Shinwa Densetsu no Eiyuu no Isekaitan Volume 4 Prolog Bahasa Indonesia





Prolog
Jumlah mayat yang memuakkan berserakan di medan perang. Asap hitam mengepul ke angkasa dari pohon-pohon yang hangus, menutupi langit. Bau sengit karat yang membara memenuhi udara.
“Yaaah!”
Di tengah pemandangan neraka itu, seorang gadis berambut merah menari. Di setiap putarannya, dia menebar bau busuk kematian yang tertinggal; di setiap loncatannya, dia mengayunkan pedang untuk membelah mimpi buruk itu menjadi dua. Setiap sabetannya melahirkan jeritan kesakitan, kemarahan, dan segala jenis kebencian yang bisa dibayangkan. Namun, tidak peduli berapa banyak prajurit yang dia tebas, tidak peduli seberapa tinggi tumpukan mayat, keputusasaannya tak kunjung usai. Dengan napas tersengal-sengal, dia menancapkan bilah pedangnya yang membara ke tanah.
“Jadi begini rasanya benar-benar terdesak di ujung tanduk.”
Dia melihat sekeliling, tetapi tidak ada satupun wajah ramah yang terlihat. Jalan mundur mereka sudah lama terpotong. Para pengikutnya telah berdiri bersamanya hingga titik darah penghabisan, tetapi mereka tewas semuanya. Sekarang, dengan sisa tenaga yang hampir habis, dia hampir tidak memiliki harapan untuk lolos dari kepungan musuh yang semakin mendekat.
Saat penglihatannya mengabur oleh darah, dia mengangkat pandangannya ke langit dan mengatupkan rahangnya dengan penuh tekad.
“Tapi aku tidak boleh menyerah. Aku sudah bersumpah padanya bahwa aku akan menemuinya lagi.”
Jarinya kembali menggenggam gagang pedang saat dia mengingat janji yang telah dia buat kepada anak laki-laki berambut hitam itu. Saat mereka bertemu lagi nanti, dia akan menunjukkan kepadanya seberapa jauh dia telah berkembang. Itulah sumpahnya. Dia tidak akan goyah di sini. Dia tidak boleh.
Ujung bilah merahnya menyabet ke samping, memperingatkan para musuh yang mendekat agar menjauh.
“Kalau begitu, majulah. Bukan di sini tempatku mati.”
Jika mereka memotong kedua lengannya, dia akan tersandung. Jika mereka mengambil kedua kakinya, dia akan merangkak. Namun, dia akan mencapainya, dengan satu cara atau lainnya. Dia akan kembali ke tempat pria itu menanti dan melihatnya tersenyum lagi.
Dengan penuh tekad dan keberanian, dia mengangkat pedangnya dan menatap langsung ke mata para musuhnya.
“Aku akan baik-baik saja. Ini bukan akhirnya!”
Wajah pria itu melintas di benaknya, dan sambil tersenyum, dia menerjang maju—menuju hutan tombak dan melewatinya, demi pria itu. Mata merahnya menyala dengan tekad yang tak tergoyahkan saat dia menerjang ke tengah gerombolan yang mendekat. Dia hampir tidak perlu melihat ke mana dia mengayunkan pedangnya; tebasannya akan tetap tepat sasaran meski dia buta. Sebuah tebasan tunggal membuat darah tersemprot melintasi dataran. Jeritan membubumbung ke langit. Pedangnya berpijar terang untuk mencerminkan tekadnya, bilah merah mudanya memuntahkan api neraka.
Saat dia merangsek menembus para prajurit, kedatangan seseorang yang baru ke medan perang menarik perhatiannya. Dia berhenti.
“Eh?”
Tabuhan genderang menggema dari segala penjuru. Barisan musuh berdengung penuh antisipasi. Sorak-sorak mereka mengguncang bumi dan hentakan kaki mereka bergemuruh di lubuk hatinya. Lautan manusia itu terbelah, dan dari celah tersebut melangkah sesosok kesatria wanita.
“Aku memuji keteguhanmu,” seru wanita itu, “bahkan di tengah kekalahan.” Suaranya terdengar jernih dan tegas menembus raungan di sekeliling mereka. “Tetapi kau hanya sendirian melawan banyak orang. Saatnya telah tiba untuk mengakhiri pertunjukan ini.”
Dengan senyuman yang anggun bagaikan seorang santa, dia mengacungkan tombak birunya dalam putaran satu tangan yang mahir. Ayunannya menghancurkan bumi. Setiap gerakan gemulainya mengirimkan gelombang kejut, mencuatkan debu dan bebatuan di sekitarnya. Kehadirannya begitu luar biasa hingga udara itu sendiri terasa tertekan oleh beratnya.
“Pandangan lurus ke depan. Jangan berpaling.”
Suara ledakan tertahan mengguncang udara.
“Atau kau akan mati.”
Seketika itu juga, sang kesatria sudah berada sangat dekat. Gadis berambut merah itu mengangkat pedangnyanya dalam posisi bertahan yang terburu-buru, tetapi meskipun berhasil ditangkis, hantaman itu menembus tubuhnya.
“Agh!”
“Bagus,” ucap wanita itu. “Namun, kau tetap saja telah membuat kesalahan.”
Terlambat, gadis itu menyadari hawa dingin ganas yang mencakar kulitnya, merasakan angin glasial dari ujung tombak yang mengikis pertahanannya. Matanya membelalak saat pedangnya yang membara mulai membeku.
“Kau pikir begitu, ya?!” Dia merangsek maju, mendorong lawannya menjauh, dan menebas dengan seluruh tenaganya. “Baiklah, akan kuperlihatkan padamu!”
Tidak peduli betapa teguh hatinya, tidak peduli betapa mulia tekadnya, dipaksa berada di posisi terpojok sangat memengaruhi kelihaian pedangnya. Meskipun demikian, dia bertarung dengan gagah berani. Hawa dingin yang terpancar dari tombak biru itu membekukan keringat di dahinya, dan bibirnya pecah hingga berdarah, tetapi dia terus mendesak maju.
“Kau bertarung dengan baik. Tapi kau tidak akan bisa melangkah lebih jauh.”
“Ngh!”
Hanya satu embusan napas yang menjatuhkannya, jeda singkat antara satu serangan dan serangan berikutnya. Fitur wajahnya yang elok terpahat kesakitan saat tombak itu merobek dagingnya.
“Guh!”
Tombak itu menyerang lagi, kali ini menembus bahunya. Semburan darah memuncrat di belakangnya.
“Sekarang kau sudah selesai.”
Ksatria wanita itu menancapkan tombaknya ke tanah dan mengangkat satu tangan. Pasukan musuh berhamburan maju, berebut mengambil kesempatan mumpung ada. Pedang merah darah gadis itu berpendar, merasakan bahaya, tetapi hawa dingin dari tombak biru itu membuyarkan cahayanya.
“Belum… Aku belum…”
Kehendak yang membara masih menyala di matanya, tetapi dia tidak punya kartu lagi untuk dimainkan, tidak ada cara untuk membela diri dari badai kekerasan itu.
“Hiro…”
Saat musuh-musuhnya menerkamnya, dia menggapai tangan anak laki-laki itu, tetapi tidak ada harapan yang menaunginya dan dia ditelan oleh kerumunan.
Komentar