Seirei Gensouki Volume 13 Bab 2: Reuni Bahasa Indonesia – Litenovel

Seirei Gensouki Volume 13 Bab 2: Reuni Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi

Bab 2: Reuni

Flora menatap kakaknya sampai ia tidak dapat menahan diri lagi dan berlari menghampirinya. “Christina…!”

“…” Christina juga mencoba melangkah mendekati Flora, tetapi ia tampak sedikit ragu dan tetap berdiri di tempatnya; ia sepertinya merasa bersalah karena telah mengacuhkannya di jamuan makan malam Kerajaan Galarc. Namun, hal semacam itu tampaknya sepele bagi Flora. Begitu ia sampai di dekat Christina, Flora langsung memeluknya.

“Kenapa Kakak ada di sini? Kenapa Kakak bersama Sir Haruto…?” Flora memiringkan kepalanya dengan bingung saat melihat Christina dan Rio bersama. Kemudian, ia menyadari keberadaan Charles dan Alfred yang sedang dibelenggu. “Dan kenapa…”

“Betapa bodohnya… Apa yang akan kau lakukan jika aku datang ke sini untuk menipumu? Apa kau lupa bagaimana perlakuanku padamu di perjamuan itu?” bisik Christina di telinganya, tampak sedikit malu namun tetap merasa bahagia.

“Ah…” Flora mengeluarkan suara penuh keraguan, melemahkan dekapannya di tubuh sang kakak. Tubuhnya bergerak secara refleks saat melihat Christina bersama Rio, tetapi jika dipikirkan dengan tenang, tindakan itu mungkin terlalu gegabah.

“Tidak apa-apa. Semuanya sudah baik-baik saja sekarang. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian lagi.” Christina balas memeluk adik kecilnya itu dengan penuh kasih sayang.

Hal itu saja sudah cukup untuk membuat Flora hampir menangis. “Christina…”

“Pasti sangat menyakitkan bagimu. Aku sangat menyesal…” gumam Christina penuh rasa bersalah sebagai permintaan maaf.

insert2

“Tidak, sama sekali tidak.” Flora menyeka air matanya dengan kedua tangannya. Semua orang yang lain memerhatikan dengan senyuman hangat, kecuali satu orang.

“Ah, aku mengerti kalau pertemuan kembali kalian berdua adalah hal yang bagus, tapi aku tidak begitu paham dengan situasi di sini? Kenapa Haruto bersama Christina? Dan dengan begitu banyak wanita lainnya…” kata Hiroaki. Dengan posisinya sebagai pahlawan, dialah satu-satunya orang yang bisa menyela reuni para putri tanpa ragu-ragu sedikit pun. Matanya membelalak karena rasa penasaran yang mendalam saat melihat wajah Sara dan gadis-gadis lainnya, tetapi ia segera melihat wajah Kouta dan Rei—yang jelas-jelas berasal dari tanah airnya—dan mengerjap ke arah mereka dengan bingung. “Oh, apakah kalian berdua orang Jepang? Kalian sepertinya bukan pahlawan.”

Kouta dan Rei saling berpandangan, lalu mengangguk canggung. “Yah, benar.”

“Hmm…” Hiroaki bergumam tanpa banyak minat. Ia kemudian beralih kepada para gadis dan menyapa mereka dengan ceria, berbicara langsung kepada mereka. “Ah, aku belum memperkenalkan diri. Aku Hiroaki Sakata. Aku adalah orang yang bisa kalian sebut pahlawan, kurasa.”

“…”

Sara dan para gadis tampak sedikit bingung, tidak menyangka Hiroaki akan memperkenalkan diri secara langsung kepada mereka. Rentetan pertanyaan Hiroaki telah mematikan percakapan itu sepenuhnya. Tidak ada seorang pun yang yakin bagaimana harus bersikap dalam situasi seperti itu, sehingga keheningan yang canggung melingkupi udara.

“Bagaimana kalau kita masuk ke dalam dulu untuk sekarang? Aku akan menyiapkan tempat di mana kita bisa duduk dan berbicara, jadi kita bisa melanjutkan ini di sana,” usul Liselotte.

Dengan demikian, Rio dan yang lainnya memasuki benteng.

◇ ◇ ◇

Sepuluh menit kemudian, di sebuah ruang rapat di dalam benteng, kelompok Rio dan kelompok Liselotte saling berhadapan. Semua orang yang bepergian bersama Rio dalam perjalanan ke sini duduk di sisinya, sementara Duke Huguenot dan kelompok Flora duduk di sisi Liselotte. Turut berada di dalam ruangan itu adalah Aria, orang kepercayaan sekaligus pelayan Liselotte. Vanessa juga berdiri di belakang Christina alih-alih duduk di kursi.

Ngomong-ngomong, Charles dan Alfred dibawa ke penjara benteng dalam perjalanan menuju ruang rapat, untuk dikurung di sana sementara waktu.

“Sekarang, mari kita langsung ke intinya. Aku yakin hal pertama yang harus kita bagikan adalah alasan kita datang ke benteng ini. Apakah semua orang setuju?” tanya Liselotte, sambil melihat sekeliling ruangan.

“Ya, aku setuju. Meskipun aku bisa memperkirakan alasan Lady Liselotte berada di sini,” kata Christina.

Sebagai putri dari keluarga Cretia dan pengurus kota Amande di dekat sana, sudah cukup jelas bahwa Liselotte datang ke benteng ini untuk menyelidiki pergerakan tentara Beltrum di dekat perbatasan. Yang tidak begitu jelas adalah mengapa Flora, Hiroaki, Roanna, and Duke Huguenot juga berada di sana. Christina mengira mereka berada di Rodania.

“Seperti yang mungkin kalian duga, alasan mengapa aku ada di sini adalah karena pergerakan skala besar tentara Kerajaan Beltrum di dekat perbatasan. Princess Flora dan yang lainnya kebetulan sedang bersamaku ketika aku menerima pemberitahuan itu… Ketika aku memberi tahu mereka apa yang sedang terjadi, mereka menyatakan keinginan mereka untuk menemaniku. Aku membawa mereka ke mari dengan kapal sihirku atas kesepakatan bahwa mereka akan segera kembali ke Amande begitu kita mengonfirmasi situasinya,” jelas Liselotte.

“Apakah Flora dan yang lainnya memiliki urusan di Amande?” tanya Christina, menatap Flora dan Duke Huguenot.

Hiroaki berinisiatif menjawab Christina terlebih dahulu. “Enggak. Kami dikurung di ibu kota Galarc selama berabad-abad setelah perjamuan berakhir, tapi kemudian kami pikir kami harus menyapa Liselotte dalam perjalanan pulang ke Rodania. Karena kami tidak sempat mengucapkan selamat tinggal dengan benar di perjamuan.”

Karena tujuannya berkunjung ke Amande adalah untuk mendekati Liselotte dan berharap bisa mengungkit topik pertunangan, dia tampak sedikit merasa bersalah atas jawabannya.

Pasukan Beltrum muncul begitu kami tiba di Amande, jadi aku belum bisa berbicara dengan Liselotte secara benar… Argh, apa orang-orang itu tidak bisa membaca situasi? Cih, batin Hiroaki.

“Begitu ya… Aku sudah paham situasi kalian sekarang. Kalau begitu, giliran aku yang menjelaskan alasan kami berada di sini—apakah tidak apa-apa jika aku yang berbicara, Sir Amakawa?” tanya Christina kepada Rio. Cara dia meminta persetujuan Rio terlebih dahulu menunjukkan betapa besar rasa hormatnya kepada pemuda itu.

Mereka tidak memiliki hubungan khusus apa pun di perjamuan tersebut, jadi orang-orang yang duduk di seberang mereka merasa sangat penasaran bagaimana mereka bisa berakhir seperti ini.

“Ya, tentu saja.”

“Kalau begitu… aku ingin meminta kalian semua untuk menjaga kerahasiaan dari apa yang akan kukatakan di sini. Tentu saja, aku akan melaporkannya sendiri kepada Raja Francois dari Galarc di kemudian hari, tetapi masalah ini menyangkut urusan internal kerajaanku,” kata Christina, sambil menatap terutama kepada Liselotte.

“Aku mengerti. Kalau begitu, haruskah aku meminta pelayanku untuk keluar?” Liselotte mengangguk, lalu berbalik menghadap Aria di belakangnya.

“Yang Mulia, jika aku boleh berbicara…” Celia menyela. Yang lain bisa melihat bahwa dia adalah seorang wanita muda yang cantik, bahkan dengan tudung yang menutupi wajahnya. Karena dia adalah satu-satunya orang yang mengenakan tudung di ruangan itu, perhatian yang tertuju padanya terasa sangat penasaran.

“Ada apa?”

“Akan lebih praktis jika dia tetap ada saat Anda menjelaskan situasiku nanti, jadi jika aku lancang menyarankannya untuk tetap tinggal? Aku bisa menjelaskan situasinya sendiri sebentar lagi,” kata Celia, sambil menatap Aria.

“Begitu ya. Kalau begitu, dia boleh tetap hadir,” Christina langsung menyetujui.

“Aku setuju.”

Aria dan Liselotte sama-sama tampak sedikit penasaran dengan sorotan yang tiba-tiba tertuju pada Aria, tetapi mereka menyetujuinya tanpa keberatan khusus.

“Kalau begitu, langsung saja ke intinya: semuanya bermula ketika Vanessa dan aku melarikan diri dari ibu kota Beltrum, dengan bantuan Count Claire. Kami mencoba pergi ke Rodania, tempat Flora berada, menggunakan kapal berssihir. Kedua anak laki-laki ini ikut menyelundup di kapal itu—mereka adalah Rei Saiki dan Kouta Murakumo, teman-teman sang pahlawan, Sir Rui Shigekura. Pada akhirnya kami membawa mereka bersama kami, tapi aku akan melewati detailnya untuk saat ini,” jelas Christina.

“Berkat bantuan Count, kami berhasil mencapai Cleia dengan lancar, tetapi masalah bermula di sana. Duke Arbor mengetahui bahwa aku telah melarikan diri dan segera mengerahkan pasukan pencari yang dipimpin oleh Charles. Kami dapat dengan cepat menyembunyikan diri di sebuah ruangan rahasia di kediaman Count, tetapi pergerakan kami dari sana menjadi terkunci. Hanya masalah waktu sebelum kami ditemukan—dan saat itulah kami bertemu dengan Sir Amakawa.”

“Ah… Tunggu, sebentar. Bukankah itu aneh? Kalian terhalang untuk meninggalkan kediaman Claire, kan? Dan kalian bersembunyi di ruangan rahasia untuk menghindari pasukan pencari, jadi bagaimana bisa dia berakhir di ruangan itu?” potong Hiroaki.

“Itu karena… Bolehkah aku menyerahkan penjelasan bagian itu kepadamu?” tanya Christina, sambil menatap Celia.

“Baik,” Celia mengangguk, lalu melepas kerudungnya untuk pertama kalinya. Dia diam-diam telah melepas artefak yang mengubah warna rambutnya di koridor setelah Charles dan Alfred dibawa pergi.

“Profesor… Celia?”

Benar saja, Flora membuka mulutnya karena terkejut. Roanna, yang juga merupakan murid dari akademi yang sama, turut membelalakkan matanya. Bahkan Duke Huguenot mengerjap kaget.

“Hei, hei, siapa itu? Seseorang yang kau kenal, Flora?” tanya Hiroaki dengan mata berbinar-binar.

“Aku Celia Claire. Putri Count Claire, dan mantan pengajar Putri Christina, Putri Flora, dan Nona Roanna di akademi. Aria di sana adalah teman lamaku.” Celia memperkenalkan dirinya, lalu menatap Aria saat menyebutkan namanya.

“…” Sebagai seorang pengawal, Aria tidak mengatakan apa pun, tetapi matanya yang terbelalak menatap mata Celia sebelum sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis.

Sungguh mengejutkan, pikir Liselotte. Aria pernah menceritakan tentang Celia kepadanya sebelumnya, jadi dia tahu mereka berteman, tetapi dia tidak pernah membayangkan mereka akan bertemu dengan cara seperti ini.

“Ah, dan apa maksudmu dengan ‘profesor’? Kau hanya terlihat seusia dengan Flora dan Roanna, atau bahkan mungkin lebih muda,” kata Hiroaki, menatap Celia lekat-lekat.

“Terima kasih. Tapi usiamu dua puluh satu tahun,” kata Celia, menyebutkan usianya dengan sedikit malu-malu.

“A-Apa?! D-Dua puluh satu tahun?! Itu lebih tua dariku! Apakah kau ini gadis di bawah umur yang legal atau semacamnya?!”teriak Hiroaki, berdiri dan mencondongkan tubuhnya ke depan secara spontan.

“Ugh…” Kouta dan Rei tampak sedikit jijik mendengar perkataan Hiroaki. Itulah saat di mana mereka menyadari bahwa dia adalah kebalikan dari Rui yang seperti seorang gentleman, pahlawan yang mereka kenal.

“Gadis di bawah umur… yang legal?” Christina dan Celia memasang ekspresi bingung, tidak yakin apa maksudnya.

Kita tidak akan bisa pergi ke mana pun jika begini terus. Pernyataan Hiroaki yang terus-menerus, yang diucapkan tanpa memperdulikan waktu dan tempat, membuat Liselotte merasa pusing. Tanpa pilihan lain, dia mengangkat tangannya. “Um…”

Perhatian semua orang tertuju pada Liselotte.

“Aku kebetulan hadir di upacara itu, tetapi bukankah Lady Celia diculik dari pernikahan nya dengan Charles Arbor? Kenapa dia ada di sini… kecuali…?” Liselotte menggantungkan kalimatnya dan menatap Rio dengan terkesiap. Pria itulah yang pertama kali terlintas di pikirannya yang memiliki kemampuan untuk menerobos pengamanan ketat di tempat tersebut.

“Ya. Aku menculiknya,” Rio mengangguk.

“Begitu ya. Tentu saja, jika itu kamu…” Liselotte bergumam memahami.

“Sir Amakawa meminjamkan kekuatannya untuk mengurangi pengaruh faksi Duke Arbor,” Christina menegaskan, berbicara seolah-olah dirinyalah yang memerintahkan Rio untuk menculik Celia.

Ini adalah cerita yang telah mereka diskusikan sebelumnya untuk saat mereka tiba di Rodania. Christina telah memastikan untuk memperingatkan Kouta and Rei agar tidak menceritakannya kepada orang lain sebelum membuat keputusan ini. Meskipun begitu, itu tidak sepenuhnya sebuah kebohongan.

Sir Amakawa meminjamkan kekuatannya untuk mengurangi pengaruh faksi Duke Arbor, atas permintaan Professor Celia—informasi yang dihilangkan adalah bahwa itu demi Celia, bukan Christina.

Christina telah memberikan persetujuannya untuk melegalkan tindakan Rio agar penculikan itu tidak dipandang sebagai masalah, tetapi itu tidak akan menghentikan siapa pun yang ingin mengkritik Rio and Celia karena tidak mendapatkan persetujuan Christina pada saat tindakan tersebut dilakukan. Untuk menghindari hal ini, mereka sengaja memilih kata-kata yang menyesatkan agar tindakan tersebut tampak seperti atas permintaan Christina sendiri.

Liselotte yang cerdas dan Duke Huguenot langsung menangkap apa yang terjadi dan menunjukkan ekspresi mengerti di wajah mereka.

“Eh…?”

Namun, hanya reaksi Flora yang menunjukkan kebingungan.

“Ada apa, Flora?” Christina memeriksa.

“Ah, bukan, hanya saja… Apakah kamu sudah mengenal Sir Haruto sebelumnya, Christina?” Flora melihat ekspresi Rio saat dia bertanya kepada kakak perempuannya.

Christina terdiam sejenak. “Kami tidak kenal secara langsung, dan ada cukup banyak bahaya yang terlibat dalam prosesnya, jadi aku khawatir kejadian di balik itu semua adalah rahasia. Aku tidak bisa memberitahumu,” ujarnya, mengalihkan pertanyaan.

“Aku mengerti…” Flora mengerutkan kening dengan ekspresi kecewa, menatap Christina.

Duke Huguenot memanfaatkan jeda dalam percakapan itu untuk menatap Celia dan Rio. “Jika boleh aku pastikan, apakah kamu bersama Haruto selama ini, Celia?” tanyanya.

“Ya. Dia juga hadir saat penyerangan di Amande, dengan menggunakan nama Cecilia. Meskipun aku berusaha menghindari untuk membawanya di hadapan semua orang semampuku,” jawab Rio. Hal itu membuat mata Liselotte dan Duke Huguenot membelalak.

“Hmm… Ah! Benar, dia ada di sana saat itu! Tunggu, tapi rambutnya berbeda! Sekalipun dia mengubah gaya rambutnya dengan mengikatnya, bagaimana rambutnya bisa berwarna pirang?” Hiroaki sedari tadi memperhatikan Celia lekat-lekat, namun setelah jeda sejenak ia menunjuk ke arahnya dengan penuh semangat dan mulai mengomel. Kehadirannya di Amande tampaknya menjadi petunjuk yang membantunya akhirnya mengingat wanita itu.

“Aku menggunakan suatu cara untuk mengubah warna rambutku.”

“Heh… Yah, aku terkejut. Ini perubahan yang cukup drastis,” kata Hiroaki kagum. Saat ini, Celia tidak mengikat rambutnya di satu sisi seperti terakhir kali dia berada di Amande—melainkan membiarkan rambutnya tergerai. Dikombinasikan dengan warna rambut yang berbeda, kesan yang ia tampilkan jadi sangat jauh berubah.

“Kami sangat panik saat para monster menyerang Amande dan aku tidak punya pilihan selain mengunjungi kediaman Liselotte…” Celia mengenang masa-masa itu dan tersenyum mengingatnya.

“Aku sama sekali tidak menyadarinya… Tapi…” gumam Flora, menatap Rio seolah mengerti sesuatu.

“Aku juga tidak,” Roanna mengangguk takjub.

“Kamu juga tidak menyadarinya, kan, Aria?” tanya Liselotte kepada teman lama Celia.

“Meskipun memalukan untuk diakui, benar. Aku memang merasakan deja vu darinya saat kita berpamitan, tapi… Kami tidak begitu sering bertemu di kediaman itu, dan aku sama sekali tidak membayangkan dia bisa mengubah warna rambutnya begitu saja secara alami. Kalau saja aku punya lebih banyak kesempatan untuk mendengarkan suaranya, aku mungkin akan menyadarinya,” jawab Aria, menganalisis alasan mengapa dia tidak menyadarinya sebelumnya.

“Begitu ya… Karena tidak ada cara untuk mengubah warna rambut secara alami. Atau lebih tepatnya, cara yang tidak akan dipikirkan orang secara normal. Itu akan menjadi bentuk penyamaran yang sangat efektif di masyarakat yang tidak menyadari kemungkinan tersebut,” Liselotte menoleh ke arah Celia dan berkata dengan rasa takjub yang besar.

“Benar. Itulah mengapa kami meminta agar Anda menjaga kerahasiaan keberadaan metode semacam itu. Karena itu adalah keadaan darurat, aku meminta Yang Mulia dan yang lainnya mengubah warna rambut mereka saat kami melarikan diri dari Cleia, tetapi mereka sendiri tidak tahu detail pasti dari metodenya,” kata Rio, menghentikan segala rasa penasaran sebelum hal itu terjadi.

“Begitu ya… Aku penasaran, tapi mau bagaimana lagi. Aku akan mematuhinya,” setuju Liselotte sambil tersenyum masam. Seperti yang dia katakan, dia penasaran tentang hal itu, tetapi langsung menyimpulkan bahwa itu bukanlah informasi yang layak untuk membuat dirinya bersikap tidak masuk akal terhadap Rio.

“Umm… Tuan Haruto, mungkinkah Anda menggunakan metode itu untuk mengubah warna rambut Anda juga?” tanya Flora kepada Rio dengan gugup.

“Apa yang kamu katakan, Flora? Apakah kamu tidak mendengarkan percakapan tadi? Kami baru saja mengatakan bahwa rasa penasaran semacam itu benar-benar dilarang,” kata Christina, memotong ucapannya secara terus terang. Wajah Flora memucat, kata-kata Christina membuatnya memikirkan kembali pertanyaannya yang impulsif.

“Aku minta maaf atas ketidaksopanannya, Tuan Amakawa,” kata Christina sambil menghela napas.

“Tidak apa-apa, jangan dipikirkan,” kata Rio dengan senyuman lembut dan gelengan kepala pelan.

“Kita telah menyimpang dari topik, tetapi Tuan Amakawa bisa menyusup ke ruang rahasia Count Claire karena Celia bersamanya… seperti yang aku yakin kalian semua sudah sadari sekarang. Setelah itu, kami dapat melarikan diri dari kelompok pencari yang mengepung kediaman dan melarikan diri dari kota berkat bantuan Tuan Amakawa,” kata Christina, mengembalikan percakapan ke topik semula.

“Huh. Jadi kenapa kalian datang ke benteng ini? Bukankah kalian tadinya menuju Rodania, tempat kalian pikir Flora berada, kan?” tanya Hiroaki.

“Kami memperkirakan rute terpendek dari Cleia ke Rodania akan diawasi secara ketat oleh kelompok pencari. Ditambah lagi, jika kami menuju Rodania melalui Kerajaan Galarc, kami akan dapat melepaskan diri dari kelompok pencari segera setelah kami melewati perbatasan. Namun, tampaknya mereka mampu mendeteksi rute pelarian kami melalui cara tertentu, dan menyergap kami dengan pasukan besar tepat di dekat perbatasan…” Christina berhenti sejenak, menatap Rio, Sara, dan gadis-gadis rakyat roh lainnya. “Berkat bantuan Tuan Amakawa dan rekan-rekannya, kami berhasil memukul mundur musuh dan menangkap komandan mereka, Charles, serta menjadikan Alfred sebagai tawanan.”

“Ah, yah, aku tidak akan meragukan kekuatan Haruto lagi, tapi rekan-rekannya? Kamu tidak sedang membicarakan dua pria membosankan di sana, kan?” Hiroaki melirik Kouta dan Rei sebelum bertanya ke arah Sara, Orphia, dan Alma.

“Sepertinya kamu sudah menyadarinya, tapi ketiga orang ini adalah ‘rekan-rekanku’. Dari sebelah kanan, ada Sara, Orphia, dan Alma. Ketiganya adalah prajurit terampil yang dapat menggunakan pedang sihir,” jawab Rio menggantikan mereka.

“Hmm…” gumam Hiroaki sambil menatap gadis-gadis itu dengan penuh minat. Sara, Orphia, and Alma tampak sedikit tidak nyaman karena terus dipandangi dan menghindari kontak mata.

“…”

Sementara itu, Liselotte dan Duke Huguenot memasang ekspresi kagum luar biasa ketika mendengar ada tiga pengguna pedang sihir yang hadir.

“Wah, itu benar-benar mengesankan. Kalian semua berwajah cantik, namun bisa bertarung dengan baik juga,” puji Hiroaki dengan rasa tertarik yang besar.

Semua gadis di sekitarku menjalani kehidupan yang begitu terlindungi… Memiliki posisi prajurit di dalam harem akan sangat berharga. Hanya dengan keberadaan mereka, mereka bisa melindungiku, pikirnya dalam hati.

“Terima kasih…” ucap Sara mewakili Orphia dan Alma. Namun, dia tampaknya sedang memikirkan sesuatu di dalam hatinya, sehingga suaranya terdengar sedikit ketus. Mungkin menyadari hal ini, Duke Huguenot segera mengganti topik pembicaraan.

“Begitu ya, jadi bahkan Sir Alfred pun tidak bisa mengatasi empat pengguna pedang sihir. Aku hampir meragukan mataku sendiri ketika melihat Charles dan Pedang Raja ditawan sebagai tahanan… Sungguh suatu keberuntungan,” terkekehnya. Memenjarakan tokoh penting dari faksi musuh Arbor benar-benar sangat menggembirakan—cukup untuk membuat tawa bergejolak di dalam dirinya hanya dengan memikirkannya.

“Itu tidak benar,” ucap Sara tiba-tiba.

“Apa maksudmu…?” tanya Duke Huguenot dengan ekspresi terkejut yang jarang ditunjukkannya.

Sara mengoreksi Duke Huguenot karena dia benci diberi pujian padahal tidak memberikan kontribusi apa pun. “Kami hanya memukul mundur pengguna pedang sihir lain yang ada di sana. Orang yang mengalahkan sosok bernama Alfred itu adalah Haruto seorang diri. Bahkan, orang yang menangkap pria bernama Charles dan memukul mundur pasukan berjumlah 5.000 yang menunggu di perbatasan adalah Haruto seorang diri.”

“Ya ampun…” Liselotte terkesiap kaget, menutup mulutnya dengan tangan. Fakta bahwa Sara dan para gadis telah memukul mundur pengguna pedang sihir lainnya sudah cukup mengesankan, tetapi skala pencapaian Rio cukup besar hingga membuat akal sehat lumpuh.

Duke Huguenot terdiam karena syok, namun dia menatap Christina dan meminta klarifikasi lebih lanjut. “Aku tidak bermaksud meragukanmu, tapi apa maksudmu?”

“Itu adalah kebenaran. Sir Amakawa mengalahkan Alfred seorang diri. Atau lebih tepatnya, dia menghadapi Sir Rui Shigekura dan Alfred sekaligus dalam pertarungan dua lawan satu—dan menang,” jelas Christina.

“Dia menghadapi sang pahlawan dan Pedang Raja sekaligus… dan menang?” Tampaknya fakta itu jauh melampaui apa pun yang menyerupai akal sehat di dalam benak Duke Huguenot. Dia membeku, kehabisan kata-kata.

“Jadi dia menang melawan bajingan tampan yang menyebalkan itu, ya…?” Alis Hiroaki berkedut sebagai reaksinya.

Menyebalkan…?

Sopan dan seperti seorang gentleman. Itulah kesan tentang Rui yang mereka miliki dari melihatnya bercakap-cakap dengan Rio, jadi mendengar pendapat Hiroaki yang bertolak belakang membuat Sara dan yang lainnya memiringkan kepala karena heran. Sementara itu, Kouta and Rei terkikik mendengar reputasi buruk yang diberikan kepada teman dan junior mereka masing-masing.

“Aku harap ini telah menjernihkan segalanya untukmu, Lady Liselotte. Inilah alasan mengapa pasukan kami dikerahkan begitu dekat dengan perbatasan. Meskipun tujuan mereka adalah untuk menangkapku dan mereka kini telah mundur, hal ini tidak mengubah fakta bahwa kami telah memprovokasi kerajaanmu. Kami pasti telah menyebabkan masalah yang sangat besar bagi kamu dan ayahmu. Aku menyampaikan permintaan maaf sedalam-dalamnya.” Christina menatap Liselotte dan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Sangat jarang bagi seorang putri untuk menundukkan kepala kepada wanita bangsawan dari kerajaan lain, namun pengecualian yang amat langka itu terjadi karenanya. Dia menundukkan kepalanya sebagai putri dari kerajaannya.

“Sama sekali tidak. Tolong angkat kepala Anda,” kata Liselotte kepada Christina dengan gugup.

Christina berhenti sejenak, lalu perlahan mengangkat kepalanya. “Terima kasih.”

Liselotte menghela napas lega. “Selain itu, aku bertanya-tanya bagaimana mereka bisa mendeteksi pergerakan Yang Mulia? Jika mereka melacak Anda sejak saat Anda meninggalkan Cleia, maka seharusnya ada lebih banyak kesempatan untuk menyergap Anda tanpa harus menunggu tepat sampai Anda mencapai perbatasan,” tanyanya heran.

“Alasan terbesar adalah karena mereka tidak punya waktu, aku yakin. Setiap tiga hari sekali, Sir Amakawa dan kelompoknya akan menggunakan pedang sihir mereka untuk memperkuat tubuh mereka dan membawa kami sambil berlari, yang secara substansial mempersingkat waktu perjalanan kami. Ketika musuh mengetahui keberadaan kami, kami berada sekitar tiga hari perjalanan dari perbatasan. Setelah mempertimbangkan kemampuan bertempur dan mobilitas kelompok tersebut, mereka mungkin ingin menghindari pengepungan kami di area hutan atau pegunungan di mana kami dapat dengan cepat menyembunyikan diri,” kata Christina, memberikan alasan logisnya.

“Memang, daerah perbukitan itu sangat cocok bagi pasukan untuk bersembunyi di kaki bukit sambil mengawasi siapa pun yang mendakinya. Jika mereka memiliki griffin di langit, pelarian juga akan cukup sulit…” kata Liselotte sambil berpikir, mengenang geografi daerah tersebut. “Tetapi bahkan dengan memperhitungkan hal itu, mengerahkan pasukan begitu dekat dengan perbatasan adalah strategi yang terlalu berani.”

“Ya. Itulah mengapa kami percaya ada konspirasi tersembunyi di balik strategi itu,” Christina mengangguk, lalu mengerutkan kening karena frustrasi.

“Berani dan licik… Dia mungkin arogan, tetapi Charles Arbor itu pasti seorang komandan yang hebat,” puji Liselotte kepada Charles.

“Aku ragu tentang itu… Ini adalah pendapat Sir Amakawa, tetapi aku sependapat—Charles mungkin telah didorong untuk mengerahkan pasukan begitu dekat dengan perbatasan oleh seorang pria bernama Reiss. Orang yang benar-benar licik di balik Charles adalah pria itu.”

Christina menyebutkan nama Reiss untuk pertama kalinya.

“Reiss…? Bukankah itu nama…”

“Pria misterius yang sebelumnya muncul di hadapan Princess Flora dan Haruto saat Amande diserang, bukan? Dan juga nama duta besar Kekaisaran Proxia…”

Liselotte dan Duke Huguenot teringat saat Princess Flora diculik di tengah kekacauan penyerangan terhadap Amande.

“Ya. Kita perlu menyelidiki Charles lebih lanjut, tetapi pria itu kemungkinan besar adalah duta besar Kekaisaran Proxia,” ucap Christina dengan pasti.

“Lucius Orgueil, ya? Pria yang menculik Princess Flora, target balas dendam Haruto, dan mantan bangsawan Kerajaan Beltrum, yang sekarang menjadi pemimpin Ksatria Surgawi. Aku sempat mempertimbangkan kemungkinan penculikan Princess Flora sebagai tindakan balas dendam, tetapi jika dia terhubung dengan duta besar Kekaisaran Proxia dan Charles, maka ada kemungkinan faksi Duke Arbor terlibat dalam penculikan Princess Flora,” usul Duke Huguenot, sambil menyebutkan nama Lucius.

“Mungkin terlalu dini untuk memutuskannya… Meskipun begitu, kita juga akan menginterogasi Charles mengenai hal itu. Walaupun ada kemungkinan bahwa Duke Arbor adalah pihak yang terlibat, dan Charles tidak tahu apa-apa. Kita sebaiknya tidak terlalu berharap,” kata Christina sambil menghela napas berat.

Seperti yang dikatakan Princess Christina, kita tidak bisa berharap banyak. Jika Charles tidak tahu apa-apa tentang Lucius, maka satu-satunya petunjuk yang tersisa adalah Reiss. Jika pria ini adalah duta besar Kekaisaran Proxia, maka sangat mungkin Lucius juga terhubung dengan Kekaisaran Proxia…

Rio menoleh memikirkan keberadaan musuh bebuyutannya. Dia tidak bisa mengabaikan implikasi yang dibuat Reiss bahwa Lucius masih hidup—dia harus menghabisinya lain kali.

“Selain itu, tadi kamu bilang pemimpin Pasukan Singa Surgawi adalah target balas dendam Sir Amakawa?” Keterkejutan besar terpancar di mata Christina saat dia menatap Rio.

“Ya, benar. Dia adalah pria yang membunuh ibuku saat aku masih kecil,” konfirmasi Rio, memberikan jawaban singkat seolah untuk menyembunyikan perasaan yang tertahan di tenggorokannya.

“Oh… Begitu ya…” Christina terdiam dan tidak menanyakan hal lain lagi. Dia mungkin bisa membaca situasi, ekspresinya tampak seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Aku ingin menginterogasinya tentang Lucius, jadi bolehkah aku ikut serta dalam interogasi itu juga?” Karena hubungannya dengan Lucius telah diungkit, Rio menggunakan kesempatan ini untuk mengajukan permintaannya.

Christina memejamkan mata dan mengangguk pelan. “Aku mengerti. Kalau begitu, tentu saja boleh.”

“Terima kasih,” Rio menundukkan kepalanya dengan hormat. Mengamatinya dari samping dengan ekspresi yang sedikit rumit adalah Sara, Orphia, and Alma. Mereka pasti penasaran dengan hubungan Rio dan Lucius. Flora memasang ekspresi serupa saat mengamati Rio.

Christina tampaknya menyadari tatapan Flora, namun bersikap seolah tidak tahu apa-apa sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. “Apakah ada pertanyaan lagi?”

“Ah, benar juga. Sara tadi bilang sesuatu tentang Haruto yang memukul mundur pasukan yang terdiri dari 5.000 orang, tapi aku tidak begitu paham dengan hal itu. Lain cerita kalau dia adalah seorang pahlawan yang memiliki Senjata Ilahi sepertiku… Tapi jika dia harus melawan Alfred dan keparat Rui itu, dia tidak mungkin bisa menghadapi 5.000 orang sekaligus di waktu yang sama, kan? Aku penasaran bagaimana sebenarnya jalannya pertempuran itu,” Hiroaki menatap Sara dan bertanya tentang pertarungan Rio.

“5.000 prajurit itu bertindak sebagai dinding manusia di depan perbatasan. Mereka hanya menonton dalam diam saat Sir Amakawa bertarung melawan Alfred dan Sir Rui. Ketika mereka melihat keduanya kewalahan, mereka tahu bahwa mereka tidak akan bisa menang melawan Sir Amakawa, bahkan dengan kelompok yang beranggotakan 5.000 orang sekalipun. Begitu mengerikannya dia saat dilihat…” Christina mulai menceritakan pertempuran sebelumnya yang disaksikannya, menekan berbagai emosi yang berkecamuk di dalam dadanya. Dia menjelaskan situasi pada saat itu dengan fasih. “Setelah Alfred dan Sir Rui dikalahkan oleh Sir Amakawa, tidak satupun dari 5.000 prajurit itu yang maju untuk melindungi Charles, yang melarikan diri ke tengah-tengah mereka. Mereka hanya menonton saat komandan mereka diseret pergi di hadapan mereka.”

“Hei, hei, apakah para prajurit itu tidak kompeten? Musuh mereka menerobos masuk tepat ke tengah formasi mereka, kan? Ini bukan sandiwara panggung berbudget rendah, kalau kalian semua menyerang bersamaan, kalian bisa membunuhnya dengan jumlah kalian. Pasti ada seseorang yang memikirkan hal itu—kalau saja aku jadi komandannya, aku pasti sudah memerintahkannya. Oh, apa jangan-jangan komandannya yang tidak kompeten?” keluh Hiroaki, tampak tidak senang dengan fakta tersebut.

“Para prajurit yang hadir secara naluriah memahami bahwa mereka tidak akan menjadi tandingan Sir Amakawa. Bahkan aku pun takut padanya, padahal dia adalah sekutuku—jadi aku yakin apa yang dirasakan oleh para prajurit itu tidak bisa dibandingkan dengan diriku. Hanya mereka yang berada di sanalah yang tahu seperti apa rasanya ketakutan yang membuat tubuh bergidik itu. Hal itu mungkin terdengar seperti kisah kepahlawanan yang didramatisir bagi mereka yang tidak ada di sana, tetapi itulah kenyataannya.”

Tidak ada seorang pun yang ingin mati. Tidak seorang pun akan menantang seseorang dalam pertempuran yang mereka tahu akan berakhir dengan kematian yang sia-sia. Mereka yang melakukannya entah sudah pasrah, sudah menjadi gila, atau benar-benar bodoh. Christina memasang wajah yang sangat serius saat dia berbicara kepada Hiroaki.

Ah, aku sudah memikirkan hal ini sejak tadi, tapi bukankah pria ini terlalu mencolok? Dia selalu ada di mana pun aku pergi, merampas semua kejayaan. Dia memainkan peran yang lebih besar daripada pahlawan, dan sekarang reputasinya akan naik lagi? Di depan Liselotte juga? Lagipula, dia selalu bersama wanita yang berbeda setiap kali aku melihatnya… Jangan bilang mereka semua adalah wanitanya, selain Christina dan ksatria wanitanya? Cih… Sungguh memuakkan.

Hiroaki melampiaskan sisa kekesalan di hatinya saat dia bergantian menatap Rio dan para gadis yang semuanya duduk di hadapannya. Dia tidak suka karena fokus pembicaraan bukanlah pada dirinya—sang pahlawan—melainkan seorang ksatria biasa.

“Kamu pasti orang yang hebat jika bisa melakukan itu. Setara dengan pahlawan. Tidak, karena kamu mengalahkan Rui, kamu pasti lebih hebat dari seorang pahlawan? Yah, itu tentu saja jika Rui menggunakan Senjata Ilahi miliknya dengan kekuatan penuh. Tapi tetap saja, itu mengesankan.” Hiroaki tampaknya tahu bahwa jika dia menyangkal pencapaian-pencapaian ini sepenuhnya, reputasinya sendiri akan terkena imbasnya. Sebagai gantinya, dia dengan enggan menerima perbuatan hebat Rio.

“Ya, kurasa itu adalah pencapaian yang luar biasa.” Berbeda dengan Hiroaki, Liselotte memberikan kekagumannya tanpa niat terselubung.

“Aku merasa terhormat,” jawab Rio sambil menundukkan kepalanya kepada mereka berdua.

“Ini pada dasarnya adalah cerita tentang bagaimana kami tiba di sini, tetapi ada beberapa penjelasan yang sengaja aku lewatkan. Aku ingin bertukar informasi dengan benar demi hubungan kita dengan Galarc juga, jadi maukah kamu meluangkan waktu untuk mengobrol lebih banyak denganku, Lady Liselotte?” tanya Christina.

“Tentu saja. Aku juga harus membuat laporan kepada Raja Francois dan Ayah, jadi itu akan sangat disambut baik,” balas Liselotte sambil mengangguk ramah.

Maka, Christina mulai membagikan informasi yang dimilikinya.

◇ ◇ ◇

Kira-kira satu jam kemudian…

“Mari kita akhiri diskusi sampai di sini. Apa yang harus kita lakukan setelah ini…?” Christina melihat sekeliling ke arah semua orang di dalam ruangan.

“Matahari sudah terbenam, jadi akan sulit untuk menuju Amande hari kalian menginap di benteng malam ini? Butuh waktu untuk menyiapkan makan malam, jadi jika kalian ingin menginterogasi para tahanan pada waktu itu, kalian boleh menggunakan ruang interogasi. Apa yang ingin kalian lakukan?” tanya Liselotte.

“Alfred dan Charles sama-sama mengharapkan interogasi. Kita bisa saja melakukan kesalahan jika kita terburu-buru bertindak secara gegabah, dan itu akan menjadi masalah jika hal tersebut membiarkan mereka memulihkan ketenangan mereka. Biarkan mereka tinggal di penjara bawah tanah hari ini. Jika harga diri Charles terluka, dia mungkin akan lebih terbuka untuk berbicara,” kata Christina, sambil mempertimbangkan kepribadian Charles. Dia ingin memprovokasinya dengan menunda interogasi untuk menyiratkan bahwa Charles adalah prioritas rendah dalam pandangannya. Jika dia menolak untuk berbicara setelah itu, dia akan terus membiarkannya sendirian hingga kelelahan mentalnya menumpuk.

Liselotte memahami niat Christina. “Aku mengerti. Aku akan mengatur agar mereka berdua diberikan makanan minimal dan sama sekali tidak diberi informasi apa pun.”

“Terima kasih.”

“Sama-sama. Sekarang setelah urusan kita di sini selesai, silakan luangkan waktu untuk beristirahat di sini sampai jam makan malam. Aku akan menyiapkan kamar untuk kalian—meskipun mungkin kamar tersebut tidak terlalu mewah. Apakah kalian memiliki permintaan mengenai akomodasi kalian?” tanya Liselotte.

Flora memandang Christina. “Umm, bolehkah aku tinggal di kamarmu malam ini?” tanyanya dengan agak malu-malu.

“Tentu, aku tidak keberatan,” Christina mengangguk dengan senyuman lembut.

“Kalau begitu, aku akan menyiapkan satu kamar untuk kalian berdua. Aku juga akan meminta kamar Vanessa ditetapkan di sebelah kamar kalian, untuk memudahkan tugas berjaga,” kata Liselotte, memandang kakak beradik kerajaan itu dengan hangat.

Vanessa menundukkan kepalanya. “Terima kasih.”

“Kalau begitu, bisakah kami tinggal di kamar yang sama juga? Ada beberapa hal yang perlu kami diskusikan satu sama lain,” Sara mengangkat tangannya dan berkata, sambil memandang Alma dan Orphia yang duduk di sampingnya.

“Dimengerti. Kalau begitu… Bagaimana dengan kamar berempat untuk Lady Sara, Lady Orphia, Lady Alma, and Lady Celia?” tanya Liselotte kepada keempat calon teman sekamar itu.

“Apakah tidak apa-apa, Celia?” Sara memastikan.

“Ya, aku tidak keberatan,” kata Celia.

“Jika yang lain tidak punya permintaan apa pun, kalian akan diberikan kamar sendiri. Apakah itu tidak apa-apa?” Liselotte meminta konfirmasi kepada yang lain.

“Ya, bagiku tidak masalah.”

“Aku juga sama.”

Duke Huguenot dan Rio menjawab lebih dulu.

“Kami juga tidak keberatan dengan itu.”

“Ya.”

Rei dan Kouta saling bertukar pandang sebelum menjawab.

Roanna ragu-ragu sejenak sebelum menjawab, mungkin karena khawatir terhadap sang pahlawan Hiroaki serta kakak beradik kerajaan Christina dan Flora. “Aku akan puas jika kamarku dekat dengan Sir Hiroaki dan Yang Mulia…”

Saat ini, dia bertindak sebagai pengurus bagi Flora dan Hiroaki, tetapi dengan adanya Christina, dia harus menunjukkan pertimbangan yang jauh lebih hati-hati.

Hiroaki menatap mata Roanna dan mengangkat bahu. “Aku tidak keberatan.”

“Kalau begitu, aku akan segera menunjukkan jalannya,” kata Liselotte, berdiri dan berjalan menuju pintu. Yang lain mengikuti gerakannya dan bangkit berdiri. Aria sudah berjalan lebih dulu untuk membuka pintu, ketika—

“Permisi, Nona Liselotte,” kata Celia.

“Ya, ada apa?”

“Atas izin Anda, bolehkah saya meminta waktu untuk berbicara dengan Aria?”

“Tentu saja. Aku tadinya berniat mengirim Aria ke sana setelah Sara dan yang lainnya selesai mengobrol, tetapi apakah kamu ingin ngobrol dengannya sekarang?” balas Liselotte dengan ceria.

“Kita selalu bisa mengobrol di malam hari, jadi silakan saja, Celia,” kata Sara, sementara Orphia dan Alma mengangguk menyetujui.

“Terima kasih… Kalau begitu, saya akan menerima tawaran Anda, jika Anda tidak keberatan?” tanya Celia kepada Liselotte.

“Mengerti. Kalau begitu, kalian boleh tinggal di ruangan ini dan menggunakannya. Aria, kamu bebas tugas untuk sisa hari ini. Luangkan waktu dan bersantailah bersama Lady Celia.”

“Terima kasih banyak,” kata Aria dengan senyuman tipis.

“Cosette, Natalie,” panggil Liselotte kepada kedua pelayan yang menunggu di luar.

“Apakah Anda memerlukan sesuatu, Lady Liselotte?” jawab Natalie dengan hormat.

Sementara itu, Cosette dengan santai mencoba menatap mata Rio, tersenyum manis begitu Rio melihatnya seolah ingin berkata “lama tak jumpa, Tuan Haruto.” Rio membalas dengan senyuman singkat dan mengangguk kecil sebagai respons.

“Antar orang-orang dari Restoration dan kedua anak laki-laki itu ke kamar mereka. Putri Christina dan Putri Flora berada di kamar yang sama. Tempatkan semua orang lainnya di kamar yang saling berdampingan.”

“Dimengerti.” Natalie dan Cosette sama-sama menundukkan kepala.

“Chloe, kamu antar teman-teman Tuan Haruto ke kamar mereka. Mereka akan menggunakan kamar untuk empat orang, bersama Lady Celia,” kata Liselotte kepada Chloe yang sedang menunggu di dekat situ.

“Baik, Nona,” Chloe mengangguk.

Begitu mengonfirmasinya, Liselotte menoleh ke arah Rio di belakangnya. “Tuan Haruto, maaf sudah menyita waktu Anda seperti ini, tapi…”

“Ada apa?” tanya Rio sambil memiringkan kepalanya.

“Sebelum aku mengantarmu ke kamar, bolehkah aku meminta waktu sebentar lagi? Ada sesuatu yang ingin aku diskusikan denganmu secara empat mata,” kata Liselotte.

“Tentu. Aku juga baru saja memikirkan hal yang sama, jadi dengan senang hati,” jawab Rio seketika, menerima percakapan pribadi itu dengan santai. Hiroaki mengawasi mereka dari samping dengan ekspresi tidak senang.

Hah? Kedua orang ini mengabaikanku dan malah pergi berdua…?

Padahal dia sudah repot-repot datang berkunjung untuk menemui Liselotte. Apakah wanita itu lebih mementingkan seorang ksatria yang baru saja naik pangkat daripada seorang pahlawan?

Kendati demikian, ada gadis-gadis lain yang menarik perhatiannya saat ini—kelompok Sara. Dia sedikit tidak senang karena Haruto membawa mereka serta, namun ketiganya dikaruniai paras yang tidak kalah menarik dari Liselotte.

Mereka begitu memikat, sungguh bohong jika dia bilang tidak tertarik untuk mengenal mereka. Bahkan selama diskusi berlangsung, dia terus melirik ke arah mereka karena penasaran. Atau lebih tepatnya, dia tidak punya ketertarikan khusus pada diskusi tersebut, jadi di tengah-tengah pembicaraan dia terus menatap mereka.

Karena mereka, Hiroaki memutuskan untuk menutup mata atas pertemuan pribadi Liselotte dan Haruto, dan malah menggunakan kesempatan ini untuk mengajak ketiganya minum teh sementara Haruto sedang sibuk.

“Mmm. Ah, apa yang harus kulakukan sekarang? Tidak ada yang bisa kulakukan begitu kembali ke kamarku… Menjadi pahlawan benar-benar membosankan,” tiba-tiba Hiroaki mulai berkata. Tidak jelas kepada siapa dia berbicara—atau apakah dia hanya sedang bermonolog—tetapi nada suaranya sangat dibesar-besarkan.

Bagian yang dia tekankan adalah fakta bahwa dia sedang senggang, dan fakta bahwa dia adalah seorang pahlawan. Itu adalah skema pencari perhatian untuk memikat siapa saja yang memiliki sedikit ketertarikan pada pahlawan—paling efektif jika digunakan terhadap putri bangsawan. Mereka akan mengerumuni Hiroaki bahkan tanpa diundang, itulah sebabnya Hiroaki ahli dalam berada di pihak yang menerima dan sama sekali tidak memiliki pengalaman dalam hal mengundang.

“…?” Saat ini, baik Sara, Orphia, maupun Alma sama sekali tidak memiliki ketertarikan khusus pada pahlawan. Mereka merasa cara Hiroaki tiba-tiba berdehem lalu mulai berbicara itu aneh dan sedikit memiringkan kepala mereka, namun kemudian mengabaikan kata-kata itu sebagai hal yang tidak penting bagi mereka dan malah berbicara kepada pemandu mereka, Chloe. “Kalau begitu, bisakah tolong tunjukkan kamar kami?”

“Ah, ya. Silakan, lewat sebelah sini.” Chloe juga tampaknya menganggap tindakan mendadak Hiroaki itu aneh, saat dia kembali sadar mendengar suara Sara dan melanjutkan tugasnya.

“Pfft…”

Hal itu pasti tampak sangat menggelikan bagi Cosette, yang hampir tertawa terbahak-bahak. Namun, seperti yang diharapkan dari seorang pelayan Liselotte, dia secara alami memalingkan wajahnya agar Hiroaki dan yang lainnya tidak melihat.

“Apa kau bodoh?” bisik Natalie ke telinga Cosette.

“Kalau begitu kami akan beristirahat dulu, Haruto,” kata Sara kepada Rio dengan sikap akrab saat mereka pergi.

“Baiklah.”

“Datanglah ke kamar kami kalau urusanmu sudah selesai,” kata Orphia.

“Dimengerti.”

“Kami akan menunggu,” kata Alma.

“Kuharap kalian beristirahat dengan baik,” jawab Rio kepada mereka bertiga sambil memerhatikan kepergian mereka. Dia kemudian berbalik untuk berbicara kepada Celia sebelum berangkat sendiri. “Silakan nikmati reuni kalian dengan Nona Aria, Celia.”

…Celia?

Karena Rio memanggil Celia tanpa gelar, orang-orang yang tidak bepergian bersama mereka dalam perjalanan ke sini tampak terkejut. Masuk akal, karena tidak ada kesempatan bagi mereka untuk saling memanggil dengan nama satu sama lain selama diskusi tadi. Flora sangat terkejut, mengerjap dan terpaku kaku.

“Yups. Sampai jumpa nanti,” jawab Celia dengan senyuman lembut, setelah itu Rio mengangguk dengan ceria.

“Kalau begitu, kami pamit undur diri dulu. Jika Anda memerlukan sesuatu, silakan tanyakan kepada salah satu pelayan saya. Sir Haruto, lewat sini,” Liselotte mengangguk kepada kelompok Christina dan Duke Huguenot sebelum memanggil Rio pergi.

“Permisi,” kata Rio, pergi bersama Liselotte.

Ah, jadi begitu rupanya. Yah, aku sudah sedikit curiga kalau ini masalahnya. Jadi dia sudah masuk dalam lingkaran. Aku tidak tahu apakah mereka benar-benar berkencan, tapi sedikit saja bayangan pria lain sudah cukup membuatku kehilangan minat. Itu wilayah yang tidak diinginkan. Ah, itu informasi yang tidak perlu, sungguh, aku tidak perlu tahu hal itu. Sungguh mengecewakan. Ah, ah, ah…

Itu benar-benar peringatan yang menyadarkan. Hiroaki merasa sangat terpukul dalam hatinya, menggertakkan giginya pelan sementara mulutnya berkerut.

Bagaimana jika Liselotte mulai menunjukkan ketertarikan padanya juga? Memangnya apa yang harus mereka bicarakan berdua? Berjalan berdampingan seolah-olah mereka sedang pamer…

Dengan kebencian yang luar biasa akibat kesalahpahaman, dia menatap tajam ke arah punggung Rio. Dia telah menghindari interaksi dengannya selama ini, karena sulit baginya untuk mendominasi. Dia mungkin perlu mempertimbangkan cara untuk menjatuhkan reputasi Rio, pikirnya…

Tepat saat dia memikirkan hal itu, seseorang yang telah mengamati Hiroaki tanpa disadarinya mulai bersuara. Itu adalah Christina.

“Kita pergi juga?” tanya Christina dengan pura-pura tidak tahu.

“Benar… Roanna,” Duke Huguenot langsung merespons. Di saat-saat seperti ini, Roanna adalah yang terbaik dalam menghibur Hiroaki. Menyadari suasana hati Hiroaki yang buruk, dia secara tersirat meminta Roanna untuk mengurusnya.

Roanna perlahan mendekati Hiroaki dan menyentuhnya, lalu berbicara kepadanya dari jarak dekat. “Ya. Mari kita pergi, Sir Hiroaki.” Saat Hiroaki merasakan kehangatan tubuh Roanna melalui pakaiannya, perhatiannya beralih kepada Roanna.

Roanna benar-benar hebat dalam hal-hal seperti ini. Namun, Liselotte… Sungguh disayangkan. Dia bertindak seolah-olah mempermainkanku.

Dia telah repot-repot datang berkunjung, tetapi wanita itu justru tidak memprioritaskannya. Merasa tidak senang, Hiroaki menghela napas dengan lelah seolah-olah sedang melampiaskan seluruh amarahnya.

“Ah, ya. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan, tapi aku sedikit lelah. Mari kita bersantai bersama di kamarku. Flora dan… Christina? Apa yang akan kalian berdua lakukan?”

Dia tampak berada dalam suasana hati yang lebih baik sekarang, seraya tersenyum lebar sambil melingkarkan tangannya di bahu Roanna sebelum menoleh ke arah Flora dan Christina untuk mengajak mereka ikut. Jeda singkat sebelum menyebut nama Christina kemungkinan besar karena dia tidak yakin dengan status hubungan mereka.

“Apa yang akan kau lakukan, Christina?” tanya Flora, sambil mengamati reaksi Christina.

“Aku ada sedikit urusan yang ingin kubahas dengan Duke Huguenot, jadi kalian duluan saja. Aku akan mampir begitu selesai. Apakah itu tidak masalah bagimu?” kata Christina, tersenyum anggun kepada Hiroaki.

“Yah, aku yakin kalian punya lebih banyak informasi yang ingin dibagikan sekarang setelah kalian bertemu. Aku tidak keberatan. Tapi aku juga ingin berbicara denganmu, jadi cepatlah kembali dan jangan terlalu lama.” Hiroaki mengangguk dengan sombong, sengaja bersikap bermurah hati. Sekarang setelah dia bergabung dengan Restoration, Christina berada di pihaknya dan bukan lagi prioritas utama untuk didekati.

Mengingat hal itu, perhatiannya lebih terfokus pada kelompok Liselotte dan Sara, yang dia sendiri tidak tahu kapan akan memiliki kesempatan lagi untuk berinteraksi dengan mereka, tetapi senyuman Christina barusan tepat mengenai sasaran di hatinya.

“Tentu saja,” Christina mengangguk dengan ramah.

Bagus. Dia punya kepribadian yang cukup berbeda dari adik perempuannya. Sedikit mirip mawar berduri, tapi itu tidak buruk juga. Kuharap kita bisa mengobrol segera.

Hiroaki gelisah karena penuh antisipasi. Berkat itu, dia untuk sementara waktu berhasil menepis Haruto dari pikirannya.

“Kalau begitu, aku akan meminta Roanna dan Flora untuk mengusir kebosananku dengan mengobrol dulu,” kata Hiroaki, sambil menguasai dirinya kembali.

“Jika Anda ingin berdiskusi, Anda bisa menggunakan ruang tamu terbuka di sebelah sana,” saran Natalie kepada Christina dan Duke Huguenot. Tampaknya ruang rapat yang telah mereka gunakan hingga saat ini berada tepat di sebelah ruangan lain, di atas pintu lain yang terhubung ke dapur sederhana.

“Terima kasih atas perhatiannya. Kami akan dengan senang hati menerimanya,” kata Christina dengan hangat. Keanggunannya cukup untuk memikat bahkan mereka yang sesama jenis.

“Kalau begitu, aku akan menyiapkan teh dan camilan untuk Anda. Cosette, tolong tunjukkan jalan kepada yang lainnya.” Natalie mempercayakan Hiroaki dan yang lain kepada Cosette sebelum berjalan lebih dulu memasuki ruang rapat.

“Baiklah, tidak masalah,” sahut Cosette bersenandung, sambil mengantar kepergian Natalie dengan pandangannya.

“Kalau begitu, sampai jumpa lagi, Christina,” kata Flora dengan enggan.

“Yang Mulia, kata-kata tidak mampu menggambarkan betapa terhormatnya saya bisa berada di hadapan Anda sekali lagi. Saya menantikan kesempatan kita berikutnya untuk berbicara bersama.” Roanna menunduk dalam-dalam, menunjukkan rasa hormatnya kepada Christina.

“Kamu telah bekerja dengan baik dalam mendampingi Flora. Nanti ceritakan kepadaku tentang segala hal yang terjadi selama aku tidak ada.”

“Tentu saja,” jawab Roanna, senang karena menerima apresiasi dari Christina. Kemudian, dia beralih kepada Celia. “Profesor Celia, aku juga sangat senang bisa melihat Anda lagi. Semoga nanti kita bisa banyak mengobrol juga.”

“Ya, sudah lama sekali, Roanna. Aku juga senang bisa melihatmu lagi. Putri Flora, sudah lama tidak berjumpa,” balas Celia sambil tersenyum ceria.

“Benar, Profesor Celia. Dan, umm, begitulah…” balas Flora kepada Celia dengan senyuman sekilas, terbata-bata seolah-olah dia sedang mencari kata-kata yang tepat. Alih-alih mengukur reaksi Celia, rasanya lebih seperti dia ingin menanyakan sesuatu.

“Hmm…?” Celia tampak menyadari hal itu dan memiringkan kepalanya dengan rasa ingin tahu.

“Ayo kita pergi kalau begitu.” Hiroaki mendesak mereka untuk bergerak, memotong percakapan tersebut.

Flora mengakhiri percakapan itu dengan sedih. “Baiklah… Tolong ceritakan kisahmu nanti, Profesor Celia.”

“Silakan jalan… Cosette, ya?” Hiroaki menyapa Cosette seolah-olah dia harus mengingat namanya. Namun, para pelayan Liselotte semuanya telah menarik perhatiannya sebagai wanita tingkat atas, jadi dia telah menghafal setiap nama dan wajah mereka. Dia berpura-pura harus mengingatnya karena perasaan malu yang tak terlukiskan yang dirikannya.

“Merupakan suatu kehormatan bagi pelayan sepertiku untuk diingat. Silakan, lewat sini.” Cosette tersenyum ramah, tetapi langsung mulai memimpin jalan tanpa basa-basi. Hiroaki memperhatikan punggungnya sambil bersenandung dalam hati.

Hmm, para pelayan Liselotte benar-benar memiliki tingkat profesionalisme yang tinggi.

Bahkan ketika dia memuji mereka, mereka tampak senang tetapi menghindarinya dengan anggun, dan tidak pernah terpancing oleh usahanya untuk menarik perhatian mereka. Dia menduga itu karena mereka sedang bertugas, tetapi berkat itu dia tidak memiliki kesempatan untuk mengumpulkan informasi pribadi apa pun.

Karena mereka menolaknya atas nama pekerjaan, mereka adalah pasangan yang buruk untuk gaya Hiroaki yang suka menunggu undangan. Yang berarti Hiroaki harus secara aktif mencoba berinteraksi dengan mereka, tetapi dia benci jika orang lain menyadari bahwa dia secara sepihak mencoba mengambil hati seseorang yang masih acuh tak acuh kepadanya. Dia harus berada di posisi yang lebih unggul setiap saat, itulah sebabnya dia secara pasif menunggu tawaran.

Andai saja aku bisa mendapatkan Liselotte, maka pasukan pelayannya akan ikut sebagai bonus, pikir Hiroaki sambil berjalan mengikuti Cosette, terus memperhatikan punggungnya. Ketika dia memikirkannya seperti itu, keberadaan Liselotte sangatlah menarik. Mengingat bahwa wanita itu bersama Haruto sekarang membuat kebenciannya kembali muncul, meskipun…

Tunggu sebentar… Mungkinkah sikap cuek Liselotte juga disebabkan oleh pola pikir profesional seperti para pelayannya? Mungkin dia tidak ingin melibatkan perasaan pribadinya saat berinteraksi denganku selama pekerjaannya…

Pemikiran seperti itu tiba-tiba terlintas di benak Hiroaki. Itu bukan hal yang tidak mungkin, mengingat betapa fokusnya para pelayannya saat mereka sedang bertugas.

Ah…

Langkah kaki Hiroaki terhenti.

Roanna langsung ikut berhenti, mengintip wajah Hiroaki di sampingnya. “Sir Hiroaki?”

“Bukan, bukan apa-apa.” Hiroaki menggelengkan kepalanya dan mulai berjalan lagi. Di belakangnya mengikuti Roanna dan Flora, lalu Kouta dan Rei.

Christina tadinya memperhatikan punggung Flora saat dia pergi, tapi kemudian dia berbicara kepada Celia saat mulai memasuki ruang rapat yang lain. “Kalau begitu, kami juga akan masuk ke dalam ruangan. Sampai jumpa nanti, Profesor Celia.”

Hal ini membuat Celia dan Aria menjadi satu-satunya yang tersisa.

“Silakan duluan,” ajak Aria kepada Celia untuk masuk ke dalam ruang rapat dengan gaya seperti seorang pelayan.

“Duh, ada apa dengan itu? Sekarang kan cuma ada kita berdua, jadi kamu tidak perlu bersikap seperti pelayan,” kata Celia dengan sedikit rasa risih.

“Hehe. Kalau begitu, mari kita masuk. Aku akan menyiapkan teh.” Aria memperlihatkan secercah senyuman lembut yang jarang terlihat dan memasuki ruangan bersama Celia.

◇ ◇ ◇

Sementara itu, Rio telah tiba di ruangan tempat Liselotte membimbingnya.

“Aku harap kamu tidak keberatan jika kita menggunakan kamar yang aku tempati. Silakan masuk,” kata Liselotte sambil membuka pintu dan mempersilakan Rio masuk terlebih dahulu.

Apakah tidak apa-apa bagi seorang pria untuk memasuki kamar seorang wanita bangsawan? Lagipula dia tidak didampingi oleh para pelayannya…

Sebelumnya memang ada situasi di mana mereka bertemu empat mata di ruang rapat, tetapi Rio masih belum begitu akrab dengan etiket kaum bangsawan. Namun, karena Liselotte tidak mempermasalahkannya, dia mungkin hanya terlalu banyak berpikir. Lebih dari apa pun, fakta bahwa mereka berdua-duaan seperti ini adalah bukti kepercayaan Liselotte kepadanya.

Akan terasa aneh jika dia ragu-ragu terlalu lama, jadi Rio membalas kepercayaan Liselotte dengan sedikit membungkuk sebelum memasuki ruangan. “Permisi.”

Ruangan itu tampak seperti apartemen studio dengan dapur sederhana, tempat tidur, lemari pakaian, meja, dan kursi untuk duduk.

“Aku akan membuatkan teh untukmu sekarang. Aku khawatir ruangannya tidak begitu luas, tapi silakan duduk.” Liselotte menarik kursi di ujung meja dan mempersilakan Rio untuk duduk.

“Terima kasih banyak,” kata Rio sambil duduk.

“Sama-sama,” kata Liselotte dengan ceria, berdiri di dapur di belakang Rio. Dia mulai menyiapkan teh dengan gerakan yang mahir.

Rasanya agak aneh… pikir Rio sambil memperhatikan punggung Liselotte. Dia memiliki imej yang kuat sebagai seorang wanita bangsawan, jadi melihatnya menyeduh teh terasa begitu membumi.

“Apakah kamu sering menyiapkan teh sendiri?” tanya Rio saat wanita itu merebus air menggunakan artefak sihir.

“Ya, kapan pun aku sedang sendirian. Meskipun aku jarang menyiapkannya untuk orang lain, jadi aku hanya bisa berharap ini cukup baik,” kata Liselotte dengan malu-malu, pipinya merona merah tipis.

“Ini adalah teh yang dituangkan olehmu. Aku benar-benar menantikannya,” Rio terkekeh.

“Astaga, jangan beri aku lebih banyak tekanan.”

Dengan begitu, mereka mengobrol santai sampai dia selesai dan Liselotte kembali dengan nampan di tangannya. Teh itu masih harus diseduh beberapa saat lagi, jadi mereka tidak langsung menuangkannya.

“Sekarang, mari kita langsung ke pokok permasalahan—tetapi pertama-tama, aku ingin berterima kasih karena kamu telah datang ke sini.” Liselotte menundukkan kepalanya kepada Rio sebagai pengantar.

“Sama sekali tidak.” Rio membalas membungkuk. “Seperti yang kukatakan tadi, aku juga memiliki hal-hal yang ingin kudiskusikan denganmu… Meskipun itu lebih merupakan permintaan dari Satsuki.”

“Ya ampun, dari Satsuki?” Liselotte mengerjap.

“Ya. Topik tentang makanan Jepang sempat muncul di perjamuan, jika kamu ingat. Tentu saja, makanannya akan terasa lebih enak jika kita semua makan bersama, jadi aku ingin mengundangmu juga, karena kamu hadir pada waktu itu.”

“Dengan senang hati.”

Jika Liselotte berada di ibu kota sebelum bertemu Rio di sini, dia mungkin sudah menemui Satsuki dan mendengarnya, namun rupanya bukan itu masalahnya. Liselotte tersenyum lebar dengan bahagia.

“Masalahnya adalah kapan, di mana, dan siapa lagi yang harus diundang…”

Rio, Liselotte, Satsuki. Ketiganya biasanya berada di tempat yang berbeda, yang membuat pembuatan rencana menjadi agak sulit. Tidak ada metode komunikasi yang praktis seperti di Jepang modern di mana mereka bisa menelepon atau berkirim pesan.

Ada artefak sihir yang mampu melakukan transmisi jarak jauh, tetapi informasinya akan bocor secara terbuka kepada siapa pun yang memiliki artefak serupa dalam jangkauan transmisi, jadi itu tidak bisa digunakan untuk urusan pribadi.

Kode memang ada, tetapi komunikasi terbatas pada mereka yang mengetahui kode tersebut, dan ada risiko pesan-pesan itu diuraikan. Informasi yang sangat rahasia harus selalu disampaikan dari mulut ke mulut—ini adalah pengetahuan umum.

Jika orang-orang penting hendak mengadakan jamuan makan malam yang menyajikan kuliner tidak biasa, bukan hal yang aneh jika banyak bangsawan mendengarnya dan meminta untuk ikut serta.

“Yang berarti perencanaannya harus dilakukan secara diam-diam,” duga Liselotte seketika.

“Ya. Aku tidak ingin perkumpulannya terlalu besar, karena akan sulit menikmati cita rasa nostalgia itu sambil mengkhawatirkan mata-mata di sekitarmu.”

“Aku sangat setuju,” Liselotte mengangguk tegas. Ini adalah kesempatannya untuk menikmati makanan yang sudah tidak ia rasakan sejak kehidupan sebelumnya—ia ingin menikmati makanannya sepuas hati tanpa harus mencemaskan keadaan sekitar.

“Yang berarti, setidaknya, Satsuki and Miharu akan disertakan. Apakah ada orang lain yang ingin kamu undang?” tanya Rio, memulai dengan membahas para peserta.

“Biar kulihat… Tidak ada seorang pun khusus yang ingin ku rekomendasikan dari kalangan kenalanku… Tapi aku ingin lebih banyak mengobrol dengan teman-temanmu. Terutama Lady Celia dan Lady Aishia. Mereka membantu saat penyerangan di Amande, namun aku hampir tidak pernah berbicara sama sekali dengan mereka.”

“Celia dan Aishia… Apakah itu termasuk Sara dan yang lainnya juga?”

“Ya. Aku yakin Satsuki juga ingin menemui mereka, jika mereka adalah teman-teman Miharu juga… Selain itu, jika memungkinkan, aku ingin bertemu dengan gadis yang selalu naik bus di kehidupan masa lalu kita,” pinta Liselotte.

Satsuki sebenarnya sudah menemui semuanya, selama waktu ketika dia menyelinap keluar kastil saat kita berada di sana untuk perjamuan. Yang berarti tinggal Latifa, tapi…

Rio berhutang banyak pada Liselotte, dan setidaknya mereka sekarang sudah berteman. Dia akan merasa tidak enak jika Liselotte adalah satu-satunya orang yang tidak menyadari fakta itu selama jamuan makan mereka. Dan yang terpenting, dia akan merasa bersalah jika membuat yang lain bertindak seolah-olah mereka baru pertama kali bertemu di hadapan Liselotte. Sepertinya yang terbaik adalah menjelaskan semuanya.

Namun, masalah yang terlintas di benak Rio adalah Latifa.

Dia tidak sepenuhnya yakin, tetapi ada kemungkinan besar orang yang mengirim Latifa untuk membunuh Rio bertahun-tahun lalu adalah Duke Huguenot. Memasuki ranah itu dapat memicu kenangan traumatis bagi Latifa, jadi dia sengaja menghindari topik tersebut sejak datang ke wilayah Strahl dan berkenalan dengan Duke Huguenot.

Hingga saat ini, gadis itu sebagian besar hanya tinggal di dalam rumah batu dan belum pernah dibawa ke acara apa pun yang melibatkan para bangsawan, tetapi—

Ini mungkin kesempatan yang baik baginya untuk tumbuh. Untuk menghapus luka masa lalunya.

Dia teringat akan apa yang dikatakan oleh Tetua Ursula pada pertemuan sebelum datang ke Strahl bersama Latifa.

Apakah benar-benar tidak apa-apa untuk membuatnya terus-menerus tinggal di dalam rumah, meskipun mereka telah datang ke Strahl? Bukankah seharusnya dia membiarkan Latifa mengalami lebih banyak hal, demi masa depannya?

Dia tidak tahu apa yang benar. Namun, jika Latifa ingin menemui Liselotte, dia ingin menghormati keinginan itu sebagai kakak laki-lakinya.

Rio memikirkan segalanya dengan cermat sebelum memberikan jawaban yang cukup optimis. “Mungkin tidak mudah untuk diatur, tetapi aku mengerti. Aku akan menanyakannya kepada semua orang.”

“Benarkah? Terima kasih banyak!” Liselotte berseri-seri bahagia.

“Sama-sama. Sebenarnya… gadis anak SD itu adalah adik perempuanku,” ungkap Rio.

“B-Benarkah?” Liselotte terkejut.

“Ya. Kami tidak sedarah, tetapi dia terlahir kembali di lingkungan yang agak rumit. Peristiwa tertentu membuatku menjadi walinya. Sekarang dia anak yang ceria, tetapi dia mungkin menyimpan perasaan negatif terhadap para bangsawan, terutama para bangsawan tertentu dari Kerajaan Beltrum… Itulah sebabnya dia tinggal bersama beberapa kenalan dekat hampir sepanjang waktu dan jarang keluar rumah,” jelas Rio kepada Liselotte, mengisyaratkan masa lalu kelam Latifa.

“Oh…”

“Namun, aku ingin melakukan apa pun yang kubisa untuknya. Jika dia ingin melangkah ke dunia luar, maka aku ingin mendukungnya. Aku sama sekali tidak keberatan memperkenalkanmu kepadanya. Itulah sebabnya akulah yang seharusnya memintamu—sudilah bertemu dengan adik perempuanku? Aku yakin dia akan sangat senang.” Rio menundukkan kepalanya dengan tenang.

“Aku mengerti… Kalau begitu, serahkan semua pengaturannya kepadaku. Aku juga sangat ingin menemuinya. Aku akan menyiapkan tempat di mana dia bisa merasa nyaman. Aku juga akan memastikan nama dan wajahnya tidak diungkapkan kepada pihak luar,” angguk Liselotte dengan tegas, mengambil alih peran sebagai penyelenggara.

“Itu akan sangat melegakan. Seperti yang baru saja kubilang, aku terutama ingin menjauhkannya dari para bangsawan Kerajaan Beltrum. Setidaknya, selama dia tidak menginginkan hal sebaliknya…” kata Rio dengan ekspresi sedikit bermasalah, kata-katanya mengandung makna yang lebih mendalam.

Bayangan kekhawatiran melintas di wajah Liselotte. “Apa pun yang terjadi, itu pasti sangat mengerikan…”

“Ya. Aku tidak bisa menceritakan apa pun, dan aku sangat meminta maaf untuk itu… Aku akan mendiskusikannya dengan dia terlebih dahulu mengenai hal itu, agar dia bisa menjelaskannya sendiri kepadamu jika dia akhirnya menemuimu di masa depan.”

“Aku mengerti. Kalau begitu, mari kita batasi pesertanya hanya untuk Satsuki, adik perempuanmu, dan teman-temanmu. Dengan begitu, satu-satunya orang yang baru pertama kali dia temui adalah Satsuki dan aku.”

“Mengenai hal itu…” Rio terdiam sejenak, sebelum berbicara dengan mantap. “Ada sesuatu yang harus kusampaikan kepadamu. Agak sulit untuk mengatakannya kepadamu sebelumnya, tapi aku yakin ini adalah hal yang benar untuk dilakukan sekarang karena kita akan mengadakan jamuan makan malam. Jika memungkinkan, aku ingin merahasiakan ini di antara kita saja.”

“Tentu saja. Ada apa?”

“Teman-temanku dan Satsuki sudah pernah bertemu.”

Liselotte tampak jelas bingung. “Emm… Apakah ada kesempatan bagi hal itu untuk terjadi di suatu tempat?”

“Ya. Secara diam-diam.”

“Secara diam-diam… Jadi Yang Mulia tidak mengetahuinya…?”

“Dia tidak tahu tentang fakta ini.”

“Kalau begitu… Kapan? Bagaimana mereka bisa bertemu?”

“Mereka bertemu saat kami berada di ibu kota untuk menghadiri jamuan makan. Itu terjadi di luar kastil. Kami menyelinap keluar tanpa sepengetahuan siapa pun.”

“B-Bagaimana…?”

“Dengan terbang.”

“A… Begitu ya.” Liselotte tampak cukup terguncang, tetapi menerima ucapannya sebagai kenyataan.

“Aku yakin kamu terkejut, tapi meskipun begitu, kamu tampaknya menerimanya dengan cukup mudah.”

Terbang keluar dari kastil adalah gagasan yang begitu konyol, biasanya hal itu akan langsung diabaikan begitu saja. Hal itu mungkin saja terjadi jika mereka pergi dengan menaiki griffin, tetapi itu tidak disarankan pada malam hari dan bisa menarik perhatian para penjaga dengan suara sayap mereka.

“Aku dengar kau menggunakan pedang sihirmu untuk terbang saat menyelamatkan Lady Miharu dari kapal sihir terakhir kali.”

“Jadi kau sudah tahu…”

“Ya. Meskipun aku tidak menyangka kau akan menyelinap keluar dari kastil.”

“Mohon maaf. Aku datang atas undanganmu, namun bertindak dengan cara yang begitu berisiko.” Rio menundukkan kepalanya sedemikian rupa seolah-olah ditarik ke bawah oleh gravitasi.

“Tidak, aku punya tebakan mengenai alasanmu melakukan itu… Tapi mengapa kau mengungkapkan hal ini kepadaku?” tanya Liselotte sambil menatap wajah Rio.

“Baik aku maupun yang lainnya bukanlah orang-orang yang sangat lihai. Aku rasa kami tidak akan sanggup berbohong di hadapan seseorang yang sudah akrab dengan kami.”

Liselotte tertegun sejenak karena takjub. “Terima kasih banyak…” ucapnya dengan agak malu-malu.

“Untuk apa kau berterima kasih kepadaku?” Rio berkedip.

“Aku hanya senang mendengarnya dikatakan langsung di hadapanku… Bagaimanapun juga, aku sekarang sudah tahu situasinya. Jika memang begitu, bagaimana kalau kita mengadakannya di rumahku di Amande?”

“Di kediamanmu? Satsuki akan ada di sana, kan?”

Ia tidak bisa membawa wanita itu keluar dari kastil dengan cara terbang seperti sebelumnya, dan Amande terlalu jauh dari ibukota. Mereka pasti akan menyadarinya jika Satsuki menghilang, pikirnya.

“Kita tidak bisa membuatmu membawanya dengan terbang lagi, bukan? Aku berniat menempuh jalur yang benar dengan meminta izin kepada Yang Mulia Raja untuk mengundangnya berkunjung.”

“Begitu ya, kalau begitu… Apakah itu mungkin?”

“Kemungkinan besar hal itu bisa terjadi.”

“Jika kamu berkata begitu, maka itu pasti benar. Bisakah aku menyerahkannya kepadamu? Aku harus memberi tahu yang lain.”

“Ya, kamu bisa mengandalkanku. Apakah kamu memiliki preferensi waktu kapan sebaiknya kita mengadakannya?”

“Jika kamu bisa menjamunya dalam satu atau dua bulan ke depan, aku akan mengurus semuanya di pihakku. Namun, jika lebih lama dari itu, aku mungkin harus bepergian lagi…”

“Kalau begitu, sebaiknya aku bergerak sebelum kamu harus pergi lagi. Aku kebetulan berencana pergi ke ibukota berikutnya untuk membuat laporan mengenai insiden ini, jadi kita mungkin akan mengadakannya lebih cepat dari yang diperkirakan. Aku tahu kamu akan menuju ke Rodania setelah ini, tetapi apa yang akan kamu lakukan setelahnya?”

Liselotte bertanya-tanya apakah dia akan tinggal di Rodania, atau apakah dia akan menemaninya ke ibukota Kerajaan Galarc.

“Aku tidak punya rencana untuk tinggal di Rodania dalam jangka panjang, tapi Celia… Aku berencana pergi setelah aku memastikan keselamatannya, karena aku berhutang budi padanya,” jawab Rio. Meskipun dia tidak mengatakannya dengan lantang, Celia pasti akan tetap tinggal di Rodania. Sedikit menyedihkan memikirkan bahwa mereka tidak bisa tinggal bersama lagi, namun tidak ada yang bisa mereka lakukan. Celia adalah seorang bangsawan Beltrum, lagipula.

Meskipun sebagian dirinya sangat ingin segera menuju Kekaisaran Proxia, dia harus meluangkan waktu dan memastikan tidak ada masalah terkait situasi Celia. Itulah sebabnya dia tidak berniat terburu-buru meninggalkan Rodania.

Fakta bahwa dia memanggil namanya tanpa gelar berarti hubungan mereka cukup dekat, ya? Aku ingin tahu hubungan seperti apa yang dimiliki Sir Haruto dan Lady Celia…

Liselotte merasa penasaran tentang hal itu, tetapi tidak baik mencampuri urusan orang lain semata-mata karena rasa ingin tahu. Oleh karena itu, dia menahan diri.

“Begitu ya…” balas Liselotte, meskipun matanya masih menyiratkan rasa penasaran.

“Aishia juga sedang merawat Miharu dan adikku saat ini, jadi aku harus menemui mereka untuk memberi tahu mereka tentang jamuan makan malam itu. Tapi akan lebih baik jika hal itu ditunggu sampai setelah aku menemuimu baik di Amande maupun di Galtuuk agar aku bisa mengonfirmasi detail jamuan makan malam itu denganmu. Kamu bisa menentukan tanggalnya berdasarkan waktu yang cocok untukmu dan Satsuki.”

“Omong-omong, jika kamu membawa Lady Miharu ke Amande sekarang, berapa hari waktu yang dibutuhkan?”

“Jika kami berjalan normal, itu bisa memakan waktu satu hingga dua minggu tergantung cuacanya, tetapi jika aku menggendongnya sambil berlari, kami bisa tiba dalam dua atau tiga hari.”

“Pengurangan waktu yang luar biasa… Hanya ingin tahu saja, berapa hari waktu yang akan kamu butuhkan untuk bepergian dari Amande ke Galtuuk?”

“Jika aku sendirian? Dua hari.” Waktu tercepatnya sebenarnya adalah jika dia terbang, tetapi—”

“D-Dua hari?!” Tampaknya bagi Liselotte, dua hari saja sudah sangat mengejutkan.

“Seperti yang kamu tahu, aku bisa menggunakan pedang sihirku untuk terbang. Selama aku tidak terhalang oleh cuaca buruk, aku bisa memangkas waktu perjalananku secara drastis.”

Itulah sebabnya angka yang dia sebutkan sudah memperhitungkan faktor cuaca. Wilayah Liar memiliki cuaca yang sangat tidak normal, jadi bukan hal yang langka baginya untuk menghabiskan beberapa hari dengan aman menunggu cuaca membaik di rumah batu.

“Kalau begitu… Katakanlah waktunya antara tiga minggu sampai dua bulan dari sekarang. Apakah itu cocok untukmu?”

“Itu bukan masalah.”

“Kalau begitu, aku akan menganggap makan malam itu akan berlangsung dalam jangka waktu tersebut. Jika mengangkut bahan-bahannya terlalu merepotkan, aku bisa menyiapkan kapal sihir tergantung pada lokasi kalian…” Liselotte bergumam.

“Tidak perlu melakukan itu.” Rio menggelengkan kepalanya, lalu tampak berpikir. “Hmm… Aku harus memberitahumu tentang hal ini juga.”

“Ada apa?”

“Sebuah metode untuk mengangkut barang. Jika kita akan memperdagangkan alkohol satu sama lain di masa depan, yang terbaik adalah memperjelas hal ini. Hanya orang-orang yang dekat denganku yang tahu tentang ini, tetapi aku percaya kamu bisa menjaga rahasia ini.”

“Aku cukup merasa terhormat kamu berpikiran begitu, tapi…”

Sebenarnya bagaimana cara dia mengangkut barang-barang?

“Inilah yang aku gunakan. Dissolvo.”

Rio mengulurkan tangan yang memegang Time-Space Cache dan mengucapkan mantra tersebut. Ruang di sekitar pergelangan tangannya berdistorsi dan sebuah botol keramik muncul.

“Ap… Apa itu?” Liselotte membeku dengan mata terbelalak, hampir tidak sanggup melontarkan pertanyaannya.

“Ini adalah artefak kuno yang disebut Time-Space Cache. Ada batasan tertentu dalam penggunaannya, tetapi artefak ini dapat menyimpan barang-barang di dalam subruang yang terisolasi dari waktu dan ruang. Seperti yang kamu lihat, kamu bisa mengambil barang-barang kapan pun kamu membutuhkannya,” jelas Rio.

Pengungkapan keberadaan artefak sihir tersebut kepada Liselotte bukanlah gagasan yang sepenuhnya impulsif—dia telah mempertimbangkan untuk melakukannya sejak mereka menandatangani kontrak saat jamuan makan malam agar Liselotte menjual minuman beralkohol buatan Rio. Ini adalah kesempatan bagus untuk mengungkapkannya.

“Artefak kuno yang bisa menyimpan barang di dalam subruang yang terisolasi dari waktu dan ruang… Berdasarkan informasi itu, sepertinya kamu bisa menyimpan makanan tanpa membuatnya membusuk?” tanya Liselotte dengan hati-hati, tidak sanggup mempercayai apa yang baru saja didengarnya.

“Ya, benar sekali.”

Suara Liselotte jelas bergetar karena terkejut. “Itu benar-benar barang yang luar biasa…”

Pedang sihir yang bisa mengendalikan angin, artefak yang bisa mengubah warna rambut, dan sake kualitas tinggi yang bisa membuat seorang bangsawan mendesah kenikmatan hanya dalam sekali teguk… Sebenarnya berapa banyak harta karun yang dia sembunyikan? Dia mulai merasa lebih jengkel daripada terkesan pada titik ini.

Memiliki barang-barang luar biasa sebanyak ini sudah tidak normal pada dirinya sendiri, namun karena dia menyadari kekuatan Rio yang tidak biasa, bahkan ketidaknormalan ini terasa kecil sebagai perbandingan.

Sebuah artefak yang bisa mengangkut barang tanpa memakan tempat?! Aku menginginkannya! Aku sangat menginginkannya! Tapi aku tidak boleh mengatakan hal yang tidak masuk akal seperti itu kepada Sir Haruto!

Time-Space Cache adalah barang yang akan diperebutkan oleh pedagang mana pun hingga mati-matian. Liselotte nyaris keceplosan meminta agar barang itu diberikan kepadanya, tetapi dengan susah payah dia menelan kembali kata-katanya. Karena itu adalah artefak sihir kuno, kemungkinan besar mustahil untuk dibuat atau didapatkan.

“Ada alkohol di dalam botol ini, jika kamu ingin mencicipinya.” Rio meletakkan botol sake tersebut di atas meja sebagai persembahan.

“T-Terima kasih banyak.” Liselotte menundukkan kepalanya.

“Dan karena itulah, aku bisa mengangkut barang menggunakan artefak ini. Jadi tidak perlu khawatir.”

“Aku mengerti.” Liselotte tersenyum masam, menerima kenyataan bahwa kekhawatirannya tidak beralasan.

“Selain itu, Dissolvo.” Rio mengulurkan tangannya di atas meja dan merapalkan mantra itu sekali lagi. Piring berisi cokelat yang dipotong tipis-tipis muncul. “Ini adalah cokelat buatan rumahan Miharu.”

“Miharu…” Liselotte menelan ludah. Sayangnya, tidak ada camilan di ruangan ini, dan satu-satunya hal di atas meja adalah teh mereka. Ini akan menjadi camilan yang sempurna untuk dinikmati bersama teh tersebut.

“Kamu merapalkan Conditum untuk menyimpannya,” kata Rio datar, lalu menyimpan kembali piring cokelat itu ke dalam Time-Space Cache.

“Ah…” Liselotte mengeluarkan suara setengah terkejut dan setengah kecewa.

“Dissolvo. Silakan nikmati bersama teh Anda, jika Anda mau,” tawa Rio kecil sembari mengeluarkan piring itu sekali lagi. Dia hanya menyimpannya untuk mendemonstrasikan efek artefak tersebut—dia berniat memberikan cokelat itu padanya sejak awal.

“K-Kalau begitu, aku akan dengan senang hati menerimanya…” Liselotte dengan malu-malu meraih piring cokelat tersebut. Mengetahui betapa lezatnya camilan buatan rumahan Miharu, dia tidak kuasa menolaknya. “I-Ini enak sekali!”

Rio juga mengambil satu agar Liselotte tidak merasa risi saat makan. Rasa manis yang tidak terlalu pekat menyebar di dalam mulutnya.

“Ini enak,” komentar Rio.

“Mmm!” Suara kegembiraan meluncur dari bibir Liselotte, yang mengangguk antusias sambil tersenyum lebar. Reaksinya yang manis membuat Rio tersenyum lembut.

“Kalau dipikir-pikir, kamu tadi bilang kalau kamu juga punya sesuatu yang ingin didiskusikan, kan?”

“Aku ingin bertanya kepadamu tentang dua pemuda Jepang yang bepergian bersamamu. Aku tidak tahu apakah mereka sudah menyadarinya atau belum, tetapi begitu mereka mendengar nama-nama produk Ricca Guild, mereka pasti akan menyadari penggunaan kata-kata dari Bumi pada nama produk tersebut.”

Untuk bersiap menghadapi hal itu, dia ingin tahu seperti apa kepribadian mereka. Begitu Liselotte menjawab pertanyaan Rio, dia mengangkat cangkir tehnya dengan etiket yang sangat sempurna.

“Begitu ya… Belum begitu lama sejak aku sendiri berkenalan dengan mereka, tapi kurasa tidak ada di antara mereka berdua yang merupakan orang jahat. Kouta adalah orang yang jujur dengan rasa keadilan yang kuat, dan Rei terkadang bisa sedikit konyol, tapi dia mengamati sekelilingnya dengan cermat dan selalu memperhatikan Kouta. Satu-satunya hal yang harus kamu waspadai adalah bahwa mereka berdua benar-benar siswa SMA Jepang biasa, jadi mereka tidak begitu akrab dengan dunia ini…”

Mungkin itulah sebabnya mengapa Rui begitu mengkhawatirkan Kouta dan Rei, pikir Rio.

“Apakah kamu tahu apa rencana mereka setelah ini?”

“Kurasa belum ada di antara mereka yang memutuskannya. Tapi, sangat mungkin mereka akhirnya akan bergabung dengan pihak Restorasi, kurasa…” jawab Rio, mengenang kembali bagaimana percakapan mereka dengan Rui menyiratkan bahwa mereka meninggalkan kastil atas dasar keputusan sesaat. Christina juga mengatakan bahwa mereka adalah penumpang gelap di atas kapal sihir itu.

“Aku mengerti. Terima kasih telah memberitahuku hal ini.”

“Semoga itu membantu.”

“Ya. Aku tidak berniat menceritakan tentang kehidupan masa laluku kepada mereka untuk saat ini, tapi tergantung pada bagaimana kelanjutannya di masa depan, aku mungkin akan mengungkapkannya kepada mereka.”

Mereka baru saja saling kenal, jadi ini mungkin keputusan yang paling tepat.

“Sekadar ingin tahu, bagaimana caramu menjelaskan rahasia perusahaanmu jika seseorang yang tidak dapat dipercaya menanyakan tentang produk-produk tersebut?” tanya Rio dengan penuh rasa ingin tahu.

“Penjelasan yang sudah ku siapkan adalah bahwa metode produksinya tercatat dalam dokumen kuno yang ditemukan. Aku juga telah menyiapkan dokumen-dokumen itu.”

“Kamu sudah mempersiapkan segalanya.”

Karena ada orang-orang Jepang yang berpindah ke dunia ini di masa kini, tidaklah berlebihan untuk berpikir bahwa orang-orang serupa telah melakukannya di masa lalu.

“Meskipun begitu, membuatnya sangatlah merepotkan.” Liselotte tersenyum pahit, mengenang kembali bagaimana dia membuat dokumen-dokumen tersebut. Dia tidak boleh membiarkan siapa pun menyadari bahwa tulisan tangan itu adalah miliknya sendiri, jadi dia meminta Aria menulis dokumen-dokumen itu atas namanya, tetapi butuh waktu cukup lama untuk membuatnya terlihat meyakinkan.

“Apakah kamu ingin aku menyinggung hal itu secara tidak langsung kepada mereka berdua?” usul Rio.

“Aku menghargai kepedulianmu, tapi aku ingin mencoba berbicara sendiri dengan mereka. Aku akan melihat apakah aku bisa meluangkan waktu untuk mengobrol dengan mereka,” Liselotte menggelengkan kepalanya, menolak tawaran Rio. Setelah itu, mereka melanjutkan percakapan mereka sebentar lagi.

◇ ◇ ◇

Beberapa menit kemudian, obrolan mereka selesai dan Rio meninggalkan ruangan untuk mendapati Cosette dan Chloe sedang menunggu di depan kamar Liselotte.

“Halo, kalian berdua juga ada di sini?” sapa Rio kepada mereka.

“Selamat siang, Tuan Haruto. Kami sedang menunggu Anda. Tak satu pun dari kami ingat pernah mengantar Anda ke kamar Anda dan kami tidak dapat menemukan Anda di mana pun di benteng ini, jadi kami bertanya-tanya apakah Anda bersama Nyonya kami,” jawab Cosette dengan senyum ceria yang terpasang di wajahnya.

Kenapa Tuan Haruto berada di kamar Nyonya Liselotte? Berdua saja. Dia menatap sang majikan dengan ekspresi protes.

“Oh, kebetulan yang bagus. Chloe, antarkan Tuan Haruto ke kamarnya,” kata Liselotte, dengan mulus mengabaikan tatapan Cosette.

“Baik, Nyonya. Tuan Haruto, silakan lewat sini.” Chloe langsung bergerak, mengajak Rio.

“Kalau begitu. Liselotte, Cosette, permisi dulu.” Rio pamit tanpa menyadari interaksi yang terjadi di balik senyuman majikan dan pelayan tersebut.

“Silakan nikmati waktu Anda di sini dan beristirahatlah,” jawab Liselotte dengan ekspresi cerah. Lalu, begitu Rio dan Chloe menghilang di ujung koridor dan tak terlihat lagi—

“Hei, kenapa kamu tidak membiarkan aku menunjukkan jalan kepada Tuan Haruto? Dan yang lebih penting, kenapa kalian berdua tadi bertemu secara berdua saja? Di kamar Nyonya Liselotte lagi,” protes Cosette.

“Orang-orangnya tidak cukup, jadi aku menanganinya sebagaimana mestinya. Aku juga punya hal untuk dibicarakan dengannya. Kamu juga tahu itu, kan, makanya kamu menunggu di depan kamarku, bukan?”

“Hih. Tetap saja, mengundang seseorang ke kamar wanita bangsawan tinggi tanpa ada pelayan di sekitar adalah bentuk jelas dari ketertarikan padanya. Kenapa aku belum pernah dengar kalau kamu mengincar Tuan Haruto? Itu artinya aku tidak punya harapan!”

“Padahal aku tidak merasa pernah bilang kalau aku menyukai Tuan Haruto dengan cara seperti itu.” Jawab Liselotte santai, seolah ingin mengatakan agar Cosette tidak salah paham.

Aku ingin tahu apakah itu bahkan tersampaikan… Perasaanku? batinnya, menghindari tatapan Cosette. Ia dibesarkan tanpa pengalaman sama sekali dalam hal percintaan di kehidupan sebelumnya maupun di kehidupan saat ini, jadi ia kurang pengetahuan dalam bidang tersebut.

“Aku tahu kamu tidak merasa mengatakannya. Kami juga tidak ingat pernah mendengarnya, kan. Masalahnya adalah apakah kamu tertarik padanya atau tidak,” desak Cosette kepada Liselotte.

“Sudahlah—kita berangkat. Aku ingin melihat dua anak laki-laki yang datang bersama Tuan Haruto. Kamu—ikutlah.” Liselotte mulai berjalan dengan cepat, rona merah tipis terukir di pipinya. Cosette menggembungkan pipinya sambil mendengus “Hih!” lalu mengikuti di belakangnya.

◇ ◇ ◇

Sekitar waktu Rio tiba di kamar Liselotte, Christina dan Duke Huguenot sedang mengadakan pertemuan di sebuah ruang tamu.

Charles dan Tuan Emarle dijadikan tawanan… Putri Christina benar-benar mendapatkan oleh-oleh yang luar biasa. Putri Flora lebih mudah diajak bekerja sama, dan sikapnya yang diam tanpa banyak bergerak sangatlah praktis, tapi… Kekurangannya sebanding dengan kelebihannya yang bisa diabaikan. Masalahnya adalah seberapa besar kekuasaan yang telah diberikan kepadanya, pikir Duke Huguenot sebelum percakapan itu dimulai.

“Kalau begitu, saya pamit dulu. Jika Anda butuh sesuatu, saya akan menunggu di luar ruangan.”

Natalie tadinya sedang menyiapkan teh untuk mereka, tetapi tentu saja dia tidak bisa tinggal dan mendengarkan percakapan antara dua bangsawan asing, jadi dia dengan sukarela keluar ruangan. Hal ini membuat Christina dan Duke Huguenot tinggal berdua dan akhirnya memulai percakapan mereka.

“Jika saya boleh mengungkapkan kekaguman saya, Yang Mulia: Charles Arbor dan Tuan Alfred sama-sama ditangkap sebagai tawanan… Itu adalah prestasi yang luar biasa,” kata Duke Huguenot begitu pintu tertutup.

“Orang yang menangkap mereka adalah Sir Amakawa, bukan aku,” jawab Christina dengan dingin.

“Meskipun demikian, berkenalan dengannya dan memberinya tugas untuk menjaga keselamatan Anda adalah sepenuhnya keahlian Yang Mulia. Saya tadinya merasa sangat menyayangkan Kerajaan Galarc yang sudah mendapatkannya, tetapi kemudian Yang Mulia membawanya keluar sebagai kartu truf. Dan saya dengar ketiga gadis lainnya juga merupakan pengguna pedang sihir yang terampil? Celia juga merupakan penyihir jenius dari kerajaan kita. Tidak ada hal yang lebih membahagiakan selain membuat mereka semua bergabung dengan faksi Restorasi, bukankah begitu?” Duke Huguenot mengangkat kedua lengannya.

Faksi Restorasi telah mengkhawatirkan kekurangan personel andal yang terampil dalam pertarungan dan sihir. Jika kekurangan itu bisa diatasi sekaligus, dia tidak punya pilihan selain menyambut mereka semua dengan sepenuh hati, meskipun Christina berpotensi menjadi duri dalam daging baginya.

“Masih terlalu dini untuk mengatakan hal itu. Selain Profesor Celia, Sir Amakawa dan ketiga gadis lainnya bukanlah bangsawan dari Kerajaan Beltrum. Aku berhutang budi kepada mereka, tetapi mereka tetaplah orang luar. Tidak ada jaminan mereka akan terus bekerja sama dengan faksi Restorasi di masa depan. Anda seharusnya tidak berasumsi sebaliknya,” peringat Christina dengan kaku.

“Namun… Bukankah Sir Amakawa menculik Celia dari upacara pernikahan tersebut demi memukul mundur pengaruh faksi Arbor dan untuk bertugas melindungi Yang Mulia?”

Mereka pasti memiliki beberapa kepentingan politik yang sama sehingga dia menawarkan dukungannya, dan oleh karena itu seharusnya ada cara untuk terus menerima dukungannya, tersirat dalam pertanyaan Duke Huguenot.

“Kepentingan bersama yang membuat Sir Amakawa dan gadis-gadis itu bekerja sama dengan kita tidak ada hubungannya dengan tujuan kita untuk mengurangi kekuatan faksi Arbor.”

“Maksud Anda…?”

