The World After the Bad Ending Chapter 268 Bahasa Indonesia
[Penerjemah – Night]
[Penyunting – Gun]
Bab 268
Perang besar yang tak berkesudahan di masa lalu.
Para pahlawan terus berusaha mengakhiri perang itu.
Meski metode mereka kasar dan terkesan dadakan, begitu bersatu dalam tujuan, para pahlawan terbukti menjadi kekuatan yang jauh lebih kuat dari yang siapa pun bayangkan.
Kekuatan yang tak lagi bisa ditandingi oleh kerajaan-kerajaan yang sudah menghabiskan sumber daya dan tenaga manusia dalam perang.
Kedamaian dipertahankan melalui kekuatan yang tak tertandingi.
Para pahlawan membuktikan kebenaran itu dengan jelas.
Di tengah pencapaian gemilang mereka,
mereka bertemu banyak tokoh, beberapa di antaranya bergabung dengan perjuangan mereka dan berjalan maju bersama.
Salah satunya adalah seseorang yang bahkan aku, dari era modern, sangat kenal.
Midra Fenin.
Seorang anak lelaki yang terlahir dengan bakat magis alami, diambil sebagai murid oleh Zerion.
‘Ternyata dia benar-benar murid Zerion.’
Midra selalu menjadi sosok yang mencurigakan — itu bukan hal baru.
Aku sudah menduga dia mungkin terkait dengan Zerion.
Tapi bahwa dia pernah menjadi murid Zerion — itu yang tak kuduga.
‘Pantasan saja dia tahu banyak hal.’
Mataku menatap Midra.
Dia mengikuti para pahlawan dengan setia, namun namanya sama sekali tidak disebut dalam catatan sejarah.
Apakah karena sejarah mengikis dan melupakannya, atau ini penghilangan yang disengaja?
Dan mengapa sekarang aku menyaksikan semua ini?
Rasanya dunia ini seolah ingin memberitahuku sesuatu —
perasaan aneh, hampir seperti takdir.
Beberapa petunjuk untuk menyelesaikan situasi di luar…
aku merasa samar bahwa jawabannya mungkin ada di sini.
Waktu terus mengalir.
Bahkan perang yang seolah takkan berakhir akhirnya mendekati akhir, berkat usaha para pahlawan.
Tentu saja, juga karena kerajaan-kerajaan sudah mencapai batas apa yang bisa mereka investasikan dalam perang.
“Tak kusangka ini benar-benar berhasil.”
Kata Ordo, Sang Penguasa Tombak, dengan senjatanya di bahu dan wajah yang terkesiap.
Para penguasa setiap kerajaan mulai mengusulkan pertemuan perdamaian.
“Ini berkat kerja keras kita.”
Rosli, Sang Raja Bayaran, yang bahkan menikahi wanita yang dicintainya di tengah kekacauan perang, tersenyum.
Sisi tajamnya dulu sudah lama melunak.
“Hmm. Mungkin inilah waktunya yang mulia ini mendirikan sebuah negara.”
Parazon, Sang Master Pedang Langit, serius mempertimbangkan untuk memulai negaranya sendiri.
“Aku bisa kembali ke dalam kasih Dewa lagi.”
“Astaga… perjalanan yang panjang. Kurasa aku akan pulang dan melatih beberapa murid.”
Saint Narea dan Aquiline, Sang Penjaga Jiwa, masing-masing menambahkan komentar.
“Dan kalian berdua?”
Aquiline tersenyum dan menoleh.
“Berencana lari dan hidup berdua saja?”
Itu candaan yang ditujukan pada Wolfram dan Zerion.
Fakta bahwa mereka berdua adalah pasangan sudah menjadi pengetahuan umum.
Dulu, candaan seperti itu akan membuat mereka malu —
tapi sekarang mereka sudah cukup dewasa untuk menanggapi dengan santai.
“Kau benar.”
Zerion bersandar ringan pada Wolfram.
“Fram, haruskah kita mulai berkeluarga?”
Dia tersenyum lembut.
Meski bertubuh mungil, Zerion memiliki pesona wanita dewasa — dia tangguh.
Wolfram tertawa kecil.
Tawa itu, bagaimanapun, sudah aus dan memudar seiring waktu.
Aku, yang berdiri di depannya, memandangnya dengan ekspresi rumit.
Berapa kali Wolfram mengulangi regresi?
Aku tak pernah melihatnya melakukan regresi dengan mataku sendiri.
Tapi aku yakin dia melakukannya.
Wolfram tak bisa melihatku.
Tapi aku sering melihatnya sendirian.
Dalam siklus regresi, dia menyaksikan kawan-kawannya mati, menghadapi banyak krisis.
Dan dia terus maju, digerakkan oleh tekad semata.
Lama-kelamaan, Wolfram terkikis dalam proses ini.
Seorang regressor bukan makhluk tak terbatas.
Seorang regressor adalah seseorang yang terus terkikis tanpa henti.
Aku tak tahu bagaimana Wolfram mendapatkan kekuatan untuk melakukan regresi.
Tapi satu hal yang jelas —
regresi tidak membawa kebahagiaan baginya.
Apakah dunia ini, yang kita lihat sekarang, benar-benar hasil terbaik?
Setiap kali Wolfram sendirian, dia selalu merenungkan pertanyaan ini.
Dia sama sekali tidak seperti pahlawan besar yang menasihati kawan, melakukan trik tak terduga, dan bertindak berani.
“Kurasa anak kita nanti akan pendek.”
Lalu — Wolfram kena pukulan terbang.
Semua pahlawan tertawa, memimpikan masa depan cerah.
Dan masa depan itu —
hancur terlalu cepat.
Pada hari pertemuan perdamaian global,
semua raja yang hadir dibunuh.
Oleh makhluk tak dikenal yang tiba-tiba turun dari langit.
Orang-orang akan menyebutnya Penguasa Iblis — Sang Jahat.
Kedamaian yang akhirnya tampak dalam genggaman, runtuh dalam sekejap.
Wolfram tak bisa berbuat apa-apa.
Hari itu, Wolfram tertunda oleh urusan terpisah dan masih dalam perjalanan ke pertemuan.
Seorang regressor bukanlah sosok mahakuasa.
Mereka tak bisa menghentikan setiap peristiwa yang terjadi di seluruh dunia.
Bahkan Zerion belum menguasai sihir langit sepenuhnya.
Dari yang kulihat, regresi Wolfram selalu mengikatnya pada titik waktu tak dikenal.
[Penerjemah – Night]
[Penyunting – Gun]
Dan kali ini —
titik tetapnya adalah setelah Penguasa Iblis tiba di pertemuan.
Pada akhirnya, Wolfram gagal menghentikan Penguasa Iblis.
Saat itu, Wolfram tak tahu bahwa kegagalan ini akan menjadi penyesalan seumur hidup.
Dengan tewasnya semua raja, setiap kerajaan terguncang.
Beberapa menduga Penguasa Iblis sengaja dikirim oleh salah satu kerajaan yang berperang.
Yang lain berteriak tak percaya, bertanya siapa yang waras akan melepas orang gila seperti itu, apalagi saat semua raja tewas sekaligus.
Tapi kecurigaan dan kegelisahan yang menyebar di antara rakyat tak bisa dibendung.
Sumbu perang kembali dinyalakan.
Setelah perang yang terlalu lama, mereka yang lebih terbiasa dengan pedang daripada diplomasi hampir menghunus senjata lagi.
BOOM!
Wolfram sendiri menghancurkan istana kerajaan salah satu kerajaan.
Berdiri di hadapan raja baru yang masih terkejut, Wolfram menyatakan,
“Kami akan mengalahkan Penguasa Iblis. Tapi jika kalian bersikeras bertikai lagi, ketahuilah — Penguasa Iblis bukan satu-satunya musuh kalian. Aku juga.”
Pernyataan yang keterlaluan.
Sejak hari itu, Penguasa Iblis tak muncul di mana pun.
Tak ada yang tahu dari mana asalnya atau mengapa dia muncul.
Tindakan Wolfram menuai kecaman keras.
Mengklaim akan menjadi musuh bersama Penguasa Iblis — garis yang tak boleh dilangkahi pahlawan mana pun.
Dulu dia dipuji sebagai pahlawan yang mengakhiri perang.
Tapi opini publik berubah dalam sekejap.
Semakin banyak suara yang menentang Wolfram.
Ini karena sifat mengerikan dan jahat Penguasa Iblis.
Jika Wolfram punya sedikit saja niat jahat, dia juga bisa menyebabkan kehancuran serupa.
Ketakutan itu mengubah opini publik untuk menjatuhkan Wolfram bersama Penguasa Iblis.
Beberapa berteriak, bertanya apa masuk akal mengutuk satu-satunya orang yang bisa menghentikan Penguasa Iblis.
Tapi para penguasa baru kerajaan, yang takut pada Wolfram seperti mereka takut pada Penguasa Iblis, menggunakan kesempatan ini untuk menghasut rakyat dan menyingkirkannya.
Mereka yakin pada satu hal:
Wolfram selalu menepati janjinya.
Artinya dia pasti akan mengalahkan Penguasa Iblis.
Dan begitu itu terjadi, Wolfram akan menjadi pahlawan global yang tak terkendali.
Jadi sebelum itu terjadi, mereka harus bertindak dan mulai menjatuhkannya sekarang.
“Bangsat gila,”
Rosli bergumam tak percaya saat melihat para penguasa baru yang menghasut rakyat.
Mereka sudah bekerja keras, dari segala arah, hanya untuk membawa perdamaian.
Dan ini balasannya?
Sulit diterima.
“Wolfram, kau serius menerima semua ini? Bahkan jika kau kalahkan Penguasa Iblis, orang-orang ini akan terus merobekmu.”
Rosli mempertanyakan apakah masih layak berjuang untuk orang-orang seperti ini.
Bukan hanya para penguasa yang memanipulasi opini, tapi juga massa yang mudah dihasut.
Baru kemarin mereka memuja, sekarang berbalik seperti telapak tangan.
Ini tak bisa diterima.
“Mereka lemah,”
Wolfram menjawab, justru pengertian.
“Mereka hanya lemah. Tak punya pegangan, tak bisa melindungi diri, jadi mereka takut.”
“Dan kau pikir orang-orang selemah itu layak dilindungi?”
“Aku punya kekuatan. Jadi aku akan lakukan.”
Wolfram tertawa pendek.
Tawa itu bahkan lebih aus dari sebelumnya.
Tak peduli seberapa besar usahanya, dunia tak pernah berubah.
Tak peduli berapa banyak penguasa yang dia yakinkan atau perspektif yang dia coba ubah — tak ada yang berubah.
Yang dia pelajari hanyalah bahwa itu buang-buang waktu.
“Mereka berteriak, memohon diselamatkan — mana mungkin aku mengabaikannya?”
Rosli memandang Wolfram sejenak.
Lalu menggeleng.
“Kita bersama selama sepuluh tahun, dan aku masih tak bisa sepakat dengan caramu memandang hidup.”
“Kita tak harus berbagi ideal yang sama untuk maju bersama, kan? Kita tak pernah melakukannya.”
“Ya… Mungkin itu sebabnya aku mengikutimu. Karena aku tipe orang yang akan melakukan apa pun untuk melindungi keluargaku.”
Ada yang bangkit demi tujuan; ada yang bangkit demi melindungi orang tercinta.
Tak semua pahlawan hidup dengan ideal besar.
Pahlawan kecil pun cukup.
Di tengah kecaman dari kerajaan-kerajaan, Wolfram terus mencari Penguasa Iblis tanpa ragu.
Dan bagi yang melewati batas — dia hadapi langsung.
Setiap kali, kecaman lebih keras menyusul, tapi dia hancurkan dengan kekuatan.
Alhasil, kecaman itu kembali masuk ke mulut asalnya.
Tak ada gunanya memprovokasi banteng marah — kau hanya akan ditanduk.
Mereka sadar kekuatan Wolfram tak bisa digoyahkan.
“Sekarang ada keributan lagi di belakang. Ini bikin gila.”
Aquiline, yang terus mendengar bisikan dari dunia bawah melalui jiwanya, mengeluh tentang kebisingan.
Mereka adalah orang-orang yang tak tahan jika tak menjatuhkan seseorang.
Tapi kerajaan-kerajaan tak tahu.
Penguasa Iblis jauh lebih berbahaya dari yang mereka kira.
Penguasa Iblis yang menghilang di masa lalu —
kini kembali, memimpin pasukan bid’ah yang keterlaluan.
Kerajaan-kerajaan, menghadapi pengepungan dari segala arah, cepat mengerahkan pasukan dan sumber daya yang mereka simpan.
Berkat itu, mereka nyaris bisa mempertahankan keseimbangan melawan pasukan Penguasa Iblis.
Istana merasa dingin.
Bagaimana jika — sungguh, bagaimana jika —
Mereka memulai perang lagi?
Tentu saja, persediaan dan pasukan yang terkuras takkan pernah terisi ulang, dan mereka akan langsung tersapu pasukan Penguasa Iblis.
Jika Wolfram tak menghentikan mereka, dunia benar-benar akan berakhir.
Mungkin itu sebabnya, tak lama kemudian, setiap kerajaan mulai memanggil nama Wolfram lagi.
Mereka memuji tujuannya yang mulia dan berdoa dia menghentikan Penguasa Iblis.
Tapi mereka tak tahu.
Betapa ringannya nama pahlawan ketika hanya disebut di saat krisis.
Mereka tak tahu betapa buruknya telapak tangan yang terbalik dua kali.
Karena bukan mereka yang mengalaminya.
[Penerjemah – Night]
[Penyunting – Gun]
—–Sakuranovel.id—–
Gila nih, salut ama Wolfram