Ore ni Trauma o Ataeta Joshi-tachi ga Chirachira Mite Kuru kedo, Zannen desu ga Teokure desu V1Ch7_ The Lights of the Shimmering Flame Part 4 Bahasa Indonesia – Litenovel

Ore ni Trauma o Ataeta Joshi-tachi ga Chirachira Mite Kuru kedo, Zannen desu ga Teokure desu V1Ch7_ The Lights of the Shimmering Flame Part 4 Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi

V1Ch7: Cahaya Nyala Api yang Berkilau Bagian 4

Penerjemah: Soafp

[Sudut Pandang Hinagi]

“Yukito, aku tidak pernah berhubungan badan dengan Senpai.”

Singkapkan pikiran dan tubuhmu. Aku tidak punya apa pun untuk disembunyikan. Aku sudah selesai berselingkuh.

Aku telah menempuh jalan memutar sejauh ini. Aku telah datang begitu jauh.

Sekarang aku hanya ingin memperpendek jarak dan menceritakan segalanya tentang diriku kepadanya.

Aku bahkan tidak ingin merasa malu lagi.

“Tolong jangan palingkan wajahmu. Aku di sini. Di hadapanmu. Jadi, lihatlah.”

“Kenapa kamu melakukan ini?”

“Karena aku tidak ingin disalahpahami lagi.”

“Disalahpahami?”

“Aku selalu mencintai Yukito”

Kenapa aku tidak bisa mengucapkan hal sedehana seperti itu?

Padahal itu cuma satu hal ini saja, dan itu telah menjadi begitu rumit.

Dulu, aku tidak sabaran dan kesal. Aku pikir aku sedang berusaha agar terlihat ramah.

Namun, reaksi Yukito selalu datar, mungkin dia sama sekali tidak menyukaiku. Aku belum pernah melihatnya tersenyum sekalipun.

Apakah membosankan berada bersamaku? Aku merasa gelisah saat memikirkan hal itu.

Aku adalah orang yang pengecut, dan yang bisa kupikirkan hanyalah ingin tahu bagaimana perasaan orang lain, tanpa memberitahu mereka bagaimana perasaanku.

Tepat sekitar waktu itulah senpai-ku menyatakan perasaannya kepadaku. Aku memutuskan untuk memanfaatkan situasi tersebut. Ketika aku memberitahunya bahwa Senpai telah menyatakan perasaannya kepadaku, dia menjawab, [Begitukah], seolah itu bukan apa-apa, seperti yang selalu dia lakukan.

Aku ingin berteriak sekencang-kencangnya. Apakah kamu yakin ingin berpacaran dengan seorang senpai? Tidakkah kamu memikirkan apa pun? Apa kamu baik-baik saja jika aku direbut darimu? Merasa terkejut dan sedih, aku berpegangan pada harapan terakhir yang kumiliki. Jika aku berpacaran dengan senpai, mungkin dia akan cemburu kepadaku.

Jika begitu, masih ada kesempatan, pikirku, dan dengan bodohnya aku mengambil jalan yang salah.

Jika aku jujur saat itu seperti sekarang, hal ini tidak akan terjadi. Seharusnya aku menghadapi situasi itu dengan jujur dan mencurahkan perasaanku di hadapan Yukito.

Apa yang kulakukan adalah hal terburuk yang bisa kulakukan. Aku tidak mengatakan apa pun kepada senpai, aku hanya mencoba memanfaatkannya. Aku tidak memiliki perasaan apa pun pada senpai-ku. Aku bahkan tidak tahu orang seperti apa dia. Itu hanya demi kenyamanku sendiri untuk mengetahui bagaimana perasaan Yukito terhadapku.

Kesalahan itu dengan cepat berubah menjadi penyesalan. Ketika aku memberitahunya bahwa aku berpacaran dengan senpai, dia mengatakan kepadaku bahwa dia berniat untuk menyatakan perasaannya kepadaku. Aku membeku.

Kenapa, kenapa kamu tidak memberitahu dariku sedikit lebih cepat saja?

Aku ingin membuang semuanya dan memberikan jawaban. Kata-kata yang selalu ingin kuengar. Keinginanku.

Namun sekarang aku tidak bisa membalasnya kecuali aku membereskan hubunganku dengan senpai-ku.

Aku merasa mata Yukito semakin lama semakin menggelap, seolah-olah dia menjadi mati rasa.

Sudah dua minggu sejak aku mulai berkencan dengan Senpai. Tidak ada rasanya seperti seorang kekasih.

Tentu saja tidak. Aku tidak memiliki perasaan seperti itu. Aku tidak tertarik pada senpai.

Dia adalah orang yang sama sekali tidak penting. Sekarang setelah aku tahu bagaimana perasaan Yukito terhadapku, ini menjadi terlalu merepotkan. Andaikan saja aku sedikit lebih memperhatikan pria itu dan menyelidiki latar belakangnya, aku tidak akan pernah berpikir untuk berpacaran dengannya. Ini semua adalah salahku sendiri.

Mungkin dia kesal padaku, tetapi dia sangat agresif saat menciumku.

Itu sangat menjijikkan. Mustahil! Bagaimana bisa aku bersama dengan orang seperti itu? Aku hanya memiliki Yukito! Merasa ngeri hingga merinding dan menolak untuk dinodai, aku mendorong Senpai dengan seluruh tenagaku dan berlari keluar dari tempat itu begitu aku menyadarinya.

Setibanya di rumah, aku mengirim pesan singkat kepada Senpai yang mengatakan mari kita putus.

Sejak saat itu. Rumor mulai beredar bahwa aku telah berhubungan badan dengannya.

Dia begitu marah sehingga dia memberi tahu semua orang bahwa dia memiliki hubungan fisik denganku.

Rumor seperti itu menyebar dengan cepat. Bagi seorang siswa sekolah menengah pertama yang sedang beranjak remaja, itu hanyalah hiburan yang menyenangkan. Aku mencoba yang terbaik untuk menyangkalnya, tetapi bantahanku hanya diterima oleh orang-orang di sekitarku.

Tidak mungkin aku bisa melakukan tindakan bodoh seperti pergi berkeliling berbicara dengan orang asing dan memberi tahu mereka bahwa aku tidak sedang berhubungan badan dengannya, dan kebanyakan orang tidak peduli dengan kebenaran atau kebohongan dari suatu rumor.

Setelah itu, rumor tersebut menjadi semakin ekstrem, dan hubungan dengan seorang siswa yang lebih tua, yang sebenarnya tidak pernah ada, telah berkembang jauh lebih dalam.
Tatapan rendah dari anak-anak laki-laki yang kuterima merayapi seluruh tubuhku seolah-olah mereka sedang menjilati kulitku.

Sebuah hubungan adalah sebuah kontrak. Itu terjalin atas persetujuan bersama dari kedua belah pihak. Hal yang sama juga berlaku pada perpisahan.

Aku menerima pengakuan cinta dari senpai, tetapi aku tidak melakukan apa pun yang bisa dianggap sebagai seorang kekasih, aku bahkan tidak mengakui dia sebagai kekasihku, dan aku secara sepihak memutuskan hubungan dengannya. Aku hanya mempermainkannya sesuka hatiku. Aku mendapatkan apa yang pantas kudapatkan.

Kurasa Senpai memiliki harga dirinya. Dia tidak langsung mengatakan bahwa dia telah putus denganku.

Orang-orang bilang sebuah rumor bertahan selama 75 hari, tetapi setelah 75 hari, itu bukan lagi sebuah rumor melainkan sebuah fakta. Aku mengutuk senpai. Kenapa dia harus berbohong separah itu?

Namun bagian terburuknya adalah diriku yang sebenarnya sama saja. Aku adalah jal*ng payah yang telah menerima pengakuan cinta dari seseorang yang bahkan tidak kusukai dan mencoba memanfaatkannya demi kepentingan pribadiku sendiri.

Senpai yang mengerikan dan aku yang menjijikkan. Bisa dikatakan bahwa kami adalah pasangan yang sempurna.

Rumor semacam itu sampai ke telinga saudari perempuanku dan kemudian orang tuaku. Saudari perempuanku menyukai Yukito. Aku tidak tahu apakah itu alasannya, tetapi aku belum pernah melihatnya menatapku seperti itu sebelumnya. Dia menatapku dengan penuh jijik, seolah-olah dia sedang melihatku seperti seonggok kotoran, seolah-olah aku sangat kotor.

Orang tuaku memanggilku. Aku menyangkalnya. Aku menyangkal bahwa aku pernah memiliki hubungan fisik apa pun dengannya.

Saudari dan orang tuaku sangat marah pada perilaku, pemikiranku, dan bagaimana hal itu bisa terjadi.

–Lalu aku mengajukan pertanyaan itu.

“Apakah Yukito tahu?”

Dia adalah belahan jiwaku. Aku tidak ingin dia tahu. Aku ingin dia percaya bahwa ini adalah kebohongan.

Delusi yang sangat menguntungkan. Tapi rumor itu sudah menyebar terlalu luas. Mustahil baginya untuk tidak tahu. Rumor itu pasti sudah sampai ke telinga Yukito.

Dan bahkan jika itu hanya di atas kertas, bahkan jika aku memanfaatkannya untuk kepentinganku sendiri, senpai dan aku seharusnya berada dalam suatu hubungan. Tidak heran jika kami terlibat dalam tindakan seperti itu. Fakta ini membuat rumor tersebut semakin kuat.

Aku harus segera meluruskan kesalahpahaman itu! Terlepas dari ketidaksabaranku, aku takut Yukito akan menatapku dengan cara yang sama seperti dia menatap saudariku, dan aku meringkuk serta tidak bisa bergerak.

Aku tidak sanggup menanggungnya jika dia menatapku dengan mata seperti itu.

Jika dia menatapku seolah-olah aku adalah benda yang kotor dan menjijikkan, aku akan–.

Aku mengejarnya. Tapi dia begitu tenggelam dalam kegiatan klubnya seolah-olah dia tidak peduli tentang apa pun. Fakta itu semakin menyiksaku.

Apakah dia tidak peduli lagi padaku? –Tolong bantu aku!

Tangisan yang menyayat hati itu tidak pernah bisa keluar dari suaraku, dan pada saat itu, emosiku hancur berkeping-keping.

Yuri, yang sangat menjunjung tinggi Yukito, merasa sangat marah dan memerintahkan agar aku tidak pernah mendekatinya lagi.

Aku menyadarinya terlalu lambat bahwa aku telah mengkhianati banyak orang.

Dan tidak lama kemudian, rumor itu menjadi kenyataan yang terang-terangan, hubungan kami lenyap dengan sendirinya, dan dia menjadi sedikit jauh serta bersikap dingin lagi.

“Itu salahku ……. Akulah yang mencoba memanfaatkannya demi kenyamanan semata. Aku egois dan kejam. Kamu pasti sedang menertawakanku. Benar-benar sampah yang tidak berguna. Ini semua salahku. ……”

Tapi aku bisa melihatnya sekarang. Aku yakin bahkan tanpa apa yang terjadi dengan senpai-ku, keangkuhanku saat itu pasti akan menyakitinya suatu hari nanti. Sama seperti yang selalu kulakukan, karena aku tidak mampu bersikap jujur.

Dia mendengarkan penyesalanku dalam diam. Seandainya aku berbicara kepadanya saat itu juga, semuanya tidak akan menjadi begitu rumit. Dia selalu mendengarkanku. Itu adalah kesalahanku karena tidak mau menghadapinya.

Aku mengejarnya sampai ke sekolah menengah. Aku memiliki firasat yang samar namun pasti.

Ini pasti kesempatan terakhirku. Jika aku melewatkannya, hubungan kami akan benar-benar berakhir.

Aku bertekad untuk berubah, tetapi bayang-bayang masa lalu kembali mencengkeram kakiku dan menyeretku jatuh.

Aku tidak tahu harus berbuat apa, tetapi dia ada di sana, Yukito. Dengan ekspresinya yang biasa, dia mengulurkan tangannya kepada kami seolah-olah itu bukan apa-apa.

Pada hari festival musim panas, akulah orang yang menepis tangannya.

Sudah cukup, Hinagi. Mari kita akhiri segala penyesalan.

Oleh karena itu–

“—Biarkan aku membuktikannya kepadamu. Aku akan memberikan semua yang kumiliki kepadamu.”

Aku memeluk Suzurikawa, yang langsung tertidur pulas di atas ranjang.

Aku berhadap-hadapan dengannya, seolah-olah dia sedang menutupiku.

Aku terjebak di dalam tatapan matanya, dan aku tidak bisa menggerakkan satu ujung jari pun, seolah-olah aku sedang terikat.

“Suzurikawa……?”

“—Aku sudah lama menunggu hari seperti ini. Sebenarnya aku memimpikan sesuatu yang lebih romantis, tapi maaf ya? Kurasa aku tidak punya waktu untuk itu.”

Aah, kamu telah belajar tersenyum dengan begitu indah.

Itu bukanlah senyuman polos masa kecilku maupun ekspresi muram dari hari-hari itu.

” …… kamu tidak perlu terburu-buru. Tenanglah. …… Kamu tidak perlu membuktikan apa pun padaku. ……”

“Kamu selalu berada di pihakku, jadi aku ingin kamu menjadi milikku. Aku tidak akan membiarkan orang lain menyentuhmu. Aku tidak berbohong. Aku tidak mau berbohong lagi. Jadi pastikan — rasakan seluruh keberadaanku.”

Itu pasti sesuatu yang penting bagi Suzurikawa.

Aku tidak bisa melakukan itu hanya untuk membuktikan bahwa tidak terjadi apa-apa.

“—Tidak, kamu salah paham. Sentuh aku. Aku sangat bahagia di saat ini.”

Menumpukkan tanganku di atas satu sama lain, membawanya ke dadanya. Tubuhnya terasa panas dan detak jantungnya semakin kencang.

“Begitu ya. Aku akhirnya ingat ……. Bagaimana bisa aku lupa—ketika aku masih kecil, kita selalu terhubung satu sama lain seperti ini ……”.

Air mata mulai menggenang di matanya.

Aku juga ingat. Saat kita jauh lebih muda, kita terhubung oleh hati, kita tidak butuh kata-kata. Bagaikan benang putus yang perlu disambung kembali, kita kini terhubung dengan samar.

Kisah Suzurikawa memang mengejutkan, tetapi itu juga bisa dipahami.

Saat itu, aku pikir memang begitulah seharusnya, tetapi ada banyak kesempatan untuk menyadari bahwa sikapnya aneh. Suzurikawa bilang dia tidak ingin aku mengetahuinya. Jika aku tidak bisa mendekatinya, mungkin itu adalah sesuatu yang bisa diselesaikan pada saat itu jika aku menghampirinya.

Namun saat itu, aku tidak lagi memerhatikan Suzurikawa.

Tetapi sekarang setelah aku mendengar kisahnya, yang bisa kupikirkan hanyalah.

Kenapa, kenapa—-

“K….enapa, hari ini….?”

“Karena aku adalah seorang pengecut, aku tidak bisa jujur kepadamu. ……”

“Kenapa kamu menceritakan hal ini padaku sekarang?”

“Karena kalau tidak, sudah terlambat.”

Kenapa sekarang? Kenapa harus sekarang?

“Dulu, aku pasti bisa menerima perasaanmu. Tapi sekarang aku……”

Adegan yang aku ingat selalu ternoda oleh warna merah tua.

Aku yakin pada hari itu. Aku yakin bahwa aku tidak akan mendapatkan balasan.

Aku menginginkan sesuatu, aku tahu aku tidak bisa memilikinya, lalu aku menyerah—dan kehilangannya.

Aku tidak bisa menerima perasaannya meskipun dia begitu menginginkanku.

Kesedihan tidak cocok bagi wanita cantik seperti itu.

Sakit kepala yang berdenyut-denyut menghantamku. Ini lebih parah dari sebelumnya.

Tidak, jangan hancur. Jangan mencoba untuk hancur. Perjuangan itu berulang kembali. Jika aku hancur seperti biasanya, aku tidak akan memikirkannya lagi. Semua rasa sakit ini akan hilang.

Ayolah, mari kita hancur. Seperti biasa, ketika Raja Iblis memintaku untuk memberinya separuh dunia, aku menjawab tanpa ragu bahwa itu adalah aku, si Yukito yang merepotkan…… Jika aku hancur seperti itu, aku tidak akan peduli lagi. Aku adalah, aku adalah, aku adalah…….

Siapa Yukito ini? Sejak kapan aku menjadi seperti itu?

Aku ingin hancur. Ayo hancur dengan cepat. Aku merasakan rongga itu mencoba untuk meluas.

Aku selalu hancur. Tapi jika perasaan yang telah kuanggap keliru selama ini ternyata tidak keliru, betapa mengerikannya…… hal yang telah kulakukan.

Itu adalah ilusi. Itu adalah kebohongan. Jangan memikirkannya. Abaikan itu. Biarkan ia hancur.

Mungkin itu adalah naluri pertahanan. Aku tidak memahami perasaan yang orang lain arahkan kepadaku. Jangan mencoba. Aku telah berulang kali salah paham. Tapi apakah benar begitu?

Perasaan, hati, dan emosi Suzurikawa mengalir masuk bagaikan gelombang yang sangat besar.

Itu terasa hangat. Begitu hangat hingga aku tidak ingin melepaskannya, meskipun itu hampir meluap.

“”Yukito, apa kau baik-baik saja!? Wajahmu pucat!”

Dia mengkhawatirkanku, tidak menyembunyikan tubuhnya sendiri, melainkan memamerkannya tanpa ragu.

Untuk apa dia melakukan ini?

Apakah begitu mudah baginya untuk memamerkan tubuhnya tanpa busana?

Kenapa dia mengatakan hal ini padaku sekarang?

Karena dia ingin membuatku menderita? Jika iya, kenapa dia begitu mengkhawatirkanku dengan penuh rasa sakit?

Aku hampir hancur, tetapi sesuatu menahan remku, mengatakan kepadaku untuk tidak hancur.

Sesuatu menahanku agar tidak melepaskan perjuangan ini.

Aku tidak ingin hancur, aku tidak ingin berbuat salah lagi. Jika aku melangkah lebih jauh, semuanya akan terlambat.

Tidak, mungkin semuanya sudah terlambat. Tetap saja, aku tidak ingin menyakiti siapa pun, dan aku tidak ingin disakiti. Dorongan yang saling bertentangan itu berputar di sekitarku. Kenapa aku harus menderita begitu banyak karena sesuatu seperti fase masalah wanita, sebuah kutukan konyol?

Aku tidak mengerti. Kenapa aku tidak mencoba? Aku tidak mengerti. Apakah sebaiknya jangan mencoba untuk mengerti? Semuanya begitu kosong dan berusaha melenyapanku. Andai saja aku bisa menghilang dan merasa tenang, tapi aku merasa dikendalikan oleh hasrat yang memikat ini. Itu begitu manis, begitu menggoda.

Ya, seandainya saja aku bisa membuat diriku menghilang—

Dengan lembut, bibirku terkunci. Itu adalah kedua kalinya aku merasakan sensasi itu.

Rasa yang sedikit berbeda. Sensasi manis dan meleleh itu melenyapkan pikiranku.

“Tidak apa-apa! Aku tidak akan pernah menyakitimu lagi!”

Suzurikawa sedang menangis. Kenapa dia menangis? Apa yang dia sedihkan?

Apakah ada rasa sakit fisik di suatu tempat? Atau bagian Suzurikawa yang kebesaran—-.

Haha, begitu ya. Begitu ya… dia telanjang, jadi perutnya pasti masuk angin atau semacamnya, kan?

Aku menepis kabut yang mencoba menutupi pikiranku.

Bukan itu…… hentikan, bukan begitu seharusnya.

Kenapa kamu mencoba salah paham padaku? Sengaja membuat kesalahan. Dia …… ada di hadapanku sekarang.

Kapan ini terjadi? Kapan aku mulai berpikir seperti ini? Oleh siapa? Kenapa?

Aku adalah Yukito Kokonoe, dan Yukito Kokonoe adalah aku …….

“Su-Suzurikawa ……, tidak, Hinagi……?”

“Kamu memanggilku dengan namaku. Hehe. Ciuman pertama dan keduaku. Syukurlah aku memberikannya dengan benar.”

Bisakah aku mematikannya? Sungguh senyuman ini. Tangisannya. Aku bisa menghapusnya dari benakku, dan
aku akan bertindak seperti biasa, sebagai Yukito Kokonoe, lalu–.

Sakit kepalanya semakin menjadi. Aku ingin menghapusnya, aku ingin menghapusnya.

Aku dipeluk. Kulit manusia bersentuhan langsung.

Aku tidak tahu apa penyebabnya, jika boleh disebut, semuanya adalah penyebabnya.

Kebencian yang mencoba menghancurkanku. Situasi yang mencoba membuatku hancur. Aku terus kehilangan kendali. Dan itu tidak masalah. Itu baik-baik saja. Aku tidak peduli dengan apa pun.

Tetapi pasti ada hal-hal yang seharusnya tidak boleh hilang dariku. Pasti ada sesuatu yang harus kusadari. Sekalipun sudah terlambat untuk mengetahui apa itu, ada sesuatu yang tidak boleh hilang.

“…… Hinagi, apakah kamu punya kepribadian seperti itu?”

“Aku adalah orang yang naif seperti anak kecil. Aku sudah selesai menjadi tidak setia. Aku tidak ingin kalah begitu saja. Aku tidak ingin akhirnya menyakitimu.”

Teman masa kecilku adalah pahlawan wanita yang kalah. Begitulah kata orang-orang.

“Karena aku sangat mencintaimu!”

Aku tidak ingin percaya bahwa senyuman dan kata-katanya adalah kebohongan.

“–! –!”

Aku mendengar suara seseorang. Aku tidak memedulikan suara itu, melainkan terpesona oleh pemandangan di depanku. Pemandangan spektakuler yang bisa terlihat dari jarak jauh. Langit dan bumi yang seolah menyedotku selamanya. Hanya satu langkah lagi, hanya satu langkah lagi, dan aku bisa menjadi bagian darinya. Tanpa sadar, tubuhku tertarik ke sana.

Bagaimanapun juga aku akan menghilang. Tidak ada tempat bagiku. Tidak masalah jika itu sekarang. Aku tidak berharga dan tidak dibutuhkan. Jadi, kenapa tidak menuruti dorongan ini saja? Ini tidak mengganggu siapa pun. Tidak ada orang yang akan bersedih karenanya. Sungguh tanpa henti ia menarikku.

Itulah sebabnya aku–.

Hujan yang mulai turun mendinginkan kepalaku. Aku memandangi genangan air yang terbentuk di atas aspal hitam dengan tatapan kosong. Pada saat aku pulang dari rumah Suzurikawa, matahari telah sepenuhnya terbenam, dan hanya lampu jalan yang menerangi kegelapan.

Aku terus berjalan sendirian, berkeliaran di sepanjang jalan malam.

Suhu tubuh Suzurikawa terasa hangat. Namun, kami tidak saling berpelukan dalam pelukan yang penuh gairah.

Kami hanya menghabiskan waktu bersama. Aku tidak sanggup menerima perasaannya.

Aku tidak bisa membalas perasaannya dengan kadar yang sama. Itulah sebabnya aku tidak melakukan apa pun.

Namun, kami saling berpegangan tangan dan berbicara. Seolah-olah untuk menebus seluruh waktu yang telah kami habiskan bersama.

Kami adalah teman masa kecil, dan jalan hidup kami bersimpang untuk sebuah perubahan.

Hinagi membuat kesalahan dan kehilangan diriku. Hubungan kami berakhir di situ.

Tapi pada saat itu, kami benar-benar terhubung.

Itulah jarak antara aku dan Hinagi sekarang. Aku terus menanyakan pertanyaan yang sama pada diriku sendiri.

Apakah semua itu benar? Sejak kapan aku menjadi seperti ini?

Keraguan yang aku rasakan di rumah Suzurikawa masih berputar-putar di dalam diriku.

Dengan satu out dan pelari di base pertama, aku, Yukito Kokonoe, tanpa ragu akan mengatur end-run, dan seterusnya. Sejak kapan aku menjadi seperti itu? Aku mempertanyakan pola pikirku sendiri.

Aku merasakan ketidaknyamanan, seolah-olah semuanya miring, terdistorsi, atau terpuntir dalam beberapa hal.
Kenapa aku tidak menyadarinya? Kenapa aku tidak mempertanyakannya? Itu juga terasa aneh.

Distribusi pemikiran yang aneh. Mentalitasku sekuat serat super-aramid, tapi aku tidak ingat kapan itu dimulai, atau bahkan jika aku bisa mengingatnya, kapan hal itu menjadi seperti itu.

–Aku…… bukan, siapa sebenarnya Yukito Kokonoe itu?

“Fuu….”

Aku mengembuskan napas panjang di depan kamar adik perempuanku.

Jika aku tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaan itu, aku tidak bisa melangkah maju. Aku akan terus hancur dan mengalami stagnasi.

Aku baik-baik saja dengan hal itu. Aku sama sekali tidak memikirkannya, dan itu tidak menggangguku.

Tapi aku berpikir bahwa jika aku tidak berubah, seseorang mungkin akan bersedih. Aku tidak peduli seberapa besar aku terluka sekarang, tapi aku tidak ingin melukai siapa pun.

Dan mungkin aku pernah melukai seseorang di masa lalu dengan cara seperti itu.

Aku mengetuk pintu. Ini sudah hampir tengah malam, tapi aku yakin dia masih bangun.

Aku mengejek diriku sendiri. Cukup sampai di situ, kan? Dia toh membenciku, jadi tidak ada alasan baginya untuk semakin membenciku melebihi keadaannya sekarang. Aku telah menjadi sampah paling bejat di sekolah. Ya, lupakan saja. Aku harus mencari tahu siapa diriku. Diriku yang sebenarnya. Aku harus menemukan diriku yang sejati, Yukito Kokonoe, yang telah kukehilangan bayangannya.

Untuk melakukannya, pendekatan yang berbeda akan diperlukan.

Kebalikan dari apa yang telah kulakukan selama ini, jawabannya mungkin terletak pada apa yang telah kuhindari.
Itulah sebabnya aku terus maju. Tidak peduli seberapa sakit rasanya. Aku sudah terbiasa terluka.

Tapi aku tidak ingin membuat siapa pun menangis.

“Sedang apa kamu di sini jam segini?”

Adik perempuanku keluar mengenakan piyama. Dia sama sekali tidak terlihat mengantuk. Aku bertanya-tanya apakah dia sudah mengerjakan PR-nya. Tidak sepertiku, dia sangat berbakat.

Aku bertanya-tanya mengapa ada perbedaan yang begitu besar di antara saudara kandung.

Namun, adikku pasti mirip dengan ibuku. Dia bangga dengan ukuran lingkar dadanya yang mengancam. Heheh.

“Bisa kita ngobrol sebentar, Nee-san?”

“Kamu mau ngobrol denganku? Itu tidak biasa. Masuklah.”

Dia membiarkanku masuk ke kamarnya. Kapan terakhir kalinya aku masuk ke kamarnya?

Pasti sudah lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Sejak hari itu, hubungan kami menjadi seperti itu. Kami tidak saling mencampuri, kami tidak saling memandang, dan aku menghindarinya.

Tapi apakah dia juga begitu? Aku mengenang kembali. Dan mengapa dia melakukannya? Kupikir dia tidak menyukaiku. Aku secara paksa menghentikan pikiranku untuk mencoba mencari jawaban yang mungkin salah. Tiba-tiba, gerakan kakakku terhenti.

“—- Eh? Tunggu sebentar. Apa yang baru saja kamu katakan?”

“Nee-san? Oh, aku hanya ingin ngobrol sebentar denganmu.”

“Yukito ……? Yukito! Yukito—-!”

Dia memelukku. Ada apa denganmu hari ini? Ini sudah seharian penuh diwarnai pelukan. Apakah ini hari pelukan gratis atau semacamnya? Jika akalku bukan kapal perang Yamato yang tak bisa tenggelam, aku akan berada dalam masalah besar, kan? Tidak, aku sedang tenggelam. Pikiran-pikiran bercanda itu masih terus melaju. Meskipun begitu, mari kita maju. Aku tidak boleh berakhir di sini!

epilog

Daftar Isi

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *