Shinja Zero no Megami-sama to Hajimeru Isekai Kouryaku Volume 2 Chapter 4_ Makoto Takatsuki Explores Labyrinthos Bahasa Indonesia – Litenovel

Shinja Zero no Megami-sama to Hajimeru Isekai Kouryaku Volume 2 Chapter 4_ Makoto Takatsuki Explores Labyrinthos Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi

Bab 4: Makoto Takatsuki Menjelajahi Labyrinthos

“Kita sedang diikuti,” kataku pelan kepada Lucy.

“Apa?” tanyanya sambil membalikkan badan. “Kamu belum menyadarinya?”

“Apa?”

Bukannya, seriusan, apa?

“Seseorang telah mengikuti kita sejak sebelum kita memasuki dungeon.”

Seriusan?!

“Bilang padaku lebih cepat lain kali!”

“Kukira kamu sudah melihat mereka… Maaf,” sesalnya sambil membungkuk.

“Ah, yah. Mengawasi keadaan adalah tugasku,” akuku. “Tetap saja, aku senang kamu menyadarinya.”

“Mereka terus melototi kita, dan mereka mengatakan sesuatu tentang balas dendam karena pedang itu, jadi mereka mungkin adalah orang-orang yang berkelahi dengan kita di guild tadi. Mengikuti kita sejauh ini… Mereka pasti cukup mencurigakan.”

A-Ayolah! Ini cukup parah, kan? Mereka menggunakan skill Stealth untuk mengikuti kita.

Mereka pasti sangat membenci kita dan mungkin sedang merencanakan sesuatu yang cukup buruk. Skill Scout milikku mengungkap bahwa ada sepuluh orang di belakang kita.

Aku tidak tahu seberapa kuat mereka, tapi aku hanya bisa berharap kalau mereka adalah peringkat iron atau yang lebih rendah. Jika ada dari mereka yang berperingkat gold atau silver, kita akan habisan. Itu setara dengan level Nina, dan kita tidak akan bisa menang melawan itu.

“Ini sedikit berlebihan ya untuk sekadar mematahkan pedang mithril?” tanya Lucy.

“T-Tidak juga…” Aku sebenarnya sudah bertanya kepada Fujiyan tadi malam berapa harga sebuah pedang mithril. Rupanya, kamu tidak bisa mendapatkannya dengan harga di bawah lima juta gald.

Itu adalah pendapatan rata-rata tahunan seorang petualang peringkat iron.

Kurasa aku juga akan bersumpah untuk membalas dendam terhadap seseorang yang mematahkan barang yang kuhabiskan gajinya selama setahun penuh.

“Ayo kita pergi dari sini saja,” putusku setelah beberapa saat. “Water Magic: Fog.”

Kabut tebal memenuhi seluruh gua, dan aku bahkan mengaktifkan Stealth sebelum menggenggam tangan Lucy.

Yang harus kami lakukan saat itu adalah membiarkan mereka melewati kami. Ada banyak jalur berbeda di Labyrinthos, dan cara paling licik adalah menyelinap pergi di belakang mereka. Menghilangkan visibilitas mereka dan menggunakan Stealth seharusnya memungkinkan kami melepaskan diri dari mereka.

“Sial, mereka melihat kita!” seru salah satu penguntit kita.

“Cari mereka! Mereka tidak mungkin pergi jauh.”

“Jangan berpencar, ada monster di sekitar sini.”

Suara langkah kaki yang berat itu berangsur-angsur memudar ke kejauhan.

“Mereka sudah pergi,” kata Lucy. Dengan telinganya, kami bisa memastikan hal itu, dan skill Scout milikku juga tidak mendapati apa pun.

Aku menghela napas panjang. “Maaf, Lucy.”

“Kenapa kamu meminta maaf?”

“Ini karena kesalahanku.” Aku seharusnya tidak memotong pedangnya di guild. Yang ingin kulakukan hanyalah memastikan agar kami tidak dipandang rendah, tetapi pada akhirnya aku justru membahayakan party kami.

“Apa maksudmu? Ini bukan salahmu. Sebenarnya, itu salah mereka karena begitu mudah terpancing,” ucapnya dengan senyum cerah.

Aku senang Lucy adalah temanku. Meskipun, aku tidak bisa bilang kemarahan mereka “mudah” terpancing; bagaimanapun juga aku telah mematahkan pedang mithril.

“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanyanya.

“Mari kita pergi melihat air terjun seperti rencana kita. Soal sekumpulan orang itu… Mari kita pikirkan nanti.” Jujur saja, aku merasa pusing. “Kita abaikan saja mereka, kan?”

“Aku ragu itu akan berhasil.”

Aku tidak ingin menghabiskan sisa hidupku dengan rasa khawatir, jadi aku memutuskan untuk membicarakannya dengan Fujiyan begitu aku dan Lucy kembali. Sambil menunggu, kami tetap waspada terhadap lingkungan sekitar saat melanjutkan menjelajahi dungeon.

Labyrinthos adalah dungeon terbesar di benua ini, dan ia memiliki banyak tempat untuk dilihat. Yang paling terkenal di antaranya adalah Air Terjun Besar, yang menghubungkan lapisan atas dan tengah.

“Wah… Ini luar biasa,” gumam Lucy.

“Ini mirip Niagara…” gumamku sendiri. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak membandingkannya dengan air terjun terkenal dari duniaku yang dulu. Di sisiku, Lucy tampak sama terpesonanya.

Tampaknya ada sebuah danau bawah tanah yang besar di kaki tebing. Danau itu muncul begitu saja, dan aku bisa melihatnya terletak di kedalaman dari posisi kami di lapisan atas.

Keliling danau tersebut dikelilingi oleh air terjun yang besar.

Mustahil untuk melihat keseluruhannya. Di atas danau, pasti ada celah menuju dunia luar—seberkas sinar matahari menembus udara dan berkilauan di permukaan air. Secara keseluruhan, pemandangan itu terasa mistis.

Aku juga menyadari bahwa burung-burung besar sedang terbang menembus sinar matahari tersebut.

“Omong-omong, apa itu Niagara?” tanya Lucy.

“Itu tempat wisata di duniaku yang dulu. Air terjun yang terkenal.”

“Hmm. Dasar tebing itu adalah lapisan tengah, kan?”

“Ya, kita akan dalam masalah kalau terjatuh, jadi makanya hati-hati.”

Menurut peta, tebing-tebing itu tingginya sekitar dua ratus meter, jika menggunakan satuan ukuran dari duniaku asliku.

Danau di dasarnya terletak di lapisan tengah… Yang berarti, di pusat pemandangan indah ini, terdapat monster-monster yang kuat.

Pada saat itu, Lucy tiba-tiba berbalik, dan skill Scout milikku bereaksi.

“Hei, mereka benar-benar ada di sini.”

“Sudah kubilang kan. Para anak baru selalu muncul di sini.”

“Hei kalian, petualang Macallan. Kami berhutang budi pada kalian.”

Para petualang agresif dari kemarin telah muncul, beserta sekelompok orang lainnya yang tampaknya adalah sekutu mereka.

Seharusnya aku menyadari ada begitu banyak orang… Pikirku sambil merutuki diri sendiri dalam hati.

“Jadi mereka punya skill Stealth.”

“Maaf, Makoto, aku tidak menyadarinya,” sesal Lucy.

“Aku juga tidak.”

Yah, ini situasi yang cukup merepotkan; aku telah meremehkan kegigihan mereka. Pada akhirnya, ini salahku.

Salah satu dari mereka menyeringai ke arah kami. “Jangan cederai peri itu. Harganya akan mahal. Rambut merah itu langka.”

“Seberapa bagus?”

“Itulah yang akan kucari tahu, beserta setiap inci dari tubuhnya.”

Jadi mereka adalah para budak.

“Ayolah, aku minta maaf karena sudah mematahkan pedangmu. Biarkan kami pergi?” Aku ragu itu akan berhasil, tapi aku tetap mencobanya.

“Kau bilang apa? Tidak, kalian akan mati di sini. Aku meragukan kalian punya banyak barang berharga untuk dijarah, tapi belati itu akan laku dijual. Itu sudah cukup bagi kami.”

Ya, mereka tidak tertarik dengan tawaranjku.

“Jadi pemburu pemula rupanya?”

Lucas telah memperingatkan kami tentang mereka.

“Cegat mereka!” Pemimpin dengan pedang mithril (yang patah) memerintahkan anak buahnya, dan yang lainnya mengepung kami, membuat punggung kami menempel pada tebing.

Di belakang kami adalah jurang, dan tidak ada tempat lain untuk lari.

“M-Makoto…” cicit Lucy, mencengkeram lengan bajuku.

Aku melingkarkan tanganku di bahunya untuk menenangkannya.

“Nah kalau begitu…” gumamku.

Apa yang harus kita lakukan? Saat aku memutar otak mencari trik atau rencana yang bisa digunakan… aku diserang oleh sakit kepala yang luar biasa.

Sakit itu segera reda, tetapi sebuah suara, hampir seperti merintih nyaring, memenuhi kepalaku.

Apakah itu… Detect Danger?

Detect Danger adalah skill yang memberitahuku ketika aku bersentuhan dengan monster level rendah, menengah, dan tinggi. Saat mereka mendekat, aku akan mendengar suara di dalam kepalaku. Namun, nada saat ini jauh lebih tinggi daripada level tinggi.

Mary dari guild pernah menyuruhku untuk berhati-hati karena beberapa orang bisa mengalami sakit kepala akibat keberadaan monster yang dianggap sebagai “bencana”. Istilah itu merujuk pada makhluk buas yang tidak bisa dilawan sendirian karena terlalu kuat, hampir seperti bencana alam. Mereka dikategorikan lebih lanjut menjadi bencana level desa, kota, negara, dan benua.

Sebagai contoh, monster bencana level desa bisa menghancurkan seluruh desa… Dengan kata lain, kekuatan para bencana itu sangat tak tertandingi… bahkan dibandingkan dengan monster level tinggi. Aku mempererat peganganku pada Lucy.

“Makoto…?”

“Ohh, kau semacam kesatria putih yang melindungi gadis itu? Betapa beraninya.” Pria itu berbicara, tetapi aku tidak begitu mencerna ucapannya.

Di mana?

Di mana itu?

Dari mana asal benda itu?

Aku menolak untuk menurunkan kewaspadaanku, dan sebaliknya, mengamati sekeliling.

Lalu, ia muncul.

Udara itu sendiri bergetar karena aumannya. Tiba-tiba, sesosok makhluk besar menerobos keluar dari tanah, tepat di antara para petualang licik itu dan kami.

“Na…ga?” gumam Lucy.

Tak satu pun dari para petualang yang bisa bereaksi.

“Setiap naga adalah bencana, jadi jika kau melihatnya, lari saja.” Lucas pernah mengatakan hal ini kepada kami di kedai guild.

Lucy dan yang lainnya menatapnya dengan bingung. Makhluk buas itu memiliki sisik yang kasar, hampir seperti batu, dan semuanya berwarna cokelat tua, kecuali beberapa cipratan hijau di sekujur tubuhnya, yang tampak seperti zamrud.

Apakah ini… naga bumi?

Mulutnya tampak cukup besar untuk menelan apa saja dan dipenuhi oleh taring.

Benda ini adalah puncak dari segala monster.

Saat aku menatapnya, emosi yang kurasakan adalah… takjub.

“Wah…”

Itu adalah naga. Naga sungguhan!

Kejutan yang mengalir di dalam tubuhku bahkan lebih besar daripada yang kualami saat pertama kali tiba di dunia ini.

Ini adalah raja para monster, makhluk yang telah menculik sang putri di RPG pertama yang pernah kuwahikan. Aku selalu ingin melihatnya. Dan sekarang, jaraknya begitu dekat hingga aku hampir bisa menyentuhnya.

Dunia ini sangat luar biasa…

Aku mungkin kehilangan fokus selama beberapa detik.

“Makoto! Kita harus lari!” teriak Lucy.

Di dalam kepalaku, kudengar sang Dewi berkata, Sadarilah!

Teriakan Lucy dan omelan sang Dewi berpadu menjadi satu, dan akhirnya membawaku kembali ke kesadaran. Para petualang lainnya juga sudah mengumpulkan tekad, setidaknya cukup untuk berteriak dan berlari.

Apakah kamu ingin menantang sang naga?

Ya

▶Tidak

Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak merespons dengan sarkas pada pilihan yang diberikan oleh RPG Player.

Jangan bodoh.

Aku mendekap Lucy erat-erat, dan tanpa ragu, melemparkan diri kami dari tebing.

“Whaaaaaaaaaa?!”

Diiringi teriakan Lucy yang terngiang di telingaku, aku membiarkan tubuh kami menembus air terjun. Dalam sekejap, aku dihantam oleh arus yang ganas.

Water Magic: Flow!

Aku dengan tenang menggunakan sihir untuk mengendalikan air demi meredam benturan saat jatuh. Untungnya, danaunya cukup dalam, jadi kami tidak menghantam dasarnya. Setelah itu, kami terbawa arus air yang bergolak.

Meskipun danaunya gelap dan aku tidak bisa melihat apa pun, skill Scout-ku mengungkapkan monster-monster di sekitar kami.

Ada begitu banyak… Yah, ini kan lapisan tengah.

Sekadar melirik sekilas menggunakan skill-ku saja sudah memperlihatkan cukup banyak monster.

Yang terpenting sekarang, kita harus keluar dari danau ini.

Lucy menggumamkan sesuatu dalam dekapanku, tapi aku mengabaikannya untuk saat ini dan berenang menuju tepi.

Begitu kami sampai di daratan kering, kami bersembunyi di balik batu besar, dan aku menggunakan Stealth untuk memastikan para monster tidak menyadari keberadaan kami. Sekarang setelah kami relatif aman, Lucy mengamuk karena marah.

“Apa-apan ini tadi?! Kamu tidak bilang apa-apa tentang melompat!”

“Yah, kalau aku bilang, para penguntit kita juga akan tahu, kan?” alasanku. “Sebenarnya, aku jadi penasaran apakah mereka baik-baik saja…”

“Kenapa kamu malah mengkhawatirkan orang-orang yang berniat membunuhmu? Yang lebih penting, apa yang dilakukan seekor dragon di sana?”

“Lucas bilang mereka berada di lapisan bawah dan kita seharusnya tidak pergi ke sana…”

“Jadi dia malah mendatangi kita di lapisan atas… itu tidak adil.”

“Enggak. Peringkat Iron tidak punya kesempatan melawannya.”

Kami mendesah.

“Sekarang apa yang harus kita lakukan?”

“Kembali ke atas, kan?” tanya Lucy.

“Yah, benar, tapi kita tidak tahu harus pergi ke mana.”

“Apa? Bukankah kita bisa menggunakan sihirmu untuk naik kembali air terjun itu?”

“Aku tidak berencana memanjat air terjun dalam waktu dekat,” kataku. Bahkan ketika kami baru saja jatuh ke dalamnya, aku hampir tidak bisa menjaga diri kami agar tidak terluka.

“Kita dalam masalah ya?” tanyanya.

“Yah, situasi kita sedang tidak bagus. Mari kita keringkan badan dulu.”

Aku menggunakan Evaporate pada pakaian kami berdua. Jika kita membiarkan kelembapan itu membuat kita kedinginan, kita akan bergerak lebih lambat dan kehilangan stamina. Kami memang membawa persediaan untuk dua hari, tetapi kami tidak berniat melakukan ekspedisi penuh, jadi hanya itulah batas perbekalan kami.

“Mari kita cari jalan untuk naik kembali,” usulku.

“Tapi isinya air terjun semua.”

“Ada celah di sela-sela airnya, jadi kita bisa melihat-lihat keadaan dan menghindari para monster.”

Kami menjelajahi sekitar danau. Namun, tidak peduli ke mana pun kami melihat, yang ada hanyalah tebing dan air terjun. Kami menghabiskan sekitar setengah hari mencari dengan cara seperti itu. Itu adalah pekerjaan yang suram, namun setidaknya ada sesuatu yang mengalihkan perhatian kami daripadanya.

“Ini benar-benar pemandangan yang indah,” kataku. Air terjun itu mungkin menjadi alasan utamanya.

“Um,” Lucy menatapku dengan aneh. “Aku tadinya berpikir begitu sampai dragon itu muncul, tapi kurasa caramu memandang sesuatu agak aneh.”

“Benarkah?”

“Iya! Kamu terpesona oleh dragon itu, si aneh. Apa kamu sangat suka bahaya?”

Hmm, yah, aku tadinya mau menyangkal hal itu… tapi aku tidak yakin bisa melakukannya.

“Kamu selalu melihat-lihat dungeon seolah-olah sedang tamasya juga,” tukas Lucy. “Rasa bahayamu kurang bagus.”

“Maaf, maaf. Aku akan lebih berhati-hati.”

“Kuharap begitu.”

Pencarian kami berlanjut diiringi obrolan santai. Namun, tidak ada tanda-tanda jalan kembali ke permukaan. Kami sekarang sudah cukup lelah dan memutuskan untuk beristirahat lebih lama.

Saat itulah… kami bertemu dengannya.

“U-Um… Apakah kalian petualang?” tanya seorang gadis asing kepada kami.

Kami berada di tengah-tengah Labyrinthos, di sebelah sebuah danau, dan kami berdua tadinya bergiliran berjaga. Kami baru saja memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ketika dia muncul.

“Oh?” kata Lucy.

Aku hanya menatap wanita asing itu lekat-lekat.

Gadis itu masih muda, berkulit pucat, dan berambut kusut. Namun, dia memiliki fitur wajah yang lembut. Pakaiannya compang-camping, robek di beberapa bagian, dan memperlihatkan bahunya. Dia tampak seperti baru saja mengalami nasib yang mengerikan.

“Tolong… bantu aku. Aku akan melakukan apa saja yang kamu mau sebagai ucapan terima kasih…” Dia memohon hal itu dengan suara yang nyaris tak terdengar.

Cara dia mendekati kami tampak tidak stabil seolah-olah kakinya terbelit di bawah tubuhnya.

“Kamu tidak apa-apa? Apakah kamu terpisah dari teman-temanmu?” Lucy tampak khawatir dan hendak berlari menghampirinya, tetapi aku memegang lengannya.

“Makoto? Ada apa?”

Aku tidak menjawab.

“Dia kan cuma gadis yang terluka… Kamu tidak benar-benar berniat menyuruhnya melakukan macam-macam, kan?” Ekspresi Lucy berubah menjadi marah.

“U-Umm… kalau aku bisa melakukannya, aku akan melakukannya…” gadis itu terus memohon.

“Tidak apa-apa, kita semua sedang dalam masalah di sini! Kamu tidak perlu berterima kasih kepada kami! Makoto, lepaskan!”

Aku mengembuskan napas panjang.

“Ayolah! Aku tahu aku berhati lembut! Terserah deh. Aku tidak menyangka kamu begitu tidak punya perasaan. Biar aku sajalah—”

“Lucy, dia itu monster,” potongku.

Sense Danger telah berdering nyaring sedari tadi.

“Hah?” Lucy tertegun.

“Cih!” seru gadis itu, dan ekspresi malangnya berubah menjadi kebencian.

“Oh, kamu seekor arachne.” Aku belum pernah melihatnya sebelumnya. Itu adalah monster dengan paruh atas seorang gadis cantik dan paruh bawah seekor laba-laba raksasa. Wujudnya yang mengerikan benar-benar meninggalkan kesan mendalam.

“Kyaaaah!” jerit Lucy.

“Kalau kamu takut laba-laba, mundurlah,” memperingatkanku.

“T-Tidak! Aku tadi cuma terkejut. Aku tidak ketakutan!”

Tiba-tiba, arachne itu melompat maju untuk menyerang.

Hmm, apa yang harus kulakukan?

Sebagai permulaan, bagaimana kalau Water Magic: Ice Needle? Aku merapal mantra itu dengan cepat, menancapkan es menembus mata sang arachne.

Makhluk itu menjerit kesakitan.

“Ada mata laba-laba di tubuhnya juga,” aku menyadari. “Apakah ia bisa melihat melalui mata-mata itu?”

“Ada apa dengan pengamatan santai itu?! Ground Magic: Stone Shot!” Lucy mengayunkan tongkat sihirnya dan meluncurkan batu sebesar bongkahan yang harus diangkat dengan kedua tangan.

Aku mendengar suara hantaman yang tidak menyenangkan saat batu itu menghantam sang arachne. Binatang itu berhenti bergerak di tempat ia sekarang terjepit.

“Apakah dia sudah mati?” tanya Lucy.

“Hmm, bisa jadi dia cuma pura-pura… Mari kita periksa.”

Water Magic: Ice Needle.

Arachne itu menjerit lagi saat jarum-jarum es menembus lebih banyak matanya. Yap, dia tadi hanya pura-pura mati.

“Lucy, silakan.”

“Tanpa ampun, ya? Imbue Flame.”

Lucy merapal mantra yang melingkupi batu besar itu dengan api. Terdengar suara womf dan bau yang tidak sedap. Masih tertindih di bawah batu yang kini menyala, kaki-kaki sang arachne mulai meronta ke segala arah.

Akhirnya, ia berhenti bergerak.

“Kerja bagus, Lucy.”

“Ada apa dengan itu? Dia benar-benar membuatku terkejut…”

“Mary memberi tahu kita bahwa ada monster di lapisan tengah yang bisa disangka manusia. Arachne, lamia, harim, dan juga beberapa undead. Kita harus waspada.”

“Aku tidak akan pernah menyangka zombie sebagai manusia.”

“Kurasa vampir lebih mirip—” kataku, sebelum berhenti sejenak. “Tunggu, Lucy, berhenti.”

Aku mendengar suara aneh. Seperti banyak makhluk yang merayap.

“H-Hei, Makoto…”

Lucy juga telah menyadarinya.

Ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok, ketok.

Itu bukan langkah kaki manusia. Itu serangga. Suara serangga yang merayap.

“Katakan… Apa kita…?” tanya Lucy dengan suara bergetar.

“Ya, kita dikepung,” jawabku lesu.

Laba-laba dengan bagian atas tubuh mirip wanita bermunculan di sekeliling kami dalam kelompok. Semuanya memiliki mata berkilat yang mengarah ke tempat kami. Bahkan kulihat beberapa anak kecil menjilati bibir mereka.

Kau tahu bagaimana orang menyebut beberapa wanita sebagai “pembunuh pria”? Yah, di sini arti sebenarnya benar-benar harfiah!

“Jadi, apa kita—”

“Kita berada di sarang arachnae, kurasa.”

“Kumohon, jangan lagi…”

Apakah Lucy termasuk tipe gadis yang membenci serangga? Yah, dalam kasus ini, kurasa siapa pun akan membencinya; aku pun merasa kesulitan menghadapi pemandangan di depan kami.

“Ayo kita pergi dari sini.”

Para arachnae itu perlahan-lahan menutup jarak.

“B-Bagaimana caranya?” tanya Lucy dengan wajah pucat.

“Elemental, wahai para elemental,” panggilku. Kali ini aku sedang terburu-buru.

Trik-trik indah tidak akan mempan di sini, jadi aku menggunakan mantra terkuat yang bisa kupikirkan.

Sihir Air: Tianlong!

Seekor naga air yang menderu menyapu bersih semua arachnae… beserta Lucy dan aku. Sihir elemental cukup sulit dikendalikan secara presisi, tetapi setidaknya aku berhasil mengarahkannya ke arah danau.

Lucy dan aku menghantam air, tergulung oleh mantra yang baru saja kuciptakan.

“Ugh! Yah, itu pelarian yang kasar,” komentar Lucy.

“Kita belum sepenuhnya aman,” kataku kepadanya.

Para arachnae itu sepertinya payah di dalam air, karena mereka tidak berenang menyeberangi danau untuk mengejar kami. Sebagai gantinya, mereka menembakkan benang sutra ke arah kami dari tepi danau. Jika kami terjebak dalam salah satunya, kami mungkin tidak akan bisa keluar.

“Apa masih ada monster lagi?” tanya Lucy.

“Ya. Situasi ini mungkin akan sedikit berat.”

Bukan hanya arachnae yang ada di pantai. Orc, serigala gua, dan goblin semuanya bermunculan.

“Lucy, pastikan kau tidak menggigit lidahmu!”

“Apa? Kya!”

Dengan menggunakan sihir air, aku melesatkan kami di atas permukaan danau.

“Menghindar!” teriakku.

Kecipak air yang besar melengkung ke udara, dan mulut ular raksasa menutup tepat di tempat kami baru saja berada.

“S-Sea serpent!”

“Pasti ada banyak monster di dalam air juga.”

“D-Dan ada harpy di atas kita…”

Memang ada beberapa harpy yang berputar-putar di udara.

“T-Tidak mungkin… Tidak mungkin kita bisa keluar dari sini…” Mata Lucy tampak kosong… Kurasa dia butuh sesuatu yang bagus untuk difokuskan.

“Lihat, para monster itu sepertinya tidak akur satu sama lain.”

“Apa?”

Arachnae, orc, dan serigala gua saling bertempur satu sama lain. Di dalam air, sea serpent menyeret para orc, dan jeritan mereka yang menyedihkan tenggelam oleh suara air terjun.

“Makoto!” seru Lucy.

“Kya ha ha ha,” tawa harpy melengking saat menyerang dari belakang.

“Sayang sekali, aku sudah tahu kau datang,” kataku. RPG Player benar-benar memberiku bidang pandang 360 derajat, lagipula. Aku menebas kaki harpy itu dengan belati ku begitu lengah.

“Huh, hampir saja.”

Calm Mind mungkin membuatku tetap tenang, tapi aku tetap merasa agak gugup.

Makoto, kamu tidak apa-apa? tanya Noah.

“Tidak sama sekali.” Goddess, berikan sedikit petunjuk lagi kalau boleh?

“H-Hei, apa yang harus kita lakukan…?” tanya Lucy, memegang erat bahuku. Ada harpy di atas kita, sea serpent di bawah, dan monster lain seperti arachnae di daratan sekitar kita. Kita tidak punya tempat untuk lari.

Ini adalah pertama kalinya aku dikelilingi oleh begitu banyak monster.

Aku mengatur Calm Mind ke 99% dan menenangkan diri. Jika aku panik, kita akan habis.

Kamu bisa kabur sendirian, saran sang dewi.

Jangan katakan hal seperti itu! Aku tidak akan pernah melakukannya.

“Menghindar!” Sea serpent itu menyerang lagi.

“Lucy, aku akan fokus menghindar, bersihkan area di pantai untuk kita.”

“T-Tapi kalau begitu kamu tidak akan bisa menggunakan sihir air!”

Dia benar, aku baru saja meminjam mana dari para elemental, jadi aku tidak bisa melakukannya lagi dalam waktu dekat. Di daratan, aku akan tidak berguna.

“Menghindar!”

Aku mengayunkan belati saat aku menghindari serangan lain dari seekor harpy. Tebasannya mengenai sayapnya, dan aku melihatnya jatuh ke dalam air. Sepertinya tidak ada habisnya. Kalau dipikir-pikir, jumlahnya bahkan lebih banyak dari sebelumnya.

Monster-monster saling bertarung di pantai, menyeret semakin banyak ke dalam pertempuran.

Ini gawat. Gawat sekali.

Apakah kamu akan melarikan diri sendirian?

Ya

▶Tidak

Ayolah, jangan bermain-main seperti itu, RPG Player. Tidak, pokoknya tidak.

“Lucy, kita akan berhasil,” janjiku.

“B-Benar.”

Aku menggenggam tangannya erat-erat dan bersiap dengan belatiku.

Daftar Isi

Komentar

0 0 votes
Article Rating
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted