Hell Mode: Yarikomi Suki No Gamer Wa Haisettei No Isekai De Musou Suru Volume 8 Kata Penutup Bahasa Indonesia – Litenovel

Hell Mode: Yarikomi Suki No Gamer Wa Haisettei No Isekai De Musou Suru Volume 8 Kata Penutup Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi

Kata Penutup

Volume 8, yang aku sebut sebagai arc Daemonism, akhirnya telah berakhir. Terima kasih banyak sudah membaca sampai sejauh ini.

Dogora, dengan rasa frustrasinya yang selama ini tertahan, akhirnya bangkit, dan kita bisa menantikan aksi-aksi hebatnya di masa depan! Dogora si wajah desa sangat populer, jadi aku membuatnya cukup menonjol! Sebagai sedikit tambahan wawasan, Dogora dan Allen biasanya saling bertolak belakang secara langsung. Sementara Allen memiliki ingatan dari kehidupan masa lalunya dan diberkahi dengan Talenta bintang delapan saat berada dalam Mode Neraka, Talenta Dogora hanyalah bintang satu, dan dia bahkan tidak dapat menggunakan Keterampilan Ekstranya dengan benar. Anak laki-laki itu pertama kali muncul sambil terbata-bata. Kamu bisa memanggilnya salah satu karakter utama yang berasal dari dunia ini.

Teman-teman Allen masing-masing memiliki peran mereka sendiri dan telah bergabung ke dalam party-nya dengan tujuan mereka sendiri. Keel juga berbeda dari arah tujuan Allen: haruskah mereka menyelamatkan sebanyak mungkin orang atau hanya orang-orang yang ada di hadapan mereka? Aku yakin mereka akan menghadapi lebih banyak rintangan di masa depan, dan Allen akan melanjutkan petualangannya sambil membahasnya bersama teman-temannya.

Izinkan aku beralih ke sedikit permintaan maaf, atau semacam pembelaan. Ada alasan di balik pembagian volume seperti ini. Hingga arc keempat, aku menulis agar setiap volume berisi satu arc. Namun, ketika aku mulai menulis tentang teman-teman Allen dan cerita sampingan lainnya untuk memperluas dunia cerita, semua itu tidak dapat dimuat dalam satu volume. Halaman yang diizinkan untuk setiap volume ada batasnya. Jadi, mungkin ada kalanya sebuah arc akan mencakup beberapa volume, tetapi aku harap kalian mengerti.

Digabungkan dengan invasi ke Rohzenheim dan pencurian kapal suci di Alam Surgawi, kita mulai mendapat sedikit gambaran tentang apa yang direncanakan oleh Pasukan Raja Iblis. Bagaimana Pangeran Mahkota Beast Beku akan terseret ke dalam urusan Pasukan Raja Iblis? Alangkah baiknya jika kalian juga mengikuti cerita-cerita sampingan sampai akhir. Tolong terus nantikan pertarungan Allen melawan Pasukan Raja Iblis.

Sekarang, sepertinya kata penutup ini sudah menjadi kebiasaan untuk melihat ke masa laluku. Terus terang saja, aku sebenarnya hanya mencoba memenuhi jumlah kata di sini, tetapi alangkah baiknya jika kalian membaca sambil berpikir, “Sial, orang seperti dia bisa menulis novel?”

Ini adalah kisah ketika aku, Hamuo, memasuki tahun kesepuluhku di sebuah perusahaan. Aku merasa usia asliku mungkin akan segera terungkap (wkwk). Awalnya, aku bisa pergi bekerja dari rumahku, dan aku tidak punya alasan untuk meninggalkan rumah orang tuaku, tetapi dalam beberapa tahun, aku dipindahkan ke perusahaan yang berbeda. Perusahaan yang cukup besar pula.

Sekitar tahun ketiga kerjaku, aku pikir aku akan diusir dari perusahaanku, tetapi ternyata aku memiliki cukup keterampilan sosial untuk mempertahankan pekerjaanku. Aku dipindahkan ke luar prefektur beberapa kali sebelum akhirnya kembali ke kampung halamanku, dan ketika itu terjadi, yang mengejutkan bukanlah fakta bahwa ibuku menolak membiarkanku pindah kembali ke rumah. Benar sekali, aku tidak memiliki pola pikir “Wah! Biar aku tidak perlu bayar sewa kalau aku kembali ke rumah!” Aku berdiri di atas kakiku sendiri dan menjadi mandiri. Ta-da! Jadi tidak ada yang bisa memarahiku karena menghabiskan bonusku untuk game gacha.

Setahun setelah aku pindah kembali ke kota tempatku dibesarkan, aku mendapat panggilan telepon dari ayahku. “Hei, kita akan mencari rebung bulan depan,” kata beliau.

“Oh ya, Ayah sudah bilang hal seperti itu padaku bulan Desember,” jawabku. “Boleh juga.”

Setelah ayahku pensiun dari perusahaan tempatnya bekerja begitu lama, beliau mulai menikmati hobi-hobinya. Beliau mungkin punya cukup banyak daftar hal yang ingin dilakukan setelah pensiun. Sebagai permulaan, beliau menyewa ladang di dekat rumah dan mulai sering mengunjunginya. Beliau juga menyewa sebagian gunung yang ditumbuhi hutan bambu dan biasa mencari rebung di sana. Aku khawatir membiarkan beliau pergi ke pegunungan sendirian, jadi aku ikut menemani.

“Wah, Ayah beli mobil baru ya?” tanyaku saat aku sedang menunggu di depan stasiun.

Ayahku keluar dari kendaraan yang tidak familier. “Yups. Di usia seperti ini, aku tidak tahu berapa tahun lagi sisa uspaku untuk menyetir mobil yang kuinginkan, jadi aku putuskan untuk beli yang baru saja.”

Aku tidak ingat jenis kendaraannya, tapi aku ingat warnanya ungu mencolok.

“Hah…” kataku.

Sudah cukup lama sejak terakhir kali aku menghabiskan waktu berdua saja dengan ayahku, dan kami membicarakan cukup banyak hal. Dan meskipun kami harus sedikit bernostalgia dan berbagi kabar, akhirnya kehabisan bahan obrolan juga. Jika ada orang lain yang berencana menyewa hutan bambu, saranku pilihlah lokasi yang lebih dekat. Ayahku tertarik pada segala macam kejadian dalam hidupku, tetapi salah satu hal besar yang ditanyakannya adalah pekerjaanku.

“Hamuo, kamu sudah jadi kepala subseksi belum?” tanya beliau.

“Belum, belum,” jawabku. Aku ingin meminta maaf karena menjadi anak yang tidak bisa dipromosikan, tetapi aku ingin dipuji karena bisa bertahan selama satu dekade. “Kapan Ayah diangkat jadi kepala subseksi?”

“Tiga puluh tujuh.”

Aku bekerja di industri yang sama dengan ayahku, dan sepertinya beliau sedikit penasaran dengan kenaikan pangkatku. Beliau bilang beliau menjadi kepala subseksi saat usianya tiga puluh tujuh tahun, dan usiapu sekitar tiga puluh lima tahun saat kami mengobrol seperti ini… kurasa. Dan aku bahkan belum menulis novel saat itu. Dulu, ayahku bahkan tidak pernah bermimpi kalau aku akan menulis novel. Aku juga tidak.

“Apakah pekerjaanmu tidak berjalan dengan baik?” tanya beliau.

“Kurasa semuanya berjalan normal saja. Aku akan bersabar,” jawabku.

“Begitu ya. Yah, kamu harus mendengarkan perintah atasanmu.”

“Ya.”

Usia-ku sudah tiga puluh lima tahun dan masih saja diceramahi oleh orang tuaku. Perjalananku masih sangat panjang, dan aku merenungkan perbuatanku. GPS mobil menunjukkan sebuah restoran di dalam perjalanan menuju hutan bambu.

“Tempat ini terkenal,” kata ayahku. “Mari kita makan ramen dulu sebelum kita pergi mencari makan.”

“Baiklah.”

“Jangan beri tahu Ibumu. Dia akan marah karena makanan seperti ini tidak baik untukku.”

“Baiklah.”

Ayahku sangat menyukai mi, dan konon beliau cukup sering mengunjungi tempat ramen ini ketika pergi mencari rebung. Karena sudah memasuki usia pensiun dan hidup dengan hemat, tubuhnya menjadi agak kurus, dan kedai ramen ini mungkin menjadi salah satu dari sedikit kebahagiaannya dalam hidup. Mi yang lembut itu kurang begitu kuukai—aku lebih suka mi yang punya tekstur lebih kenyal—tetapi itu adalah kenangan yang indah. Beliau menyuruhku untuk merahasiakannya dari ibuku, dan aku melakukannya, tapi aku pikir aku bisa memasukkannya ke dalam kata penutup ini. Bagaimanapun juga, kami mendapatkan tenaga kembali setelah menyantap makanan tersebut dan meluncur ke pegunungan untuk acara utama kami.

“Hah? Jangan sampai jatuh,” memperingatkanku. “Aku bahkan tidak bisa melihat jalan melalui jendela.”

Jalanannya begitu sempit sehingga ketika aku mengintip ke luar jendela, aku hanya bisa melihat kemiringan tebing. Sedikit saja terpeleset dan kau akan langsung menggelinding ke bawah gunung.

“Cih, jangan khawatir,” jawab ayahku.

Aku merasa ada banyak hal yang harus dikhawatirkan, dan aku masih bisa mengingat jalur pegunungan yang berbahaya itu.

“Baiklah, bisakah kau mengambil sekop dan sarung tangan dari bagasi belakang?” tanya beliau.

“Tentu.”

Merasa bahwa aku harus melakukan pekerjaan berat, aku mengeluarkan sekop, sarung tangan, dan sebuah keranjang besar. Aku merasa sudah menjadi tugasku untuk mengisi keranjang ini dengan rebung, jadi aku memejamkan mata dan mengambil napas dalam-dalam, lalu keluar dari mobil dan mulai menggali. Beliau ingin membagikannya kepada para tetangga juga, jadi kami ingin menggali sekitar sepuluh rebung.

Rebung-rebung itu menyembulkan pucuknya di antara semak-semak dan rumpun bambu. Begitu kau menguasai caranya, rebung-rebung itu sangat mudah ditemukan. Aku lebih menyukai rebung daripada jamur.

“Bagus! Kau dapat yang besar,” puji ayahku.

“Ya,” kataku sambil terengah-engah dengan suara keras. “Fiuh, ini melelahkan.”

Ayahku melakukan sedikit tarian kegirangan melihat ukuran rebung tersebut, dan aku berusaha setengah mati mengatur napas sambil menyelipkan keluhan. Rumput dan batang-batang pohon menghalangi, dan tanahnya sulit untuk digali. Usaha yang dikeluarkan sepertinya tidak sebanding. Mungkin akan jauh lebih murah jika membelinya saja di toko kelontong. Kuharap semua orang bisa menikmati hobi yang lebih santai setelah pensiun dan tidak menyeret anak-anak mereka untuk melakukan pekerjaan berat.

Sekarang setelah aku mencapai jumlah kata yang kuinginkan, aku akan menyudahinya untuk hari ini. Selanjutnya adalah volume 9, yang merupakan volume terakhir sebelum mencapai nomor volume dua digit. Berapa lama Hell Mode akan terus berlanjut? Aku akan sangat senang jika kalian menantikan kelanjutan berikutnya. Versi manga juga terus berjalan lancar. Mohon terus dukung itu juga. Sampai jumpa lagi!

Daftar Isi

Komentar

guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted