Seirei Gensouki Volume 13 Bab 8: Keberadaan Batu Amethyst Bahasa Indonesia – Litenovel

Seirei Gensouki Volume 13 Bab 8: Keberadaan Batu Amethyst Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi

Bab 8: Keberadaan Batu Amethyst

Sementara itu, saat Rio sedang menuju ke Kerajaan Paladia berdasarkan informasi dari Nidoll…

Christina sedang mengunjungi Galtuuk, ibu kota Kerajaan Galarc, untuk menyampaikan salamnya sebagai perwakilan baru Restorasi. Kunjungan itu juga bertujuan agar dia bisa menyampaikan permintaan maaf dan penjelasan atas tindakan Charles yang mengerahkan pasukan Beltrum di dekat perbatasan. Dia ditemani oleh Flora, Hiroaki, and Roanna. Begitu semua urusan selesai, akhirnya tiba waktunya untuk kembali ke Rodania.

Saat ini, Christina dan rekan-rekannya sedang berada di atas kapal udara berpesona yang terbang di antara dua kapal pengawal lainnya.

Christina terus memeriksa beberapa dokumen penting bahkan setelah naik ke kapal, tetapi begitu sampai pada titik yang pas untuk berhenti, dia memutuskan untuk beristirahat bersama Flora. Tidak ada siapa pun di ruangan itu selain mereka berdua dan Vanessa.

“Akhirnya kita bisa pulang,” keluh Christina dengan lelah sambil menyeruput tehnya.

“Ya,” jawab Flora, sama-sama kelelahan akibat kunjungan mereka.

“Bagaimana kalau kita mengambil libur sejenak begitu kita kembali?”

“Baik!” Flora mengangguk senang.

“Kita mungkin tidak bisa mengambil libur terlalu banyak hari, tapi apakah ada hal yang ingin kamu lakukan selama liburan nanti?” tanya Christina.

“Aku sudah senang bisa bersamamu… Tapi bagaimana kalau pesta makan malam atau pesta teh? Umm, dan kita bisa mengundang Sir Hiroaki serta Roanna.” Setelah menjawab seperti itu, Flora memperhatikan reaksi Christina.

“Tentu saja…” Christina mengangguk dengan cemas. Dia sempat memarahi Hiroaki usai pertarungan tiruannya dengan Rio karena kehilangan kendali atas Senjata Ilahinya dan menyebabkan kekacauan, jadi pria itu sekarang sangat sadar bahwa dirinya tidak akan mudah dihadapi. Dia telah mencoba mengembangkan hubungan mereka dengan mengadakan beberapa acara, namun meskipun pria itu hadir, sikap ketusnya sangat mencolok. Terlebih lagi, ketika Flora mencoba memberitahunya alasan mengapa Christina marah—

“Tentu saja kamu akan membela kakakmu.”

Itulah yang dikatakan pria itu sebelum menjaga jarak dari tunangannya, Flora, juga. Hari-hari ini, dia selalu bersama Roanna. Status tahanan rumahnya telah dicabut, jadi dia bisa ikut pergi ke Kerajaan Galarc bersama mereka, tetapi bahkan sekarang dia mengurung diri di ruangan lain sendirian bersama Roanna.

Ada batas atas apa yang bisa dimaafkan, bahkan untuk seorang pahlawan. Memaafkan tindakan yang tak termaafkan hanya akan merusak kepribadian Hiroaki, jadi dia harus mempelajari perbedaan ini sebelum akhirnya membuat semakin banyak musuh.

Itulah kebenaran sederhana yang ingin Christina sampaikan kepadanya.

Namun, bahkan hal sedehana seperti itu pun terasa sulit. Dia telah berusaha menjelaskan semuanya dengan hati-hati sebisa mungkin, memberikan contoh nyata, tetapi kata-katanya sepertinya tidak sampai ke hati Hiroaki. Mungkin ceramahnya dianggap sebagai gangguan yang tidak diharapkan oleh pria itu. Dia mungkin memang tidak memiliki daya tarik untuk mewujudkannya sejak awal.

Tidak ada lagi yang bisa diperbuat soal itu…

Christina menghela napas lesu.

“Permisi.”

Pintu terbuka tanpa diketuk.

“Kurang ajar! Beraninya kalian mengganggu Putri Christina dan Putri Flora?!” Vanessa secara refleks langsung marah, meraih pedang yang tersarung di pinggangnya. Menerobos masuk ke kamar seorang bangsawan kerajaan tanpa mengetuk lebih dari sekadar masalah tidak tahu sopan santun.

“Ya, aku masuk dengan menyadari hal itu,” kata pria yang masuk tersebut dengan santai. Selain itu, dua orang lagi ikut menerobos masuk di belakangnya. Ketiganya mengenakan jubah hitam dengan masker kain, sehingga wajah mereka tidak terlihat.

“Augendae Corporis! Sebenarnya siapa kalian?” Vanessa mengucapkan mantra untuk meningkatkan kemampuan fisiknya sebelum menghunus pedangnya dan menuntut identitas mereka. Christina berdiri di antara Flora dan para pria itu untuk melindunginya.

“Tidak ada orang yang cukup bodoh untuk menjawabnya dengan jujur, kan?” cibir pria yang berada di paling depan.

“Seharusnya ada ksatria di atas kapal ini,” kata Christina, mendorong Flora agar berdiri di belakangnya.

“Semua orang yang kami temui di jalan telah dikirim dengan damai ke liang kubur. Mereka sedikit terlalu lalai, bukan begitu? Hanya karena kalian berada di kapal bukan berarti tidak ada musuh.”

Dua orang lainnya di belakang pria itu tertawa mengejek.

“Putri Christina, Putri Flora. Tetaplah di belakangku di sudut ruangan.” Vanessa bersiap dengan pedangnya sambil menunjukkan ekspresi tajam.

“Kemarilah, Flora.” Christina segera meraih tangan Flora dan membawanya ke sudut, lalu menyuruhnya berdiri di belakangnya untuk melindunginya. Vanessa dengan sigap bergerak ke sudut untuk berdiri sebagai benteng yang melindungi mereka.

“Ohoho! Reaksi standar saat diserang di dalam ruangan memang memperkuat pertahanan kalian. Yah, seseorang mungkin akan menyadari keributan ini jika kita terlalu lama, jadi mari kita selesaikan ini dengan cepat.” Pria di depan memberi isyarat dengan dagunya, dan dua orang di belakangnya berpencar ke kiri dan ke kanan untuk mengepung mereka. Pria itu juga melangkah mendekati kedua gadis tersebut.

“…”

Kewaspadaan Vanessa meningkat, dengan cepat ia mengarahkan ujung pedangnya ke antara ketiga pria tersebut sebagai ancaman untuk menjatuhkan orang pertama yang bergerak, bahkan jika itu berarti harus mempertaruhkan nyawanya sendiri.

“Ooh, menakutkan sekali,” ucap pria bertubuh besar itu dengan nada mengejek.

Apakah alasan mengapa orang-orang ini belum menghunus pedang mereka adalah karena mereka mengincar para putri dalam keadaan hidup, bukan mati? pikir Vanessa dalam hati, mengamati para pria yang semakin mendekat tanpa menghunus pedang mereka.

“Christina…”

“Semua akan baik-baik saja. Aku akan melindungimu.” Christina menggenggam tangan Flora yang mencengkeram lengan bajunya dengan gugup.

“Haaah!” Pria yang berdiri di depan berteriak, memicu ketiganya untuk menerjang Vanessa secara bersamaan. Dia tidak bisa menghadapi serangan mereka bertiga sekaligus.

“Ngh…” Vanessa menyesuaikan kuda-kuda pedangnya dengan gerakan kecil, lalu mengayunkan pedangnya secara horizontal untuk menebas mereka bertiga sekaligus.

Bidikan dan ketepatan waktunya sama-sama sempurna. Tubuh orang pertama terbelah, tubuh orang kedua terseret oleh momentum pedang dan membuat orang ketiga terlempar menabraknya. Itulah yang langsung disimulasikan Vanessa di dalam kepalanya, tetapi—

Clank! Suara logam yang tidak terduga terdengar sebagai gantinya.

“Apa?!” Vanessa menatap dengan terkejut. Pria yang melompat dari sisi kanan telah menarik pedangnya dan menahan ayunan pedangnya.

“Yah, melompat seperti ini jelas akan membuatmu mengayun seperti itu. Sayangnya, kami cukup berpengalaman dalam pertarungan semacam ini. Kami sangat paham cara menghadapinya,” pria di sebelah kanan terkekeh dengan sombong. Dengan senjatanya yang tertahan, tidak ada lagi yang bisa menghentikan dua orang lainnya untuk menerjang Vanessa.

“Tidurlah yang nyenyak bersama yang lain.” Pria bertubuh besar itu menusukkan pisau tersembunyi yang dibawanya ke perut Vanessa. Dia kemudian memutar pergelangan tangannya dan mencabut pisau itu dengan paksa.

“Guh… Ugh…”

Vanessa jatuh berlutut, tidak sanggup menahan rasa sakit.

“Nah, begitu.”

“Gah…!”

Penyerang lainnya menendang bagian samping wajah Vanessa. Tubuhnya terpelanting dengan suara keras menabrak perabotan. Dia pasti membenturkan kepalanya, karena dia langsung terkulai lemas setelah itu.

“Inpulsa Fluctus!” Christina mengulurkan tangannya dan mengucapkan mantra saat para pria itu lengah. Sebuah lingkaran sihir bersinar, menembakkan gelombang kejut listrik yang kuat di depannya.

“Urgh!”

“Guh.”

“Wh…”

Para pria itu menarik pedang mereka dan langsung melompat mundur. Namun, sengatan listrik tersebut tertarik ke arah pedang mereka, menyerang para pria itu.

“Photon Projectilis!” Christina kemudian melancarkan serangan beruntun berupa peluru foton ke arah para pria itu saat mereka bergerak. Beberapa di antaranya tepat mengenai sasaran, membuat para pria itu terpental ke bagian belakang ruangan.

“Kau tetaplah di situ,” perintah Christina kepada Flora, lalu dengan perasaan takut mendekati para pria yang tumbang itu. Dia mengulurkan tangannya di depan, bersiap mengaktifkan mantra setiap saat. Namun, mereka benar-benar terkulai lemas dengan mata tertutup.

…Apakah mereka pingsan? Christina menghela napas lega, melepaskan ketegangan di tangannya.

“Sekarang sudah aman. Kemarilah. Ruangan ini berbahaya. Kita harus memeriksa kondisi Vanessa,” Christina berbalik ke arah Flora dan memerintahkan, tetapi—

“C-Christina!” Para pria yang seharusnya pingsan itu semuanya bangkit secara bersamaan dan mulai berlari.

“Apa…”

Pria yang paling dekat dengannya mencengkeramnya dari belakang, sementara dua pria lainnya di ruangan itu berlari ke arah Flora dan dengan mudah melumpuhkannya dari kedua sisi.

“Wah, wah. Sungguh putri yang kasar sekali dirimu, melepaskan sihir seperti itu tanpa ampun,” kata pria yang telah menangkap Christina dari belakang dengan nada sedikit jengkel.

Wajah Christina berubah murka dengan jijik. “Tentu saja. Aku mengaktifkan sihir itu tanpa peduli dengan nyawa kalian… Bagaimana kalian bisa selamat?”

“Sayang sekali bagimu, kami semua telah memperkuat fisik kami dengan pedang berpesona. Kami menahan hantaman pertama dengan pedang kami dan menetralkan esensi sihir itu, lalu menahan tembakan kedua dengan memperkuat tubuh kami. Meskipun itu tetap terasa sakit.” Pria itu mempererat cengkeramannya di tangan langsing Christina.

“Ngh… Lepaskan aku, keparat!” Christina meringis kesakitan.

“Nah, sepertinya aku tidak bisa. Akan merepotkan kalau kau mulai menyerang kami lagi, jadi…”

Klak, terdengar suatu bunyi. Rasanya seperti ada sesuatu yang ditekan ke lehernya.

insert9

Belenggu penyegel sihir? Ngh… Christina mengerutkan kening.

“Jika kau masih ingin membuat keributan, kami akan mencabut salah satu kuku adik kesayanganmu,” kata pria di belakangnya.

“Oww…” Flora mengeluarkan suara kesakitan.

“Hentikan itu!” kata Christina dengan panik.

“Hmm? Apa yang kau katakan?” tanya pria di belakangnya dengan polos.

“Jika kau harus mencabut kuku, maka ambil kuku milikku saja. Aku tidak akan melawan lagi,” jawab Christina dengan lemah.

“Haha. Sungguh berani. Bos kami pasti akan menyukaimu.” Pria itu tertawa mengejek di belakang Christina.

“Apa tujuan kalian? Jika ini penculikan, maka aku saja seharusnya sudah cukup…”

Jadi jangan sentuh Flora, itulah yang tidak diucapkan Christina.

“Tentu saja. Yang berarti sang putri kedua tidak berguna, jadi tidak ada alasan untuk membiarkannya tetap hidup.”

“Tunggu. Jika kalian ingin membunuh seseorang, bunuh saja aku…” mohon Christina dengan gugup.

Flora ikut menyela percakapan dengan kepanikan yang sama. “K-Kalian tidak boleh! Jika salah satu dari kita harus mati, maka aku—!”

“Heh! Bwahaha! Tenang saja, jika kami berniat membunuh salah satu dari kalian, kami sudah melakukannya sejak tadi. Kami hanya menerima permintaan untuk mengumpulkan rintangan sebanyak mungkin. Dari awal kami memang membutuhkan kalian berdua—sisanya hanyalah sedikit pembalasan karena kalian telah menyerang kami dengan sihir.”

Pria yang menahan Christina langsung terbahak-bahak. Betapa pendendamnya orang ini?

“Ugh, menjijikkan sekali…” Christina menggigit bibirnya.

“Sungguh melegakan melihat kalian berdua saling menyayangi separah itu. Teruslah pertahankan sikap itu begitu kalian sampai di alam sana.”

“Apakah kalian akan membawa kami ke suatu tempat?”

“Hanya ke kerajaan tertentu. Namun, rencana kami cukup padat. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada kalian setelah kalian dikirim ke lokasi yang telah ditentukan. Kalau begitu—mari kita kirim kalian berangkat. Aku yakin seseorang telah menyadari keributan ini sekarang. Kemarilah.”

Pria itu menarik lengan Christina dan, anehnya, menyeretnya bukan ke arah pintu, melainkan ke arah Flora di sudut ruangan.

“Aah…!”

Christina didorong ke arah Flora, membuatnya mengeluarkan pekikan kecil.

“Christina.” Flora memeluk kakaknya itu dengan erat. Sementara itu, para pria mengarahkan pedang mereka ke arah mereka agar mereka tidak bisa bergerak.

“Apa maksudnya ini…? Bukankah kalian ingin membawa kami ke suatu tempat?”

Apakah mereka akan membunuh mereka berdua pada akhirnya? Setelah pertukaran kata-kata yang tidak menyenangkan tadi, itu sangat mungkin terjadi. Christina merasa gelisah dengan firasat bahaya yang sudah di ambang mata.

“Ya, kami akan melakukannya. Tapi, seperti yang baru saja kukatakan, rencana kami sedikit padat, jadi tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi setelah kalian dikirim ke lokasi yang ditentukan. Dengan kata lain, ini,” kata pria itu, sambil mengeluarkan kristal esensi merah dari dalam jubahnya. Lalu, dia melemparkannya ke arah Christina dan Flora dan mengucapkan mantra untuk sihir teleportasi.

“Instans Motus.”

Segera setelah itu, ruang di sekitar kristal esensi tersebut melengkung.

“Hah…?”

Mereka sama sekali tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. Dengan ekspresi kosong di wajah mereka, Christina dan Flora langsung menghilang dari tempat itu.

“Ayo kita berangkat sebelum Reiss mulai meragukan kita juga. Instans Motus,” kata pria itu, sambil mengeluarkan kristal merah lainnya. Dia kemudian mengucapkan mantra tersebut dan mereka bertiga menghilang bersama-sama.

“Hei! Suara apa itu?!”

Setelah mengurung diri di ruangan terdekat bersama Roanna, Hiroaki mendengar keributan itu dan langsung muncul tak lama kemudian.

◇ ◇ ◇

Di bagian timur laut tengah wilayah Strahl terdapat sebuah kerajaan kecil bernama Paladia. Di sebuah hutan di sisi barat kerajaan ini, berdiri Christina dan Flora, gaun mereka jelas tidak cocok untuk lingkungan sekitar. Mereka berdua melihat sekeliling hutan yang suram dengan gugup, Flora melangkah mendekati kakak perempuannya karena ketakutan. Mereka baru saja berada di sebuah kapal udara sihir beberapa saat yang lalu, jadi mengapa mereka sekarang berada di hutan?

Tidak ada tanda-tanda orang di sekitar. Hanya ada suara dedaunan yang berdesir tertiup angin, dan suara tangisan hewan liar nun jauh di sana.

Rasanya hampir seperti mereka sedang bermimpi. Namun, ini bukanlah mimpi: kalung logam di leher Christina adalah buktinya.

“…Di mana kita?” Christina meletakkan tangannya di dekat kalung itu dan bergumam linglung, sambil melihat sekeliling hutan.

Daftar Isi

Komentar

guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted