Seirei Gensouki Volume 11 Bab 5: Pertemuan Kebetulan Bahasa Indonesia
Bab 5: Pertemuan Kebetulan
Keesokan paginya, Rio dan yang lainnya pindah dari rumah batu tempat mereka tinggal dan berangkat menuju wilayah Count Claire di ujung timur Kerajaan Beltrum.
Rio, Aishia, and Orphia terbang dengan seni roh angin mereka sementara Celia, Miharu, Latifa, Sara, and Alma menunggangi punggung roh kontrak Orphia, elang raksasa Ariel. Dengan bepergian seperti ini, mereka berhasil mencapai wilayah Count Claire sebelum matahari terbenam.
Ibu kota wilayah yang pernah mereka kunjungi sebelumnya bernama Cleia, tempat kediaman keluarga Celia tentu saja berada. Rencana yang telah diputuskan bersama Celia adalah turun di hutan dekat kota dan mendirikan rumah batu sebagai markas mereka, lalu menunggu malam tiba sebelum menyelinap melewati kegelapan dan menyusup ke pekarangan kediaman seperti sebelumnya.
Kira-kira setengah jam setelah memasuki wilayah tersebut, ibu kota sudah dapat terlihat di kejauhan, tetapi—
“Haruto.” Aishia tiba-tiba memanggil nama Rio.
“Aku tahu. Semuanya, jarak ke kota masih sedikit lagi, tapi kita akan turun ke hutan di bawah kita sekarang,” perintah Rio seketika.
“A-Ada apa?” tanya Celia, merasa khawatir dengan penurunan yang tiba-tiba itu.
Sara memahami situasinya dengan baik, jadi dia menjelaskan alasannya kepada Celia. “Ada sesuatu yang terbang di dekat kota. Kita akan ketahuan jika mendekat seperti ini, jadi kita akan turun.”
“Apakah itu kapal sihir atau semacamnya?”
“Bukan, itu mungkin sejenis makhluk. Aku melihat seseorang di punggungnya, jadi itu mungkin seekor grifon…”
“…Apakah itu salah satu grifon yang dipelihara di rumahku?” tanya Celia sambil memiringkan kepalanya. Sambil melakukannya, kelompok itu mendarat di hutan. Mereka dikelilingi oleh pepohonan yang tumbuh lebat, jadi kecil kemungkinan orang yang menunggangi grifon di atas sana akan menyadari keberadaan mereka.
“Aku ingin melihat apa yang sedang terjadi, jadi bisakah semuanya mendirikan rumah batu dan menunggu di sini? Aku mungkin tersesat dalam perjalanan kembali, jadi Aishia sebaiknya tinggal di sini juga. Profesor Celia bisa ikut denganku, karena dia mungkin sangat mengenal kota ini,” kata Rio, memberikan instruksinya dengan sigap.
“Tentu, tapi bukankah kita akan ketahuan jika kita terbang?”
“Makanya kita akan berlari melewati hutan.”
“Um, aku bisa menggunakan sihir penguatan untuk kemampuan fisik, tapi aku tidak akan sanggup mengimbangimu…”
Celia adalah tipe orang yang tidak atletis. Sebagai seorang penyihir serba bisa, dia bisa menggunakan segala jenis sihir, tetapi bahkan dengan kemampuan fisik yang ditingkatkan, dia tidak bisa mengimbangi penguatan seni roh tidak manusiawi milik Rio.
Namun, masalah yang lebih besar adalah fakta bahwa otaknya tidak dapat mengikuti dorongan fisik dari sihir tersebut. Hanya meningkatkan kemampuan fisik saja tidaklah cukup—indra atletis untuk mengendalikan gerakan tubuh yang diperkuat itu juga diperlukan. Celia benar-benar kekurangan kualitas tersebut. Berlari di hutan dengan pijakan yang begitu tidak stabil adalah hal yang tidak mungkin. Namun—
“Tidak apa-apa. Aku akan menggendongmu dan berlari. Hanya saja, ini akan terasa lebih terguncang daripada terbang di langit.” Masalah teratasi.
“B-Baiklah.” Mendengar bahwa dia akan digendong oleh Rio membuat semburat kemerahan tipis muncul di pipi Celia.
◇ ◇ ◇
Kurang dari satu jam kemudian, Rio dan Celia tiba di ibu kota Cleia.
“…Eh? Itu adalah Pasukan Ksatria Udara Kerajaan Beltrum. Kenapa mereka ada di sini, ya?”
Setelah mendekat ke kota, mereka melangkah keluar ke jalan utama, di mana Celia berhenti dan mendongak menatap langit. Yang berputar-putar di atas mereka adalah Pasukan Ksatria Udara Beltrum, menunggangi grif mereka. Grif dikenal sebagai singa langit, terkenal sebagai penguasa langit selain naga, dan memiliki kecerdasan yang sangat tinggi.
Beberapa kerajaan menjinakkan mereka untuk digunakan sebagai tunggangan, tetapi mereka memiliki tempramen yang labil dan kebanyakan tinggal di habitat pegunungan. Tubuh bagian atas mereka seperti burung pemangsa, jadi pekikan nada tinggi mereka menjadi ciri khas mereka.
“Jika mereka telah mengerahkan pasukan udara yang berharga itu, pasti sesuatu yang besar telah terjadi… Untuk sekarang, ayo kita masuk ke dalam kota dan mengumpulkan informasi.”
“Ya.” Celia mengangguk dengan ekspresi kaku. Dengan demikian, mereka berdua berangkat menuju kota.
◇ ◇ ◇
Saat ini, Rio and Celia berada di alun-alun distrik perumahan di luar tembok luar Cleia. Mereka mengenakan jubah polos dan menyembunyikan wajah mereka di balik tudung saat berjalan.
“Tidak begitu ramai, ya…”
“Ada banyak orang yang tampaknya tidak punya tempat tinggal… Para pengangguran dan migran. Dan meskipun kita berada di luar tembok, ada banyak prajurit yang sedang berpatroli.”
Karena area di luar tembok kota sebagian besar dibebaskan dari pajak, di kota mana pun tempat itu biasanya dipenuhi oleh kios-kios dan kegiatan yang sibuk. Namun, sejauh yang bisa dilihat Rio dan Celia, hanya ada sedikit kios dan bahkan lebih sedikit pembelanja yang berkeliaran. Keluarga dan kelompok orang yang telah kehilangan rumah mereka tampak duduk di pinggiran alun-alun.
Sekilas, jumlah tunawisma lebih banyak dari yang diperkirakan.
“Dan para prajurit yang berpatroli di sekitar bukanlah dari wilayah ini. Mereka semua mengenakan seragam tentara kerajaan. Apa sebenarnya yang sedang terjadi…”
Tampaknya suasana Cleia saat ini sangat berbeda dari yang dikenal oleh Celia. Dia memasang ekspresi muram, terguncang oleh perubahan atmosfer di kota kelahirannya.
Pertama-tama, adalah hal yang aneh bagi tentara kerajaan untuk ditempatkan di tanah milik seorang bangsawan lokal. Kecuali pada masa perang, pertahanan setiap kota sepenuhnya menjadi tanggung jawab bangsawan tersebut. Biasanya mustahil bagi tentara kerajaan untuk ikut campur.
“Masa perang… yang sedang tidak kita alami saat ini. Yang berarti tentara berada di sini untuk semacam investigasi, atau sebagai tindakan pencegahan terhadap sesuatu…” kata Rio, mengemukakan beberapa kemungkinan.
“Hei, kalian. Pria dan wanita di sebelah sana. Lepaskan tudung kalian.” Seorang prajurit mendekati mereka dengan sebuah perintah.
“Eh? A-Aku…?” Celia tersentak kaget, tetapi Rio melepas tudungnya sendiri.
“…Tidak apa-apa. Lakukan seperti yang dia katakan.”
“Baiklah…”
Celia melepas tudungnya dengan gugup. Rambut pirangnya yang telah diubah oleh artefak terpantul di mata prajurit tersebut.
“…Cih. Pergi sana.” Prajurit itu tampaknya hanya memperhatikan warna rambut saja, saat dia bereaksi dengan mendecakkan lidahnya dan pergi.
Sepertinya mereka sedang mencari seseorang, duga Rio dari interaksi barusan.
Salah satu kemungkinannya adalah putri sang bangsawan—Sang Profesor. Tapi sudah cukup lama berlalu sejak Celia menghilang. Mereka tidak begitu ketat saat terakhir kali kita berada di sini, jadi aku meragukan mereka akan melakukan investigasi sebesar ini pada waktu sekarang…
Hal itu membuat kemungkinan besar mereka sedang mencari orang lain.
“Kita mungkin akan diinterogasi lagi jika kita mengenakan kembali tudung kita. Aku meragukan kita akan dicurigai tanpa alasan, tapi mungkin lebih baik bergerak dengan wajah terbuka untuk saat sekarang. Bagaimana kalau kita biarkan tudung kita turun mulai sekarang? Kamu mungkin akan berpapasan dengan seseorang yang kamu kenal, jadi usahakan untuk menjauhi distrik para bangsawan. Aku saja yang pergi,” usul Rio.
Dia khawatir penampilan Celia yang di atas rata-rata akan menarik perhatian orang asing, tapi itu tampaknya lebih baik daripada diinterogasi oleh para prajurit di mana-mana. Distrik bangsawan terletak jauh di dalam tembok kota, jadi kecil kemungkinannya untuk berpapasan dengan kenalan, dan rambut Celia saat ini diubah dengan artefak sihir sehingga tidak ada yang akan mengenalinya sekilas. Risikonya berada pada tingkat yang dapat diterima.
“Baiklah.”
“Sepertinya daerah pinggiran sedang tidak baik-baik saja sekarang, jadi mari kita masuk ke dalam tembok kota.”
“…Benar.”
Maka, mereka berdua pun masuk ke dalam tembok kota.
◇ ◇ ◇
Rio memasuki tembok kota dan mengantar Celia ke sebuah kafe yang nyaman sebelum pergi mendekati kediaman lord sendirian. Dia mengamati situasi sekitar selama sekitar tiga puluh menit sebelum segera kembali ke tempat Celia.
“Keamanan di sekitar kediaman tampak sangat ketat. Seperti yang diduga, tempat itu juga dikelilingi oleh para prajurit. Apa yang harus kita lakukan? Haruskah kita menyusup masuk malam ini seperti yang direncanakan?”
“…Jika memungkinkan untuk menyusup masuk, maka itulah yang ingin kulakukan. Tapi tidak perlu memaksakan diri jika ada risiko besar ketahuan,” kata Celia dengan enggan. Berdasarkan apa yang telah dia lihat dari kota itu hingga sekarang, pasti ada sesuatu yang sedang terjadi yang mengganggunya.
“Itu mungkin dilakukan. Jika kita menggunakan jalan rahasia bawah tanah yang sama seperti sebelumnya, kita seharusnya bisa membaur dengan kegelapan malam. Dan, seandainya saja kita terlihat, mereka tetap tidak menyadari keberadaan kita di sini, dan ada banyak sekali jalur pelarian di malam hari. Risikonya mungkin sedikit tinggi, tapi aku yakin penyusupan ini layak dicoba,” kata Rio, mendukung tindakan infiltrasi agar Celia tidak merasa sungkan.
“Terima kasih. Kalau begitu, aku mengandalkanmu, Haruto.” Celia tersenyum getir dan menundukkan kepalanya.
◇ ◇ ◇
Tak lama kemudian, Rio dan Celia kembali ke rumah batu untuk menjemput Aishia sebelum kembali ke Cleia sekali lagi. Miharu dan gadis-gadis suku roh akan terus menjaga rumah tersebut. Rio, Aishia, dan Celia check-in ke sebuah kamar di penginapan dan menunggu hingga larut malam sebelum akhirnya memulai upaya mereka menyusup ke kediaman Count Claire.
Api unggun menyala di sekitar mansion, yang terletak di puncak sebuah bukit kecil. Para prajurit berpatroli di sekeliling area pada setiap sudut, membuat penyusup biasa bahkan tidak akan mampu untuk menembus ke dalam taman.
Namun, bagi Rio, yang bisa terbang di udara menggunakan seni roh, membaur dengan kegelapan langit yang tidak diawasi oleh para penjaga bukanlah hal yang terlalu sulit. Dia tahu jalan masuk dari terakhir kali mereka datang untuk mengantar surat Celia setelah kabur dari pernikahan wanita itu, jadi mereka tiba di jalur bawah tanah tanpa masalah apa pun.
Setelah meraba-raba tanah di dekat air mancur dan meraih pegangan tersembunyi yang muncul, Rio menarik pintu itu ke atas dalam sekali sentakan. Tangga yang menuju ke jalur bawah tanah berdiri di hadapan mereka.
“Ayo pergi.”
“Baiklah.”
Mereka berdua menuruni tangga tersebut. Sambil Rio mengembalikan pintu masuk seperti sedia kala, Celia mengaktifkan artefak sihir yang berfungsi sebagai lampu di sepanjang dinding.
Begitu jalur bawah tanah itu diterangi cahaya, mereka melangkah maju. Setelah beberapa saat, mereka keluar ke sebuah ruang terbuka di bawah mansion. Di hadapan mereka terdapat tangga yang mengarah ke atas, sementara di sebelah kiri dan kanan terdapat beberapa pintu. Rio dan Celia berhenti di hadapan pintu-pintu tersebut.
“Mari kita minta Aishia memeriksa keadaan mansion dalam wujud rohnya. Apakah ada artefak pendeteksi esensi yang dipasang di rumahmu?”
“Ada, tapi kemungkinan besar artefak itu dimatikan. Kami melakukan banyak penelitian sihir menggunakan esensi sihir sebagai sumber energi, jadi artefak itu akan terus aktif jika kami membiarkannya menyala.”
“Begitu ya.”
Seperti ayah, seperti keluarga, sepertinya. Jika begitu, Aishia bisa menyesuaikan diri dengan situasi seiring berjalannya waktu. Namun, tepat saat Rio selesai berpikir, sebuah pintu di ruangan bawah tanah itu tiba-tiba terbuka. Rio langsung bergerak ke hadapan Celia untuk melindunginya, mengenakan tudung jubah hitamnya yang biasanya tidak ia pakai.
Orang yang muncul di ambang pintu adalah seorang gadis cantik. Rambut ungu mudanya panjang dan lurus, pupil matanya berwarna ungu tua, dan fitur wajahnya memancarkan keanggunan berkelas yang jelas memiliki kualitas berbeda dari kecantikan sederhana yang biasa dimiliki gadis-gadis rakyat jelata. Usianya tampaknya seira dengan Rio.
…Putri Christina?!
Dia adalah putri pertama Kerajaan Beltrum, Christina. Rio baru saja menemuinya di jamuan makan malam beberapa hari yang lalu, jadi tidak mungkin salah. Dia mengenakan pakaian bangsawan indah yang didesain dengan warna dasar ungu, di balik ponco putih bersih. Begitu melihat Rio yang bertudung di lorong, wajahnya langsung memucat.
“V-Vanessa!” serunya dengan suara lantang, dan wanita lain muncul di tengah ambang pintu. Wanita itu tampak berusia pertengahan dua puluhan; dia mengenakan seragam ksatria dan membawa pedang yang tersarung di pinggangnya.
Namanya adalah Vanessa Emarle, dan dia adalah ksatria yang pernah membawa Rio yatim piatu dari daerah kumuh ke kastil dengan todongan pedang. Begitu Rio masuk ke dalam pandangan Vanessa, tatapan tajam muncul di wajahnya.
“Siapa di sana?” serunya, mengambil sikap bertempur.
Apa yang harus kita lakukan?
Haruskah mereka menampakkan diri, atau haruskah mereka lari untuk sekarang? Sulit untuk mengambil keputusan di tempat. Sebaliknya, Vanessa sama sekali tidak menunjukkan keraguan saat dia menerjang ke arah Rio.
Dia tidak tampak seperti berniat membunuh, karena dia tidak mencabut senjatanya, tetapi ada kilatan berbahaya di matanya.
Tidak ada waktu untuk berpikir.
Rio melangkah maju untuk melawan seketika, dan keduanya saling bersentuhan. Vanessa mencengkeram Rio dalam upaya untuk melumpuhkannya.
Plak!
Dia menepis lengannya dengan ringan. Rio lantas mencengkeram lengan itu dan mengunci pergerakannya.
“Tch!”
Vanessa buru-buru melepaskan diri dari cengkeraman di lengannya, lalu menghujamkan tangan satunya ke perut Rio. Namun, Rio melancarkan pukulan untuk menepis kepalan tangan Vanessa agar meleset, mengubah arah lintasannya.
“Mundur ke koridor!”
“Menyingkir, Vanessa!”
Rio dan Christina berteriak secara bersamaan, suara mereka bergema di dalam ruangan. Vanessa menjadi yang pertama bereaksi, melompat ke samping sementara Christina mengangkat tangan kanannya dan merapal mantra.
“Photon Projectilis!”
Sebuah lingkaran kecil melayang di atas telapak tangannya dan tiga butir peluru cahaya melesat keluar secara beruntun.
Peluru energi sihir berkecepatan tinggi itu terbang ke arah Rio. Bahkan bagi manusia biasa, peluang kematian akibat hantamannya cukup kecil, namun setiap peluru memiliki kekuatan yang cukup untuk mematahkan tulang jika mengenai sasaran di tempat yang tepat. Rio menggunakan seni roh untuk memperkuat fisik dan kemampuannya. Dia memfokuskan lebih banyak esensi sihir ke tangannya untuk memperkuatnya. Peluru-peluru yang dilepaskan Christina semuanya terlihat olehnya. Lengan, bahu, tubuhnya—jelas sekali peluru-peluru itu ditembakkan dengan tujuan untuk mengunci pergerakan Rio.

Cukup mudah untuk menghindari peluru-peluru itu, tetapi jika dia melakukannya, Celia yang berada di belakangnya justru akan terkena. Rio mengikuti jalur peluru tersebut dan menggerakkan tangannya.
“Apa…”
Peluru foton yang ditembakkan Christina berhamburan dan buyar diiringi suara benturan. Itu adalah prestasi yang tidak biasa—bahkan Celia pun terkejut dengan apa yang terjadi.
Sementara itu, Christina merasakan dejavu yang kuat terhadap aksi tersebut. Anak laki-laki yang pernah dilihatnya melakukan hal serupa di perjamuan baru dua minggu lalu kini ada di sini, sadarnya, itulah sebabnya dia menarik diri.
Namun, Vanessa tiba-tiba menghentakkan kakinya ke tanah dan mendekati Rio sekali lagi. Rio tidak melewatkan sedikit pun gerakannya—dia bahkan selangkah lebih maju saat berputar ke belakang Vanessa dalam sekejap dan melumpuhkannya dengan cara merangkap kedua lengan Vanessa ke punggung.
Rio kemudian memutar tubuh Vanessa untuk menghadap ke arah Christina seperti perisai.
“Putri Christina! Lupakan aku dan serang pria ini!” teriak Vanessa kepada Christina dengan suara panik. Dia mungkin lebih memilih mati daripada dijadikan sandera. Itu adalah pola pikir seorang ksatria yang sangat mengagumkan, tetapi—
Rio ragu-ragu sejenak sebelum berbicara kepada Christina. “…Mohon tunggu sebentar. Aku hanya bergerak untuk membela diri, aku tidak punya niat untuk melukai kalian berdua.” Dia melirik ke belakang ke arah Celia untuk meminta konfirmasi.
Apakah ini tidak apa-apa? tanyanya.
Putri dari kerajaan tersebut yang bersembunyi di ruangan bawah tanah rumah keluarganya bukanlah masalah yang bisa diabaikan. Ditambah dengan tentara yang sedang mencari seseorang dengan panik di luar, jelas sekali bahwa sesuatu yang merepotkan sedang terjadi. Itulah kesimpulan yang telah diambilnya.
Celia sudah menyadari bahwa orang di hadapan mereka adalah Christina dan mengangguk kepada Rio.
“Silakan, majulah,” bujuk Rio kepada Celia.
Klik. Salah satu pintu yang tadinya tertutup tiba-tiba terbuka, menampakkan dua anak laki-laki berusia pertengahan belasan tahun. Yang membuat Rio terkejut, ciri-ciri ras mereka sangat mirip dengan orang Jepang.
“…A-Apa? Ada apa ini…?”
Anak-anak laki-laki yang bermata sayu itu belum sepenuhnya menyadari apa yang sedang terjadi dan tampak bingung. Mata Rio terbelalak melihat pemandangan itu.
“Jangan keluar. Kalian hanya akan membuat keadaan semakin rumit,” maki Christina kepada anak-anak laki-laki itu.
“Ah, benar…”
Anak-anak laki-laki itu mundur kembali ke dalam ruangan, tetapi mereka membiarkan pintu tetap terbuka untuk mengawasi apa yang terjadi dari dalam. Kemudian, Celia berjalan maju melewati Rio.
“Putri Christina.” Dia berlutut di hadapannya dengan penuh rasa hormat.
“…Siapa kamu?” tanya Christina dengan bingung.
“Ini Celia Claire. Sudah lama tidak jumpa.” Celia melepas kerudungnya dan menundukkan kepalanya sebagai bentuk penghormatan lainnya.
“Professor Celia…? Apakah itu benar-benar kamu…? Ada apa dengan warna rambut itu? Kupikir kamu menghilang?” Ketika Celia menampakkan dirinya dan menunjukkan rasa hormatnya, permusuhan di wajah Christina langsung lenyap sepenuhnya dan justru digantikan oleh kebingungan yang luar biasa.
“Setelah aku memutuskan pertunangan dengan Charles Arbor, aku menyembunyikan diri dari masyarakat. Aku menunggu semuanya mereda sebelum menyusup ke sini melalui jalur bawah tanah untuk menemui Ayah lagi, tapi…” jelas Celia, memberikan versi kebenaran yang samar.
Pada saat itu, Rio melepaskan Vanessa. “Aku meminta maaf atas tindakanku. Mohon maafkan ketidaksopananku.”
“T-Tidak, akulah yang menyerang duluan. Kita, umm, sedang tidak berada dalam posisi untuk ditemukan oleh siapa pun saat ini. Mohon maafkan aku.” Di tengah kebingungannya, Vanessa membalas permintaan maaf Rio. Pada saat itu, Celia telah berdiri.
“Jadi atas kehendakmu sendiri upacara pernikahan itu ditangguhkan, Professor?” tanya Christina dengan terkejut.
“Yah, benar…” Celia mengangguk tegas untuk menekankan bahwa dia meninggalkan pernikahan atas kemauannya sendiri, tetapi mendapati dirinya kehabisan kata-kata saat harus menjelaskan kejadian-kejadian yang berujung pada hal itu.
“Jika aku boleh lancang berbicara, Yang Mulia, akulah yang membantu.” Rio melepas tudungnya. Dia telah memastikan dari situasi mereka saat ini bahwa sang Putri menentang faksi Duke Arbor yang mengendalikan Kerajaan Beltrum.
“Jadi, Anda adalah Sir Amakawa… Tapi kenapa Anda bersama Professor Celia…?”
Christina sudah menduga bahwa Rio adalah Haruto Amakawa setelah melihat cara pria itu membelokkan peluru fotonnya. Namun, dia tidak bisa menghilangkan kebingungannya, tidak mampu memahami hubungan antara Rio dan Celia.
“…Jika boleh bertanya, bersediakah Anda bertukar informasi? Aku meminta Haruto membawaku ke sini untuk mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi di wilayah Claire sekarang,” ucap Celia, langsung memberikan penjelasan singkat tentang bagaimana dia bisa berada di sana.
“Aku mengerti. Setelah aku menghadiri perjamuan di mana Sir Amakawa juga hadir, aku kembali ke Kerajaan Beltrum. Lalu, aku kabur dari kastil. Sayangnya, para pengejarku berhasil menyusulku, membuatku tidak bisa melanjutkan perjalanan. Satu-satunya sekutu andal yang kumiliki adalah Count Claire, dan aku tahu aku pasti telah menimbulkan banyak masalah baginya, tapi…” Christina mengerutkan kening karena frustrasi. Ayah Celia, Count Claire, adalah bangsawan yang setia kepada kerajaan—dengan kata lain, faksi Duke Fontaine. Mereka adalah faksi ketiga selain Duke Arbor dan Duke Huguenot, meskipun mereka memiliki kekuatan paling sedikit.
“Begitu ya… Mengenai masalah Yang Mulia Putri, kami dengan senang hati membantu.” Celia menggelengkan kepalanya. Meskipun sulit untuk mencerna situasi dengan penjelasan singkat seperti itu, mereka berada di perahu yang sama.
“Dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku berterima kasih atas kesetiaan kalian kepada mahkota…” kata Christina dengan hormat. “…Ngomong-ngomong, bagaimana rambut Professor Celia bisa berwarna seperti itu? Aku ingat rambutmu dulunya berwarna putih yang indah.”
“Ah, umm. Itu…” gerutu Celia dengan canggung. Artefak yang mengubah warna rambut umumnya tidak ada di wilayah Strahl. Bahkan seorang penyihir jenius sepertinya belum pernah melihat benda seperti itu sampai Rio menyerahkannya kepadanya.
Meskipun ada banyak formula mantra yang beredar di wilayah Strahl, tidak semuanya diungkapkan kepada publik. Beberapa dirahasiakan dan dikelola di balik pintu tertutup. Sihir yang menggunakan formula mantra semacam itu dikenal sebagai seni rahasia, dan mereka tidak mudah bocor ke dunia luar. Sepanjang sejarah seribu tahun wilayah Strahl, bahkan pernah terjadi perang antara kerajaan memperebutkan seni rahasia tersebut.
Dalam hal ini, artefak yang digunakan untuk mengubah warna rambut Celia memiliki nilai yang sama dengan seni rahasia, itulah sebabnya dia ragu-ragu untuk mengungkapkan keberadaannya—bahkan kepada sang putri sendiri.
“Itu diubah oleh artefak sihir, Yang Mulia,” jawab Rio mewakili Celia, yang kesetiaannya membuat hatinya dilanda dilema.
“Jadi artefak semacam itu benar-benar ada…” Mata Christina berbinar rasa ingin tahu, tetapi dia tidak membahas topik itu lebih jauh. “Maafkan aku. Daripada berdiri diam seperti ini, bagaimana kalau kita pindah ke tempat lain untuk berdiskusi? Ada ruang makan di sebelah sana.”
“B-Baiklah.” Celia memperhatikan wajah Rio sambil mengangguk.
“Jika tidak pantas bagiku untuk mendengar urusan internal kerajaanmu, aku bisa mengundurkan diri…” Rio mengungkapkan kekhawatirannya, tidak bisa langsung menyetujuinya begitu saja.
“Tidak, itu bukan masalah. Jika boleh memilih, aku justru ingin kamu tetap hadir. Tidak ada gunanya menyembunyikannya, jadi akan kukatakan ini sekarang: saat ini aku sama sekali tidak memiliki kekuasaan. Artinya, aku tidak bisa berbuat apa-apa tanpa bergantung pada orang-orang di sekitarku. Itulah sebabnya aku ingin meminta bantuan sang ksatria kehormatan, jika memungkinkan. Aku sadar betapa lancang ucapanku ini, tetapi maukah kamu setidaknya mendengarkan ceritaku?” pinta Christina, dengan berani mengumumkan situasi sulit yang dihadapinya sambil membungkukkan kepalanya dalam-dalam ke arah Rio. Biasanya, hal itu merupakan sesuatu yang tidak terpikirkan bagi seorang bangsawan kerajaan untuk merendahkan kepala mereka di hadapan kaum bangsawan, apalagi bangsawan dari kerajaan asing. Itulah sebabnya tindakan ini menunjukkan betapa putus asahnya Christina saat ini.
“…Aku mengerti. Kalau begitu, aku akan ikut mendengarkan,” setuju Rio.
“Terima kasih. Kalau begitu, ayo kita segera berangkat… Oh, aku lupa tentang Vanessa. Vanessa, perkenalkan dirimu kepada Sir Amakawa terlebih dahulu.” Christina hendak berjalan menuju ruang makan ketika dia menyadari Rio masih belum mengenal Vanessa.
“Baik, Yang Mulia. Nama saya Vanessa Emarle. Saya dengan tulus meminta maaf atas tindakan saya sebelumnya. Saya mendampingi Putri Christina ke jamuan makan, jadi saya menyaksikan sendiri kehebatan Anda. Jika memungkinkan, saya berharap Anda dapat meminjamkan kekuatan itu kepada tuan putri saya.” Vanessa membungkukkan kepalanya dalam-dalam kepada Rio.
“Aku tidak bisa berjanji apa pun sekarang, tapi aku berniat mendengarkan perkataannya. Kalau tidak salah, Andalah yang berada di belakang Putri Christina saat pesta teh. Benar begitu?”
“Merupakan suatu kehormatan karena Anda mengingatnya.”
“Aku tidak menyadari kalau kau adalah orang yang kukenal saat kita bertarung. Ngomong-ngomong, jika kamu adalah seorang Emarle, apakah itu berarti kamu adalah kerabat dari Pedang Raja, Sir Alfred?” Pedang Raja adalah gelar yang diberikan kepada pendekar pedang terkuat di Kerajaan Beltrum.
“…Anda tahu tentang kakakku?”
“Meskipun aku belum pernah menemuinya secara resmi, saat aku sedang membantu Profes… Maksudku. Saat aku membantu Lady Celia kabur dari upacara pernikahannya, aku sempat beradu pedang dengan Sir Alfred, yang merupakan salah satu pengejar.” Rio menjelaskan hubungan tak terduga mereka dengan senyum masam.
Vanessa menatap Rio dengan mata terbelalak karena heran. “B-Benar juga, kakakku memang pernah menyebutkan hal seperti itu… Karena kamu berhasil melarikan diri bersama Celia dari upacara tersebut, apakah itu berarti kamu berhasil melarikan diri setelah beradu pedang dengan kakakku?”
“Yah, benar.”
“B-Begitu ya… Kamu pasti benar-benar memiliki kemampuan yang luar biasa.”
“Sama sekali tidak. Apakah kita bisa pindah sekarang?” kata Rio.
“Silakan, lewat sini.” Vanessa memimpin mereka berempat menuju pintu ruang makan. Namun, sebelum mereka mencapainya, seorang anak laki-laki memanggil mereka.
“Um… Apa yang harus kami lakukan…?” Salah satu dari dua anak laki-laki berwajah Jepang yang benar-benar diabaikan dalam pertarungan sebelumnya mengangkat tangannya dengan gugup.
“Siapa mereka, Putri Christina?” tanya Celia, melirik ke arah kedua anak laki-laki itu.
“Mereka… Orang-orang yang datang ke dunia ini setelah terbawa arus pemanggilan pahlawan. Bagaimana mereka bisa sampai di tempat persis ini adalah cerita yang agak panjang, sih…” Christina menempelkan satu tangan ke kepalanya dan tampak terganggu.
“Begitu ya, jadi mereka adalah teman-teman Tuan Rui,” tebak Rio seketika.
“A-Apa kamu kenal Rui?” kata anak laki-laki yang satunya. Ucapannya bukan dalam bahasa Jepang, melainkan bahasa dunia ini.
“Ya, kami bertemu di perjamuan malam sebelumnya…”
“Begitu ya…” Bayangan samar muncul di wajah anak laki-laki itu.
“Apakah ada masalah dengan Tuan Rui?”
“T-Tidak, bukan apa-apa. Maaf sudah mengganggu kalian…” Meskipun ia menyangkal pertanyaan itu, jelas sekali bahwa memang ada masalah.
“Bagaimana kalau kalian berdua memperkenalkan diri juga?” pancing Christina.
“Ah, ya! Um…” Anak laki-laki yang memiliki semacam hubungan dengan Rui itu mengangguk dengan gugup, tetapi tampak kebingungan tentang bagaimana cara memperkenalkan dirinya.
“Aku Saiki Rei. Ah, kalau di dunia ini jadi Rei Saiki. Aku adalah kakak kelas anak ini dan Rui, tapi aku bukan orang penting yang perlu kalian ingat. Pokoknya, senang berkenalan dengan kalian,” kata anak laki-laki yang satunya. Kata-kata yang digunakannya juga bukan bahasa Jepang, melainkan bahasa umum Strahl.
“Tidak, aku akan mengingatmu. Aku Haruto Amakawa. Senang berkenalan denganmu.” Itu adalah perkenalan yang menghibur, pikir Rio sambil membalasnya dengan terkekeh.
“Haruto Amakawa…” Mendengar nama itu membuat Rei menatap wajah Rio. Ia mungkin berpikir nama itu terdengar bernuansa Jepang.
Celia, yang tahu tentang kehidupan masa lalu Rio, bisa menebak alasan di balik kecurigaan Rei. Ia menyapanya untuk menegaskan keberadaannya. “Um, aku adalah putri dari count yang memiliki rumah besar ini, Celia Claire. Senang berkenalan denganmu, Rei.”
“Ah, h-halo.” Rei mengangguk-anggukkan kepalanya kepada Celia.
“Dan siapa namamu?” tanya Celia kepada anak laki-laki yang lebih pemalu di antara keduanya.
“A-Aku Kouta. Kouta Murakumo. Senang berkenalan dengan kalian.” Kouta menundukkan kepalanya dengan gugup dan memperhatikan wajah Rio serta Celia. Ia juga menggunakan bahasa umum Strahl alih-alih bahasa Jepang.
Karena mereka mengenal Rui, kedua orang ini sudah pasti adalah orang Jepang. Namun, aku sedikit penasaran bagaimana mereka mempelajari bahasa dunia ini… Rio merasa tertarik pada mereka, tetapi sekarang bukan waktu yang tepat untuk menanyakan hal-hal semacam itu.
“Halo. Senang berkenalan dengan kalian,” jawab Rio dan Celia secara bersamaan.
“Kalau begitu, kami tidak akan menahan kalian lebih lama lagi. Mari mengobrol lagi lain waktu.” Rei mendesak Rio dan yang lainnya untuk kembali melanjutkan urusan mereka.
“Kalian berdua tunggu di sana. Jika kalian butuh apa pun, kami akan berada di ruang makan. Mari kita pergi?”
Christina meninggalkan instruksi untuk Rei dan Kouta sebelum menyemangati Rio, Celia, and Vanessa untuk bergerak. Dengan demikian, mereka berempat meninggalkan dua anak laki-laki Jepang itu dan duduk mengelilingi meja makan.
Christina adalah orang pertama yang membuka suara, memberikan informasi yang dicari oleh Celia. “Professor, Anda bilang ingin menemui ayah Anda—Count Claire akan datang ke ruang bawah tanah ini nanti, sebelum pagi tiba. Tim pencari tinggal di dalam mansion, jadi sulit baginya untuk bergerak leluasa.”
“Begitu ya… Aku khawatir dia berada di ibu kota dan kita datang ke sini sia-sia, jadi itu adalah kabar baik. Kalau begitu, sepertinya akan lebih baik menunggu di sini sampai Ayah tiba.”
“Ya. Seharusnya masih ada waktu sampai saat itu, jadi saya berharap kita bisa membahas berbagai hal sementara itu.”
“Kalau begitu, apa yang harus kita mulai duluan?”
“Mari kita lihat. Hal pertama yang membuatku penasaran adalah bagaimana kalian berdua melarikan diri dari kastil. Bagaimanapun aku melihatnya, sepertinya kalian diculik dari upacara pernikahan itu…”
“Aku tidak diculik. Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku meminta Haruto untuk membawaku pergi atas kehendakku sendiri,” tegas Celia.
“Bolehkah saya menanyakan alasannya?”
…Meskipun memalukan untuk diakui, aku ingin melarikan diri dari tugas-tugasku sebagai seorang bangsawan.
“Tugas yang Anda maksud adalah pernikahan politik dengan Charles Arbor—benarkah begitu?” tanya Christina.
“Ya. Seorang wanita bangsawan tidak selalu bisa menikahi orang yang mereka inginkan. Aku mengerti bahwa ini adalah kewajiban semua wanita bangsawan, tetapi aku tidak bisa menerima pernikahan politikku dengannya,” ucap Celia dengan jelas, ekspresi muram terlihat di wajahnya.
“Yah, itu wajar saja. Aku yakin kamu telah membuat keputusan yang tepat.” Christina mendukung pilihan Celia dengan santai.
Mata Celia membelalak karena terkejut. “…Itu adalah keputusan yang tepat?” tanyanya ragu-ragu.
“Tentu saja. Kita yang berada di posisi ini tidak bisa memilih pasangan nikah kita secara bebas. Namun, itu karena kita harus menikah demi keluarga kita, atau demi kerajaan kita. Jika sebuah pernikahan politik tidak memiliki manfaat seperti itu—atau lebih tepatnya justru mendatangkan lebih banyak keburukan daripada kebaikan—maka tidak ada gunanya mematuhi perjanjian semacam itu,” kata Christina sambil tersenyum.
Mendengar Christina sampai menyebut pernikahan itu “buruk”, Celia mengerjap karena terkejut. “…Yang Mulia, apakah Anda mengatakan bahwa pernikahan politik saya dengannya akan dianggap sebagai keburukan bagi kerajaan?” tanyanya.
“Keberadaan Charles Arbor dan Duke Arbor itulah yang menjadi keburukan bagi kerajaan. Bukankah Anda kabur dari pernikahan itu karena Anda juga berpikir begitu, Profesor?”
“…Aku memang merasa itu salah. Mereka memang mencapai hasil yang diinginkan, tetapi metode keluarga Duke Arbor terlalu semena-mena.”
“Tetapi Anda tidak memiliki keyakinan atas keputusan Anda?”
Celia tersenyum lemah. “Bukan giliranku untuk memutuskan apakah aku benar atau salah.”
“Lalu, apakah kamu menyesalinya? Karena Tuan Amakawa membawamu pergi.”
Dia berhenti sejenak sebelum menggelengkan kepala dengan mantap. “…Tidak, aku sama sekali tidak menyesalinya.”
“Kalau begitu semuanya berjalan dengan baik, bukan?” kata Christina sambil tersenyum. “Tentu saja, ada beberapa bangsawan yang tidak akan menyetujui keputusan dan tindakanmu. Namun, kamu menganggap cara-cara Duke Arbor itu salah. Kamu yakin bahwa meninggalkan kastil adalah hal yang benar. Kamu berpegang teguh pada keyakinanmu itu, dan kamu tidak menyesalinya. Benar atau salah tidaklah penting, karena pihak yang akan menentukannya akan datang di masa depan—itu akan ditentukan oleh kami, orang-orang yang tinggal di kerajaan ini… Dan aku tidak tahu tentang orang lain, tapi aku secara pribadi mendukung keputusanmu, Profesor.”
“Aku beruntung Anda mengatakan itu, tetapi…” Celia tersenyum, tidak yakin bagaimana harus bereaksi.
“Bukankah lebih penting untuk memikirkan apa yang ingin Anda lakukan mulai sekarang, Profesor Celia? Fakta bahwa Anda telah kembali ke mansion ini berarti Anda belum sepenuhnya melepaskan status Anda sebagai seorang bangsawan di kerajaan kita, bukan?”
“Itu… Aku tidak tahu apakah aku punya hak setelah melarikan diri…” Celia tampak cemas mendengar pertanyaan Christina.
“Oh? Jika itu masalah menjadi seorang buronan, maka aku sama sepertimu. Tapi bukan berarti karena aku meninggalkan kastil, aku melepaskan posisiku sebagai anggota kerajaan. Yang terpenting adalah apa yang aku lakukan mulai sekarang sebagai seorang bangsawan, dan hasil apa yang aku tinggalkan. Aku percaya segalanya bergantung pada hal itu.”
Mata Celia terbelalak mendengar tekad Christina. “…Anda orang yang sangat kuat.”
Ia sempat memikirkan hal serupa, tetapi ia kekurangan rasa percaya diri dan bertanya-tanya apakah ia diizinkan untuk berbuat demikian atau tidak. Berbeda darinya, Christina menunjukkan keyakinan dan tekad yang kuat. Tidak diragukan lagi bahwa ia juga sempat merisaukannya. Tidak mungkin seorang putri bisa meninggalkan kastil tanpa kekhawatiran apa pun—melakukan hal itu adalah tanda ketidakpedulian atau ketidaktahuan mutlak, dan Celia tahu Christina bukan keduanya.
Jadi, mengapa dunia ini Christina meninggalkan kastil?
“Bolehkah aku mengajukan sebuah pertanyaan juga?”
“Tentu—silakan,” jawab Christina tanpa ragu.
“Kenapa Anda sampai mengambil risiko yang begitu berbahaya demi meninggalkan kastil?” tanya Celia.
“Aku melakukannya karena Ayah mempercayakan masa depan kerajaan kepadaku. Aku pergi demi merebut masa depan itu. Jika aku terus tinggal di ibu kota seperti itu, setidaknya, tidak akan ada masa depan bagiku. Itulah sebabnya aku memutuskan untuk meninggalkan kerajaan, meskipun itu berbahaya.”
“Merebut masa depan kerajaan… Sebenarnya apa yang ingin Anda lakukan, Yang Mulia?” tanya Celia dengan takjub, merasakan kuatnya tekad Christina.
“Tujuan pertamaku adalah menuju ke Rodania dan bergabung dengan Pasukan Pembebasan. Setelah itu, aku akan menunggu waktu yang tepat dengan cermat untuk bergerak melawan pemerintah Beltrum yang dikendalikan oleh keluarga Arbor dan mencabut keabsahan serta pengaruh mereka, mempromosikan Pasukan Pembebasan sebagai kekuatan yang sah dan membalikkan keseimbangan kekuatan.”
Nada bicara Christina benar-benar bermartabat. Namun, bahkan jika Pasukan Pembebasan memiliki sang putri kedua Flora dan pahlawan Hiroaki, dengan raja saat ini dan pahlawan Rui di pihak pemerintah Beltrum, kecil kemungkinan Pasukan Pembebasan bisa melampaui keabsahan mereka. Pihak kerajaan akan terguncang jika Putri Christina bergabung dengan Pasukan Pembebasan, tetapi itu masih belum cukup untuk menggulingkan mereka.
“…Apakah Anda bisa melakukan hal seperti itu? Bagaimana…?” tanya Celia, tidak percaya.
“Aku tidak bisa memberitahumu saat ini, tapi aku akan bisa menceritakannya begitu aku tiba di Rodania. Itulah sebabnya aku harus keluar dari bawah tanah ini dengan cara apa pun dan menuju ke Rodania.” Sinar yang tak tergoyahkan terpancar di dalam mata Christina.
Pada saat itulah Rio meminta izin untuk bergabung dalam percakapan. “Bolehkah aku mengajukan pertanyaan juga?”
“Silakan,” jawab Christina menyetujui.
“Dengan segala hormat, sepertinya keluarga Arbor telah merebut kekuasaan atas kerajaan dalam setiap aspek yang substansial. Aku penasaran apa lagi yang mereka inginkan selain itu. Jika Anda tidak keberatan, aku ingin mendengar lebih banyak mengenai hal itu,” tanya Rio, menyelidiki tujuan Duke Arbor.
“Tentu. Jika Duke Huguenot adalah orang yang rasional dan ambisius, maka Duke Arbor adalah orang yang serakah dan ambisius. Dia adalah tipe orang yang ingin mendapatkan segalanya, sedangkan Duke Huguenot tidak akan melewati batas itu. Bisakah kamu memahami maksudku dengan ini?” Christina menatap Rio lekat-lekat.
Rio menjawab setelah jeda sejenak. “…Duke Arbor menginginkan mahkota.”
“Tepat sekali,” Christina mengangguk.
“Itu berarti para penerus kerajaan berpangkat tinggi saat ini merupakan halangan di mata Duke Arbor.” Itu berarti keberadaan kaum Restorasi yang mendukung sang putri kedua Flora kemungkinan besar menjadi duri dalam daging bagi Duke Arbor.
“Ya. Jika aku tetap berada di ibu kota seperti itu, aku yakin cepat atau lambat aku akan disingkirkan,” kata Christina dengan sikap tenang dan lembut.
“B-Bagaimana bisa! Tindakan kejam yang tidak adil seperti itu tidak akan pernah bisa diterima…!” seru Celia terkejut.
Mahkota Kerajaan Beltrum diwariskan melalui darah—ini adalah hal yang mutlak. Raja berikutnya ditentukan berdasarkan urutan mereka yang memiliki hak suksesi lebih tinggi, dan syarat mutlak untuk suksesi adalah menjadi keturunan langsung raja. Mustahil bagi seseorang dengan hak suksesi yang lebih rendah untuk mewarisi takhta ketika seseorang dengan hak yang lebih tinggi masih ada.
Anak-anak yang lahir dari Raja Philip III dan istri pertamanya Ratu Beatrice saat ini adalah Christina dan Flora, yang masing-masing memegang gelar Putri Pertama dan Putri Kedua secara berurutan. Di bawah mereka adalah anak-anak yang lahir dari selir.
Putri bungsu Duke Arbor adalah salah satu dari para selir yang menikah dengan Raja Philip III, tetapi hak suksesi untuk anaknya, Loris, tergolong cukup rendah.
“Tapi itu bisa dilakukan. Legitimasi dapat diberikan oleh sang pahlawan, Rui. Seorang pahlawan adalah murid dari Enam Dewa Bijaksana, makhluk-makhluk yang mendukung kekuasaan dan legitimasi takhta. Bukan hal yang mustahil baginya untuk menjungkirbalikkan suksesi takhta demi menyerahkan mahkota berikutnya kepada cucunya sendiri. Itulah sebabnya keluarga Arbor begitu serakah memperkuat pengaruh internal mereka. Guna menumpas pihak-pihak yang mungkin menentang legitimasi tersebut.”
“Guh…” Celia menelan ludah tanpa sadar.
“Namun, sayangnya bagi mereka, pahlawan Rui dipanggil bersama dengan kekasihnya. Mereka mencoba membuat cucu perempuan mereka, Loris, mendekatinya untuk dijadikan istri, tetapi usaha mereka sia-sia. Terlebih lagi, penculikan Profesor Celia mencoreng keberadaan mereka di hadapan masyarakat umum, sehingga pengaruh mereka sedikit merosot. Berkat hal itu, aku bisa bergerak sedikit lebih leluasa dari sebelumnya dan memutuskan untuk melarikan diri. Dalam hal ini, aku berhutang budi kepada Profesor Celia dan Sir Amakawa,” ujar Christina sambil tersenyum. Kemudian, dia menatap Rio. “Ngomong-ngomong… Sir Amakawa. Bolehkah aku mengajukan beberapa pertanyaan kepada Anda?”
“Baiklah. Saya akan menjawab sebaik kemampuan saya,” setuju Rio dengan sedikit mengangkat bahu.
“Saya menghargai itu. Kalau begitu, bolehkah saya bertanya tentang hubungan antara Anda dan Profesor Celia?”
“Anda bisa bilang kalau saya berhutang nyawa pada Lady Celia.” Ada banyak cara baginya untuk mengungkapkan hubungannya dengan Celia, tetapi ini mungkin adalah cara yang paling mudah digunakan untuk saat ini.
“Anda berhutang nyawa padanya, ya… Omong-omong, bagaimana kalian berdua bisa menyusup ke sini? Keamanan di luar seharusnya cukup ketat…” tanya Christina sambil menyipitkan matanya.
“Kami memang melakukan hal itu—kami menyusup ke sini seperti biasa,” jawab Rio dengan santai.
“Apakah mungkin melakukan hal seperti itu…?” Christina merasa itu sulit dipercaya, dan menatap Rio seolah ingin mengatakan hal tersebut.
“Ya, hanya bersama Lady Celia saja. Kami pastinya juga akan bisa keluar dari sini.”
“Kamu membuatnya terdengar sangat mudah, padahal kami bahkan tidak bisa pergi meskipun ingin,” kata Christina dengan senyum hambar.
“Umm, jika kelompok pencari berfokus di sekitar Cleia, apakah itu berarti keberadaan Anda hampir seluruhnya telah terungkap, Yang Mulia?” tanya Celia.
Christina mengangguk sambil mengerutkan kening. “Kemungkinan besar. Tampaknya Count Claire dicurigai melakukan pengkhianatan karena telah membantu pelarian kami dari kastil.”
“Apakah Ayah yang memprakarsai pelarian Anda?”
“Raja meminta Count Claire untuk memandu kami. Meninggalkan ibu kota dan tiba di sini berjalan cukup mulus, tetapi para pengejar kami dikirim ke sini karena kecurigaan terhadap Count Claire. Saat itulah kami menjadi tidak bisa bergerak lebih jauh dan telah bersembunyi di ruang bawah tanah ini selama beberapa hari sekarang,” kata Christina, menjelaskan peristiwa yang telah terjadi hingga saat ini.
Ekspresi suram muncul di wajah Celia. “…Masuk akal, mengingat situasi saat ini. Itu berarti ruang bawah tanah ini juga tidak sepenuhnya aman.”
“Ya. Sang Count sedang melakukan yang terbaik untuk berpura-pura bodoh, tapi sepertinya dia sangat dicurigai dan tidak lama lagi mereka akan kehilangan kesabaran dan secara paksa melakukan penggeledahan di sini. Itulah mengapa kami merencanakan upaya taruhan nyawa untuk melarikan diri…”
“Saat itulah kami muncul.”
“Tepat sekali,” Christina mengangguk, memperhatikan Rio. Kemudian, dia menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Sir Amakawa. Aku sadar ini adalah permintaan yang sangat tidak sopan dan gegabah, tetapi bisakah Anda meminjamkan kekuatan Anda untuk melarikan diri dari kesulitan ini? Jika aku bisa mengatasi situasi putus asa ini, aku bersumpah akan memberi Anda imbalan terbesar dalam kekuasaanku…”
“…Apa yang sebenarnya Anda minta?”
“Untuk membantu pelarian kami dari mansion ini dan mengawal kami dari Cleia ke Rodania.”
“Sarana perjalanan kalian adalah darat—dengan kata lain, berjalan kaki, benar begitu? Dan orang-orang yang ingin kau kawal adalah dirimu sendiri, Vanessa, serta Rei dan Kouta di ruangan sebelah,” kata Rio, mengonfirmasi kondisinya tanpa menjanjikan apa pun.
“Ya.”
“Bahkan jika kita mengambil rute terpendek, butuh waktu dua minggu untuk mencapai batas wilayah pengaruh Restorasi. Duke Arbor pasti sudah memperkirakan destinasi tujuanmu ke Restorasi, sehingga kita harus memutar jalan di setiap jalan dan pos pemeriksaan di sana. Yang Mulia memiliki rambut ungu muda yang mencolok, dan kedua anak laki-laki di ruangan sebelah juga memiliki rambut hitam serta ciri-ciri fisik yang unik. Pasti ada tim pencari di setiap kota yang mengawasi hal tersebut, jadi bergerak dalam jumlah sebanyak itu akan cukup sulit…”
Sebenarnya, kebanyakan orang akan kesulitan hanya untuk mencoba kabur dari mansion ini saja. Lagipula, itulah alasan mengapa Christina bersembunyi di lantai bawah tanpa ada jalan keluar.
“…Ya.” Christina mengangguk dengan kening berkerut.
“Aku mengerti. Jika Anda menerima semua syarat yang aku ajukan di bawah kontrak, maka aku akan menerima permintaan Anda,” kata Rio akhirnya, sambil meletakkan satu tangan di mulutnya untuk berpikir.
“…Benarkah?” Mata Christina dipenuhi oleh harapan.
“Ya. Sekalipun aku menolak, Lady Celia pada akhirnya pasti akan menerimanya. Lagipula, dia bukanlah tipe orang yang akan menelantarkan putri kerajaannya dalam situasi sulit seperti ini,” Rio terkekeh kecil, menatap Celia.
“Ah, um…”
Celia, yang sejak tadi terdiam, memasang ekspresi tidak nyaman karena perasaannya terbaca sepenuhnya.
“…Begitu ya. Dan apa syarat Anda, Tuan Amakawa?” Christina tersenyum tipis saat menanyakan syarat dari Rio.
“Mengesampingkan detail kecil, aku hanya punya satu permintaan utama: dukungan penuh Anda kepada Lady Celia jika suatu saat dia memutuskan untuk kembali ke kerajaan sebagai seorang bangsawan. Dia tentu saja tidak boleh menghadapi konsekuensi apa pun karena kabur dari upacara pernikahan, dan Anda harus membuat segala persiapan yang diperlukan jika suatu saat masalah menimpanya,” kata Rio, menyerahkan kepada Putri Pertama Christina untuk mempersiapkan jalan bagi kembalinya Celia ke status bangsawan.
“Untuk orang hebat seperti Profesor Celia, aku dengan senang hati akan melakukannya bahkan tanpa diminta…” Christina berkedip seolah ingin menanyakan apakah hanya itu saja sudah cukup.
“A-Apa yang kamu bicarakan?!” tanya Celia kepada Rio dengan terkejut.
“Apakah kamu akan kembali sebagai bangsawan atau tidak adalah pilihanmu, tapi tidak ada salahnya mengamankan kondisi yang lebih baik untuk opsi-opsimu, bukan?” Rio menyeringai usil.
Celia kesulitan mencari kata-kata. “Ehm… Ah, baiklah. Terima kasih…” Dia menundukkan wajahnya dan berterima kasih dengan malu-malu. Tepat saat itu, suara gemuruh sesuatu yang bergerak terdengar dari luar ruang makan. Disusul oleh bunyi bel yang berdering dua kali.

“Sepertinya Count Claire sudah menuruni tangga.” Vanessa segera bergerak untuk membukakan pintu ruang makan.
“Oh, jadi kalian ada di ruang makan. Dan Putri Christina juga ada di sini, sempurna. Aku tidak punya banyak waktu, jadi aku akan menyampaikan laporanku dengan cepat—Hmm? Siapa orang di sana itu…?”
Suara seorang pria paruh baya yang necis terdengar dari balik pintu. Count Claire melihat Vanessa di dalam ruangan dan melangkah masuk dengan gesit, lalu berhenti mendadak ketika melihat Rio dan Celia duduk berhadapan dengan Christina.
Celia menyapa ayahnya dengan agak canggung. “Ahaha. Sudah lama tidak bertemu, Ayah. Oh, benar juga…”
Dia menyadari bahwa warna rambutnya telah diubah dan melepaskan artefak tersebut, mengembalikan warna rambutnya seperti semula. Ayah Celia, Roland Claire, menatapnya dengan tertegun.
“C…Celia?! Kenapa kamu ada di sini?!” serunya dengan histeris.
Komentar