Ryoushin no Shakkin wo Katagawari Shite Morau Jouken wa Nihon’ichi Kawaii Joshikousei to Issho ni Kurasu Koto Deshita Volume 1 Bab 52 Bahasa Indonesia – Litenovel

Ryoushin no Shakkin wo Katagawari Shite Morau Jouken wa Nihon’ichi Kawaii Joshikousei to Issho ni Kurasu Koto Deshita Volume 1 Bab 52 Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi
Bab 52: Pria yang begitu polos hingga membuatmu ingin menggodanya

Kulitnya seputih dan sehalus keramik. Kakinya yang jenjang tampak sehat dengan kekencangan yang pas. Gundukan kembar yang menekan handuk itu benar-benar sangat menggoda secara liar dan memesona tanpa nalar. Selain itu, cara dia menggelung rambutnya terurai ke atas tampak segar dan manis.

“Ada apa, Yuya-kun? Apa jangan-jangan kamu berharap aku telanjang…?”

“Uh-uhuk! Bukan, bukan begitu!”

Aku menyangkalnya ala detektif SMA dan memunggungi Kaede. Faktanya, pemandangan dia yang hanya dibalut handuk membuatku jauh lebih bergairah daripada melihatnya telanjang. Itu karena aku tidak bisa menatap semuanya sehingga terasa begitu mendalam, seolah aku sedang mengintip kedalaman kecantikan seorang wanita. Tidak, apa yang sedang aku pikirkan?

“Fufu. Lucu sekali, Yuya-kun. Tolong tunggu sebentar sementara aku membersihkan diri.”

Aku mendengarkan suara Kaede yang bersenandung di dalam kamar mandi dari balik punggungku sambil menunggu saat itu tiba. Aku bisa merasakan jantungku seolah ingin copot dan tubuhku tegang. Rasanya detak jantungku jauh lebih cepat daripada saat aku menyatakan perasaanku.

“Um, Yuya-kun. Aku ingin berendam di bathtub juga, jadi maaf ya, bisakah kamu minggir sedikit?”

“Baik, baik! Aku akan minggir!”

“Fufu. Kenapa kamu menggunakan bahasa formal? Kamu benar-benar lucu, Yuya-kun.”

“Permisi.” Kata Kaede, lalu perlahan-lahan memasukkan kakinya dan membenamkan tubuhnya ke dalam bathtub. Seiring bertambahnya volume, air panas melimpah keluar dari bathtub dengan deras. Suara itu terdengar seperti air terjun yang bergema di kamar mandi yang sunyi.

“Bukankah sulit bagimu untuk bersantai kalau berada di tepi seperti itu?”

“Oh, aku baik-baik saja di sini. Kurasa di usiapu, ruang sebesar ini sudah cukup untuk bersantai!”

Jangan menoleh. Kaede saat ini benar-benar Kaede dalam mode memikat yang tidak pernah kukenal. Handuk yang menempel di tubuhnya tampak transparan. Kulitnya yang lembut dan dipenuhi uap air. Rambutnya sedikit basah karena mandi. Tetesan air mengalir dari dahi ke dagunya dan jatuh di tulang selangkanya yang indah. Rasanya aku hampir meledak hanya memikirkannya.

“Kalau Yuya-kun tidak datang, aku yang akan mendatangimu.”

“Apa…? Kaede, apa yang kau katakan—eh?”

Tiba-tiba, aku bisa merasakan kulit lembap Kaede di punggungku. Lengannya meremas pinggangku dan pipinya menempel di leherku. Aku geli oleh napasnya. Perasaan lembut dan surgawi itu membunuh pikiran rasionalku.

“Hei, Yuya-kun. Kenapa kau tidak menatapku? Jangan-jangan… aku tidak menarik?”

“Apa, apa yang kau bicarakan!? Kaede lebih dari cukup menarik bagiku! Menurutku aku tidak perlu memberitahumu itu!”

“Jika memang begitu, lihatlah… aku. Peluk aku… maukah?”

Aku mendengar suara kain yang terurai lembut dan melihat handuk mandi mengapung dengan lembut di dalam bathtub. Hei, itu artinya Kaede sekarang benar-benar—

“Ah, K-Ka-Kaede… Kalau begitu aku… eh…”

Benar juga. Jika aku memejamkan mata dan berbalik dengan cepat, aku bisa memeluk tubuh telanjang seorang dewi tanpa harus menatap matanya. Sebagai gantinya, aku akan dapat merasakan buah terpesona di seluruh tubuhku, tapi aku harus puas dengan itu. Baiklah, ini dia—!

“Maaf, maaf… kurasa itu sudah cukup…! Yuya-kun, kamu terlalu imut!”

Eh? Apa maksudmu, Kaede?

“Itu karena Yuya-kun bereaksi begitu polos. Aku tadi tidak sedang membully-mu… Aku hanya ingin mengggodamu.”

“…Kaede.”

“Aku juga gugup, tahu. Tapi jantung Yuya-kun berdetak puluhan kali lebih kencang dariku, dan cara daruratmu mencoba mengalihkan pandangan dariku rasanya begitu menggoda sampai-sampai aku akhirnya bersikap jahat kepadamu.”

Dia kemudian melilitkan handuk itu di tubuhnya lagi dan menjauh dariku. Aku berulang kali menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan napasku yang tersengal-sengal. Kepalaku mulai terasa pusing.

“Berapa lama lagi kamu akan terus melihat ke belakang? Kenapa kamu tidak meluruskan kaki dan bersantai saja? Aku bisa memijat kakimu kalau kamu mau. Atau kamu ingin aku memelukmu dari belakang dan meremas bahumu lagi?”

Oh, tawaran yang sangat menarik sepertinya. Sungguh luar biasa. Tapi sayangnya, aku tidak punya cukup waktu untuk menikmatinya.

“Maafkan aku, Kaede… Aku tidak… sanggup lagi…”

“Eh? Yuya, Yuya-kun!? K-Kau tidak apa-apa!?”

Kesadaranku menggelap saat aku mendengar suara panik Kaede dari kejauhan.

Daftar Isi

Komentar

guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted