Shinwa Densetsu no Eiyuu no Isekaitan Volume 11 Cerita Pendek Bonus Bahasa Indonesia
Cerita Pendek Bonus
Pertemuan Kembali dengan Serigala Putih
Setiap hari hampir tidak ada bedanya dengan hari sebelumnya, namun di situlah letak nilai dari hari-hari tersebut. Jika boleh dikata, dia merasa nyaman dalam kepenatan rutinitas sehari-hari. Kehidupan yang damai adalah satu-satunya hal yang selalu dia inginkan. Dia menutup matanya dan menguap. Di hadapannya, seorang gadis berambut merah sedang berendam di mata air hutan di bawah tatapan dua patung besar dan satu bola yang melayang serta berkilauan.
Sebuah cipratan air yang liar terbang ke arahnya, berkilauan dalam cahaya, dan mengenai matanya. Saat dia menutupi kepalanya dengan kaki depannya, aroma tak terduga menusuk hidungnya. Seketika itu juga, dia langsung waspada. Cakar-cakarnya berkilauan. Bibirnya tertarik ke belakang, memperlihatkan taring yang runcing. Dia diingatkan kembali bahwa dirinya bukanlah seorang kesatria lagi, melainkan seekor serigala putih yang bangga—yang dipanggil Cerberus oleh gadis berambut merah tersebut.
Betapa wujud yang menyebalkan…
Dia menatap pantulan dirinya di dalam air. Wajah yang menatap balik ke arahnya itu akan membuat seorang anak kecil menjerit ketakutan. Dia menguap lagi dan menghela napas, duduk bersandar pada tungkai belakangnya dan menggaruk lehernya dengan kaki belakang. Satu-satunya keuntungan dari tubuh ini adalah kehangatan yang diberikan oleh mantel bulunya di musim dingin. Kerugiannya jauh lebih banyak. Dia tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain sesuka hatinya. Musim panas terasa sangat menyiksa panasnya. Namun yang terburuk dari semuanya adalah bahwa hal itu membuatnya menjadi lemah. Dia bisa merobek tenggorokan seorang pria biasa dengan cukup mudah, tetapi siapa pun yang lebih lihai—seorang pembunuh bayaran terlatih, misalnya—akan dengan mudah mengalahkannya. Dia tidak bisa bertarung untuk membela gadis berambut merah tersebut. Meskipun demikian, dia bisa menjadi pengalih perhatian.
Dia berangkat untuk mencari aroma yang mengganggu tersebut. Jaraknya tidak jauh. Apa pun itu, ia belum beranjak. Sesaat, dia bertanya-tanya apakah salah satu rakyat jelata mungkin telah tersesat ke dalam hutan, tetapi dia dengan cepat menepis kemungkinan itu. Ini adalah tempat suci yang dilarang bagi siapa pun kecuali keluarga kerajaan. Dari semua orang di negeri ini, hanya gadis berambut merah itu yang diizinkan masuk. Itu adalah haknya dan haknya seorang diri. Bagi orang lain untuk masuk tanpa izin tidak hanya tidak pantas tetapi juga mustahil.
Kecuali jika seseorang telah merusak penghalang itu… jika memang begitu, kita berdua dalam bahaya.
Masih belum yakin apa yang harus dilakukan selanjutnya, dia melompat sambil menggeram dari balik semak-semak untuk menghadapi penyusup tersebut. Seorang anak laki-laki berwajah lembut menatap balik ke arahnya. Dia perlahan mundur, wajahnya berkerut ketakutan.
Dia? Tidak mungkin…
Dia mengenali wajah itu. Tentu saja, itu adalah wajah yang tidak akan pernah bisa dia lupakan; wajah yang pernah dia yakini tidak akan pernah dia lihat lagi. Namun, ini tidak mungkin benar-benar dia. Dia telah kembali ke dunia yang dia sebut rumah, atau begitulah yang dia dengar. Kalau begitu, apa ini? Semacam wujud hantu?
Cerberus maju mendekati anak laki-laki itu, dengan taring yang menyeringai. Dia mundur dengan ketakutan. Melihat bahwa hal ini tidak akan membawa ke mana-mana, dia duduk bertumpu pada tungkai belakangnya dan menguap, menggaruk lehernya dengan cakar belakang. Keputusasaan di mata anak itu meredakan kekhawatirannya sebelumnya. Dia merasa puas untuk mengamatinya untuk saat ini. Jika anak itu membuat gerakan tiba-tiba, dia akan merobek tenggorokannya dan masalah selesai.
Dia meletakkan rahangnya di tanah, matanya tidak pernah beralih dari wajah anak itu. Tak lama kemudian, sepasang langkah kaki lain mengusik kebuntuan mereka—sepasang langkah yang dia kenali. Dia duduk kembali saat gadis berambut merah itu muncul dari balik semak-semak.
“Hmm?” Gadis itu memandang anak laki-laki berambut hitam itu dengan rasa penasaran, sambil terus mengeringkan rambutnya. “Siapa kamu?”
Mulut anak laki-laki itu membuka dan menutup, tetapi dia tidak memberikan tanggapan lain. Cerberus langsung melihat bahwa anak itu telah dibuat bisu oleh kecantikan sang gadis, tetapi gadis itu sendiri tampak tidak menyadari hal tersebut.
“Permisi,” desak gadis itu. “Aku mengajukan pertanyaan kepadamu.”
“Erm… maksudmu… a-aku?”
“Memangnya siapa lagi yang kuamaksud?”
Sulit untuk menyalahkannya atas pertanyaan itu. Tidak ada siapa pun di sana selain mereka berdua dan Cerberus, jika dia dihitung. Anak laki-laki itu menggaruk bagian belakang lehernya dengan salah tingkah. “Benar. Tentu saja. Um… aku Hiro. Hiro Oguro.”
Mata Cerberus membelalak. Bukan hanya wajahnya yang sesuai dengan ingatannya, namanya juga sama. Jika bukan karena kelemahannya, dia pasti adalah sosok yang sangat cocok. Dia mulai bertanya-tanya apakah anak laki-laki itu mungkin memang benar dirinya.
“Hmm…” Gadis berambut merah itu mengernyitkan dahi sambil mengamatinya dari atas sampai bawah. “Yah, kau tampak seperti tipe orang yang jujur. Jika kau ingin keluar dari hutan, jalannya lewat sini.”
Dia mulai berjalan, memotong pikiran Cerberus. Dia sepertinya tidak keberatan memunggungi anak laki-laki itu. Melihat anak itu mengikutinya, Cerberus dengan tergesa-gesa berlari ke depan dan menyela di antara mereka. Dengan begitu, tidak akan ada bahaya yang menimpa gadis itu.
Tapi jika ini benar-benar Hiro… lalu bagaimana?
Dia tampaknya tidak menyadari siapa dirinya. Apakah dia bahkan akan mempercayainya jika dia memberitahunya dalam wujud serigala ini? Tapi tidak, itu konyol. Anak laki-laki yang diingatnya akan mengenalinya dalam sekilas pandang. Kalau begitu, mengapa dia bersikap seperti anak kecil yang ketakutan? Apakah ada alasan tertentu di balik penipuan ini, atau jangan-jangan dia telah salah mengenali identitasnya?
Dia menggelengkan kepala untuk mengusir pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk di pikirannya, tetapi dia tidak bisa menghentikan ekornya dari mengibasy. Bagaimanapun, sudah lama sekali sejak terakhir kali mereka bertemu.
Mimpi Artheus
“Aku sempat membayangkan bahwa aku telah memahami apa yang kucari.”
Wajah Artheus tidak memberikan petunjuk apa pun mengenai usianya. Dia tampak terlalu tangguh untuk disebut sebagai pemuda mentah, namun terlalu penuh vitalitas untuk merasakan awal mula penuaan. Dengan rambut dan mata keemasan, dia duduk di meja kerjanya. Tiga buku terbentang di hadapannya: Kronik Hitam, Kronik Putih, dan memoar kaisar pertama. Semuanya ditulis oleh tangannya sendiri.
Dia membuka memoarnya pada halaman kosong dan mengambil bulu penanya, tetapi dia berhenti sebelum menorehkannya ke perkamen. Tidak ada lagi yang tersisa untuk ditulis. Kisahnya telah mencapai akhirnya. Dengan senyuman penuh penyesalan, dia meletakkan buku itu ke samping dan berdiri.
Angin sepoi-sepoi berembus di sekelilingnya saat dia membuka jendela dan melangkah keluar ke balkon marmer. Pemandangannya sungguh luar biasa. Tempat yang dulunya reruntuhan terbengkalai kini telah berkembang menjadi surga bagi umat manusia, dan pertumbuhannya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda melambat. Populasi akan terus bertambah, dan kota itu akan terus berekspansi.
“Satu perintah dariku dan ribuan orang akan mati, hidup mereka menjadi debu di hadapan angin di bawah kekuatan sang kaisar pertama.”
Artheus mengulurkan tangannya. Jari-jarinya melingkupi kota itu dengan mudah, begitu besar kekuatan yang dianugerahkan kepadanya. Dia bisa menghancurkan sebuah bangsa hanya dengan sepatah kata, membuat kepala raja-raja lain dibawa ke hadapannya dengan lambaian tangannya. Dia memiliki otoritas untuk mewujudkan segala keinginannya menjadi kenyataan.
“Lalu apa? Apa gunanya itu bagiku?”
Kuatnya memang luar biasa, namun itu ada batasnya. Bahkan kaisar Kekaisaran Grantzian pun tidak mahakuasa. Dia telah membayar dengan darah untuk mengusir zlosta dari Soleil, membangun surga bagi umat manusia di atas tulang belulang mereka yang tewas demi mewujudkannya. Impian seumur hidupnya telah terwujud. Namun, meskipun begitu, dia hanya mampu memberikan sedikit kebahagiaan bagi rakyatnya.
“Oh, Held, saudara angkatku. Apa yang akan kau katakan padaku sekarang?”
Langit terbentang luas di atasnya, tak berujung dan tak berubah. Tanpa ragu, para dewa yang disebut-sebut itu pasti sedang tertawa bahkan saat ini ketika mereka melihat ke arahnya, mengejek manusia dan cara hidup mereka yang terikat pada bumi. Betapa lucunya dia di mata mereka. Betapa mereka pasti memegangi perut karena tertawa.
“Dan siapa yang bisa menyalahkan mereka? Semua perang yang kita kobarkan, semua nyawa yang kita korbankan, namun kita tetap saja tidak bisa meraih kebebasan sejati.”
Usia telah mengalahkannya sekarang. Dia sudah terlalu tua untuk mencapai hal lain yang lebih besar. Dia membutuhkan waktu yang jauh lebih banyak daripada yang telah diberikan kepadanya. Setiap detik yang berlalu menandai langkah lain menuju penyerahan tongkat estafet.
“Aku memang memiliki keluarga, tetapi itu bukanlah keluarga yang benar-benar kuinginkan.”
Dia telah mengambil banyak istri, dan dari semua anaknya, dua orang telah muncul sebagai penerus yang layak. Mereka menghormati orang tua mereka, mencintai bangsa mereka, dan peduli pada rakyat. Yang lain tidak memiliki semangat yang sama, tetapi mereka tetap anak-anak yang baik, dan dia bangga pada mereka semua. Meskipun demikian, dia menyesali masa kecil yang telah dia berikan kepada mereka. Mereka terpaksa tumbuh di dalam bayang-bayangnya, dan tekanan untuk mengikuti jejaknya telah menempatkan beban yang tidak adil di pundak mereka.
“Terkadang, aku bertanya-tanya apakah aku telah mencapai sesuatu sama sekali.”
Dia telah membimbing anak-anaknya sebaik mungkin, tetapi pada akhirnya, mereka harus melangkah maju atas kemampuan mereka sendiri. Kedua pewarisnya tampak sama-sama layak, dan dia sama sekali tidak menyukai prospek harus memilih di antara mereka.
“Betapa jauh lebih mudah hal ini jika ada satu yang jelas lebih unggul. Namun, meskipun keduanya cukup berbakat, tak seorang pun bersinar seterang Held.”
Bakat tetaplah bakat, jauh lebih baik ada daripada tidak sama sekali, tetapi tidak ada satupun putranya yang dapat dibandingkan dengan rekan seperjuangan yang bersama dengannya Artheus telah menaklukkan dunia. Faksi-faksi telah mulai terbentuk. Terlalu jelas bagaimana bangsa ini akan terpecah setelah kematiannya. Dia hanya bisa melakukan apa yang dia bisa dengan waktu yang dimilikinya.
“Apa yang akan kau katakan jika kau ada di sini, Held? Bagaimana cara mu menegurku?”
Di masa lalu, saudara angkatnya telah menjadi cahaya pemandunya, tetapi sekarang tidak seorang pun berani menentangnya. Kutukan dari kekuasaan adalah bahwa rakyatnya takut akan murkanya.
“Aku telah melakukan semua yang kubisa. Selebihnya, ku serahkan di tangan kalian.”
Tidak seorang pun di era mendatang yang akan memiliki kekuatan untuk melawan Lima Penguasa Surga. Para juara seperti Hiro tidak lahir di masa-masa damai.
“Dan dengan begitu, aku mempercayakan kekuatanku kepada dunia untuk diteruskan.”
Zaman saat ini akan mati bersama anomali yang bernama Artheus. Kepergiannya akan mengantar pada era perselisihan yang baru. Dia sudah bisa melihatnya.
“Suatu hari nanti, Masa Perubahan akan tiba. Mungkin dalam seratus tahun, atau dua ratus, atau lima ratus, atau seribu… tetapi itu pasti akan datang.”
Artheus mengangkat tangan ke arah langit. Tangan itu gagal meraih matahari, gagal menembus awan, bahkan gagal merangkul langit di atas kepalanya.
“Raihlah apa yang kau cari. Kali ini, kau tidak boleh gagal. Semua yang kumiliki, kuwariskan kepadamu.”
Dia mengepalkan tinjunya begitu erat hingga mengeluarkan darah. Pikirannya melayang ke masa depan yang jauh, dan dia menggigit bibirnya karena malu atas ketidakberdayaannya sendiri, terus melakukannya bahkan saat cairan merah mengalir di dagunya.
“Bangkit atau jatuhlah sesukamu!”
Semua hal yang belum sempat dia selesaikan akan dia wariskan—segala harapannya yang belum terwujud akan kebebasan sejati, diserahkan kepada saudara angkatnya untuk dipenuhi. Dan jika kekaisaran adalah harga yang harus dibayar untuk kebahagiaan Hiro, biarlah terjadi.
“Hancurkan para dewa, Hiro, dan jalani hidup sesukamu!”
Suatu hari nanti, naga hitam itu akan mengembangkan sayapnya, dan aumannya akan mengguncang dunia melintasi ruang dan waktu.
Itulah impian Artheus.
Bertarung di Sampingnya
Darah turun dari langit bagai hujan. Mayat-mayat bergelimpangan di tanah, jumlahnya semakin bertambah seiring setiap jeritan yang putus. Dunia berdarah merah pekat, bumi dipenuhi oleh orang mati, dan langit seolah tak bisa bernapas karena jeritan. Ratusan tenggorokan mengembuskan napas terakhir mereka. Ribuan jiwa berhamburan terbawa angin. Puluhan ribu nyawa lenyap dalam sekejap mata. Tanah telah berubah menjadi lumpur berdarah, teraduk-aduk tak dikenali oleh injakan sepatu bot berlapis baja yang tak kenal ampun. Udara telah berubah menjadi bau busuk yang menyengat, rusak tak tertolong oleh aroma jeroan yang terburai. Di sekeliling adalah kematian. Belum genap satu jam berlalu sebelum mayat-mayat mulai melebihi jumlah orang yang masih hidup.
Hiro menatap ke jantung mimpi buruk itu, berusaha menahan perutnya agar tidak bergejolak.
“Jika kamu tidak sanggup, lebih baik kamu kembali ke barisan belakang.”
Sebuah tangan menepuk pundaknya. Dia menoleh untuk melihat Meteia, seorang wanita buas dengan telinga berbulu putih dan warna kulit pucat khas kaum álfar. Aletia bukanlah tempat yang ramah bagi para blasteran, tetapi dia tidak pernah meratapi nasibnya. Dia tidak selalu begitu tangguh—bahkan, dia pernah mencurahkan isi hatinya kepada Hiro bahwa dirinya jauh lebih membangkang di masa mudanya—tetapi Hiro tahu dia tidak akan mampu tersenyum seperti wanita itu jika dia berada di posisinya. Wanita itu adalah salah satu orang terkuat yang pernah dia temui. Dia bersikeras bahwa pendeta besarlah yang telah menunjukkan jalan kepadanya, tetapi Hiro tahu bahwa kemurnian jiwanya sendirilah yang memungkinkannya untuk tumbuh tegak dan lurus.
Wanita itu melirik senjata di tangan Hiro. “Masih pakai dua pedang?”
Dia mengangkat bahu, tersenyum tanpa bisa dia cegah. “Begitulah cara Artheus pertama kali mengajariku. Rasanya lebih natural daripada pakai satu.”
“Itu alasanmu, hm? Bukan karena menurutmu itu… Bagaimana katamu tadi? ‘Keren’?”
Dia tersedak, tertangkap basah. Apa yang harus dia katakan? Menggunakan dua pedang memang keren. Menghunus keduanya terasa membebaskan. Meskipun dia belum pernah merenggut nyawa, dengan dua pedang di tangannya, dia merasa telah memberikan kontribusi dalam pertempuran.
Meteia menghela napas. “Lakukan sesukamu. Asalkan jaga dirimu agar tidak kehilangan nyawa.”
“Aku semakin mahir menggunakannya. Artheus mengajariku setiap ada kesempatan. Aku bahkan hampir tidak pernah menjatuhkannya lagi sekarang.”
“Bukankah akan lebih mudah jika belajar dengan satu pedang?” Meteia memiringkan kepalanya. “Jika kau terbiasa dengan kebiasaan buruk, jangan bilang aku tidak memperingatkanmu.”
“Aku tidak suka bertarung dengan satu pedang. Rasanya kurang begitu menyenangkan.”
“Yah, terserah kau saja. Dengan Yang Mulia di depanmu dan aku di belakang, kau hampir tidak akan punya alasan untuk mengayunkannya.”
Meteia menoleh kembali ke arah pertempuran, dadanya membusung karena bangga. Di sana berdiri Rey, dikelilingi oleh prajurit musuh, namun meskipun musuh-musuhnya berukuran dua kali lipat darinya, mereka menjaga jarak. Hiro bisa langsung melihat sekilas bahwa mereka terlalu takut untuk mendekat.
Rey melihat keraguan mereka dan menyerang, pedang peraknya berkilau saat dia menerjang maju. Dia bergerak seolah sedang menari. Tampaknya dia hampir tidak berniat untuk menebas musuh-musuhnya, namun darah tetap saja terpercik tinggi ke udara. Para prajurit itu jatuh satu per satu ke tanah, tetapi tidak ada rasa kepedihan di wajah mereka. Mereka terlalu terpesona oleh kecantikannya hingga tidak menyadari bahwa mereka telah tewas.
Itu adalah pemandangan yang tidak biasa di dunia ini. Bahkan meski tahu dia tidak bermaksud mencelakakannya, Hiro merasakan hawa dingin merayapi tulang belakangnya. Bilah pedang yang berkilau itu terasa ringan seperti bulu di tangannya, dan ayunannya tampak sangat lambat, namun tidak ada yang bisa menghentikan jalannya atau menghalangi jalannya. Seolah-olah musuh-musuhnya dengan sukarela melemparkan diri ke atas pedangnya.
“Dia mulai beraksi,” bisik Meteia. “Tidak ada yang bisa menghentikannya sekarang.”
Di sekeliling Rey, robekan yang tak terhitung jumlahnya muncul di udara tipis, terlalu tinggi untuk dilihat oleh para prajurit. Pedang-pedang muncul dengan gagang lebih dulu dari celah-celah tersebut. Saat kesadaran menyebar di antara barisan musuh, Rey sudah tidak ada di tempatnya, kehadirannya hanya tersisa sebagai suara udara yang merobek dan baja yang melengking. Angin sepoi-sepoi bertiup ke luar. Saat debu menari-nari tinggi di udara, kilatan cahaya perak membakar udara—satu, lalu dua, lalu tiga, lalu empat. Para prajurit melihat sekeliling dengan bingung. Bahkan Hiro tidak bisa benar-benar melihat apa yang sedang terjadi. Dia dan mereka sama-sama menonton, terpaku dalam waktu, saat dunia berubah menjadi perak cair.
Dia telah melihat pemandangan ini berkali-kali sebelumnya, tetapi pemandangan itu tidak pernah kehilangan keindahannya yang memukau. Dia berada jauh di atas musuh-musuhnya hingga dia merasa kasihan pada mereka karena harus menghadapinya.
Dia muncul kembali—berdiri di tempat yang sama, seolah-olah dia sama sekali tidak pernah bergerak—dan mantra itu pun patah. Dunia bernapas kembali. Dia memasukkan kembali pedang berkilaunya ke dalam sarungnya dengan suara klik yang lembut. Seolah sudah diatur, darah para prajurit mewarnai langit menjadi merah saat kepala mereka terlepas dari bahu.
“Begitulah,” bisik Meteia. “Kita telah menang.”
Hiro mengangguk setuju dalam kebisuan. Rey tidak tertandingi, benar-benar tak tersentuh—sebuah kekuatan yang tak terhentikan, bagaikan dewi yang turun ke bumi. Di tengah begitu banyak mayat di sekelilingnya, tidak ada setetes darah pun yang mengotori dirinya. Namun, meskipun dia tahu seharusnya dia merasa takut, yang dia lihat hanyalah keindahan—sebuah keagungan yang cukup luar biasa untuk dijadikan lukisan.
Bacaan Sebelum Tidur
“‘Namun, bahkan saat Meteia menyadari bahwa dirinya telah ditipu, jebakan Hydra pun mengatup.’”
Seorang gadis duduk dengan sebuah buku terbuka di pangkuannya, membaca di bawah cahaya lilin. Rambut peraknya dipotong pendek di atas bahu seolah untuk menonjolkan fitur mudanya. Bagi orang-orang terdekatnya, dia dipanggil Aura. Dia sedang membacakan cerita untuk sosok yang terbaring di atas ranjang di tengah-tengah tenda.
“‘Seketika itu juga, dia dikepung, dengan sedikit sekutu yang terlihat dan rasa lelah yang begitu memberatkannya.’”
Dari waktu ke waktu, Aura mengalihkan pandangannya dari halaman buku ke arah wanita yang sedang tertidur lelap di ranjang. Scáthach menunjukkan sedikit sekali reaksi terhadap cerita itu, tetapi yah, dia memang selalu begitu. Kegiatan membacakan buku ini telah menjadi rutinitas sejak wanita itu ditemukan tidak sadarkan diri, dan Aura berniat membuatnya menulis laporan lengkap begitu dia terbangun. Tanpa ragu, wanita itu sedang memimpikan suatu petualangan yang luar biasa. Dalam hal itu, rasanya sulit untuk tidak merasa iri padanya.
“‘Meskipun bahaya yang mengancamnya begitu besar, Meteia menolak godaan untuk meminta bantuan, karena tahu bahwa dengan menyelamatkan dirinya sendiri, dia akan membahayakan perjuangan umat manusia.’”
Hydra tadinya berharap bisa menggunakan Meteia untuk mengacaukan penyerangan manusia, tetapi rencananya gagal total ketika wanita itu menolak untuk meminta bala bantuan. Faktanya, wanita itu melawan dengan jauh lebih garang dari yang diduga. Dia meninggalkan pertempuran itu dengan hidung berdarah-darah.
“Jika Mars datang untuk membantunya,” kata Aura, “kaum zlosta akan berkumpul kembali dan membalikkan keadaan. Pengorbanannya mengamankan masa depan kita. Manusia kehilangan seorang komandan yang berani, tetapi kaum zlosta harus membayar dengan harga yang jauh lebih mahal.”
Mereka telah memancing kemarahan Dewa Perang, yang menuntut pembalasan berdarah. Dia telah menyapu bersih daratan, membakar perkemahan zlosta dan membantai para komandan mereka. Tipu muslihat yang tadinya diharapkan Hydra dapat membalikkan keadaan justru malah mempercepat kejatuhan pihak mereka sendiri.
“Rencana yang bagus dalam jangka pendek bisa menjadi buruk dalam jangka panjang. Hydra seharusnya tahu lebih baik daripada membuat Mars marah. Jika dia menangkap Meteia alih-alih membunuhnya, situasinya mungkin akan berbeda. Namun, Mars tidak pernah menemukan jasadnya, jadi kaum zlosta tidak mendapatkan apa pun selain kemarahannya.”
Aura menutup buku itu dan beralih menatap Scáthach, untuk pertama kalinya menyadari kerutan kesakitan di bibirnya. Mungkin luka-lukanya sedang mengganggunya. Hanya sedikit yang bisa Aura lakukan untuk meredakan penderitaannya selain mengelus rambutnya dan mencoba membuatnya merasa senyaman mungkin. Dia meletakkan Black Chronicle di dekat bantal Scáthach, berharap Mars akan melindungi mimpi-mimpinya, tetapi ekspresi wanita itu justru semakin terlihat tersiksa.
“Mimpi burukmu tidak akan menang,” bisiknya. “Tidak ketika kamu membawa Black Chronicle bersamamu.”
Keringat membasahi dahi Scáthach seolah-olah memprotes. Aura menyekanya dengan senyuman tipis di wajahnya.
“Kita akan membacanya bersama-sama begitu kamu bangun, ya? Dan jangan lupa, aku ingin esai lengkap tentang kesan-kesanmu. Kamu masih berhutang satu padaku dari sebelumnya.”
Scáthach masih belum menyerahkan esai terakhirnya. Aura sudah menantikannya ketika tragedi itu terjadi. Sekarang, bukan saja Scáthach tidak dapat menyelesaikannya, tetapi dia bahkan tidak bisa membaca Black Chronicle tanpa bantuan Aura. Sulit untuk membayangkan siksaan seperti itu. Setidaknya buku itu akan berada di samping tempat tidurnya untuk menenangkannya saat dia bangun. Dia bahkan mungkin akan memeluknya karena gembira. Itu adalah satu-satunya hal yang membuatnya terus bertahan, begitu batin Aura. Bukan suatu kelebihan jika dikatakan bahwa itu adalah bagian dari dirinya.
“Kamu bisa meminjamnya sampai kamu bangun. Aku ingin membacanya juga, tapi kamu lebih membutuhkannya.”
Aura tidak mengambil keputusan itu dengan sembarangan. Black Chronicle telah menjadi teman setianya sejak kecil. Faktanya, dia sempat kesulitan tidur tanpa buku itu, tetapi itu adalah harga yang kecil untuk dibayar demi meredakan penderitaan Scáthach.
“Black Chronicle akan menyelamatkan umat manusia. Begitu semua orang tahu kehebatan Mars, hati mereka akan damai.”
Dia mengatakannya dengan wajah tanpa ekspresi, tetapi kata-katanya akan membuat orang mengernyitkan dahi jika ada yang mendengarnya. Dan memang benar, seseorang mendengarnya. Liz mengintip melalui celah di dalam tenda, merasa waspada untuk masuk karena takut akan aura menakutkan yang dipancarkan oleh Aura. Dia mundur beberapa langkah dan menghela napas.
“Ngomong-ngomong, Aura… kamu terkadang membuatku takut.”
Aura bisa menjadi sangat bersemangat jika menyangkut Black Chronicle. Dia bahkan mengalami gejala sakau jika terisolasi darinya terlalu itulah penyebab penderitaan Scáthach. Siapa pun akan mengalami mimpi buruk setelah dibacakan buku yang sama hari demi hari oleh narator yang begitu fanatik.
“Aku akan kembali nanti.”
Sambil meminta maaf kepada Scáthach, Liz kabur dari tempat kejadian.
Komentar