Futago matomete “kanojo” ni shinai? Volume 1 Bab 8.2 – Kencan Pertama Chikage…? Bahasa Indonesia – Litenovel

Futago matomete “kanojo” ni shinai? Volume 1 Bab 8.2 – Kencan Pertama Chikage…? Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi

Bab 8.2 – Kencan Pertama Chikage…?

Kencan Pertama Chikage…? 2

Sambil berpikir bahwa dia mungkin merasa rendah diri di hadapan Hikari, Sakuto terus mendengarkan perkataan Chikage.

“Tapi diriku yang sebenarnya menyukai tempat-tempat seperti ini, menyukai hal-hal yang imut, dan tertarik pada dunia mode… Aku ingin kamu tahu sisi diriku yang itu.”

“Begitu ya… Terima kasih sudah memberitahuku.”

Taman hiburan ini pasti membuat Chikage lebih mudah menunjukkan jati dirinya. Nyatanya, Chikage hari ini telah menunjukkan berbagai macam ekspresi.

Ekspresinya begitu cerah dan lembut hingga membuat Sakuto tidak bisa tidak mengaguminya.

Sisi polos dirinya yang seperti itu jarang terlihat di sekolah, menjadikannya pemandangan yang sangat berharga bagi Sakuto.

“Akan bagus sekali kalau kamu biasanya bersikap seperti ini.”

“Itu agak…”

Chikage berbalik menghadap Sakuto dan tersenyum malu-malu.

“Aku hanya bisa menunjukkan sisi diriku ini kepada keluarga, teman-teman… orang-orang yang kupercayai. Kalau tidak, rasanya terlalu memalukan.”

Mendengar hal itu membuatnya merasa agak malu.

Dia juga bertanya-tanya apakah dirinya juga dianggap sebagai seseorang yang bisa dipercayai olehnya.

“Bagaimana dengan bahasa formal itu? Kamu sepertinya berbicara secara biasa dengan Hikari, tapi kamu juga bisa berbicara santai denganku, kan?”

“Jika itu yang diinginkan oleh Sakuto-kun, aku bisa mengubah ‘bagian’ diriku itu.”

“Ah, tidak usah khawatir, untuk sekarang tidak apa-apa.”

Bahasa formal Chikage sama sekali tidak memberikan kesan menjaga jarak, melainkan justru memberikan kesan yang lebih lembut.

Hal itu nyaman didengar dan, di satu sisi, merupakan bagian dari pesonanya.

Jika dia tidak memaksakan diri, tidak perlu mengubahnya.

Dia tidak akan terlalu memaksakan diri, tapi alangkah baiknya jika suatu hari nanti dia bisa berbicara denganku seperti dia berbicara dengan Hikari.

“Ngomong-ngomong, aku sudah memikirkannya, kenapa kamu bisa mulai menyukaiku?”

Chikage tiba-tiba tampak malu.

“Di tempat les… yang aku ikuti sebelum kamu, kan, Sakuto-kun?”

“Ya. Aku mulai dari kursus musim panas.”

“Awalnya aku tidak begitu memperhatikanmu. Maaf kalau itu terdengar kasar.”

“Tidak, tidak apa-apa… Jadi, kenapa?”

“Itu terjadi menjelang akhir kursus musim panas——”

***

——Aku tidak begitu pandai dalam matematika.

Aku butuh waktu untuk berpikir dan menemukan jawabannya, jadi saat ujian, waktuku habis sebelum aku sempat menyelesaikan soal-soal aplikasi yang lebih sulit di paruh kedua.

Hari itu, aku tinggal di dalam kelas setelah jam bimbingan belajar berakhir.

Aku sedang kesulitan mengerjakan soal ujian tahun lalu yang tidak bisa dipecahkan.

Soal itu tentang titik tinggi (orthocenter) dan geometri ruang.

Tepat saat aku butuh bantuan untuk matematika, guru matematika sedang tidak masuk, dan bahkan ketika aku bertanya kepada guru sains, aku tetap tidak begitu memahaminya——aku mencoba menyelesaikannya sendiri, bertekad untuk mengerti, tetapi percuma.

Aku sempat berpikir untuk menggunakan aplikasi matematika, namun memutuskan untuk pergi ke toilet terlebih dahulu.

Saat aku kembali, cara penyelesaian dan penjelasan untuk soal yang tidak bisa kuselesaikan itu sudah tertulis di papan tulis.

Siapa yang bisa menyelesaikan dan menulisnya dalam beberapa menit saja?

Pertama-tama, aku pergi ke ruang guru untuk berterima kasih, tetapi mereka semua tampak bingung, dan tidak ada seorang pun yang tahu siapa yang melakukannya.

Kemudian, guru ilmu pengetahuan sosial itu menyebutkannya kepadaku sambil lalu.

(TN: Diubah ke sudut pandang orang pertama.)

“Ngomong-ngomong, Takayashiki baru saja pergi beberapa waktu lalu…”

“Takayashiki-san…?”

“Ya, anak laki-laki dari SMP Kita (Utara). Belakangan ini dia sering tinggal sampai larut malam untuk belajar——Yah, itu memang hal yang biasa dia lakukan…”

“Eh? Kenapa Anda berkata begitu?”

Guru-guru lainnya mengangguk setuju seolah-olah mereka mengerti.

Guru ilmu pengetahuan sosial itu berkata,

“——Anak itu benar-benar seorang jenius.”

Kupikir dia mengatakannya dalam artian bahwa anak itu pandai dalam bidang akademik.

Setelah itu, entah bagaimana aku menjadi penasaran dan mulai mengamati anak laki-laki itu.

Dia selalu tampak linglung, mengantuk, dan sering menguap.

Kupikir dia kurang motivasi, tetapi saat semua orang sedang mengerjakan soal, dialah satu-satunya yang sudah selesai.

Setelah kursus musim panas berakhir, apa kamu ingat pernah duduk di sebelahku sekali?

Aku hanya harus memastikannya sendiri. Apakah dia benar-benar seorang jenius atau bukan. Dan kemudian, aku benar-benar terkejut.

Dia menyelesaikan soal-soal itu dengan lancar seolah-olah dia sedang menyalin jawaban dan penjelasannya. Aku sama sekali tidak bisa mengimbanginya.

Beberapa waktu berlalu, dan kemudian──itu adalah hari di mana aku pertama kali berbicara dengan Sakuto-kun.

Butuh banyak keberanian bagiku saat itu──

“Uhm, permisi…”

“Ya?”

“Aku, Usami…”

“Ah, ya… Aku Takayashiki.”

Kamu tampak terkejut ketika aku tiba-tiba mengajakmu bicara, bukan?

Aku masih ingat eksporsimu saat itu. Sejujurnya, aku sangat gugup; wajahku terasa panas, ya…

Jadi, aku menanyakan sesuatu yang selalu ingin kutahu──

“Kenapa kamu memilih tempat bimbingan belajar ini? Tempat ini jauh dari SMP Kita, kan? Kupikir ada cabang tempat bimbingan belajar ini di dekat SMP Kita…”

“…Yah, itu benar.”

“Lalu, kenapa…?”

“…Tidak ada alasan khusus. Aku ingin belajar secara ‘normal’ di tempat bimbingan belajar seperti orang lain. Sejauh ini, aku senang datang ke sini. Aku merasa tenang, dan memiliki seseorang yang serius serta bekerja keras sepertimu, Usami-san, sangat menginspirasi.”

Kata-kata dan eksporsimu saat itu sangat mengesankan.

Kamu memasang raut kesepian, kepasrahan, dan kelegaan.

Tapi pada saat itu, aku merasa senang sekaligus malu karena seseorang memerhatikannya, terutama ketika kamu bilang aku adalah sebuah inspirasi.

Aku pikir aku tidak akan pernah bisa mengejar ketertinggalan darimu, Sakuto-kun.

Namun, setelah direnungkan kembali nanti, aku bertanya-tanya apakah ada alasan kenapa Takayashiki-kun tidak bisa menghadiri tempat bimbingan belajar lokal… Aku terlalu banyak berpikir.

Apa maksud Takayashiki-kun dengan ‘secara normal’? Apa artinya menjadi seperti orang lain?

Aku tidak tahu siapa pun yang mendambakan untuk menjadi biasa saja.

Mengenai apakah kamu yang menuliskan solusi dan penjelasan soal matematika di papan tulis──

“——Oh? Aku tidak tahu? Bukankah itu guru?”

Kamu mengelak dari pertanyaan itu dengan baik, tapi aku tahu.

Takayashiki-kun, kamu punya sebuah kebiasaan saat sedang berbohong——

***

“——Kamu yang memecahkan masalah itu, kan, Sakuto-kun? Sudah waktunya kamu memberitahuku.”

Chikage tersenyum padaku, dan aku membuang muka, merasa malu.

“…Yah, mungkin aku sedikit terlalu berlebihan…”

“Kenapa kamu menyelesaikan masalah itu untukku?”

“Yah, hanya saja aku melihat Usami-san kesulitan, dan aku cuma… tidak bisa membiarkannya…”

Chikage terkekeh pelan.

“Sakuto-kun selalu bilang begitu dan membantuku.”

“Tidak, sejujurnya, kurasa terkadang kamu terlalu melebih-lebihkanku…”

“Tidak, sungguh, aku berterima kasih. Karena hal itulah… itulah kenapa aku menyukai Sakuto-kun. Meskipun bilang kalau itu berlebihan, kamu tetap rendah hati… Aku menyukai kebaikan kecil yang tersirat itu dan betapa bisa diandalkannya kamu.”

Chikage menyipitkan matanya dan pipinya merona merah.

‘Apakah Chikage sudah sadar akan diriku sejak saat itu?’

‘Membicarakan hal-hal sepele seolah-olah itu adalah kenangan istimewa──dan sekarang hal-hal kecil seperti itu membuatnya berkata bahwa dia menyukaiku?’

(Dia orang yang terlalu baik…)

Berada dalam suatu hubungan dengan seseorang sepertinya membuatnya merasa sedikit malu, namun lebih dari itu, hal itu membuatnya sangat bahagia.

Daftar Isi

Komentar

guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted