasikan akan diserahkan kepada sang lord feodal sebagai pajak. Namun, semakin tinggi harga yang dia tetapkan, semakin besar pula sisa empat puluh persennya. Semakin banyak uang yang masuk ke kas desa, semakin banyak pula desa yang bisa dikembangkan.

Allen sudah pergi untuk beberapa waktu sekarang, tetapi apa yang telah dicapainya selama di sini sangat luar biasa, dan dampaknya masih dirasakan kuat hingga sekarang. Deboji dengan tulus berpikir bahwa pencapaian-pencapaian itu telah menyelamatkan Desa Krena.

“Baiklah, baiklah. Kita sudah lama menjadi mitra dagang. Aku akan pegang kata-katamu. Kalau begitu, ini daftar barang yang kubawa kali ini.”

Deboji menerima lembaran perkamen yang disodorkan dan memindainya. “Hmm, bisakah kamu membawa lebih banyak anggur dan buah mulai lain kali?”

“Maksudku, kalau buah aku bisa menyediakannya, tapi aku tidak bisa menambah jumlah anggur yang kujual kepadamu tanpa izin dari Yang Mulia Lord.”

Penjualan anggur diatur secara ketat, karena hal itu berdampak negatif pada ketertiban umum. Banyak lord feodal hanya mengizinkan barang tersebut diperdagangkan sesuai kebutuhan di wilayah mereka. Jumlah yang diisyaratkan oleh kepala desa kepada pedagang tersebut sudah pasti memerlukan izin khusus.

“Lihat ini,” kata Deboji, mengulurkan selembar perkamen. “Izin dari Yang Mulia Lord.”

“Whoa! Ayolah, seharusnya kau sudah bilang dari tadi! Terima kasih atas kerja samanya!” seru sang pedagang, tampak jauh lebih gembira daripada saat dia melihat sayap albaheron. Menjual anggur adalah bisnis yang menguntungkan. Dan sekarang setelah Desa Krena memiliki izin, dia bisa menjual lebih banyak kepada mereka—tidak hanya untuk lain kali, tetapi juga di tahun-tahun mendatang.

Setelah sang lord feodal pulang dari kunjungannya, dia telah mengirimkan izin tersebut ke Desa Krena melalui seorang utusan. Ketika Deboji bertanya kepada utusan tersebut mengenai alasan di balik izin itu, pria tersebut memberitahunya bahwa itu diminta oleh “seseorang bernama Allen” sebagai bentuk pertimbangan bagi para penduduk desa yang mempertaruhkan nyawa mereka dalam berburu babi hutan raksasa.

“Oh, dan ini satu lagi izin yang kami terima. Lain kali kamu datang, kami akan memiliki produk kulit untuk dijual. Kuharap kamu membelinya dengan harga yang bagus.”

“Se— Kulit? Ah, dari babi hutan raksasa?”

“Benar sekali. Yang Mulia Lord akan segera mengirimkan seorang perajin kulit kepada kami.”

Tahun lalu, perajin kulit di desa tetangga telah dipanggil untuk membuat zirah dan perisai bagi kelompok pemburu babi hutan raksasa. Namun, itu hanyalah pengaturan jangka pendek. Ketika pekerjaannya selesai, dia telah pulang ke rumah.

Untuk tujuan itu, sang lord feodal telah berjanji untuk mengirimkan seorang perajin kulit dari Kota Granvelle dan membuatnya membuka toko di Desa Krena. Dia diharapkan akan merekrut anak magang dari antara anak-anak desa dan mendirikan industri kerajinan kulit di sana.

Bagi sebuah desa, mendapatkan industri baru secara keseluruhan adalah hal yang sangat besar. Berkat izin kedua tersebut, alih-alih mengirimkan kulit babi hutan raksasa langsung ke Kota Granvelle, Desa Krena akan dapat meraup keuntungan dari produk kulit olahan dan menyetorkan sebagian dari keuntungan itu sebagai pajak.

“Deboji, apa yang sebenarnya sudah kamu lakukan? Ayolah, kita sudah lama kenal. Kau bisa memberitahuku,” kata pedagang itu dengan nada menggoda sambil terus menatap izin di tangannya. Izin tersebut memberikan izin untuk memperdagangkan produk kulit yang dibuat dari dua puluh babi hutan raksasa setiap tahunnya. Ini adalah sanksi yang sangat dermawan sehingga dia tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya secara bercanda apakah ada kecurangan yang terlibat.

“Hei, jangan mencemarkan nama baikku. Aku sudah bilang kepadamu sejak awal.”

“Hm? Apa yang kau bilang tadi?”

“Aku berhutang budi kepada para penduduk desa untuk semua ini. Meskipun satu orang sudah pergi.”

“Apa yang sedang kau bicarakan?”

“Ah, aku tadi cuma ngobrol sama diri sendiri.”

Deboji kemudian memulai negosiasinya dengan sang pedagang. Dengan cara ini, Desa Krena terus makmur bahkan setelah kepergian Allen.

Kepergian Allen dan Pertumbuhan Krena

Pada suatu hari, cukup lama setelah kepergian Allen, Gerda mendapati dirinya berdiri dengan canggung, tombak berburu babi hutan sepanjang dua meter di tangannya. Dia melirik istrinya, Mathilda, sekilas seolah meminta bantuan, tetapi wanita itu hanya menghela napas dan menggelengkan kepala.

Gadis berambut merah muda di hadapannya berteriak sekali lagi, “Aku ingin ikut berburu babi hutan juga!”

Tentu saja, ini adalah Krena, putrinya. Suaranya terdengar lantang dan jelas di seluruh rumah kecil ini.

“Tidak.”

“Kenapa?! Allen boleh pergi begitu banyak!”

“Seperti yang kubilang, dia hanya mengamati.”

Ini bukanlah pertama kalinya percakapan ini terjadi sejak kepergian Allen. Namun, jika sebelumnya Krena selalu mengalah pada akhirnya—meskipun dengan enggan—dia tampak bertekad bulat kali ini. Dia berdiri di ambang pintu rumah, sepertinya tidak mau beranjak sampai dia mendapatkan kata “ya”.

Selama pertandingan perpisahannya dengan Allen, Krena telah menyadari bahwa dia sama sekali tidak mampu melihat pedang Allen. Sebaliknya, Allen dapat melihat pedangnya dengan sangat baik, menilik dari bagaimana dia menghindari dan menangkis semua serangannya dengan gerakan sekecil apa pun. Faktanya, dia tampak begitu tenang seolah-olah dia bisa menang bahkan jika matanya ditutup. Dengan kata lain, Allen telah bersikap lunak padanya selama ini dan membiarkannya menang.

Krena sangat suka mengayunkan pedangnya. Dia sangat suka bertarung melawan lawan yang kuat. Ketika dia menyadari bahwa Allen telah menahan diri, dorongan yang begitu besar untuk menjadi lebih cepat dan lebih kuat mencengkeram dirinya dari dalam. Inilah sebabnya mengapa dia ingin berpartisipasi dalam perburuan babi hutan besar apa pun alasannya. Dia belum pernah melewati satu pun Ujian Dewa, dan dia tahu bahwa memburu monster adalah kunci untuk menjadi lebih kuat. Allen telah memberitahunya begitu.

“Pokoknya tidak,” ulang Gerda.

“Apa—?!”

Protes Krena terhenti oleh pelukan erat ala beruang dari Gerda.

“Saat usiamu genap sepuluh tahun, aku akan membiarkanmu memegang tombak. Tolong bersabarlah sampai saat itu. Allen juga berjanji dia tidak akan memegang tombak sampai usianya sepuluh tahun. Bisakah kamu juga berjanji hal yang sama padaku?” tanya Gerda, berusaha keras menyampaikan kesungguhannya kepada Krena melalui pelukannya.

Setelah jeda singkat, Krena berkata, “Baiklah, aku berjanji.” Dia telah menerima perasaan Gerda dengan jelas, dan ada air mata yang menggenang di matanya. Namun, dia dengan putus asa menahannya. Jika Allen tidak menangis saat meninggalkan desa, dia juga tidak boleh membiarkan dirinya menangis.

Gerda hampir tampak melejit pergi saat dia menyambar tombaknya dan berjalan keluar. Setelah itu, Krena menghabiskan sisa pagi hari untuk menjaga Lily.

* * *

Sore harinya, para tamu datang.

“Hei, Krena! Kami datang!”

“Dogora! Pelomas! Selamat datang!”

Kedua anak laki-laki itu datang untuk bermain ksatria. Mereka melihat ke sekeliling seolah sedang mencari seseorang.

“Apa Mash tidak datang hari ini juga?”

Sejak Allen pergi, adik laki-lakinya, Mash, berhenti datang ke sesi permainan ksatria ini.

“Enggak, dia tidak datang.”

Dogora menghela napas. “Dia sangat berbeda dari Allen, padahal mereka bersaudara.”

“Ayo kita main ksatria di rumah Mash hari ini!” seru Krena tiba-tiba, cengkeramannya mengerat pada pedang kayunya.

“Hei, ide bagus itu. Kuharap dia tidak terus-terusan merajuk.”

Begitu saja, Krena, Dogora, dan Pelomas semuanya menuju ke rumah Mash. Lily, yang sekarang sudah berusia empat tahun dan karena itu diizinkan keluar rumah jika didampingi, ingin ikut. Jadi, dengan Krena menggandeng tangan adiknya, kelompok itu memotong jalan melintasi ladang, menyeberangi jalan setapak pematang sawah.

Begitu mereka tiba, Krena langsung membanting pintu depan hingga terbuka dan berseru, “Mash, ayo main ksatria!”

Theresia mendongak dan tersenyum, langsung paham situasinya. “Terima kasih sudah datang untuk bermain dengan Mash. Kalian sungguh baik sekali!” Dia mengerti bahwa kelompok anak-anak itu datang karena Mash sudah berhenti ikut serta dalam sesi permainan ksatria setelah Allen pergi.

Krena terus melangkah masuk ke dalam rumah dan dengan cepat menemukan Mash di kamar anak. Pandangan mata mereka bertemu.

“K-Krena…?”

“Kenapa kamu tidak datang, Mash? Apa perutmu sakit?”

Dalam pikiran Krena, sakit perut rupanya adalah satu-satunya alasan yang sah untuk tidak bermain ksatria. Pertanyaannya memancing senyum masam dari Pelomas, yang sedari tadi tetap diam.

“T-Tidak, perutku tidak apa-apa… Tapi karena Allen sudah pergi…”

Bahkan sekarang, Mash tampak hampir menangis. Tidak seperti Myulla yang masih terlalu kecil, Mash sangat menyayangi Allen.

“Angkat senjatamu!” perintah Krena dengan suara ksatrianya, sambil menunjuk ke arah tongkat mirip tombak yang disandarkan di sudut ruangan.

“Hah?”

“Allen ingin kamu menjadi kuat, kan?”

“Dia… ingin begitu?”

“Ya! Dia menyuruhmu melindungi Myulla!”

Krena ada di sana saat Allen mengucapkan selamat tinggal kepada Mash. Dia sangat tahu apa yang ingin dititipkan Allen kepada adik laki-lakinya itu.

Mash menatap senjatanya sambil mengingat kembali apa yang dikatakan Allen.

“Jadi, ayo kita jadi kuat! Angkat senjatamu!” kata Krena sekali lagi.

Mash menyeka air matanya dengan lengan bajunya dan berdiri. “Baiklah!”

Sejak hari itu, sesi bermain ksatria diadakan di rumah Mash. Waktu yang sempat berhenti karena kepergian Allen mulai berputar kembali.

Legenda Penguasa Pedang Dverg ~Masa Kecil~

Negeri tempat kelahiran Allen memiliki seorang pahlawan yang dikenal oleh semua orang sebagai Dverg si Penguasa Pedang. Kisah ini adalah sebuah episode dari beberapa dekade lalu, saat Dverg, yang lahir sebagai seorang budak tani, masih anak-anak.

“Ibu, Ibu seharusnya istirahat saja. Jangan bangun.”

“Ibu sangat minta maaf karena selalu membebankan segalanya kepadamu.”

“Jangan khawatirkan itu. Istirahat saja.”

Gubuk reyot ini hanya dihuni oleh Dverg dan ibunya saja. Ayahnya telah diserang oleh monster dan meninggal beberapa tahun lalu. Setelah itu, ibunya telah memforsir dirinya sendiri saat membesarkannya seorang diri hingga akhirnya jatuh sakit dan harus berbaring di tempat tidur. Sekarang, Dverg bekerja untuk menghidupi mereka berdua meskipun usianya masih sangat muda.

Hari seorang budak tani dimulai sejak pagi buta. Dverg akan bangun saat fajar menyingsing dan pergi ke ladang. Pada masa kisah ini terjadi, tidak ada seorang pun—termasuk dirinya sendiri—yang tahu bahwa dia adalah seorang Penguasa Pedang. Berbeda dengan era tempat Allen dilahirkan, pada masa lalu ini, Upacara Penilaian tidak tersedia secara luas untuk semua orang.

Memang benar Dverg bekerja di ladang, tetapi pekerjaannya lebih mirip sebagai seorang asisten. Pertama-tama, ladang tempat dia bekerja bukan milik dirinya maupun ibunya, melainkan milik tetangga mereka. Ketika ibunya jatuh sakit, kepala desa telah merampas tanah mereka, karena menganggap tidak mungkin bagi seorang anak tunggal untuk melakukan segala hal yang berkaitan dengan pengelolaan lahan pertanian. Para budak tani tidak memiliki tanah yang mereka garap, jadi tidak ada cara bagi Dverg maupun ibunya untuk memprotes keputusan kepala desa tersebut. Saat ini, Dverg memiliki kesepakatan dengan tetangganya yang akan membalas kerja kerasnya dengan makanan.

Dverg tengah berada di tengah-tengah pekerjaannya ketika sebuah suara tiba-tiba membentaknya. “Hei! Masih ada rumput liar di sini juga!”

Itu adalah seorang anak laki-laki sebayanya, anak dari pemilik tanah tempat Dverg bekerja. Anak ini kadang-kadang datang untuk mengganggu Dverg.

“Baik,” jawab Dverg singkat sebelum mendatangi area yang ditunjuk untuk mencabuti rumput liar. Dia menolak melakukan kontak mata dan tetap diam.

Tepat saat anak laki-laki itu, yang kesal karena Dverg tidak memberikan tanggapan, hendak memperkeruh keadaan, ayahnya muncul dan berkata, “Jangan mengganggunya saat dia sedang bekerja. Urus saja pekerjaanmu sendiri.”

Anak itu mundur dengan enggan setelah mendapat teguran tersebut. Setelah melihatnya pergi, pria itu menoleh ke arah Dverg dan berkata, “Lupakan penyiangan rumput itu. Aku punya urusan yang harus kamu kerjakan.” Dia menyerahkan sebuah keranjang, yang agak besar untuk ukuran seorang anak kecil, dan menyuruhnya menukarkan gandum di dalamnya dengan buah molmo.

Dverg hanya menjawab, “Baik, Tuan” sebelum kemudian berbalik menuju pasar desa, memotong jalan melalui ladang menggunakan jalan setapak yang ditinggikan.

Di tengah perjalanan, dia berpapasan dengan seorang anak perempuan sebayanya.

“Oh hei, ini Dverg! Apakah kamu sedang disuruh berbelanja?”

Gadis ini bernama Clasys. Dialah orang yang pada akhirnya akan menjadi Clasys sang Orang Suci. Rupanya, Dverg sang Penguasa Pedang dan Clasys sang Orang Suci berasal dari desa yang sama.

“Clasys.” Hanya itu yang dikatakan Dverg sebelum berjalan melewati gadis itu, tidak repot-repot menjawab pertanyaannya.

“Hah? Apaan tuh? Tunggu sebentar!” Clasys berputar untuk menghalangi jalan Dverg.

“Apa?”

“Mau pergi ke ma— Oh, pasar, ya? Kalau begitu, aku ikut denganmu.”

Dverg terus berjalan, seolah-olah mengatakan tanpa kata, “Terserah apa maumu.” Clasys menganggapnya sebagai persetujuan diam-diam dan berjalan di sampingnya dengan langkah ringan. Setibanya di pasar, mereka berpisah sejenak, Clasys pergi ke suatu tempat sementara Dverg langsung menuju ke penjual sayur.

“Tolong tukar semua gandum ini dengan molmo.”

Penjual sayur itu melirik bocah berpakain compang-camping tersebut sebelum melanjutkan transaksi tanpa berkata-kata. Selesai berdagang, Dverg memanggul keranjangnya lagi dan berbalik untuk pulang. Namun, yang membuat dia terkejut, dia mendapati Clasys tepat di hadapannya, tampaknya sudah selesai berbelanja juga.

“Nah, ayo pergi!” kata Clasys dengan ceria, berputar menghadap jalan. Sialnya, dia tidak sengaja menabrak seorang pria berpenampilan kasar yang sedang berjalan dengan angkuh.

“Ah!” serunya saat dia terpental akibat tabrakan tersebut.

“Sialan! Lihat-lihat kalau jalan, bocah.”

Mata Dverg menyipit melihat seorang pria dewasa—yang sepertinya adalah salah satu preman di desa itu, berdasarkan penampilannya—melontarkan cacian kepada anak perempuan yang bahkan belum genap berusia sepuluh tahun setelah membuatnya terjatuh. Sebelum dia sempat melakukan hal lain, Dverg berjalan tanpa kata dan memposisikan dirinya di antara keduanya, dengan keranjang masih terpanggul di punggungnya.

“Hah? Apa yang kau lihat, bocah sialan?!”

Preman tersebut langsung murka menghadapi tatapan diam Dverg. Dia menarik pedang kayu di pinggangnya dan mengayunkannya tepat ke wajah Dverg. Suara benturan tumpul terdengar, menarik perhatian semua orang di pasar. Namun, tidak ada seorang pun yang maju untuk melerai.

Melihat Dverg bahkan tidak mundur satu langkah pun dari pukulan itu dan masih terus menatap tajam membuat preman itu mengayunkan pedang kayunya lagi, kali ini dengan mengerahkan seluruh tenaganya.

Pada saat yang sama, Clasys bangkit dan melompat di antara keduanya, sambil berteriak, “Tolong hentikan!” Dia menutup matanya rapat-rapat, menunggu hantaman itu mendarat. Namun, pukulan itu tidak pernah datang.

“S-Sialan, apa yang kau lakukan?!”

Ketika Clasys membuka matanya, dia melihat Dverg menahan pedang preman itu hanya dengan satu tangan. Pria itu mencoba menarik senjatanya agar lepas, tetapi Dverg berdiri begitu kokoh seolah-olah dia telah menjejakkan akar ke tanah. Tepat saat pria itu menariknya sekali lagi, dengan wajah yang benar-benar memerah, Dverg melepaskannya, membuat pria itu terhuyung-huyung mundur beberapa langkah dan jatuh terduduk dengan keras.

Preman itu dengan cepat bangkit dan melarikan diri, wajahnya terbakar rasa malu karena kalah beradu tarik-menarik dengan seorang anak di bawah tatapan banyak pasang mata.

“Kamu tidak apa-apa, Dverg?” tanya Clasys sambil meletakkan tangannya di pipi Dverg. “Heal.”

“Hm? Mm, terima kasih.” Meskipun dia bahkan tidak terluka sejak awal, Dverg tetap berterima kasih kepada Clasys atas sihir penyembuhan itu. Dia sebenarnya telah melewati berbagai Ujian Dewa dan jauh lebih kuat daripada preman biasa mana pun.

Kedua anak muda itu berjalan pergi melalui jalan asal mereka datang, tidak memedulikan tatapan dari semua orang di pasar.

“Kamu sudah semakin mahir menggunakan Sihir Penyembuhan.”

“Aduh, terima kasih. Semua orang di gereja sangat pintar mengajar. Aku bekerja keras agar aku bisa menyembuhkan ibumu suatu hari nanti.”

“Terima kasih.”

“Terima kasih kembali.”

Dverg berjalan sedikit lebih lambat, menyamakan langkahnya dengan langkah Clasys.

Kisah tentang bagaimana kedua anak muda ini mengalahkan seekor naga merah dan mengejutkan seluruh kerajaan masih jauh di masa depan.

Daftar Isi

Komentar

guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted