Ryoushin no Shakkin wo Katagawari Shite Morau Jouken wa Nihon’ichi Kawaii Joshikousei to Issho ni Kurasu Koto Deshita Volume 2 Bab 91 Bahasa Indonesia – Litenovel

Ryoushin no Shakkin wo Katagawari Shite Morau Jouken wa Nihon’ichi Kawaii Joshikousei to Issho ni Kurasu Koto Deshita Volume 2 Bab 91 Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi
Bab 91: Aku butuh piyama yang serasi!

Waktu kami sampai di rumah usai makan malam, hari sudah hampir jam 9 malam. Aku duduk di sebuah kursi di ruang tamu dan meregangkan tubuh, sambil melihat Kaede dan Rika-chan yang duduk di sofa. Keduanya sedang menonton film pahlawan tokusatsu jadul dengan akrab dan penuh antusiasme.

“Oh… Kaede, Rika-chan. Kalian boleh saja menonton film, tapi kenapa tidak ganti baju dulu? Nanti baju baru kalian jadi kusut, kan?”

“Tidak apa-apa! Kami bisa tetap seperti ini sampai kamu masuk ke kamar mandi! Kan, Rika-chan!?”

“Ya! Ini baju kembaran dengan Kaede-onee-chan! Aku ingin memakainya terus!”

“Mou! Kamu benar-benar manis, Rika-chan! Kalau begitu, mungkin besok kita bisa pergi membeli piyama yang serasi! Kita bisa meninggalkan baju-baju itu di rumah dan kamu bisa datang menginap kapan pun kamu mau!”

“Baguslah! Ya, ayo kita lakukan itu! Boleh kan, Yuya-onii-chan!?”

Kalau dariku sih, aku tidak keberatan, tapi kurasa Taka-san mungkin akan menangis jika Rika mulai lebih sering datang ke rumahku. Selain itu, aku mungkin akan diinterogasi. ‘Apa yang kamu lakukan pada Rika-ku!?’ dan lain-lain. Tapi…

“Tentu saja, Rika-chan. Untuk piyama yang lucu, kita harus memilihnya sendiri.”

Bagaimanapun marahnya Taka-san, pada akhirnya dia tidak akan bisa menang melawan permohonan sambil menangis dari Rika-chan. Dan kemudian ada juga senjata pamungkas, ‘Aku benci Ayah!’ Begitu dia mengucapkan kalimat ini, Taka-san akan berubah pucat pasi seperti abu.

“Karena kita sudah mendapat persetujuan Yuya-kun, ayo kita pergi berbelanja piyama besok! Aku juga sudah lama ingin membeli piyama musim semi dan musim panas, jadi ini pas sekali. Mari kita pastikan piyamanya lucu dan serasi.”

“Kalau begitu, kenapa kamu tidak menyuruh Yuya-onii-chan memakai piyama yang serasi juga! Kita bertiga bisa tidur dengan piyama yang sama!”

“Ide yang bagus! Jadi, Yuya-kun, kita akan pergi berbelanja lagi besok, tidak apa-apa kan? Bukankah itu luar biasa?”

Aku tidak punya hak untuk menolak, dan aku juga tidak berniat menolak. Mengenakan piyama yang serasi dengan Kaede bukanlah ide yang buruk, bahkan itu ide yang luar biasa. Piyama berbulu yang sekarang memang bagus, tapi apa yang akan dia kenakan untuk musim semi dan musim panas? Apakah piyamanya akan lebih tipis dan memperlihatkan lebih banyak kulit? Jika aku tergoda dengan cara seperti itu…

“Hei, Kaede-onee-chan. Yuya-onii-chan sepertinya sedang memikirkan sesuatu dengan sangat serius, kira-kira apa yang sedang dia pikirkan itu?”

“Mmm. Wajah itu pasti adalah wajah orang yang sedang berfantasi tentang aku dan Rika dalam balutan piyama kita. Aku yakin dia pasti sedang memikirkan sesuatu yang mesum.”

“Apa salahnya memikirkan Kaede dalam balutan piyama lucunya… Aku yakin karena itu Kaede, dia mungkin akan menggodaku dengan mengenakan kombinasi kamisol dan celana pendek, kan?”

‘Ugh!’ Fantasiku terbukti benar saat dia bereaksi dengan reaksi klasik dan kentara yang sudah jarang ditemui akhir-akhir ini. Kurasa aku harus bersiap-siap untuk hal ini besok malam. Tidak, yang sebenarnya justru adalah malam setelah Rika-chan pulang, kan?

“Oh, bahkan Rika-chan bisa tahu dari ekspresi wajahmu sekarang! Yuya-onii-chan, aku yakin kamu sedang membayangkan bermesraan dengan Kaede-onee-chan! Mou, kamu tidak boleh memikirkan hal itu lagi!”

‘Kamu sama sekali tidak punya sopan santun,’ tambah Rika. Aku tidak mengerti. Kalau kamu berkata begitu, coba lihat wajah Kaede saat dia sedang memelukmu. Dia terlihat seperti akan mendropskan air liur di seluruh wajahmu. Bukankah itu persis wajah seseorang yang sedang memikirkan hal semacam itu?

“Ehehe. Fantasi Yuya-kun tentang bermesraan denganku… guhehe.”

“Kaede-onee-chan sudah rusak…”

“Tidak, ini adalah perilaku normal Kaede, Rika-chan.”

Karena kalau tidak, dia tidak akan mencoba menyerangku di kamar mandi pada malam pertama kita tinggal bersama, dan keesokan paginya, dia benar-benar menyerangku. Dia tidak akan mengatakan bahwa dia tidak bisa tidur kecuali aku memeluknya. Yah, aku tidak keberatan menjadikan Kaede sebagai guling peluk karena itu juga membuatku bahagia.

“…Kalian berdua terlalu mesra, tahu? Apakah kalian akan bermesraan begitu Rika pulang?”

“Sisi mana yang putih dan sisi mana yang hitam? – T-tidak, aku tidak akan. Bukan berarti aku akan bermesraan begitu Rika-chan pergi, tahu?”

Rika menatapku dengan dingin dan melontarkan komentar yang membuatku meragukan usianya, jadi aku bereaksi secara refleks, tetapi yang penting adalah apa yang dia katakan selanjutnya. Itu normal setelah Rika-chan pergi, kan? Itu hanya hal yang normal… untuk bermesraan, kurasa.

Di layar, prajurit utama berubah ke bentuk terkuatnya, yang hanya tersedia di versi film, dan melancarkan tendangan ke arah musuh.

“…Yuya-onii-chan, kamu baka.”

Aku merasa sekarang aku mengerti bagaimana perasaan monster itu ketika terkena jurus spesial dan meledak.

Daftar Isi

Komentar

guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted