Hell Mode: Yarikomi Suki No Gamer Wa Haisettei No Isekai De Musou Suru Volume 9 Bab 12: Kesusahan Keluarga Kerajaan Bahasa Indonesia
Bab 12: Kesusahan Keluarga Kerajaan
“Berhenti! Kembali ke sini!” bentak Cecil.
“Tidak mau! Pergi sana, Nona Celana Dalam Nenek-nenek!” ledek Luke.
“A-Akan kubunuh kau!”
Cecil yang murka mengejar bocah peri gelap itu, tetapi area makan dipenuhi oleh prajurit Pasukan Allen yang sedang makan siang. Tentu saja, Cecil tidak bisa berlari secara bebas. Sebaliknya, peri gelap kecil itu bisa dengan mudah merangkak di bawah meja, muncul untuk mengejek wanita bangsawan itu, lalu kabur.
“Oh, Raja Olbaas…” keluh tutor peri gelap itu, sambil membenamkan wajah di kedua tangannya.
Aku yakin tutor itu mengkhawatirkan kaum peri gelap dengan calon raja seperti itu, pikir Allen.
Luke sangat energetik hari ini juga. Bocah peri gelap itu lebih tua dari penampilannya, tetapi dia mirip seperti anak laki-laki berusia delapan tahun. Kepribadiannya sesuai dengan penampilannya, karena dia selalu usil dan mencari-cari masalah. Dia suka melakukan kejahilan seperti mengangkat rok Cecil dan menyentuh bokongnya.
Luke pernah mengincar orang lain sebelumnya. Ketika dia berani mengangkat rok Krena, dia tertangkap dalam sekejap mata. “Kau tidak boleh melakukan hal seperti itu!” maki Krena sambil mengikatnya dan menggantungnya di pohon. Itu adalah sisi baru dari dirinya yang belum pernah Allen lihat sebelumnya.
Ketika Luke menyentuh bokong Sophie, elf perempuan itu tersenyum dan memelintir lengan bocah tersebut. Allen harus turun tangan dan menenangkannya. Sang Summoner tidak ingin kaum elf dan peri gelap berperang satu sama lain hanya karena keusilan seorang anak.
Meruru tidak pernah menjadi sasaran, mungkin karena dia terlihat seumuran dengan Luke, dan Shia yang selalu waspada tidak pernah membiarkan siapa pun berada di belakangnya. Namun berkat keusilan Luke, aku bisa melihat sisi baru dari semua wanita lainnya.
Beberapa waktu kemudian, Cecil muncul dengan tubuh dipenuhi debu dan rambut yang berantakan. Sambil mengapit Luke yang sama kotornya di bawah lengannya, dia kembali ke tempat Allen dan anggota kelompok lainnya duduk.
“Hei! Lepaskan aku, Cecil!” ratap Luke.
“Dan kenapa aku harus melakukannya?!” balas Cecil berteriak. “Kau tahu apa yang sudah kau perbuat!”
Dia melemparkan bocah itu ke tempat duduknya, dan seekor musang hitam yang sedang makan di atas meja dengan gesit pindah ke pangkuannya. Cecil mendelik tajam ke arah Luke sebelum duduk di samping Allen dengan suara gedebuk yang keras.
“Raja itu ada berbagai macam bentuknya,” gumam Allen sambil memperhatikan tutor Luke meninggalkan area ruang makan dengan bahu merosot. “Tapi itu bukan hal baru.”
“Apa yang sedang kau bicarakan?” tanya Cecil. “Bukankah kau panglima tertingginya? Kau harus memarahinya atas apa yang dia lakukan.”
“Tapi dia kan anak-anak.”
Allen membawa ajaran dari kehidupan masa lalunya, di mana anak laki-laki akan tetaplah anak laki-laki. Tingkat keusilan seperti ini tidak cukup untuk membuatnya terganggu. Dia melihat Luke dengan lahapnya meneguk sup langsung dari mangkuknya, mengabaikan etika saat dia memerciki area di sekitarnya, dan mulai memahami mengapa Raja Olbaas mempercayakan putranya kepada No-life Gamers.
Di masa lalu, dark elf pernah kalah dalam pertempuran melawan para elf dan diasingkan dari benua tempat Rohzenheim berada, terpaksa mencari perlindungan di wilayah selatan Benua Galiatan. Meskipun bukan raja saat itu, Olbaas telah menduduki singgasana cukup lama, membangun kembali hubungan dengan para elf, membantu dark elf memperbanyak populasi, dan melakukan apa pun yang dia bisa untuk mengembalikan kejayaan rasnya.
Sebagai raja, tantangan terbesar Olbaas adalah memiliki anak. Allen tidak mengetahui detailnya, tetapi seperti halnya ada high elf yang melindungi Pohon Dunia di Rohzenheim, ada juga high dark elf yang melindungi Pohon Dunia di Fabraaze. Jenis elf khusus ini tidak dapat dengan mudah memiliki anak. Luke adalah anak pertama sang raja setelah sekian banyak percobaan, dan anak laki-laki itu pun dibesarkan dengan cukup manja. Kemudian, Sophie, yang dijagokan menjadi ratu Rohzenheim berikutnya, muncul bersama Rohzen, Dewa Roh, dan menggagalkan inkarnasi iblis dengan tim kecil dan beberapa Summons.
Olbaas sempat menduga bahwa Allen, yang berada di dalam party yang sama dengan Sophie, adalah penyelamat dunia yang dinubuatkan oleh Rohzen. Ketika sang raja kemudian melihat Rukoaque hancur beserta Dewa Iblis, dia mungkin berpikir bahwa masa depan dark elf dapat dengan mudah dipadamkan begitu saja.
Meskipun begitu, masih ada harapan. Untuk suatu alasan, Faable, sosok yang mereka sembah, menyukai Luke, dan Olbaas menduga ada alasan di balik hal tersebut. Sang raja mempercayakan putranya kepada Allen dengan harapan dapat menemukan jawabannya.
“Makanannya enak juga hari ini!” seru Luke.
“Jangan memasukkan makanan ke dalam mulutmu secara berlebihan. Kau bisa tersedak,” peringat Faable.
“Kau benar. Terima kasih.”
Dia mengelus kepala musang itu, tangannya kotor oleh sup dan kuah rebusan lainnya, tetapi Penguasa Roh itu sama sekali tidak merasa keberatan. Dia mulai membersihkan bulunya yang sehalus sutra dan berwarna hitam. Ini adalah interaksi biasa mereka. Sophie tidak mengatakan sepatah kata pun saat dia menatap Luke.
“Aku yakin kau juga pernah melalui masa-masa seperti itu, kan, Sophie?” tanya Allen.
“Tidak, tidak pernah,” jawab sang putri elf dengan dingin.
Benarkah? Dia melirik ke arah Volmaar, yang telah menjadi pengawalnya selama bertahun-tahun. Elf itu pasti menyadari tatapan sang Pemanggil, namun dia enggan membalasnya. Mungkin masa kecil Sophie adalah hal yang tabu untuk dibicarakan. Hmm, kurasa para bangsawan memang diharapkan memiliki tingkat etiket dan keanggunan tertentu. Aku ingin tahu apakah ada hal semacam itu di kehidupan masa laluku. Coba kulihat… Ya, saat aku masih anak-anak berhidung pesek yang bermain di kotak pasir, aku ingat melihat anak-anak seusiaku naik ke atas panggung untuk mementaskan drama tradisional dan memperkenalkan diri dengan baik di hadapan penonton yang besar.
Di dunia ini, Allen telah mampu berinteraksi dengan Sophie, Shia, Luke, dan para bangsawan lainnya dari berbagai bangsa dan spesies. Sama seperti anak-anak di kehidupan masa lalunya yang naik ke panggung di usia muda, para bangsawan kemungkinan besar memikul penderitaan dan perjuangan yang tidak pernah bisa dibayangkan oleh rakyat jelata. Begitulah hukum dunia. Pikirannya melayang pada pemilihan Raja Buas Albahal berikutnya. Kira-kira apakah itu masih butuh waktu… Dia pernah mendengar bahwa penguasa berikutnya akan dipilih pada pagi hari, dan Raja Muza secara pribadi akan mengumumkan raja yang baru pada awal siang hari.
“Apakah kita terlambat?” tanya Keel saat dia memasuki area makan bersama Meruru yang sedikit mabuk.
“Yaps. Belum ada kabar,” jawab Allen.
Kelompok itu telah membuat rencana untuk makan siang bersama, yang membuat mereka bebas melakukan apa saja sampai waktu itu tiba. Keel telah menawarkan jasa penyembuhan di sebuah gereja terdekat, dan Meruru telah minum-minum di kedai terdekat sejak pagi. Dia sempat memapahnya dan mendudukannya di kursi sebelum pergi mengambil makanan.
“Dogora, kau tidak boleh hanya makan daging. Makanlah sayuran dan roti juga,” kata Shia.
“Hmm? Ya, aku tahu. Hei, tunggu!” serunya.
Dogora, yang memegang daging di kedua tangannya, memberikan respons yang kebingungan saat roti, sayuran, dan buah-buahan diletakkan di depannya. Dengan enggan, dia memakan makanan lainnya itu.

Allen telah melihat interaksi ini beberapa kali sejak konferensi Aliansi Lima Benua. Mungkin itu karena Dogora telah menyelamatkan Shia. Putri Buas itu telah menantang Raja Buas Muza untuk berduel demi mendapatkan kemerdekaannya. Saat ayahnya menghajarnya habis-habisan, Dogora turun tangan untuk melindunginya, bertarung menggantikannya dan babak belur.
Sepertinya Shia menghargai keberanian Dogora. Para Beastkin adalah spesies emosional yang selalu jujur dengan perasaan mereka. Shia bukanlah pengecualian, dan saat ini, emosinya—yang melampaui rasa terima kasih yang ekstrim—diarahkan kepada Dogora.
“Kalian bertingkah lagi?” tanya Keel dengan letih, berdiri di belakang pasangan itu sambil memegang nampan kayu yang dipenuhi makanan dengan kedua tangannya.
Allen menatap Keel, secara tersirat menyuruh sang Calon Paus untuk menutup mulutnya. Ini bukan pertama kalinya Shia merawat Dogora. Sang Putri Buas telah memulai latihannya di dungeon Peringkat S dan telah menghadapi bos lantai akhir bersama anggota party lainnya. Dia berlatih setiap hari dengan memburu iron golem, dan ketika para Gamer terbagi menjadi dua kelompok dengan harapan meningkatkan efisiensi, dia selalu bergabung dengan kelompok Dogora.
Luke juga berhasil berlatih di dungeon Peringkat S, setelah sukses menerima promosi kelas menjadi Dark Wizard. Dia adalah seorang debuffer, sepertinya mantranya tidak mempan terhadap golem di lantai bawah, karena golem kebal terhadap debuff dan Luke kekurangan Kecerdasan untuk merapalkan mantra yang lebih kuat. Belakangan ini, dia telah berlatih di lantai terakhir dungeon Peringkat S untuk menaikkan level skill-nya.
Saat Allen mengingat kembali keadaan saat itu, dia melihat Dogora menatap Shia dengan tatapan “Apa kamu ibuku?”, dan sang Summoner buru-buru menyela.
“Dogora, kamu harus makan roti jika berencana berlatih nanti siang,” ujar Allen.
“Ya?” tanya Dogora.
“Daging akan membantumu membentuk otot, tetapi roti akan memberimu energi untuk lebih aktif. Tidak ada jenis makanan yang boleh kamu abaikan sepenuhnya, dan penting untuk makan makanan yang seimbang. Tapi karena kamu masih dalam masa pertumbuhan, kamu bisa menambahkan lebih banyak daging ke dalam menu makananmu.”
“Hah. Masuk akal juga.”
Meskipun Allen tidak yakin Dogora benar-benar memahami penjelasannya, sang Destroyer tetap mengulurkan tangan dan mengunyah roti yang keras itu. Shia mengerutkan kening dan menatap Allen dengan tatapan penuh amarah. Baiklah, sepertinya dia marah. Dogora menolak mendengarkan nasihatnya, dan dia kesal karena Dogora malah menuruti perkataan Allen. Jika kau ingin dia melakukan apa yang kaukatakan, kau hanya perlu meyakinkannya.
“Tapi dia benar-benar terlambat…” gumam Cecil.
Allen melirik jam. Mungkin Zeu diberi takhta dan Rudo tidak sanggup menyampaikan berita buruk itu kepada kita. Pria rhinokin itu telah merawat Shia sejak kecil dan telah menjadi kapten pasukan beastkin-nya. Allen menduga pria itu sedang menyangkal hasil tersebut, dan sang Putri Beast gagal mendapatkan takhta.
Tepat pada saat itu, terdengar suara gedebuk! yang keras. Pintu ruang makan terbuka lebar, dan Rudo bergegas masuk ke dalam ruangan dengan panik. Oh, panjang umur. Tunggu, ada apa ini? Semua orang di area makan memusatkan perhatian pada kedatangan Rudo yang berisik, dan ketika sang jenderal melihat Shia, dia berteriak sekeras mungkin.
“Beku— Putra Mahkota Beku telah melancarkan pemberontakan! Raja Beast telah diserang!”
“Apa?!” jerit Shia sambil melompat berdiri. “Itu tidak mungkin!”
Ujian baru saja dimulai di Albahal.
Komentar