Seirei Gensouki Volume 18 Bab 5: Penyelamatan Bahasa Indonesia
Bab 5: Penyelamatan
Kira-kira satu jam sebelum Liselotte diundang ke ruang rapat, Rio, Aria, dan Aishia telah tiba di Republik Demokrasi Suci Erica berbarengan dengan kembalinya Saint Erica. Rio menggendong Aria di dalam pelukannya sambil mengamati ibu kota di bawah; mereka melayang di langit di atas sisi selatan Ericaburg sesaat setelah tengah hari.
Rio dan Aria sama-sama mengenakan jubah di atas pakaian tempur mereka. Mantel wyvern hitam kesayangan Rio telah diperbaiki di desa ras roh, tetapi berjalan-jalan mengenakannya akan menarik terlalu banyak perhatian, jadi dia tidak memakainya sekarang.
Aishia, susul sang santa untuk melacak keberadaan Liselotte. Hubungi aku segera setelah kamu menemukannya. Rencana A adalah memeriksa di mana dia dikurung, apakah mungkin untuk kabur dengan menggunakan seni tembus pandang, dan menyelamatkannya seketika jika memungkinkan. Jika rasanya sulit untuk melarikan diri, kita akan memikirkan Rencana B bergantung pada kondisi kurungannya.
Dia telah memikirkan garis besar rencana tersebut bersama Aria saat mereka sedang bergerak, jadi begitu dia berada dalam jangkauan komunikasi dengan Aishia, dia memberikan ringkasan singkat tentang apa yang telah merekautuskan.
Mengerti. Sang santa telah mendarat di pusat kota. Dia masuk ke dalam sebuah bangunan. Aku akan menghubungimu nanti.
Terima kasih. Aku dan Aria akan memeriksa keadaan kota sementara itu.
Rio dapat melihat griffin milik sang santa mendarat di distrik para bangsawan dengan mata kepalanya sendiri. Dia kemudian mengakhiri komunikasinya dengan Aishia.
“Dia memasuki sebuah gedung resmi. Aishia akan mengikutinya dan memeriksa apakah Liselotte ada di dalamnya,” ucapnya kepada Aria di dalam pelukannya.
“Baiklah. Dari apa yang bisa kulihat dari atas, seluruh kota sedang dalam perbaikan. Ini pasti akibat dari revolusi. Bangunan-bangunan di balik apa yang tampak seperti distrik bangsawan semuanya hancur, dan tidak ada apa-apa selain tumpukan reruntuhan di bagian paling belakang…”
Mereka dapat melihat para pekerja bekerja keras di kota yang hancur—sebuah pemandangan yang cukup menyayat hati.
“Dari posisinya, kurasa di situlah tempat kastil itu berdiri.”
“Mungkin saja. Namun, bagaimana ini bisa terjadi…” Aria menatap ke bawah pada kastil yang hancur itu. Bukan hal sepele untuk menghancurkan sesuatu sedemikian rupa hingga menjadi gunungan puing.
“Aku tidak dapat membayangkan kastil itu berubah menjadi tumpukan reruntuhan hanya karena tentara revolusioner mendekat. Entah sang Saint menggunakan Senjata Ilahi-nya, atau artefak kuno lain yang digunakan untuk menyerang…”
Serangan itu pastilah berskala besar untuk menciptakan fenomena seperti itu.
“Tanah di sebelah selatan ibu kota juga hancur. Mungkin tentara revolusioner mendekat dari arah selatan dan menghadapi tentara kerajaan di sana.”
Itu tidak semudah pasukan yang berbaris melewati tempat tersebut—tanahnya terkoyak terbuka, menonjol di berbagai tempat.
“Medannya hanya hancur di satu sisi. Tentara revolusioner mungkin meraih kemenangan sepihak.”
Kenyataannya, tentara revolusioner yang berjumlah sepuluh ribu orang telah berbaris dari selatan, dipimpin oleh Erica. Tentara kerajaan yang berjumlah dua ribu orang menanti mereka.
Namun, kedua pasukan itu tidak pernah terlibat pertempuran. Erica telah memusnahkan dua ribu prajurit tentara kerajaan dalam waktu kurang dari satu menit. Hal itu memberi momentum kepada massa yang berbaris ke dalam kota setelahnya untuk menyerbu langsung ke distrik para bangsawan.
“Ada sesuatu yang aneh tentang saint itu. Dia sangat tangguh. Jika kamu harus menghadapinya suatu saat nanti, tolong berhati-hatilah,” kata Aria dengan ekspresi pahit, setelah mengalami kekalahan di Amande.
“Ya, aku akan tetap waspada…” Rio mengangguk, menatap ke bawah ke arah ibu kota dengan tatapan tajam. Mereka telah mengikuti satu langkah di belakang selama ini, tetapi—”
“Mari kita periksa bagian dalam kota selanjutnya. Giliran kita yang bergerak.”
Rio mulai turun ke bagian luar kota yang sepi sambil menggendong Aria.
◇ ◇ ◇
Sementara itu, beberapa kilometer jauhnya, seseorang sedang mengikuti Rio—Reiss. Dia baru saja melihat Rio dan Aria melangkah memasuki kota dengan berjalan kaki.
“…”
Reiss mengamati ibu kota Ericaburg di bawahnya persis seperti yang dilakukan Rio dan Aria sebelumnya. Dia memandangi reruntuhan kastil yang hancur total.
Sepertinya sang saint telah menguasai kekuatan pahlawannya. Yang tersisa hanyalah memeriksa apakah dia dapat memwujudkan salah satu dari hal itu, dan kebangkitannya sebagai pahlawan telah dikonfirmasi. Satu-satunya hal lain yang harus dilakukan adalah berdoa agar dia belum bangkit…
Reiss menghela napas lelah, membayangkan kemungkinan terburuk jika itu benar-benar terjadi.
Untuk saat ini, Ksatria Hitam harus diadu dengan sang saint untuk memeriksa apakah dia telah bangkit. Aku ragu dia memiliki peluang melawan wanita itu jika dia benar-benar telah bangkit, tapi dia seharusnya tidak memiliki masalah untuk melarikan diri jika memang perlu.
Dia sudah menyiapkan rencana untuk mengantisipasi Rio yang mencoba melarikan diri. Satu-satunya masalah adalah bagaimana membuat Rio dan sang saint saling menghancurkan dengan pasti, dan apa yang harus dilakukan setelah itu. Dia harus mengonfirmasi apakah sang saint adalah pahlawan yang telah bangkit secepat mungkin.
Spirit humanoid itu menyelinap untuk melakukan penyelamatan sementara Ksatria Hitam dan kepala pelayan menunggu di luar sebagai pengalih perhatian cadangan, kurasa.
Pengguna seni spirit yang mahir dapat mengubah indeks bias udara untuk menjadi tak kasat mata, tetapi itu tidak mengubah fakta bahwa pengguna tersebut secara fisik ada di sana.
Mengirim Aishia untuk menyusup dalam wujud spiritnya jelas merupakan pilihan yang paling aman. Tujuan mereka yang sudah jelas untuk menyelamatkan Liselotte membuat gerakan mereka sangat mudah diprediksi.
Seseorang yang begitu terampil sepertinya akan dengan mudah dapat mengambil kembali Liselotte Cretia secara diam-diam, tetapi sepertinya aku akan memanfaatkan kesempatan ini untuk membuatnya bertarung.
Dengan senyum tipis, Reiss mulai turun ke dalam kota.
◇ ◇ ◇
Haruto. Aku menemukan Liselotte.
Tak lama setelah Rio dan Aria memasuki ibu kota Ericaburg, Aishia menghubungi mereka untuk memberi tahu bahwa Liselotte telah ditemukan.
Mereka saat itu berada di area perkotaan, di jalan utama dengan banyak warga yang berlalu-lalang. Bisnis memang tidak sedang berkembang pesat, tetapi raut wajah para pejalan kaki tampak cerah dan penuh semangat. Mereka sedang berada di tengah-tengah memantau area tersebut sebelum rencana penyelamatan dijalankan.
“Aria, kemarilah ke lorong ini sebentar. Aishia mengirim pesan.” Rio melangkah keluar dari jalan utama sambil memanggil rekan perjalanannya menuju sebuah lorong belakang yang sepi.
Terima kasih. Bagaimana keadaan dia?
Aman dan selamat. Dia dipanggil untuk menghadiri pertemuan yang akan segera dimulai. Para pengawalnya sedang bersamanya saat ini.
Kalau begitu, tunggulah sampai dia sendirian sebelum melakukan kontak dengannya. Lanjutkan mengawasi situasi untuk saat ini.
Dimengerti.
Aku berada di kota bersama Aria. Kami akan memantau area tersebut, lalu mencoba menyusup sedekat mungkin ke gedung tempat kalian berada. Jika terjadi sesuatu yang aneh, gunakan pertimbanganmu sendiri untuk bergerak. Tapi beri tahu aku segera.
Baiklah.
Begitulah, Rio memberikan instruksi yang diperlukan kepada Aishia dan mengakhiri komunikasi mereka sekali lagi.
“Sepertinya dia sudah menemukan Liselotte. Dia belum melakukan kontak, tapi sepertinya keadaannya baik-baik saja,” beri tahunya kepada Aria.
“Aku senang mendengarnya…” Aria menundukkan kepalanya, diliputi oleh emosi.
“Dia masih harus diselamatkan. Kita juga akan melakukan apa yang kita bisa. Ayo pergi,” kata Rio dengan lembut, mendorongnya untuk bergerak. Jalur pelarian tercepat setelah mengamankan Liselotte adalah dengan terbang pergi, namun bergerak dengan penuh semangat akan melunturkan sihir tembus pandang yang diselimutkan pada mereka. Oleh karena itu, jika mereka ingin menyelamatkan Liselotte tanpa diketahui siapa pun, mereka harus melakukannya dengan berjalan kaki.
Saat mereka menyelamatkannya nanti, mereka tentu ingin berjalan ke suatu tempat yang terpencil sebelum terbang ke angkasa. Agar bisa melakukan hal itu, mereka harus memiliki pemahaman yang jelas tentang tata letak kota. Mereka juga harus memasuki bekas distrik bangsawan.
“Baiklah.”
Keduanya melanjutkan kembali penjelajahan mereka di kota.
◇ ◇ ◇
Paling lama sekitar satu setengah jam kemudian, pertemuan yang mirip persidangan itu telah berakhir, dan kongres telah merampungkan serangan verbal mereka terhadap Liselotte.
“Silakan masuk…” Andrei membuka pintu ruangan tempat Liselotte dikurung, mempersilakannya masuk ke dalam.
“Terima kasih.” Liselotte mengangguk dan melewati pintu itu dengan patuh. Tidak ada percakapan antara dirinya, Andrei, dan Natalia dalam perjalanan kembali ke ruangan ini.
Tidak ada cara untuk mengetahui apa yang sedang dia pikirkan dari ekspresi dan nada suaranya. Di sisi lain, Andrei tampak memikirkan sesuatu setelah pertemuan yang baru saja terjadi, dan telah mengamati Liselotte dengan wajah yang dilanda konflik sepanjang waktu ini. Karena itu, udara di sekitar mereka terasa cukup berat.
“Terima kasih telah bergabung dengan diskusi kita hari ini. Silakan istirahat sejenak.” Sikap Erica sangat berbeda dibandingkan dengan pertemuan sebelumnya, saat dia berbicara demi mempertimbangkan perasaan Liselotte.
“Akan kulakukan. Permisi,” jawab Liselotte tanpa berbalik menghadap Erica dan melangkah masuk ke dalam ruangan. Erica dan Natalia berbalik untuk meninggalkan ruangan itu juga, tetapi Andrei tetap terpaku, memperhatikan punggung Liselotte.
“…”
Tepat saat dia hendak mengatakan sesuatu, Erica bersuara.
“Ayo, Andrei,” ucapnya ke arah punggung pria itu.
“Baik…”
Andrei mengangguk dengan kepala tertunduk, mengikuti Erica dan Natalia keluar dari ruangan.
“Andrei. Kamu boleh melampiaskan emosi batinmu itu langsung kepadaku,” kata Erica begitu pintu tertutup di belakang mereka.
“Saint Erica…” Kepala Andrei semakin menunduk sementara dia mengepalkan tinjunya. “Sejujurnya… aku kecewa. Meskipun memahami ketidakadilan dari kaum bangsawan, dia tetap memilih untuk menjadi seorang bangsawan. Pada akhirnya, bahkan seseorang yang sebijaksana dirinya pun memprioritaskan status mereka. Dia sama sekali tidak memikirkan masa depan rakyat. Aku telah salah menilai dia,” akunya.
“Kasihan sekali kamu, Andrei… Kamu mempercayai masa depan di mana kamu bisa bekerja sama dengannya. Kamu adalah orang yang sangat murni, jadi kamu terluka karena harapanmu dikhianati. Tapi kamu masih menyisakan sedikit harapan, bukan? Itulah sebabnya kamu tidak melampiaskan emosi negatifmu kepadanya. Kamu mengharapkan pengertian darinya.”
“Mungkin benar begitu…”
“Andrei, manusia bisa sangat terluka saat mereka dikhianati. Jangan lupakan perasaanmu ini. Esensimu sebagai manusia diuji oleh bagaimana kamu bangkit menghadapi rasa sakit dan keputusasaan itu. Itulah sebabnya ini adalah kesempatan bagimu untuk bertumbuh. Bagaimana kamu akan berinteraksi dengan Liselotte saat kamu melihatnya lain kali? Renungkanlah pertanyaan itu sendiri.”
“Baiklah…” Andrei mengangguk kaku.
◇ ◇ ◇
Sementara itu, tepat setelah Erica dan yang lainnya meninggalkan ruangan…
“…”
Liselotte duduk, meredam emosinya yang jengkel. Dia telah diculik ke negeri asing dan dipaksa menerima pelecehan sebelah pihak dalam bentuk pemukulan di depan umum. Kenyataan pahit itu akhirnya meresap pada saat ini juga, dan air mata menggenang di matanya. Perasaan itu bergolak di dadanya, bersiap untuk meledak—tetapi dia menahannya.
“Seseorang… selamatkan aku…” gumam Liselotte dengan suara serak, memohon penyelamatan.
Pada saat itu, Aishia muncul secara misterius di ruangan yang kosong. “Liselotte.”
“Ya…”
“Kamu tidak apa-apa?”
“Sepertinya tidak.”
Liselotte begitu kebingungan sampai-sampai dia menjawab Aishia tanpa berpikir panjang. Mungkin itulah sebabnya dia menunjukkan sisi lemah dari dirinya yang biasanya dia sembunyikan.
“Maafkan aku. Aku melihat seluruh jalannya pertemuan itu, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu,” Aishia meminta maaf dengan penuh penyesalan.
“Tidak apa-apa… Tunggu, apa? A-Aishia…? Benarkah itu kamu?” Liselotte akhirnya menyadari dengan siapa dia sedang berbicara.
“Yup.”
Kenapa Aishia ada di sini? Bagaimana dia bisa menyusup masuk? Dia baru saja bilang kalau dia melihat seluruh pertemuan itu, tapi bagaimana caranya dia melakukan hal tersebut? Berbagai macam pertanyaan memenuhi kepalanya, membuat dia semakin bingung.
“A-Apa?!” Dia mengeluarkan suara keterkejutan yang jelas yang jarang sekali terdengar.
“Tenang. Aku datang untuk menyelamatkanmu.”
“T-Tunggu sebentar. Apa maksud dari semua ini?” tanya Liselotte dengan suara pelan.
“Aku menunggu sampai kamu sendirian. Makanya aku ada di sini sekarang. Kita akan menyelinap keluar dari sini bersama-sama.”
“Kamu keluar… dari mana? Sudah berapa lama kamu di sini?”
“Aku akan jelaskan detailnya setelah kita di luar. Haruto dan Aria sedang menunggu.”
“Eh? Sir Haruto dan Aria juga ada di sini…?”
Mereka datang untuk menyelamatkannya… Menyadari hal itu memenuhinya dengan kebahagiaan yang tak terlukiskan. Mungkinkah ini mimpi? Dia mencubit pipinya seolah untuk memeriksa.
“Ini bukan mimpi.”
“Sepertinya begitu…”
“Aku di sini. Kamu tidak sendirian.”
“A-Aishia…”
Tidak mampu menahan diri lagi, air mata tumpah dari mata Liselotte.
“Jangan menangis.”
“Maaf…”
“Jangan meminta maaf. Tunggu, aku sedang menghubungi Haruto sekarang.” Aishia mengangkat tangan kirinya untuk menyuruh Liselotte menunggu.
“Apa…?”
Apa yang sedang Aishia katakan? Bagaimana mungkin dia bisa menghubunginya dari tempat ini? Liselotte memiringkan kepalanya karena bingung.
“…” Aishia berdiri dalam keheningan sejenak.
“Haruto memberikan lampu hijau. Penyelidikan pendahuluan sudah selesai, dan mereka siap berangkat. Yang tersisa hanyalah aku membawamu keluar dari sini.” Sepertinya dia benar-benar berhasil menghubunginya.
“B-Begitu ya?”
Sebenarnya apa yang sedang terjadi?
“Aku akan melumpuhkan para penjaga di luar ruangan. Tunggu sebentar di sini.” Begitu mengatakannya, Aishia berubah menjadi partikel-partikel cahaya dan menghilang.
“Eh… ?!” Mata Liselotte terbelalak kaget. Hanya berselang beberapa detik kemudian, pintu ruangan itu terbuka dengan suara klik.
“Aku sudah membuat mereka pingsan.” Aishia kembali masuk ke dalam ruangan setelah melumpuhkan penjaga pria tersebut. Dia menutup pintu di belakangnya dan membaringkannya di lantai.
“P-Penjelasan. Tolong beri aku penjelasan… Tidak harus sekarang, tapi nanti saja.”
Liselotte sempat terdiam sesaat, lalu memutuskan untuk berhenti berpikir untuk saat ini. Dia meminta penjelasan nanti saja dan memantapkan hatinya untuk menghadapi segala kejutan yang mungkin terjadi mulai saat ini dan seterusnya.
“Baiklah. Aku akan membuat kita tak kasat mata sekarang. Jangan lepaskan tanganku, dan jangan membuat suara keras.”
“Baik!”

Dia bisa menjadi tak kasat mata? Wow! Pikiran-pikiran sederhana melintas di benak Liselotte saat dia memberikan jawaban singkat namun gembira, menggenggam erat tangan kiri Aishia seperti yang diperintahkan.
“…” Aishia membuka pintu dengan tangan kanannya dan dalam keheningan mengaktifkan seni roh miliknya. Angin lembut menyelimuti mereka.
Sesaat kemudian, Liselotte tidak bisa lagi melihat sekelilingnya. Rasanya seolah-olah dia terpisah dari dunia oleh lapisan kabut. Aishia, yang dapat memvisualisasikan esensi sihir, tidak mengalami masalah untuk melihat ke luar kabut tersebut. Pada saat yang sama, siapa pun di luar kabut tidak akan dapat melihat mereka yang berada di dalamnya.
Apa…? Ini bukan sihir?
Kebingungan di benak Liselotte digantikan oleh rasa takjub. Tidak akan ada habisnya jika dia terus merasa terkejut dengan setiap hal yang terjadi.
“Jangan sentuh kabut yang bisa kamu lihat. Ruangannya akan bergetar dan itu akan membatalkan ilusinya.”
“B-Baik.”
Ada satu hal yang dia pahami: Haruto, Aishia, dan Aria adalah orang-orang terkuat di Kerajaan Galarc saat ini. Dan mereka bertiga saat ini sedang mempertaruhkan nyawa demi dirinya. Dia telah menderita sendirian sejak dibawa ke negara ini, membuat kebahagiaannya semakin berlipat ganda karena ketiganya datang untuk menyelamatkannya. Mereka begitu bisa diandalkan, hingga dia tidak bisa menahan emosinya yang meluap-luap.
“Terima kasih banyak.” Alih-alih menjawab dengan suara keras, Liselotte meremas tangan Aishia dengan erat.
“Sama-sama. Yang tersisa sekarang adalah berjalan dengan tenang menemui Haruto dan Aria. Ayo pergi.” Aishia menarik tangan Liselotte, membimbingnya menuju masa depan yang cerah.
◇ ◇ ◇
Pada saat yang sama, Rio dan Aria sedang menunggu di sebuah gang sepi yang berjarak sekitar lima menit dari gedung tempat Liselotte disekap. Mereka sudah siap untuk melaksanakan rencana penyelamatan mereka, jadi Rio mengenakan jubah wyvern hitam miliknya.
“Mereka baru saja keluar dari kamar Liselotte. Kita akan bisa bertemu dengan mereka paling cepat dalam lima menit. Akhirnya saatnya tiba,” lapor Rio kepada Aria. Mereka bertindak sebagai pengalih perhatian dan pengawal jika sesuatu terjadi, tetapi jika Liselotte dan Aishia berhasil meninggalkan ruangan dalam keadaan tak kasat mata, seharusnya mereka tidak akan mengalami masalah untuk sampai ke sini.
Begitu mereka bertemu, rencana selanjutnya adalah melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki jika tidak ada yang menyadari hilangnya Liselotte, atau terbang ke langit dan melesat pergi jika terjadi keributan.
“Semoga saja mereka bisa sampai ke tempat kita tanpa ada masalah…”
“Selama seni roh tembus pandang itu aktif, akan sulit mendeteksi mereka kecuali memiliki indra yang sangat tajam. Aku yakin semuanya akan baik-baik saja.”
“Jika boleh bertanya karena penasaran… Seperti apa sebenarnya wujud mereka saat menghilang?” tanya Aria dengan ragu-ragu.
“Apakah kamu ingin melihatnya sendiri?”
Rio mengaktifkan seni rohnya. Angin lembut menyelimuti tubuhnya. Dari pandangan Aria, udara di tempat Rio berdiri berdistorsi selama beberapa detik sebelum dia benar-benar lenyap. Ruang kosong tanpa distorsi apa pun tertinggal di sana. Bagaimanapun kamu melihatnya, tidak ada tanda-tanda siapa pun berdiri di sana.
“Begitu ya… Itu luar biasa. Kamu menyatu dengan latar belakang dalam hitungan detik.” Mata Aria membelalak.
“Ini hanya membuatmu tidak terlihat oleh mata, jadi suara masih bisa didengar dan keberadaan masih bisa dirasakan. Ilusi ini hanya menghilangkan informasi visual. Gerakan yang kuat akan menghilangkan efek tembus pandang, dan apa pun yang menyentuh penghalang akan membuat udara bergetar. Siapa pun yang dapat memvisualisasikan esensi sihir akan menyadari keabnormalan itu. Ini bukanlah trik yang mahakuasa, jadi kita tidak bisa terlalu mengandalkannya…” kata Rio, menyebutkan kekurangan dari seni roh tembus pandang.
Mereka tidak benar-benar menghilang dari bidang eksistensi ini seperti ketika seorang roh berubah menjadi wujud roh mereka, jadi itu sulit digunakan dalam pertarungan. Melawan pengguna seni roh yang dapat memvisualisasikan esensi, itu tidak lebih dari sekadar trik sulap.
“Itu tetap sangat berguna, menurutku. Sangat sulit mendeteksi keberadaanmu dari jauh. Siapa pun yang tidak tahu tentang trik itu akan tertipu mentah-mentah. Kita juga bisa membuat rencana penyelamatan yang begitu berani berkat hal itu,” kata Aria, merasa kagum.
Tepat pada saat itulah mereka mendengarnya.
Ledakan dahsyat bergemuruh dari arah gedung utama—beberapa kali berturut-turut. Segera setelah itu…
Maafkan aku, Haruto. Seseorang berhasil menembus seni tembus pandang ini.
Sebuah pesan telepati dari Aishia mencapai Rio.
◇ ◇ ◇
Sesaat sebelum Rio memperlihatkan seni roh tembus pandang kepada Aria, Aishia dan Liselotte sedang menyusuri mansion tersebut.
Kita benar-benar tidak terlihat oleh siapa pun… Luar biasa.
Mereka melewati banyak prajurit yang sedang berpatroli di gedung itu, tetapi tidak seorang pun yang menyadari keberadaan mereka berdua.
Satu-satunya masalah adalah penjaga di depan kamar Liselotte yang menghilang—jika ada yang menyadari hal itu dan memeriksa bagian dalam kamar, mereka akan tahu bahwa Liselotte telah hilang. Namun, kecil kemungkinannya hal itu terjadi dalam waktu singkat saat mereka meninggalkan gedung. Tidak ada tanda-tanda orang yang bergegas melewati koridor juga.
Namun, masalah sebenarnya terjadi tepat ketika mereka hendak melewati pintu dan pergi ke luar. Mereka sedang berjalan melintasi halaman menuju gerbang, ketika…
“Hei, sanderanya mencoba kabur! Itu Liselotte! Liselotte Cretia melarikan diri!” seseorang berteriak dengan lantang.
Aishia belum menghilangkan sihir tembus pandang mereka. Dia mengedarkan tatapannya yang tajam ke sekeliling mereka.
“Aku akan menggendongmu.” Dia tiba-tiba mengangkat Liselotte dengan gaya gendongan pengantin. Begitu dia melakukannya, teknik tembus pandang itu dibatalkan. Tidak lama setelah dia melakukan itu—
“Aah!”
Bola-bola cahaya berdiameter puluhan sentimeter menghujani tempat dia berdiri. Boom! Suara ledakan menggelegar.
Itu bukan hanya satu bola cahaya yang menghujainyaditembakkan yang kedua, ketiga, keempat, dan kelima secara beruntun. Masing-masing memiliki daya hancur yang cukup besar, dan bola-bola itu jatuh dengan kecepatan sedang. Dengan Liselotte di dalam pelukannya, Aishia melangkah ringan untuk menghindari setiap tembakan. Setiap bola mendarat dengan ledakan hebat, mencabik-cabik tanah. Aishia mendongak ke langit, mewaspadai serangan susulan, tetapi rentetan serangan itu tampaknya telah berakhir. Namun, rangkaian serangan tersebut telah mengirimkan suara gemuruh ke seluruh kota. Wajar saja, para penjaga di sekitar mereka telah menyadari kejanggalan itu dan sedang mendekati mereka.
Maafkan aku, Haruto. Seseorang berhasil menembus teknik tembus pandang ini, Aishia langsung melapor kepada Rio.
Rencana B. Terbanglah segera dan utamakan keselamatan Liselotte. Aku akan mem-backup kalian dari udara, jawab Rio dengan cepat.
“Liselotte, kita lakukan Rencana B.”
“R-Rencana B?”
Liselotte tampak bingung saat pertama kali mendengar tentang Rencana B.
“Kita mulai.” Aishia menjejakkan kaki ke tanah, lalu melompat ke atas. Ia semakin menambah ketinggiannya, tepat saat para pengawal kediaman berkumpul di luar bangunan. Erica, Andrei, and Natalia berada di antara mereka.
“T-Tunggu… Apa? Apa?!”
Mereka telah melompat setinggi beberapa meter dengan mudah. Lompatan itu tampaknya dilakukan tanpa tujuan yang pasti, jadi Liselotte awalnya bertanya-tanya ke mana arah lompatan mereka. Pemikiran itu kemudian diikuti oleh kesadaran bahwa mereka tidak jatuh—sebaliknya, mereka naik semakin tinggi melawan gravitasi, membuat matanya terbelalak.
Liselotte telah memutuskan untuk tidak lagi merasa terkejut oleh segala hal, namun rentetan kejadian yang melampaui akal sehatnya itu membuatnya tercengang.
Tepat pada saat itu, bola-bola cahaya melintas di atas kepala Aishia dalam lengkungan yang lembut. Ukurannya lebih kecil dari yang sebelumnya, tetapi jumlahnya jauh lebih banyak, dan gerakannya jauh lebih cepat.
“Guh…” Aishia tiba-tiba menurunkan ketinggiannya, menyelusup di bawah terjangan bola-bola cahaya tersebut. Jika ia terus naik seperti sebelumnya, ia akan telak terkena serangan itu.
Pada saat berikutnya, lebih banyak bola cahaya yang menghujani mereka. Kali ini mereka tidak menghujani ke bawah untuk menekan penerbangannya, melainkan langsung ke arahnya. Itu adalah serangan yang jelas diperhitungkan untuk mengendalikan pergerakannya.
“Pegang aku erat-erat.”
“B-Baik!”
Aishia melesat pergi dengan gerakan zig-zag yang mendadak. Namun, bahkan saat ia menghindari bola-bola cahaya itu, lebih banyak lagi yang ditembakan ke arahnya tanpa henti.
Haruto, ada musuh yang menembakkan serangan jarak jauh untuk mencegahku mendapatkan ketinggian. Seorang pengguna seni roh yang terampil. Kurang lebih orang yang sama yang bisa melihat tembus pandangku.
Aishia menghubungi Rio sembari menghindari serangan-serangan tersebut. Dia sebenarnya mampu menangani situasi itu sendirian, tetapi sulit untuk melakukan gerakan halus dan meningkatkan kecepatannya sambil menggendong Liselotte.
Aku mengerti, jawab Rio. Pada saat yang sama, Saint Erica melesat naik dari tanah ke arah Aishia, yang sedang terbang di ketinggian rendah sekitar lima meter.
“Kau tidak akan bisa kabur.”
Dia mengayunkan tongkat uskupnya, seolah-olah berniat untuk menjatuhkan mereka berdua kembali ke tanah dengan paksa.
Kami sudah tiba, suara Rio bergema di kepala Aishia saat seseorang melompat turun ke arah Saint Erica. Itu adalah Aria.
“Hah?!”
Erica menyadari bayangan di atasnya dan mengangkat tongkatnya di atas kepala untuk bersiap. Tongkat itu langsung berbenturan dengan pedang yang diayunkan Aria dengan sekuat tenaga.
“Haaah!” Aria menggunakan momentum kejatuhannya untuk menambah kekuatan fisik dari tubuhnya yang diperkuat, mengayunkan pedangnya dengan penuh semangat. Karena terlambat bersiap, Erica terkena hantaman serangan itu.

“Ugh…” Tubuhnya terempas ke bawah, dan ia membentur tanah dengan keras. Ia tidak mampu mendarat dengan aman dan memantul hebat, berguling di atas tanah. Aria mendarat dengan ringan setelahnya.
Sementara itu, Rio jatuh di samping Aishia dan mengayunkan pedangnya yang diselimuti angin, menebas bola-bola cahaya yang menghujani ke arahnya.
Aria… Tuan Haruto! Liselotte menatap bergantian ke arah mereka berdua, diliputi oleh emosi.
Aishia. Perubahan rencana lagi. Aku dan Aria akan mengambil alih di sini. Terbanglah ke luar kota seperti ini. Jangan khawatir tentang tembakan jarak jauh. Aku akan menangkis semuanya.
Begitu Rio mengirimkan pesan itu, ia menciptakan sendiri lusinan bola cahaya. Diameter ukurannya kurang dari sepuluh sentimeter, dan jumlahnya pas tidak sampai menghalangi pandangannya.
Baiklah. Aishia mengangguk, lalu mempercepat lajunya menuju batas luar kota.
“J-Jangan biarkan mereka kabur! Pergi! Kejar mereka! Seseorang, bantu Saint Erica!” Andrei, yang sempat tercengang oleh rangkaian kejadian yang terbentol di depan matanya, kembali sadar dan memberikan perintah kepada para pengawal di sekitar.
“Tidak apa-apa. Aku tidak akan dikalahkan oleh hal seperti ini.” Erica perlahan bangkit berdiri, lalu mengeraskan suaranya untuk menyatakan keselamatannya. Ia membersihkan debu dari pakaiannya dengan kesal, sepertinya sama sekali tidak mengalami kerusakan.
“Saint Erica!”
“Oh, Saint Erica!” Orang-orang yang menonton berseru kagum. Erica mengangkat tongkatnya seolah untuk membalas seruan mereka.
Dia menghantam tanah dengan kekuatan sebesar itu dan bangkit tanpa goresan sedikit pun. Dia setangguh seperti yang digambarkan oleh Aria… Rio mengamati Erica di bawahnya dan menelan ludah.
“Aku tadinya bertanya-tanya siapa yang membuat keributan ini, tapi sekarang aku mengerti. Dan anak laki-laki di atasku adalah anak dari Kastil Galarc. Jadi kalian mengikutiku?” Erica memandang bergantian antara Aria yang berdiri di hadapannya dan Rio yang melayang di atasnya, lalu menghela napas lelah.
“Serahkan saint itu kepadaku!” teriak Aria kepada Rio. Sebagian dari niatnya mungkin agar Rio berjaga-jaga dengan kemampuannya untuk menguasai langit dan bumi, tetapi ia pasti memiliki emosi tersendiri terhadap Erica setelah apa yang terjadi di Amande. Niat dan tekad untuk mengakhiri hidup Erica jika situasi mengharuskannya terlihat di dalam matanya.
“Dimengerti… Aku tidak akan membiarkan siapa pun ikut campur.”
Bukan para prajurit di tanah, maupun pengguna seni roh yang bersembunyi untuk memberikan dukungan jarak jauh. Rio mengarahkan perhatiannya ke seluruh area dengan tatapan tajamnya.
“Orang-orang ini adalah pelayan bangsawan Galarc yang datang untuk menjemput Liselotte Cretia! Aku akan menjatuhkan hukuman ilahi kepada mereka!”
Dengan seruan itu, Erica mengangkat tongkat uskupnya dan menerjang ke arah Aria. Pada saat yang begitu pula, Aria melangkah maju untuk memperpendek jarak di antara mereka. Begitu mereka berada dalam jangkauan satu sama lain, mereka mengayunkan senjata mereka dan memulai pertarungan sengit. Erica memiliki kekuatan fisik yang lebih besar, tetapi Aria mengimbanginya dengan gerakan dan teknik bertarung yang lebih unggul.
Aria mengatakan bahwa Saint Erica memiliki peningkatan tubuh fisik yang kuat, tetapi gerakannya masih seperti seorang amatir. Aku setuju—selama tidak ada yang mengganggu mereka, pertarungan ini akan dimenangkan oleh Aria.
Rio mengamati gerakan Erica dari atas dan menilai aman untuk menyerahkannya kepada Aria.
“B-Bantu Saint Erica sekarang! Tangkap wanita kurang ajar itu!” Andrei memerintahkan para prajurit yang berkumpul di halaman kediaman, mencoba menghalangi pergerakan Aria dengan jumlah mereka.
“Raaaargh!” Para prajurit mulai menyerbu Aria dari segala arah. Jika dibiarkan, medan pertempuran akan menjadi kacau balau.
Dengan memprediksi pergerakan mereka, Rio memecah bola-bola cahaya yang telah ia pasang di sekitarnya, menjatuhkannya seperti hujan ke arah para prajurit dari ketinggian sepuluh meter. Tidak satupun dari bola cahaya itu memiliki kekuatan yang cukup untuk membunuh kecuali jika mengenai titik vital, tetapi mereka memiliki kekuatan yang cukup untuk menerbangkan seorang pria bertubuh besar sejauh beberapa meter jika terkena secara langsung.
“Guh!”
“Whoa!”
Setiap bola cahaya tepat mengenai sasaran, membuat para prajurit pingsan. Dalam rentang waktu beberapa detik, lebih dari belasan prajurit jatuh ke tanah. Masih ada prajurit yang bisa berdiri, tetapi…
“Eek…”
Mereka ragu-ragu melihat rekan-rekan mereka diterbangkan oleh hujan cahaya yang muncul dari ketiadaan. Begitu mereka menyadari bahwa mendekati Aria berarti berada di bawah tembakan Rio, langkah kaki mereka terhenti. Rio mengisi ulang bola-bola cahayanya begitu ia menembakkannya, sehingga tekad bertarung mereka perlahan-lahan runtuh.
“A-Apa yang kalian lakukan?! Bertarunglah! Jika kalian tidak bisa mendekati wanita kurang ajar itu, bidik pria yang terbang di sana. Lepaskan mantra kalian, panah kalian!” Andrei kembali memerintahkan para prajurit di sekitarnya.
“Ngh…”
“Glacies Projectilis!”
Beberapa orang yang memiliki sarana untuk menyerang dari jarak jauh menarik busur mereka dan merapalkan mantra untuk sihir serang tingkat rendah, membidiknya ke arah Rio. Ia berputar di udara, berputar untuk melihat ke daratan dari sudut 360 derajat. Begitu ia memastikan dari mana serangan yang tersebar itu berasal, ia mengirim semua bola cahayanya melesat secara bersamaan. Bola-bola itu melesat tak menentu, seolah-olah memiliki kehendak sendiri, saat mengejar setiap mantra serangan dan panah. Beberapa bola tambahan bahkan meluncur untuk melakukan serangan balik kepada para prajurit, membuat mereka pingsan.
“Se-Sebenarnya apa arti pria itu…?”
“Bagaimana bisa seorang manusia melayang di udara?”
“Bola-bola cahaya apa itu?”
Rio telah menguasai sepenuhnya keadaan di sekitarnya. Merasakan hal itu, para prajurit yang tersisa di tanah kehilangan tekad untuk bertarung.
“Apakah tidak ada yang bisa kita lakukan selain menonton…?” Andrei jatuh berlutut dalam keputusasaan.
Tanpa ada yang mengganggu mereka, pertarungan antara Aria dan Erica menjadi semakin sengit. Erica tetaplah pihak yang lebih kuat dalam kemampuan fisik, tetapi sepertinya Aria yang memegang keunggulan untuk menang. Keterampilan bertarungnya telah memungkinkannya memegang kendali melalui serangan balik.
Pertarungan itu berpihak pada Rio dan Aria. Jika mereka terus seperti ini, hasilnya akan jelas dalam hitungan menit. Namun, entah kenapa, Sang Saint masih belum memperkuat tubuh fisiknya. Kekuatan tersembunyinya masih belum diketahui.
Ada yang aneh. Aku telah menguasai udara ini sepanjang waktu, tetapi orang yang menembak Aishia sama sekali tidak berusaha menyerangku.
Tidak seperti saat Aishia mencoba melarikan diri bersama Liselotte, semua serangan udara telah berhenti. Rio telah mengambil posisi di udara karena dialah yang paling mewaspadai pengguna seni roh misterius tersebut, jadi ia merasa hal ini cukup aneh.
“Sepertinya aku memang berada dalam posisi yang dirugikan di sini. Aku tidak bisa bertarung dengan seluruh kekuatanku.” Erica tiba-tiba berhenti di atas tanah.
“Menolak untuk menerima kekalahanmu?” ucap Aria, berhenti dengan waspada.
“Aku tidak bisa mengeluarkan kekuatanku secara maksimal. Para warga yang seharusnya aku lindungi telah bertumbangan di sekitarku, menggeliat kesakitan. Jika aku menggunakan kekuatanku dalam kondisi seperti ini, mereka akan terbunuh. Pria di langit ini mungkin terlihat seperti seorang pria budiman, tetapi metode yang digunakannya agak licik,” kata Erica sambil mendongak.
Aishia, bagaimana situasi di sana? Ada hal yang aneh? tanya Rio, mengabaikan Erica.
Belum ada. Aku sudah mencapai ujung paling selatan dari jangkauan komunikasi kita. Dengan kata lain, dia berada sekitar satu kilometer di sebelah selatan Rio—jarak yang pendek di luar kota, kemungkinan besar.
Baiklah. Pengguna seni roh yang menghalangimu tadi telah berhenti menyerang di sini. Mereka mungkin pergi ke arahmu, jadi berhati-hatilah. Kita akan segera menyelesaikan urusan di sini.
Baik.
Dengan begitu, transmisi mereka pun berakhir.
“Berpura-pura kalau aku tidak ada? Sungguh pria yang dingin,” keluh Erica dari bawah.
“Aku tidak melihat orang yang mengganggu pelarianmu sebelum kita tiba. Aku punya firasat buruk tentang hal ini—ayo kita segera mundur,” kata Rio kepada Aria di bawah sambil mengabaikan perkataan Erica sekali lagi.
“Dimengerti,” jawab Aria.
Jika dia harus memilih antara melawan Saint Erica dan memastikan keselamatan Liselotte, dia akan memprioritaskan yang terakhir. Dia tidak akan melupakan hal itu karena kebenciannya. Aria masih setenang biasanya.
“Oh? Apa kalian pikir bisa kabur begitu saja setelah membuat keributan besar di wilayah musuh?” Erica mengangkat tongkatnya, menyeringai menantang.
“Kalianlah yang memulainya di kerajaan kami. Kalian tidak punya hak untuk mengkritik orang lain,” balas Aria spontan.
“Hehehe…”
Aria mengangkat pedangnya, bersiap menghentikan Erica kapan pun diperlukan. Namun, pada detik berikutnya, Rio meluncurkan seluruh bola cahayanya ke tanah, mengelilingi Aria dalam bentuk kerucut. Dinding bola cahaya itu memisahkan Aria dari Erica, dan dalam sekejap mata Rio turun ke tanah untuk mengangkat Aria ke dalam gendongannya.
“Ayo pergi.”
Dia membubung ke udara sekali lagi, melanjutkan penerbangan hingga ketinggian sekitar sepuluh meter.
Masih belum ada serangan yang menghalangi pelarian kita…
Pada saat yang sama, tidak ada laporan tentang serangan kejutan dari Aishia. Kenapa? Rio memutar otak mencari alasan sambil bergegas untuk menemui Aishia dan Liselotte. Sementara itu…
Jadi dia tidak bisa menggunakan kekuatannya sepenuhnya dengan orang-orang di sekitar. Tapi jika dia membiarkan mereka meninggalkan kota, dia tidak akan berdaya… Apa yang akan dilakukan oleh sang Saint sekarang, hm?
Dari langit yang jauh di atas, Reiss sedang mengamati semuanya.
◇ ◇ ◇
Sementara itu, di taman kediaman tepat setelah Rio dan Aria pergi, suasana suram menyelimuti udara. Setiap orang di taman itu baru saja merasakan seperti apa rasanya putus asa. Itu adalah kekalahan pertama mereka sejak revolusi, dan itu meresap ke dalam diri mereka bagaikan racun. Republik Demokratik Suci Erica kekurangan pengalaman tempur yang nyata; sebagian besar pertempuran yang terjadi selama revolusi dimenangkan dengan kekuatan Erica—itu adalah kemenangan yang tidak dapat dicapai tanpa dirinya. Dengan demikian, para prajurit jauh lebih tidak mahir dibandingkan dengan tentara dari kerajaan lain. Lawan mereka kali ini adalah lawan yang buruk, namun dia telah memberi mereka pelajaran yang jelas. Mereka benar-benar tidak siap. Benar-benar tidak berdaya.
“Aah! Oh, Saint Erica! Maafkan aku, maafkan kami! Kami tidak berdaya melawannya! Kami tidak bisa berbuat apa-apa, dan membiarkanmu bertarung sendirian!” Andrei terguncang bagaikan pria yang tenggelam di rawa keputusasaan, meminta maaf kepada Erica dengan sekuat tenaga.
“Tidak apa-apa, Andrei. Semuanya juga. Kalian semua bertarung dengan berani.”
Erica memberi mereka senyuman ramah keibuan dan menggelengkan kepalanya.
“Saint Erica!”
“Saint Erica!”
“Saint Erica!”
Semua orang memanggil nama Erica, mencari keselamatan.
“Liselotte Cretia ternyata adalah seorang penyihir! Penyihir! Dia membawa malapetaka ke negeri ini! Dia adalah simbol bencana!” Wajah Andrei berkerut karena amarah yang membunuh saat dia menyatakan keberadaan Liselotte sebagai kejahatan itu sendiri.
“Aku minta maaf. Akulah orang yang membawanya ke sini. Ini semua terjadi karena penilaianku yang buruk.” Erica tiba-tiba memasang ekspresi sedih saat dia mengakui kesalahannya sendiri.
“Tidak! Sama sekali tidak! Siapa yang bisa tahu? Siapa yang bisa tahu bahwa sikapnya yang lembut dan bagaikan seorang santa menyembunyikan wajah aslinya sebagai penyihir! Dia bersimpati kepada rakyat dan membacakan kata-kata mengesankan kepada kita untuk memenangkan hati kita! Perempuan itu adalah penyihir licik!” Andrei bersikeras bahwa Erica tidak patut disalahkan dengan mengungkapkan penghinaan terhadap Liselotte.
“Mereka yang menyerang kita hari ini adalah kekuatan yang dimiliki oleh kelas bangsawan jahat dari sebuah negara besar. Kejahatan yang kita kalahkan melalui revolusi sangatlah kecil jika dibandingkan. Selama negara-negara besar seperti mereka ada, negeri kita akan selalu berada dalam bahaya.”
“Oh, ooh! Sungguh kita sangat bodoh! Bagaimana mungkin kita begitu dungu?!”
“Kamu tidak boleh menjadi sombong, Andrei. Aku selalu mengingatkanmu—manusia adalah makhluk yang bodoh.”
Andrei terkesiap, lalu tampak semakin menyesal. “Aku benar-benar, benar-benar bodoh… Bagaimana aku bisa begitu buta…”
“Namun kamu juga tidak boleh melupakan ini: manusia hanya mampu menghadapi diri mereka yang sebenarnya ketika mereka menghadapi keputusasaan mereka. Jadi hadapilah! Belajarlah, tanpa melarikan diri! Tentang dirimu sebagai seorang manusia, tentang emosimu yang tetap ada setelah keputusasaan itu. Kemudian gunakan emosi itu sebagai bahan bakar untuk melangkah maju! Apakah kamu masih memiliki keinginan untuk terus bergerak? Demokrasi tidak akan berkembang tanpa menghancurkan sepenuhnya kelas bangsawan di benua ini. Kamu seharusnya sangat menyadari hal itu. Apakah kamu akan membiarkan hal itu menghentikanmu?! Apakah kamu masih ingin menciptakan dunia untuk rakyat?!” Erica mengangkat tongkat uskupnya tinggi-tinggi, mengipasi emosi para penontonnya dengan pertanyaan-pertanyaan.
“A-Aku ingin maju!”
“Kami ingin terus melangkah!”
“Tapi bagaimana caranya?!”
“Apakah kita punya kekuatan untuk melakukan hal semacam itu?!”
Mereka yang mendengarkannya mulai meninggikan suara mereka.
“Kalian punya! Aku mengatakan ini kepada mereka: apakah kalian pikir kalian bisa kabur begitu saja setelah membuat keributan sebesar itu di wilayah musuh? Jadi, jangan khawatir—kalian memiliki aku bersama kalian! Bisakah kalian mempercayaiku? Padaku, dan pada keajaiban-keajaiban yang telah kulakukan hingga saat ini?!”
“Tentu saja!”
“Tanpa ragu!”
“Aku percaya!”
“Kami akan mempercayaimu!”
“Aku juga!”
Suara-suara itu perlahan-lahan menjadi semakin bersemangat.
“Kalau begitu, aku akan memperlihatkan keajaiban lain kepada kalian hari ini! Aku berencana menyimpan kekuatanku untuk menyerang negara-negara besar, tapi mau bagaimana lagi. Negara besar telah menginjak-injak tanah kita!”
Dengan tongkat uskup di tangan kanannya, Erica merentangkan kedua lengannya lebar-lebar dan menengadah ke langit.
“Pelindung yang lemah, rakyat, negara ini! Binatang ilahi terhebat, binatang penjaga, akan melindungi rakyat dan membasmi segala kejahatan! Sekarang adalah waktunya penghakiman! Aku memanggilmu, wahai binatang buas daratan!”
Sebuah bayangan raksasa langsung menutupi halaman dalam bagaikan awan.
Komentar