Shinja Zero no Megami-sama to Hajimeru Isekai Kouryaku Volume 2 Bonus Short Stories Bahasa Indonesia – Litenovel

Shinja Zero no Megami-sama to Hajimeru Isekai Kouryaku Volume 2 Bonus Short Stories Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi

Cerita Pendek Bonus

Minum-minum di Tempat Mary

“Masuklah!” desak Mary.

Lucy dan aku menuruti permintaannya.

J-Jadi inilah kamar seorang wanita…? Aku belum pernah masuk ke kamar wanita sebelumnya. Rasanya harum banget.

“M-Hmm… tempat yang bagus,” kata Lucy.

Dia benar. Perabotan antik beserta tirai dan karpet yang berkelas semuanya berpadu dengan cemerlang menciptakan ruangan yang sangat feminin.

“Ada apa di balik ini?” tanyaku, berjalan mendekati sebuah pintu.

“J-Jangan!” seru Mary, menghentikanku.

“Makoto…” kata Lucy dengan putus asa, “kamu tidak boleh sembarangan menggeledah tempat seorang gadis.”

Oh, kurasa begitu juga.

“Ayo, minum dulu, kalian berdua! Aku akan menyiapkan beberapa camilan.” Mary mendorong sebotol anggur dan beberapa gelas ke arah kami sebelum pergi ke dapur. Sepertinya dia sedang menyiapkan keju dan ham.

Padahal aku sudah minum cukup banyak, sih…

Kami tadinya berada di sebuah bar, dan koktail di sana lumayan kuat. Alih-alih mengambil anggur, aku menggunakan sihir untuk menuangkan air ke dalam gelasku.

“Makotooo, kenapa kamu malah minum air putih?” bujuk Lucy sambil bersandar padaku. Apakah dia sudah mabuk?

Di tengah situasi itu, Mary kembali dengan membawa camilan. Kami mengobrol sejenak sambil mencicipi makanan tersebut. Rasanya tidak jauh berbeda dari saat kami minum-minum di sekitar guild. Meskipun demikian, rasa aman karena berada di dalam rumah membuat suasana menjadi lebih cepat akrab.

“Argh, aku kepanasan,” keluh Lucy, melepas pakaian luarnya yang sebenarnya sudah cukup terbuka. Gerakan itu membuat pakaian dalamnya sedikit miring ke samping.

“Lucy…” tanya Mary, “apakah itu disengaja, atau kamu memang tidak menyadarinya?”

“Memangnya apa yang disengaja?”

Mary, dia tidak pernah sadar, jawabku dalam hati. Kenapa dia bisa separah itu dalam menjaga diri…?

“Aku juga kepanasan,” imbuh Mary.

“Hah?!” Dia ikut melepas pakaiannya juga?!

Sekarang ada seorang wanita berbusana minim di sisi kiri dan kananku.

Ini gawat… Sumpah ini gawat. Situasinya benar-benar tidak beres, dan aku harus membuat diriku pingsan.

Aku mengambil segelas minuman keras berkadar tinggi dan langsung menghabiskannya dalam sekali teguk. Rasanya membakar tenggorokanku saat meluncur turun, tapi aku tetap menelannya.

“Whoa…”

Mataku langsung berkunang-kunang dan aku merasa kesadaranku mulai melayang.

◇

“Langit-langit yang tidak familiar…”

Kepalaku berdenyut-denyut. Di mana aku?

Aku melihat sekeliling dan mendapati Mary sedang berguling-guling sambil mengumam dalam tidurnya, beserta Lucy yang mendengkur dengan imutnya.

Seketika itu juga, aku langsung sepenuhnya terbangun.

Benar, aku mabuk di rumah Mary… Baiklah, aku harus bangun.

Aku bisa membersihkan diri di sungai. Meninggalkan rumahnya, aku berjalan menuju sumber air, meski aku harus melewati kota untuk bisa sampai di sana.

“H-Hei! Makoto baru saja keluar dari rumah Mary!” kudengar seseorang berkata.

“Apa?!” jawab cowok yang lain.

Ah, sialan. Beberapa petualang yang kukenal telah melihatku. Aku harus memikirkan alasan.

“Makotooo, kenapa kamu pergi tanpa aku,” panggil Lucy sambil mengucek matanya saat ia berjalan keluar dari rumah Mary. Masalahnya, sih… adalah pakaiannya…

“L-Lihat pakaian yang dia kenakan…” ucap salah satu petualang.

“Dia pasti melewati malam yang menyenangkan…”

“Jadi mereka bertiga…”

Sebenarnya apa yang mereka bicarakan?!Microelectronics

Setelah itu, rumor aneh mulai beredar di sekitar guild, dan butuh cukup banyak usaha untuk meluruskan kesalahpahaman tersebut.

Masakan Dunia Lain Sasa

Aku—Aya Sasaki—terbangun. Anehnya, aku tidak berada di gua yang dingin, melainkan di atas ranjang yang hangat.

Benar, ini adalah sebuah penginapan di kota petualang…

“Pagi, Sasa,” kudengar seseorang menyapa dari antah berantah.

“Gah! P-Pagi, T-Takatsuki,” kataku terbata-bata. Aku menyadari dia sedang berdiri di dekatku sambil tersenyum.

O-Oh ya, kemarin aku bisa bertemu Takatsuki lagi, dan dia membawaku ke kota manusia.

“Nina sedang menyiapkan sarapan, jadi kau hanya perlu menunggu sebentar.” Hanya itu yang dia katakan sebelum pergi.

Tidak! Dia melihatku saat aku baru bangun?!

Aku tidak perlu mengkhawatirkan hal semacam itu di Labyrinthos, tapi sekarang, aku harus terbiasa hidup di tengah-tengah manusia lagi, dan itu harus cepat.

◇

Aku bertanya kepada Takatsuki dan Lucy tentang rencana mereka. Takatsuki bilang dia akan pergi ke dungeon setiap hari untuk meningkatkan kekuatan dari apa yang dia sebut sebagai “sihir elemennya”.

Semua itu demi membantuku balas dendam…

Selain itu, para monster di dungeon akhir-akhir ini menjadi gelisah, menjadikannya sangat berbahaya. Meskipun begitu, dia tetap akan pergi.

“Karena ini untukmu,” begitu katanya kepadaku.

Kau tidak bisa begitu saja mengucapkan hal semacam itu! Dia jadi jauh lebih mahir menghadapi wanita sejak datang ke sini. Dan dia membantuku dalam hal yang sangat berbahaya, tepat setelah kita bertemu kembali… Aku merasa sangat bersalah. Adakah yang bisa kulakukan?

“Tackie terhormatku, apa yang akan kau bawa untuk bekal? Jika perlu, aku bisa meminta Nona Nina untuk mengantarkannya,” tambah Fujiwara.

“Tidak apa-apa, aku akan membawa satu atau dua ramuan saja.”

“Bukankah ramuan… pada dasarnya tidak memiliki kalori?”

“Yah, setidaknya itu bisa membuat perutmu kenyang,” jawab Takatsuki.

Jadi dia juga tidak ambil pusing dengan apa yang dia makan di dunia ini… Yah, kurasa dia hampir tidak pernah makan apa pun selain McD*nald’s selama SMP.

Aku tahu! Aku akan membuatkannya makan siang! tekadku.

◇

“Hmm, rempah-rempahnya semuanya berbeda…”

Aku memutuskan untuk memasak dengan bahan-bahan dari dunia ini. Daging, ikan, bahkan sayurannya mungkin bukan makanan yang pernah kulihat sebelumnya, tapi aku bisa memperkirakan bagaimana rasanya. Semua resepnya mengharuskan makanan dipanggang, direbus, or digoreng. Tidak, masalahnya ada pada bumbunya. Ada garam, yang mana itu universal, tapi…

Gulanya… atau lebih tepatnya, bahan yang manis-manis, terasa aneh. Bumbu-bumbu aslinya sama sekali tidak mirip dengan apa yang biasa kita gunakan di Jepang.

Aku belum pernah melihat bumbu-bumbu ini sebelumnya, dan aku tidak begitu yakin bagaimana cara menggunakannya saat memasak. Rasanya sama sekali tidak seperti yang kubayangkan, jadi aku merasa cemas karena ternyata sesulit ini.

“Ada masalah apa, Nona Sasaki?” tanya Fujiwara.

“Oh, Fujiwara. Begini…”

“Oho, bekal makan siang untuk Tackie terhormat kita yang hendak berpetualang! Bumbunya pasti membuatmu khawatir ya! Serahkan saja padanya!” katanya, sebelum menghilang entah ke mana.

◇

“Hahhh?!”

Berbaris rapi di hadapanku adalah wadah-wadah berisi gula, kecap asin, miso, mirin, saus Worcestershire, saus tomat, bahkan mayones.

“F-Fujiwara, bagaimana bisa kamu…”

Dia terkekeh.

“Perusahaan Dagang Fujiwara menjualnya. Bagaimanapun juga, mereproduksi cita rasa Jepang itu perlu ketika kamu mendapati dirimu berada di dunia lain!”

“B-Benar juga…”

“Sekarang! Gunakan sesukamu! Dia pasti akan sangat senang.”

“Y-Yah. Aku akan lakukan yang terbaik. Terima kasih, Fujiwara.”

Aku membuat telur dadar manis, steak hamburg, salad kentang, dan onigiri.

Ini sama sekali tidak terasa seperti dari dunia ini… Tidak ada bedanya sekarang. Memasak di dunia lain itu sulit.

“Sasa! Makan siang tadi sangat lezat!”

Yah, itu tidak masalah… Takatsuki senang menikmatinya.

Reuni Mini Kelas 1-A

Pesta yang diadakan untuk merayakan kekalahan naga wabah telah usai, dan area tersebut sudah dibersihkan. Meskipun begitu, masih banyak orang yang minum-minum. Kurasa mereka akan lanjut sampai pagi. Dengan cukup banyak orang yang membuat keributan, suasananya terasa hampir sama persis seperti di guild di Macallan.

Tepat saat aku berpikir sebaiknya kami pergi, aku mendengar teriakan dari Sakurai.

“Takatsuki!”

“Hm?”

“Kamu mau langsung pergi?” tanya dia. “Bagaimana kalau mampir sebentar sebelum malam berakhir?”

After-party? “Hmmm… yah, hari ini lumayan melelahkan, jadi aku agak ingin tidur.”

“Begitu ya…” jawab Sakurai, lemas. Ekspresi wajahnya membuatku merasa agak tidak enak…

“Ayolah, Tackie terhormatku, ini kesempatan bagi kita teman sekelas untuk berkumpul sekali lagi.” Bahkan Fujiyan pun mendukungnya.

“Oh, hei, Saki!”

“Aya!”

Sasa dan Yokoyama datang juga…

“Aku mau pergi tidur sekarang,” ucap Lucy sebelum beranjak pergi.

Yah, kalau semua orang ikut, kurasa aku bisa bergabung dengan mereka…

◇

“Bersulang!” seru kami serempak.

Ada lima orang di sini: Sakurai, Yokoyama, Sasa, Fujiyan, dan aku. Nina menawarkan diri untuk berjaga dan sedang menunggu di luar.

Tiba-tiba, aku menyadari sesuatu: Semua orang di sini berasal dari Jepang.

Nina dan Lucy mungkin sengaja menolak agar pengaturannya menjadi seperti itu.

Tak lama kemudian, aku mendengar para gadis mulai bergosip.

“Hei, Aya? Hubunganmu dan Takatsuki sudah sejauh apa?” tanya Yokoyama.

“Ha?! M-Mana tahu… Kalau kamu dan Sakurai sendiri gimana?” balas Sasa.

“Kami? Kami sudah bertunangan.”

“Sudah?! Selamat ya!”

Oh? Sakurai sudah bertunangan?

“Takatsuki, Fujiwara, kalian berdua biasanya tinggal di Roses, kan?” tanya sang pemuda yang bersangkutan.

Fujiyan menjawab mewakili kami berdua. “Betul sekali, di sebuah kota bernama Macallan.”

“Apa yang biasanya kalian lakukan di sana?”

“Hmm,” gumamku sambil berpikir. “Berburu goblin, kurasa?”

“G-Goblin?”

“Ya, mereka monster menjijikkan yang menyerang para pelancong. Tapi mereka juga cukup lemah sehingga aku bisa menghabisi mereka tanpa masalah.”

“Wah…” Sakurai mengangguk beberapa kali dengan kagum. Meski begitu, reaksinya…

“Kamu belum pernah melihatnya sebelumnya?” tanyaku.

“A-Aku pernah!” geragapnya. “Tapi dari kejauhan… hampir tidak kelihatan.”

Jadi dia belum pernah melawannya sama sekali.

“Takatsuki,” sela Yokoyama, “Ryousuke adalah seorang pahlawan, jadi dia seharusnya tidak perlu melawan monster-monster kroco. Untuk itulah ksatria bawahannya dan aku ada di sini.”

Aku mengangguk paham, tetapi Sakurai tidak terlihat begitu senang. Dia sepertinya tidak suka jika segala sesuatunya dipermudah untuknya oleh para “bawahan”nya. Dia tetap orang yang baik seperti biasanya.

“Sakurai, kamu itu seperti senjata pamungkas, jadi mereka harus melindungimu,” komentarku.

“Membuat para ksatria dan Saki bertarung, hanya agar aku tetap aman… Rasanya menyedihkan.”

“Kamu tidak seperti itu,” sangkalku. “Kamu adalah satu-satunya yang bisa mengalahkan naga-naga wabah itu, dan itulah kegunaan pahlawan.” Bahkan sekarang, ingatan tentang satu serangan tunggalnya yang membelah naga-naga itu terasa sangat luar biasa. Astaga, para pahlawan itu keren…

“Takatsuki, kamu sangat luar biasa saat mengalahkan ratu harpy,” kata Sasa sambil menepuk pundakku. Apakah aku tadi terlihat cemburu?

“Bagaimanapun juga, sungguh luar biasa kita para siswa kelas 1-A bisa berkumpul di satu tempat!” seru Fujiyan dengan ceria.

Dia benar. Aku telah ditinggal di kuil air, dan Sasa telah berreinkarnasi menjadi monster. Sakurai memang mendapatkan skill pahlawannya, tetapi itu membuatnya harus berhadapan dengan musuh-musuh seperti naga wabah.

Kita semua sudah berjuang dengan baik hingga bisa sampai di sini.

Dan begitu lah, kami menghabiskan sebagian besar malam itu dengan bersenang-senang bersama teman-teman sekelas.

Diskusi antara Dewa Jahat dan Pengikutnya

Itu adalah malam setelah kami semua selesai berbelanja di bazar.

“Ngomong-ngomong, Makoto? Kenapa kamu tidak bertindak ketika kedua gadis itu menempelimu seperti itu?” tanya Noah kepadaku dengan serius.

Menempeliku…? Maksudnya Lucy dan Sasa?

“Apakah itu akan jadi lebih baik?” tanyaku sebagai balasan. Aku menoleh ke arahnya tetapi tetap melanjutkan latihan sihir airku.

“Yah, aku tahu kamu ingin segera melepaskan keperawananmu kapan pun ada kesempatan, kan?”

“Hei, berhenti membaca pikiranku atau aku berhenti jadi pengikutmu.”

“T-Tunggu!” protesnya sambil melambaikan tangan. “Aku adalah dewi yang tidak membaca pikiran!”

Apa maksudnya itu? “Dewi yang tidak membaca pikiran” kepalamu.

“Mereka bertindak seperti itu hanya karena aroma aneh tersebut,” kataku dengan ekspresi tenang. “Aku tidak ingin kehilangannya dengan cara begitu—itu tidak adil bagi mereka.”

“Tapi kamu tadi sangat tegang, kan?” balasnya sambil menyeringai.

“Guh…”

Aku memang tegang! Kukira itu adalah berkah keberuntungan! Argh, aku tidak sanggup memikirkannya!

“Kamu begitu tenang saat melawan monster, tapi langsung kehilangan akal di dekat gadis-gadis cantik.”

“Diamlah! Lagipula, aku tidak bisa menghadapi keagresifan seperti itu! Aku ingin semuanya terasa lebih romantis saat aku bersama seorang gadis!” batinku, terdengar sangat menyedihkan.

Namun, Noah malah tampak semakin senang.

“Aku akan mengajari Makoto-ku yang penakut ini cara ampuh untuk mendekati gadis mana pun!”

“A-Apa?”

“Baiklah! Kemari!” Dia memberi isyarat agar aku mendekat.

Bukannya aku punya banyak pilihan, jadi aku berjalan mendekatinya, berhenti cukup dekat hingga roknya hampir menyentuhku.

“Jadi, sekarang!” serunya sambil menjentikkan jarinya.

Apa? pikirku, saat tiba-tiba sebuah tembok besar muncul di belakangku.

“Ini dia.”

“Tunggu, sebentar, apa m—”

Sebelum aku sempat menyelesaikan pertanyaanku, tangannya melesat melewati sisi wajahku, menepuk dinding dengan suara debaman.

“Jangan terlalu dekat,” bisiknya, entah kenapa menggunakan suara pria.

Ya ampun, dia menggemaskan.

“Aku menyebutnya kabedon!” ujarnya dengan nada bangga sambil membusungkan dadanya.

I-Itu tadi…

“Noah?”

“A-paaa?” tanya dia sambil terkikik. “Apa sekarang kau jadi punya pandangan yang lebih baik tentang dewi-mu?”

Aku harus memberitahunya. “’Kabedon’ itu sudah populer sebelum aku datang ke sini, tahu?” Lagipula, teknik itu sudah mulai ketinggalan zaman.

Keheningan pun tercipta.

Aku tidak percaya dewi tidak berguna ini tanpa tahu malu meniru gerakan kami lalu memberinya nama… Seolah-olah aku tidak tahu apa-apa.

“J-Jangan panggil aku begitu!”

Mengingat rencana perencanaannya yang tampak sangat buruk, apakah kami benar-benar bisa menjungkirbalikkan dunia seperti ini…? Kurasa aku harus berusaha semaksimal mungkin sebagai umatnya.

Daftar Isi

  • Sampul
  • Prologue: Kisah Sepasang Kekasih yang Menyukai Game
  • Bab 1: Makoto Takatsuki Berangkat ke Labyrinthos
  • Bab 2: Aya Sasaki Terbangun di Dunia Lain
  • Bab 3: Makoto Takatsuki Tiba di Labyrinthos
  • Bab 4: Makoto Takatsuki Menjelajahi Labyrinthos
  • Bab 5: Makoto Takatsuki Mengadakan Reuni
  • Bab 6: Makoto Takatsuki Membuat Persiapan
  • Bab 7: Makoto Takatsuki Menantang Boss
  • Bab 8: Makoto Takatsuki Bertarung Bersama Pahlawan Cahaya
  • Epilog: Pakta Antara Dewi dan Umatnya
  • Kisah Tambahan: Singgah dalam Perjalanan Pulang dari Labyrinthos
  • Kata Penutup
  • Ilustrasi Berwarna
  • Cerita Pendek Bonus
  • Tentang J-Novel Club
  • Hak Cipta

Penanda

  • Daftar Isi
  • Gambar Berwarna
Daftar Isi

Komentar

guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted