Seirei Gensouki Volume 27 Bab 8: Pilihan Bahasa Indonesia
Bab 8: Pilihan
Kira-kira setengah jam sebelum Christina dieksekusi, kapal udara sihir yang membawa Vanessa Emarle di dalamnya tiba di pelabuhan Kastil Galarc. Vanessa turun dari kapal, memperkuat kemampuan fisiknya dengan sihir, dan berlari menuju kastil secepat yang dia bisa. Tapi saat dia mencoba menerobos gerbang kastil, para penjaga menghentikannya dan menuntut agar dia melalui prosedur masuk yang semestinya. Waktu sudah tidak tersisa, jadi dia membuat keributan dan tetap mencoba memaksa masuk.
“Beri tahu Putri Flora segera! Bawa aku ke kediaman Sir Amakawa sekarang juga! Kumohon, tidak ada waktu lagi! Ini darurat! Nyawa seseorang yang penting sedang dipertaruhkan! Mereka akan langsung tahu begitu mendengar namaku!” pinta Vanessa dengan putus asa.
Untungnya, ada seseorang di antara para prajurit yang mengenali wajahnya, sehingga mereka bisa mengirim utusan untuk memperingatkan Flora dengan tergesa-gesa. Vanessa kemudian ditemani oleh prajurit tersebut saat mereka bergerak mendekati kastil.
Tepat saat mereka mendekati kediaman Rio, Flora berlari menghampirinya dengan ekspresi ngeri. Dia ditemani oleh Roanna, Hiroaki, Kouta, dan Rei.
“Apa maksudnya ini, Vanessa?!” tanya Flora.
“Aku butuh bantuan Sir Amakawa. Tolong ikut aku ke kediamannya!” jawab Vanessa dengan ekspresi mendesak.
“Dia akan ikut denganku dari sini,” kata Flora kepada prajurit tersebut.
Maka, mereka semua pun bergegas menuju kediaman Rio bersama-sama.
◇ ◇ ◇
Setelah itu, Rio dengan cepat mengatur pertemuan untuk Vanessa, yang datang bersama Flora dengan membawa urusan mendesak untuk dibahas. Ruang tamu itu pun segera dipenuhi oleh Flora, Vanessa, Roanna, Hiroaki, Rei, Kouta, serta Rio, Celia, dan Charlotte dari kediaman tersebut.
“Putri Christina telah ditawan oleh Arbor. Dia akan mengeksekusinya,” jelas Vanessa, langsung pada intinya.
Rio, Celia, and Charlotte semuanya membelalakkan mata dan tertegun tanpa kata. Belum ada tanda-tanda atau berita semacam itu hingga saat ini.
“Kenapa? Aku bahkan tidak diberi tahu kalau kakakku ditawan. Apa maksudmu ‘mengeksekusi’?” Flora juga baru pertama kali mendengar berita itu. Dia hampir berada dalam keadaan syok.
“Wajar saja jika Anda tidak tahu. Putri Christina memerintahkan para petinggi Restorasi untuk merahasiakan informasi tersebut dari kalian semua sampai semuanya berakhir. Aku juga diberi perintah yang sama,” ungkap Vanessa dengan ekspresi bersalah. Dia sadar kalau dia sedang mengabaikan perintah Christina saat ini.
“Apa maksudmu…?”
“Jika kita mengabaikan perintah Putri Christina, masa depan yang dia inginkan mungkin tidak akan bisa tercapai lagi. Apakah Anda yakin ingin mendengar lanjutannya?” tanya Vanessa.
“Tentu saja!” jawab Flora tanpa ragu-ragu. Nyawa satu-satunya saudarinya tentu saja jauh lebih penting.
Vanessa merogoh saku dadanya dan mengeluarkan sebuah surat. Dia mengulurkannya kepada Flora di seberang meja. “Kalau begitu, terimalah surat ini. Surat ini diberikan kepadaku oleh Putri Christina. Dia memerintahkan agar aku menyampaikannya setelah eksekusinya. Surat ini ditujukan untuk Anda, Putri Flora.”
“Oh…!”
Flora pasti sedang sangat panik. Biasanya dia membuka amplop dengan hati-hati, tetapi kali ini dia merobeknya dengan kasar. Dia kemudian membaca surat itu dengan cepat.
“Flora tersayang,” bacanya dengan suara keras.
Surat itu berisi permintaan maaf yang ditujukan kepada Flora dan pernyataan dari Christina bahwa dia telah menerima hukumannya atas kehendaknya sendiri. Selain itu, surat tersebut menjelaskan janji-janji yang secara diam-diam telah dibuat Christina dengan Duke Arbor sebagai imbalan atas penerimaan hukuman matinya.
Kedua janji tersebut adalah sebagai berikut:
Pertama, karena mereka adalah para bangsawan dari kerajaan yang sama, mereka harus menahan diri dari pertikaian internal yang menurunkan kekuatan kerajaan mereka. Daripada melakukan perlawanan hidup-mati hingga titik darah penghabisan, mereka harus mencari metode lain demi masa depan kerajaan. Jika rakyat Restorasi akhirnya kembali ke pemerintahan pusat, selama mereka memiliki kemauan dan kemampuan, mereka harus diberi kesempatan yang adil untuk naik pangkat.
“Dan kedua, jika Flora memilih untuk tidak berdiri di bawah sorotan politik, maka pihak kerajaan dan para bangsawan harus melindunginya seumur hidup. Jika janji ini dilanggar, Flora akan memiliki hak untuk memublikasikan isi surat ini…”
Air mata jatuh dari mata Flora saat dia mulai terisak. Ada satu baris terakhir dalam surat itu yang ditujukan untuk dirinya.
Aku ingin kau memilih jalan hidupmu sendiri.
“Ini keterlaluan! Aku tidak pernah menginginkan ini! Aku tidak pernah meminta semua ini! Yang kumau hanyalah tetap berada di sisi saudariku selamanya! Aku ingin membantunya lebih banyak lagi! Sudah kubilang padanya! Aku bilang dia terlalu memanjakanku! Kenapa dia melakukan ini…? Kenapa…?!”
Flora meremas surat saudarinya itu di dalam genggamannya sambil meraung.
“Tuan Amakawa! Tolong selamatkan Putri Christina!”
Vanessa berlutut di lantai di hadapan Rio.
“Aku tahu kami tidak punya hak untuk meminta hal semacam itu kepadamu! Aku tahu Yang Mulia tidak ingin diselamatkan! Tapi aku tidak dapat memikirkan orang lain yang bisa melakukan apa pun untuk menghadapi situasi ini! Aku telah mendedikasikan hidupku untuk melindungi Yang Mulia. Namun, aku tidak bisa berbuat apa-apa! Aku hanya bisa bergantung padamu! Jadi kumohon, aku memohon kepadamu!”
Vanessa menempelkan dahinya ke lantai saat dia memohon agar Rio menyelamatkan Christina.
“Tolong angkat kepala Anda. Kapan Putri Christina akan dieksekusi?” tanya Rio.
“Hari ini. Bahkan, mungkin semuanya sudah berakhir…” jawab Vanessa dengan raut wajah pahit.
“Apa kau serius?” gumam Hiroaki, menggigit bibirnya.
“Kapal udara sihir itu tidak akan tiba tepat waktu,” kata Roanna dengan ekspresi putus asa.
“Tidak ada waktu lagi. Aku akan memanggil Aishia ke sini.”
Bahkan jika Rio menggunakan seni roh angin dengan kecepatan maksimalnya, butuh waktu lebih dari sehari baginya untuk mencapai ibu kota Beltrum dari ibu kota Galarc. Namun, jika dia bersatu dengan Aishia… Jika dia melampaui batas kemampuannya seperti saat dia bertarung melawan golem, dia seharusnya bisa pergi ke ibu kota Beltrum dalam waktu yang jauh lebih singkat.
Dengan pemikiran itu, Rio berdiri untuk meninggalkan ruangan. Namun, sebelum dia sempat membuka pintu, pintu itu terayun terbuka dari sisi sebaliknya.
“Kau tidak boleh melakukannya,” kata Lina, masuk dengan menggunakan tubuh Miharu dan langsung menghentikannya.
Dia sudah cukup lama tidak menampakkan diri di hadapan Rio, jadi kemunculannya ini sangat tepat waktu. Tidak, dia mungkin sudah merencanakan waktunya. Dia pasti telah meramalkannya dan bertindak sebelumnya.
Namun, ini bukanlah saatnya untuk memikirkan hal semacam itu.
“Tolong menyingkir.”
“Apa kau lupa apa yang kukatakan? Menggunakan penyatuan untuk melampaui batasmu hanya demi berpindah tempat adalah hal yang konyol. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada tubuhmu,” peringatan Lina, tetapi Rio tidak ragu-ragu.
“Aku tidak peduli.”
“Aku bilang kau bisa mati sebelum sampai di sana. Aku tidak bisa membiarkanmu mati di sini.”
“Aku tetap akan pergi.”
“Begitu ya… Baiklah. Kalau begitu, aku akan mengantarmu ke sana.”
Lina menghela napas lelah dan menawarkan diri untuk menangani transportasinya—seolah-olah dia memang berniat melakukannya sejak awal.
“Apa kau yakin?” tanya Rio, terkejut.
“Jika aku tidak melakukannya, kau hanya akan menyatu dengan Aishia melampaui batasmu, kan? Sihir teportasiku bisa membawamu ke sana lebih cepat daripada penyatuan dengan Aishia.”
“Kalau begitu, tolong lakukan.”
“Baiklah. Kita mulai.” Lina meletakkan tangan di bahu Rio.
“Sir Rio, kumohon, aku mohon padamu…!” Flora menyeka air matanya dan menundukkan kepalanya kepada Rio.
“Aku tahu. Jangan khawatir,” jawab Rio sambil tersenyum.
“Transilio.”
Lina langsung merapalkan mantra teleportasi dan menghilang bersama Rio.
◇ ◇ ◇
Saat berikutnya, Rio dan Lina muncul di langit di atas ibu kota Beltrum.
“Hua…”
Rio menyadari bahwa dirinya sedang jatuh dan dengan cepat mengaktifkan seni roh terbang untuk melayang di udara. Dia menoleh ke arah Lina untuk memeriksanya.
“Alis Luminus,” rapalnya, membuat sayap cahaya tumbuh dari punggungnya.
Selanjutnya, Rio menatap ke bawah. Tidak aneh jika eksekusi Christina sudah selesai. Namun, dia segera menyadari bahwa alun-alun kota dipenuhi oleh kerumunan orang. Sebuah panggung telah didirikan di sana, lengkap dengan blok pemenggalan kepala. Selain itu—
Aku menemukannya!
Christina sedang berada di tengah-tengah pembacaan vonis di atas panggung.
Aku masih sempat!
Rio langsung mulai turun, tetapi—
“Tunggu. Aku punya sesuatu untuk dikatakan,” kata Lina, memotong jalan di depan Rio untuk menghalanginya.
“Harus sekarang ya?” tanya Rio dengan tidak sabar.
“Harus. Masih ada sedikit waktu lagi sebelum kematiannya. Aku bisa merasakannya. Dan juga, kenakan topeng. Jika kau menyerbu masuk begitu saja, kau akan dihukum.”
Kata-kata itu sedikit menenangkan Rio.
“Cepatlah. Dissolvo.”
Tidak ada waktu untuk disia-siakan dengan membalas ucapannya. Rio menggunakan Penyimpanan Ruang-Waktu dan mengeluarkan pedangnya serta sebuah topeng untuk dipakai sembari mendengarkan Lina.
“Seperti yang kau tahu, situasi ini telah ditulis dalam naskah Christina. Ini mengesankan. Mungkin ini hanya angan-angan belaka, tetapi rencananya akan membuahkan hasil. Benih dari masa depan yang tak akan bisa dicapai tanpa kemampuannya—serta pengorbanannya—akan segera dikuburkan.”
Lina menatap ke bawah ke arah Christina sambil memuji wanita itu.
“Tapi jika kau ikut campur di sini, masa depan itu bisa berubah. Karena Christina Beltrum tadinya ditakdirkan untuk mati di sini,” ujarnya, mengisyaratkan risiko dari mengubah takdir Christina. Dia kemudian tersenyum licik. “Apakah kau tetap akan menyelamatkannya?”
“Bagian mana dari hal itu yang menjadi alasan untuk tidak menyelamatkannya?” jawab Rio. Keputusannya sudah bulat.
Puas dengan jawaban itu, bibir Lina melunak membentuk senyuman yang lebih lembut. “Kalau begitu, pergilah. Kau akan tiba tepat waktu jika pergi sekarang.”
Rio segera mulai turun dengan kecepatan penuh.
◇ ◇ ◇
Semua orang yang mendongak ke arah panggung eksekusi ternganga. Seseorang yang membawa pedang telah turun dari langit dan menahan ayunan pedang sang algojo.
“Untung saja aku sempat!” Rio menghela napas lega.
“Siapa kau?!”
Algojo dan para ksatria di atas panggung mengepung Rio.
“Tangkap dia!” teriak Duke Arbor dari sisi panggung, memerintahkan penangkapannya.
Para ksatria langsung menyerbunya secara serentak, tetapi Rio seketika memperpendek jarak dengan algojo yang berada paling dekat dengannya dan membuatnya terpental.
“Apa?!”
Dia kemudian mendekati semua ksatria itu satu per satu dan melumpuhkan mereka dengan pukulan tumpul. Pemandangan ksatria terlatih yang dikalahkan dengan begitu mudah membuat Charles menoleh ke arah Duke Huguenot di sampingnya.
“S-Siapa itu?! Apakah dia salah satu pasukan Restorasi?!” bentaknya.
“T-Tidak, aku belum pernah melihat orang seperti itu…”
Duke Huguenot sama terguncangnya dengan Charles. Hal ini tidak pernah menjadi bagian dari rencana, jadi itu adalah hal yang wajar. Namun, jika ada seseorang yang akan menyelamatkan Christina dalam situasi seperti ini, asumsi yang paling logis adalah bahwa mereka berasal dari pihak Restorasi.
Siapa yang memerintahkan ini…? Bukankah ini akan menghancurkan rencana Christina? Wajah Duke Huguenot mengeras.
Sementara itu—
“Apakah Anda baik-baik saja? Aku akan melepaskan alat ini.”
Rio berjalan mendekati Christina yang terkekang. Kedua tangannya diikat di belakang punggung menggunakan belenggu penyegel sihir. Kedua kakinya diikat ke lantai dengan rantai, dan kepalanya ditahan pada balok eksekusi. Butuh waktu sejenak untuk melepaskan ikatan-ikatannya.
“Guh…” Duke Arbor menggigit bibirnya, berdiri tak bergerak di atas panggung.
“Siapa kamu?!” tanya Christina kepada Rio.
“Seseorang yang datang untuk menyelamatkanmu,” jawab Rio sambil memotong salah satu rantai yang menahan kakinya.
“Tidak ada yang meminta hal itu! Hentikan! Aku harus mati di sini!”
Christina memprotes dengan kepalanya yang masih tertahan di balok eksekusi. Namun, Rio memotong rantai di sekitar kaki satunya, membebaskan kakinya. Duke Arbor dapat mendengar percakapan mereka dari tempatnya berdiri di atas panggung.
Putri Christina tidak ingin diselamatkan. Jadi sepertinya dia tidak akan mengingkari janjinya… Pikirnya, menganalisis situasi tersebut. Segala sesuatu yang telah mereka sepakati bergantung pada kematian Christina. Tidak ada gunanya jika dia selamat.
“Apa yang kalian semua lakukan?! Hentikan dia! Jangan biarkan dia melepaskan Putri Christina!” Duke Arbor dengan cepat memerintahkan para ksatria yang baru saja bergegas naik ke atas panggung.
“Serang!”
Para ksatria menyerbu ke arah Rio. Rio menyentuh bahu Christina dan menancapkan pedangnya ke lantai.
“Gwah!”
Bola-bola esensi sihir yang bercahaya melesat ke arah para ksatria, mencegah mereka mendekat.
Putri Flora, Vanessa, dan banyak orang lainnya mendoakan agar Anda kembali dengan selamat. Aku sependapat dengan mereka. Itulah sebabnya aku datang untuk menyelamatkan Anda.
Selain itu, Rio mampu melakukan komunikasi telepati melalui kontak fisik. Dia berbicara kepada Christina sambil mengendalikan bola-bola cahaya tersebut.
“Hah?!”
Mata Christina membelalak mendengar kata-kata yang tiba-tiba bergema di dalam kepalanya.
“Aku tidak bisa diselamatkan di sini. Aku harus mati…” dia mencoba membantah, tetapi—
Jika keberadaan Duke Arbor adalah masalah bagimu, aku akan menangkapnya di sini dan menjadikannya sandera. Jika orang tuamu disandera, aku akan menyelamatkan mereka.
Rio membantah dengan tegas.
“Itu… Itu lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Ini bukan masalah yang bisa diselesaikan dengan mengganti satu orang secara paksa…”
Kalau begitu, aku akan menguasai seluruh kota ini! Jadi…!
“I-Itu tidak mungk—”
Suara alat yang mengikat lehernya ke balok algojo dilepaskan memotong perkataan Christina. Dia perlahan mengangkat kepalanya.
“Urk…”
Sejumlah besar ksatria tergeletak di atas panggung eksekusi dan panggung utama. Yang paling mengejutkan adalah tidak satupun dari mereka yang tewas. Mereka semua mengerang kesakitan.
“…” Christina terdiam kaku melihat pemandangan itu. Kemudian, dia akhirnya menatap wajah Rio. Topeng yang dikenakannya hampir retak.
“Tolong jangan bilang kalau kau harus mati padahal wajahmu jelas-jelas memohon ingin hidup,” ucapnya dengan raut wajah kesakitan.
Ekspresi macam apa itu sebenarnya? Christina tidak tahu. Tapi dia bisa merasakan air mata mengalir di wajahnya. Dia mencoba menyekahnya, namun kedua lengannya masih terbelenggu oleh belenggu penyegel sihir, jadi dia tidak bisa menggerakkannya dengan bebas.

Itu adalah perasaan yang begitu menjengkelkan, dia ingin bebas. Meskipun dia tidak peduli betapa menyedikannya penampilannya sebelum kematiannya, dia tidak ingin orang di hadapannya melihatnya menangis. Emosi tidaklah diperlukan bagi seorang manusia yang menginginkan kematian, jadi Christina merasa bingung pada dirinya sendiri.
“K-Kenapa…”
Duke Arbor mundur ke tempat Charles dan Duke Huguenot berada di luar panggung, dan berdiri di sana dengan kebingungan.
“Sejak kapan kubu Restorasi memiliki monster seperti itu?!” bentak Charles kepada Duke Huguenot.
“Aku tidak tahu apa-apa! Dia sama sekali bukan petempur dari Restorasi!” jawab Duke Huguenot dengan tegas.
“Lalu siapa itu?! Siapa yang mau menyelamatkan Putri Christina?!”
“Aku tidak tahu!”
Sementara Duke Huguenot dan Charles saling berteriak satu sama lain, Rio mengangkat Christina ke dalam gendongannya.
“Kita akan bicarakan ini nanti. Ini darurat, jadi mohon maafkan aku karena menggendongmu.”
“Apa…” Wajah Christina memerah.
“Kita berangkat.”
Rio mulai terbang menggunakan seni roh angin. Dia beranjak pergi dari alun-alun kota. Namun setelah mencapai ketinggian tertentu, dia berhenti. Dan alasannya adalah…
“Menurutmu apa yang sedang kau lakukan?” tanya Rio.
Melayang menghalangi jalan Rio dengan sayap cahayanya adalah Lina. Sebuah penghalang sihir berbentuk kubah besar yang menutupi seluruh langit telah dipasang di sekeliling mereka.
Penghalang ini tidak ada saat aku turun.
Yang secara alami berarti ini adalah perbuatan Lina.
“Seperti yang kubilang, Christina Beltrum ditakdirkan untuk mati di sini,” ucap Lina dengan nada dingin, menyeringai menyeramkan.
“Apakah kamu… Lina?” tanya Christina, menyadari siapa dirinya.
“Jangan bercanda seperti ini,” kata Rio dengan kening berkerut.
“Aku tidak sedang bercanda.”
Lina mengulurkan tangan ke arah Rio. Beberapa lingkaran sihir muncul di langit sekitarnya, menembakkan bola-bola cahaya ke arah Rio.
“Apa?!”
Dengan Christina yang masih berada di dalam pelukannya, Rio dengan cepat menghindari serangan-serangan itu.
“Bukankah kau membantuku menyelamatkan Putri Christina?!” tanya Rio.
“Bisa dibilang begitu. Tapi aku tidak membantumu menyelamatkan Christina Beltrum.”
“Apa maksudmu?!”
“Kau harusnya mengerti,” kata Lina dengan senyuman penuh arti.
Rio seketika teringat akan percakapan yang mereka lakukan di masa lalu.
Menurutku, murid baru pertama yang harus kau dapatkan adalah Christina Beltrum.
“Jangan bilang…!”
Apakah wanita itu ingin dia menjadikan Christina sebagai murid sekarang juga?
“Tepat sekali.”
“Berhenti bercanda! Kau tidak perlu bertindak sejauh ini!”
“Itu bohong. Jika aku tidak bertindak sejauh ini, kau tidak akan pernah menjadikan siapa pun muridmu.”
“Grr…!”
Rio mengatupkan rahangnya, wajahnya berkerut pahit. Dia tidak bisa meyakinkan Lina. Wanita itu telah memperjelas hal itu dalam sekejap. Jadi, apa yang bisa dia lakukan?
“Jangan berpikir kau bisa mengalahkanku dengan beban seberat itu di tanganmu,” kata Lina dengan senyum meremehkan yang seolah tahu segalanya.
“Tidak perlu mengalahkanmu,” jawab Rio.
“Hmm?”
“Aku hanya harus menghancurkan penghalang itu dan melarikan diri.”
Begitu mengatakannya, Rio mempercepat gerakannya ke arah penghalang. Dia melepaskan esensi sihir yang telah dikumpulkannya di tangan kanannya dalam upaya untuk menghancurkan penghalang tersebut.
“Aku tahu kau akan melakukan itu.”
Lina tetap berada di tempatnya, menatap ke arah Rio. Dia sama sekali tidak terlihat panik.
“Maaf. Itu adalah tiruan yang dibuat agar terlihat seperti penghalang sihir.”
Dia sudah tahu sejak awal bahwa Rio tidak bisa melarikan diri dari penghalang itu.
“Efeknya adalah untuk menandai target dan memindahkan mereka ke suatu tempat di dalam penghalang,” kata Lina, menjelaskan efek dari penghalang itu.
Namun Rio tidak bisa mendengarnya, karena dia sudah berusaha untuk meninggalkan penghalang tersebut. Serangan kuat yang dia lepaskan tampak seperti berhasil menembus penghalang. Rio menerobos dengan niat untuk melewati penghalang itu, tetapi saat berikutnya—
“Apa?!”
Begitu dia menyentuh penghalang itu, Rio kembali ke samping Lina.
“Selamat datang kembali,” ucap wanita itu kepadanya dengan ceria.
“Di mana Putri Christina?”
Putri itu telah lenyap dari pelukannya. Rio melihat sekeliling dengan panik.
“Dia kembali ke panggung eksekusi.”
Lina menunjuk ke arah panggung di bawah mereka.
“Apa?!”
Rio segera mencoba turun, tetapi—
“Aku tidak akan membiarkanmu pergi.”
Lina mengantisipasi gerakannya dan menghalangi jalur jalannya. Dia merapalkan lingkaran sihir tanpa mantra verbal dan menciptakan penghalang untuk mencegahnya bergerak.
“Jangan main-main!”
Rio menyalurkan esensi sihir ke dalam pedangnya dan mencoba menerobos penghalang itu dengan kekuatan. Dia mencoba meloloskan diri dari kepungan tersebut, tetapi mantra nonverbal Lina mendahuluinya. Dia merapalkan penghalang-penghalang baru di tempat-tempat yang berhasil Rio hancurkan sebelum pria itu sempat keluar dari kepungan. Rio menghancurkan penghalang baru itu dan mencoba melarikan diri, tetapi—
“Ugh…”
Kepungan lain dikerahkan di sekelilingnya. Jika dia mencoba hal yang sama terus-menerus, dia hanya buang-buang waktu dalam lingkaran tanpa akhir. Jika dia ingin menerobos dengan kekuatan, dia harus membungkam perapal sihir itu terlebih dahulu.
“Tolong singkirkan jalanmu!” teriak Rio, menatap tajam ke arah Lina dengan pedang yang disiagakan.
“Coba saja paksa aku. Jika kita bertarung secara serius satu sama lain, antara kau dan diriku yang sekarang, kau memiliki peluang menang yang lebih tinggi.”
Lina sama sekali tidak berniat mundur.
“Tapi…”
Lina tersenyum tanpa rasa takut dan menyentuh anting yang dikenakannya. Penampilannya dengan cepat kembali menjadi Miharu.
“Oh!”
Wajah Rio menegang karena marah. Dia menggertakkan giginya. Kenapa Lina berubah kembali menjadi Miharu pada saat seperti ini? Niatnya sudah sangat jelas.
“Apa kau bisa membunuh Ayase Miharu?” tanya Lina dengan senyum menggoda.

◇ ◇ ◇
Sementara itu, Christina mendapati dirinya berdiri di atas panggung eksekusi sendirian. Dia melihat sekeliling dengan linglung.
“Putri Christina?”
“Dia kembali…”
Kerumunan orang mulai bergeming.
“Seseorang! Siapa pun! Bunuh dia! Eksekusi dia sekarang juga! Martabat kerajaan dipertaruhkan!” teriak Duke Arbor.
Namun sang algojo telah pingsan, dan ksatria-ksatria lainnya telah terluka serta dibuat tak berdaya oleh serangan Rio.
“Aku akan melakukannya,” kata Duke Huguenot, melirik dengan penuh tekad ke arah sebuah tombak terdekat di tanah. Dia memungut tombak itu dan naik ke atas panggung, mendekati Christina.
Aku harus melakukannya… Aku harus melakukan ini!
Demi masa depan kerajaan, demi bisa naik jabatan di pemerintahan sebagai seorang pengkhianat, dia harus membunuh Christina dengan tangannya sendiri. Dia harus menunjukkan kepada semua orang bahwa dia telah menjadi anjing setia bagi Duke Arbor. Duke Huguenot berdiri di hadapan Christina dengan ekspresi hampir menangis.
“Begitu ya. Kau adalah pilihan terbaik.”
Ketika Christina menyadari Duke Huguenot mendekatinya, dia tersenyum lembut.
“Tunjukkan kesetiaanmu,” ucapnya, berbalik seolah-olah menyuruh pria itu menusuk jantungnya.
“Kesetiaan dan hidupku adalah milikmu…!”
Ujung tombaknya menembus jantung Christina.
“Urk…” Tubuh Christina sedikit tersentak ke belakang.
“Maafkan aku…” Dengan air mata berlinang di matanya, Duke Huguenot bergumam meminta maaf yang hanya bisa didengar oleh Christina. Tangannya yang memegang tombak itu gemetar.
“Tidak apa-apa… Pastikan kau menuntaskan tugasmu… Putar ujungnya,” ucap Christina sambil tersenyum.
“Guh!”
Duke Huguenot memutar tombaknya dengan penuh tekad lalu menariknya keluar dari dada Christina.
“Ugh…”
Christina kehilangan keseimbangan dan ambruk ke lantai. Gaunnya yang koyak ternoda merah terang oleh darah yang mengalir deras ke lantai.
“Kerja bagus, Huguenot!” puji Duke Arbor dengan suara lantang sambil menaiki panggung eksekusi.
Duke Huguenot menatap kosong ke arah tombak di tangannya.
Sesaat kemudian, Rio turun ke atas panggung eksekusi. Duke Arbor menghentikan langkahnya karena terkejut, sementara Duke Huguenot tetap termenung.
“Ngh!”
Rio menatap ke bawah pada Christina yang terjatuh tanpa melirik orang lain. Wajahnya berkerut penuh emosi di balik topengnya yang hampir hancur.
“Dissolvo.”
Rio segera mengucapkan mantra dan mengeluarkan sebuah kristal teleportasi dari Time-Space Cache. Ia mengangkat Christina yang sekarat ke dalam pelukannya.
“Transilio.”
Dia kemudian mengucapkan mantra untuk teleportasi dan menghilang.
Komentar