Seirei Gensouki Volume 6 Interlude: Mii-chan Bahasa Indonesia – Litenovel

Seirei Gensouki Volume 6 Interlude: Mii-chan Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi

Interlude: Mii-chan

Sementara itu, di desa kaum roh…

Hari sudah beranjak siang, dan Masato sedang bekerja keras berlatih bersama Arslan dan yang lainnya sementara Miharu dan Aki sedang menerima pelajaran seni roh dari Orphia. Belum lama sejak Miharu, Aki, dan Masato pindah ke desa tersebut — sekitar dua bulan telah berlalu sejak Masato mulai menerima pelajaran pedang dari Rio.

Seni roh adalah kemampuan yang bisa dipelajari oleh manusia mana pun, tetapi itu bukan sesuatu yang bisa dicapai dalam sehari. Kecocokan bervariasi menurut ras, begitu pula dengan waktu belajar. Agar bisa menggunakan seni roh yang paling sederhana sekalipun, seorang manusia dari wilayah Yagumo biasanya membutuhkan waktu sekitar satu setengah hingga dua tahun, sedangkan anak kaum roh umumnya membutuhkan waktu setengah tahun untuk hasil yang sama. Meskipun, dalam kasus-kasus langka, ada pengecualian…

“…Ah, aku berhasil!”

Miharu dan anak-anak Bumi lainnya telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa dalam dua bulan terakhir ini. Miharu, yang tadinya menatap lekat-lekat ke udara kosong di tangannya yang terulur, mengeluarkan seruan gembira ketika sebuah gelembung kecil berdiameter sekitar satu sentimeter muncul di telapak tangannya.

“Ya, kau berhasil! Waktu aktivasi-mu semakin hari semakin cepat!” puji Orphia, yang berdiri di samping sebagai instrurukturnya. Dia merasa sama senangnya dengan Miharu.

“Itu luar biasa, Miharu. Aku baru saja bisa mendeteksi ode…” gumam Aki, yang tadinya mengulurkan tangannya di dekat situ, dengan nada agak iri. Tidak seperti Miharu, Aki belum mencapai tahap di mana dia bisa mengaktifkan seni roh.

Mencapai titik aktivasi seni roh memerlukan perolehan tiga keterampilan terlebih dahulu — mendeteksi ode, memvisualisasikan ode, dan mendeteksi mana (dari ketiga hal ini, hanya deteksi ode yang diperlukan untuk menggunakan sihir). Di samping itu, hal tersebut juga memerlukan manipulasi ode dan penyampaian kehendak seseorang ke dalam mana, yang biasanya akan memakan waktu pelatihan lebih dari setahun bagi manusia biasa.

Miharu adalah kasus istimewa karena mampu mengaktifkan seni roh hanya dalam waktu dua bulan, meskipun Aki juga mempelajari seni roh dengan kecepatan yang luar biasa untuk ukuran manusia. Dengan tingkat pembelajarannya, dia bisa menyusul Miharu dalam beberapa bulan lagi.

“Miharu mungkin luar biasa, tapi kemajuan Aki juga tidak kalah dari kebanyakan kaum roh, tahu? Aku tidak tahu apa alasannya, tetapi kalian bertiga memiliki jumlah esensi sihir yang luar biasa.” Orphia pasti mendengar gumaman Aki, lalu dia angkat bicara untuk memberikan kata-kata dorongan.

“…Mengesampingkan jumlah esensinya, pertumbuhanku hampir tidak ada bedanya dibandingkan dengan Masato…” cemberut Aki.

“Hmm. Itu karena Masato sama luar biasanya, tapi kurasa sulit untuk merasakan hal itu jika tidak ada manusia lain untuk kalian bandingkan,” kata Orphia sambil tertawa getir.

“Omong-omong, berapa lama waktu yang dibutuhkan Haruto untuk mempelajari seni roh?” tanya Aki, pertanyaan itu tiba-tiba terlintas di benaknya.

“Ahh, umm… Rio memiliki kontrak dengan Lady Aishia, jadi dia adalah kasus yang agak istimewa, bisa dibilang…” jawab Orphia dengan sedikit kesulitan.

“Apakah dia cepat?” tanya Aki dengan gugup. Miharu mendengarkan mereka, penasaran dengan jawabannya juga.

“Kurasa dia bilang dia masih anak-anak ketika tiba-tiba bisa menggunakannya suatu hari…” Orphia mengalah dan menjawab.

“Wah…” Mata Aki terbelalak.

“Ya…” Miharu juga terkejut bukan main.

“Tapi kasus Rio benar-benar satu-satunya yang ada, jadi kalian berdua tidak boleh membandingkan diri kalian dengannya, ya? Kalian semua unik… Tidak perlu terburu-buru,” kata Orphia kepada mereka berdua, menyemangati Aki agar tidak kehilangan kepercayaan diri.

“…Baiklah. Tapi setidaknya aku ingin mempelajarinya lebih cepat daripada Masato!” Aki mengangguk penuh semangat, menghibur dirinya sendiri.

“Hmm. Yah, kalian kan kakak beradik. Kurasa memiliki persaingan adalah hal yang bagus?” Orphia memiringkan kepalanya, menatap Miharu di sampingnya.

“Yup. Lagipula, mereka kan akrab.” Miharu mengangguk sambil tersenyum.

“I-Itu tidak benar!” Aki menggelengkan kepalanya dengan kuat karena malu.

“Oho? Ada apa ini?”

“Wajah Aki merah!”

Latifa dan Vera beristirahat dari latihan mereka di dekat situ dan menghampiri, menyadari wajah Aki yang merona.

“Kami tadi sedang membicarakan betapa akrabnya Aki dan Masato sebagai kakak beradik,” jawab Miharu sambil terkikik.

“J-Jangan begitu, Miharu!” Wajah Aki semakin memerah dan dia merengek.

“Begitu ya, begitu ya,” kata Vera sambil tersenyum lebar, menatap wajah Aki.

“K-Kami tidak! Mungkin dengan Onii-chan, tapi sama sekali bukan dengan Masato!” Aki memalingkan wajah untuk menyembunyikan rasa malunya dan menggembungkan pipinya. Seandainya Masato ada di sana, dia pasti akan merasa jauh lebih malu lagi.

“Fufufu. Kami tahu, Aki. Benar kan, Latifa?” Vera mengangguk setuju, lalu menoleh ke arah Latifa.

Latifa menyeringai lebar. “Ya, betul sekali.”

“Tatapan itu memberitahuku kalau kalian berdua benar-benar tidak paham…” Aki memelototi Vera dan Latifa dengan nada menegur.

“Ahaha, tidak apa-apa. Aku juga sangat dekat dengan Onii-chan-ku, kok. Kita sama!” kata Latifa dengan senyuman tanpa beban. Vera juga membusungkan dadanya dengan bangga.

“Aku sangat menyayangi adik perempuanku Sara, jadi aku juga sama!”

“…Hih. Terserah deh. Memang benar kalau aku dekat dengan Onii-chan,” gumam Aki pelan, menyembunyikan rasa tersenjannya.

“Fufu.” Miharu dan Orphia saling bertukar pandang sebelum akhirnya terkikik geli. Alma dan Sara juga berjalan mendekat dari tempat mereka berlatih di dekat situ.

“Miharu, Orphia — apa kita sebaiknya bersiap-siap untuk kelas memasak sebentar lagi?” tanya Alma.

“Ah, benar juga. Ayo pergi, Miharu,” ajak Orphia.

“Baiklah,” setuju Miharu dengan ceria. Dia telah berusaha memanfaatkan keterampilannya semaksimal mungkin untuk membantu desa sebanyak yang dia bisa. Demi mewujudkan hal itu, dia mengambil alih kelas memasak yang terkadang diadakan Rio untuk para wanita di desa. Dia juga mulai mengajar kelas kerajinan tangan. Orphia bertindak sebagai asistennya.

“Aku yakin kalian butuh banyak bantuan. Kami juga akan membantu, jadi mari kita pergi bersama,” tawar Sara.

Latifa dan Vera saling berpandangan sebelum langsung ikut nimbrung. “Kami ingin ikut juga!”

◇ ◇ ◇

Setelah itu, kelompok Miharu pindah ke gedung serbaguna desa. Mereka bekerja sama untuk mempersiapkan kelas memasak mereka di sebuah ruang persiapan makanan yang luas.

Para wanita desa perlahan-lahan berkumpul, dan kelas pun dimulai tanpa hambatan. Para peserta dibagi menjadi beberapa kelompok untuk membuat kue tart krim, yang merupakan resep untuk hari itu. Meskipun merasa gugup dengan peran instrurukturnya, Miharu bekerja sama dengan Orphia untuk mengajari para wanita desa. Waktu berlalu begitu cepat.

“Sekarang, saatnya untuk mencicipinya!”

Mereka pindah ke kafetaria komunitas untuk mencicipi hasilnya. Telinga serigala dan ekor Vera bergoyang ke kiri dan ke kanan saat dia menatap kue yang sudah diiris itu dengan penuh harap.

“Cepatlah, Miharu! Cepat!” Latifa mendesak Miharu agar memotong kue-kue itu dengan lebih cepat.

“Baunya harum…” Meskipun Aki tidak mendesak siapa pun, dia terus menatap kue apel itu dengan kerinduan yang mendalam.

Miharu terkekeh geli saat dia memotong kue-kue itu dengan tangan yang berhati-hati. “Tunggu sebentar lagi.” Setelah menyajikan kue kepada anak-anak yang lebih muda terlebih dahulu, dia kemudian melanjutkan dengan meletakkan sepotong kue di atas piring untuk Sara, Orphia, Alma, dan dirinya sendiri. Selama waktu itu, Orphia menyiapkan teh untuk semuanya. Dengan begitu, akhirnya tibalah waktunya untuk makan.

“Selamat makan!” seru mereka semua sebelum mencicipi kue tersebut.

“Ooooh!” Latifa, Vera, dan Aki semuanya tampak sangat puas dengan hasilnya.

“Ya, ini sangat lezat.” Sara juga menggigit kue tersebut sebelum mengangguk senang.

“Saat semua orang bekerja sama, rasanya jadi bahkan lebih enak,” kata Alma sambil tersenyum.

“Cukup menyenangkan memasak dan makan di lingkungan yang berbeda dari tempat kita biasanya berada. Orang-orang yang mengikuti kelas juga tampaknya bersenang-senang, jadi ini semua berkat Miharu.” Orphia mengangguk setuju, tersenyum kepada Miharu. Meja-meja lain di kafetaria itu ditempati oleh para wanita desa yang mengobrol dengan akrab sambil menikmati kue mereka.

“Eh, aku?” Miharu merasa terkejut dan membelalakkan matanya.

“Iya. Ini semua berkat Miharu yang mengambil alih peran instruktur dari Rio sehingga kelas ini bisa dilanjutkan,” jawab Orphia seketika.

“Ahaha, aku tidak tahu apakah aku bisa menjadi pengganti yang baik untuk Haruto, tetapi jika ini bisa membantu desa meskipun hanya sedikit, maka aku senang.” Miharu tersenyum kecil dengan sedikit ragu.

“Ini jauh lebih dari sekadar sedikit. Semuanya menantikan kelas memasak Miharu.”

“Ya, kumohon lebih percaya dirilah pada kemampuanmu sendiri.”

Baik Sara maupun Alma bersuara untuk menyemangati Miharu.

Vera ikut mengangguk. “Benar sekali! Masakan Miharu sama lezatnya dengan masakan Rio. Bumbunya hanya sedikit berbeda, tapi itu karena itu adalah makanan dari kampung halaman Rio di wilayah Yagumo, kan?”

“…Iya. Meskipun ada beberapa makanan Strahl juga,” Miharu mengangguk dengan canggung. Sementara Latifa dan gadis-gadis yang lebih tua hadir saat diskusi tentang membawa Miharu dan yang lainnya ke desa, Vera tidak tahu bahwa mereka berasal dari dunia lain. Dia masih percaya bahwa mereka berasal dari kota yang sama dengan Rio.

“Begitu ya. Ada beberapa makanan yang mirip dengan desa kita, tetapi ada banyak makanan di dunia ini yang tidak kita ketahui juga. Sungguh merupakan hal yang baik Rio dan Miharu datang ke desa kita!” Vera bergumam penuh apresiasi sebelum berseri-seri dengan ekspresi bahagia.

“Fufu, terima kasih. Aku juga sangat bersyukur bisa datang ke desa ini dan bertemu dengan kalian semua. Ini semua berkat Haruto.” Miharu tersenyum bahagia saat dia berbicara.

“Ya! Berkat Rio aku bisa berteman dengan Latifa, jadi Rio benar-benar penyelamat kita!” Vera menatap Latifa dan mengangguk penuh antusias.

Latifa tersenyum ceria, membalas tatapan Vera. “Ehehe.”

“…Memang benar jika Rio tidak ada di sana, kita tidak akan pernah bisa bertemu dengan Latifa, Miharu, atau Aki seperti ini. Kalau dipikir-pikir seperti itu, ini rasanya seperti keajaiban.” Sara bergumam penuh sentimen.

Latifa terkikik. “Jika dipikir-pikir sekarang, pertama kali Onii-chan dan aku mengunjungi desa ini, kami sama sekali tidak tahu apa yang akan terjadi,” katanya dengan geli.

“Ugh…” Sebaliknya, Sara, Orphia, and Alma tampak cukup bersalah.

Aki memperhatikan interaksi antara para gadis rakyat roh itu dalam keheningan, tiba-tiba teringat masa lalu. Kalau dipikir-pikir, dulu saat Masato pertama kali mendapatkan persetujuan Rio atas latihan prajuritnya, Alma mengatakan sesuatu di pemandian air panas… Tentang bagaimana pertama kalinya Haruto dan Latifa tersesat ke dalam hutan, dia merasa merinding melawan pria itu sama seperti saat dia melihat latihan prajurit.

Saat itu, dia sempat mengintip sekilas sisi dingin Rio. Sekarang, dia benar-benar teralihkan oleh pikiran tentang interaksi tersebut, membuatnya penasaran tentang apa yang terjadi di masa lalu.

…Kalau dipikir-pikir, Latifa juga dibawa ke desa ini oleh Rio, kan? Apa yang terjadi saat itu?

Latifa merenungkan dari mana harus memulai. “Hmm. Yah, kalau disimpulkan, Onii-chan disangka sebagai penculik dan dijebloskan ke dalam sel penjara…”

“Hah?! Benarkah?!” Mata Aki terbelalak kaget. Miharu juga mengalihkan perhatiannya ke arah mereka dengan terkejut.

“Yup. Umm, para tetua sudah memberitahu kalian kenapa orang-orang desa ini tinggal jauh dari manusia, kan? Jadi kami selalu memasang penghalang di sekeliling desa untuk mengusir manusia,” kata Latifa, memulai dengan penjelasan latar belakang cerita.

“Ah, apakah kalian akhirnya bertarung karena kalian memasuki penghalang itu tanpa izin, atau semacamnya?” tanya Aki, mencoba menebak.

“Ya. Waktu itu sekitar empat tahun lalu, kurasa. Kami melewati penghalang itu tanpa menyadarinya dan sedang berkemah di hutan ketika kami diserang. Aku sedang tidur, jadi aku sudah dibawa ke desa saat aku bangun…” kata Latifa, mengenang. Tak terhitung banyaknya penghalang yang membentang di sekeliling desa semuanya memiliki kualitas yang sangat tinggi. Pada waktu itu, Rio masih belum mempelajari cara-cara seni roh dengan benar, jadi meskipun dia mampu mengabaikan efek penghalang dan lewat, dia tidak menyadari aktivasinya.

Aki terkejut sebelum dengan ragu-ragu melihat ke arah Sara dan gadis-gadis lainnya. “Apakah Sara dan yang lain juga ada di sana?”

Sara mengangguk dengan menyesal. “…Ya. Saat kami melihat Latifa tidur, kami salah mengiranya sebagai anak desa yang diculik dan menyergap Rio. Tidak ada alasan untuk membenarkan tindakan kami.”

Orphia dan Alma juga mengingat masa itu dengan ekspresi suram.

Aki pasti merasakan suasananya semakin berat sehingga dia buru-buru berbicara. “T-Tapi kesalahpahaman itu sudah beres, kan? Kalian semua sudah dekat seperti keluarga sekarang. Aku sedikit penasaran tentang rentetan kejadian apa yang membuat hal itu bisa terjadi pada kalian semua.”

…Ya, kami langsung menyadari kesalahpahaman itu sendiri. Lagipula, Rio membawa perlengkapan perjalanan untuk dirinya sendiri dan Latifa…” jelas Sara dengan ragu-ragu.

“Kejadiannya di tengah malam, tapi kami buru-buru melaporkannya kepada Tetua Ursula begitu kami menyadari Latifa mungkin bukan berasal dari sini. Beliau marah dan memerintahkan kami untuk segera membebaskannya, jadi Alma dan aku pergi ke sel penjara, kalau tidak salah…” lanjut Orphia.

“…Ya,” setuju Alma dengan nada berat saat dia mengingatnya. “Tapi penjara itu sangat dingin dan Rio pingsan hanya dengan mengenakan pakaian tipis, jadi tubuhnya benar-benar kedinginan. Dia bahkan tidak bergerak sedikit pun saat kami memanggilnya, jadi kami cukup panik untuk beberapa saat di sana, mengira dia sudah meninggal.”

“Ahaha. Alma cukup panik saat itu. Dia terburu-buru memeriksa apakah dia masih bernapas.” Orphia mengenang kenangan pahit itu dan tersenyum tipis.

“A-Aku tidak sepanik itu… Tapi aku memang khawatir,” Alma membela diri dengan rasa malu.

“Fufu. Kamu sangat lega saat bisa memastikan dia masih bernapas. Lalu, kami mencoba membangunkannya dengan menggoyangnya, tapi Rio tetap tidak mau bangun…” kata Orphia.

“…Kalau dipikir-pikir, Rio sempat mengigau sesuatu dalam tidurnya. Saat dia terbangun, dia juga tampak seperti baru keluar dari semacam mimpi, dengan tatapan kosong dan semacamnya…” catat Alma.

“Ah, benar. Ya, dia tampak agak kecewa saat melihat wajah kami, hampir seperti dia tidak sedang melihat kami. Ekspresinya juga sangat sedih…” Orphia sepertinya juga mengingat wajah Rio saat itu, karena dia tampak agak bimbang. Sebenarnya, kesan seperti apa yang dia miliki tentang Rio saat itu?

“…Hal seperti itu terjadi?” Mata Latifa membelalak karena tertarik. Miharu, Aki, and Sara juga mendengarkan dalam diam, menatap Orphia dan Alma dengan tatapan penuh rasa penasaran.

“Ya. Kalau aku tidak salah, kurasa dia sempat menangis sedikit. Mungkinkah dia bertemu seseorang dalam mimpinya? Jika iya, kita mungkin telah melakukan sesuatu yang buruk saat kita membangunkan paksa dirinya…” Orphia berbicara tentang perasaan rumitnya mengenai masa lalu dengan ekspresi penuh rasa bersalah.

“…Apa yang dikatakan Onii-chan saat itu?” Latifa tidak dapat menahan diri untuk bertanya.

“Hmm, aku tidak tahu tentang apa itu, tapi… Kedengarannya seperti yattoaeta atau miichan, ya?” jawab Orphia sebaik yang dia bisa. Tentu saja, dia tidak tahu arti dari suara-suara itu; kata-kata yang didengar Orphia diucapkan oleh Rio bagaimanapun adalah kata-kata bahasa Jepang — kata-kata yang berarti akhirnya aku bisa bertemu denganmu dan Mii-chan.

“Eh…?” Bagi Miharu, yang bahasa ibu-nya adalah bahasa Jepang, kata-kata Orphia membuat jantungnya berdetak kencang.

Aki dan Latifa — yang disebut terakhir menyembunyikan fakta bahwa dia memiliki ingatan tentang kehidupan masa lalunya — keduanya sama-sama menunjukkan ketertarikan.

Sara menyadari perubahan pada ekspresi Miharu dan memanggilnya dengan rasa penasaran. “Ada apa, Miharu?”

“Ah… Bukan apa-apa. Tidak ada apa-apa.” Miharu tetap mempertahankan senyuman di wajahnya sambil menggelengkan kepalanya.

…Mana mungkin. Lagipula Haruto bilang dia adalah seorang mahasiswa, batinnya meyakinkan diri sendiri.

Namun, perasaan yang tak terlukiskan meremas hatinya, yang berdegup kencang entah kenapa. Dia tidak bisa mengeluarkan Rio — tidak, Haruto — dari kepalanya.

Tapi kemudian, dia menyadari bagaimana Aki menatapnya. “Hm?” Miharu memasang senyum canggung di wajahnya dan memiringkan kepalanya.

“…” Untuk sesaat, wajah Aki berkerut dengan ekspresi yang sangat pahit sebelum dia langsung mengalihkan pandangannya.

Mungkinkah Miharu… Dan apa… arti ekspresi Aki tadi? Latifa diam-diam mengamati mereka berdua. Dia tahu bahwa Haruto dulu biasa memanggil Miharu dengan nama panggilan “Mii-chan,” itulah sebabnya instingnya langsung memikirkan makna di balik ekspresi singkat Aki. Dia bertanya-tanya apakah mungkin mereka telah membuat hubungan dengan Haruto.

Namun, petunjuk tentang apa yang sebenarnya terjadi tidaklah cukup. Yang Latifa dengar dari Rio di masa lalu hanyalah bahwa orang tua Amakawa Haruto bercerai karena perselingkuhan ibunya, membuat Haruto kecil dan Aki harus berpisah jalan. Tidak ada cara bagi Latifa untuk mengetahui perasaan Miharu terhadap Amakawa Haruto sekarang, apalagi ketidaktahuan Aki tentang alasan perceraian orang tuanya atau emosi rumitnya terhadap Haruto dan seorang ayah yang sama sekali tidak memiliki hubungan darah dengannya. Tidak ada cukup bukti baginya untuk menarik kesimpulan yang masuk akal tentang ekspresi Aki. Bahkan jika Latifa bisa membayangkan jawaban seperti itu, dia tidak punya cara untuk memastikannya karena dia menyembunyikan ingatan masa lalunya sendiri dari Miharu dan semua orang.

Tapi, meski begitu…

Aku ingin tahu. Latifa menggeretakkan giginya karena frustrasi. Dia ingin membeberkan segalanya yang dia tahu tentang Miharu, Aki, dan Amakawa Haruto. Dia ingin membicarakan semuanya dengan mereka.

Namun dia tidak bisa melakukannya. Rio telah menghentikannya. Tidak mungkin Latifa akan mendurhakai perkataan Rio dengan bertindak di belakangnya, betapa pun tertekannya perasaan yang dia alami.

Hal paling maksimal yang bisa dia lakukan adalah mengajukan pertanyaan yang menyinggung inti masalah secara berputar-putar, dan memperhatikan reaksinya. “…Mii-chan, ya? Aku ingin tahu apa artinya. Benar kan, Miharu?” Latifa tetap mempertahankan senyuman di wajahnya sambil dengan ragu-ragu menyapa Miharu yang sedang duduk di sampingnya.

“Y-Ya. Entahlah?” Miharu memiringkan kepalanya dengan senyuman yang agak tidak wajar.

Reaksi ini… Dia benar-benar mengingat Onii-chan ya, rupanya? simpul Latifa. Dia juga melirik sekilas ke arah Aki, yang memiliki kerutan tipis di dahi dan ekspresi yang jelas-jelas masam di wajahnya.

insert5

…Apakah Aki juga mengingat Onii-chan? Tapi ini… Latifa bisa sedikit menebak bagaimana perasaan Aki dari ekspresinya, tapi dia tidak bisa mengetahui alasan di balik emosi yang ditunjukkan oleh Aki.

“Aki?” Vera juga menyadari bagaimana ekspresi Aki mengeras dan mengamati wajahnya dengan rasa ingin tahu.

Aki dengan cepat memasang ekspresi ceria. “Hm? Ada apa, Vera?”

“…Bukan apa-apa,” kata Vera, mengabaikannya karena menganggap itu hanya perasaannya saja. Kemudian dia beralih kepada Sara dan yang lainnya. “Silakan, lanjutkan apa yang sedang kalian bicarakan,” desaknya.

“Lanjutkan… Yah, yang terjadi berikutnya adalah Latifa terbangun dan menerobos masuk ke sel penjara, menyebabkan keributan besar, kalau tidak salah ingat,” kata Sara dengan penuh nostalgia.

“Eh, Latifa melakukan itu?!”

Dimulai dari Vera, semua orang yang tidak hadir saat itu — termasuk Aki dan Miharu — mengalihkan perhatian mereka kepada Latifa.

“L-Lupakan saja itu!” Menjadi pusat perhatian, Latifa mencoba menghentikan percakapan itu karena merasa malu.

“Tidak, aku ingin mendengarnya! Benarkan, Aki?” kata Vera. Aki tertawa dan mengangguk geli.

“Ya, aku juga.”

Miharu dan para gadis yang lebih tua terkekeh saat mereka menyetujuinya.

“Biar kulihat. Begitu Latifa membuka matanya, dia langsung berlari mencari Rio bahkan tanpa mendengarkan kami berdua. Uzuma dan aku harus mengejarnya dengan panik,” kata Sara.

“Astaga! Kamu seharusnya tidak menceritakan hal itu kepada mereka, Sara!” Wajah Latifa memerah dan dia mencoba menghentikan Sara agar tidak melanjutkan.

Daftar Isi

Komentar

guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted