Shinja Zero no Megami-sama to Hajimeru Isekai Kouryaku Volume 10 Bab 7: Makoto Takatsuki Bertemu dengan Penyihir Bencana Bahasa Indonesia – Litenovel

Shinja Zero no Megami-sama to Hajimeru Isekai Kouryaku Volume 10 Bab 7: Makoto Takatsuki Bertemu dengan Penyihir Bencana Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi

Bab 7: Makoto Takatsuki Bertemu dengan Penyihir Bencana

Ascareus Sanctus—sebuah gunung dengan kuil matahari di puncaknya. Tempat itu adalah salah satu lokasi terkenal dari keyakinan pada Althena di Highland. Sejarah mencatat ziarah Saint Anna ke sana untuk mendoakan kedamaian selama seribu tahun setelah mengalahkan Iblis. Aku cukup yakin di sanalah Putri Noelle menjalani ujiannya untuk menjadi seorang santa juga.

Meskipun begitu, aku tidak ingat adanya kisah tentang kelompok Abel yang pergi ke sana dalam sejarah aslinya. Hal itu tidak ada di buku bergambar, dan aku juga tidak ingat mendengar hal seperti itu di Kuil Air sebelumnya.

Dengan kata lain, Ira sedang menulis ceritanya sendiri. Apakah semuanya akan berjalan lancar? Aku merasa sedikit gelisah, namun aku melirik rekan-rekanku.

“Dimengerti, Lady Estelle!”

“Jika itu adalah petunjuk Lady Ira…”

“Gunung suci… itu terdengar luar biasa, Sir Makoto!”

Ketiga orang itu memancarkan binar di mata mereka. Yah, jika mereka semua bersemangat, maka… tentu saja.

“Kalian semua harus menghabiskan setidaknya satu tahun di Ascareus Sanctus untuk menjadi lebih kuat,” kata Ira. “Terutama kalian berdua, Hero, Sage.”

“Setahun?!” seruku.

Ira menatapku. “Kamu terlalu terburu-buru. Momo kecil baru saja menjadi seorang sage belum lama ini, bukan? Kamu harus melatihnya dengan benar.”

Aku terdiam sejenak, tak bisa membantah perkataannya, lalu akhirnya mengalah. “Dimengerti.” Sejujurnya, Ira benar—Momo tidak memiliki cukup pelatihan. Ada banyak kemampuan yang bisa dia latih dan kembangkan. Aku menoleh ke arah gadis itu. “Momo, kamu akan berlatih sihir bersamaku untuk sementara waktu agar kemampuanmu meningkat, ya?”

“Mengerti!”

Setidaknya dia sepertinya tidak keberatan.

“Abel, Mel, sepertinya ada perubahan rencana,” kataku. “Apakah kalian berdua tidak keberatan dengan hal itu?”

“Aku akan mengikuti apa katamu,” jawab Abel.

Mel mengangkat bahu. “Setahun hampir tidak layak disebut sebagai penundaan.”

Kurasa kedua orang itu juga tidak punya keberatan. Sekarang satu-satunya hal yang tersisa untuk dilakukan adalah memberi tahu Johnnie tentang penundaan ini.

Dengan rencana yang sudah dipastikan itu, hanya ada satu hal di dalam pikiranku.

“Bolehkan aku melihat barang-barang sihir itu juga?” tanyaku penuh antusias.

“Tentu saja. Ambil apa pun yang kamu suka.”

Asyik sekali! Ayo kita mulaaaai! Masih ada banyak sekali barang yang berjajar. Aku memindai benda-benda itu dengan mata yang berbinar-binar, dan Estelle—yang masih dirasuki oleh Ira—berjalan menghampiri.

“Bagaimana dengan yang ini?” Dia menunjuk. “Ini adalah Jubah Bulu Merah.”

“Jubah…? Hm, sepertinya sulit dipakai bergerak, jadi sepertinya jangan deh.”

“Kamu setidaknya harus mencobanya dulu.”

Ira menggerakkan lengannya melingkari tubuhku, memakaikan jubah itu ke pundakku. Anehnya, jubah itu sama sekali tidak terasa berat? Sebenarnya, tubuhku bahkan terasa jauh lebih ringan dari biasanya.

“A-Apa ini?”

“Benda ini diresapi dengan sihir gravitasi. Jubah tersebut memungkinkan untuk terbang sampai batas tertentu dan memiliki perlindungan terhadap panah serta sihir jarak jauh. Jubah ini juga membuatmu lebih ringan, yang dapat mengurangi beban dalam perjalanan panjang. Hebat, bukan?”

“Ini luar biasa!” seruku. Benda ini sangat sempurna! Ira pastinya adalah orang yang mengumpulkan semua barang ini. Aku harus memanfaatkan sarannya. “Apakah ada hal lain yang kamu rekomendasikan?”

“Hmm, bagaimana dengan anting-anting ini? Ini cocok untukmu, kan?”

“Bukankah ini sedikit terlalu keperempuanan? Tapi memang manis, sih.”

“Benar, kan? Aku yang merancang ini. Benda ini mengurangi pengeluaran mana.”

“Oooh.”

“Silakan, coba dipakai.”

“Biar aku pakai sendiri,” protesku.

Tiba-tiba, aku menyadari beberapapasang mata tertuju pada kami.

“Um… kalian berdua tampak cukup akrab,” komentar Momo dengan tatapan curiga.

“Elementalis.” Mel memiringkan kepalanya, tampak jelas tertarik. “Apakah kamu mengenal pendeta wanita itu?”

“T-Tidak!”

“Ini adalah pertama kalinya kami bertemu!”

Kami berdua buru-buru menggelengkan kepala.

“Benarkah? Makoto?” Bahkan Abel menatapku dengan penuh curiga.

Aku mengalihkan perhatianku kembali ke barang-barang magis, dan situasinya terasa sedikit canggung saat aku memilih beberapa benda lain yang direkomendasikan oleh Ira.

“Yah, terima kasih atas bantuanmu,” kataku begitu kami selesai.

“Terima kasih!” cicit Momo.

“Terima kasih, Lady Estelle.”

“Tolong sampaikan salamku kepada dewi kalian, Pendeta Wanita.”

Kelompok kami kemudian melangkah menuju pintu keluar tempat persembunyian Ira. Saat dia mengawasi kepergian kami, dia memanggil kami dengan wajah kencang dan serius.

“Satu hal lagi—ada pertemuan harian yang diadakan oleh sang ratu setiap pagi. Kalian akan terpesona jika pergi ke sana. Jadi jangan ikut serta, ya?”

Kami berempat saling bertukar pandang.

“Makoto, itu…”

“Pemilik penginapan tadi sempat menyinggungnya, bukan?” gumamku, mengingat kembali percakapan tadi pagi. Dia sempat mengatakan sesuatu tentang pidato harian dari sang Ratu.

“Hmm, jadi begitulah caranya warga disihir…” gumam Mel merenung.

“Eh?” Mata Momo terbelalak kaget. “A-Apa maksudmu?!”

“Makoto, apa yang sebenarnya… kau bicarakan?”

Mel tadi terdengar terkesan, tetapi dua orang lainnya tampak jelas gelisah dan sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi di Cornet. Aku dan Mel segera menjelaskan situasinya kepada mereka.

“Kenapa…” Momo tertegun sejenak. “Untuk apa mereka melakukan itu?”

“Aku tidak menyadarinya…” ucap Abel pelan.

Wajah mereka berdua tampak pucat.

Ira berbicara sekali lagi. “Selain itu, sang ratu tahu tentang setiap orang yang memasuki kota, jadi mereka yang tidak hadir akan dilaporkan. Kalian seharusnya tidak tinggal di sini lama-lama. Kami akan melarikan diri saat kami menemukan waktu yang tepat.”

“Dia tahu tentang kita?” tanyaku, membuat hawa dingin merayap di punggungku.

“Sang ratu mungkin tidak tahu siapa kalian… tapi dia akan tahu kalian tidak terpesona. Semua warganya ramah, kan? Satu pertanyaan biasa saja, dan dia akan mengerahkan orang-orang untuk mencari kalian.”

Pernyataan itu disambut dengan keheningan. Itu jauh lebih mirip “Big Brother” dari yang kuduga…

Kami berterima kasih kepada Ira atas informasinya lalu kembali ke penginapan.

Saat kami meninggalkan tempat persembunyiannya, hari sudah larut malam. Penerangan di jalan-jalan sebagian besar telah padam, dan sangat sedikit orang yang berada di luar. Tetap saja, rasanya kami sedang diawasi.

Lampu-lampu masih menyala ketika kami kembali ke penginapan, dan pemilik penginapan menyambut kami dengan senyuman.

“Selamat datang kembali. Kalian pergi sampai larut.”

“Iya. Maaf karena membuatmu terjaga,” jawab Mel.

“Sama sekali tidak. Lagipula, kalian kan baru saja tiba di Cornet—wajar saja kalau kalian pergi mencari sedikit keseruan. Meskipun… tidak ada tempat yang kukenal buka pada jam segini. Dari mana saja kalian?”

Aku terperanjat. “Um…”

Percakapan dengan Ira melintas di benakku. Kami tidak boleh gegabah di sini.

Sebelum aku sempat memikirkan alasan apa pun, Mel dengan lancar menyela. “Dia ketiduran, jadi kami membiarkannya beristirahat.”

“Ah… iya. Aku tertidur,” ucap Momo dengan nada keanak-anakan.

Pemilik penginapan itu mengangguk. “Begitu ya. Hari ini pasti sangat melelahkan. Beristirahatlah yang nyenyak, Nona muda. Namun… pidato sang Ratu masih akan berlangsung besok pagi, jadi aku akan membangunkan kalian nanti.”

“B-Baiklah,” jawabku.

Senyuman kaku itu belum juga hilang dari wajah pemilik penginapan. Aku memaksakan senyuman canggung untuk mengakhiri percakapan tersebut. Saat kami berjalan menuju kamar, aku bisa merasakan tatapannya mengawasi punggung kami. Kami naik ke lantai dua dan memasuki kamar kami, dan baru pada saat itulah aku menghela napas panjang.

“Kita harus pergi sebelum pagi,” kataku kepada semuanya. Perkataan Ira telah mengubah sudut pandangku terhadap keramahtamahan pemilik penginapan—dia benar-benar mengerikan.

“Sungguh.” Mel mengangguk. “Kita harus menghindari perkumpulan itu. Mari kita ikuti saran sang pendeta wanita.”

“Kenapa… dia melakukan ini?” tanya Abel. “Memimpin sebuah negara atau bukan, menggunakan Charm pada mereka rasanya sudah keterlaluan, bukan?”

“Yah, kalau itu demi menjaga kedamaian… Meskipun aku juga merasa itu tidak perlu.” Kata-kata Mel terdengar berat.

Momo menarik napas dengan gemetar. “Aku takut.”

“Semuanya akan baik-baik saja,” bujukku sambil mengelus kepalanya.

Kami semua dengan cepat mengemasi barang-barang kami, dan begitu semuanya terkumpul, Abel menoleh kepada kami. “Bagaimana cara kita keluar dari kota?”

“Pemilik penginapan itu sudah bangun, jadi kita akan menyelinap keluar sebelum subuh,” alalku bernalar. “Akan berbahaya untuk keluar lewat gerbang… tapi mungkin Mel bisa membawa kita keluar di punggungnya?”

“Tentu saja. Apakah kalian ingat alun-alun di jalan utama yang kita kunjungi tadi pagi? Tempat itu akan sangat sempurna untuk itu. Aku akan memiliki ruang yang cukup, bahkan dalam wujud nagaku.”

Ah, ya—itulah tempat di mana kami berbagi sate di bangku itu, dan tempat itu memang merupakan alun-alun yang besar dan terbuka.

Kalau begitu, tujuan kita sudah ditentukan.

Kami tidur secara bergantian, lalu menyelinap keluar sebelum subuh. Untungnya, kami sudah membayar kamar kami di muka, dan pemilik penginapan tidak terlihat. Secara perlahan, kami merayap melewati jalan-jalan yang gelap. Waktu masih sedikit lagi menuju subuh, dan tidak ada satu jiwa pun yang terlihat di jalanan. Tak lama kemudian, kami tiba di alun-alun.

Mel baru saja hendak berubah wujud dan membawa kami keluar ketika hal itu terjadi.

“Oh, para pelancong. Kalian sudah mau pergi?”

Suara itu begitu indah—aku merasa jantungku serasa copot hanya mendengarnya. Sebelum aku sempat berpikir panjang, aku berbalik untuk melihat siapa yang berbicara.

Seorang wanita sedang berdiri di sana. Dia memiliki rambut panjang yang gelap dan berkilau, serta matanya berwarna ungu tua. Gaunnya senada dengan rambutnya, dan gaun itu membalut tubuhnya, memperlihatkan bentuk tubuh yang tampak hampir seperti dari dunia lain. Untuk sesaat, aku pikir aku sedang melihat Pendeta Wanita Bulan yang sangat kukenal.

Di belakang wanita ini… terdapat beberapa ratus ksatria berzirah gelap.

Dia jelas adalah seseorang berstatus tinggi. Tentu saja, aku tidak perlu menebak siapa dirinya—aku sudah tahu.

Meski begitu, aku memutuskan untuk bertanya demi anggota kelompokku yang lain. “Dan boleh tahu siapa Anda?”

Aku menduga dia tidak akan menjawab, tetapi dia menjawabnya secara terbuka.

“Aku adalah Nevia, penguasa Laphroaig. Senang berkenalan dengan kalian.” Dia tersenyum anggun.

Ratu Nevia dari Laphroaig—yang juga dikenal sebagai Penyihir Malapetaka. Dia dikenal sebagai pengkhianat bagi penduduk benua barat dan juga merupakan Pendeta Wanita Bulan di era ini.

“Elementalist, kita dikepung,” kata Mel.

“Sepertinya begitu.”

Lebih banyak kesatria berbaju besi muncul dari bayang-bayang bangunan di sekitar alun-alun. Mereka adalah Kesatria Kenisah dari negara ini… atau setidaknya, begitulah seharusnya mereka.

Kenapa mereka menunggu kami? Apakah pemilik penginapan melihat kami pergi dan melaporkannya? Yah, detailnya tidak penting sekarang—kami telah masuk ke dalam perangkap.

Tiba-tiba, aku khawatir seseorang telah melihat pertemuan kami dengan Ira. Aku menurunkan tangan untuk bertumpu dengan ringan pada kalung yang sedang kukenakan.

“Iraaaa? Apa kau bisa mendengarku?”

Suara mengantuk Ira merespons beberapa saat kemudian.

“Ada apa jam segini? Apa kalian sudah menyelinap keluar kota?”

Hah, dia tadi tidur? Dia benar-benar santai sekali. Aku senang dia baik-baik saja.

“Kami saat ini dikepung oleh sang ratu dan bawahannya,” kataku kepadanya.

“Apa?! Apa kalian baik-baik saja?! Apa yang kalian butuhkan?!”

“Kami akan mengaturnya. Jaga diri baik-baik.”

“T-Tunggu sebentar di situ! Apa kamu benar-benar—”

Aku memutuskan sambungannya.

“Jadi, maukah kalian memberitahu nama kalian?” tanya sang ratu, matanya memancarkan cahaya keemasan.

“Momo, jangan lihat! Mel!”

“Paham!”

Aku langsung menutup mata Momo, dan Mel melakukan hal yang sama pada Abel.

“Mel, apa kamu baik-baik saja?” tanyaku, melirik ke arahnya dengan panik.

“Ya… tapi bahkan aku pun hanya bisa menahannya dengan susah payah. Memikirkan bahwa ada manusia di balik ini semua…” Kilau keringat tipis melapisi wajahnya. “Elementalist, kamu tidak akan mampu menahannya sebagai manusia dari lev—”

“Charm sama sekali tidak mempan padaku,” potongku. “Aku baik-baik saja.”

Mel tersenyum kaku. “Kamu tetap misterius seperti biasanya.”

“Charm-ku sama sekali tidak mempan?” tanya sang ratu, matanya membelalak. Mata yang sama itu mulai bersinar lebih terang.

“Yang Mulia, kami sebenarnya memiliki urusan mendesak,” kataku. “Kumohon, izinkan kami meninggalkan kota meskipun hari masih pagi.”

Aku meragukan dia akan membiarkan kami pergi, tapi ini tetap patut dicoba.

“Kamu bisa menatap mataku dan tetap tidak menurut…” gumamnya. “Sungguh, kamu sangat menarik. Aku akan sangat menikmati obrolan denganmu. Aku akan menyiapkan teh dan camilan.”

Mendengar itu, para ksatria semuanya bergegas menyerbu ke arah kami.

“Mel! Ayo bergerak!”

“Mengerti! Ulur waktu untukku selama sepuluh detik!”

“Baik!”

Percakapan singkat itulah satu-satunya hal yang bisa kami lakukan.

Time Magic: Mind Accel.

Aku mempercepat pikiranku.

“T-Ta-Tapi?” gagap Momo.

“Ehm?!” seru Abel. “Ada apa ini?!”

“Kalian berdua, tetap tenang.”

Momo dan Abel panik serta bingung, dengan mata mereka yang masih tertutup. Meskipun begitu, tidak ada waktu untuk menjelaskan.

“Dia!”

“Ya, Yang Mulia?”

Bahkan saat aku memanggilnya, para kesatria itu semakin mendekat.

“Water Magic: Mist!”

Saat teriaku menggema di sekeliling alun-alun, kami diselimuti kabut yang memangkas jarak pandang hingga kurang dari setengah meter. Keterampilan Night Vision-ku memungkinkanku menembus mantra tersebut, dan aku mengawasi gerakan kebingungan para kesatria saat mereka berhenti.

Tiga detik.

Tiba-tiba, aku mendengar sebuah perintah dalam bahasa Elemanti.

“××××××××. (Singkirkan itu, elemental angin.)”

Dalam sekejap, kabut itu telah lenyap. Aku mengedarkan pandangan mencari si penyihir dan tak lama kemudian melihat salah satu kesatria mengenakan zirah hitam yang paling mencolok.

Cih! Cain!

Murid Noah ada di sini! Kita dalam masalah…

“Water Magic: Squall!”

Mantra berikutnya yang kurapalkan membuat hujan turun deras—seolah-olah seember besar air sedang ditumpahkan. Para kesatria bergerak kebingungan, tetapi Cain langsung menerjang ke arah kami.

Aku melirik sang ratu—dia balik menatap dengan tenang. Tubuhnya diselimuti api, dan air hujan sama sekali tidak menyentuhnya. Sepertinya semacam sihir penghalang.

Enam detik.

“Matilah, bidah!”

Cain mengangkat pedangnya untuk menebas kami, tetapi kemudian, sang ratu berbicara.

“Ayolah, jangan bunuh mereka, Cain. Nanti aku tidak bisa berbicara dengannya.”

“Hm.”

Dia berhenti, ragu-ragu. Untung bagi kami—ini memberi kami waktu untuk membuat Dia memulai sihir pertahanan.

“Water Magic: Storm.”

Mantra ketigaku memanggil gemuruh petir, dan lusinan sambaran petir menyambar di sekitar luar kota. Hal itu membuat ekspresi sang ratu berubah.

“Tidak! Periksa apakah ada rumah warga yang rusak!” perintahnya seketika.

Cain langsung terhenti.

Sepuluh detik.

“Kita berangkat!” teriak Mel, yang telah kembali ke wujud naganya.

Momo dan Abel, yang masih memejamkan mata, berpegangan erat di punggungnya. Gawat, aku bakal ditinggal! Aku hanya sempat berpikir begitu sebelum tanganku dicengkeram oleh cakar raksasanya. Terima kasih, Mel!

“Cih!”

Cain kembali menebas kearahku.

“Dia!”

“Tentu saaaaaja.”

Respons santai itu diiringi oleh kemunculan beberapa belas penghalang es yang muncul di hadapan Cain. Tentu saja, peninggalan suci yang ia pegang merobek penghalang-penghalang itu, tetapi itu sudah cukup untuk mengulur waktu bagi kami.

“Ratu Nevia!” seruku tepat sebelum Mel terbang menjauh. “Semua petir tadi berada di luar kota!”

Untuk sepersekian detik, aku rasa aku melihat ekspresi terima kasih di wajahnya.

Kami berada di udara dalam sekejap, dan kota itu mengecil di belakang kami. Mel terbang dengan kecepatan luar biasa, meninggalkan Cornet jauh di belakang kami.

“Kita berhasil… dan sepertinya kita tidak diikuti,” ujar Mel sambil menghela napas. Dia telah memindahkanku ke punggungnya.

“Ada apa sebenarnya?” tanya Momo dengan cemas. “Itu tadi… Cain bersamanya, kan?” Momo mungkin memejamkan matanya, tetapi sang ratu telah menyebut namanya.

Abel berbicara selanjutnya, dan suaranya bergetar. Namun, kemarahanlah yang membanjiri kata-katanya, bukan rasa takut atau gelisah. “Kenapa… Kenapa ratu bersamanya…? I-Ini… tidak masuk akal…”

Aku juga terkejut melihat Cain di sana. Apakah Laphroaig adalah markasnya? Jika ya, ada baiknya kita menjauh.

“Ira,” kataku melalui kalung itu, “kita berhasil lolos. Apakah kamu masih aman?”

“Ya, aku baik-baik saja. Kumohon, jangan membuatku khawatir seperti itu.”

“Kita baru saja bertemu Cain. Apa kau tahu dia berada di negeri ini?”

“Apa?! M-Mana mungkin!”

Rupanya tidak—dia pasti sudah memberitahu kami jika dia mengetahuinya. Namun, Cain sama setianya kepada Noah seperti diriku, jadi dia mungkin tidak bisa melihat masa depannya.

“Aku juga akan segera meninggalkan kota ini,” ucapnya.

“Tolong lakukanlah.”

Bukan hal yang lucu jika Estelle terbunuh…

Kami menghabiskan waktu seharian penuh untuk terbang. Kami melintasi perbatasan Laphroaig, dan akhirnya, kami melihat jajaran pegunungan di ujung benua.

Di tengah-tengah pegunungan itu terdapat Arcareus Sanctus.

Rupanya, kuil itu sendiri disembunyikan oleh sihir penghalang, yang membuatnya tak terlihat dari pandangan. Namun, Ira telah memberitahu kami cara menemukannya.

“Ada tujuh puncak yang berjajar—hanya dengan mengunjungi ketujuhnya dalam urutan tertentu kau bisa mencapai kuil. Itu adalah penghalang yang merepotkan, tapi itulah yang membuatnya aman,” kudengar Mel bergumam.

Dan benar saja, dia mulai menelusuri jalur aneh dan spesifik di udara. Seketika itu juga, pemandangan berubah. Sebuah mata air yang tampak seperti oasis mengalir di puncak gunung, dikelilingi oleh tanaman hijau.

Berdiri dengan tenang di dekatnya adalah kuil tersebut.

Kami telah mencapai tanah suci yang tersembunyi—Kuil Matahari.

Daftar Isi

Komentar

guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted