Seirei Gensouki Volume 2 Cerita Pendek Bonus Bahasa Indonesia – Litenovel

Seirei Gensouki Volume 2 Cerita Pendek Bonus Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi

Cerita Pendek Bonus

Gadis-Gadis dengan Telinga Hewan Suka Dibelai!

Suatu hari, setelah sekitar satu tahun berlalu sejak Rio dan Latifa mulai tinggal di desa…

“Ini perayaan!”

“Saatnya untuk merayakan!”

Sara dan Alma sedang minum teh di ruang keluarga, ketika tiba-tiba Latifa datang dengan menyeret Vera dan mendekati mereka.

“W-Wah! Ada apa, Latifa? Vera?”

“Latifa sudah menceritakan semuanya kepadaku, Sara! Dia bilang kalau Rio memujimu saat latihan pagi tadi. Makanya kita harus merayakannya!” kata Vera.

“K-Kalian tidak perlu membesar-besarkannya…” Sara menggelengkan kepala dengan senyum canggung atas desakan adik perempuannya itu.

“Fufufu. Tidak perlu pura-pura jual mahal begitu!”

“Betul sekali! Aku tahu sebenarnya kakakku ini sangat senang di dalam lubuk hatinya!”

Ucap Latifa dan Vera bersamaan dengan ekspresi penuh kemenangan.

“Memang benar, Sara sudah bersuasana hati baik sejak latihan pagi berakhir. Dia bahkan senyum-senyum sendiri tanpa alasan yang jelas,” gumam Alma dari tempat duduknya, berhadapan dengan Sara.

“T-Tidak kok! Aku tidak senyum-senyum!” protes Sara dengan panik, rona merah menghiasi pipinya.

“Hih. Sara memang tidak jujur pada dirinya sendiri!”

“Aku sangat setuju.”

“Guh…”

Wajah Sara semakin memerah saat Vera dan Latifa menunjukkan kebenaran tersebut.

“Oleh karena itu, kami telah memutuskan untuk mewujudkan salah satu keinginan kakakku. Sebutkan saja apa maumu!” Vera berdehem dan membusungkan dadanya dengan bangga.

“A-Aku tidak butuh apa-apa secara khusus, sungguh.”

“Jangan bilang begitu! Apa yang kamu inginkan?” tanya Latifa.

“Aku… Itu bukan sesuatu yang bisa langsung kujawab begitu saja…”

“Eh? Benarkah? Aku bisa memikirkan banyak hal yang kuinginkan…” gumam Latifa pelan.

“Seperti apa?”

“Seperti ingin Onii-chan menyuapiku makanannya, atau ingin Onii-chan meminjamkan pangkuannya untuk kutiduri di bawah sinar matahari, atau ingin Onii-chan mengelusku…” Latifa menghitung dengan jarinya sambil menyebutkannya satu per satu.

“S-Semuanya ada hubungannya dengan Rio!” seru Sara, terkejut.

“Fufufu! Tapi… aku yakin kamu juga ingin dia melakukan hal itu padamu. Aku yakin kamu sempat membayangkannya di kepalamu, kan?” kata Latifa dengan senyuman puas.

“Ugh… H-Hanya sedikit, kok! Hal itu mungkin sempat terlintas di kepalaku sedikit saja…” jawab Sara jujur, namun rasa malunya membuat dia menundukkan kepalanya.

Saat itulah Orphia kembali dari urusannya di luar. “Aku pulang! …Eh? Ada apa, Sara?” Dia melihat sekilas ke arah Sara yang pandangannya tertuju ke bawah dan memiringkan kepalanya dengan heran.

“Selamat datang kembali, Orphia.”

“Kakakku punya sesuatu yang ingin dia minta dilakukan oleh Rio!”

Latifa dan Vera menjawab secara bersamaan.

“Oh, benarkah begitu? Sara?” tanya Orphia, memperhatikan Sara lekat-lekat.

“A-Aku tidak menginginkannya! Mereka berdua tadi hanya bertanya kepadaku apakah ada sesuatu yang ingin aku minta mereka lakukan untukku. Bukan berarti aku ingin Rio menyuapiku makanan, atau membiarkanku menjadikan pangkuannya sebagai bantal, atau mengelusku atau sela—…?!”

Sara sedang mati-matian menyangkal perkataan semua orang ketika pandangannya tertuju pada Rio, yang sedang berdiri di belakang Orphia. Dia membeku di tengah kalimatnya, seolah waktu telah berhenti.

“Umm… Aku pulang, Sara,” sapa Rio dengan canggung saat wajah Sara memerah karena malu.

“Wah… Sara, wajahmu merah padam,” kata Orphia dengan senyum masam.

Sara berdiri di atas kakinya yang gemetar dan berjalan cepat menghampiri sudut ruangan. Dia berjongkok dan membenamkan kepalanya di antara kedua tangannya.

“Uugh…” dia mengeluarkan erangan tertahan. Telinga dan ekornya bergerak-gerak ke sana kemari.

“Aku belum pernah melihat Sara bertingkah seperti ini sebelumnya,” kata Alma dengan mata yang membelalak.

“Benar kan? Apa yang harus kita lakukan?” tanya Orphia dengan raut wajah bermasalah.

“Kita suruh saja Rio mengelusnya!” Vera memberikan usulan cemerlangnya. “Cara terbaik untuk menghilangkan suasana hati yang suram adalah dengan dielus.”

Mata Rio membelalak kaget, sementara tubuh Sara bergetar karena tersentak.

“A-Apa yang kamu bicarakan, Vera?!” Sara berdiri dengan mantap, memprotes perkataan Vera yang puas itu dengan gugup.

“Oh? Kalau begitu, apakah kamu tidak ingin Rio mengelusmu, *sister*?”

“Ehm… Aku… Hal keanak-anakan seperti itu…” Menatap mata Vera yang jernih dan polos membuat Sara kehabisan kata-kata.

“Kurasa aku akan meminta dia mengelusku saja kalau begitu.” Orphia berdiri, mengajukan dirinya sendiri.

“O-Orphia, itu tidak adil. Kalau begitu, aku juga.”

“Aku juga ingin dielus!”

“Tentu saja aku juga!”

Alma dengan malu-malu mengumumkan niatnya untuk ikut bergabung, diikuti oleh Vera dan Latifa yang ikut-ikutan. Gadis-gadis itu mulai mendekati Rio dengan nada bercanda. Sara adalah satu-satunya yang tertinggal, menyaksikan pemandangan mereka bermain-main dengan tatapan kosong.

Setelah jeda sejenak, Sara tersadar dengan terkesiap. “A-Aku juga ingin dielus! Lagian ini kan perayaanku!” serunya. Semua gadis lainnya bertukar pandangan yang geli.

“Baiklah, kamu duluan,” kata para gadis itu serempak, lalu langsung mundur menjauh dari Rio seketika.

“Eh? Ah…” Tanpa ada penghalang lagi antara dirinya dan Rio, mata Sara bergeser ke sana kemari, dengan ragu-ragu menghindari kontak mata. Latifa berputar ke belakangnya dan dengan lembut mendorong punggungnya.

“W-Wah, err, umm, ah, Rio…” Begitu dia berdiri di hadapannya, Sara mengangkat kepalanya dan menatap Rio dengan mata berkaca-kaca.

“Erm… Apa ini tidak apa-apa?” Rio tersenyum kaku dan mengelus kepala Sara.

“T-Terima kasih… banyak… ya…” ucap Sara berterima kasih karena merasa malu. Telinga dan ekornya bergerak-gerak dengan gembira.

Kami Ingin Mandi Campur!

Latifa telah datang ke pemandian air panas desa yang dapat dis ͡reservasi bersama Sara dan gadis-gadis lainnya.

“Mrrghh…”

Mereka sedang berada di ruang ganti; Latifa menggerutu sambil mengamati para gadis yang sedang berganti pakaian.

“Erm, Latifa? Rasanya memalukan kalau kau menatap begitu lekat…” kata Sara, dengan semburat merah tipis di pipinya. Ia menarik pakaiannya agar tertutup rapat di tubuhnya.

“Ada apa?” Orphia memiringkan kepalanya dengan rasa ingin tahu.

“Tidak… aku hanya bertanya-tanya apakah pria lebih menyukai dada yang lebih besar.” Tatapan Latifa tertuju pada Orphia, yang memiliki dada terbesar di antara mereka yang hadir.

Orphia baru berusia 13 tahun, perkembangan fisiknya matang sedikit lebih jauh dibandingkan gadis peri lain sebayanya, tetapi fisiknya lebih condong ke arah yang mungil. Dia mungkin tidak punya ruang untuk pertumbuhan yang jauh lebih besar di masa depan.

“Ahaha, mana tahu. Aku seorang elf, jadi aku sepertinya tidak akan tumbuh lebih besar dari ini. Sara adalah seorang werebeast, jadi kurasa dia punya potensi untuk berkembang jauh lebih banyak.” Orphia tersenyum lebar dan tersipu.

“Apa—kau berkata begitu, tapi kaulah yang memiliki dada lebih besar di sini, Orphia! Padahal aku setahun lebih tua!” balas Sara dengan gugup.

“…Kalian berdua tidak peka. Latifa juga. Tidak peduli seberapa banyak kau khawatir, kau tidak akan pernah lebih kecil dariku.” Sebagai seorang kurcaci, Alma mengerucutkan bibirnya sedikit.

“L-Latifa baru berusia 11 tahun sekarang. Kau seharusnya tidak memikirkan hal-hal seperti ini sampai kau sedikit lebih dewasa. Ini masih terlalu dini untukmu,” tegur Sara kepada Latifa, setelah menyadari tatapan sinis Alma.

“Hrmph…” gerutu Latifa dengan gelisah.

Kehadiran orang yang ada di dalam pikirannya selalu berada di sisinya membuat itu menjadi kekhawatiran yang sangat beralasan untuk dimiliki.

“Ayo, lepaskan pakaianmu supaya kita bisa masuk ke pemandian sekarang.”

“Baiklah!”

Atas desakan Sara, Latifa menanggalkan pakaiannya dan berjalan menuju bak mandi.

“Fiuh, inilah yang dinamakan kebahagiaan…” Setelah membasuh tubuhnya, Latifa membenamkan diri ke dalam air pemandian dan menghela napas. Dia duduk di dalam bak mandi dengan lutut dipeluk ke arah dada dan wajahnya, menatap ke depan dan membiarkan pandangannya mengawang tanpa fokus.

Kuharap Onii-chan akan memberikan banyak perhatian kepadanya dalam waktu yang kita miliki sebelum dia meninggalkan desa…

Pikirannya sepenuhnya tertuju pada Rio.

Baru-baru ini, dia terbiasa membuat daftar hal-hal yang dia ingin Rio lakukan untuknya dan hal-hal yang ingin dia lakukan untuk Rio di dalam kepalanya setiap hari.

“Ehehe.” Saat dia membayangkan berbagai hal, Latifa tersenyum bahagia.

“Ada apa, Latifa? Sekarang kamu tampak cukup senang tentang sesuatu,” tanya Sara dengan ekspresi yang agak geli.

“Aku tadi sedang memikirkan betapa lebih menyenangkannya jika Onii-chan mandi bersama kita,” jawab Latifa tanpa risih dengan senyuman tanpa beban.

“A-A-Apa yang kamu katakan?! Mana mungkin hal itu diizinkan!” Sara memerah padam sambil berteriak.

“Eeeh? Tapi itu akan sangat menyenangkan kalau semua orang bisa berendam bersama di pemandian air panas setidaknya sekali… Bukankah begitu?” ucapnya dengan ekspresi tidak senang.

“Benar juga, itu memang terdengar menyenangkan,” setuju Orphia dengan nada lembut.

“Jangan bilang kamu juga, Orphia!”

“Onii-chan menggunakan pemandian air panas yang sama, jadi akan lebih baik jika kita datang bersama-sama saja. Menurutmu apakah sudah terlambat untuk memintanya bergabung dengan kita sekarang?”

“…Kalau dipikir-pikir, kamar mandi anak laki-laki tepat berada di sebelah sini,” gumam Alma memberikan dukungan menanggapi Latifa sambil berbicara pada dirinya sendiri.

“Eh? Benarkah? Kalau begitu, jika aku memanggil Onii-chan, dia bisa langsung datang?”

“H-Hei! Bagaimana kalau dia benar-benar datang ke sini?!”

Latifa meninggikan suaranya dengan gembira, tetapi Sara menghentikannya dengan panik. Orphia dan Alma tertawa geli melihat tingkah mereka berdua.

…Aku tidak akan pernah melakukannya, batin Rio dari kamar mandi sebelah.

Daftar Isi

Komentar

guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted