Seirei Gensouki Volume 6 Bab 8: Dilema Bahasa Indonesia
Bab 8: Dilema
Liselotte melangkah keluar dari kereta setelah Hiroaki dan Flora, lalu langsung merapal mantra untuk menangkis lemparan batu. “Magicae Murum.”
Kemudian, dia melihat sekelilingnya dengan penuh ketakutan. Singkatnya, tempat itu adalah medan perang. Mereka dikelilingi oleh jumlah monster yang luar biasa banyaknya dari segala arah, dan para ksatria mengerahkan segenap jiwa raga untuk menahan majunya para monster itu.
Apa…-apaan ini? Apakah maksudmu begitu banyak monster yang bersembunyi di dalam hutan…? Mata Liselotte membelalak kaget, tetapi dia segera sadar kembali sambil tersentak.
“Putri Flora, lewat sini. Jaga posisi tubuhmu tetap rendah.” Dia menarik tangan Flora dan membimbingnya keluar dari kereta. Pada saat yang sama, dia mendongak ke udara, tetapi tidak ada monster yang melancarkan serangan dari atas.
“B-Baiklah,” ucap Flora dengan nada ketakutan, lalu turun dari kereta.
Liselotte menjaga postur tubuhnya tetap rendah sambil mengangkat penghalang sihir di atas kepalanya, mencari keberadaan Hiroaki dan Roanna di dekatnya. Sang hero… Di sana! Dia dengan cepat melihat keduanya berjongkok tepat di sebelah kereta. Roanna memasang penghalang sihir untuk melindungi mereka dari lemparan batu.
Hiroaki melihat Liselotte dan Flora lalu memanggil mereka dengan wajah ketakutan. “H-Hei! Kalian ikut keluar juga!” Namun, keributan di sekitar mereka begitu bising hingga menenggelamkan suaranya.
Begitu Liselotte berhasil mendekati Hiroaki, dia mengembuskan napas lega. “Aku senang melihat kalian selamat.” Meskipun pemuda itu menyebalkan, akan menjadi masalah besar jika dia sampai tewas.
“Selamat… Bagian mana dari semua ini yang membuatmu mengira aku selamat?! Apa kita bahkan bisa menang?!” Terpapar oleh atmosfer medan perang yang kacau, Hiroaki benar-benar telah kehilangan akal sehatnya.
Monster-monster menjijikkan berwujud mirip manusia sedang mencoba membunuh mereka. Mata monster-monster itu dipenuhi dengan kegilaan saat menatapnya, meraung sambil memperjarak jarak.
Di sisi lain, mata para ksatria yang bertarung melawan para monster itu juga tidak normal. Mereka memelototi para monster dengan niat membunuh yang jelas dan berteriak sekuat tenaga.
“…Sebagai orang awam, sebagai orang-orang yang sedang dilindungi, itu bukanlah hak kita untuk menentukannya. Namun, sejauh yang bisa kulihat, formasi pertempuran kita sudah tersusun dengan baik, jadi mari kita berdoa agar mereka bisa bertahan.” Liselotte tidak mengatakan apa pun untuk menumbuhkan harapan mereka secara berlebihan.
“Oi oi, apa-apaan ini? Dunia gila macam apa ini sebenarnya? Hero dengan senjata dewa seharusnya bertarung dengan penuh kemenangan di pertempuran pertamanya. Tidak ada yang ingin melihat hasil yang begitu merugikan,” gumam Hiroaki pada dirinya sendiri. Bahkan jika dia memiliki kekuatan yang membedakannya dari orang biasa sebagai seorang hero, mentalnya benar-benar telah runtuh. Bagi seorang manusia yang terbiasa hidup damai, yang bahkan belum pernah membunuh seekor hewan, apalagi manusia, ini bukanlah panggung baginya untuk bertarung dengan penuh kemenangan. Hiroaki sangat kekurangan tekad dan keputusasaan.
Liselotte menarik napas pendek dan berbicara kepada Roanna. Dia tidak punya waktu lagi untuk menghadapi Hiroaki. “Lady Roanna, Princess Flora. Bisakah kalian masuk ke dalam penghalang, kumohon? Aku harus pergi mengobati yang terluka dengan sihir.”
“…Tentu saja. Aku selamanya berterima kasih atas bantuanmu.” Roanna menundukkan kepalanya dalam-dalam dengan ekspresi penuh penyesalan. Semua orang yang telah gugur adalah ksatria dari Kerajaan Beltrum, yang pasti sangat membebani pikirannya.
“Kalau begitu, sampai jumpa lagi.” Ucap Liselotte, lalu bersiap untuk pergi.
“O-Oi, tunggu, Liselotte! Mau ke mana kau?! Ini berbahaya!” Hiroaki kembali sadar dan memanggil Liselotte.
“Hanya ke sebelah sana. Aku akan pergi membantu yang terluka,” jawab Liselotte tanpa menoleh ke belakang, terus melangkah seperti sebelumnya.
“Jangan! Kembalilah! Bagaimana jika kau malah ikut terjebak dalam bahaya?! Itulah yang selalu terjadi pada alur dramatis dalam cerita! Sialan!”teriak Hiroaki mengejarnya, tetapi Liselotte tidak berhenti. Dia berjalan menuju seorang ksatria terluka yang terbaring di balik deretan perisai yang ditegakkan di kedua sisi.
“Apa kau baik-baik saja? Bisa dengar suaraku?”tanyanya kepada ksatria itu, memeriksa apakah dia sadar.
“Ugh…” Ksatria itu tidak memberikan tanggapan yang jelas—sepertinya salah satu batu dari serangan awal telah menghantam kepalanya. Dia kelelahan akibat banyaknya darah yang keluar.
Sepertinya dia tidak akan bisa kembali bertempur bahkan setelah aku menyembuhkannya. Aku harus cepat… Ada ksatria lain yang terluka parah dan tidak bisa bergerak karena kaki patah. Ksatria itu sadar, jadi yang ini adalah prioritas yang lebih tinggi.
Liselotte merapal mantra dan mulai menyembuhkannya. “Cura.” Dia meletakkan tangannya di atas luka tersebut dan sebuah lingkaran sihir muncul, memancarkan cahaya penyembuhan. Saat dia terus menyembuhkan, Aria lewat dengan mata terbelalak.
“Nona Muda! Kenapa Anda ada di sini?!”
Pemadangan dirinya yang berdiri di sana, memegang pedang tanpa sedikit pun noda di seragamnya, membuatnya menjadi sosok yang paling mencolok. Namun, hal itu sangat cocok untuknya; tidak ada orang yang lebih dapat diandalkan selain Liselotte.
“Mengobati yang terluka. Sesuatu yang sangat berat jatuh dari atas dan penyok atap kereta. Tapi yang lebih penting, bagaimana situasi saat ini?”
Aria tampak ingin mengatakan hal lain, tetapi menghela napas dan malah menjelaskan. “…Pertahanan di sisi samping dan belakang terdesak mundur. Aku sudah membereskan sebagian besar monster di depan, jadi aku menyerahkan sisanya kepada gadis-gadis lain dan berputar ke belakang untuk mendukung mereka di sana.”
“Begitu ya. Kalau begitu, pergi dan bereskan dengan cepat. Aku mengandalkanmu,”kata Liselotte sambil tersenyum polos.
Bibir Aria bergerak membentuk senyuman saat dia mendengus geli. “…Dimengerti. Aku akan segera kembali.” Dia membungkuk sebelum melesat pergi dengan kecepatan yang hampir tidak manusiawi, langsung menuju ke bagian belakang formasi yang sedang kesulitan.
Baiklah, aku juga harus melakukan apa yang kubisa… Liselotte kembali memotivasi dirinya dan melanjutkan usaha penyembuhannya.
◇ ◇ ◇
Sementara itu, di langit di atas, Reiss sedang mengamati medan pertempuran. “Fufu, jadi dia berputar ke belakang.”
Sejauh ini, segala sesuatu yang telah terjadi persis seperti yang diinginkannya. Begitu dia memastikan bahwa Aria telah pergi untuk mendukung bagian belakang kelompok, dia turun ke hutan.
“Sekarang, saatnya bagiku mengeluarkan senjata rahasiaku.” Bibir Reiss berkedut membentuk senyuman sinis seperti iblis.
◇ ◇ ◇
Aria berlari ke bagian belakang kelompok untuk mendukung Raymond dalam membereskan monster-monster di sana. Dengan Aria yang melangkah maju mendahului yang lain, garis pertahanan langsung meningkat pesat.
“Sungguh mengagumkan…” Raymond mendapati dirinya terpikat oleh pemandangan Aria yang mengayunkan pedangnya di garis depan.
Dia dengan ringan menghindari serangan monster yang datang dari segala arah dan dengan teliti memenggal kepala mereka. Gerakannya bagaikan kelopak bunga anggun yang melayang tertiup angin, tetapi jumlah monster berkurang dengan kecepatan yang mengerikan.
“Apakah itu kekuatan dari pedang sihir? Bukan, itu adalah kekuatannya sendiri…” Raymond merasa dilema. Wanita rapuh yang beberapa tahun lebih muda darinya dan yang seharusnya ia kawal bersama Liselotte ternyata jauh lebih kuat daripada siapa pun yang hadir di sana.
Dia sama sekali tidak mirip dengan gadis kecil yang kukenal dulu. Aku memang pernah dengar bahwa ilmu pedangnya menunjukkan hasil yang luar biasa di akademi, tapi… Dia benar-benar seorang jenius sejati.
Dia tidak pernah membayangkan wanita itu akan sehebat ini. Dalam waktu yang dibutuhkan Raymond untuk menghabisi satu orc, Aria bisa membasmi hampir sepuluh goblin dan orc.
Dia bahkan mungkin layak menjadi Pedang Raja. Raymond sangat yakin akan hal itu.
Aria bergerak mundur untuk berbicara kepada Raymond dengan santai. “Dengan jumlah monster sebanyak ini, aku seharusnya bisa menangani sisi ini sendirian juga. Bisakah Anda pergi memutar ke depan dan ke samping untuk membantu mereka?”
“Sisi ini juga…? Tapi, yah… Begitu ya…” Raymond menelan ludah karena terkejut, namun segera memahami situasinya — Aria kemungkinan besar juga telah membasmi monster-monster di bagian depan sendirian. Kendati demikian, harga dirinya sebagai seorang ksatria merasa malu karena harus mengandalkan seorang wanita dalam situasi ini, sehingga dia bingung harus merespons bagaimana.
“Ada apa?” tanya Aria, nada suaranya tidak berbeda dari percakapan sehari-hari.
“Tidak… Kau benar. Aku akan menyerahkan…” Merasa bimbang, Raymond hendak mengangguk, ketika —
“GRAAAARGH!” Beberapa auman mengerikan bergema di sekitar mereka.
“Suara apa itu?! Apa…” Raymond menoleh ke arah sumber auman dengan panik, lalu terdiam membeku karena terkejut. Di jalan di bagian belakang kelompok mereka, menjulang di balik monster-monster yang mendekat, terdapat monster mengerikan berwujud humanoid namun jelas-jelas bukan manusia. Monster berpenampilan aneh itu disebut sebagai revenant. Sebelumnya, ketika Rio tinggal di rumah batu di pinggiran Amande, monster-monster tak dikenal ini telah tertarik oleh esensi sihir dari penghalangnya dan menyerang.
“A-Apakah benda itu sudah ada di sana dari tadi? Apa itu monster juga?!” teriak Raymond. Monster-monster lain juga berkerumun keluar dari hutan.
“Aku tidak tahu. Satu, dua, tiga… ada selusin totalnya, kulihat.” Aria menghitung jumlah revenant dengan tenang. Tiga berwarna hitam dan sembilan berwarna abu-abu.
Mungkin yang terbaik adalah menganggap perbedaan warna itu memiliki arti. Nyonya Besar adalah… tidak, para pelayan yang lain bisa mengurusnya. Akan gawat jika aku meninggalkan posku dan membiarkan mereka lewat sini. Aku tidak yakin seberapa kuat mereka, tetapi aku harus menghabisi mereka secepat mungkin.
Aria ragu-ragu ketika memikirkan Liselotte, namun ia segera membulatkan tekadnya pada peran yang ia emban sendiri. “Tidak ada perbedaan dalam apa yang harus kita lakukan. Aku berasumsi monster humanoid yang baru muncul itu adalah musuh, jadi aku akan bergerak untuk menghadapi mereka. Jika sepertinya aku bisa mengatasi mereka sendirian, maka semuanya boleh bergerak untuk mendukung yang lain.” Dengan begitu, ia menerobos maju ke dalam pertempuran sekali lagi.
“MROOOOH!” Kali ini, auman yang bahkan lebih besar datang dari dalam hutan, membuat langkah Aria terhenti. Gelombang suaranya bergetar di udara, cukup keras untuk mengguncang pepohonan.
“…Apa lagi sekarang?” desah Aria, merasa kesal. Tanah langsung bergemuruh dengan suara deum, deum, deum.
“MROOOOH!” Di balik para revenant di jalan dan dari hutan di sisi samping, tiga minotaur raksasa dengan kepala banteng hitam pekat muncul.
“Apa…” Tubuh besar mereka memegang pedang besar batu, membuat semua orang terdiam seribu bahasa.
“…Tidak ada yang berubah dari cara kita mendekati situasi ini.” Aria berlari ke arah musuh baru mereka sebelum orang lain.
◇ ◇ ◇
Sementara itu, Liselotte dapat mendengar teriakan para revenant dari tengah formasi. Setelah mendengar raungan para minotaur, dia gemetar saat menyaksikan wujud mereka yang ganas dari dalam hutan.
Kau pasti bercanda… Liselotte membeku di tengah-tengah menyembuhkan seorang ksatria yang terluka — pandangannya terpaku pada minotaur yang menjulang di depan formasi kelompok mereka. Tubuhnya memiliki tinggi lebih dari empat meter, membuatnya mudah dilihat bahkan dari posisi Liselotte di pusat formasi. Monster buas dengan ukuran sebesar itu mengintai begitu dekat dengan Amande — bersama dengan gerombolan monster yang begitu banyak — adalah situasi yang bahkan tidak pernah dia bayangkan.
“B-Bukankah itu… hal yang sama dari masa lalu…?! ucap Roanna di samping Liselotte.
“Lady Roanna, apa Anda tahu monster itu?!” panggil Liselotte.
“I-Itu minotaur! Monster legendaris yang mendatangkan malapetaka selama Perang Suci!” balas Roanna berteriak, suaranya dipenuhi ketakutan. Di sampingnya, Hiroaki terdiam karena syok, sementara Flora gemetar hebat.
Reaksi mereka tidaklah mengejutkan; Flora dan Roanna pernah diserang dan dikejar oleh monster yang sama saat mereka masih di Akademi, sebuah pengalaman yang menjadi trauma bagi diri mereka di masa muda. Saat itu, mereka tidak memiliki peluang sebagai murid yang melawan monster tersebut, tetapi mereka juga tidak dapat menang sebagai orang dewasa.
Bagi Lady Roanna yang tenang dan sabar untuk menjadi begitu terguncah… Ini pasti gawat. Jantung Liselotte berdegup kencang di dadanya seolah seseorang telah mencengkeram dan meremasnya. Sejujurnya, dia ingin melarikan diri secepat mungkin, tetapi tidak ada tempat untuk lari.
“Oi oi, ini sudah berakhir…” gumam Hiroaki.
“Kyaaah?!” Bumi bergemuruh hebat dari jarak yang sangat dekat dengan Liselotte dan yang lainnya, meniupkan pasir ke udara dengan tekanan angin. Flora tidak bisa menahan teriakannya. Ketika dia membuka matanya sedikit, seekor minotaur baru berdiri di hadapan mereka.
“Apa… Dari mana dia…”
Makhluk itu melompat keluar dari hutan di sisi jalan dan melayang di atas kepala para ksatria yang menahan perisai mereka, lalu mendarat di sebelah kereta tempat Liselotte dan yang lainnya berada — tepat di tengah-tengah formasi. Sebuah pedang besar batu digenggam di tangannya.
“Ha… Haha… Masih ada lagi di sana.” Lutut Hiroaki lemas sambil menunjuk ke arah jalan di depan formasi mereka. Ada dua minotaur yang memegang pedang serupa; itu membuat totalnya menjadi empat.
“Hrrgh.” Minotaur yang berada tepat di sebelah mereka menatap Liselotte dan yang lainnya lalu menyeringai jijik.
Flora dan Roanna mengeluarkan suara “Eek” karena ketakutan, suara mereka hampir tak terdengar. Para ksatria di sisi luar berbalik menghadap ke dalam dari jalan, mengangkat perisai mereka dengan penuh ketakutan.
“…” Liselotte sedikit bergerak, lalu menelan ludah. Sungguh terpuji bagaimana dia tidak berteriak.
Minotaur di hadapannya mengangkat pedang batunya dengan kekuatan besar. “T-Tidak…” Ia menebaskan pedang besarnya sekali, secara diagonal dari kanan bawah ke kiri atas, membuat kereta yang ditumpangi kelompok Liselotte terpelanting terbang ke dalam hutan, bersama dengan kuda tersebut.
Untungnya, ayunan itu meleset dari Hiroaki dan yang lainnya, membuat mereka tidak terluka. Sebagian dari kereta itu hancur berkeping-keping dan menghantam para ksatria yang berpelindung, membuat tubuh-tubuh mereka terpental.
“Guh…” Garis pertahanan yang dibangun dengan susah payah itu runtuh berkeping-keping. Di dalam hutan, para pelayan masih bertarung melawan para monster.
“Gufuhuh… Fuh?!” Minotaur itu tertawa terbahak-bahak, kali ini mengayunkan pedangnya secara vertikal ke atas. Namun kemudian, seolah takut akan sesuatu, ia membeku di tempat. Saat berikutnya, dengan lamban ia menarik tangan lainnya, menggapai ke arah Liselotte.
“T-Tidak…” Liselotte ingin segera melompat ke samping, tetapi kakinya lemas dan tubuhnya sempat lumpuh sesaat, tidak bisa bergerak.
“Lady Liselotte?!” Para pelayan yang mengkhawatirkan keselamatan Liselotte memanggilnya dari hutan di sisi jalan. Namun, entah sejak kapan, para revenant telah bergabung dengan gerombolan monster di hutan samping, menyerang gadis-gadis tersebut.
“Lady Liselotte!” Kali ini, suara gadis muda lainnya terdengar — itu adalah suara Chloe. Berkat posisinya yang agak ke dalam jalan, dia berhasil lolos dari serangan para revenant. Chloe melompat untuk menangkap tubuh Liselotte dan menghindari tangan minotaur yang mendekat pada detik-detik terakhir.
“Kyah! Chloe?!” jerit Liselotte saat mereka jatuh berguling ke tanah.
“A-Apa Anda baik-baik saja, Lady Liselotte?!” seru Chloe memanggilnya.
“Ya, b-berkat… Aku baik-baik saja, tapi…” Bahaya itu belum teratasi. Minotaur menarik kembali lengannya yang tadi mengayun dan meleset, kali ini mengulurkan tangan untuk mencengkeram Chloe dan Liselotte. Gerakannya lebih cepat dan lebih kasar daripada sebelumnya, kemungkinan besar karena kesal akibat serangannya yang gagal sekali.
“!” Chloe mendekap Liselotte dengan putus asa dalam upaya untuk melindungi tuannya. Namun, cengkeraman jahat minotaur itu semakin mendekat setiap detiknya. Ekspresi Liselotte dan Chloe sama-sama membeku.
Ini adalah akhirnya. Semua orang berada dalam penderitaan, sampai… “…?!” Hembusan angin kencang menerpa melewati Liselotte, hampir seolah-olah kilatan hitam pekat telah melintas.
Segera setelah itu, kilatan hitam tersebut menerobos langsung ke tubuh raksasa minotaur dengan suara benturan yang sangat keras. Begitu hal itu terjadi, tangan kanan minotaur yang memegang pedang batu terlepas. Terpotong.
Kilatan hitam itu telah menebasnya hingga putus.
Karena tidak ada lagi kekuatan pada genggaman minotaur, pedang batu itu terpelanting terbang tinggi ke udara.
“MROOH…?!” Gerakan kilatan hitam yang sangat cepat itu berhenti mendadak dengan menendang tubuh minotaur sebagai rem. Dia melompat ke udara, memutar tubuhnya untuk menangkap pedang besar minotaur saat benda itu melayang di udara. Sementara itu, hati Liselotte terpikat oleh rangkaian gerakan yang indah tersebut.
Di sana, di udara, terdapat seorang anak laki-laki berambut abu-abu yang mengenakan mantel hitam pekat. Dia tampak seumuran dengan Liselotte.
“Grugh…?” Minotaur itu tidak dapat memproses apa yang telah terjadi, terhuyung-huyung mundur dengan berat, lalu ambruk ke belakang dengan posisi menghadap ke atas.
“Hah!” Anak laki-laki berambut abu-abu dalam mantel hitam pekat itu mengayunkan pedang batu yang baru saja diraihnya ke bawah, melemparkannya dengan deras ke arah minotaur dengan kecepatan luar biasa.
Pedang batu yang tebal itu dengan mudah menembus tubuh pemilik aslinya. “AARH, GARRGH?!” Minotaur itu terbaring tertusuk di tanah, meraung dalam penderitaan.
Satu ketukan kemudian, anak laki-laki itu mendarat dengan mulus di atas gagang pedang batu tersebut. Di tangan kanannya terdapat sebuah pedang berharga yang bertatahkan permata giok yang indah.
Liselotte menatap anak laki-laki itu dengan linglung.
“Izinkan aku membantu,” kata anak laki-laki berambut abu-abu itu dengan suara muda yang sesuai dengan usianya.

Komentar