Seirei Gensouki Volume 7 Interlude: Mari Membuat Seragam! Bahasa Indonesia
Interlude: Mari Membuat Seragam!
Sementara itu, di tempat yang sangat, sangat jauh di desa para kaum roh…
Hari sudah siang. Latifa dan Sendo Aki ditemani oleh teman manusia serigala perak mereka, Vera, saat mereka kembali ke rumah tempat mereka tinggal bersama. Di sana, mereka menemukan sekelompok empat gadis yang lebih tua berkumpul di ruang tamu — Miharu, Sara, Orphia, and Alma.
“Kami pulang!” seru Latifa dan Aki dengan penuh semangat saat mereka kembali.
“Selamat datang kembali,” jawab para gadis yang lebih tua dengan hangat kepada mereka.
“Eh?! Pakaian apa yang kamu pakai, Orphia?!” Latifa melihat sosok Orphia dan tersenyum lebar hingga telinga.
“Fufu, pakaian dari tempat Miharu tinggal sebelum dia datang ke sini,” jawab Orphia sambil berputar di tempat untuk memamerkan seluruh tubuhnya. Dia mengenakan blazer berwarna krem, pita merah di dadanya, sweater rajut, rok kotak-kotak, dan kaus kaki hitam setinggi lutut. Orphia mengenakan seragam SMA Miharu dari Jepang.
“Uwah…” Mata Latifa berbinar-binar kagum.
Vera menatap pakaian Orphia dengan rasa ingin tahu sejenak, sebelum wajahnya berseri-seri dengan senyuman ramah. “Wah, kamu tidak akan melihat pakaian seperti itu di mana pun di desa. Tapi itu benar-benar imut!” Di sampingnya, Aki juga terpikat oleh pemandangan Orphia yang mengenakan seragam sekolah. Setelah jeda, dia memberikan pendapatnya dengan senyuman lebar.
“Ya, seragam itu sangat cocok untukmu, Orphia!”
“Ehehe, terima kasih.” Orphia mengucapkan terima kasih sambil tersenyum.
“…Se… ragam?” Vera memiringkan kepalanya.
“Pakaian yang dikenakan Orphia. Di negara asal kami, anak-anak yang lebih besar pergi ke sekolah dengan mengenakan pakaian yang sama,” Aki segera menjelaskan kepada Vera.
“Bagus sekali! Hei, aku ingin mencobanya juga. Bolehkah aku memakainya, Miharu?” Ekor rubah yang sangat dibanggakan oleh Latifa bergoyang ke sana kemari saat dia memohon kepada Miharu.
“Ya, tentu saja.” Miharu terkikik dan langsung menyetujuinya.
“Hmm… Tapi kurasa ukuran itu mungkin sedikit terlalu besar untuk Latifa?” Sara menatap tubuh Latifa dan menyampaikan keraguannya.
“Fufu. Lagipula, ukuran itu juga agak longgar di bagian dada Sara,” kata Alma sambil menyeringai.
“Ukurannya sudah pas dari segi tinggi badan! Tidak sepertimu, Alma!” protes Sara dengan nada malu-malu, tetapi Alma menanggapinya dengan santai.
“Aku seorang kurcaci, jadi aku tahu kalau aku akan kekurangan ukuran di area tertentu.”
“Uh!” Sara mengerucutkan bibirnya dengan manis. Miharu terkikik geli melihat interaksi di antara keduanya.
“Ah, kalau begitu bagaimana kalau aku meminjamkan seragamku saja, Latifa?” usul Aki.
“Eh? Kamu juga punya seragam, Aki?” Ekspresi Latifa langsung cerah seketika.
“Iya. Aku menyimpannya di kamarku, jadi kamu bisa berganti pakaian di sana. Ayo pergi,” kata Aki.
“Aku akan menunggu di sini sambil membayangkannya!” Vera tetap tinggal di ruang tamu bersama para gadis yang lebih tua. Tidak lama kemudian, Latifa dan Aki kembali, dan Latifa mengenakan seragam sekolah Aki.
…Ehehe, bagaimana menurut kalian?” tanyanya sambil tersenyum, memamerkan penampilannya kepada para gadis di dalam ruangan. Seragam Aki memiliki desain yang berbeda dari milik Miharu, tetapi seragam itu juga terlihat sangat imut.

Mata Vera berbinar-binar, dan dialah yang pertama kali bersuara. “Wah! Itu sangat cocok untukmu, Latifa!”
“Ehehe, terima kasih,” kata Latifa dengan gembira. Dia masih seorang siswi sekolah dasar ketika tinggal di Jepang sebagai Endo Suzune, jadi dia mungkin mengagumi seragam sekolah para siswa sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas.
“Ya, kamu terlihat luar biasa mengenakannya. Pastikan kamu memperlihatkannya kepada Haruto juga,” kata Miharu kepada Latifa sambil tersenyum.
Latifa mengangguk senang. “Yup! Tapi kalau bisa, aku ingin Onii-chan melihat kita semua mengenakan seragam bersama-sama. Kita harus membuatkannya, sama seperti yang kita lakukan pada pakaian renang!”
“Eh? Seragam ini, untuk semuanya? Tapi tidak seperti pakaian renang, seragam tidak begitu banyakgunanya…” Mata Sara membelalak karena terkejut.
Ya, ini kasus yang berbeda dari pakaian renang. Meskipun seragam-seragam itu menggemaskan, penampilannya cukup berbeda dari pakaian umum di desa rakyat roh, jadi mengenakannya sebagai pakaian sehari-hari akan membuat mereka menjadi pusat perhatian. Namun, Orphia mendukung usul Latifa. “Menurutku itu ide yang bagus. Aku yakin itu akan menyenangkan,” ujarnya.
“Ya, aku setuju. Kita hanya akan memperlihatkannya kepada Haruto, tapi kurasa itu bukan ide yang buruk.” Alma juga tampak tidak keberatan.
“Tidakkah kamu juga ingin menunjukkan seperti apa penampilanmu dalam balutan seragam kepada Onii-chan, Sara? Aku yakin dia akan terkejut!” tanya Latifa, senyumnya dengan jelas menebak isi hati Sara.
“Ugh…” Saat Sara membayangkan dirinya mengenakan seragam di depan Rio, pipinya memerah. Entah kenapa, dia merasa sangat malu karenanya, mungkin karena itu bukanlah pakaian yang biasa ia kenakan.
Orphia terkikik menggoda. “Fufu, jika Sara tidak tertarik, kita bisa membuatnya untuk diri kita sendiri dan menunjukkannya kepada Haruto tanpa dirinya.”
“Apa — T-Tunggu dulu! Aku tidak pernah bilang kalau aku tidak mau! Aku akan membuatnya, aku akan membuatnya juga!” kata Sara dengan panik.
Latifa dan Vera saling berpandangan sebelum terkikik. “Fufufu…”
“A-Apa yang kalian berdua tertawakan?” tanya Sara kepada mereka berdua dengan suara yang melengking karena malu.
“Bukan apa-apa!” balas mereka dengan polos secara bersamaan.
Miharu dan Aki tersenyum sambil mengamati interaksi mereka. “Ahaha!”
“Jadi begitu keadaannya, Miharu. Maukah kamu mengajari kami cara menjahit sekali lagi?” tanya Orphia.
“Tentu saja. Dengan senang hati,” jawab Miharu dengan mudahnya.
Latifa membayangkan mereka semua mengenakan seragam dan wajahnya berubah menjadi senyuman bahagia. “Ehehe, aku jadi penasaran apakah Onii-chan akan senang melihat kita.”
“Ya, aku yakin dia pasti senang! Lagipula, Rio sangat menyayangimu!” tandas Vera mantap.
“Yups, aku tahu!” Latifa tersenyum dengan senyuman paling tanpa beban. Itu adalah wajah yang sangat tahu bahwa dirinya disayangi oleh Rio.
Latifa benar-benar menyayangi Haruto… pikir Aki sambil menatap Latifa, merasa sedikit rindu rumah. Dia teringat pada saudara tiri laki-lakinya, Sendo Takahisa. Meskipun dia tidak mengungkapkan kasih sayang secara langsung seperti Latifa, Aki sadar kalau dia juga memiliki keterikatan yang tidak wajar pada kakaknya itu. Itulah sebabnya ketika dia melihat Latifa memuja Rio dengan sepenuh hati, dia sering kali jadi memikirkan Takahisa. Mungkin dia merasa berempati dalam cara dia juga memuja saudara tirinya sendiri.
Aku ingin tahu apakah Haruto menyadari perasaan Latifa?
Tidak, bukan hanya Latifa — Sara, Orphia, and Alma juga memiliki perasaan yang sama. Mereka sangat menyadari kehadiran Rio sebagai seorang lawan jenis.
Tapi Haruto sangat tidak peka soal hal-hal seperti ini. Dia tampak seperti orang yang sangat serius, tapi apakah dia memiliki seseorang yang dia sukai? Mungkin seseorang dari kelompok ini? Atau mungkin Aishia?
Aki menatap para gadis di sekitarnya sambil merenung.
Komentar