The World After the Bad Ending Chapter 257 Bahasa Indonesia
[Penerjemah – Night]
[Penyunting – Gun]
Bab 257
Satu minggu adalah waktu yang sangat singkat.
Tapi kadang, banyak hal bisa terjadi hanya dalam minggu tersebut.
Salah satunya adalah kabar kematian Sang Kaisar.
Pengumuman wafatnya Kaisar membuat Kekaisaran jatuh dalam kekacauan.
Semua bangsawan mengenakan pakaian berkabung.
Perdagangan antar pedagang berhenti sejenak, bahkan rakyat biasa menahan diri untuk tidak keluar rumah.
Semua sedang dalam proses berkabung atas kematian Sang Kaisar.
Maka, persiapan pemakaman Kaisar pun segera dilaksanakan.
Secara tradisi, peti mati Kaisar diarak mengelilingi Ibu Kota Kekaisaran oleh keempat Bangsawan Tinggi.
Untuk ini, ibu kota dibersihkan lebih teliti dari sebelumnya, dan para ksatria ditempatkan di mana-mana.
Mereka memastikan tidak ada insiden yang terjadi selama pemakaman.
Di hari pemakaman,
langit terasa amat kelam, seakan turut berduka.
Dalam sebuah ruangan yang disinari cahaya suram langit lewat jendela,
seorang wanita perlahan bangkit dari tempat tidurnya.
Rambut hitam pekatnya mengurai saat ia bergerak.
Dia menekan bayangan hitam di bawah matanya yang menutupi wajah—
wajah yang menunjukkan bahwa dia tidak tidur sama sekali.
Saat menurunkan tangannya,
mata rubi merah yang menyala-nyala terlihat.
Intensitas warna merah tua yang menusuk memberinya aura dekaden.
Namanya adalah Iris Hysirion,
Putri Ketiga Kekaisaran.
Di belakangnya, dia juga dikenal sebagai Si Penjahat Terakhir.
Hari ini adalah hari dia akan mengucapkan selamat tinggal pada ayahnya.
Dia melangkah keluar dari kamarnya.
Para pelayan mendekat untuk membantunya bersiap.
Dia mengenakan pakaian hitam duka yang formal.
Di masa lalu, Iris pernah menunjukkan kehangatan pada pelayannya.
Tapi hari ini, dia tidak berkata sepatah kata pun.
Saat dia sudah siap sepenuhnya,
wajah yang familiar muncul—
Hania Rapidedia,
putri Komandan Ksatria Kekaisaran,
dan gadis yang selalu mengagumi Iris dalam-dalam.
“Nyonya Iris…”
Hania memanggil, suaranya terdengar sedih.
Dia mengambil cuti dari Akademi Zerion dan langsung datang menemui Iris.
Tapi Iris tidak memperlakukannya seperti dulu.
Dia menyapanya tak berbeda dengan para pelayan—dengan dingin dan datar.
Hania tidak berkomentar tentang ini.
Sebaliknya, dia diam-diam mengikuti Iris ke mana pun.
Lalu, Hania berkata perlahan,
“Vikamon akan datang.”
Iris tersentak mendengar nama itu.
Menoleh ke Hania, dia melihat wajah gadis itu yang penuh kekhawatiran.
“Mungkin… kau bisa tidur hari ini?”
Iris selalu bisa tidur jika Vikamon ada di dekatnya.
Hania menyarankannya untuk beristirahat, lari dari mimpi buruk—walau sebentar saja.
Tapi Iris memalingkan muka setelah beberapa saat terdiam.
“Aku baik-baik saja.”
Iris sudah memutuskan sejak hari dia memilih menjadi Kaisar.
“Aku tidak perlu tidur.”
Mimpi itu indah, tapi hampa.
Maka Iris memilih menghadapi kenyataan.
Dia tahu tidak akan pernah bisa lari dari tempat ini.
Jadi dia akan hidup dalam kenyataan,
bahkan jika itu berarti hidup sebagai si penjahat.
Iris berjalan sampai tiba di aula besar.
Di kejauhan, dia melihat peti mati Sang Kaisar.
Sang Kaisar menyerah pada penyakit yang sudah lama dideritanya.
Walau dia tidak pernah mencapai hal yang “hebat,”
dia juga tidak bisa disebut tidak kompeten.
Kini dia terbaring dalam peti mati dikelilingi bunga-bunga putih.
Para ksatria kuat siap mengangkat peti mati—
pejuang setia yang melayani Sang Kaisar seumur hidup.
Beberapa sudah setengah baya, seperti Kaisar sendiri.
“Iris.”
Suara yang familiar terdengar di telinganya.
Dia menoleh melihat seorang pria berambut merah platinum.
Wajah yang sangat familiar—
yang paling mirip dengan almarhum Kaisar.
Pangeran Pertama, Lukraizen Hysirion.
Bahkan dalam pakaian hitam berkabung, dia tetap bersinar terang.
Siapa pun yang melihatnya akan mengangguk, berkata “Itu pria yang lahir untuk menjadi Kaisar.”
“Kakak.”
Sebaliknya, pakaian hitam Iris justru menonjolkan keadaannya yang lelah.
Tapi dia tetap cantik dengan cara yang berbahaya dan memukau.
Mereka adalah lawan—
Satu, matahari terik di siang bolong.
Yang lain, malam pekat yang gelap.
Dua kekuatan yang saling berhadapan.
Dua yang akan segera bertarung—dengan darah dan keringat—untuk tahta.
“Kau tidak terlihat baik.”
“Di hari seperti ini, tentu aneh terlihat baik.”
Walau tidak terlalu dicintai ayahnya,
ayah tetaplah ayah.
Bergembira di hari kematiannya adalah kegilaan.
“Begitukah? Aku tidak sepenuhnya setuju.”
Tapi bagi mereka yang haus kuasa,
tidak ada kesempatan lebih besar dari ini.
Kematian penguasa adalah waktu terbaik untuk yang baru muncul.
“Saranku, jangan bicara sembarangan hari ini.”
Iris, tanpa ekspresi, menasihatinya polos.
Lukraizen tertawa lepas.
“Iris, aku ingin menjadi Kaisar.”
Pengakuan yang mengejutkan.
Tentu tidak pantas diucapkan di sini, saat ini.
Iris menyipitkan matanya.
Dia lalu melihat ke peti mati Sang Kaisar.
“Lihat. Begitu banyak orang berkumpul untuk berkabung. Beberapa tidak akan datang walau keluarga kerajaan memanggil mereka.”
Kekaisaran memang kuat—
tapi juga amat besar.
Tanah seluas itu menampung begitu banyak nyawa.
Apakah ketakutan pada keluarga kerajaan benar-benar sampai ke pelosok terjauh?
Sayangnya, tidak.
Para bangsawan lokal memiliki kekuatan mandiri dan hanya setia secara nama.
Pada dasarnya, mereka penguasa wilayah masing-masing.
Perintah kerajaan pun tidak berarti bagi mereka.
Tapi—
mereka tetap tunduk pada titah Kaisar.
“Bangsa ini penuh masalah yang mengakar.”
[Penerjemah – Night]
[Penyunting – Gun]
Tidak ada bangsa yang sempurna.
Semua manusia pada dasarnya mementingkan diri sendiri.
Jika kau minta mereka sempurna, mereka akan memaksakan versinya sendiri dan malah menciptakan lebih banyak masalah.
Tapi jika yang memimpin mereka hebat, ceritanya berbeda.
Manusia hidup dalam pagar masyarakat bisa berubah tak terbatas tergantung pemimpinnya.
“Untuk menyelesaikan masalah ini, satu-satunya cara adalah menjadi Kaisar.”
Begitulah posisi Kaisar—
Satu yang menanggung nyawa rakyatnya dan mengarahkan masa depan mereka.
“Tugas Kaisar adalah serangkaian kewajiban. Kau harus duduk di meja sepanjang hari, bekerja semalaman, dan terus memastikan rakyat hidup layak.”
Posisi tanpa tanggung jawab tidak berarti.
Itu hanya gelar kosong.
“Karenanya, para Kaisar sering jatuh sakit. Termasuk ayah kita, para Kaisar sebelumnya menderita di bawah tumpukan kewajiban dan mati muda.”
“Itu ucapan yang menghujat. Gelar Kaisar diberikan yang ilahi.”
“Tapi bahkan yang ilahi tidak memberikan keabadian atau hidup kekal. Peran Kaisar pun begitu.”
Lukraizen memandang Iris.
“Kau pikir Kaisar abadi akan menjalankan kewajibannya dengan benar?”
Ada makna lebih dalam di balik kata-katanya.
“Hanya karena manusia punya hidup terbatas, mereka berusaha capai lebih banyak. Tapi bagi yang abadi, itu tidak berarti.
Sukses atau gagal, waktu tetap berlalu dan semuanya akan terlupakan. Itu kenapa waktu dan umur itu berharga.”
Tanpa disadari, Lukraizen sudah berdiri tepat di depan Iris.
“Aku hidup di masa kini. Daripada khawatir soal umurku nanti, aku bertanya apa yang bisa kulakukan sekarang. Itu alasan aku ingin menjadi Kaisar yang bersinar paling terang di masa sekarang.”
Mata merah Lukraizen berkilat tajam.
“Tapi Iris, bagaimana denganmu?”
Dia bertanya.
“Apa kau benar-benar ingin jadi Kaisar untuk bersinar sekarang?”
Dia menanyakan niat aslinya.
“Apa kau ingin jadi Kaisar demi membuat kekaisaran yang luas ini makmur untuk rakyat?”
Iris melihat Lukraizen.
Lukraizen pria yang cerdik.
Dia punya ambisi untuk merebut tahta dan karisma untuk memimpin orang banyak.
Sebagai Pangeran Pertama pun, dia sudah mencapai banyak hal.
Beberapa bahkan bilang jika dia jadi Kaisar, kekaisaran akan mencapai era terhebatnya.
Dan dibanding dia—bagaimana dengan Iris?
“Tapi, Kakak, kau tidak bisa percaya orang.”
Kata-katanya membuat Lukraizen terdiam.
Matanya berkilau aneh, seperti anak kecil yang rahasianya terbongkar.
“Orang yang tidak bisa percaya pada orang lain akan terus gemetar ketakutan oleh apa yang mungkin terjadi di bawah mereka.”
Stres yang parah mengundang berbagai penyakit.
Tidak ada yang lebih rapuh dari manusia di bawah tekanan.
“Dan kau, Kakak, mungkin akan jadi Kaisar pertama yang mati muda.”
Ha.
Ketidakpercayaan pada orang lain.
Tepatnya, ketidakpercayaan pada semua orang kecuali diri sendiri.
Itulah kelemahan Lukraizen—yang dia pendam seumur hidup.
Tapi Iris melihatnya.
Dan itu wajar—karena Iris sendiri berada di posisi yang sama.
Tentu saja.
Menjadi keluarga kerajaan yang bertarung untuk tahta berarti hidup di bawah ancaman.
Mereka lahir dan besar di pusat kekuatan yang berkecamuk.
Apa mungkin anak yang dibesarkan dalam kekuasaan bisa percaya sepenuhnya pada orang lain?
Tidak mungkin.
Bahkan keluarga sendiri bisa jadi saingan merebut tahta.
Bagi mereka, orang lain selalu harus diawasi dan diwaspadai.
“Iris, apa kau pikir dirimu berbeda denganku?”
Lukraizen bertanya.
Dia merasa agak konyol mendengar ini dari seseorang seperti dia, yang juga hidup demi tahta.
“Ya.”
Iris berjalan melewati Lukraizen.
“Aku berbeda.”
Dia percaya pada seseorang.
Dan seseorang itu sungguh-sungguh memintanya untuk percaya.
“Kau tanya apakah aku ingin jadi Kaisar?”
Iris melihat Lukraizen.
“Aku juga.”
Mata merah Iris bersinar terang.
Lukraizen perlahan membuka matanya lebar, mengepal tangan.
Iris selama ini hanya boneka Keluarga Celestial Grace.
Semua keinginannya adalah kehendak Sang Bangsawan.
Dia perlahan kehilangan minat pada tahta.
Tapi di bawah cengkeraman Celestial Grace, dia dipaksa terpaku lagi padanya.
Lukraizen mengira itu saja.
Tapi sekarang, bertemu langsung, dia merasa berbeda.
Iris mungkin boneka Celestial Grace,
Tapi dia tidak kehilangan kehendaknya sendiri.
Dia ingin jadi Kaisar.
Jelas, dia punya alasan dan strategi sendiri.
Lukraizen sekarang mengerti kenapa Vikamon gagal meyakinkannya—
Kenapa malah mencoba membantunya dengan cara lain.
‘Hoo…’
Lukraizen menghela napas pelan.
Jadi tidak semudah itu naik tahta.
Dia kira Iris hanya kucing rumahan yang dibesarkan dalam keluarga—
Tapi kini dia kembali sebagai harimau.
Pandangan Lukraizen menuju jauh ke kejauhan.
Di sana, keempat Bangsawan Tinggi tengah menuju tempat ini.
Apakah Iris akan mewujudkan ambisinya?
Apakah pria yang datang ke sini akan menanam makna baru di hatinya?
Waktu yang akan menjawab.
Maka, pemakaman Sang Kaisar pun dimulai.
[Penerjemah – Night]
[Penyunting – Gun]
—–Sakuranovel.id—–
Comments