Futago matomete “kanojo” ni shinai? Volume 1 Bab 2.4 – Obrolan Kembar ① Siapa kesukaan masing-masing…? Bahasa Indonesia
Bab 2.4 – Obrolan Kembar ① Siapa kesukaan masing-masing…?
Obrolan Kembar──! ①
Siapa kesukaan masing-masing…?
27 Mei, di dapur keluarga Usami.
Mengenakan pakaian santai dengan balutan apron, Chikage mengaduk panci berisi sup miso di atas kompor sambil melepaskan desahan panjang.
(Andai saja kami bisa akur dengan lebih baik…)
Dia teringat hari ketika peringkat itu ditempel di lorong sekolah——
『Makan siang hari ini di kantin sekolah adalah menu spesial harian. Rasanya enak banget.』
『Apa hubungannya hal itu dengan semuanya…?』
『Mau pergi bersama denganku? Aku yang traktir?』
Chikage penuh dengan penyesalan.
(Kenapa aku tidak bisa dengan jujur mengatakan kalau aku ingin pergi——)
Gerakan mengaduknya semakin cepat.
(Mungkinkah Takayashiki-kun ingin berteman denganku? Andai saja aku tadi jujur pergi ke kantin bersamanya… Tapi aku mungkin akan merepotkannya jika orang-orang mengira kami adalah sepasang kekasih…)
Chikage sedikit banyak menyadari apa yang dipikirkan orang lain tentang dirinya, setidaknya sebatas rumor yang beredar.
Dia tahu dirinya menonjol karena selalu berada di peringkat pertama kelas, tapi itu adalah hal yang bisa dia atasi sendiri.
Itu bukanlah masalah besar yang perlu dikhawatirkan, dan dia bisa mengabaikannya begitu saja.
Namun, ceritanya akan berbeda jika orang-orang di sekitarnya ikut terseret.
Berpikir bahwa berada bersamanya mungkin akan merepotkan Sakuto membuat dia merasa kesulitan untuk memperdalam hubungan mereka.
Di sisi lain, Chikage merasa kesal pada dirinya sendiri karena tidak bisa jujur.
Namun, jika orang lain salah paham dan mengira mereka adalah pasangan──
Jika Sakuto tidak terlalu mempermasalahkannya, maka itu akan menjadi cerita yang berbeda.
(Jika kami benar-benar menjadi sepasang kekasih, tidak akan ada masalah, kan…!?)
Khayalan liar seperti itu mulai berkecamuk di dalam benaknya. Dan kemudian——
『Begitu ya… jadi aku harus menjadi pasangan Usami-san untuk mengajaknya ke kantin…』
Kata-kata itu berputar kembali di kepalanya, membuatnya berharap bahwa pria itu mungkin merasakan hal yang sama. Dan akhirnya——
『──Fiuh, hampir saja. Usami-san, apa kamu baik-baik saja?』
Dia dipeluk.
Meskipun itu adalah sebuah kecelakaan, tindakan spontan tersebut terasa sangat luar biasa (神対応) bagi Chikage.
Itu adalah pertama kalinya dia dipeluk oleh seorang pria selain ayahnya.
Mendengar debaran jantung Sakuto, dia sangat terguncang.
Bahkan setelah Sakuto pergi, efek setelahnya begitu kuat sehingga dia berdiri mematung untuk beberapa saat.
(Saat itu, aku merasa bersemangat…)
Dia menutup matanya, menggeliat kegirangan.
Lalu—
“Apa yang sedang kamu lakukan dari tadi?”
Sebuah suara terdengar dari balik konter dapur.
“Aa!? Hii-chan!? Sejak kapan kamu ada di sana!?”
“Baru saja. Aku pulang, Chii-chan.”
Yang tersenyum di balik konter adalah wajah yang identik dengan Chikage—saudara kembarnya, Hikari, yang lahir lima belas menit lebih awal darinya.
“Selamat datang… Tapi dari mana saja kamu?”
“Hmm… Cuma jalan-jalan sebentar.”
“Begitu ya…”
Chikage menyadari Hikari masih mengenakan seragamnya dan menahan dorongan untuk menghela napas.
Hikari sudah sering membolos sekolah sejak sekitar kelas empat sekolah dasar.
Hal ini berlanjut hingga SMA, di mana dia sering meninggalkan rumah dengan berseragam tetapi jarang sampai di sekolah.
Hikari tampaknya menjalani kehidupan yang bebas dalam arti tertentu, tetapi ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
Mengetahui hal ini, Chikage merasa tidak enak untuk terlalu menyalahkannya.
Namun situasi mereka berbeda dari saat SMP. Mereka berdua sekarang sudah menjadi siswi SMA.
“Kalau kamu terus membolos seperti ini, kamu bisa tinggal kelas, tahu?”
“Tidak apa-apa, aku sudah menghitung ketidakhadiranku dengan cermat.”
“Bukan itu yang kusebut ‘cermat’… Jadi, ke mana kamu pergi?”
“Ehehe, cuma ke perpustakaan untuk mencari suasana baru──”
“Kamu pergi ke pusat permainan arkade, kan?”
Tanpa jeda sedetik pun, Chikage menjawab, dan Hikari memasang ekspresi terkejut.
“Kok bisa!?”
“Karena kita kan kembar… Lagipula, itu pola kebiasaanmu biasanya. Kamu akhir-akhir ini tampak ketagihan bermain game, jadi aku cuma menebak.”
Hikari bertepuk tangan sambil tersenyum seolah-olah kagum.
“Sudah kuduga dari seorang kembaran. Kamu selalu bisa melihat tembus ke dalam diriku.”
“Itu jelas bukan sebuah pujian kalau datang dari Hii-chan… Sungguh…”
Chikage mematikan kompor dengan perasaan kesal.
Sebagai adik yang lahir lima belas menit kemudian, Chikage selalu memperingatkan Hikari agar tidak membolos sekolah.
Dia ingin kakaknya itu setidaknya mendapatkan ijazah SMA untuk apa pun yang mungkin terjadi di masa depan.
Itulah harapan Chikage saat ini untuk sang kakak, yang lahir lima belas menit lebih awal darinya.
Biasanya, ini adalah kekhawatiran seorang orang tua.
Namun, orang tua mereka justru berpendapat bahwa Hikari bebas melakukan apa pun yang dia inginkan.
Entah itu bentuk pengertian atau sikap longgar, Chikage sudah menyerah untuk meminta orang tua mereka membujuknya.
Bagaimanapun, terkadang dia mengagumi kakaknya karena hal itu.
Dia bertanya-tanya apakah Hikari, tidak seperti dirinya, suatu hari nanti mungkin akan mencapai sesuatu yang luar biasa tanpa diduga.
Sambil menata makanan di piring, Chikage melihat Hikari yang sedang bersantai di ruang tamu.
Hikari sedang berbaring telentang di atas sofa tiga dudukan, memeluk boneka besar dengan ekspresi bahagia.
“Hii-chan? Ada hal baik yang terjadi?”
“Hmm… Aku tidak begitu tahu apakah itu hal yang baik, tapi itu sesuatu yang membuat hatiku berdebar… Hauu~…”
Hikari teringat sesuatu, meronta-ronta kakinya, lalu menatap Chikage dengan wajah memerah.
“Hei, Chii-chan. Apakah kamu punya teman laki-laki yang dekat denganmu?”
“Eh…?”
Satu orang terlintas di benaknya, tetapi dia bukanlah teman laki-laki yang dekat, melainkan seseorang yang ingin lebih dia dekati.
“Tidak juga… Meski begitu, aku baru-baru ini sempat mengobrol dengan seseorang…”
“Siapa namanya?”
“Uh, Takayashiki-kun. Sakuto Takayashiki-kun…”
Begitu mendengar namanya, entah mengapa Hikari mulai mengelus pipi kiri nya sendiri dengan riang.
Komentar