Shinwa Densetsu no Eiyuu no Isekaitan Volume 2 Bab 1: Menuju Ibukota Bahasa Indonesia
Bab 1: Menuju Ibukota
Hari ketiga belas bulan ketujuh Tahun Kekaisaran 1023
Hari itu, seperti hari-hari biasanya, Benteng Berg terpanggang oleh panasnya padang rumput yang menyengat. Suara seorang gadis menggema di menara pusat, membelah udara yang lembap bagaikan dentang lonceng.
“Hiro! Di mana kamu?”
Namanya adalah Celia Estrella Elizabeth von Grantz, putri keenam dari Kekaisaran Grantz. Bahkan saat dia mengitari benteng bagaikan seorang ibu yang mencari anak yang bandel, dia membawakan dirinya dengan keanggunan tenang yang memikat pandangan. Rambut merah marahnya berkilau dengan api yang membara, sementara fitur wajahnya yang indah akan membuat siapapun menghela napas kagum.
“Hiro!”
Namun, bukanlah penampilannya yang paling mencolok, melainkan pedang berwarna merah menyala di pinggangnya. Namanya adalah Lævateinn, dan itu adalah sebuah Pedang Roh—satu dari lima senjata legendaris yang dibuat oleh kaisar pertama, pendiri Kekaisaran Grantz, dan senjata yang paling dicintainya.
“Sebenarnya ke mana kamu pergi?!”
Dia baru saja mengambil alih posisi sebagai komandan Benteng Berg, jadi kompleks tersebut masih terasa seperti labirin baginya. Melacak seseorang di koridornya yang seperti labirin adalah tugas yang melelahkan. Dia mengepalkan tangan karena frustrasi saat berjalan, meremas surat berornamen di tangannya menjadi gumpalan kusut.
“Hilir mudik.” Dia mengerucutkan bibir. “Tapi dia selalu berada di lantai tiga…”
Lantai tiga dari menara utama sebagian besar digunakan sebagai tempat penyimpanan buku, perkakas, kayu, dan sejenisnya. Serigala putih bernama Cerberus saat ini menjadikannya sebagai sarangnya, dan dia mulai menggeretak pada prajurit mana pun yang masuk tanpa diundang.
“Mungkin aku harus memeriksa kamarnya lagi?”
Begitu kata-kata itu keluar dari bibirnya, sebuah pintu terbuka di ujung koridor yang suram itu. Keluarlah Cerberus dengan langkah ringan, nyonya de facto dari lantai tiga. Seorang anak laki-laki berambut hitam dan bermata hitam mengikuti di belakangnya, fitur wajahnya yang lembut bertolak belakang dengan penutup mata yang menyeramkan—anak laki-laki yang dicari oleh Liz.
“Hiro!” serunya, mengangkat tangan untuk menarik perhatiannya.
Dia mendekat. “Ada apa buru-buru begitu?”
“Aku sudah mencarimu di mana-mana! Ini darurat!”
“Maaf. Aku tadi di perpustakaan. Aku perlu mencari sesuatu.” Hiro melirik ke belakang ke arah ruangan di belakangnya, tempat catatan sejarah benteng berjejer di dinding.
“Oh, benarkah?” Liz berkacak pinggang. “Aku senang kamu mengenyam pendidikan, tapi setidaknya kamu bisa memberitahuku di mana mencarimu.”
Sejak Hiro mengalami kejang hebat akibat gangguan penglihatannya, Liz menjadi sangat overprotektif. Dia tidak bisa menyalahkannya karena terlalu mengkhawatirkannya setelah menyaksikan serangan itu, tetapi perhatiannya bisa terasa sedikit berlebihan.
“Mengerti. Aku akan lebih berhati-hati kedepannya,” kata dia. “Ngomong-ngomong, ada apa?”
“Oh, benar! Dengar, aku mendapat balasan atas surat pengaduanku.” Dia mengulurkan tangannya.
Hiro menyipitkan mata ke arah gulungan kertas di genggamannya. “Itu dia? Kelihatannya kusut sekali.”
“Ini datang langsung dari Ayah sendiri. Lihat? Ada tanda tangan kekaisaran di sana.”
Hiro mengambil kertas kusut itu dan membukanya dengan suara derau yang mencurigakan. “Apakah kudanya membawanya ke sini dengan giginya?”
“Aku tidak bermaksud membiarkannya berakhir seperti itu!” protes Liz. “Aku tadi begitu asyik mencarimu, sampai lupa kalau aku membawanya, dan yah… maaf.”
Dia mengatupkan kedua tangannya sebagai tanda meminta maaf. Dengan mata rusa yang menatap ragu ke arahnya, Hiro kehilangan niat untuk marah. Konon kecantikan adalah berkahnya sendiri, dan sekarang dia rasa dia mengerti apa artinya itu.
“Kurasa tidak apa-apa. Selama aku masih bisa membaca isinya.”
Dia menurunkan pandangannya ke surat itu dan mulai membaca.
Putri tersayangku telah memberitahuku mengenai keadaanmu, termasuk kontribusimu yang luar biasa dalam pertempuran melawan Kadipaten Lichtein. Namun sebelum aku mengucapkan selamat atas pencapaianmu, aku harus membahas masalah yang lebih mendesak terlebih dahulu: yaitu tentang warisanmu. Aku memahami bahwa kamu mengaku sebagai keturunan Yang Mulia Kaisar Kedua. Menentukan hukuman Pangeran Stovell memerlukan verifikasi atas klaim ini. Mengingat keterlibatan eratmu dalam masalah ini, dengan ini aku meminta kehadiranmu segera di ibu kota kekaisaran.
Tertanda,
Kaisar Greiheit, Kaisar Keempat Puluh Delapan Kekaisaran Grantz
“Dia bilang dia ingin aku datang ke ibu kota,” umum Hiro.
Di satu sisi, kunjungan ke ibu kota akan memberikan kesempatan yang berharga bagi Hiro untuk memperkenalkan dirinya kepada kalangan atas Grantz, belum lagi kepada sang kaisar sendiri. Di sisi lain, tidak ada yang tahu bahaya apa yang mungkin menantinya di istana. Dia harus melangkah dengan sangat hati-hati.
“Benarkah? Bagus sekali! Ayo, kita harus berkemas!” Liz menarik lengannya, tersenyum lebar.
“Aku tidak yakin kamu diundang,” kata Hiro. “Surat itu tidak mengatakan apa-apa tentang kedatanganmu.”
Terlepas dari hal lain, kehadiran Liz akan mengubah kunjungannya menjadi urusan keluarga kekaisaran. Hiro meragukan musuh-musuhnya akan bergerak secara terang-terangan terhadapnya di hadapan kaisar seperti yang telah mereka lakukan di masa lalu, namun demikian, akan lebih aman baginya untuk tetap tinggal di Benteng Berg.
“Apa? Hu.” Liz menggembungkan pipinya karena kesal.
Hiro merasakan tekadnya goyah sejenak, tetapi dia mengeraskan hatinya. “Wilayah di sekitar benteng masih belum aman. Apa yang harus dilakukan para prajurit jika sesuatu terjadi dan kamu tidak ada di sana untuk memimpin? Lagi pula, kita sedang kewalahan dengan urusan dokumen. Seseorang harus mengerjakannya, dan separuh dari itu membutuhkan tanda tanganmu.”
Liz terus merengut. “Tris bisa melakukannya.”
“Tris itu… Yah, bukan maksudku bersikap kasar, tapi dia adalah seorang prajurit, bukan birokrat. Aku tidak yakin bisa mempercayainya dengan urusan negara.”
“Aku juga seorang prajurit.”
“Masuk akal, tapi setidaknya kamu akan melakukan pekerjaan yang lebih baik darinya. Ayolah, kamu bisa menangani beberapa tanda tangan.”
Birokrasi juga bukan keahlian Hiro. Benteng Berg sangat membutuhkan tribun sipil yang cakap. Hanya sedikit pejabat yang akan senang melihat diri mereka ditugaskan ke benteng perbatasan, tetapi tetap saja layak untuk mengajukan permohonan kepada kaisar jika dia mendapatkan kesempatan.
“Baiklah kalau begitu.” Liz mendongak menatapnya dengan mata memohon andalannya. “Tapi jika aku melakukan pekerjaannya dengan sangat baik dan selesai dengan sangat cepat, bolehkah aku bergabung denganmu? Kumohon?”
Hiro mendapati dirinya mengangguk hampir secara naluriah. “Baiklah. Kurasa tidak akan ada banyak hal yang menahanmu di sini juga, jika kamu menyelesaikan semuanya.”
Akting Liz langsung lenyap saat dia berjingkrak pergi dengan gembira. “Baiklah, sepakat! Dokumen-dokumen itu tidak akan tahu apa yang menimpa mereka!”
“Jika kamu berkata begitu, tapi aku memperingatkanmu, ada banyak—”
Peringatan Hiro terlambat. Liz sudah berlari kencang dengan kecepatan luar biasa.
“Aku harus membelikannya oleh-oleh dari ibu kota,” gumamnya pada diri sendiri. “Itu seharusnya sudah cukup untuk membuatnya kembali berbaik hati kepadaku. Yah, itu dan sebuah permintaan maaf.”
Berangkat pada malam hari mungkin adalah tindakan yang bijaksana. Akan merepotkan jika Liz tahu tentang kepergiannya.
Hiro kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap menghadapi perjalanan yang sudah dekat.
Matahari petang telah terbenam di bawah cakrawala ketika Hiro mulai bergerak, dan bagian benteng lainnya sudah lama tertidur kecuali para penjaga malam. Pertama, dia menyelinap turun ke lantai dasar menara, lalu merayap di sepanjang koridor, menahan napas, hingga dia tiba di pintu ruang kerja. Sekilas mengintip lewat pintu yang terbuka memperlihatkan Liz yang terkulai di atas meja, tertidur pulas di tengah tumpukan kertas. Dia tersenyum pada dirinya sendiri karena lega, tetapi pada saat itu…
“Sedang apa kamu, keparat?”
Sebuah suara terdengar di belakangnya. Dia berbalik dengan cepat, mundur karena kaget. Di sana berdiri seorang prajurit tua dengan lentera di tangannya. Saat Hiro memperhatikan, keterkejutan di wajah pria itu berubah menjadi kemarahan.
“Nah, rupanya begitu. Seorang penjahat yang berniat merusak kehormatan Yang Mulia, ya?! Akan kuberi tahu kamu akibatnya!”

“Bukan itu maksudku— Maksudku, sst! Kamu akan membangunkannya!”
Pria itu adalah Tris von Tarmier, seorang tribun militer kelas tiga dan salah satu pengikut terdekat Liz. Kemarahannya mereda saat cahaya lenteranya jatuh ke wajah Hiro. “Oh, ini kamu, bocah. Ada apa sampai kamu menyelinap selarut ini?”
“Yah, tentang itu…” Khawatir jika dia ragu-ragu, Tris akan mengartikannya sebagai bukti niat tidak suci, Hiro memberikan penjelasan singkat.
“Jadi begitu masalahnya.” Tris mengangguk begitu Hiro selesai. “Kamu ingin memastikan bahwa Yang Mulia sedang tidur agar kamu bisa pergi secara diam-diam.”
“Maksudku, aku tidak mungkin membawanya bersamaku,” kata Hiro.
“Ya, benar juga. Aku juga tidak ingin dia meninggalkan benteng ini. Lagipula, bukankah sekarang kamu seorang bangsawan? Dengan darah kaisar kedua? Kurasa kamu berhak mendapatkan pengawalan, jika kamu menginginkannya.”
“Kurasa itu bukan ide yang bagus. Sebagian besar bangsawan di istana kerajaan belum tahu bagaimana harus menyikapiku, termasuk sang kaisar. Hal terakhir yang kuinginkan adalah bertindak terlalu mencolok.”
Sampai kaisar mengakui klaimnya, Hiro memiliki wuud yang lebih rendah daripada seorang petani biasa. Akan lebih bijaksana untuk bersikap rahasia. Jika dia ingin mewujudkan impian Liz, sekutunya harus lebih banyak daripada musuhnya. Tidak baik merusak hubungan bahkan sebelum dia memulainya.
“Bah,” gerutu Tris. “Terlalu berhati-hati, kalau boleh aku jujur. Sekilas melihat rambut dan matamu saja sudah seharusnya menjadi bukti yang cukup bagi siapa pun, mengingat warna hitamnya itu.”
“Itu tidak akan sulit dipalsukan,” tunjuk Hiro. Jika keadaannya mendesak, dia bisa mengeluarkan Excalibur, tapi itu benar-benar pilihan terakhir. Sangat mungkin Pangeran Pertama Stovell akan hadir selama audiensinya dengan kaisar. Menghunus Pedang Surgawi di hadapan kaisar akan memungkinkan sang pangeran untuk membuat kehebohan bahwa Hiro adalah seorang pembunuh dan menarik pedang. Hasilnya akan menjadi skenario terburuk: Stovell dirayakan sebagai pahlawan karena membela kaisar dan Liz dieksekusi karena pengkhianatan. Hiro sedang menuju istana kekaisaran sekarang. Di dalam kuali keinginan dan ambisi yang bergejolak itu, tidak ada yang namanya terlalu berhati-hati.
“Aku harus pergi,” ujarnya. “Waktu terus berjalan.”
“Ya, memang benar. Apakah artinya kamu tidak butuh pengawalan, kalau begitu?”
“Tidak,” kata Hiro.
“Lalu bagaimana caramu sampai ke sana?” Prajurit tua itu menggaruk dagunya. “Kalau tidak salah ingat, kamu tidak pernah belajar menunggang kuda.”
“Aku berencana pergi ke Linkus dengan berjalan kaki dan menemui Kiork.” Dari sana, dia bisa naik kereta kuda untuk membawanya ke ibu kota kekaisaran.
Tris bergumam berpikir. “Ya, mungkin itu patut dicoba.”
“Apa maksudmu?”
“Lewat sini, bocah. Aku punya hadiah untukmu.” Tris membalikkan badan dan melangkah pergi. Hiro mengikuti dengan perasaan cemas. Bersama-sama mereka menyusuri benteng itu. Akhirnya, mereka tiba di dekat kandang kuda—atau setidaknya itulah yang dikira Hiro, sebelum Tris membawanya melewati kandang tersebut ke sebidang tanah kosong tempat sebuah kandang logam kokoh berada.
“Makhluk bagus inilah yang ingin kutunjukkan padamu.” Prajurit tua itu memukul kandang tersebut dengan keras. Sesuatu di dalamnya menggeliat, mengeluarkan suara tangisan yang aneh.
“Makhluk apa ini?” tanya Hiro.
Tris menyeringai jahat. “Ini, Nak… Ini adalah swiftdrake.”
*
Saat matahari terbit di langit yang dihiasi awan, Benteng Berg mulai terbangun. Pagi itu mendapati Tris sedang duduk di ruang makan perwira setelah mengantar kepergian Hiro, mengomel pada dirinya sendiri. Tubuh prajurit tua yang berotot kekar itu menyiratkan kekuatan yang dengan mudahnya setara dengan prajurit muda seangkatannya, tetapi sekarang, dengan alis yang berkerut karena cemas, dia sama sekali tidak terlihat seperti instruktur kejam yang ditakuti oleh bawahannya.
“Sialan bocah itu!” serunya tiba-tiba. Para prajurit yang sedang sarapan di dekatnya langsung menoleh untuk menatapnya, tetapi dia terlalu sibuk dengan kesusahannya sendiri hingga tidak menyadarinya.
Liz berjalan mendekati mejanya, begitu pucat dan tak berjiwa hingga dia tampak seperti hantu. “Dia meninggalkanku… Hiro meninggalkanku…” ulangnya pada dirinya sendiri saat dia duduk di kursi di hadapannya.
Melihat gadis yang dianggapnya seperti anak sendiri berada dalam kondisi seperti itu, Tris mau tak mau mengesampingkan masalahnya sendiri. “Ada apa sebenarnya, Yang Mulia?” tanya.
“Hiro pergi,” ujarnya.
“Begitukah?”
“Dia pasti pergi menemui Paman. Jika dia tidak bisa menunggang kuda, dia pasti bepergian dengan kereta kuda.”
Kuda sangat mahir merasakan emosi manusia. Mereka mengejek orang yang tidak mereka sukai dan senang menjatuhkan mereka yang menunjukkan keraguan, tetapi waktu dan kasih sayang dapat mengubah mereka menjadi teman yang setia. Masalah Hiro bukanlah pada tekniknya; dia menunggang kuda dengan keluwesan alami. Masalahnya adalah hewan tunggangannya menolak untuk menurutinya. Tanpa kecuali, setiap ekor kuda selalu melemparnya dan lari terbirit-birit.
“Ya, ngomong-ngomong soal menunggang kuda…” Karena hal itu berkaitan baik dengan kuda maupun dengan Hiro, Tris memutuskan sudah waktunya untuk mengangkat topik tersebut. “Apakah Anda pernah menunggang swiftdrake, Yang Mulia?”
“Swiftdrake? Tentu saja tidak. Kamu tahu kan bahwa mereka adalah keturunan naga asli? Mereka tidak akan pernah membiarkan manusia naik ke punggung mereka. Hanya segelintir beastfolk yang bisa menungganginya, dan mereka berbicara dalam bahasa naga.”
Semua yang dikatakan Liz adalah benar, namun Hiro baru saja melakukan hal itu, tepat di depan mata Tris. Bahkan, swiftdrake itu tidak hanya membiarkan anak laki-laki tersebut naik ke punggungnya, tetapi ia benar-benar menundukkan kepalanya untuk memudahkannya.
“Kalau dipikir-pikir, bukankah kita punya satu ekor di benteng ini?” tanya Liz. “Aku yakin aku ingat pernah mendengar ada satu ekor yang meneror kota-kota sekitar. Bukankah kita berhasil menangkapnya?”
“Ya, benar. Sampai anak itu menungganginya dan pergi.”
“Hah! Oh, Tris, kamu lucu sekali.”
“Itu bukan lelucon, Yang Mulia. Aku melihatnya dengan mataku sendiri. Anak itu melompat ke punggung makhluk tersebut dan pergi sebelum fajar, semudah membalikkan telapak tangan! Aku bersumpah itu benar!” Tris mengakhiri ocehannya, lalu membeku, menyadari bahwa ia telah salah langkah.
“Oh, benarkah? Sepertinya kamu harus menjelaskan sesuatu.” Bibir Liz tersenyum, tetapi matanya dingin. Darah mengalir dari wajah Tris, membuatnya pucat pasi.
“Ampun, Yang Mulia, kumohon!”
Dia bahkan hampir tidak punya waktu untuk memohon sebelum jeritannya bergema di seluruh ruang makan.
*
Hari keempat belas bulan ketujuh Tahun Kekaisaran 1023
Matahari menggantung di langit biru tanpa awan, memancarkan sinarnya tanpa ampun ke bumi yang subur. Di padang rumput, yang dipenuhi aroma tanaman hijau yang subur, sebuah bayangan melesat. Sosoknya yang rendah lebih kecil daripada kuda, tetapi jauh lebih cepat, dengan kaki-kaki kuat yang mendorongnya maju dengan kecepatan yang mengerikan. Duduk di punggungnya, mengenakan seragam hitamnya, adalah Hiro.
Ini persis seperti yang dikatakan Tris! Bahkan seorang pemula pun bisa menungganginya! Dan ini sangat cepat!
Angin menyapu pipinya, menerbangkan kelopak-kelopak bunga yang menari di belakangnya. Rasanya seolah-olah dia telah menyatu dengan alam.
Tunggangannya adalah hadiah dari Tris—sejenis makhluk yang disebut swiftdrake. Konon, mereka bukan berasal dari Soleil, melainkan dari Kepulauan Shaitan di sebelah timur. Mereka telah menyebar ke Soleil tiga ratus tahun yang lalu, ketika seorang petualang yang giat membawa beberapa ekor kembali ke daratan utama dari pelayaran luar negeri. Muatan itu telah melarikan diri ke alam liar, tempat mereka berbiak dan berkembang biak.
“Bawa aku langsung ke kediaman Kiork!”
Dengan suasana hati yang jauh membaik berkat perjalanan itu, Hiro memimpin tunggangannya melewati jalan-jalan di Linkus. Meskipun fajar baru saja menyingsing, jalan utama sudah dipenuhi oleh para pejalan kaki dan gerai pasar yang buka pagi-pagi. Sekarang setelah ancaman perang berlalu, kota itu mendapatkan kembali kehidupannya yang dulu.
Hiro berhenti di depan kediaman bangsawan itu, melompat turun dari swiftdrake, dan berjalan cepat menghampiri sesosok figur di dekat gerbang.
“Salam, Tuan Hiro,” sapa pria paruh baya itu. “Saya harap perjalanan Anda tidak terlalu melelahkan.”
“Kurt, bukan? Sudah lama ya.”
Kurt von Tarmier mengabdi kepada Margrave Kiork baik sebagai ajudannya maupun sebagai kepala pelayan di kediamannya. Dialah orang pertama yang menyambut rombongan Liz ketika mereka pertama kali tiba di Linkus.
“Benar sekali. Silakan, ikuti saya. Anda dan sang margrave memiliki banyak hal untuk dibicarakan, dan tidak baik jika membuatnya menunggu.”
Von Tarmier mempersilakan Hiro masuk melalui pintu menuju ruang tamu di lantai pertama, sebuah ruangan persegi dengan dinding putih yang bersih tanpa noda. Jendela di dinding barat menawarkan pemandangan kawasan utara Linkus yang makmur. Hiro duduk di atas sofa berbentuk L yang empuk di tengah ruangan. Di seberangnya, di seberang meja, duduklah Kiork.
“Jadi, kereta kuda ke ibukota yang kamu cari?” kata Kiork setelah Hiro selesai menjelaskan. Dia menyeruput kopi yang diletakkan pelayannya di atas meja dan bersandar santai dengan senyum tipis khasnya. “Aku tentu saja bisa mengaturnya. Kapan kamu berniat untuk berangkat?”
“Hari ini, kalau bisa,” jawab Hiro. “Apakah itu memungkinkan?”
“Kamu sedang terburu-buru ya. Apakah ada ruginya jika berangkat besok?”
“Aku lebih suka tidak menundanya. Yang Mulia tidak memberi batasan waktu, tapi aku tidak ingin membuatnya menunggu.”
Kiork mengangguk. “Tentu ada benarnya juga.” Dia tersenyum, lalu bertepuk tangan pelan. “Kurt, ambilkan aku pena dan perkamen.”
“Baik, Tuan.” Von Tarmier membungkuk dan keluar ruangan dengan tenang.
Kiork melihat pelayannya pergi, lalu menoleh kembali ke arah Hiro dan mulai merogoh saku bajunya. “Nah, kalau begitu. Sekalipun naik kereta kilat, perjalanan ke ibu kota akan memakan waktu lima hari. Aku tidak mungkin memintamu melakukannya dengan perut kosong, dan aku juga tidak akan melakukannya meskipun bisa.” Dia mengeluarkan sebuah kantong cokelat polos, lalu meletakkannya di atas meja. “Ini seharusnya cukup untuk menutupi biaya perbekalan.”
“Aku sama sekali tidak bisa…” protes Hiro. Tris sudah memberinya delapan koin perak dratz untuk perjalanan itu—jumlah yang sederhana, tapi lebih dari cukup untuk bertahan sampai ke ibu kota kekaisaran. Kantong milik Kiork itu jelas berisi jauh lebih banyak.
Dia mencoba menolak, namun Kiork menghentikannya dengan mengangkat sebelah tangan. “Kumohon, aku memaksa. Berani kukatakan aku berhutang nyawa padamu beberapa kali, dan yang lebih penting lagi, keponakanku juga merasakannya. Aku tidak berpikir sejenak pun bahwa ini bisa melunasi utangku, tapi aku berharap kamu menganggapnya sebagai bentuk itikad baik.”
Senyum tipis sang margrave tidak pernah pudar, tetapi Hiro bisa merasakan bahwa permintaannya tidak bisa ditolak. Lebih baik menerima kebaikan pria itu atau mereka akan berdebat sepanjang hari.
“Kalau begitu, aku sangat berterima kasih,” kata Hiro.
“Selain itu,” lanjut Kiork, “jika bintangmu sedang bersinar, aku akan bertindak bijak untuk mengambil hatimu selagi ada kesempatan.”
Itu adalah pengakuan yang sangat tidak mencerminkan seorang bangsawan. Hiro tersenyum canggung. “Aku akan berusaha untuk tidak mengecewakanmu.”
Kiork terkekeh. “Aku menantikannya.”
Von Tarmier kembali dengan membawa pena, sebotol tinta, dan segepok perkamen, yang kemudian diletakkannya di hadapan Kiork. Sang margrave menulis sepucuk surat dengan tangan yang sudah terlatih.
“Berikan ini kepada petugas stasiun,” katanya, sambil menyerahkan perkamen itu kepada Hiro. Dia membiarkannya tetap terbuka karena tintanya masih basah. “Mereka akan menyiapkan kereta kuda tercepat mereka—meskipun perlu diingat bahwa apa yang kamu dapatkan dalam hal kecepatan, mungkin akan hilang dalam hal kenyamanan.”
Jalan-jalan yang dibuat untuk kereta kuda sebagian besar dimiliki oleh negara, sehingga jalan-jalan tersebut disebut sebagai jalan kekaisaran. Selain menerima perbaikan secara berkala, jalan-jalan itu memiliki tempat istirahat berkala di mana para pedagang menjual makanan dan air. Rotasi patroli rutin yang ditempatkan di benteng-benteng terdekat menjaga monster dan bandit tetap jauh, sehingga jalan tersebut dianggap oleh orang-orang sebagai sarana perjalanan yang aman.
“Oh, dan kamu tidak perlu khawatir tentang tungganganmu,” tambah Kiork. “Aku akan memastikan binatang itu dirawat dengan baik.”
Sebagian diri Hiro ingin melakukan perjalanan sampai ke ibu kota dengan menunggangi punggung swiftdrake, tetapi pada akhirnya dia mengurungkan niat tersebut. Naik kereta kuda setidaknya akan memastikan bahwa dia sampai ke tempat tujuannya. Di atas punggung swiftdrake, dia menghadapi risiko nyata untuk tersesat.
“Terima kasih,” katanya. “Aku akan segera kembali.”
Kiork mengantarnya pergi. Begitu pintu tertutup di belakangnya, Hiro menuju ke stasiun. Matahari menyengatnya dengan terik, seolah ingin membakar, tetapi angin sepoi-sepoi yang menenangkan meredakan panas itu dengan belaian lembutnya.
Dia melewati dinding putih gerbang margrave, menuruni bukit, dan memasuki kawasan utara yang makmur. Dia berjalan santai melewati penginapan-penginapan dan kedai-kedai minum, sebelum berbelok di sebuah bar yang dipadati oleh warga kota yang merayakan kemenangan baru-baru ini atas Lichtein. Di sana, jalan-jalan meluas menjadi padang rumput hijau yang dikelilingi oleh pagar tinggi. Puluhan kuda, yang dibiakkan khusus untuk menarik kereta kuda, merumput di dalamnya. Jaraknya tidak jauh dari stasiun, sebuah bangunan kayu besar dengan atap yang dicat merah. Dia masuk dan menunjukkan perkamen Kiork kepada petugas. Tidak lama kemudian, sebuah kereta kuda beroda tujuh berhenti di hadapannya.
Yah, kalau begitu—menuju ke ibu kota kekaisaran. Tempat itu masih disebut ibu kota kerajaan saat aku pergi. Aku ingin tahu seberapa banyak perubahannya.
Dengan antisipasi yang membara di dadanya, Hiro melangkah masuk ke dalam kereta kuda.
*
Pada hari yang sama ketika Hiro berangkat ke ibu kota kekaisaran, sesuatu yang aneh sedang terjadi nun jauh di selatan, di pantai paling selatan dari Kadipaten Lichtein.
Para nelayan berbondong-bondong datang ke kota pelabuhan Ilnis karena tangkapannya yang sangat beragam dan melimpah, tetapi bukan itu saja yang membuat kota tersebut terkenal. Ini adalah kota yang sarat akan darah dan karat, tempat para pedagang budak berlabuh dari seluruh penjuru dunia dengan muatan daging manusia. Agak jauh dari pelabuhan, tempat armada kapal budak terombang-ambing di tengah pasang surut, terdapat bentangan pantai tempat para nelayan menambatkan perahu kecil mereka. Sebuah tempat perlindungan berdiri di pantai berbatu itu. Meskipun dimaksudkan sebagai tempat beristirahat bagi para nelayan yang baru pulang, tempat itu saat ini ditempati oleh enam tentara bayaran yang menggenggam bilah pedang yang mematikan.
“Duke itu benar-benar bodoh sialan, itu kenyataannya,” cibir salah seorang pria. “Malah pergi mencari gara-gara dengan kekaisaran, dan akibatnya dia kehilangan dua orang putranya sekaligus!”
“Iya, dan orang-orang kekaisaran pasti akan segera datang menuntut balas,” jawab yang lain. “Aku tidak yakin dengan peluang kita, bahkan sampai sejauh ini di selatan.”
“Kudengar, justru kita yang akan mendatangi mereka. Duke itu mencoba lagi, mengoceh omong kosong tentang balas dendam untuk putranya. Katanya dia sangat putus asa, sampai-sampai dia merekrut setiap orang yang bisa mengenakan seragam.”
“Hei! Untuk apa aku membayar kalian, sialan?!” sebuah suara berteriak keras.
Para tentara bayaran itu menoleh bersamaan ke arah seorang pedagang budak berbadan gemuk yang mengenakan pakaian sutra mewah. Keringat menetes dari tubuhnya saat dia terengah-engah melintasi pasir. Di depannya, ada seorang gadis muda yang berlari sekencang-kencangnya.
Para tentara bayaran itu mengangkat bahu dengan pasrah dan menghela napas bersamaan. Pemandangan seperti itu bukanlah hal yang aneh di Duchy of Lichtein. Entah itu tawanan yang dibeli dari pantai seberang atau penduduk asli Lichtein yang kewarganegaraannya dicabut, para budak sering kali mencoba melarikan diri dari majikan mereka sebelum dijual. Gadis ini hanyalah satu lagi dari tradisi panjang tersebut.
“Barang daganganku kabur! Hentikan dia, kalian pemalas!”
Lima dari tentara bayaran itu menoleh ke arah orang keenam. “Apa yang harus kita lakukan, Bos?”
Pria itu bangkit dari tempat istirahatnya di tempat teduh. “Dia si gemuk songong yang mengisi kantong koin kita.” Dia memberi isyarat dengan menggerakkan dagunya. “Bawa dia ke mari.”
Para tentara bayaran itu mulai berjalan menyusuri pantai dengan santai. Mereka dengan cepat mendahului si pedagang budak yang berkeringat dan segera menyusul gadis itu.
Dia terpaksa berhenti karena dikelilingi oleh prajurit berbadan kekar, wajahnya menyiratkan ketakutan luar biasa. “Tolong… Tolong, biarkan aku pergi,” bisiknya.
“Maaf, Neng. Kita harus mencari makan.”
“Beberapa tahun lagi, dia pasti akan jadi gadis yang sangat cantik. Sayang sekali dia tidak akan pernah mencapai umur segitu.”
Gadis budak jarang sekali bisa bertahan hidup hingga dewasa. Mereka biasanya menyerah pada kondisi kehidupan yang kejam sebelum sempat melakukannya—bukan berarti hal itu membuat mereka dikasihani. Budak adalah properti di Kadipaten Lichtein. Ketika seseorang sudah usang, pemiliknya tinggal membeli yang lain.
Pedagang budak itu akhirnya menyusul mereka sambil terengah-engah. “Berani-aninya buang waktuku, ya, bocah sialan?!” desisnya terengah-engah. Dia menjenggut segenggam rambut gadis itu dan melemparkannya ke tanah, memicu jeritan kesakitan, lalu menancapkan kakinya di atas kepala gadis itu dan membenamkan wajahnya ke dalam pasir yang terpanggang matahari. Gadis itu meronta-ronta dengan putus asa, berusaha menjauh dari panasnya pasir, namun tidak ada jalan keluar baginya karena tubuh gemuk pedagang itu menindihnya.
“Berani buat ulah lagi, kuures lehermu, kau dengar? Hah?!”
“Sudahlah, Bos,” salah satu tentara bayaran mencoba menengahi. “Kau bisa membunuh gadis malang itu.”
Pedagang budak itu menoleh kepadanya dengan senyum kejam. “Lalu kenapa kalau kubunuh? Bukan urusan kalian bagaimana aku memperlakukan propertiku.”
“Terserah kau saja kalau begitu.” Pria itu mengerutkan kening karena jijik, tetapi dia tidak berkata apa-apa lagi.
Pemimpin tentara bayaran itu mendekat sambil menahan menguap. “Sepertinya kau sudah menangkap nona kecil itu.”
“Akhirnya!” Pedagang budak itu memasang raut wajah kesal. “Begitu kalian para pemalas akhirnya mau melakukan pekerjaan sialan kalian alih-alih—”
“Sudahlah, jangan begitu. Yang penting semuanya beres, kan?” Kepala tentara bayaran itu menyeringai mengejek. “Baiklah. Sepertinya kita harus segera berangkat. Di sini panas banget sialan.” Dia berbalik—dan rahangnya langsung jatuh saat melihat sesosok makhluk besar menjulang di atasnya.
“Nah, sebenarnya kau ini siapa?”
Pendatang baru itu berdiri lebih tinggi daripada siapa pun yang hadir di sana. Kepala tentara bayaran itu menyusut ke belakang, secara refleks menghunus pedangnya.
<“Hmm. Lengan kurus kering, bahu sempit… Kau pasti seorang manusia.”>
“Apa itu semacam bahasa asing? Aku sama sekali tidak tahu apa yang baru saja kau katakan.”
<“Kalau begitu, aku sudah menemukan jalan ke Soleil.”>
Pria berbadan besar itu menyibakkan rambut dari matanya dengan tangan yang kesal. Kristal ungu yang tertanam di dahinya berkilau saat terkena sinar matahari.
<“Bahasa umum di sini adalah… Grantzian, kurasa.”>
“Hei, kawan besar. Aku sedang bicara denganmu.”
“Maaf,” gerutu pria itu dalam bahasa Grantzian beraksen kental. “Apakah kau mengerti aku sekarang?”
“Kau seorang kekaisaran?” tanya kepala tentara bayaran itu.
Pria berbadan besar itu mengerutkan kening. “Apakah aku terlihat seperti bagian dari salah satu kekaisaran manusia kalian?”
Kepala tentara bayaran itu memperhatikan pria tersebut sejenak, lalu rahangnya tiba-tiba mengeras seiring pemahamannya. “Sialan, tidak mungkin…”
Kulit berwarna lembayung dan bentuk tubuh yang berotot saja sudah cukup menceritakan semuanya, namun kristal ungu yang tertanam di dahinya tidak menyisakan ruang untuk keraguan. Hanya ada satu ras di Aletia yang memiliki ciri-ciri tersebut.
“Kau seorang zlosta?!”
Pria itu menyeringai. “Tebakan yang bagus, manusia.”
“Seorang zlosta?!” seru pedagang budak itu terkejut. “Jika itu benar, dia bernilai sangat tinggi! Tangkap dia, kalian para keparat! Aku akan membayar kalian tiga kali lipat!”
Seribu tahun yang lalu, para zlosta—atau kaum iblis, begitu mereka biasa disebut secara sehari-hari—telah menyapu daratan dalam gelombang penaklukkan yang beringas. Manusia, kurcaci, álfar, dan kaum buas telah berdiri melawan mereka sebagai sebuah koalisi yang dikenal sebagai Aliansi Caturwangsa. Setelah perjuangan panjang dan sengit, aliansi tersebut berhasil menghancurkan tanah air zlosta, namun gagal membasmi ras tersebut sepenuhnya. Sebagian besar zlosta yang tersisa menyeberangi lautan menuju kepulauan Ambition di sebelah selatan Soleil, melarikan diri dari penganiayaan. Sejauh yang diketahui siapa pun, mereka tetap tinggal di sana, meskipun lautan ganas yang mengisolasi pulau-pulau itu dari seluruh Aletia membuat kepastiannya sulit diketahui. Namun, tidak semua zlosta ikut menyeberang. Beberapa menolak pengasingan dan tetap tinggal di Soleil.
“Kekaisaran menjaga sisa-sisa mereka dengan rantai ketat akhir-akhir ini. Mereka hanya muncul di pasar sekali dalam waktu yang sangat lama, dan itu selalu berupa bajingan kurus kering yang hampir tidak menyisakan jejak darah zlosta asli di dalam diri mereka. Namun, yang satu ini… murni seperti yang kau harapkan. Uang dari penjualan dirinya akan membuatku hidup makmur selamanya!”
Di sebelah timur laut Kekaisaran Grantz terdapat sebuah negara bernama Kerajaan Lebering. Dahulu kala negara itu didirikan sebagai tempat perlindungan bagi para zlosta yang teraniaya, tetapi kekaisaran sejak itu telah menganeksasinya dengan dalih menjadikannya sebuah protektorat.
“Bagiku rasanya kau sedang menawarkan kesepakatan yang merugikan kami, bos,” kata kepala tentara bayaran itu. “Kita mungkin sedang berhadapan dengan zlosta berdarah murni di sini, kalau dilihat dari penampilannya. Jadikan lima kali lipat dan kita bisa— Guh?!”
Sebelum dia sempat menyelesaikannya, muncratan darah merah merembes keluar dari tubuhnya. Darah mengalir deras dari luka menganga di dadanya. Jeroannya berhamburan ke atas pasir dengan suara ciptaran yang menjijikkan.
“Cih. Ke mana pun aku pergi, semuanya sama saja. Budak ini, uang itu, seolah-olah kau bisa merantaiku. Kalian bahkan tidak mengerti pertarungan apa yang kalian pilih.” Zlosta itu menghela napas kesal, menggenggam pedang besar berlumuran darah di tangannya.
“Kepala!”
“Kau akan membayar perbuatanmu, keparat!”
Tentara bayaran yang tersisa menyiapkan senjata mereka dan menyerbu.
Zlosta itu mendengus. “Selalu anjing kurap terlemah yang menggonggong paling nyaring.”
Dia menerbangkan tiga dari mereka hanya dengan satu ayunan mudah, mengecat pantai dengan isi perut mereka. Dua orang yang tersisa melihat apa yang terjadi pada rekan-rekan mereka, saling berpandangan, lalu berbalik dan kabur.
“Woi! Kembali ke sini!” teriak sang penjual budak. “Bagaimana dengan imbalan kalian?!”
“Ini tidak sebanding dengan nyawa kami!” seru salah satu dari mereka.
“Kalian berani menyebut diri kalian tentara bayaran?!”
“Jangan takut. Mereka tidak akan bisa lolos,” ucap zlosta itu dengan nada datar. Dia berlutut dengan satu kaki dan menghantamkan telapak tangannya ke tanah. Agak jauh di pantai, pasir meledak di bawah kaki tentara bayaran yang sedang kabur, melilit kaki mereka dan membuat mereka tersungkur.
“Apa-apaan—?!”
“Sesuatu menangkap kakiku!”
Awan debu mengepul di hadapan mereka. Sesaat debu itu melayang di udara, lalu sebuah pedang besar membelahnya untuk memenggal kepala mereka. Darah tumpah berceceran di atas pasir.
“Sama lemahnya dengan ras mereka yang lain,” ujar zlosta itu, melangkah melewati mayat-mayat mereka. Dia menyampirkan pedangnya ke punggung dan berjalan dengan langkah tegap ke arah penjual budak. “Dan sekarang setelah urusan itu beres, hanya tersisa satu pertanyaan. Apa yang harus kulakukan padamu?”
“Sekarang, jangan terburu-buru!” rengek pria itu sambil terisak. “Ya, benar… Kenapa kau tidak bekerja untukku saja? Kita bisa menjadi rekan! Akan kubayar kau sepuluh kali lipat dari yang— Mmph!”
Tangan zlosta itu meremas wajah penjual budak yang tidak sedap dipandang itu dan mengangkatnya dari tanah. Gadis budak itu terbaring pingsan di bawah kaki pria yang tergantung tersebut, wajahnya memerah padam. Tatapan zlosta itu tertuju padanya sejenak. Ketika dia kembali menatap sang penjual budak, matanya terasa dingin.
“Kematian adalah satu-satunya obat bagi orang bodoh sepertimu.”
Penjual budak itu menjerit. Darah menyembur dari setiap lubang di wajahnya—mata, hidung, mulut, telinga. Sebagian darah itu memercik ke wajah sang zlosta, tetapi pria raksasa itu hanya menyaksikannya tanpa ekspresi. Begitu perbuatan itu selesai, dia melemparkan mayat yang terkulai lemas itu ke samping.
“Sepertinya awal yang baru sudah menanti,” bisiknya pada diri sendiri, berlutut di sebelah anak yang tak sadarkan diri itu. Dia dengan lembut mengusap pipinya yang meradang sebelum mengangkatnya ke dalam gendongannya.
“Aku sudah mati sekali. Mari kita lihat seberapa jauh kekuatan seorang pria mati dapat membawanya.”
Dia berjalan menyusuri pantai dengan gadis itu di dalam gendongannya, menuju tempat yang tidak dia ketahui.
*

Di tempat suci Raja Roh di Baum, yang diperintah oleh bangsa álf yang dikenal sebagai sang pendeta agung
Di jantung hutan yang hijau terdapat sebuah mata air biru tua yang dihiasi oleh kepulan kabut tipis. Ini adalah inti dari tempat suci Raja Roh, Tempat Suci Pembaptisan—sebuah tempat suci yang hanya diizinkan untuk dimasuki oleh sang pendeta agung. Wanita bangsa álfen itu berdiri setinggi pinggang di dalam air. Matanya perlahan terbuka. Di lubuk matanya, yang warnanya lebih mendekati pirus daripada akuamarin kolam tersebut, cahaya-cahaya mini berpijar dan memudar.
“Apakah kedatangan zlosta ini adalah kehendakmu?” bisiknya.
Pandangannya tertuju pada bola cahaya yang melayang di hadapannya, terletak di antara dua patung besar. Bola itu tidak memberinya jawaban. Tidak pernah.
“Kalau begitu, aku akan membantu sebaik yang kubisa.”
Sebuah riak menyebar melalui mata air saat dia bangkit ke tepi. Tetesan air mengalir di sepanjang tulang selangkanya hingga lenyap di antara payudaranya yang penuh. Selendang tipisnya menempel basah di kulitnya, menonjolkan lekuk tubuhnya yang terpahat indah. Dia meraih kimono yang tergeletak di tepi, mengenakannya di bahunya, dan berangkat ke dalam hutan. Dia bergegas melewati hutan yang lebat, hingga tiba di sebuah lorong yang akrab. Sesaat dia berjalan dalam keheningan melalui koridor-koridor berdinding putih. Akhirnya, dia tiba di sebuah aula luas tempat para ksatria-pendeta wanita kuil itu menanti.
“Bawakan aku tinta, pena, dan seikat kertas,” perintahnya.
Para ksatria-pendeta wanita itu tegang mendengar kemarahan dalam suaranya.
“Baik, Yang Mulia,” kata salah satu dari mereka. Dia memberi isyarat kepada pengawalnya.
“Segera!” seru pengawal itu sebelum menghilang di koridor.
Kapten para ksatria-pendeta wanita melangkah maju dengan ragu-ragu. “Yang Mulia, pakaian Anda…”
“Aku khawatir ini terlalu penting untuk ditunda,” jawab sang archpriestess.
“Anda telah melihat sesuatu?”
“Benar. Aku harus memberi tahu kaisar secepat mungkin.”
Pengawal itu kembali dengan kecepatan penuh, menggenggam sejumlah alat tulis. “Ini, Yang Mulia!” ucapnya di tengah napas yang terengah-engah.
“Terima kasih banyak,” kata sang archpriestess, memberikan senyuman penuh dorongan kepada gadis itu.
Sang kapten tidak begitu terkesan. “Tunjukkan sedikit sopan santun di hadapan archpriestess!” bentaknya sambil berkacak pinggang. “Kau akan belajar etiket suatu hari nanti atau kau akan tetap menjadi pengawal seumur hidup!”
“Mohon maaf… Nyonya…”
“Dia tidak melakukan kesalahan,” kata sang archpriestess. “Biarkan dia. Biarkan dia beristirahat.”
Dia mengedarkan pandangan menyelidik ke sekeliling ruangan. Para knight-priestess menangkap maksudnya dan mengambilkan sebuah kursi kayu. Dia meletakkan selembar kertas putih di atasnya dan mulai menulis.
“Bawa ini ke Knights of the Spirits, dengan instruksi untuk segera menyampaikannya ke ibu kota kekaisaran,” ujarnya, matanya tidak pernah lepas dari halaman tersebut. “Apakah itu dipahami?”
Dia menggigit ibu jarinya dan, setelah memastikan bahwa dia telah mengeluarkan darah, menekannya ke surat tersebut. Sebuah perubahan terjadi pada kertas itu saat butiran merah tua meresap ke dalamnya. Kertas itu mulai memancarkan cahaya redup, sebelum menggulung dengan sendirinya. Dia menyerahkan gulungan itu kepada knight-priestess di sisinya. Ksatria wanita itu meminta diri dan berlari menyusuri koridor.
“Aku telah melakukan semua yang kubisa,” bisik sang archpriestess sambil memerhatikan wanita itu pergi. “Selebihnya tergantung padamu, Lord Schwartz.”
***
Hari ketujuh belas bulan ketujuh Tahun Kekaisaran 1023
Perjalanan lima hari ke ibu kota kekaisaran sama sekali jauh dari kata mewah. Kiork telah menyewa sebuah kereta kuda yang mengutamakan kecepatan di atas segalanya dan mengabaikan kenyamanan, sedemikian rupa sehingga setiap guncangan di jalan akan menghantamkan kepala penumpang yang malang itu ke langit-langit kereta. Singkat kata, itu sangat menyedihkan. Alhasil, Hiro terbangun pada hari kelima dan terakhir dengan rasa sakit yang luar biasa.
“Ugh… Aku tidak akan merindukan ini. Kurasa aku tidak bisa tidur sedetik pun…”
Dia duduk tegak sambil memijat tubuhnya yang sakit. Mengembuskan napas berat, dia melihat ke sekeliling kereta. Perabotan yang minim itu sangat tidak nyaman, tetapi setidaknya ruangan itu cukup luas baginya untuk berbaring dengan merentangkan tubuh. Hamparan padang rumput membentang di luar jendela sebelah kanan.
Sambil mengamati dengan mata setengah terbuka, jendela depan terbuka ke dalam. “Sudah bangun di sana, anak muda?” tanya kusir itu sambil mengintip dari balik jendela. Hiro mengangkat tangan sebagai balasan.
“Sebaiknya bersiaplah untuk turun. Kita akan segera tiba.”
Kereta kuda itu berderak saat jendela ditutup kembali dengan cepat. Hiro menurunkan kakinya dari bangku dan mulai mengumpulkan barang-barangnya.
Kereta kuda ekspres itu tidak berhenti langsung di ibu kota, melainkan di sebuah stasiun berjarak satu sel—atau tiga kilometer—jauhnya. Setelah mereka tiba, Hiro berterima kasih kepada kusir dan keluar dari kereta. Rahangnya jatuh melihat jumlah orang yang begitu padat. Stasiun itu dipenuhi oleh berbagai macam orang: para bangsawan dan rakyat jelata, tentara bayaran dan petualang.
“Kurasa itulah yang kudapatkan di kota terbesar di negeri ini,” gumamnya pada dirinya sendiri. “Aku pikir stasiun Linkus sudah sibuk, tapi tempat ini benar-benar luar biasa.”
Hiro berjalan keluar dari stasiun yang sesak itu. Aroma daun-daun muda menggelitik hidungnya saat dia melangkah keluar, dibawa oleh angin yang sepoi-sepoi. Layanan kereta kuda di dekat sana menawarkan perjalanan ke ibu kota, tetapi dia memutuskan untuk berjalan kaki saja. Dia memiliki urusan mendesak yang harus diselesaikan, dan dia hanya bisa melakukannya dengan berjalan kaki.
Aku sedang diikuti.
Dia tidak bisa mengambil risiko membiarkan para pengejarnya menyerangnya di tempat terbuka. Orang-orang tak berdosa bisa terjebak dalam baku tembak. Dia menyusuri jalan setapak yang dangkal di pinggir jalan dan menghitung kehadiran para musuh yang mengikutinya.
Tiga… enam… delapan orang.
Kemungkinan besar mereka adalah amatir, mengingat betapa mudahnya dia merasakan kehadiran mereka, tetapi terlalu dini untuk membuat asumsi.
Kurasa aku harus mengambil langkah pertama.
Dia bisa saja menunggu mereka melancarkan jebakan, tetapi perkelahian itu bisa menarik perhatian penjaga di sekitar, dan tanpa dokumen apa pun untuk membuktikan siapa dirinya, dia bisa berakhir dibawa pergi untuk diinterogasi. Bahkan jika dia bisa memverifikasi identitasnya, para penjaga sangat mungkin terlibat dalam konspirasi ini, yang berarti mereka bisa menahannya entah sampai kapan. Dia tidak punya waktu sebanyak itu untuk disia-siakan.
Sekarang… siapa dulu?
Hiro menentukan lokasi pengejarnya yang paling dekat, lalu tiba-tiba berbalik ke arah mereka. Ruang terbelah di ujung jemarinya, menempatkan gagang sebuah belati ke dalam genggamannya. Saat pria itu terhuyung ke belakang karena terkejut, Hiro menyelinap di belakangnya untuk menempelkan ujung senjata roh yang baru dimunculkannya ke punggung pria itu.
“Berontak dan akan kubunuh,” bisiknya ke telinga pria itu. “Sekarang, suruh teman-temanmu mundur, pelan-pelan saja.”
“Baiklah! Baiklah! Asal kau ampuni nyawaku!”
Pria itu melirik putus asa ke arah tonjolan berbatu, tempat salah satu rekannya—pria dengan bekas luka di pipi—berpura-pura menjadi pelancong. Pria berbekas luka itu mengangkat kedua tangannya dan melambaikannya di atas kepala. Hiro merasakan kehadiran di sekitarnya memudar. Dia mendorong tawanannya ke depan, memarnya untuk berjalan.
“Aku akan menanyaimu beberapa hal sekarang,” ujarnya. “Jawab atau tidak, itu terserah kamu. Aku tidak keberatan melihat apakah teman-temanmu bisa bicara lebih baik.” Dia menggeser ujung belati menuruni punggung pria itu, merobek pakaiannya yang kotor.
Darah mengalir lenyap dari wajah pria itu. “Biarkan aku hidup dan aku akan menceritakan apa pun yang kau inginkan!” cicitnya merengek. Ancaman Hiro tadi hanyalah gertakan belaka, tetapi pria itu langsung menyerah hampir seketika. Hiro memerhatikan bahwa kaki pria itu gemetar.
Amatir. Kuduga begitu.
“Siapa yang menyewa kalian?” tanya dia.
“Aku tidak tahu siapa dia, aku bersumpah,” kata pria itu. “Dia menjatuhkan banyak sekali koin ke tanganku dan menyuruhku untuk menghajarmu. Cuma itu yang aku tahu.”
“Benarkah?” Alis Hiro terangkat. “Dan bagaimana pria ini mendekatimu?”
“Aku baru saja selesai bekerja di ladang hari itu ketika dia muncul begitu saja dari entah berantah. Dia benar-benar orang yang aneh.”
“Aneh? Dalam hal apa?”
“Dia menutupi tudungnya rendah-rendah jadi aku tidak bisa melihat wajahnya. Satu-satunya alasan aku tahu dia laki-laki adalah karena suaranya.”
Hiro membalikkan belati di genggamannya. Dia menjejalkan gagang belati ke punggung pria itu, mendesaknya untuk melanjutkan.
“Memicu pertikaian denganmu dan membuat para penjaga membawamu masuk. Hanya itu yang dia inginkan. Awalnya aku menolaknya, tapi kemudian keparat itu menjatuhkan dua grantz emas ke tanganku. Mana bisa aku menolak setelah itu.”
Jadi dia bukanlah siapa-siapa, hanya seorang bodoh yang mudah tertipu dan terpikat oleh janji emas. Calon-calon penjahat jalanan rekannya itu kemungkinan besar semuanya direkrut dari desa yang sama.
“Aku tidak bangga akan hal itu, tetapi tidak ada orang dari status sepertiku yang akan menolak tawaran itu. Kau tidak akan membunuhku hanya karena itu, kan?”
Hiro tidak merasakan kebohongan apa pun dari perkataan pria itu. Mempermasalahkan hal itu lebih jauh sepertinya tidak akan membuahkan hasil.
“Kau bebas pergi,” kata Hiro, “tapi lakukan gerakan yang mencurigakan, dan aku tidak akan bertanya lagi. Aku tidak mau melihat wajahmu lagi. Jika aku melihatmu, di mana pun, kapan pun, aku akan menghabisimu di tempat. Jelas?”
“Sangat jelas,” kata pria itu sambil mengangguk dengan panik. “Kau tidak akan pernah melihatku lagi, aku bersumpah.”
Dia berbalik dan lari, meninggalkan jalur setapak untuk memotong langsung melintasi padang rumput. Dia tidak pernah menoleh ke belakang. Segelintir sosok lainnya—kemungkinan besar rekan-rekannya—terhuyung-huyung di belakangnya. Hiro memperhatikan mereka melarikan diri sampai tak terlihat lagi, lalu kembali berjalan menuju ibu kota.
Itu benar-benar terakhir kalinya aku melihat mereka. Aku yakin majikan mereka akan membereskan hal itu.
Imbalan yang begitu besar untuk pekerjaan yang begitu mudah hanya berarti satu hal: kegagalan tidak akan ditoleransi. Meskipun sosok-sosok yang berlari itu tidak menyadarinya, mereka baru saja menandatangani surat kematian mereka sendiri.
Pertanyaan sebenarnya adalah mengapa dia menggunakan para petani untuk melakukan pekerjaan kotornya.
Jika pria berkerudung ini berniat untuk mencegat Hiro, mengapa dia tidak meminta bantuan para profesional? Setidaknya, menyewa petarung terlatih akan menjamin perkelahian yang cukup untuk menarik perhatian para penjaga.
Yah, aku bisa memikirkan itu nanti. Sudah lama sejak terakhir kali aku mengunjungi ibu kota kerajaan—ibu kota kekaisaran, kurasa sekarang disebut begitu. Aku mungkin bisa menikmati diriku sendiri.
Menyingkirkan spekulasi dari pikirannya untuk sementara waktu, Hiro berhenti dan mengamati kota di hadapannya. Gerbang megah berdiri dengan angkuh di atas jalan di depan. Benteng-benteng pertahanan besar menjulang ke langit di atasnya, mengawasinya dengan tatapan tajam tanpa berkedip. Sebuah parit dalam, yang dialirkan dari Sungai Kendel di sebelah utara, memeluk bagian bawah tembok, dengan kedalaman yang dipenuhi makhluk air. Jembatan gantung membentang di atas air, dipadati oleh para pelancong dari kedua arah. Hiro membaur dengan kerumunan dan membiarkan mereka membawanya menyeberangi jembatan. Setelah pemeriksaan di gerbang, dia melewati pintu gerbang dan muncul di dalam kota.
“Whoa…” gumamnya.
Pemandangan yang menakjubkan menyambutnya di sisi seberang. Sebuah jalan raya yang luas dan dilapisi batu besar membentang dari gerbang hingga jauh ke jantung kota. Di kedua sisi, pada jarak yang teratur, berdiri patung-patung yang cukup tinggi untuk menyentuh langit—rupa dari Dua Belas Dewa, yang dipahat dengan teliti dari perunggu. Mata para para dewa mengawasi jalan raya dari atas, seolah menyambut pendatang baru. Kios-kios beratap, penuh dengan pelanggan, berderet bahu-membahu di kaki mereka. Seruan para pedagang dan penjaja memenuhi udara.
“Bangunan-bangunannya tidak setinggi ini saat terakhir kali aku ke sini,” gumam Hiro. “Belum lagi betapa jauh lebih sibuknya tempat ini sekarang.”
Dia mulai berjalan menyusuri jalan raya. Saat dia melihat sekeliling, menikmati pemandangan, dia melihat sekelompok orang dengan botol di tangan mereka, minum di siang bolong di depan sebuah kios minuman keras. Seruan mabuk mereka terdengar di udara siang hari.
“Faerzen sudah tiada, dan baguslah kalau begitu! Bawakan aku botol lagi! Hari ini, kita merayakan!”
“Lebih baik minum untuk sang putri keenam karena telah menempatkan serigala gurun pada tempatnya!”
“Dan tidak sendirian, seperti yang kudengar! Kabarnya, pewaris Schwartz sendiri yang bertarung di sisinya!”
Berjalan di bawah tatapan para Dewa, Hiro sampai di ujung lain dari jalan raya tersebut. Jalan itu bermuara ke sebuah taman, di mana air mancur yang megah menyemburkan air tinggi ke udara. Air mancur tersebut memberikan nuansa mistis yang khidmat pada pemandangan itu, dibuat elegan oleh gemercik air yang terus mengalir dan kilau cipratan air di bawah sinar matahari.
Orang-orang dari berbagai kalangan memenuhi alun-alun: sepasang suami istri bersama anak-anak mereka, seorang pemabuk yang pingsan, seorang pelajar yang tekun membaca buku. Suasana di sini sangat tenang, sangat berbeda dari hiruk-pikuk jalanan depan gerbang, tetapi orang-orang mengenakan senyuman yang kurang lebih sama di wajah mereka. Tidak diragukan lagi seluruh negeri sedang menikmati kemenangan baru-baru ini atas Faerzen dan Lichtein.
Sebuah suara terdengar dari belakang punggung Hiro. “Tuan Hiro, rupanya. Sungguh suatu kebahagiaan yang tak terduga.”
Hiro menoleh dan mendapati Laurence Alfred von Spitz, ajudan muda Aura yang tampan. “Begitu juga sebaliknya,” balasnya. “Apa yang sedang kau lakukan di sini? Kudengar kau akan kembali ke barat.”
“Aku seharusnya menanyakan hal yang sama kepadamu. Apa yang membawamu ke ibu kota?”
“Sebuah panggilan dari Yang Mulia.”
“Ah, seharusnya aku sudah tahu. Itu memang sudah diduga.”
“Jadi? Bagaimana denganmu?”
“Yang Mulia meminta kehadiran komandanku sebelum kami kembali ke barat,” kata von Spitz sambil menghela napas. “Oleh karena itu, aku ada di sini.”
“Kaisar ingin menemui Aura?”
“Lebih tinggi dari rantai komando itu, kurasa. Pangeran Ketiga Brutahl.”
Von Spitz mulai berjalan, jadi Hiro mengikuti di belakangnya.
“Yang Mulia sangat tidak senang mengetahui bahwa sang pangeran menggunakan pasukan terbaik Legiun Ketiga sebagai tentara pribadinya sendiri, terutama saat beliau sendiri sedang pergi berperang. Aku membayangkan komandanku sedang menjelaskan dirinya saat kita berbicara.”
“Kalau begitu, seharusnya dia tidak mencoba menangkap Liz,” kata Hiro. “Dia hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri.”
“Secara kebetulan yang membahagiakan, intriknya memang menyatukan kita untuk menangkis Lichtein. Itu mungkin sedikit meringankan hukumannya.” Von Spitz berhenti sejenak. “Pertanyaan sebenarnya adalah akan jadi apa Pangeran Pertama Stovell. Nah, itu telah membuat seluruh istana gempar. Setiap bangsawan di istana berbisik-bisik tentang upaya pembunuhannya terhadap sang putri keenam atau bagaimana dia menyerang pewaris Kaisar Schwartz.”
“Huh,” kata Hiro.
“Yah, dia masih memiliki Mjölnir, belum lagi dukungan dari Keluarga Krone. Itu adalah garis tipis yang harus dijalani oleh Yang Mulia, saat menghukum pria dengan faksi terbesar di istana. Aku sama sekali tidak iri dengan keputusannya.” Von Spitz melirik Hiro dan menggelengkan kepala karena jengkel. “Dan sekarang pewaris Kaisar Schwartz sendiri ada di ibu kota, menambahkan lebih banyak bahan bakar ke dalam api.” Dia mengalihkan pandangannya ke langit dan menatap ke kejauhan. Keheningan berlangsung dengan canggung.
Hiro tersenyum canggung. “Jadi, ke mana kita akan pergi?”
“Tempat yang cukup unik. Aku bisa memberitahumu jika kamu suka, tapi kurasa kamu akan menikmati kejutan itu.”
Saat itu, keduanya telah berjalan menuju jalan besar bagian timur. Sementara jalan utama di tengah dipenuhi dengan patung-patung dan kedai, di sini sisi jalannya dipadati oleh tempat pandai besi, toko senjata, dan toko-toko yang menjual berbagai barang praktis. Petualang dan tentara bayaran semakin bertambah jumlahnya di antara para pejalan kaki, memberikan kesan yang kurang menyenangkan pada jalanan tersebut.
Saat Hiro melihat sekeliling dengan takjub, von Spitz berbelok ke celah sempit di antara pos penjagaan dan sebuah penginapan. Hiro mengikutinya ke dalam gang yang suram. Untuk beberapa saat mereka berjalan dalam kegelapan, hingga mereka muncul kembali ke cahaya dan mendapati diri mereka berdiri di depan sebuah kuil tua.
“Seperti yang kamu lihat, Nyonya mendahului kita.”
Von Spitz memberi isyarat di bawah rimbunnya pepohonan. Benar saja, Aura duduk di sana. Lengan kanannya, yang patah saat bertempur melawan Lichtein, tergantung di dalam gendongan, namun dengan cekatan ia membolak-balik halaman buku dengan tangan kirinya. Sekelompok prajurit berdiri di dekatnya, mengenakan baju besi hitam yang tampak menakutkan, menciptakan pemandangan yang ganjil dengan lengan mereka yang dipenuhi tumpukan permen. Sekelompok anak-anak mengelilingi mereka, berebut camilan di tangan mereka.
“Anak-anak yatim piatu perang,” jelas von Spitz. “Kuil Para Roh berusaha untuk merawat mereka yang tidak punya siapa-siapa lagi.”
“Jadi itu sebabnya ada begitu banyak dari mereka,” kata Hiro. “Kenapa kuil ini letaknya begitu terpencil?”
Pemujaan terhadap Raja Roh sangat umum di Soleil dan sangat dominan di Kekaisaran Grantz. Kuil-kuil untuk para roh tentunya tidak pernah kehabisan pemohon, jadi mengapa kuil ini dibangun di tempat yang begitu tersembunyi?
“Para roh lebih menyukai tempat ini,” kata von Spitz.
Hiro langsung mengerti maksudnya. Tempat ini adalah sebuah oase kehijauan, terisolasi dari keramaian dan hiruk-pikuk peradaban di luar. Rumput menutupi tanah, dihiasi dengan bunga-bunga merah dan putih yang bergoyang tertiup angin. Mandi dalam sinar matahari, pancaran lembut kuil itu seolah membersihkan jiwa.
“Sisa wilayah kuartal timur telah menjadi tempat yang agak kumuh akhir-akhir ini—semacam tempat berkumpulnya para petualang, tentara bayaran, dan semacamnya. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menolak perubahan tersebut, namun hasilnya tidak banyak.”
“Sudah kuduga,” kata Hiro. “Sekarang setelah mereka menetap, kamu tidak bisa begitu saja mengusir mereka lagi.” Sulit untuk menyingkirkan apa pun begitu akarnya sudah tertanam, dan segala upaya akan menghadapi perlawanan yang sangat besar.
“Begitulah. Sebagai gantinya, kami mendirikan pos penjagaan untuk memastikan keselamatan anak-anak. Aku yakin kamu telah menemukannya saat masuk tadi.” Von Spitz berhenti sejenak. “Ksatria Hitam Kerajaan yang menjaganya saat ini. Komandan sebelumnya… kurang tekun, bisa dibilang begitu. Lady Aura merasa bahwa kuartal timur akan lebih terbantu jika ia mengambil peran yang lebih langsung dalam menjaga perdamaian.” Ada sedikit nada bangga dalam suaranya.
Aura sepertinya menyadari kehadiran mereka saat itu. Ia berdiri dari tempatnya di bawah teduhnya pohon dan berjalan ke arah mereka.
“Kamu adalah orang terakhir yang kuharapkan untuk kulihat.”
Hiro mengangkat sebelah tangan. “Hei. Sudah… yah, sebenarnya belum begitu lama juga sih.”
Ia mengangguk kecil. “Aku mengirim surat, tapi baru kemarin. Itu pasti bukan alasan kenapa kamu ada di sini.”
“Kaisar mengirimiku surat panggilan.” Hiro melepas tas rami dari bahunya, meletakkannya di tanah, lalu merogoh isinya sebelum mengeluarkan selembar kertas yang sudah kusut. “Ini.”
Aura berkedip. “Ini surat panggilan?”
Hiro tidak bisa menyalahkannya atas kebingungan itu. Surat tersebut sudah dalam kondisi buruk saat Liz pertama kali menyerahkannya, dan lima hari di dalam tasnya tidak banyak membantu memperbaiki kondisinya.
Aura mengamati kertas itu dan mengangguk. “Jadi begitu keadaannya. Aku mengerti. Bagaimana caramu berniat masuk ke istana?”
“Aku berharap warna rambut dan mataku sudah cukup.”
“Tidak akan cukup. Semua faksi istana sedang saling menjatuhkan saat ini. Para pengawal bahkan tidak akan memedulikanmu.”
“Kalau begitu, aku akan tunjukkan surat ini kepada mereka.”
“Tidak seorang pun akan percaya bahwa ini adalah surat kekaisaran.” Aura mengembalikan kertas kusut itu kepada Hiro. “Untung bagimu. Kebanyakan orang menjalani seluruh hidup mereka tanpa pernah melihatnya. Hal-hal seperti ini seharusnya diperlakukan dengan hormat. Jika para pengawal benar-benar percaya padamu, mereka justru akan mengeksekusimu.”
Hiro tersenyum kikuk. “Masuk akal juga.”
“Mau bagaimana lagi. Aku akan menemanimu.”
“Apa?”
“Jika aku bersamamu, mereka akan membiarkanmu lewat.”
“Maksudku, aku menghargainya, tapi…” Hiro melirik ke belakang wanita itu, tempat sekelompok anak-anak sedang berkumpul. Di belakang mereka, Ksatria Hitam Kerajaan miliknya—kebanggaan Legiun Ketiga—tergeletak tak berdaya di bawah terjangan tubuh-tubuh mungil.
“Mau pergi ke mana, Nona Aura?” Seorang anak perempuan yang berbicara dengan sedikit cadel menarik lengan baju Aura.
Aura mengelus kepalanya dan tersenyum. “Ke istana. Tuan Spitz akan bermain dengan kalian selama aku pergi.”
Hiro bersumpah ia melihat mata von Spitz sempat mendelik sesaat, tetapi jika Aura menyadarinya, dia sama sekali tidak memperlihatkannya. “Lewat sini,” ujarnya, lalu mulai melangkah.
“Nyonya!” seru von Spitz. “Aku tidak punya keahlian untuk mengurus— Gyaaah!” Dengan keaktifan khas anak-anak, mereka menyerbu maju dan menjatuhkannya. Dalam sekejap, dia sudah menghilang dari pandangan. “Lepaskan aku, kalian para penjahat kecil!” terdengar teriakan dari bawah tumpukan itu. “Aku seorang bangsawan, bukan mainan kalian!”
“Aku Schwartz si pembantai dandanan!” seru salah satu anak.
“Kalau begitu, aku Jenderal Rey!”
“Baiklah, tapi aku jadi Kaisar Artheus!”
“Hentikan! Menyingkir! Jangan menusuk-nusukku!” jerit von Spitz, tetapi protesnya tidak didengar sama sekali.
Dengan teriakan sang viscount yang malang bergema di belakang mereka, Hiro dan Aura kembali ke alun-alun air mancur dan berbelok ke utara menyusuri jalan raya utama.
Aura menoleh kepadanya saat mereka berjalan. “Ketika orang-orang melihat ke arah istana kekaisaran, mereka melihat surga tempat segelintir orang terpilih hidup dalam kemewahan, tetapi itu hanya salah satu sisinya. Sisi lainnya adalah sarang kecemburuan dan ambisi. Jangan pernah lupakan itu. Jangan pernah lengah. Apa itu jelas?”
“Jelas,” kata Hiro.
“Banyak orang akan mendekatimu. Jangan percaya siapa pun. Jangan biarkan mereka merayumu untuk melayani kepentingan mereka. Waspadalah terutama terhadap wanita. Bahkan para kaisar pun menemui kejatuhan mereka dengan cara seperti itu.”
“Kamu tidak sedang mengkhawatirkanku, kan?” kata Hiro.
Lidah Aura tampak lebih tajam dari biasanya hari ini. Dia bertanya-tanya apakah itu alasannya, tetapi dia hanya mendapat tatapan tajam yang garang atas usiknya itu.
“Diam dan dengarkan,” bentak Aura.
“Baik, Nyonya.”
“Ingat, Yang Mulia hanya memanggilmu, bukan aku. Saat keadaannya mendesak, aku tidak akan berada di sana untuk membantumu.”
“Aku akan baik-baik saja. Mungkin etiketku perlu sedikit diperbaiki, tapi aku punya firasat segalanya akan baik-baik saja.”
“Aku hanya bisa berharap begitu.” Setelah itu, Aura terdiam.
Mereka mendaki sebuah bukit landai dan tiba di sebuah gerbang besi besar tempaan. Gerbang itu berdiri setinggi lima kali tinggi Hiro, menjulang di atas mereka dengan kehadiran yang khidmat. Tonjolan-tonjolan berduri mencuat dari bagian atasnya bagaikan tombak.
Salah satu penjaga mengenali Aura dan bergegas mendekati mereka. “Selamat datang, Brigadir Jenderal von Bunadala. Apa urusan Anda hari ini?”
Aura memberi isyarat kepada Hiro. “Yang Mulia Kaisar telah memerintahkan saya untuk mengantar orang ini ke istana.”
Penjaga itu memandang Hiro dari atas ke bawah dengan tatapan menilai. “Saya khawatir saya tidak mendengar hal seperti itu. Mohon maaf, tapi saya tidak bisa membiarkan Anda lewat.”
Hiro mengerutkan kening. Itu tidak mungkin. Sang kaisar telah menulis sendiri surat panggilannya; pastinya para penjaga telah menerima instruksi untuk membiarkannya masuk di gerbang. Pihak ketiga pasti telah bersekongkol untuk memastikan bahwa mereka tidak pernah menerima perintah tersebut, atau mungkin penjaga khusus ini bekerja untuk orang lain.
“Katakan nama dan afiliasimu,” kata Aura.
Penjaga itu tampak terkejut. “Nyonya?”
“Jika kamu lancang meragukan perkataan kepala ahli strategi Pangeran Ketiga Brutahl, akan ada akibatnya.”
Ancaman itu sangat jelas. Biarkan kami lewat atau kehilangan pekerjaanmu.
“Nyonya…” Penjaga itu meringis, berdebat sengit dengan dirinya sendiri. Sebutir keringat mengalir di pipinya. Setelah beberapa saat yang panjang, dia menundukkan kepala dan mengalah. “Anda boleh lewat.”
Pria itu terlihat begitu terpukul hingga Hiro hampir merasa kasihan padanya, tetapi Aura sudah berjalan dengan geram melewati gerbang, jadi Hiro bergegas menyusulnya. Di sisi sebaliknya terdapat sebuah perkebunan megah yang patrolinya dilakukan oleh skuadron kecil prajurit. Sadar akan tatapan curiga para penjaga, Hiro berjalan maju menyusuri jalan utama yang lebar. Taman mawar berbaris di kedua sisi jalan. Di depannya, sebuah air mancur besar menandai persimpangan jalan.
Di sebelah barat terdapat distrik perumahan tempat para bangsawan yang lebih kuat memiliki rumah besar mereka, sementara sebelah timur menampung barak dan tempat latihan Ksatria Singa Emas, kebanggaan Legiun Pertama. Tepat di depan ke utara adalah istana kekaisaran Venezyne, jantung Kekaisaran Grantz yang berdetak. Saat Aura menunjuk setiap landmark, dia tiba-tiba melangkah mendekat kepadanya.
“Penjaga itu bekerja untuk Keluarga Krone,” bisiknya. “Berhati-hatilah terhadap mereka. Mereka adalah pendukung pangeran pertama.”
Hiro memberikan sedikit anggukan sebagai balasan.
“Apa kamu sudah mendengar tentang kematian kepala Keluarga Kelheit?”
Dia sudah mendengarnya. Tiga bulan sebelumnya, kepala Keluarga Kelheit—keluarga besar yang menguasai para bangsawan timur—telah meninggal dunia, meninggalkan jandanya sebagai pemimpin rumah tangga tersebut. Penyebab resmi kematiannya adalah kecelakaan berkuda, tetapi ada banyak bukti yang mengindikasikan adanya permainan kotor.
“Keluarga Krone adalah dalang yang paling mungkin. Aku tidak bisa membuktikannya, tetapi mereka sedang berkomplot untuk menekan Countess von Kelheit agar mau menikah dan mengambil alih keluarga tersebut. Jika mereka cukup berani untuk melakukan itu, mereka tidak akan ragu untuk menyelipkan racun ke dalam makan malammu.”
“Dimengerti. Aku akan berhati-hati.”
Saat dia berterima kasih kepada Aura atas sarannya, mereka akhirnya tiba di pintu gerbang istana utama. Napas Hiro tertahan di tenggorokannya, bukan karena keindahan bangunannya, melainkan karena keakrabannya. Di balik ribuan tahun penambahan dan renovasi, bayangan istana kerajaan lama menatap ke arahnya. Sesuatu yang mirip dengan rasa rindu kampung halaman bangkit di dadanya.
Rasanya seperti kembali ke rumah setelah liburan panjang.
Istana kerajaan adalah tempat pertama yang dikunjunginya setelah tiba di Aletia. Di sana, dia telah bersumpah setia sebagai saudara dengan Artheus. Di sana, dia telah bertemu dengan rekan-rekan yang akan membawanya mendamaikan tanah Soleil yang babak belur akibat perang. Di sana, begitu perangnya dimenangkan dan kekaisarannya berdiri megah, dia mengucapkan selamat tinggal kepada dunia ini. Di sanalah segalanya bermula, dan di sanalah segalanya berakhir.
Apa pun yang menanti di balik pintu-pintu ini, aku tidak akan membiarkannya menghentikannya, sumpahnya.
Ini akan menandai awal dari sebuah kisah baru. Legenda baru. Dengan dadanya yang berdebar karena antisipasi, Hiro melangkah melewati gerbang tersebut.
Setibanya di dalam istana, mereka harus melalui pemeriksaan seluruh tubuh, yang dilakukan oleh seorang penjaga untuk kasus Hiro dan seorang pejabat wanita untuk Aura. Begitu mereka dinyatakan aman, Aura menoleh ke arah Hiro.
“Kita punya pengawal,” ujarnya.
Benar saja, di belakangnya, Hiro melihat seorang pria paruh baya sedang mendekati mereka.
“Saya senang melihat Anda telah tiba dengan selamat di ibu kota,” kata pria itu sambil membungkuk. “Saya diberitahu bahwa Anda telah melakukan perjalanan jauh. Saya Byzan Graeci von Scharm, kanselir kekaisaran.” Ia mengangkat kepalanya untuk memperlihatkan senyuman ramah. “Apakah saya benar jika menganggap Anda adalah Lord Hiro?”
Hiro terkejut. “Ya, Hiro Oguro. Itu benar aku.”
“Dan apakah Anda adalah orang yang mengaku sebagai keturunan dari Yang Mulia, Kaisar Schwartz?”
“Betul.”
“Kalau begitu, saya khawatir saya harus meminta Anda untuk membuktikan garis keturunan Anda. Maukah Anda mengikuti saya?”
Kanselir Graeci berbalik dan memimpin jalan lebih jauh ke dalam istana. Hiro dan Aura mengekor di belakangnya. Dinding sebelah kanan koridor dipenuhi oleh jendela-jendela, melengkung di bagian atasnya, membentang sepanjang lorong dalam pameran kekayaan dan kekuasaan yang mewah. Lukisan-lukisan di langit-langit memuji kemuliaan Raja Roh dan Dua Belas Dewa. Di antara mereka, seorang pendekar pedang berpakaian hitam yang mungkin adalah Hiro tampak menghadapi gerombolan musuh.
Suara Kanselir Graeci bergema di depan mereka saat mereka berjalan. “Banyak orang telah mengaku sebagai keturunan dari kaisar kedua selama bertahun-tahun. Semuanya terbukti sebagai penipu. Bahkan sekarang, kita tidak pernah kehabisan para penipu yang berharap bisa mencoba peruntungan mereka. Saya harap Anda tidak keberatan jika saya tetap bersikap skeptis terhadap identitas Anda. Lady Celia Estrella jelas melihat sesuatu dalam diri Anda, tapi sejujurnya, saya tidak mengharapkan apa pun selain seorang oportunis lainnya.”
Tidak diragukan lagi pria itu telah melihat klaim palsu yang tak terhitung jumlahnya. Hiro hampir tidak bisa menyalahkannya karena menjadi sinis.
“Sudah sewajarnya bagi sebuah bangsa militer seperti kita untuk menjunjung tinggi dewa perang. Saya pun termasuk salah satu pengikut setia Mars. Saya tidak bisa mengungkapkan betapa jijiknya saya jika mendapati satu lagi bajingan yang mengaku-ngaku sebagai garis keturunannya secara palsu. Berani saya katakan, perut saya pasti akan mendidih karena marah.” Kanselir Graeci berhenti di depan sebuah pintu tertutup and berbalik menghadap mereka. “Saya berdoa agar Anda bukanlah bajingan seperti itu. Demi Lady Celia Estrella, jika bukan karena alasan lain.”
Kanselir memasukkan kunci ke dalam lubangnya dan memutarnya. Hiro and Aura mengikutinya masuk ke dalam ruangan berdinding putih yang berjuang untuk menutupi ketiadaan jendela. Sebuah mantel hitam tergantung di gantungan pakaian besar di bagian tengah. Selain itu, ruangan tersebut kosong.
Kanselir Graeci melangkah lebar ke arah gantungan pakaian dan memberi isyarat kepada Hiro untuk mendekat.
“Sampai saat ini, lebih dari dua ribu orang telah mengklaim memiliki darah Dewa Perang. Semuanya tewas seketika saat mengenakan pakaian ini.” Dengan hati-hati dan penuh rasa hormat, dia mengangkat mantel tersebut dari gantungan dan membentangkannya lebar-lebar. “Ini adalah Black Camellia, yang pernah menghiasi pundak Mars sendiri. Roh di dalamnya memilih tuannya, mirip seperti para Penguasa Pedang Roh. Kutukannya akan meruntuhkan siapa pun yang berani mengenakannya… kecuali garis keturunan mereka membawa berkah Raja Roh. Begitulah caramu membuktikan klaimmu. Apakah Anda siap untuk melanjutkan?”
Hiro mengangguk.
Sudah terlalu lama, kawan lama.
Mantel ini telah menjadi teman setianya di berbagai medan perang yang tak terhitung jumlahnya. Dia tidak merasa takut sama sekali saat mengulurkan tangan untuk mengambilnya. Dia bahkan merasakan senyum penuh kasih tersungging di wajahnya. Namun, saat jemarinya menggenggam kain tersebut, Black Camellia terlepas dari pelukan Kanselir Graeci dan jatuh lemas ke lantai. Sebuah kerutan menghiasi dahi sang kanselir. Tidak ada angin, dan Hiro dapat melihat bahwa pria itu tidak sengaja menjatuhkan pakaian tersebut.
Ya ampun. Dia marah padaku.
Entitas yang bersemayam di dalam pakaian hitam itu sangat keras kepala dan penuh amarah, bahkan jika dibandingkan dengan standar kelima roh agung. Tidak heran jika roh itu marah kepadanya, terutama ketika dia meninggalkannya berdebu selama seribu tahun.
Aku minta maaf karena telah meninggalkanmu sendirian begitu lama.
Dia membungkuk untuk memungut mantel yang terjatuh itu, tetapi mantel tersebut bergeser menghindari genggamannya dan melayang ke udara. Mata Kanselir Graeci terbelalak, sementara pandangan Aura menyipit tajam. Hiro ragu-ragu. Rupanya, hubungan ini membutuhkan lebih banyak usaha perbaikan daripada yang dia duga.
Pada saat itu, kain gelap tersebut mengembang, melilit anggota tubuhnya. Kain itu menariknya masuk dan menelannya bulat-bulat dalam sekejap mata. Di tempat Hiro berdiri tadi, kini hanya tersisa gumpalan kegelapan yang berdenyut-denyut dengan cara yang mengingatkan pada gerakan mengunyah yang tidak menyenangkan. Proses itu terjadi begitu cepat sehingga Aura dan sang kanselir hanya bisa tertegun menatapnya.
“Sudah kuduga,” Kanselir Graeci menghela napas. “Satu lagi penipu.” Pria itu tidak berusaha menyembunyikan kekecewaannya. Tidak diragukan lagi, dia telah menyaksikan pemandangan yang sama berkali-kali sebelumnya. Namun di hadapan matanya, kegelapan itu mulai bergerak. Perlahan-lahan, kegelapan itu terbentang bagaikan kuncup bunga yang mekar.
Keheranan meliputi wajah Kanselir Graeci. “Luar biasa…”
Hiro berdiri di sana sekali lagi, tampak tidak terusik. Seragam sekolahnya telah lenyap, berubah bentuk. Sekarang dia mengenakan seragam militer hitam bergaya kekaisaran kuno, dengan jaket mantel berbulu sable gelap sebagai lapisannya. Naga kembar melilit di sepanjang pundak bajunya, hiasan sulaman emas mereka tampak mencolok di atas warna hitam.
Pakaian ini dianugerahi dengan keanggunan para roh. Peninggalan dari sang Dewa Perang sendiri, yang memiliki sifat mistis dan martabat dalam takaran yang sama. Di kekaisaran ini, mereka menyebutnya Camellia Hitam, tetapi di negeri yang jauh, pakaian itu memiliki nama lain:
Regalía.
“Aku tidak berani berharap…” Kanselir Graeci menguasai dirinya dan berlutut dengan satu kaki dalam membungkuk ala seorang vasal. “Mohon maafkan ketidaksopanan saya sebelumnya. Menyaksikan langsung keturunan sejati Yang Mulia Kaisar Kedua adalah sebuah kehormatan yang tak terlukiskan dengan kata-kata.”
Hiro tertawa canggung. “Kumohon, Anda tidak perlu membungkuk. Aku bukanlah orangnya, hanya seseorang yang cukup beruntung memiliki darahnya.”
Faktanya, Hiro memang benar-benar orang itu, tetapi Kanselir Graeci mungkin akan pingsan jika mengetahuinya. Bagaimanapun juga, rasanya tidak nyaman diperlakukan dengan begitu hormat oleh seorang pria yang usianya tiga kali lipat darinya. Dia melirik Aura untuk meminta bantuan, tetapi yang didapatkannya hanyalah tatapan terpesona. Jelas sekali, dia tidak akan mendapatkan bantuan dari arah itu.
Dia kembali menatap Kanselir Graeci, yang kepalanya masih menunduk. “Apakah itu saja kalau begitu?”
“Belum, saya khawatir tidak. Anda harus melanjutkan perjalanan ke Frieden berikutnya.” Kanselir itu menarik dan menghembuskan napas beberapa kali, lalu melanjutkan. ‘Mereka yang mengaku berdarah Schwartz harus diuji di Frieden. Mereka yang klaimnya terbukti benar akan dianugerahi gelar yang layak. Semoga kutukan Raja Roh menimpa siapa pun yang menentang kata-kata ini.’ Anda tentu familiar dengan surat Wasiat Terakhir Kaisar Artheus, kan?”
Hiro mengangguk.
Kanselir berdiri dan berjalan menuju pintu. “Idealnya, Anda seharusnya mengunjungi tempat suci Raja Roh terlebih dahulu, tetapi kami tidak bisa membiarkan sembarang orang menemui sang pendeta agung. Jika sesuatu yang buruk menimpanya karena ulah kami, kami akan mendatangkan kemarahan dari seluruh benua. Sebagai gantinya, kami mulai menguji para pengklaim terlebih dahulu dengan Black Camellia, demi kebaikan kami sendiri sekaligus kebaikannya.” Dia memberi gestur agar Hiro mengikutinya ke koridor. “Sebuah ujian yang telah Anda lalui. Selanjutnya, Anda harus berkuda ke Frieden, di mana pendeta agung akan—”
Kanselir berhenti. Seorang pengawal berlari tergesa-gesa menghampiri mereka.
“Lord von Scharm!” panggil pria itu. “Seorang Kesatria Roh baru saja tiba beberapa saat lalu membawa surat untuk kaisar! Dia mengklaim surat itu berasal dari pendeta agung sendiri!”
“Untuk Yang Mulia sendiri? Ini benar-benar mendesak. Aku akan segera ke sana. Pastikan utusan itu dipersilakan masuk.”
“Baik, Milord!” Pengawal itu membungkuk dan bergegas kembali ke arah asalnya.
Kanselir menoleh ke arah Hiro. “Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya, Milord. Sepertinya saya harus mengurus urusan yang mendesak. Bolehkah saya meminta Anda untuk menunggu sebentar sampai saya kembali?”
“Aku tidak keberatan, tapi di mana kau ingin aku menunggu? Di sini?”
“Astaga, tentu saja tidak. Ruang Para Bangsawan sudah lebih dari cukup.” Pandangan kanselir tertuju pada seorang pelayan di dekatnya. “Kau di sana! Antarkan Lord Hiro ke—”
“Aku yang akan mengantarnya,” Aura memotong perkataannya.
“Baiklah, Lady Aura yang akan memandu Anda. Saya akan segera kembali.”
Kanselir Graeci pergi dengan langkah cepat. Hiro mengamatinya sampai ia tak terlihat lagi, lalu dia dan Aura berangkat menuju tujuan mereka sendiri.
“Surat dari pendeta tinggi sangat jarang,” kata Aura. “Surat untuk kaisar, bahkan lebih langka lagi.”
“Benarkah?”
“Biasanya, dia menyampaikan wahyu Raja Roh kepada kanselir. Jika surat ini ditujukan kepada kaisar, ini pasti sangat penting.”
“Jadi itulah sebabnya Graeci tampak begitu khawatir.”
“Dia akan membawanya langsung ke ruang singgasana. Kelangsungan hidup kekaisaran mungkin bergantung padanya.”
Aura tiba di sepasang pintu ganda. Dia mendorongnya terbuka dengan gerakan yang nyaman dan duduk di atas sofa di dalam. Hiro duduk di seberangnya.
“Aku ingin tahu berapa lama dia akan butuh waktu,” gumamnya keras-keras.
“Tidak terlalu lama, kurasa. Tapi itu tergantung pada suratnya.”
Hiro mengangkat bahu. “Kurasa yang bisa kita lakukan hanyalah berharap ini bukan sesuatu yang serius.” Sambil melihat sekeliling ruangan, sebuah pemikiran terlintas di benaknya. “Kau tahu, Ruangan Para Bangsawan ini benar-benar kosong.”
“Tempat ini diperuntukkan bagi para bangsawan yang tidak memiliki rumah besar di kompleks istana, tetapi sedikit sekali orang yang menggunakannya. Banyak bangsawan rendahan memiliki rumah di kota. Sebagian besar sisanya lebih suka menghabiskan waktu di penginapan.”
“Apakah kau punya rumah besar di istana?”
“Hanya di atas kertas. Aku tidak menggunakannya. Aku tidur di pos penjagaan saat aku mengunjungi ibu kota.”
Mereka bertukar obrolan ringan selama sekitar dua puluh menit sebelum pintu terbuka lagi. Bukan Kanselir Graeci yang masuk, melainkan seorang pejabat senior.
“Mohon maaf, Lord Hiro, tetapi kehadiran Anda diminta di ruang singgasana.”
“Kukira sidang para pangeran sedang berlangsung,” kata Aura. “Apakah sudah selesai?”
Pejabat itu mengangguk. “Sidang telah selesai tanpa insiden. Saya telah diperintahkan untuk memastikan bahwa Lord Hiro hadir ketika Yang Mulia mengeluarkan putusannya.”
“Bisakah aku menemaninya?”
“Lord von Scharm telah memberitahu saya bahwa Anda boleh hadir jika Anda mau, tetapi Anda harus masuk melalui pintu belakang. Lord Hiro harus masuk melalui pintu depan.”
“Baiklah,” kata Hiro, bangkit dari sofa. “Kurasa kita sebaiknya tidak membuat mereka menunggu.”
“Tidak. Kita sebaiknya tidak melakukannya.” Aura ikut berdiri, mengikuti gerakannya.
“Silakan, lewat sebelah sini.”
Dengan pejabat itu yang mendesak mereka untuk segera maju, Hiro and Aura meninggalkan ruangan di belakang.
Komentar