Christina ragu-ragu, bertanya-tanya apakah dia harus tetap diam tentang hubungan Haruto dan Celia, tetapi menyadari cara mereka berinteraksi satu sama lain membuatnya sudah cukup jelas. Dengan pemikiran itu, dia memutuskan untuk mengatakannya—hal itu juga membuat ceritanya koheren dan berfungsi sebagai peringatan. “Penyelamatan Professor Celia.”

“Aku bisa tahu bahwa Celia dan Sir Amakawa sangat dekat dengan mengamati mereka, tapi sebenarnya apa hubungan mereka?”

“Professor Celia adalah penyelamat Sir Amakawa. Meskipun, tampaknya sekarang dialah yang merasa lebih berhutang budi padanya.”

“Yah, akan sulit untuk membalas budi sebesar pencapaian Sir Amakawa… Namun, dia bukanlah tipe orang yang menganggap hutang budinya terbalas begitu saja, bukan?” tanya Duke Huguenot, menyiratkan bahwa ini adalah kesempatan mereka untuk menariknya ke pihak mereka.

“Benar… Itulah mengapa tidak mungkin dia akan menentang kita selama Professor Celia bergabung dengan Restorasi. Tapi jika kita pernah mencelakakannya dengan cara apa pun, pedang miliknya itu akan diarahkan tepat kepada kita tanpa rasa ampun sedikit pun,” sela Christina dengan tajam.

“Tentu saja, kami tidak punya niat untuk mencelakai Celia…” Duke Huguenot mengangkat bahunya dengan senyum sinis.

“Tentu saja. Tapi tidak ada jaminan bahwa seseorang di dalam Restorasi tidak akan mengganggu Professor Celia demi mendapatkan kerja sama Sir Amakawa, bukan?”

“Kami tidak akan membiarkan hal seperti itu terjadi, tapi…” Duke Huguenot tidak menyangkal kemungkinan tersebut.

“Anda harus mengawasi segalanya dengan sangat cermat, agar tidak ada orang bodoh seperti itu yang muncul. Professor Celia akan berada di bawah perlindungan saya mulai sekarang, jadi saya akan bersikap tanpa ampun dalam memberikan keputusan terhadap hal ganjil apa pun.”

Apakah itu sebuah perintah atau peringatan, tidaklah jelas.

“Itu terdengar sangat berlebihan. Kalau begitu, apakah Anda akan memberikan perlindungan kepada Celia?” tanya Duke Huguenot setengah bercanda.

“Bukankah itu sudah pasti? Sir Amakawa dengan mudah menyapu bersihpasukan elit ksatria dan penyihir yang dipimpin oleh Charles, menaklukkan Alfred dan Sir Shigekura dalam pertarungan langsung, dan membuat 5.000 prajurit gemetar ketakutan. Akan lebih baik untuk menjaga hubungan baik dengan orang seperti itu. Itulah mengapa Professor Celia akan menjadi orang terpenting dalam hubungan kita dengan Sir Amakawa. Saya pikir Anda sudah mengerti sampai sejauh ini.”

“Saya menyadari hal ini, tapi saya tahu banyak orang yang juga mengharapkan bantuan Sir Amakawa. Menurut pendapat saya yang rendah hati, kita seharusnya mengupayakan hubungan yang baik dengan lebih proaktif…”

“Aku setuju… Makanya aku tidak akan sampai mengatakan bahwa kita harus menyerah. Namun, aku tidak bisa menyetujui upaya terus-menerus untuk membujuknya ketika dia tidak tertarik. Ini adalah masalah menunjukkan niat baik kita kepada Sir Amakawa demi mendapatkan kepercayaannya semaksimal mungkin. Itulah sebabnya akan kukatakan sekali lagi: Anda harus mengawasi agar orang-orang bodoh seperti itu tidak muncul,” kata Christina, menekankan poinnya dengan kuat.

“Dimengerti. Menjadi terlalu gigih dan menciptakan permusuhan sungguh akan menjadi rencana yang bodoh. Untuk saat ini, saya akan membatasannya pada undangan ke Rodania dan kursi kehormatan di perayaan tersebut.” Duke Huguenot meletakkan tangannya di dada dan mengangguk dengan hormat.

Antusiasmenya cukup besar, tapi aku mengerti alasannya. Dia mengalahkan seorang pahlawan—salah satu legenda hidup di dunia ini—dan Sir Emarle, yang terkuat di Beltrum. Mungkin yang terkuat di Strahl. Pencapaiannya kali ini akan semakin mengangkat namanya… Dia adalah bidak yang ingin kudapatkan bagaimanapun caranya.

Duke Huguenot berpikir dalam hati dengan wajah tertunduk. Namun, dia mengerti bahwa menggunakan metode kekerasan terhadap Haruto, yang saat ini terkenal bagaikan seorang pahlawan, akan menjadi langkah yang buruk. Dia adalah kekuatan tempur yang sangat diinginkan, dan Duke Huguenot akan memiliki segala pilihan di dunia seandainya Flora yang menentangnya, tetapi dia tidak dapat mengambil risiko seperti itu terhadap Christina.

Kira-kira seperti apa ekspresi pria ini jika dia tahu bahwa insiden yang dikacaukan oleh putranya lah yang telah mendesak orang seperti itu keluar dari Kerajaan Beltrum? Dan bagaimana dia akan bergerak setelahnya…? Tidak, tidak ada bukti bahwa Sir Haruto adalah orang yang sama. Tidak ada gunanya memikirkan hal itu, pikir Christina, lalu segera menghapuskan pikiran-pikiran itu dari benaknya.

Peringatan sedemikian rupa seharusnya sudah cukup untuk menahan Duke Huguenot. Yang tersisa hanyalah Flora. Mungkin dia…

Ada beberapa hal dari diskusi sebelumnya yang mengganggu pikiran Christina—dia harus memastikannya nanti. Dia mengakhiri alur pemikiran itu di situ dan mengembalikan fokusnya kepada orang yang duduk di seberangnya. Masih ada hal-hal yang perlu dia tanyakan.

“Selain itu, aku ingin mendengar tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi saat aku pergi.”

“Wah, peristiwa yang paling menonjol tentu saja kedatangan Yang Mulia dengan Charles Arbor sebagai tahanan, tapi…” Duke Huguenot meletakkan tangan di atas mulutnya sambil berpikir. “Pertama, seperti yang kuasalkan Anda sudah dengar, Putri Flora diculik oleh seorang pria bernama Lucius di Amande. Dan…” Dia menatap lekat-lekat ke wajah Christina.

Aku sudah mendengar tentang itu dari Sir Amakawa dalam perjalanan ke sini, tapi aku akan bertanya langsung pada Flora untuk detailnya nanti.

“Dan? Apa lagi?” tanya Christina sambil berpikir di dalam hatinya.

“Putri Flora dan Sir Hiroaki sekarang sudah bertunangan.”

Ekspresi Christina berkedut. “…Apa yang baru saja kau katakan?”

“Setelah perjamuan, tawaran pernikahan untuk Sir Hiroaki meningkat pesat. Hal ini diputuskan baru-baru ini saja, ketika kami memutuskan bahwa tidak baik menunda keputusan tentang istri pertama Sir Hiroaki. Sir Hiroaki dan Putri Flora sama-sama telah memberikan persetujuan mereka, dan Raja Francois dari Galarc telah diberi tahu,” lapor Duke Huguenot dengan lancar.

“Apakah itu sudah diumumkan ke publik?” tanya Christina dengan suara kaku.

“Belum. Hal itu belum diumumkan, dan bahkan Liselotte sepertinya belum mengetahuinya. Rencananya adalah membuat pengumuman itu setibanya kembali di Rodania.”

“…” Christina terdiam. Pernikahan politik adalah kewajiban alami bagi para wanita dari kalangan bangsawan dan kerajaan, tetapi pernikahan masih terlalu dini bagi Flora. Itulah yang dikatakan oleh lubuk hatinya, tetapi apakah dia hanya bersikap sebagai saudari yang khawatir tanpa alasan?

Flora tentu saja tidak memiliki pilihan lain. Dia pasti telah menerima pertunangan yang disiapkan untuknya tanpa mengetahui apa pun tentang apa arti dari sebuah pernikahan.

“Apakah ada masalah dengan hal itu?” tanya Duke Huguenot dengan polos. Dengan persetujuan Hiroaki dan pengetahuan Francois tentang pertunangan tersebut, bahkan Putri Pertama Christina pun tidak akan bisa mengajukan keberatan dengan mudah. Duke menanyakan hal itu dengan menyadari kenyataan tersebut. Selain itu, adalah hal yang wajar untuk menawarkan sesuatu yang setimpal saat mencoba mendapatkan personel yang bermanfaat.

Jika pertunangan Putri Flora dan Sir Hiroaki berhasil, itu akan membuatku lebih mudah untuk campur tangan. Sangat sepadan karena telah mempercepat pertunangan ini.

Duke Huguenot terkekeh ramah.

“…Tidak, aku hanya sedikit terkejut.” Christina menggelengkan kepalanya dengan sangat tenang. Tidak ada yang tahu apa yang akan didengar oleh Hiroaki jika dia terbawa emosi dan mengatakan hal yang salah di sini. Itulah sebabnya dia tidak memiliki pilihan lain saat ini.

Seandainya saja… Seandainya saja aku datang sedikit lebih awal…

Dia seharusnya bisa menggantikan posisinya. Dia seharusnya bisa meringankan beban Flora. Christina mengutuk ketidakberdayaannya sendiri dari lubuk hatinya yang paling dalam.

◇ ◇ ◇

Sementara itu, di ruang rapat di samping ruangan Christina dan Duke Huguenot, Celia dan Aria sedang mengadakan reuni yang telah lama mereka nantikan.

“Aku mengkhawatirkanmu saat kamu diculik dari upacara pernikahanmu, tapi aku sangat senang melihatmu selamat dan baik-baik saja. Meskipun aku tidak pernah membayangkan kita akan dipertemukan kembali dengan cara seperti ini… Tidak, kurasa akan lebih akurat jika dikatakan kita sudah pernah?” Aria tersenyum.

“Ahaha… Aku tidak bisa mengungkapkan diriku sebagai Celia Claire kepada siapa pun saat itu. Aku minta maaf,” Celia meminta maaf, merasa malu karena telah menipu teman lamanya.

“Tidak perlu meminta maaf. Kalaupun ada, akulah yang seharusnya berterima kasih. Kamu telah membantu Amande saat kami diserang bahkan dengan risiko membongkar identitasmu sendiri.”

“Aku hanya melakukan apa yang benar. Dan orang yang memutuskan untuk membantu adalah Haruto. Kamu seharusnya berterima kasih padanya, bukan aku.”

“Sir Amakawa bukanlah seseorang yang bisa kuajak pertemuan secara sembarangan, tapi jika aku memiliki kesempatan untuk berbicara dengannya secara empat mata, aku pasti akan melakukannya.” Aria mengangguk dalam-dalam, menyetujuinya.

“Ah, benar juga… Dia benar-benar luar biasa sekarang. Kalau begitu, aku akan mengatakannya padanya juga,” gumam Celia dengan sungguh-sungguh, menempelkan tangannya ke dagu untuk berpikir. Kemudian ia terkikik seolah merasa bangga dengan kenyataan itu.

“Ya, tolong lakukan… Ngomong-ngomong, kamu terlihat sangat bahagia saat membicarakannya,” ujar Aria sambil terkekeh.

“B… Benarkah?” Celia tertegun, merona tipis.

“Apakah kamu tidak menyadarinya?”

“A-Aku sama seperti biasanya. Benar-benar normal. Adalah hal yang wajar untuk merasa bahagia ketika seseorang yang dekat denganmu diakui.” Celia memasang wajah kaku saat berbicara kepada Aria yang sedikit merasa gemas.

“Jika aku boleh begitu lancang bertanya… Apakah kamu dan Sir Amakawa saling mencintai?”

“C-Cinta?!” Celia seketika berubah menjadi merah padam.

“Tampaknya ada keadaan rumit yang terlibat dalam rangkaian peristiwa ketika Sir Amakawa menyelamatkanmu, jadi tentu saja, tidak perlu menjawab jika kamu tidak bisa. Namun, sebagai teman lama, aku tidak bisa menahan rasa penasaranku tentang keadaan tersebut.”

“H-Haruto dan aku tidak seperti itu, kami tidak sedang jatuh cinta atau semacamnya…” kata Celia, suaranya mengecil karena malu.

“Begitu ya. Mengesampingkan perasaannya, sepertinya kamu memang memiliki perasaan padanya.”

“Sudah kubilang kamu salah!”

“Baiklah, baiklah,” Aria terkekeh penuh pengertian.

insert3

“Kalau begitu, bagaimana denganmu?” Celia mengerucutkan bibirnya dan mulai menyelidiki urusan percintaan teman lamanya itu.

“Sayangnya, pekerjaanku terlalu sibuk dan sama sekali tidak memberiku waktu untuk percintaan.”

“Tapi pekerjaanmu memberimu banyak kesempatan untuk bertemu dengan pria, kan?”

“Aku tidak akan menyangkalnya, namun pria yang cocok hampir tidak ada. Lagipula, aku tidak bekerja demi untuk bertemu dengan pria sejak awal.”

Pada kenyataannya, dia telah menerima banyak tawaran dari para pria, tetapi tekad Aria sangat kuat, dan dia menolak segala jenis undangan atas nama kesopanan sosial.

“Kamu sama sekali tidak berubah. Jangan terlalu fokus pada pekerjaanmu sampai kamu melewatkan kesempatanmu untuk menikah,” kata Celia dengan nada lelah.

“Itu juga berlaku untuk kita berdua.”

“Ugh…” Dia telah membawa malapetaka itu pada dirinya sendiri. Balasan itu jauh lebih tajam daripada pedang bertuah yang diayunkan oleh Aria.

“Bagaimanapun juga, usia kita berdua semakin bertambah. Mari kita berhati-hati agar tidak memiliki penyesalan apa pun.”

“B-Benar…” gumam Celia sambil mengangguk setuju.

Daftar Isi

Komentar

guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted