Seirei Gensouki Volume 6 Bab 4: Menyusup ke Kediaman Claire Bahasa Indonesia – Litenovel

Seirei Gensouki Volume 6 Bab 4: Menyusup ke Kediaman Claire Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi

Bab 4: Menyusup ke Kediaman Claire

Hari itu juga, setelah kembali ke rumah batu, Celia mengurung diri di kamar yang telah dialokasikan untuknya dan mulai menulis surat. Penerimanya tentu saja adalah keluarganya.

Sambil merenungkan dengan penuh kecemasan seberapa banyak yang harus ia katakan dan apa yang harus ditulis selain mengabarkan keselamatannya, isi surat itu perlahan-lahan mulai tersusun. Beberapa jam setelah ia mulai menulis, sebuah surat dengan jumlah isi yang dapat diterima akhirnya selesai.

Ia ingin mengendapkannya selama semalam sebelum membaca ulang, tetapi untuk sekarang, ia membacanya sekali lagi untuk memastikan tidak ada masalah yang mencolok.

“…Selesai.”

Celia menarik napas dalam-dalam dan meletakkan pena bulunya di atas meja. Ia meregangkan kedua tangannya dan berdiri dari kursi, lalu berjalan menuju pintu. Saat ia membuka pintu dan pindah ke ruang keluarga, Rio dan Aishia sedang duduk di sofa sambil mengobrol. Keduanya langsung menyadari kehadiran Celia.

“Apakah Anda sudah selesai menulis surat, Profesor?” tanya Rio kepada Celia. Celia mengangguk.

“Ya, untuk saat ini. Aku ingin kamu membacanya untuk memastikan tidak ada masalah dengan isinya…” ucapnya dengan agak ragu-ragu.

“Tentu, aku tidak keberatan melakukannya.”

“Terima kasih. Ini dia.”

Rio menerima surat dari Celia dan mengamati tulisan di atasnya. “Tulisanmu serapi yang kuduga, Profesor,” ujarnya sambil tersenyum.

“A-Aduh. Jangan lihat bagian itu… Apakah ada masalah dengan isinya?” tanya Celia dengan pipi memerah.

“…Tidak, tidak ada yang kulihat. Ini surat yang sangat hangat.”

“B-Begitu ya. Terima kasih.” Celia menerima kembali surat itu dengan rasa malu.

“Kami sebenarnya baru saja mendiskusikan perjalanan ke wilayah Count Claire. Aku berpikir untuk mendirikan markas di pinggiran Amande untuk sementara waktu dan berangkat lusa, tapi ada suatu tempat yang ingin kukunjungi dalam perjalanan kembali,” ucap Rio.

“Aku tidak keberatan. Di mana kamu ingin pergi?” tanya Celia.

“Wilayah Marquess Rodan — ibu kota Rodania.”

“Markas besar faksi Duke Huguenot, yang saat ini melindungi Putri Flora… Kamu berniat untuk memeriksa latar belakang pahlawan yang dipanggil itu, kan?” tanya Celia, langsung bisa menebak alasan mengapa Rio menuju ke Rodania.

“Aku senang kamu begitu cepat tanggap.” Rio tersenyum lebar dan mengangguk.

Kemarin, dia telah mendengar dari Celia bahwa ada empat kerajaan yang memiliki batu suci untuk memanggil pahlawan: Satu di Kerajaan Beltrum, satu bersama faksi Huguenot yang telah diasingkan dari Beltrum, satu di Kerajaan Galarc, dan satu di Kerajaan Centostella. Dari keempatnya, satu-satunya yang namanya telah diketahui adalah pahlawan Kerajaan Beltrum, Rui Shigekura. Oleh karena itu, Rio sedang mempertimbangkan untuk memastikan nama pahlawan dari faksi Huguenot di dalam perjalanan mereka menuju wilayah Count Claire.

“Aku yakin tidak perlu bagiku untuk mengatakan apa pun kepada kalian berdua, tapi berhati-hatilah, ya?” kata Celia, sambil mengintip wajah Rio dan Aishia dengan ragu-ragu.

“Kami akan berhati-hati. Untuk saat ini, tujuan kami hanya untuk memastikan nama pahlawan tersebut, jadi kami tidak akan melakukan hal yang terlalu berbahaya,” setuju Rio dengan sigap, berusaha agar Celia tidak khawatir.

“…Dengan kata lain, kamu tidak akan mendekati pahlawan Rodania bahkan jika ternyata dia adalah pahlawan yang kamu cari?”

“Jika itu masalahnya, aku akan membuat keputusan yang cermat berdasarkan situasi keamanannya. Aku tidak tahu apakah mereka akan mau mendengarkan perkataan penyusup yang muncul dari ketiadaan, dan jika skenario terburuk terjadi dan pertempuran pecah, aku tidak tahu kemampuan seperti apa yang mungkin disembunyikan oleh pahlawan itu. Mereka adalah sebuah misteri besar.” Dia bukannya sedang mengunjungi seorang kenalan, jadi dia tidak berniat mencari-cari masalah.

“Kemampuan pahlawan, ya? Kamu mungkin sudah tahu ini, tapi ada legenda… Bahwa mereka memiliki Senjata Ilahi milik para dewa dan mampu mengalahkan pasukan iblis yang berjumlah ribuan dalam satu serangan telak. Begitulah setidaknya yang dikatakan orang-orang,” ujar Celia.

“…Apakah pahlawan yang dipanggil di kastil Beltrum, Rui Shigekura, memiliki kekuatan seperti di legenda?” tanya Rio dengan rasa penasaran. Legenda tetaplah legenda — tidak ada jaminan itu benar. Namun, para pahlawan dalam legenda benar-benar muncul di masa sekarang, jadi mencari tahu hal itu bukanlah hal yang mustahil.

“Aku tidak tahu detailnya, tapi dia memang memiliki Senjata Ilahi. Dalam kasus Rui Shigekura, senjatanya berwujud senjata fisik — sebuah busur. Busur yang dapat mengendalikan petir, atau semacam itulah.”

“Senjata Ilahi dalam bentuk busur petir…” gumam Rio pelan.

Jangan-jangan serangan yang dia lancarkan waktu itu adalah…

Sesuatu yang familier terlintas di benak Rio. Saat dia bertindak sebagai pengalih perhatian agar Celia bisa melarikan diri dari ibukota dengan selamat, anak laki-laki itu telah menembakkan serangan ke arahnya dari atas menara gereja.

“Ada apa?” Celia menatap wajah Rio dengan rasa penasaran.

Rio menggelengkan kepalanya. “Tidak. Apakah Senjata Ilahi itu benar-benar memiliki kekuatan untuk mengalahkan pasukan iblis yang besar, seperti yang kamu katakan?” tanyanya. Dia tidak ingin mengatakan bahwa dia mungkin pernah beradu pedang dengan sang pahlawan, karena Celia hanya akan merasa khawatir.

“Entahlah. Sekalipun dia bisa melepaskan tembakan dengan kekuatan sebesar itu, itu bukanlah sesuatu yang bisa kamu gunakan di sembarang tempat…”

“Yah, itu benar,” terima Rio sambil tersenyum masam. Paling buruk, bentang alam di sekitarnya bisa berubah.

“Ya, tapi…” Celia terdiam dengan cemberut, membuat Rio mendesaknya untuk melanjutkan.

“Tapi?”

“Apakah kamu ingat saat aku sedang mengembangkan artefak yang bisa mengukur esensi yang tersimpan di dalam diri seseorang?” Celia tiba-tiba mengubah topik dengan sebuah pertanyaan kepada Rio.

“Tentu saja.”

“Aku sebenarnya berhasil membuatnya belum lama ini.”

Mata Rio melebar. “…Selamat. Itu luar biasa… benar-benar pencapaian yang bersejarah.”

Pengembangan artefak sihir yang bisa mengukur jumlah esensi di dalam diri seseorang adalah tantangan yang belum pernah berhasil dipecahkan, hingga sekarang.

Celia tersenyum lebar dengan malu-malu sebelum ekspresinya langsung berubah menjadi resah dan melanjutkan cerita. “Terima kasih. Karena itulah, aku sebenarnya menggunakan artefak itu untuk mengukur esensi sihir sang pahlawan dan teman-temannya yang dipanggil bersama dengannya…”

“Bagaimana hasilnya?” tanya Rio dengan ekspresi serius, menyamakan suasana ceritanya dengan antusiasmenya sendiri.

…Mereka semua memiliki begitu banyak esensi sampai-sampai tak terukur. Artefaknya rusak. Padahal aku sudah membuatnya mampu mengukur hingga sepuluh kali lipat jumlah esensi yang dibutuhkan untuk menggunakan sihir pemusnahan skala besar tingkat tertinggi…” kata Celia dengan raut wajah yang dilema.

Jenis sihir yang dia sebutkan itu mengacu pada sihir agung super kuat yang utamanya dikembangkan dengan memikirkan perang. Jika digunakan di area yang padat, sihir itu memiliki kekuatan yang cukup untuk merenggut nyawa beberapa ratus orang. Namun, selain tingkat kompatibilitas kontrak rumus mantra yang rendah, sihir itu juga menguras esensi sihir dalam jumlah yang konyol, membutuhkan lebih esensi daripada yang bisa digunakan oleh penyihir rata-rata.

“Begitu ya. Bukan hanya pahlawan, tapi teman-temannya juga tidak bisa diukur esensinya…” Kalau begitu, Miharu dan yang lainnya mungkin memiliki jumlah esensi yang cukup banyak juga, pikir Rio.

“Aku belum pernah melihat sihir pemusnahan skala besar digunakan sebelumnya. Apakah sebanyak esensimu, Profesor?” Rio bertanya tentang jumlah esensi Celia untuk mendapatkan gambaran seberapa banyak esensi yang dimiliki oleh seorang penyihir jenius.

“Tanpa ramuan pemulih esensi apa pun, aku bisa merapal mantra itu dua kali, paling banyak. Asal tahu saja, aku adalah penyihir dengan esensi sihir terbanyak di Kerajaan Beltrum, ya?” Celia menghela napas, menjawab dengan senyum pahit.

“Jadi bahkan untukmu, batasnya adalah dua…” Rio mengetukkan tangannya ke mulut sambil merenung.

“Esensi Haruto tidak terbatas,” gumam Aishia pelan.

“…Benarkah?” Mata Celia melebar saat ia menatap wajah Rio dengan rasa ingin tahu.

“Tidak… Begitukah? Aku pernah diberitahu kalau aku punya banyak, tapi aku tidak pernah mengukurnya dengan benar.” Rio menggaruk kepalanya, merasa repot.

“Pasokannya tidak pernah habis, jadi itu tidak terbatas. Jika esensi Celia adalah seember air, maka esensi Haruto ibarat danau yang sangat besar dan tidak akan pernah kering. Miharu, Aki, dan Masato juga punya banyak, tapi tidak sebanyak Haruto,” kata Aishia, menggunakan metafora untuk menjelaskan skala esensi sihir Rio.

“A-Ahaha… Itu luar biasa.” Senyuman Celia berkedut tanpa sengaja.

Jika itu adalah kebenaran, maka sangat tidak masuk akal baginya untuk membandingkan dirinya dengan pria itu. Pernyataan itu sedikit sulit dipercaya, tetapi meskipun waktu kebersamaan mereka singkat, ia tahu Aishia bukanlah tipe orang yang berbohong tanpa alasan.

“…Eh? Tunggu sebentar. Kenapa kamu tahu seberapa banyak esensi yang dimiliki Rio?” Celia tiba-tiba bertanya dengan suara keras sambil menatap Aishia.

“Roh bisa mengetahui seberapa banyak esensi sihir yang dimiliki seseorang dengan menyelami mereka. Haruto dan aku terhubung oleh jalur roh, jadi aku bisa membaca jumlah esensinya dengan lebih akurat daripada orang lain. Meskipun begitu, aku tidak bisa melihat batasnya.”

“…Maksudmu bahkan kamu tidak bisa mengukur jumlah esensinya secara akurat?” Celia memastikan dengan ragu-ragu. Aishia mengangguk kecil.

“Ya.”

“Ahaha. Daripada membahas esensi sihirku, mari kita bahas tentang pahlawan Rodania saja. Dan tentang surat yang harus dikirim ke rumahmu, Profesor.” Rio tersenyum kecut dan mengarahkan kembali percakapan yang mulai melebar itu ke jalur yang benar.

“…Benar juga,” balas Celia dengan nada lelah. “Aku punya ide mengenai surat itu. Ada jalur tersembunyi dari bagian belakang kediaman ke rumah utama… Jika kita menggunakan itu, kita seharusnya bisa meletakkan surat tersebut dan kembali tanpa masalah.”

“Begitu ya. Kalau begitu sepertinya akan lebih baik jika kamu yang memandu kami masuk ke rumahmu, Profesor.” Rio menatap Celia dengan mengandalkannya.

“Yups, serahkan padaku,” jawab Celia dengan bangga.

“Yang berarti tinggal menyisakan masalah menyusup ke Rodania… Bisakah kamu menunggu di tempat yang aman selama waktu itu, Profesor?” tanya Rio.

“Ya. Jika terjadi sesuatu yang buruk, aku hanya akan menghalang-halangi saja. Andai saja aku menguasai seni bela diri…”

Sebanyak apa pun sihir yang bisa ia gunakan, Celia tidak pernah berlatih bertempur sebagai seorang prajurit. Tidak ada jaminan ia bisa melancarkan sihir serang tanpa ragu-ragu melawan seseorang dalam suatu pertempuran, dan ia tidak berdaya dalam pertarungan jarak dekat. Jika seseorang mendekatinya, ia tidak akan ada bedanya dengan warga sipil biasa yang tak berdaya.

Rio berpikir sejenak. “Apa kamu ingin aku mengajarimu beberapa bela diri sederhana? Tentu saja, aku dan Aishia yang akan melindungimu seperti biasa, tapi itu mungkin berguna jika kita berjalan-jalan di luar,” usulnya.

“…Kamu benar. Tidak baik juga bagiku terus mengurung diri di dalam. Bisakah kamu mengajariku?” Celia sebenarnya tipe orang rumahan, namun ia menyetujui penilaian Rio.

“Kalau begitu, begitu kita kembali dari kediaman Count Claire, kita bisa mulai pelajarannya bersamaan dengan pelajaran sihir dan seni roh.”

Celia mengangguk. “Baiklah. Kamu juga berjanji untuk mengajariku memasak. Rasanya peran kita benar-benar terbalik… Dulu aku yang jadi guru, fufu,” ujarnya sambil tersenyum geli.

“Bagiku, kamu tetap Profesor-ku sampai sekarang,” kata Rio dengan senyum ceria.

◇ ◇ ◇

Dua hari kemudian, setelah makan siang…

Rio menggendong Celia saat dia dan Aishia terbang di udara untuk mengunjungi ibu kota wilayah Count Claire, Cleia.

Cleia terletak di sebelah timur Kerajaan Beltrum, sebuah kota regional yang dilewati oleh jalan utama menuju Kerajaan Galarc. Ini adalah pertama kalinya Rio berkunjung ke sana.

Dengan perkiraan 30.000 penduduk, kota regional tersebut memiliki populasi ukuran menengah dan berfungsi sebagai titik perdagangan penting antara sisi timur dan barat Beltrum.

Rio memasuki kota dari sisi timur, menggandeng kedua gadis itu saat mereka berjalan menyusuri jalan utama. “Karena kita akan menyusup ke kediaman itu pada malam hari, bagaimana kalau kita pergi ke suatu tempat sebelum itu?” tanya Rio kepada Celia yang berjalan di sebelah kanannya.

Cleia adalah kampung halaman Celia; pikir Rio, mungkin ada kenangan yang ingin ia kunjungi kembali, namun Celia menggelengkan kepalanya.

“Tidak, tidak apa-apa. Mungkin ada orang yang mengenalku, jadi aku tidak masalah hanya dengan melihat kota seperti ini,” ujarnya. Kerudung jubahnya menutupi wajahnya dan membuat ekspresinya sulit dilihat, tetapi di mata Rio ia tampak sedikit murung.

“Kalau begitu, ayo kita berjalan-jalan. Aku lapar. Kita harus pergi makan sesuatu yang enak.” Dari sebelah kiri Rio, Aishia memandangi mereka berdua sambil menarik lengan Rio. Dia mungkin berusaha menghibur Celia dengan caranya sendiri.

“…Ide bagus. Bagaimana kalau itu, Profesor? Jika ada makanan khas setempat, kita bisa pergi memakannya.” Rio tersenyum tipis dan menarik tangan Celia untuk mengikutinya.

“Ah, tunggu! Tahan dulu, kalian berdua.” Meskipun melontarkan keberatan secara lisan, Celia tersenyum bahagia saat membiarkan keduanya menuntunnya maju.

Dengan demikian, waktu berlalu dalam sekejap mata. Saat mereka berjalan-jalan dan mencoba berbagai makanan, senja akhirnya turun menyelimuti kota.

Saat ini, mereka bertiga sedang minum teh di sebuah kafe yang cukup modis sambil beristirahat. Duduk di teras lantai dua, mereka mengamati orang-orang yang berjalan melalui kota dengan matahari terbenam di belakang mereka, menyantap pesanan makanan penutup tambahan mereka.

“Sepertinya aku makan terlalu banyak,” kata Rio dengan senyum tegang, sambil memegang perutnya dengan satu tangan.

“I-Iya. Rasanya enak, tapi sepertinya Scone ini agak terlalu banyak. Tidak mungkin aku bisa makan malam sekarang. Uh, aku harus berdiet…” Celia menyetujui, menundukkan kepalanya karena merasa bersalah.

“Rasanya enak,” kata Aishia. Sebagai seorang roh, dia bisa mengubah asupan makanannya menjadi esensi sihir, jadi dia bisa dengan mudah makan sebanyak yang dia mau tanpa pernah menjadi gemuk.

“Sebenarnya tubuh seperti apa yang dimiliki oleh seorang roh? Aku sangat cemburu…” Celia merengut, menatap Aishia.

“Materialisasi tubuh fisik dari eksistensi spiritual adalah seni roh yang unik bagi para roh saja. Aku tidak tahu apakah aku memiliki organ-organ yang diperlukan untuk fungsi kehidupan manusia, tetapi struktur umum dan kemampuan fisikku seharusnya tidak terlalu berbeda dari manusia normal,” kata Aishia, memberikan jawaban yang cukup serius di luar dugaan. Celia pun dibuat terkejut.

“H-Hah… Benarkah…”

“Semakin besar seni roh menyebabkan fenomena yang menentang hukum alam, semakin besar pula esensi yang dikonsumsi. Mengambil sifat fisik dari suatu bentuk mungkin adalah cara materialisasi yang paling alami, kurasa,” jelas Rio, menambahkan asumsinya sendiri.

“Masuk akal juga. Bahkan dalam sihir, fenomena yang bertentangan dengan hukum alam akan memengaruhi konsumsi esensi…” gumam Celia saat dia mulai tenggelam dalam pikirannya sendiri. Berpikir bahwa Celia tidak akan memerhatikan untuk beberapa saat, Rio tersenyum kecut.

“Hari sudah hampir gelap,” kata Aishia.

Rio berpikir sejenak. “…Mari kita tunggu sebentar lagi. Masih banyak orang di jalanan, jadi setidaknya tunggu sampai perutku lega,” tawanya, memutuskan untuk memperpanjang waktu istirahat mereka.

◇ ◇ ◇

Hampir satu jam berlalu setelah kunjungan mereka ke kafe. Kecuali jalan utama, jalan-jalan tersebut benar-benar sepi dari orang-orang saat Rio dan para gadis berjalan menuju kediaman Claire.

Kediaman itu terletak di puncak sebuah bukit kecil, bagian dalamnya diterangi oleh obor sementara para prajurit berpatroli di area tersebut. Amatir mana pun akan mudah ketahuan oleh tindakan pengamanan tersebut; namun, Rio dan Aishia membaur ke dalam kegelapan saat mereka terbang dengan seni roh mereka, mendarat di sudut kediaman tanpa terlihat oleh siapa pun.

“Menurutmu apakah kita bisa mencapai jalur tersembunyi tanpa terlihat? Jika tidak, kita selalu bisa mencoba menyelinap masuk dari atap saja…” bisik Rio, menurunkan Celia sembari mengamati keadaan halaman kediaman dari balik semak-semak.

“Akan baik-baik saja — pintu masuknya terletak di area yang sulit dilihat.”

“Baiklah. Kalau begitu, silakan pimpin jalan.”

“Oke. Ikuti aku,” angguk Celia, merendahkan tubuhnya saat dia mulai bergerak. Rio dan Aishia mengawal di belakang sambil tetap waspada terhadap keberadaan prajurit yang sedang berpatroli.

Kira-kira satu menit kemudian, mereka berhenti bergerak. “Itu air Mancur di sebelah sana. Tanah di belakang perkebunan adalah pintu masuk jalur tersembunyi,” kata Celia, menunjuk ke arah air mancur di pinggiran taman.

“Begitu ya. Sepertinya tidak ada patroli di sekitar, tapi berjaga-jaga saja… Bolehkah aku menggendongmu sebentar?” tanya Rio, mengintip ke arah taman dari balik bayangan.

“Hah…?” Celia, menegang karena kebingungan.

“Ada kemungkinan kita terlihat saat bergerak dari sini ke air mancur itu, jadi aku ingin menyembunyikan kita dengan seni roh untuk berjaga-jaga,” jelas Rio.

“O-Ohh, itu maksudmu. Sama seperti seni roh yang digunakan Aishia saat kita kabur dari ibu kota, kan? Tentu, silakan,” kata Celia mengerti, punya gambaran tentang seni roh yang akan digunakan. Sepertinya Aishia sudah pernah menggunakannya sekali padanya sebelumnya, saat Rio bertindak sebagai pengalih perhatian di ibu kota.

“Jika kamu tidak keberatan, kalau begitu,” kata Rio, mengangkat Celia ke dalam gendongannya. Kemudian dia menoleh ke Aishia. “Ayo pergi, Aishia.”

“Baiklah. Kalau begitu, aku akan menggunakan seni roh.”

“Tolong lakukan. Terima kasih, Aishia.”

“Sama-sama,” kata Aishia, mengaktifkan seni rohnya. Sesaat kemudian, angin sepoi-sepoi bertiup di sekitar mereka, sepenuhnya menyelimuti Rio.

“Ayo pergi,” kata Rio, melangkah maju. Aishia mengikuti di belakangnya.

“…Hei, Rio. Kamu bisa melihat keadaan sekitar, kan?” tanya Celia pelan, sementara dia masih digendong. Dia sama sekali tidak bisa melihat sekeliling mereka — seolah-olah ada kabut tebal di udara yang mendistorsi ruang tersebut.

“Ya. Jika Profesor melatih diri untuk memvisualisasikan esensi sihir, Profesor juga akan bisa melihatnya,” jelas Rio.

Seni roh yang sedang digunakan Aishia saat ini adalah ilusi tembus pandang berbasis angin yang menenun esensi sihirnya ke dalam udara di sekitar. Seni itu menciptakan ruang unik yang membuat orang-orang di dalam ruang tersebut tampak transparan dari luar. Berbeda dengan berubah ke wujud roh, tubuh fisik mereka masih ada, jadi suara dan kehadiran tidak bisa sepenuhnya diredam. Selain itu, gangguan dan kontak dari luar dapat dengan mudah mengguncang ruang tersebut, sehingga mereka tidak dapat melakukan gerakan yang tiba-tiba atau penuh tenaga, seperti berlari dan melompat.

Selain itu, orang-orang yang bisa memvisualisasikan esensi dapat melihat tembusan dari aktivasi seni roh tersebut dan melihat bagian dalam ruang itu, sementara orang-orang dengan kepekaan tinggi dalam mendeteksi esensi sihir juga bisa merasakan pergeseran tersebut, sehingga ada batasan dalam penggunaannya.

Kendati demikian, hampir tidak ada manusia di wilayah Strahl yang bisa mendeteksi esensi sihir secara visual, jadi itu adalah kemampuan yang sangat berguna untuk digunakan.

Dengan demikian, mereka membaur dengan lingkungan sekitar dan bergerak menuju air mancur.

“Aishia, cipratan air akan membuat ruangannya bergetar. Kamu bisa membatalkannya sekarang,” kata Rio.

“Baiklah.” Setelah Aishia melepaskan seni roh tersebut, penglihatan Celia kembali normal.

“Untuk berjaga-jaga jika ada pengawal yang datang, aku serahkan urusan membuka kunci pintu masuk kepadamu, Profesor.”

Didorong oleh Rio, Celia langsung mulai mencari-cari di sekitar lantai. “Serahkan padaku. Seharusnya ada di sekitar sini…”

Kemudian, sesaat kemudian, Celia menemukan pintu masuk ke lorong rahasia tersebut. “Ini dia!”

Dia menggerakkan tangannya dan menekan ubin batu di lantai, menggesernya ke samping seperti pintu geser. Namun, Celia kurang memiliki tenaga untuk menggeser ubin batu itu dengan mudah.

“Biar kubantu. Aku hanya perlu menariknya ke arah sini, kan?” tanya Rio, yang langsung menawarkan bantuan.

“Ya, terima kasih…” Begitu Celia mengangguk, Rio dengan ringan menggeser ubin batu itu ke samping, menyingkapkan tangga tersembunyi yang mengarah turun ke rumah.

“Aku akan menutupnya,” kata Rio saat mereka berjalan turun.

“Ya, tolong. Aku akan menyalakan tempat ini…” Saat Rio menutup kembali pintu masuk tersebut, Celia memainkan artefak sihir di koridor bawah tanah untuk memberikan penerangan pada lorong itu.

“Ayo pergi.”

“Baiklah.”

Mereka berjalan menyusuri lorong tersebut; di ujung koridor yang panjang dan sempit itu terdapat sebuah ruang terbuka yang luas. Tempat itu kemungkinan berada tepat di bawah atau sangat dekat dengan rumah.

“Aku menyalakan lentera-lenteranya,” kata Celia sambil mengaktifkan artefak-artefak di dalam ruangan itu. Lampu-lampu di langit-langit langsung menyala, menerangi ruangan tersebut. Tepat di seberang koridor dari air mancur terdapat serangkaian tangga yang mengarah ke lantai atas; tangga itu dijajarkan dengan beberapa pintu di kedua sisinya.

“Tempat ini sangat luas,” komentar Rio sambil mengamati sekeliling ruangan dengan rasa ingin tahu.

“Tidak ada orang selain keluargaku yang datang ke sini, jadi jangan khawatir. Pintu-pintu di sebelah kiri dan kanan mengarah ke dapur, kamar tidur, dan ruang tinggal darurat. Tangga di hadapan kita langsung mengarah ke rumah, keluar di kamar tidur Ayah dan Ibu,” kata Celia, menjelaskan struktur ruangan bawah tanah itu kepada Rio.

“Begitu ya. Kalau begitu, haruskah aku meninggalkan suratmu di kamar orang tuamu? Jika mereka ada, kita mungkin juga bisa mengatur agar kamu bisa menemui mereka…” tanya Rio sambil mengamati ekspresi Celia.

…Jangan, jangan lakukan itu. Mereka berdua seharusnya sedang berada di ibu kota saat ini. Ibu rutin membersihkan tempat ini, jadi kamu bisa meninggalkannya di sini saja. Para pelayan terkadang juga masuk ke dalam kamar tidur.” Celia menggelengkan kepalanya dan mengeluarkan surat itu dari saku jubahnya.

“…Aku mengerti.” Rio tadinya hendak menyarankan agar mereka menunggu sampai orang tuanya kembali, tetapi dia menelan kata-katanya dan memilih untuk menyetujuinya. Bagaimanapun juga, bisa jadi Celia belum sepenuhnya menata perasaannya.

“Terima kasih, Rio.” Celia tersenyum lembut.

“Sama-sama. Mari kita datang untuk menemui mereka lain waktu.”

Kita pasti akan datang, janji Rio dalam hati dan membalas senyuman Celia.

Daftar Isi

Komentar

guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted