Shinwa Densetsu no Eiyuu no Isekaitan Volume 3 Cerita Pendek Bonus Bahasa Indonesia
Cerita Pendek Bonus
Tarian Bersama Sang Putri Amethyst
“Terima kasih sudah datang.”
Claudia tampak sangat memukau dalam balutan gaun putihnya. Di sekelilingnya, melodi yang menggelegar, tempo yang agung, dan obrolan damai berkuasa dengan lembut di aula besar.
“Sama-sama.” Hiro mengangguk sebagai pengakuan. “Aku yang seharusnya berterima kasih karena telah mengundangku.”
Dia melemparkan senyuman kepadanya. “Pangeran keempat kekaisaran seharusnya tidak begitu sungkan.”
Maksud tersiratnya sudah jelas—statusmu jauh melampaui milikku—tetapi bagi Hiro, posisinya tidak memiliki makna di luar kekaisaran.
“Ini adalah Lebering, Yang Mulia,” ujarnya. “Anda memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada saya di sini.”
Alisnya bertaut karena tidak puas. “Dan Lebering berada di bawah naungan Kekaisaran Grantz. Kedudukan kita bagaikan langit dan bumi.” Sebuah bayangan merayapi fitur wajahnya yang mungil.
“Jika kamu berkata begitu. Tapi mari kita lupakan semua itu untuk malam ini.”
Hiro memutuskan untuk tidak berlama-lama membahas topik itu lagi. Segala upaya untuk mengangkat suasana hatinya tampak ditakdirkan untuk gagal.
Sesuatu bergeser di tengah kerumunan, dan dia menoleh. Di tengah aula, para bangsawan meraih tangan para wanita mereka dan mulai berdansa.
“Pernahkah Anda berdansa, Lord Hiro?” tanya Claudia.
“Sepertinya aku tidak menjalani kehidupan yang mengajarkan hal semacam itu. Aku mungkin akan tersandung oleh kakiku sendiri.”
Seribu tahun lalu, dia telah menghabiskan seluruh waktunya di garis depan, dan bahkan sekarang, dia baru menjadi pangeran keempat selama beberapa minggu. Dia tidak memiliki banyak pengalaman menghadiri perjamuan dan pesta berdansa.
“Kenapa Anda tidak membiarkan saya mengajari Anda?”
Claudia mengulurkan tangan. Hiro ragu-ragu sejenak, tetapi akhirnya mengalah. Akan lebih sopan jika dia meladeninya.
“Aku memperingatkanmu, aku tidak berbohong. Aku akan menjadi pasangan yang buruk.”
“Tidak apa-apa. Tidak masalah apakah Anda bisa mengikuti langkahnya, yang penting Anda menikmati dansanya.”
Dia menuntun Hiro ke tengah aula. Saat mereka mengambil posisi, para bangsawan di sekitar mereka mundur untuk memberi ruang. Semakin banyak yang mulai berkumpul di tepi, ingin sekali melihat putri mereka berdansa dengan pangeran keempat.
“Hiraukan saja tatapan mereka.”
Sambil memamerkan senyuman yang memancar, dia menempelkan tubuhnya ke tubuh Hiro. Bahkan gerakan kecil itu memancing sorak-sorai dari kerumunan. Hiro merasa ciut karena malu, tetapi seorang bangsawan dengan kedudukannya tidak boleh memperlihatkannya. Yang bisa dia lakukan hanyalah mempercayai penilaian Claudia.
“Sekarang, letakkan tanganmu di pinggangku.” Suaranya bagaikan madu di telinganya.
Hiro melakukan apa yang diminta, melingkarkan tangan kirinya di pinggul wanita itu. Dia menggenggam tangan kiri Claudia dengan erat menggunakan tangan kanannya, membuat tubuh mereka semakin berdekatan.
“Mari kita coba bergerak. Ikuti saja pimpinanku.”
“Akan kucoba,” kata Hiro dengan ragu-ragu.
Dengan rahang mengeras, dia melakukan yang terbaik untuk menyamai gerakan Claudia, dan pasangan itu mulai berdansa. Mereka menyelaraskan langkah mereka dengan orkestra, sebuah luncuran senyap yang diselingi oleh ledakan keberanian yang tiba-tiba.
“Siapa pun akan mengira kau pernah melakukan ini sebelumnya.” Claudia terkikik. Tatapannya menjadi lembut.
“Apa kau yakin? Rasanya aku hampir tidak bisa mengikutinya.”
“Cukup yakin. Tapi, apakah benar-benar mengherankan jika keturunan Dewa Perang unggul dalam hal apa pun yang ia tekuni?”
Kaki mereka menelurkan langkah-langkah gesit saat gerakan mereka semakin lama semakin liar. Para bangsawan memerhatikan dengan takjub dari segala sisi sementara tempo tarian mereka berganti-ganti antara ketenangan yang damai dan ketergesaan yang penuh gairah.
“Tidakkah kau berharap saat-saat seperti ini bisa berlangsung selamanya?” Bisikan Claudia terdengar terengah-engah karena kelelahan berdansa, dan justru semakin memikat karenanya.
“Apa kau tahu kenapa kita menciptakan waktu?” tanya Hiro.
Dia memiringkan kepalanya dengan kebingungan. “Supaya kita bisa bekerja dengan lebih efisien, kurasa.”
“Supaya kita bisa merasakan waktu itu berlalu. Kita menghitungnya dengan jam untuk mengingatkan diri kita agar tidak menyia-nyiakannya.” Dia menggenggam pinggang Claudia sedikit lebih erat, menariknya lebih dekat. “Menghitung waktu menghubungkan kita dengan masa lalu. Itu membantu kita mengenang hari tertentu, momen tertentu.”
Bibir mereka mendekat hingga nyaris bersentuhan. Jurang tak bertepi di mata Hiro menatap lekat ke dalam mata Claudia.
“Dan waktu membentuk masa depan. Masa lalu adalah jembatan antara masa kini dan apa yang akan datang.”
Tepuk tangan bergemuruh di sekeliling mereka. Claudia menatap balik Hiro, pipinya merona merah.
“Atau setidaknya itulah yang kupikirkan. Itulah mengapa kita menghargai waktu yang kita miliki. Mengapa kita menyayangi momen-momen yang kita bagi ini.” Hiro melangkah mundur dengan membungkuk penuh gaya. “Terima kasih atas waktu Anda, Yang Mulia. Merupakan suatu kehormatan bisa menghabiskannya bersama Anda.”
“Sama sekali tidak,” jawab Claudia. “Kamu telah menjadi teman bicara yang sangat menyenangkan.”
Dia menempelkan kedua tangannya ke pipinya dan mengalihkan pandangannya, mencoba namun gagal menyembunyikan rona merahnya.
Pertemuan Pertama dengan Huginn
Berakhirnya pertempuran di Lichtein menandai periode ketenangan di Benteng Berg. Hari itu kembali damai, dan Hiro sedang mengurung diri di ruang kerja. Tiba-tiba, pintu terbuka dengan benturan keras yang bisa membuat orang dewasa pun meringis. Serpihan kayu berhamburan ke seluruh ruangan sementara debu mengepul dari pintu.
“Kembalikan bosku! Dan juga kakakku yang bodoh itu!”
Seorang wanita berdiri di kusen pintu, memegang busur yang sudah ditarik.
“Maaf,” kata Hiro, kebingungan, “tapi siapa kamu?”
Alisnya terangkat karena marah. “Namaku Huginn, letnan Tentara Pembebasan!”
“Huh,” kata Hiro. Dia memgambil selembar kertas di mejanya—daftar tawanan perang Legiun Keempat—dan memindainya. “Apa kamu yakin? Aku tidak melihat namamu di sini.”
“Tentu saja, karena aku tidak ada di sana! Pasuganku sedang pergi mengurus urusan lain saat kalian menangkap yang lainnya.”
Rupanya, dia telah ditugaskan untuk memantau Azbakal, mengamati pergerakan kadipaten, ketika komunikasi dari “sang bos”—yang diasumsikan Hiro sebagai Garda—telah terputus. Merasakan ada sesuatu yang tidak beres, dia telah menghentikan kegiatan pengintaiannya dan mencoba bergabung kembali dengan pasukan utama, tetapi semuanya sudah terlambat. Tentara Pembebasan telah dikalahkan dan pasukan kadipaten telah menyerah.
“Aku sudah berusaha membebaskan yang lainnya sejak saat itu, tetapi kalian para imperial menjaga dengan ketat. Kalian hebat, aku akui itu!” Dia mendelik ke arah Hiro sedetik, menggeretakkan giginya karena kesal, sebelum gelombang keterkejutan melintas di wajahnya. “Argh! Aku ke sini bukan untuk memuji kalian! Kembalikan saja bos dan saudaraku yang bodoh itu padaku!”
Hiro hanya bisa kagum pada berbagai macam ekspresinya yang mengesankan. Sayangnya, yang bisa dia tawarkan kepadanya hanyalah senyuman menyesal. Garda telah setuju untuk bertindak sebagai letnannya, jelasnya, dan sebagian besar pemberontak yang tergabung dalam Tentara Pembebasan kini menjadi prajurit yang bekerja untuknya.
Huginn memiringkan kepalanya. “Eh? Bekerja? Maksudmu kalian tidak merantai mereka?”
“Mereka adalah tentara bayaran berpengalaman dan aku membutuhkan orang. Aku menerima siapa pun yang secara sukarela bergabung.”
“Lalu, bagaimana dengan aku?”
“Ada apa denganmu? Kamu bukan tawananku.”
“Jadi, apa yang harus kulakukan?”
“Kembali menjadi tentara bayaran, kurasa. Atau kamu bisa bergabung dengan yang lainnya di bawahku. Terserah padamu.”
“Baiklah! Setuju!”
“Jangan terburu-buru. Aku tahu ini ideku, tapi kamu harus tunjukkan padaku kalau kamu bisa bertarung—”
Sebelum Hiro sempat menyelesaikan kalimatnya, Huginn melepaskan tali busurnya. Apa dia sudah gila?! Hiro menghindari anak panah yang meluncur ke arahnya, memanggil senjata roh, dan mendekatinya.
“Apa—?!”
Huginn mencoba menjaga jarak di antara mereka, tetapi dengan menggunakan senjata jarak jauh di ruangan kecil, dia sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk menangkis Hiro. Hiro dengan mudah menyelinap ke belakangnya, ke titik butanya.
“Ini sudah—”
Tepat saat Hiro yakin dia telah menang, kaki Huginn melesat dengan suara angin ke arah kepalanya. Tendangan putar itu benar-benar membuatnya lengah, dan dia hanya sempat mengangkat lengannya tepat waktu untuk menahan hantaman yang kuat itu.
“Terkadang busur tidak berguna,” Huginn menyeringai, “makanya aku belajar bertarung dengan tinjuku!”
Dia berbalik menyerang Hiro dengan rentetan pukulan secepat peluru. Sambil menghindar dengan lihai dari pukulan-pukulan itu, Hiro mau tidak mau merasa kagum. Dia kuat—cukup kuat untuk menghadapi petarung biasa dalam jumlah banyak. Pada akhirnya, rentetan serangan itu memberinya cukup celah untuk melompat mundur dan meluncurkan anak panah.
“Bagus sekali. Kamu lulus.” Hiro menghentikan kejarannya, memukul jatuh anak panah dari udara, dan melemparkan senyuman kepada Huginn.
Rahang Huginn jatuh menganga. “Apa kamu baru saja…? Dengan pedang berdarah?!”
“Mungkin aku sedikit menyembunyikan kebenaran tadi. Garda dan Muninn memang sempat menyebutkan tentangmu, sebenarnya. Mereka mengkhawatirkanmu. Mereka bilang ingin aku merekrutmu jika ada kesempatan.”
Dia tidak langsung menyetujuinya. Jika dia hendak mempekerjakan seseorang, dia harus memastikan bahwa orang tersebut bisa diandalkan—terlebih lagi jika itu perempuan.
“Tapi kamu sudah lebih dari sekadar membuktikan kemampuanmu,” lanjut Hiro. “Kamu bisa bergabung dengan para rekrutan baru besok. Untuk sekarang, temui Garda dan Muninn dan…”
Ucapannya terhenti ketika dia melihat Huginn sedang menatap tanah. Kedua bahunya bergetar aneh.
“Ada apa?” tanya Hiro. “Kamu kedinginan?”
Akhirnya, dia mengangkat kepalanya. “Mana ada orang yang menebas anak panah di udara?!” serunya sambil melancarkan rentetan tembakan ke arah Hiro.
“Tunggu sebentar—!”
“Tuh! Kamu melakukannya lagi! Argh, biarkan aku mengenai sasaran sekali saja!”
Permintaan itu sedikit tidak masuk akal mengingat dia menembak untuk membunuh. Satu tembakan saja bisa membuatnya tewas seketika. Yang membuat Hiro cemas, gadis itu malah mulai menangis.
“Waaah! Biarkan aku memukulmu, kau pria kasar! Aku akan membuatmu berdarah sebelum aku selesai! Lihat saja nanti!”
Pertandingan tanding mereka berlanjut hingga matahari terbenam, tujuan awal mereka sudah lama terlupakan.
Liz, Rosa, dan Cincin Itu
“Sudah sewajarnya aku yang mengambilnya. Usiaku lebih darimu.”
“Kalau begitu, jangan bersikap egois. Traktir adik kecilmu ini.”
Liz dan Rosa saling memelototi satu sama lain di atas cincin dan kalung yang diletakkan di atas meja. Hiro memerhatikan dari sebuah kursi di dekat dinding.
“Dia sudah memberimu gelang itu, bukan?”
“Memang sudah, tapi… itu kan hal yang berbeda!” Suara Liz terdengar membela diri, namun dia tetap menyembunyikan lengannya ke belakang punggung dengan rasa bersalah.
Rosa mendengus. “Jika kamu benar-benar percaya akan hal itu, kamu tidak akan menyembunyikannya. Kamu mendapat gelang dan aku mendapat cincin, bukankah itu adil?”
“Tidak, tidak adil! Kalung itu jauh lebih cocok untukmu!”
Rosa mengulurkan tangan untuk mengambil cincin itu, tetapi Liz menepis tangannya, mendesis seperti kucing liar. Hiro, yang tadinya menonton pertengkaran mereka dalam diam, terlambat menyesal karena tidak membeli dua cincin.
“Kamu selesaikan ini, Hiro,” tuntut Liz. “Siapa yang harus mendapatkannya?”
“Setuju.” Rosa mengangguk. “Kamu harus memilih salah satu dari kami.”
“Ehm… tahu tidak, aku sebenarnya tidak terlalu memikirkan hal ini, jadi…” Tatapannya beralih ke samping.
Liz menolak menerima gumamannya sebagai jawaban. “Diam saja dan cepat pilih salah satu dari kami!” katanya, mengarahkan jari yang tidak sabar ke arahnya sambil condong ke depan untuk menatap matanya.
“Kurasa maksudku adalah, aku sebenarnya tidak keberatan… Ha ha…”
Rosa menghela napas. “Bagaimana bisa kamu begitu tegas dalam urusan kebijakan, tetapi tidak bisa tegas sama sekali dalam urusan percintaan?”
Hiro hanya bisa mengatakan bahwa dia berada di luar batas kemampuannya. Perasaan pribadi tidak punya tempat di medan perang; di sana, dia mengeraskan hatinya dan melakukan apa yang harus dilakukan. Tidak ada ruang untuk keraguan. Namun, ini adalah jenis persaingan yang sepenuhnya berbeda. Memberikan cincin itu kepada Liz akan memperburuk suasana hati Rosa, yang bisa jadi bumerang baginya, mengingat betapa bergantungnya dia pada dukungan Rosa. Sementara itu, memberikannya kepada Rosa akan membahayakan hubungannya dengan Liz dan bahkan dapat memengaruhi kinerjanya di medan perang. Bahkan para kaisar pun telah menghancurkan diri mereka sendiri saat mencoba memahami hati wanita. Hiro harus memilih dengan hati-hati, penuh pertimbangan, dan tegas, atau dia akan mengalami nasib yang sama seperti pendahulunya.
Dia mengusap dagunya sambil mengamati pasangan itu. Apa yang harus dilakukan? Mata Liz benar-benar berteriak “Pilih aku!”—dia pasti akan merajuk jika ditolak, dan itu bisa menimbulkan segala macam masalah di kemudian hari. Sementara itu, Rosa mengambil pendekatan yang menggoda, menyilangkan tangannya untuk menonjolkan dadanya yang bidang. Sekilas, dia tampak lebih tenang daripada saudaranya, tetapi senyumnya sama sekali tidak sampai ke matanya. Sama seperti Liz, membuat punggung Hiro merinding saat memikirkan bagaimana cara Rosa membalas dendam jika ditolak.
Setelah keputusannya diambil, dia menarik napas dalam-dalam.
“Begini saja. Bagaimana kalau kalian bergiliran?”
Terjadi keheningan sesaat, dan kemudian kedua putri mengembuskan napas berat. Hiro tidak bisa menyalahkan mereka karena merasa tidak puas, tetapi itulah tujuannya—lebih baik mereka berdua memutar bola mata daripada memilih salah satu dan membuat yang lain mengincar lehernya. Dia tidak sedang lari dari masalah; ini adalah langkah yang diperlukan dalam rencananya. Hal itu perlu diulangi: dia tidak lari.
Sisa dari rencana tersebut berjalan seperti ini: Pertama, dengan menarik diri dari perdebatan, dia akan mengadu domba mereka satu sama lain. Begitu mereka menyelesaikan masalah di antara mereka sendiri, dia akan turun tangan untuk merampungkan segalanya dengan rapi. Setelah itu, mereka bertiga bisa melupakan semua ini dan pergi ke perjamuan tanpa ada perasaan benci.
“Dia tidak berguna. Mari kita tentukan ini sendiri.” Liz bertinju dengan ruang kosong. Kepalan tangannya mengeluarkan suara desiran saat membelah udara.
Rosa menjadi pucat. “Kakak tersayang, kamu sepertinya sedang mengundangku pada kematianku.”
Sulit untuk menyalahkan rasa gentarnya. Rosa mungkin memiliki sedikit pelatihan bela diri, tetapi Liz memiliki berkah Spiritblade. Pertarungan mereka tidak akan menjadi sebuah kompetisi yang seimbang.
“Lalu, bagaimana kamu akan menyelesaikannya?”
“Menurutku kita biarkan para Dewa yang memutuskan.” Rosa memamerkan senyuman lebar sambil mengeluarkan koin emas. “Satu lemparan. Angka, aku menang; gambar, kamu menang. Apakah itu terdengar adil?”
Liz mengangguk patuh. Rosa melengkungkan jemarinya seolah sedang memegang kendi bir dan meletakkan koin itu di atasnya.
Jadi mereka juga melempar koin di Aletia, pikir Hiro.
Dengan bunyi dentingan tajam, kepingan logam itu berputar ke udara. Koin itu turun kembali dan mendarat di tangan Rosa.
“Gambar.” Dia tersenyum. “Sepertinya aku menang.” Dengan senyum penuh kemenangan, dia mengambil cincin itu. Liz melihatnya dengan perasaan kecewa.
Merasa waktunya sudah tepat, Hiro turun tangan. “Aku senang masalah itu sudah beres. Ayo, kita masih harus bersiap-siap untuk jamuan makan.”
Liz bangkit berdiri tanpa berkata-kata dan mendorongnya keluar kamar. Hiro menoleh ke belakang dengan bingung tepat saat pintu dibanting menutup di depan wajahnya.
“Pergi dan renungkan apa yang sudah kamu perbuat,” terdengar suara dari balik pintu. “Dan belajarlah membuat keputusan selagi kamu melakukannya.”
“Baik, Nona. Maaf, Nona.”
Kemarahannya bahkan memancar menembus pintu, membuatnya gemetar seperti anak anjing yang basah kuyup karena hujan.
Seorang Pria Bernama Lox
“Perang ini akan segera mencapai akhirnya, Rajaku.” Suara dalam itu berbicara kepada kereta tanpa atap. “Apa yang akan Anda lakukan begitu perang ini selesai?”
“Begitu selesai?” tanya anak laki-laki di dalam dari tempat duduknya di sofa.
“Benar. Sebentar lagi kita akan mendapatkan kedamaian yang selama ini kita perjuangkan.” Lox van Lebering mengalihkan mata almondnya ke langit. Tidak ada awan yang mencoreng kebiruan langit. Sinar matahari menghujani dataran, tempat bunga-bunga liar bergoyang dengan puas di dalam angin sepoi-sepoi. “Bagaimanapun mereka berjuang, mereka tidak bisa menghentikan kita sekarang.”
Dia menunduk kembali tepat pada waktunya untuk menangkap mata hitam anak laki-laki itu yang menatap ke kejauhan sejenak sebelum kembali menunduk dengan tenang.
“Kalau begitu aku telah menunaikan tujuanku,” kata anak laki-laki itu. “Aku akan membubarkan Legiun Gagak dan membubarkan Tangan Hitam.”
Lox tadinya berniat menanyakan rencana anak laki-laki itu untuk dirinya sendiri, bukan pasukannya, tetapi dia tahu lebih baik untuk tidak mendesak hal itu. Penyelidikan lebih lanjut hanya akan dibelokkan. Sambil menghela napas, dia menerima jawaban itu apa adanya.
“Dan itu sudah memuaskanmu? Bahkan begitu kobaran api perang tidak lagi mengamuk, bara apinya masih akan membara. Kamu masih akan dibutuhkan.”
“Zaman yang akan datang membutuhkan negarawan, bukan jenderal. Masa damai tidak memiliki kegunaan apa pun untuk orang-orang militer seperti kita. Kita hanya akan menghalangi.”
Lox mengangguk penuh pertimbangan. Cukup benar, bukan kekuatan yang akan membangun era berikutnya, melainkan tekad untuk meredakan kesusahan rakyat, melihat tanah makmur, menjangkau bangsa-bangsa lain dalam persahabatan, dan membangun perdamaian yang langgeng. Apa yang dulunya hanya angan-angan perlahan-lahan menjadi kenyataan, tetapi harganya adalah meninggalkan sejumlah besar prajurit tanpa tempat tujuan. Perang telah mencengkeram negeri ini untuk waktu yang sangat, sangat lama. Sedikit sekali orang bahkan yang ingat seperti apa kedamaian itu. Para pria yang hanya mengenal pertempuran akan kesulitan untuk eksis di dunia tanpa pertempuran, apalagi menemukan kesuksesan di sana.
Kekhawatiran Lox pasti terlihat di wajahnya, karena anak laki-laki itu tersenyum kecut. “Yah, aku yakin semuanya akan baik-baik saja pada akhirnya. Lagipula, itulah yang telah kita perjuangkan.” Dia berhenti sejenak. “Jadi, apa yang akan kamu lakukan begitu perang ini selesai?”
Lox ragu-ragu. “Saya berniat membangun negara saya sendiri, Rajaku. Sebuah negeri yang bebas dari diskriminasi, di mana semua orang dapat bergandengan tangan sebagai satu kesatuan.”
“Kamu berniat meninggalkan kekaisaran?” Alis anak laki-laki itu terangkat karena terkejut.
Lox mengangguk dengan rasa tidak enak. “Saya berniat demikian.”
Dia mengira akan mendapat ceramah. Sebaliknya, dia menerima senyuman yang menyemangati.
“Selama kamu tidak akan menyesalinya. Posisi yang kamu miliki terlalu besar untuk dibuang begitu saja.”
“Tekad saya sudah lama bulat. Ini telah menjadi impian saya sejak konflik ini dimulai.”
Akhir dari perang akan merenggut tujuan hidup banyak orang, membuat mereka mempertanyakan ke mana harus melangkah. Lox akan menciptakan tempat perlindungan bagi orang-orang tersebut—sebuah negara ideal di mana semua orang dapat bergandengan tangan dalam keharmonisan dan tidak ada seorang pun yang perlu tertinggal.
“Biarkan aku membantumu. Setelah semua pertempuran yang telah kamu menangkan untukku, itu adalah hal paling sedikit yang bisa kulakukan.” Sambil terkekeh pelan, anak laki-laki itu mengulurkan tangannya ke langit. “Indah, bukan? Saat kita pertama kali memulai, kita semua berbaris seirama, tetapi sekarang kita menempuh jalan kita masing-masing.”
Dia menutup matanya dan tersenyum, tetapi pemandangan itu justru menghantam Lox dengan rasa pedih yang mendalam. Dia tahu apa yang telah ditanggung oleh anak laki-laki ini. Lonjakan emosi meliputinya.
“Rajaku,” kata Lox, “Anda hanya perlu memberi kami perintah—” Begitu dia mengucapkan kata-kata itu, dia menyadari kesalahannya dan membekap mulutnya dengan tangan.
Kening anak laki-laki itu berkerut sedih. “Kamu tidak boleh berbicara seperti itu, Lox. Bukan jika kamu ingin membangun negara milikmu sendiri.”
Dia menghentikan keretanya dan turun. Lox buru-buru turun dari kudanya dan menyamakan langkahnya.
“Kita berada di ambang kemenangan atas segala sesuatu yang telah kita perjuangkan, Lox. Aku tidak bisa meminta hal lain lagi,” katanya, lalu menambahkan dengan berbisik, “Itu akan menjadi terlalu serakah.”
Lox mendengar bisikan terakhir itu dan berhenti, membiarkan anak laki-laki itu berjalan mendahuluinya sendirian. Menatap dengan cemas ke arah punggung rajanya yang semakin menjauh, dia mengepalkan kedua tangannya dan mengatupkan giginya, mengutuk kebodohannya sendiri.
“Untukmulah aku membangun negara ini sama besarnya seperti untuk orang lain,” gumamnya.
Tidak ada seorang pun yang selamat dari perang tanpa luka. Bahkan raja muda ini telah menimbun banyak dosa dan mengumpulkan banyak bekas luka. Itulah alasan yang lebih kuat untuk menciptakan negeri yang penuh kedamaian, tempat orang-orang yang terluka dapat disembuhkan tanpa harus menderita. Baik zlosta maupun manusia tidak dapat hidup seorang diri. Mereka membutuhkan dukungan orang lain untuk bertahan hidup.
“Dan aku akan berada di sisimu, Rajaku, sampai kamu sembuh,” bisiknya pada dirinya sendiri sebelum berlari ke depan untuk menyusul junjungannya.
Komentar